"Aku tak percaya ia seorang dokter sebelum temannya itu menghampirinya tadi." Chanyeol memulai suara dengan tangan mendorong kursi roda Jisung. Adiknya itu baru saja selesai menjalankan pemeriksaan x-ray untuk memastikan ia baik-baik saja atau tidak. Jisung sangat ingin pulang, namun perawat yang tadi sempat menanganinya berkata jika ia harus membiarkan infusnya habis terlebih dulu sambil menunggu hasil x-ray keluar.

"Iya kan?" Jisung menjawab antusias, "Aku saja tak percaya. Heol, padahal usianya sama sepertimu hyung. Tapi mengapa kau tampak lebih tua darinya?"

Chanyeol menepuk kepala belakang adiknya yang kurang ajar itu. Ia dan Jisung memang tak pernah akur. Setiap kesempatan bertemu selalu dihiasi oleh perkelahian. Namun hanya perkelahian tentang hal-hal sepele seperti sekarang, tidak sampai baku hantam. Tenang saja.

"Dia 33? Sama sepertiku?" raut wajah tak percaya menghiasi wajahnya.

Jisung mengangguk, "Dia teelihat seperti anak SMA. Jika tidak memikirkan umur, akan kupacari dia." ucapnya sembarangan.

"Ya bocah! Mana mau ia berpacaran dengan anak kecil yang belum mimpi basah sepertimu." ejek Chanyeol.

"Hyung! Aku sudah!" sungut Jisung tak terima.

"Katakan pada pantatku sini!" Chanyeol terkekeh melihat wajah kesal sang adik kesayangannya itu.

Chanyeol awalnya hanya anak tunggal. Ia selalu menghabiskan waktu bersama beberapa pelayan rumahnya, dan jarang bertemu dengan orangtuanya. Ayah dan ibunya sangat jarang berada dirumah. Mereka selalu memiliki urusan diluar negeri, perihal perusahaan.

Ayah dan ibunya memiliki perusahaan masing-masing. Ibu yang memiliki perusahaan fashion ternama yang tersebar di beberapa negara, dan ayahnya pemilik salah satu agensi terbesar di korea.

Tentu saja itu semua membuat orangtuanya di telan kesibukan masing-masing. Namun tak jarang juga mereka pulang, mengunjungi Chanyeol yang mengerti tentang kesibukan orangtuanya. Tak jarang juga saat liburan tiba, sang ibu ataupun ayah membawanya pergi bekerja, menyambangi negara-negara yang tak pernah ia kunjungi, tempat dimana cabang perusahaan ibunya berada.

Hingga usianya 17, ia mendapati ibu dan ayahnya pulang dengan semyum cerah diwajahnya. Chanyeol yang baru saja pulang sekolah menatap mereka bingung, pasalnya saat itu belum jadwalnya mereka pulang. Namun ia mendapati orang tuanya dirumah.

Ibunya menarik dirinya untuk duduk di sofa besar ruang tamu. Berhadapan dengan sang ayah yang tampak bahagia. Chanyeol yang kebingungan membuat sang ibu tak tahan untuk memberi kabar bahagia itu.

Ibunya mengatakan bahwa ia akan memiliki seorang adik. Chanyeol terkejut. Ia bukannya tak suka memiliki adik, namun ia hanya memikirkan betapa jauhnya usia yang terpaut antara ia dan adiknya. 17 tahun. Entah nanti ia bisa akur dengan adiknya atau tidak.

Namun pemikirannya berubah. Saat adiknya lahir, ia merasa seperti kakak paling beruntung sedunia. Jisung memang tak memiliki wajah mirip seperti dirinya. Matanya yang besar dimana itu turunan dari sang ayah, sangat berbeda dari milik.Jisung yang sipit seperti ibu.

Dan itu tak menjadikannya alasan untuk tidak menyayangi Jisung. Setidaknya ia bersyukur atas kehadiran adiknya itu, karena kehadiran Jisung ㅡ lah sang ibu lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama dirinya dan sang adik. Sedangkan perusahaan sang ibu diambil alih oleh sang ayah.

"Sepulang dari sini, belikan aku bubble tea ya hyung!" Jisung berseru. Mereka sekarang melewati koridor dan mata kecil Jisung menanggap kehadiran bocah yang sedang menikmati segelas bubble tea ditangan.

Chanyeol hanya berdeham mengiyakan. Ia tak bisa menolak permintaan adiknya, permintaan konyol sekalipun.

Ia terus mendorong kursi roda adiknya dengan pelan, menyusuri koridor yang membawa mereka entah kemana. Jisung tak ingin kembali ke UGD dan alhasil Chanyeol hanya membawa adiknya itu berkeliling tak jelas.

Seruan Jisung memanggil seseorang taunya menghentikan langkah Chanyeol. Ia menoleh kedepan, dimana Jisung sedang melambaikan tangan pada seseorang. Ia seperti tau pria itu, tapi tampilan yang berbeda dari yang tadi ia lihat membuatnya sedikit bingung.

"Baekhyun hyung mau kemana?" Jisung bertanya saat Baekhyun sudah ada di hadapannya.

Oh jadi ini dokter yang sempat ia katai bocah tadi, batin Chanyeol.

