Chapter 3
Desclaimer : Naruto, Masashi Khisimoto
Pairing : Shikamaru/Temari
.
.
Lucunya, sampai sekarang aku masih mencari bahagia yang katanya akan aku dapatkan ketika kau melepas aku dulu.
Brian Khrisna
.
.
Seharusnya, aku tak datang ke kafe di ujung jalan pagi itu. Seharusnya, aku pura-pura saja tidak tahu jika kau ada disana. Seharusnya, aku tak menatapmu sebegitu dalam hingga rasanya dadaku sakit tanpa bisa dijelaskan.
Kau duduk di meja paling ujung dekat jendela, tempat yang selalu menjadi favoritmu. Tampak sedikit lebih kurus dari terakhir kita bertemu. Kenapa? Apa yang terjadi padamu? Apa tugas kuliahmu terlalu banyak akhir-akhir ini? Apa ibu kosmu terlalu galak hingga membuatmu terus memikirkannya? Apa uangmu tak cukup untuk membeli makanan lebih karena jauh dari rumah?
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Banyak sekali, dari yang konyol sampai yang serius. Banyak yang kukhawatirkan tentangmu. Khawatir jika kau tak bisa tidur nyenyak, dan selalu mengalami mimpi buruk seperti dulu.
Tapi entah bagaimana lidahku begitu kelu. Tak mampu berucap meski hanya satu kata 'hai'. Dan membiarkanmu melamun sendirian sembari menikmati gugurnya daun di luar sana.
Canggung, gugup, gagu, dan kikuk. Mungkin itu yang kurasakan tiap kali melihatmu dari kejauhan. Setelah putus 8 bulan lalu, aku benar-benar menghindari tempat ini. Kafe di ujung jalan yang begitu kau sukai, dan kau tak pernah tak datang kemari walau satu hari saja. Tapi tidak tahu kenapa hari ini aku ingin kemari. Mungkin aku merindukanmu, mungkin aku ingin mengenangmu tanpa harus kau tahu, dan mungkin... mungkin aku masih berharap kau mau bersamaku lagi. Cuma... mungkin.
Aku selalu bertanya pada diriku sendiri setelah putus denganmu. Apa aku bahagia setelah melepasmu? Apa aku merasa lega?
Sejujurnya kau salah ketika kau bilang aku akan lebih bahagia tanpamu. Seharusnya aku bilang padamu bahwa hubungan kita masih bisa dipertahankan, tapi kau bilang semua sudah terlanjur membosankan. Kau bilang segalanya sudah rumit dan kau tak mau kerumitan itu meracuni pikiranmu. Kau juga bilang memang seharusnya harus pisah, karena hal-hal kecil saja sudah membuat kita bertengkar hebat. Aku mungkin begitu naif ketika bilang tak punya pilihan, tak punya pilihan kecuali melepasmu dan membebaskanmu untuk melakukan apapun yang kau inginkan. Bebas dan tak lagi menyandang status sebagai kekasihku. Tapi... aku ingin bertanya padamu, 'apa kau sudah bahagia setelah putus denganku?'
.
.
Dan ketika manik matamu bergulir ke arahku. Senyum tipismu terulas. Senyum tipis yang selalu membuatku berharap bisa bangun tiap pagi dan menjalani hari dengan bahagia. Senyum itu mengingatkanku pada salad buah yang selalu kau makan tiap sarapan, senyum itu mengingatkanku pada hari dimana kau bilang ingin lepas dariku.
"Hai..." kau menyapa duluan. Sapaan kaku seolah kita baru saling mengenal.
"Hai... pagi." Aku balas tersenyum, yang entah senyum ini terlihat asli atau palsu.
Kau di mejamu, dan aku di mejaku. Hal yang tak pernah kita lakukan ketika mengunjungi kafe ini. Tapi kupikir, aku harus membiasakan diri. Membiasakan diri ketika kau menganggapku orang asing, namun aku menggapmu sebagai seseorang yang tak pernah usang dalam ingatan.
TBC
