Chapter 5

Desclaimer : Naruto, Masashi Khisimoto

Pairing : Lee/Tenten

.

.

kau tahu sehancur apa aku setelah kau pergi? Ah, kau tak mungkin tahu. Toh, kau tak pernah punya rasa sebesar rasa yang aku punya.

Brian Khrisna

.

.

Kita sudah putus.

Aku tahu, tapi entah bagaimana rasanya masih sakit, ketika dengan senyum mengembang sempurna kau menggandeng tangan pria itu. Pria yang kau sebut sebagai kekasih barumu.

Barangkali, kau mengira aku sudah mampu melupakanmu dan melabuhkan hati ke yang lain. Kau mungkin mengira bahwa aku sudah mampu bersikap biasa jika bertemu denganmu, tapi... kau salah.

.

.

"Ini Tenten, pacar baruku. Cantik kan?"

Neji, teman baikku mengenalkanmu malam itu. Di bawah rintik hujan bulan November, dan suhu udara yang nyaris membuatku membeku di tempat.

Aku berusaha tersenyum tulus, entah itu tampak kaku atau malah aneh di matamu. Tapi kau sendiri juga sekikuk itu, berusaha menutupi apapun tentang kenangan masa lalumu.

"Ya... salam kenal Tenten." Aku melambai pelan, dan kau juga begitu. Oh lucu sekali, kita yang bertahun-tahun pernah begitu dekat, kini seolah tak saling kenal dan baru bertemu.

"Salam kenal juga."

Aku menghela napas panjang. Sayang sekali Neji tak pernah tahu mengenai hubungan kita. Dan alasan mengenai kau meninggalkanku, bukankah jelas-jelas untuk mengejar cinta lelaki ini? Lelaki yang... luar biasa menurutku.

"Kenapa Lee? Tidak biasanya kau datang ke rumahku?" Neji bertanya, membuyarkan segala kenangan kelam masa lalu yang sempat melintas.

"Oh tidak, tadinya aku mau meminjam jurnal praktekmu." Aku berusaha mengatur suaraku agar tak terdengar gugup. "Aku menelfonmu, tapi kau tak mengangkatnya."

"Oh benarkah?" Neji tertawa. "Aku tidak memegang ponsel, ku tinggal di kamar dari tadi."

Aku mengangguk. Dan selagi Neji mengambilkan jurnal yang akan ku pinjam, aku duduk diam bersamamu. Membiarkan keheningan membekukan kita tanpa ada yang mau sekedar menyapa 'hai, bagaimana kabarmu?'. Ah... kenapa aku naif sekali? Kenapa aku berharap kau masih memiliki rasa padaku? Dan kenapa juga aku berharap setidaknya kau mau kembali lagi padaku. Padahal jelas-jelas aku tahu, kau tak pernah benar-benar mencintaiku. Ya... betapa bodohnya aku.

.

.

"Kembalikan secepatnya ya..." Neji mengulurkan jurnal itu, sembari diiringi tawa, bergurau.

"Aku tidak bisa janji untuk mengembalikannya secepat yang kau inginkan." Aku ikut tertawa, yang nyatanya membuat pita suaraku nyaris lepas dan tenggorokanku sakit.

"Aku cuma bercanda Lee. Kau pinjam saja dulu, kembalikan sebelum praktek."

Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih. Lalu pamit ketika sepasang matamu menatapku penuh perasaan bersalah. Apa kau benar-benar merasa bersalah padaku? Atau itu cuma fantasiku saja?

Aku tak bisa mengucapkan apapun lagi. Dan segera kulangkahkan kakiku dengan membawa luka menganga di hati.

Yang selalu kutanyakan pada diri sendiri. 'Kenapa harus dia? Kenapa harus Neji yang kau cintai? Kenapa harus teman baikku yang menyebabkanmu lepas dariku?

Tapi tak apa. Jika kau bahagia bersamya, aku tak memaksamu kembali padaku. Lagipula... aku punya apa jika dibandingkan dengan Neji? Barangkali seperti langit dan bumi, yang tak pernah sama.

Aku menghargai pilihamu, meski itu berarti membuatku terluka lebih dalam dari yang pernah kurasakan.

END

Fic2 ini terinspirasi dari bukunya Brian Khrisna yang judulnya "The Book of Almost". Bukunya luar biasa kece, diksinya bikin meleleh. Pokoknya bagus.

Oh ya, makasih buat yang udah meluangkan waktu untuk membaca fic ini, semoga berkenan meninggalkan review