Kebanyakan dari manusia memanfaatkan hari libur mereka dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Entah itu hanya berkumpul disebuah kafe sederhana, atau berkumpul dirumah keluarga bersama saudara-saudara lainnya.

Namun tidak dengan Baekhyun. Pria itu kini terlihat sedang memiliki beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dengan kemoceng dan juga selembar kain lap serta cairan pembersih kaca, ia siap untuk memusnahkan seluruh debu dan kotoran rumahnya yang telah ia biarkan selama seminggu belakangan ini.

Saat ia terbangun tadi, Baekhyun mendapati seluruh tubuhnya terasa sakit dan pegal yang teramat karena ia memilih untuk tidur di sofa sampai pagi. Well, salahkan lampu kamarnya yang tiba-tiba tidak bisa berfungsi.

Baekhyun memulai perlahan pekerjaannya. Mulai dari menyingkirkan debu-debu yang tertempel pada TV dan beberapa miniatur favoritnya di nakas, melap kaca menggunakan cairan pembersih agar terlihat lebih mengkilat.

Pria itu tidak main main jika mengatakan ia akan membersihkan rumah, karena dia akan benar-benar 'membersihkan.' tak peduli jika perang dunia ketiga di mulai pun, ia akan tetap melanjutkan pekerjaannya.

Setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam, karena ia tambah dengan menyapu dan mengepel seluruh lantai rumahnya, kini Baekhyun berbaring di lantai beralaskan karpet berbulu miliknya. Tak peduli jika itu tepat di tengah ruang TV nya, ia membaringkan diri disana.

Baekhyun melirik jam di nakas, pukul 1 siang. Memang, tadi ia terbangun pukul 10, lalu memilih untuk membersihkan diri dan mandi. Namun setelah mandi ia baru tersadar jika akan membersihkan rumah, alhasil dirinya kembali berkeringat dan mau tak mau ia harus mandi, lagi.

Bosan Baekhyun rasakan sekarang. Pria itu bangkit, berjalan menuju kamar untuk mengganti baju karena ia berniat untuk makan siang di luar karena ia terlalu lelah untuk lanjut memasak. Lagipula jam makan siangnya hampir saja terlewat jika saja ia tak melirik jam di nakas untuk ke dua kalinya.

Setelah di rasa siap, Baekhyun berjalan keluar meninggalkan apartemen setelah menguncinya. Simpel saja, ia hanya menggunakan jeans hitam yang memiliki sobek di beberapa bagian, lalu hoodie berwarna putih kebesaran dan juga topi berwarna hitam. Baekhyun memilih bergaya seperti itu karena ia berfikir ia akan mengunjungi restoran untuk makan siang lalu setelahnya ia bisa pulang. Melanjutkan kegiatan menonton drama yang memang ia tinggalkan sejak seminggu lalu.

Tidak ada yang terjadi selama perjalanan hingga ia tiba di tujuan. Baekhyun memilih untuk makan di salah satu restoran jepang, entah mengapa ia ingin sekali makan makanan jepang. Pria berpostur mungil itu mengambil salah satu tempat disana, lalu meraih buku menu yang memang telah disediakan di atas meja.

Menyadari dirinya berada di restoran jepang sekarang, entah mengapa ia jadi teringat akan seseorang. Seseorang yang dulu pernah berkali-kali menyatakan cinta padanya namun dengan tanpa berfikir ia langsung menolaknya, dengan alasan 'maaf, aku sudah punya pacar.'

Pria itu siapa lagi kalau bukan Kim Jongin. Adik tingkat di universitasnya, namun Jongin berada di fakultas seni. Jongin merupakan seorang dominan yang baik, bertanggung jawab dan...tampan. Ya, Baekhyun akui Jongin memang memiliki wajah yang tampan, walaupun warna kulitnya agak sedikit gelap dari pria kebanyakan.