Baekhyun tampak mengacak surai Jisung, "Kau sudah melakukan pemeriksaan?" tanyaㅡnya. Ia bergerak memriksa infus yang memang tergantung di tiang yang bertumpu pada kursi roda. "Infusmu sebentar lagi habis, kau boleh pulang setelahnya."

Jisung mengangguk mengerti dengan semua yang di ucapkan Baekhyun. "Hyung tidak menjawabku. Hyung mau kemana?" ia bertanya kembali.

"Hm? Pulang tentu saja. Jamku sudah habis. Hehe." kekehan kecil ia suarakan. Dan entah mengapa itu sangat indah di telinga Chanyeol.

Chanyeol memperhatikan interaksi antara dua sosok didepannya saat ini. Sangat lucu dimatanya. Mereka terlihat seperti sepasang sahabat dibandingkan dengan seorang dokter dan pasien.

"Yahhh," Jisung cemberut. "Padahal aku masih ingin bersama Baekhyun hyung." ucapnya sendu.

Chanyeol mendengus. Adiknya ini memang tak tau diri. Bisa-bisa nya ia mencari kesempatan dalam kesempitan.

Chanyeol akui, sebagai dominan, ia melihat Baekhyun merupakan sosok tercantik yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Kedua setelah ibunya, Baekhyun cantik. Bahkan wanita normal saja lewat dimata Chanyeol.

Baekhyun itu memiliki mata sipit menawan, jika ia tertawa maka mata itu akan hilang lalu membentuk bulan sabit, sama seperti Jisung, namun mata Jisung tidak indah menurutnya. Lalu hidung mancung namun terlihat mungil, sangat pas di wajahnya yang kecil. Bibir tipis bagian bawha dan sedikit tebal diatas menjadi kelebihan sendiri pada pria itu.

Chanyeol yang sedari tadi memandangi Baekhyun tersadar akan tepukan pada punggung tangannya. Itu Jisung, yang berusaha memanggilnya sedaei tadi namun ia asik tenggelam demgan keindahan suatu objek dihadapannya sekarang. Sesal sempat menghampiri dirinya telah mengatai pria cantik itu seorang bocah.

Chanyeol berdeham, berusaha menghilangkan gugup dalam dirinya. Ia menoleh pada Jisung yang sudah merengut tak suka diabaikan. "Apa?"

"Aku bilang pada Baekhyun bahwa kita juga akan pulang, dan aku menawarkan tumpangan. Apa kau mau mengantarnya setelah mengantarku?"

Pria itu baru saja ingin mengangguk setelah tersadar ada yang salah dari kalimat adiknya. "Eh, mengapa aku harus mengantarmu dulu?"

Jisung berdecak kesal, "Makanya kalau aku sedang berbicara dengan Baekhyun kau harus mendengarkan. Apartemennya melewati komplek rumah kita, maka dari itu kau harus mengantarku dulu. Lagipula, ia tinggal di apartemen yang sama denganmu tau!" jelasnya panjang lebar.

Entah ini keberuntungan, namun Chanyeol tiba-tiba menjadi senang. Entah mengapa mengetahui ia memiliki apartemen yang sama dengan Baekhyun membuat hatinya sedikit berdebar. Pikirannya yang bisa menemui Baekhyun tiap hari membuatnya sedikit, bahagia?

"Oke. Aku tak masalah jika Baekhyun-ssi mau."

Dipandangnya wajah cantik milik Baekhyun itu, pria itu mengangguk. "Tak masalah. Aku juga sedang tak ingin naik bus." ucapnya sedikit bercanda.

Chanyeol tertawa. Ia tak menyangka pria itu memiliki selera humor yang cukup baik.

Jisung memutuskan untuk membawa mereka ketaman rumah sakit, dan mereka semua setuju. Jisung duduk dikursi roda, sedangkan Chanyeol dan Baekhyun duduk di kursi kayu didekat Jisung.

Adiknya itu tampak sibuk dengan ponselnya, sedangkan canggung melingkupi kedua orang lainnya.

Chanyeol ingin sekali mengajak Baekhyun berbincang. Namun gengsi dan takut di abaikan menjadi alasan Chanyeol untuk memulai percakapan. Dan setelah ya ia terkejut, Baekhyunlah yang memulai percakapan antara mereka.

"Jadi, Chanyeol-ssi, Jisung adikmu?" Bakehyun berbasa-basi. Chanyeol tau pasti Baekhyun sudah tau jika Jisung adalah adiknya, namun setelahnya ia sadar, jika Baekhyun hanya ingin membangun sebuah percakapan antara mereka.

"Aku tidak menganggapnya adik sih, karena sikapnya yang menyebalkan itu." jawabnya bercanda.

"Jisung menyenangkan. Setidaknya ia bisa diajak berbicara dengan nyaman. Aku baru pertama kali menemui orang seperti itu." ujar Baekhyun menatap Jisung, sedangkan Chanyeol, terpana akan wajah cantik Baekhyun yang tertimpa sinar matahari.

"Berbicara memang kesukaannya." Chanyeol memberi tau. "Kudengar, kau seusiaku, Baekhyun-ssi."

Jisung yang dari tadi mendengar panggilan formal antara kedua hyung itu, berceletuk, "Bisakah kalian memanggil nama satu sama lain? Aku berniat menjodohkan kalian nanti."

