Chapter 2
Desclaimer : Naruto, Masashi Khisimoto
Pairing : Gaara/Hinata
.
.
meski ketika bersamaku, pikiranmu memikirkan orang lain selain aku. Selama kau bahagia; aku tak apa.
Brian Khrisna
.
.
Selalu saja pria itu yang dia bicarakan di hadapanku. Entah ketika istirahat makan siang, entah sepulang sekolah, entah ketika dia dengan sengaja mengetuk pintu rumahku dan bertamu. Tapi, aku tak mengerti pada diriku yang merasa lega, alih-alih tercabik tatkala senyumnya terlukis lebar karena pria itu.
.
.
"Bagaimana kabar Naruto hari ini?"
Padahal dia bertemu denganku, tapi kenapa pria itu yang dia tanyakan? "Baik, tentu saja." Aku tersenyum, dan duduk bersamanya di kantin siang itu. Membiarkan dia tersenyum, senyum yang selalu ku rindu tiap bagun di pagi buta, senyum yang ku rindu di tiap-tiap malam tak bisa tidur, senyum yang selalu membuat hatiku terasa penuh tanpa sebab.
"Aku membawa bento untuknya, nanti berikan padanya ya." Ekspresinya selalu membuatku tersenyum gemas. Gemas dan benci karena ratusan kali aku melihatnya menunjukkan raut itu, tak satupun alasannya adalah aku.
Aku menghela napas berat, menyembunyikan senyum kecewaku dibalik senyum yang kupaksa terlihat baik-baik saja. "Ya, nanti akan ku berikan. Lagipula kau ini kenapa tidak datang menemuinya sendiri?"
"Belum siap. Aku tidak pernah siap bertemu dengannya."
"Kau ini. Selalu saja." Aku mengerlingnya yang kali ini menatapku malu-malu. "Dan aku tidak bisa bohong terus-menerus jika makanan itu dari ibuku."
Matanya membulat imut. "Jadi kau bilang padanya jika itu dariku?" Tak malu jika beberapa pasang mata menatap tak suka ke arah kami.
"Tentu saja."
"Kau ini. Menyebalkan."
"Kau tidak bisa terus-terusan begini. Jujurlah, katakan padanya kau menyukainya. Atau... sekedar menyapa 'hai' jika bertemu dengannya. Apa itu sulit?" Dia menatapku tak percaya ketika serentetan kalimat itu terujar dari bibirku yang biasanya irit bicara. "Jangan jadi pengecut." Aku yang sebenarnya pengecut, aku yang seharusnya melakukan nasehat yang kuberikan padanya itu, dan... betapa munafiknya aku.
"Mungkin tidak harus sekarang. Kau benar-benar membuatku malu." Hinata mulai berdiri, menatapku kesal sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Seiring dengan langkahnya yang mulai menjauh dengan terburu-buru, aku tersenyum, senyum sakit. Niatku ingin membuatnya bahagia, biar pria itu tahu betapa dia mencintainya. Agar nasib cintanya tak seperti cintaku yang penuh namun tak berbalas. Agar dia bisa tersenyum dan menanyakan kabar pria itu langsung, tanpa lewat perantaraku.
Dia selalu saja begitu, pemalu jika dihadapan pria itu. Tapi tidak pernah malu mengungkapkan apapun di hadapanku, entah aku harus bahagia atau terluka karena alasan tersebut.
Ya... selama kau bahagia. Aku tak apa.
TBC