Ah, Baekhyun tiba-tiba jadi rindu pada pria itu. Sudah terhitung 9 tahun ia dan Jongin tidak bertemu. Jangankan bertemu, sekedar berbalas pesan saja tidak. Baekhyun sadar itu semua salahnya yang tak mencoba untuk membalas perasaan pria itu dan memilih langsung menolak tanpa berfikir terlebih dahulu.

flashback*

Baekhyun tampak membereskan seluruh perlengkapan sehabis ia mengikuti kelas. Professor yang tadi mengisi kelasnya pun sudah lebih dulu meninggalkan kelas. Lelaki bersurai abu biru itu tersenyum lega, akhirnya ia keluar dari lingkaran setan yanh diciptakan professor tidak berambut itu.

Baekhyun berjalan menuju pintu, terkejut saat mendapati Jongin berdiri bersandar di salah satu pilar yang berhadapan langsung dengan pintu kaca kelasnya.

"Hai," Jongin menyapanya seperti biasa, namun bagi Baekhyun ada sesuatu yang aneh pada adik tingkatnya itu.

"Jongin?" ucap Baekhyun terkejut. "Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau ada kelas?" tanya Baekhyun bertubi.

Jongin hanya tersenyum. Lelaki yang selama ini terkenal memiliki sifat kekanakan dan tak bisa diam itu sekarang tampak berkebalikan dengan sifat aslinya.

Kakinya ia bawa menghampiri Jongin, dengan kedua tangan masih memeluk beberapa buku bawaannya. "Kau bolos? Yaa anak nakal! Sana ke kelasmu!" perintah Baekhyun cepat.

Namun lagi-lagi Jongin hanya tersenyum. Baekhyun menatapnya dengan tatapan selidik. Menilai penampilan Jongin dari atas ke bawah, lalu tersadar jika setelan pria itu sangat tidak cocok untuk mengikuti kelas.

"Mengapa berpakaian seperti itu? Kau mau kemana memangnya?" Tanya Baekhyun lagi, dan setelahnya kesal karena tak mendapat jawaban dari Jongin.

Baekhyun tampak hendak meninggalkan Jongin sendiri sebelum lelaki yang berbeda usia 2 tahun dengannya itu menarik pergelangan tangannya, menghentikan aksi Baekhyun yang baru saja ingin meninggalkannya.

"Ayo bicara, Baek."

Biasanya Jongin memanggil dirinya dengan sebutan 'hyung' tak peduli disaat ia sedang marah karena Baekhyun menjahilinya, ia tetap memanggil Baekhyun 'hyung'. Namun kali ini ada yang berbeda, Baekhyun sangat merasakan hal itu.

Baekhyun hanya bisa mengangguk kaku. Jongin berjalan di depannya, dan ia dengan patuh mengikuti lelaki itu dari belakang. Jongin membawanya ke salah satu ruangan. Ruangan favoritnya dan juga Baekhyun. Ruang musik.

Jongin yang memang seorang mahasiswa seni, kerap kali mengajak Baekhyun untuk sekedar mampir ke ruangan favoritnya itu. Lalu di hari-hari berikutnya mereka sering berkunjung kesana dan sekarang menjadi tempat favorit mereka.

"Ada apa?" Baekhyun berusaha terlihat tenang, walau dalam hati ia sangat cemas akan apa yang ingin di bicarakan Jongin padanya.

Jongin menatapnya serius, pria yang hanya menggunakan jeans dan jaket hitam itu menelan ludahnya, bersiap mengucapkan satu kalimat yang sedari malam ia siapkan.

"Apa...apa kesempatan itu sama sekali tak ada untukku?"

Kalimat Jongin keluarkan, Baekhyun taunya membuang muka. Sudah menduga jika Jongin akan membahas hal ini. Lagi-lagi hal ini. Perihal lelaki itu yang mencintainya sedangkan Baekhyun sudah puluhan kali menolak.

"Jongin..."

"Apa kebersamaan yang kita lewati selama ini tak cukup berarti untukmu sehingga kau tak bisa membalas perasaanku?"

"Jongin, aku..."

"Selama ini kau menganggapku apa, Baek?" Jongin berucap pelan, "Apa hanya aku yang memiliki perasaan itu?"

Baekhyun terkejut saat ia lihat tatapan terluka Jongin juga air mata yang mengalir di kedua pipi sang dominan. Jongin menangis. Benar-benar menangis.