Celetukannyapun sukses membuat Baekhyun dan Chanyeol membuang muka. Tak ingin menatap wajah masing-masing.

Chanyeol memaki sang adik dalam hati. Ia berjanji akan menghabiskan sang adik saat tiba dirumah nanti. Tangannya ia bawa kedepan, kembali menepuk kepala milik adik kurang ajarnya itu.

Lirikan canggung Baekhyun arahkan pada pria disebelahnya kini. Hanya untuk mengetahui bagaimana ekspresi pria itu sedangkan dirinya sendiri telah bersemu merah. Chanyeol, mendiamkan diri, bersiap untuk mengeluarkan sikap gentle nya di hadapan pria cantik itu.

"Ah, Jisungㅡah! Infusmu sudah habis!" Chanyeol sedikit bersyukur menemui satu hal yang dapat ia suarakan.

Baekhyun yang mendengarnya menoleh dengan cepat, lalu segera menanggapi sepantasnya seorang dokter.

"Bagus sekali! Ayo, aku akan membantu melepaskannya." pria berstatus dokter itu berdiri, merapikan ranselnya yang sedikit membuatnya tak nyaman lalu mengambil alih kursi roda Jisung.

Chanyeol yang melihat itu, tidak tinggal diam. Sudah ia bilang bahwa ia akan bersikap gentle kan?

Pria jangkung itu turut berdiri, menyamakan langkah dengan Baekhyun lalu merebut alih kursi roda yang sedang piria mungil itu dorong. "Biar aku saja, Baekhyunㅡssi." ucapnya dan langsung mengambil alih tanpa mendengar jawaban Baekhyun lebih dulu.

Baekhyun yang tak bisa bertindak apaㅡapa hanya mengangguk. Membiarkan Chanyeol mendorong adiknya itu.

Seruan protes sempat Jisung keluarkan karena ia hanya mau Baekhyun yang mendorong kursi rodanya. Namun alasan konyol Chanyeol mengatakan bahwa Baekhyun pasti lelah sehabis bekerja membuat Jisung diam juga. Anak itu termakan omongan Chanyeol dan membiarkan kakaknya itu mendorongnya hingga ke UGD.

Sesampainya di UGDㅡpun, Baekhyun langsung meletakkan ranselnya dilantai, bertumpuan dengan salah satu brangkar yang ada disana, yang kini telah di tempati Jisung.

Mudah saja membuka jarum infus, tidak perlu waktu bermenit-menit benda itu telah terpisah dari salah satu pembuluh darah bocah dihadapannya. Baekhyun mengambil kapas lalu plester untuk menutup lubang bekas jarum yang tercetak di permukaan Jisung. Selesai.

Satu yang ditunggu, hasil xㅡray. Baekhyun meminta izin sebentar pada kedua kakak beradik itu, berniat menemui Luhan dan menanyakan hasilnya sudah keluar atau belum, namun baru saja ingin melangkahkan kaki, Luhan telah berdiri di depannya dengan sebuah map coklat di tangan.

"Kebetulan sekali! Ah, aku tidak bisa membayangkan akan berjalan sejauh itu hanya untuk mengambil ini." Baekhyun dengan cepat menyambar map coklat itu, lalu mengeluarkan dengan paksa.

Mata sipitnya meneliti setiap inci dari hasil x ㅡray ditangannya. Wajah imutnya berubah menjadi serius seketika, dan itu membuat Jisung yang memang sedari tadi memperhatikannya berubah sedikit cemas.

"Oke!" seruan ceria Baekhyun keluarkan, wajah seriusnya hilang ntah kemana. Membuat Jisung maupun Chanyeol menatapnya bingung, namun tidak dengan Luhan. Pria itu sudah hapal, jika Baekhyun berteriak 'oke' setelah meneliti hasil xㅡray seorang pasien, maka itu artinya pasien baik-baik saja.

Baekhyun kembali memasukan selebaran itu kembali ke dalam map, lalu melepas ranselnya dan menyimpan map tersebut disaana. Ia kembali memakai ranselnya dengan baik, lalu beralih menatap Jisungㅡdan juga Chanyeol yang sekarang masih setia menatap dengan tatapan bingung.

"Apa?" Baekhyun bertanya.

Jisung dengan cepat tersadar, lalu menggelengkan kepalanya. Berbeda dengan Chanyeol yang masih menatapnya.

Namun Baekhyun tampaknya tak ambil pusing, ia meraih telapak tangan Jisung dan menggenggamnya. Menuntun bocah itu turun dari brangkar, "Ayo pulang!" seru Baekhyun. Mereka yang ada disana tak tau saja jika entah kenapa Baekhyun merasa senang karena teman barunyaㅡPark Jisung baik-baik saja.

Jisung dan Baekhyun berlalu. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Jisung. Dan wajah bocah itupun sekarang tengah tersenyum idiot. Namun seakan teringat sesuatu, Jisung menghentikan langkah setelah Baekhyun melambai pamit pada Luhan.

"Ada apa?" Baekhyun yang mendapati Jisung berhenti tiba-tiba bertanya. Pasalnya ia hampir saja terjatuh dengan aksi tiba-tiba bocah itu. Baekhyun mengikuti pandangan Jisung yang kini telah berbalik, menatap seseorang yang masih setia berdiri di belakang mereka.

"Hyung! Masih mau disini? Kalau begitu aku pulang bersama Baekhyun hyung saja menggunakan bus!" Jisung berseru membuat Chanyeol mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya.

Baekhyun hanya terkekeh melihat gerakㅡgerik pria bertelinga unik itu.

"Tidak, jangan! Kalian harus bersamaku!" serunya sembari melangkahkan kaki menyusul, sebelumnya berpamitan pada Luhan yang tampak menahan tawa melihat tingkah mereka.

...

...

...

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat didepan pagar besar rumah orang tuanya. Ia memang tinggal berbeda dengan Jisung dan orangtuanya, Chanyeol memilih tinggal di apartemen dengan alasan lebih dekat dengan kantor dan akan pulang kerumah seminggu sekaliㅡitupun kalau tidak sibuk, hanya untuk mengunjungi Ibu dan mengawasi tingkah Jisung yang memang sedikit aneh itu.

"Sana turun!" Chanyeol berseru, matanya menatap Jisung kesal. Ia merasa jengkel karena sepanjang perjalanan anak itu banyak sekali tingkah yang mana membuat Chanyeol jengah. Terberkatilah keberadaan Baekhyun karena jika tidak bisa di pastikan telinga Jisung akan merah karena di tarik oleh Chanyeol.

"Sebentar, bubble tea ku belum habis!" jawab Jisung ketus. Bocah itu asik menyedot minuman manis ditangannyaㅡtidak jauh berbeda dengan Baekhyun. Well, suatu keajaiban Baekhyun mau meminum minuman anak muda seperti itu. Biasanya ia hanya berhadapan dengan americano.

Chanyeol berdecak kesal, adiknya ini sungguh tak tau situasi. Chanyeol-kan, ingin berkenalan dengan Baekhyun. Bisa di bilang, Chanyeol sedikit tertarik pada Baekhyun yang memang cantik itu.

"Jangan membuat alasan konyol! Kau bisa menghabiskannya didalam." Chanyeol membuka pintu mobilnya, lalu keluar dan membuka pintu bagian dimana Jisung duduk. Pria itu menarik paksa Jisung keluar dan kemudian disusul dengan tas sekolah bocah itu.

Chanyeol memang kesal, tapi tetap saja, Jisung adalah satu-satunya adik yang ia punya. Semarah dan sekesal apapun Chanyeol padanya, tetap saja ia menyayangi Jisung.

Pria janggung itu mengusak surai adik lembut, ketika ia melihat wajah cemberut adiknya itu. "Aku tau kau takut kena marah Ibu." seakan tau apa yang dipikirkan adiknya, "Tenang saja, aku akan menjelaskan padanya. Jangan cemas." Chanyeol sedikit berusaha menenangkan.

Jisung memang anak nakal, keras kepala, jahil dan masih banyak lagi. Namun sikap itu muncul hanya saat bersama Chanyeol, dan disekolah. Berulang kali guru kedisiplinan menelpon orang tuanya hanya karena perbuatan konyol sang adik disekolah. Namun satupun telepon tak ada yang diangkat oleh orangtuanya, karena sekali lagi, perbuatan konyol Jisungㅡmemblokir nomor telepon gurunya di ponsel orangtuanya membuat guru tersebut kesusahan hanya untuk bertemu membicarakan kelakuan Jisung. Namun berbeda jika berhadapan dengan sang Ibu, Jisung bagaikan seekor rusa yang siap dimaksa oleh seekor macan tutul. Takut.

Adiknya itu mengangguk, membuat Chanyeol sedikit lega, karena tak perlu waktu lama untuk membujuk adiknya itu. "Jangan menangis!" serunya saat Jisung telah melangkah masuk kedalam halaman rumah, setelah berpamitan dengan Baekhyun.

Tanpa disangka, Jisung membalikan badan , dan mengacungkan jari tengahnya pada sang kakak. Membuat Chanyeol menganga tak percaya. Beruntung Baekhyun yang sedang asik bersama bubble tea tidak melihat kelakuan adiknya itu.

...

...

...

Keadaan canggung. Hanya suara seorang penyanyi yang berasal dari ponsel Chanyeol, yang tersambung pada speaker mobil yang mengisi kekosongan diantara keduanya. Hanya ada ia dan Baekhyun kini yang telah menghabiskan minumannya beberapa saat lalu. Satupun dari keduanya tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Chanyeol fokus pada setir, namun sesekali melirik pria disampingnya. Sedangkan Baekhyun hanya menatap jalan, tanpa tau Chanyeol yang sudah tak tahan ingin bicara padanya.

Chanyeol ingin sekali bersuara, sekedar bertanya dimana tempat tinggal Baekhyun. Namun setelahnya ia teringat akan perkataan sang adik, jika Baekhyun dan dirinya tinggal di satu gedung apartemen yang sama.

Sepertinya pupus sudah harapan Chanyeol ingin bisa berbicara dengan Baekhyun. Jarak yang akan ia tempuh hingga sampai di apartemen tersebut lumayan jauh. Sekitar 30 menit menghabiskan waktu, dan Chanyeol pikir akan sangat disayangkan jika waktu tersebut terbuang begitu saja, sedangkan disampingnya kini ada sesosok makhluk indah ciptaan Tuhan bersamanya.