"Kau tau...ibuku pernah berkata," Jongin mengusap air matanya kasar, "Seorang pria harus tunduk pada 3 hal. Tuhan, Ibunya dan orang yang ia cintai." Jongin mengakhiri kalimatnya dan mengambil langkah mendekat. Ia melangkah dan berdiri tepat di hadapan Baekhyun yang masih tak mengerti.

"Aku telah melaksanakan 2 dari 3 hal tersebut. Aku telah tunduk pada Tuhan, lalu pada ibuku. Hanya 1 hal tersisa yang belum aku laksanakan."

Baekhyun mencerna ucapan Jongin, tentu ia tau 3 hal tersebut mengingat ia juga akan menjadi seorang pria. Namun yang ia bingungkan, mengapa Jongin membicarakan hal itu padanya? Apa maksud dari lelaki yang sedang menatapnya dengan air mata ini?

Jongin tak bergerak sedikitpun, membuat Baekhyun sedikit antisipasi atas apa yang akan di lakukan pria itu selanjutnya. Namun apa yang Jongin lakukan setelahnya sukses membuat matanya terbuka lebar. Tak percaya apa yang ia lihat saat ini.

Jongin tunduk padanya. Dengan kedua tangan terkepal di depan tubuh dan kepala menunduk, berdiri tepat dihadapan Baekhyun.

Baekhyun yang terkejut lantas dengan cepat meletakkan bukunya di meja terdekat, lalu meraih kedua bahu lelaki di hadapannya. Jongin mendongak, menatap Baekhyun tak mengerti.

"Kau tak harus melakukan ini, Jongin." Baekhyun berkata pelan. "Aku bukan orang yang pantas menerima hal itu darimu."

"Mengapa?" tanya Jongin singkat. "Apa karena hanya aku yang mencintaimu?"

"Tidak, tidak seperti itu. Aku..." Baekhyun tergugup. Ia sadar ia tak bisa menjelaskan pada Jongin tentang perasaannya. Sungguh, Baekhyun selama ini hanya menganggap Jongin sebagai seorang kakak pada sang adik. Namun ia tak tau jika Jongin akan memiliki perasaan berbeda untuknya.

"Maafkan aku." kalimat yang terakhir Baekhyun ucapkan, sebelum lelaki mungil itu berjalan untuk memeluk Jongin. Membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, dan juga melingkarkan tangannya di pinggang si dominan dengan erat.

"Maafkan hyung, Jongin-ah." pinta Baekhyun. "Aku tetap tidak bisa."

Jongin mengepalkan kedua tangannya, ia sangat ingin membalas pelukan lelaki mungil yang sedang mendekapnya saat ini, namun ia sadar, jika ia melakukannya maka akan sulit untuknya meninggalkan Baekhyun.

Sebaliknya, Jongin melepas pelukan Baekhyun. membuat si mungil sedikit terkejut. "Tak apa." Jongin berusaha tenang. "Aku tau aku sangat egois dengan selalu memaksamu membalas perasaanku. aku minta maaf."

Baekhyun menggeleng pelan. tidak, Jongin tidak salah. lelaki itu tidak salah sama sekali karena memiliki perasaan pada Baekhyun. Jongin hanya manusia biasa yang tak bisa menahan perasaannya, begitu pula dengan dirinya yang tak bisa membalas perasaan lelaki itu.

"Setelah ini aku tak akan lagi memaksamu, Baek. jangan bersikap canggung padaku setelah ini, oke? aku minta maaf." ucap Jongin. Baekhyun tak bisa berkata. ia takut salah bicara pada Jongin. ia tau, Jongin pasti sangat sensitif sekarang dan Baekhyun lebih memilih diam.

Taunya, Jongin melangkah, merapatkan tubuh mereka dan setelahnya yang ia lakukan adalah mengecup kening Baekhyun lama. lama sehingga membuat Baekhyun tertegun. dalam hati Baekhyun merutuki diri telah menyakiti lelaki di hadapannya ini. bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa membalas perasaan lelaki di hadapannya ini? padahal ia tau Jongin merupakan lelaki baik dan idaman para wanita dan juga submisif di kampusnya. namun dirinya lah yang beruntung untuk mendapatkan cinta Jongin. namun yang di lakukannya malah menolak dan menyakiti lelaki itu.