Chanyeol berdeham, berniat menetralkan suaranya, namun Baekhyun menoleh dan bersuara lebih dulu, "Ada apa, Chanyeol?"

Pertanyaan yang Baekhyun keluarkan pun membuat Chanyeol gugup. Padahal hanya pertanyaan biasa. Namun yang membuat dirinya gugup adalah Baekhyun yang memanggil namanya tanpa embel-embel formal. Dan seketika saja Chanyeol teringat akan perkataan adiknyaㅡlagi, yang mengatakan bahwa ia ingin di jodohkan dengan Chanyeol.

"Ah? Tidak." Jawabnya canggung.

Baekhyun hanya mengangguk. Membuat Chanyeol menggerutu dalam hati. Ia pikir mungkin Baekhyun sedang tak ingin bicara, atau memang ia orang yang pendiam? Entahlah, Chanyeol juga tidak tau. [ya maka dari itu di cari tau atuh.]

"Baekhyunㅡssi." tersadar memanggil Baekhyun terlalu bersemangat, Chanyeol menutup mulutnya. "Maaf, suaraku memang berat seperti ini. Aku tidak bermaksud berteriak padamu. Sungguh."

Baekhyun hanya terkekeh pelan. Pria ini lucu, pikirnya. "Tak apa. Aku suka suaramu." jawabnya jujur.

Namun terlalu jujur hingga Chanyeol rasanya ingin membenturkan kepala pada setir saja.

Chanyeol tetap mengendarai mobilnya dengan tenang, sesekali matanya memeriksa kaca spion kanan maupun kiri. "Apartemenmu di lantai berapa?" seperti berteman sudah lama, Baekhyun dengan entengnya bertanya.

"Eh?" Chanyeol menoleh, sedikit terkejut mendapat pertanyaan semacam itu dari Baekhyun. "Lantai 6. Tapi aku sedang mengurus kepindahan ke lantai 9." jelasnya dan Baekhyun mengangguk.

Tunggu, lantai 9? "Ah, sayang sekali, padahal jika kau tidak pindah kita berada di lantai yang sama." Baekhyun memberi tau.

"Benarkah?" dalam hati Chanyeol sedikit menyesal memutuskan pindah. Ingatkan Chanyeol untuk membatalkan kepindahannya nanti.

Baekhyun mengangguk. "Tapi aku jarang melihatmu, kenapa ya?"

"Mungkin karena aku lebih sering menginap di kantor?" Chanyeol menjawab dengan pertanyaan lagi, dan taunya keduanya terkekeh. "Aku memang sering tidur di kantor. Terlalu malas untuk pulang jika terlalu larut."

"Ah begitu."

"Kau sendiri?" Chanyeol balik bertanya, setir ia arahkan belok ke kiri, dimana gedung tinggi tempat mereka tinggal terpampang jelas.

"Aku selalu menghabiskan waktu dirumah sakit. Bahkan ini kali pertamaku pulang setelah seminggu menginap disana." jawabnya sambil tertawa pelan.

Mobil Chanyeol telah terparkir sempurna di basement. Baekhyun turun lebih dulu, sedangkan Chanyeol sedang memutuskan koneksi bluetooth antara ponselnya dan mobil, lalu keluar. Ia terkejut mendapati Baekhyun yang menunggunya.

"Ah, kukira kau sudah berjalan lebih dulu. Maaf membuatmu menunggu." ujar Chanyeol.

"It's okay. Akan terasa canggung jika berjalan sendiri padahal kita tinggal dilantai yang sama." ia menjelaskan alasannya menunggu.

Mereka berjalan beriringan. Tidak ada obrolan yang tercipta satupun antara mereka, hingga mereka memasuki lift. Baekhyun menekan tombol angka 6 dimana lantai apartemennya berada. Chanyeol berdiri terlalu jauhㅡbagi Baekhyun dengan tangan terbenam di kedua saku celananya. Melihat itu, Baekhyun gemas sendiri. Pria disampingnya ini sepertinya sedikit pemalu.

Entah ide dari mana, Baekhyun menarik lengan Chanyeol. Membuat Chanyeol membeku. Ya walaupun lengannya di lapisi jas, ia bersumpah dapat merasakan betapa lembutnya telapak tangan Baekhyun.

"Aku tidak suka jarak." jujur Baekhyun namun pria itu membuang muka. Tak berani menatap Chanyeol. Pria cantik itu bahkan tak melepaskan cengkramannya pada lengan Chanyeol.

Dentingan yang berasal dari lift berbunyi. Mengingatkan bahwa mereka telah sampai di lantai tujuan. Keduanya melangkah bersamaan, tangan Baekhyun ㅡ pun masih setia di lengan Chanyeol.

Dan setelahnya, saat tiba di depan pintu Chanyeol lebih dulu, tubuh Baekhyun tertarik ke belakang disaat Chanyeol menghentikan langkahnya. Dan saat itu pula, Baekhyun tersadar lalu melepas pegangannya dengan cepat dan cangggung.

"Ini rumahku." Chanyeol menunjuk pintu dihadapannya. Nomor 61. Pria itu terkekeh melihat Baekhyun yang berdeham canggung.

"Ah, begitu."

"Itu saja?" Chanyeol yang mendapati Baekhyun berubah canggung seperti itu bertanya. "Tidak ingin mampir?"

Baekhyun mendongak, tampak menimbang ia akan mampir atau tidak. Namun setelahnya ia menggeleng. "Lain kali saja, debu dirumahku sudah menumpuk."

Chanyeol yang memang memilih menggunakan jasa seseorang untuk membersihkan rumahnya, tentu tak ambil pusing jika ia tidak pulang semaunya. Rumahnya pasti akan tetap bersih.

Namun berbeda dengan Baekhyun, ia lebuh suka melakukan tugasnya seorang diri. Apalagi ini menyangkut rumah, area pribadinyaㅡkarena ia tinggal sendiri.

"Perlu kubantu?" tawar Chanyeol.

Namun tiba-tiba saja Baekhyun menggeleng kuat. "Tidak, tidak perlu. Aku bisa sendiri." tolaknya.

"Begitu..." Chanyeol berujar. "Kalau aku bilang aku ingin berkunjung lain kali, apa bisa?"

"Huh? Maksudnya?" jawab Baekhyun bingung.

"Aku ingin berkunjung kerumahmu. Mungkin tidak sekarang. Bagaimana kalau nanti malam?" jelas Chanyeol ringan membuat Baekhyun berfikir. Pria itu ingin datang kerumahnya, buat apa?

"Nanti malam? Apa kau tidak ada acara? Ini hari jum'at. Setidaknya kau harus pergi dengan pacarmu kan?" Baekhyun terlihat menolak dengan alasan seperti itu. Namun setelahnya tersadar, kenapa ia terdengar seperti seseorang yang suka pada seseorang namun cemburu? "Ah, bukan itu maksudku. Dari pada berkunjung kerumahku, kau bisa memilih kegiatan lain yang lebih menyenangkan." Baekhyun jelaskan mencoba agar Chanyeol tak salah paham.

"Aku tidak punya pacar, Baekhyun." kalimat sederhana Chanyeol keluarkan. Baekhyun mengangguk tanda mengerti.

"Baiklah, kalau begitu terserahmu saja." jawabnya. "Aku permisi, terima kasih atas tumpangannya." Baekhyun berujar sedikit membungkuk lalu berbalik, meninggalkan Chanyeol di belakangnya yang masih menatap tubuh Baekhyun yang berjalan menjauh.

Namun belum terlalu jauh sehingga panggilan pelan Chanyeol terdengar hingga ke telinga Baekhyun.

"Aku pikir, seorang dokter tak memiliki pacar karena terlalu sibuk mengurus pasiennya." kalimat yang Chanyeol luncurkan terdengar lucu di telinga Baekhyun. Apa maksud pria ini? Batinnya.

Namun Baekhyun hanya tersenyum menanggapinya, kembali berbalik lalu melanjutkan langkahnya. Sedangkan Chanyeol masih setia memandang punggung sempit yang perlahan menjauh hingga hilang ketika berbelok ke kanan, dengan senyuman lebar di wajahnya.

...

...

...

Malam mulai larut. Pukul 9 lewat 10. Baekhyun berjalan sembari merapatkan mantel tebal miliknya menuju sebuah minimarket berjarak beberapa blok dari apartemennya.

Langit sangat jelas ingin sekali menumpahkan seluruh beban air yang dikandungnya, terbukti dengan beberapa tetesan air yang jatuh menimpa wajah Baekhyun. Baekhyun semakin menambah laju langkahnya, beberapa meter saja maka ia akan sampai pada tujuan.

Baekhyun phobia gelap, dan sialnya lampu yang menjadi satu-satunya sumber penerangan yang dimiliki kamarnya putus. Entah dikarenakan oleh apa, namun berfikir itu karena dirinya yang tidak menginjakkan kaki dirumah seminggu belakangan.

Suara lonceng berbunyi saat ia membuka pintu kaca minimarket tujuannya. Seorang anak laki-laki pekerja paruh waktu yang memang sudah Baekhyun kenal menyambutnya dengan senyum manisㅡseperti biasa.

"Kau menggunakan mantel tebal tetapi lihat kakimu, sendal jepit?" kalimat dilontarkan oleh anak laki-laki itu, setelah meneliti penampilan Baekhyun. Dan tersadar juga jika pria yang lebih tua darinya itu hanya memakai celana piyama tipis, walaupun mantel berhasil menutupi tubuhnya hingga sampai lutut.

Baekhyun tak menghiraukan, lebih memilih berjalan menyusuri rak-rak, mengambil beberapa makanan seperti ramen dan cemilan lainnya, dan juga satu-satunya hal yang ia butuhkan sehingga dirinya sampai di minimarket itu.

Pria mungil itu berjalan dengan tangan penuh belanjaan, ia terlalu malas mengambil keranjang, lalu berjalan menuju kasir, meletakkan seluruh belanjaannya disana untuk di hitung nominalnya.

"Diamlah V, aku sedang tak ingin bicara." ketus Baekhyun, tangannya ia bawa meraba saku mantel, meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

Yang di panggil V tadi, berseru ketus, "Namaku Taehyung, jangan seenaknya mengganti nama orang." ujar nya tak suka.

"Terserah aku." jawab Baekhyun tak peduli.

Taehyung memasukkan belanjaan Baekhyun kedalam kantong plastik dan memberikannya pada pria itu. Namun saat Baekhyun hendak melangkahkan kaki meninggalkan minimarket itu, seseorang menahan tangannya.

Terlihat Taehyung yang sedang memegang plastik berisikan sepasang kaos kaki baruㅡyang Baekhyun yakini baru saja di dapatkan anak itu dari salah satu rak yang ada disana, lalu memberikannya pada Baekhyun.

"Kau bisa terkena hipotermia. Kenakan ini." ujar Taehyung, memaksa. "Kau tidak lihat ramalan cuaca? Badai akan mampir ke Seoul malam ini, sebaiknya kau berpakaian yang lebih tebal, hyung." jelasnya.

Baekhyun tak protes, ia terima kaos kaki tersebut lalu membuka kemasannya, dan membuka sepasang sendal jepit lalu dengan cekatan memasangkan kaos kaki tersebut di kakinya, lalu kembali menggunakan sendal jepit.

"Terima kasih, tapi seharusnya kau harus mwngkhawatirkan dirimu sendiri, bocah!" Baekhyun menjulurkan lidahnyaㅡtanda mengejek lalu berjalan begitu saja meninggalkan Taehyung yang hanya menggelengkan kepala melihat kelakukan hyungnya itu.

Laju langkah sangat ketara ia tambah kecepatannya, hujan mulai turun dengan pelan, namun dengan seiring langkahnya, hujan menjadi deras. Satu tempatpun tak ada yang bisa ia gunakan untuk berlindungㅡmengingat sekarang ia melangkahkan kaki di antara gedung-gedung tinggi yang sialnya salah satunya adalah tempat dimana ia tinggal.

Kepalang basah, Baekhyun sengaja melambatkan langkahnya. Toh mau lari bagaimanapun, baju dan mantelnya telah basah terkena hujan, dan ia memilih untuk berjalan saja.

"Ah sial!" Baekhyun menggerutu, tangannya ia bawa mengelap wajahnya, menyingkirkan air hujan yang menghalang penglihatannya. "Tau begini aku bawa payung saja tadi!" kesalnya.

Setelah berjalan beberapa meter, Baekhyun tiba di gedung apartemennya, pakaiannya yang basah bukan main itu tentu menarik perhatian orang-orang yang sedang bersantai di lobi. Dan salah satunya adalah pria jangkung yang baru saja ia kenal. Namun Baekhyun tak sadar jika pria itu memperhatikannya.

Baekhyun tampak menggerutu lucu, ia menyempatkan berdiam diri di lobi sejenak, kakinya terasa lemas karena kedinginan.

Dan gerak-geriknya tersebut tak sedikitpun terlepas dari pandangan Chanyeol. Pria jangkung itu sedari tadi memperhatikan Baekhyun dari posisinya. Chanyeol kebetulan sedang santai di lobi bersama seseorang, teman lamanya dan sejak kedatangan Baekhyun, teman lamanya pun jadi terabaikan.

Posisis Chanyeol duduk tepat didekat lift, beberapa sofa terusun disana, dan jika ingin menuju lift, harus melewati zona tersebut lebih dulu.

Baekhyun yang hendak kembali ke rumahnya, berjalan pelan karena tubuhnya yang sedikit bergetar. Ia berjalan memasuki lift, mengabaikan tatapan dari beberapa orang yang ada disana.

Pria mungil itu tampak menekansandi apartemennya, langkah kaki ia lanjutkan memasuki rumah sebelum sebuah suara menghentikan aksinya. Baekhyun berbalik, mendapati Chanyeol berjalan ke arahnya.

"Chanyeolㅡssi?" panggil Baekhyun. Pria mungil itu heran kenapa bisa Chanyeol berada di belakangnya, sedangkan ia sangat meyakinkan hanya sendiri saat berada di dalam lift. Namun hal itu tak mengganggu fikirannya. Justru hal lain yang ia pikirkan sejak melihat kehadiran Chanyeol sekarang.

"Hujan sangat deras, kau tidak menggunakan payung?" tanya Chanyeol saat tiba di hadapan Baekhyun.

Baekhyun tampak melirik ke belakang Chanyeol, seperti mencari seseorang. Chanyeol yang melihat gerak gerik Baekhyun sontak berbalik menghadap belakang, namun tak mendapati apapun.

"Apa yang kau cari?"

Baekhyun menggeleng, "Tidak ada. Hanya ingin memastikan sesuatu."

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang kini tengah memeluk tubuhnya sendiri. Seluruh koridor gedung tempat tinggal mereka memang full AC, karena gedung tersebut termasuk salah satu apartemen mewah di seoul. Pria jangkung itu diam, begitupun Baekhyun dengan suara gigi mungilnya beradu, tanda menggigil, namun tetap saja piria mungil itu tak juga beranjak.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol memastikan. "Kau tidak baik-baik saja. Kau menggigil, Baekhyun." ucap Chanyeol pasti.

Namun Baekhyun diam saja. Pintu rumahnya sedikit terbuka, Chanyeol yang melihat itu segera mendorong pelan punggung Baekhyun setelah menyuruh pria mungil itu berbalik, memasuki rumah Baekhyun. Baekhyun menurut saja, ia sangat merasa tubuhnya lemas karena dingin yang menerpa.

Sofa ruang tamu menjadi tujuan utama Chanyeol, dengan segera menggiring Baekhyun untuk duduk disana. "Dimana letak handuk?" tanya Chanyeol.

"Aku bisa sendiri, Chanyeol. Kau tak perlu membantu."

"Aku tidak suka di tolak."

Baekhyun mendengus, kepalanya terasa pening, namun prilaku pria yang baru dikenalnya ini seakan telah berteman lama dengannya membuat situasi sedikit canggung, ditambah lagi, ia teringat perkataan Chanyeol.

Pasalnya, pria itu tidak jadi singgah ke rumahnya, membuat Baekhyun terpaksa membuang makan malam yang entah mengapa ia persiapkan untuk menyambut pria yang akan menjadi temannya itu ke tempat sampah tanpa ragu. Ia juga sempat kesal karena pria didepannya sekarang ini seperti tidak ada rasa bersalah.

"Kau pulang saja, aku bisa mengatasi diriku sendiri." Baekhyun berucap. Membuat Chanyeol yang sedari tadi terdiam, tambah terdiam. Tak tau harus merespon apa. Yang ia tau bahwa Baekhyun baru saja mengusirnya. Secara halus.

"Dimana dapurnya?" alih-alih pergi, Chanyeol malah melangkahkan kaki, mencari letak dapur Baekhyun. Dan dengan sekejap pria itu menemukannya.

Chanyeol masuk ke bagian dapur, namun yang ia dapatkan di sudut matanya adalah tong sampah yang penuh akan makanan. Aroma makanan tersebut sangat kuat, dan lezat tentu saja karena Chanyeol sangat tau membedakan mana yang enak dan yang tidak.

Pria itu tampak kembali menuju Baekhyun, menghilangkan niatnya untuk membuatkan secangkir teh panas untuk si mungil.

"Kau membuang semua makananmu?" Baekhyun yang baru saja duduk kembali di sofa, setelah mengeringkan diri dan membawa selimut tebal untuk menutupi dirinya terkejut mendapati Chanyeol masih berada di rumahnya. Awalnya Baekhyun pikir pria itu hanya ingin minta minum lalu pulang, namun ternyata ia salah.

"Ah itu..." kalimatnya menggantung. Baekhyun tak tau harus menjawab apa. Alih-alih berkata jujur, Baekhyun malah mengeluarkan satu alasan yang sangat konyol menurut Chanyeol, "Itu semua basi. Aku memasaknya minggu lalu sebelum pergi."

Chanyeol tampak mengangguk seakan mengerti, itu membuat Baekhyun sedikit lega. Jika saja Chanyeol tau mengapa makanan itu berakhir di tempat sampah, Baekhyun yakin pria itu akan berfikiran yang tidak-tidak perihal dirinya.

Namun Chanyeol tidak sebodoh itu, "Kau bohong." itu bukan sebuah pertanyaan. Namun pernyataan yang ia tujukan pada pria mungil itu. "Makanan itu terlihat baru. Bahkan aku masih bisa merasakan aromanya."

Baekhyun bungkam. Ingatkan ia untuk tak lagi mencoba berbohong pada Chanyeol karena Chanyeol sepertinya memiliki alat pendeteksi kebohongan.

"Itu bukan urusanmu, Chanyeol-ssi. Aku rasa kehadiranmu tidak terlalu penting sekarang jika hanya membahas makanan yang ada di tempat sampah." Baekhyun kesal, serentetan kalimat ia keluarkan, sedikit dengan nada ketus membuat Chanyeol sedikit menciut.

Seakan sadar diri, Chanyeol berpamitan pada Baekhyun, berlalu tanpa mendapat balasan dari pria mungil yang entah mengapa merasa kesal akan kehadiran Chanyeol.

Sepeninggalannya Chanyeol, Baekhyun berdiri menuju pintu dan menguncinya cepat.

Entah mengapa rasa kesal pada Chanyeol muncul, tepat saat ia mendapati keberadaan pria itu di lobi bersama seorang wanita yang super cantik menurut Baekhyun. Melihat kedekatan mereka membuat Baekhyun langsung terpikirkan akan kalimat Chanyeol siang tadi, yang mengaku jika ia tidak memiliki pacar.

Pembohong, pikir Baekhyun.

Pria setampan dan semapan Chanyeol mustahil sekali tidak memiliki pacar, kan?

Dan entah mengapa pula Baekhyun jadi memikirkan Chanyeol, seingatnya ia baru saja berkenalan dengan pria itu, namun perasaan aneh silih berganti dirasakan hatinya, entahlah, Baekhyun juga tidak tau apa artinya semua itu.

Baekhyun memilih melupakan semua itu sejenak, lalu lebih memilih membaringkan diri di sofa, bergelung dengan selimut tebal miliknya dan berencana bangun lebih siang besok karena hari libur.

...

...

...

have a nice night everyone