Jongin melepaskan ciumannya, menatap mata Baekhyun yang sekarang tampak berkaca-kaca dalam. diusapnya surai Baekhyun pelan, lalu ia tersenyum. "Sampai jumpa lagi, Baekhyun. maaf selama ini selalu menyusahkanmu."

Jongin pamit, berlalu meninggalkan Baekhyun disaat lelaki mungil itu belum sempat membalas perkataannya. Si dominan keluar dari ruangan musik, dengan Baekhyun yang masih saja bingung dengan apa yang terjadi. Jongin telah berlalu, dan Baekhyun masih mempertanyakan perasaannya.

Apa yang ia rasakan sekarang? mengapa ia menjadi sedih begini? dan ada apa dengan matanya yang bahkan sekarang bercucuran air mata? kenapa hatinya merasa tidak rela saat Jongin berucap dan berlalu meninggalkannya begitu saja?

Baekhyun bingung, tak tau apa yang terjadi dengan dirinya.

Yang ia tau, ia tidak ingin kehilangan sosok Jongin. seseorang yang selalu bersamanya sejak adik tingkatnya itu berada di satu universitas yang sama dengannya. terhitung sudah 4 tahun lamanya ia bersama Jongin, tentu saja ia tak ingin kehilangan lelaki itu.

Baekhyun tersadar, ia tak harus menolak Jongin kembali seperti itu. apa salahnya ia mencoba? apa salahnya ia mencoba membuka hatinya untuk lelaki seperti Jongin? Jongin mencintainya dan ia yakin lelaki itu pasti akan mau menunggunya untuk bisa merasakan hal yang sama dengan yang Jongin rasakan. Baekhyun berlari menuju pintu, berusaha mencari keberadaan Jongin di sepanjang koridor. tak peduli jika mahasiswa lain menatapnya aneh, ia tak peduli semua tugasnya tertinggal di ruang musik.

Ia terus berlari, dan tujuan utama adalah kelas Jongin. ia sudah sangat hapal semua jadwal kuliah Jongin dan ia tau seharusnya sekarang Jongin berada di kelas, terlelap tanpa memperdulikan dosen yang sedang berbicara didepan sana. tipikal Jongin yang sudah sangat Baekhyun tau.

Setibanya di kelas, pintu tampak tertutup. Baekhyun tau kelas sedang berlangsung, namun ia tak peduli. dengan memberanikan diei ia mengetuk pintu dan seruan masuk dari dalam sana membuatnya membuka pintu dengan cepat, dan seluruh pasang mata menatap kearahnya. Baekhyun mengedarkan pandangan, mata nya jatuh pada kursi kosong yang mana seharusnya Jongin ada disana. Namun yang ia dapati kursi itu kosong.

"Ada apa, Baekhyun?" dosen Song yang memang mengenal Baekhyun langsung bertanya perihal kedatangannya. Baekhyun menggeleng pelan, jejak air mata terlihat di sudut matanya.

"Apa Jongin tidak masuk hari ini?" tanya Baekhyun pelan. tatapan terkejut ia dapatkan dari seluruh pasang mata disana.

Baekhyun bingung akan tatapan mata seluruh orang yang ada dikelas padanya, apa yang salah dengan pertanyaannya? bukannya itu pertanyaan yang wajar saat seorang teman bertanya akan kehadiran temannya di kelas?

Baekhyun tertegun, mungkin saja ia tak pantas di anggap teman lagi oleh Jongin, mengingat ia sering menyakiti lelaki itu.

"Kau tidak tau?" salah satu mahasiswi berambut sebahu bersuara, "Jongin memutuskan pindah dari sini dan memilih untuk ikut kedua orangtuanya ke luar negeri." jelasnya.

"Apa?" Baekhyun terkejut. ia benar-benar tak tau perihal itu. mengapa Jongin tak memberi taunya? apa lelaki itu marah padanya? mengapa kepergiannya terasa sangat mendadak bagi Baekhyun?

"Kau tidak tau? aku kira kau dan dia telah berteman cukup lama." ucap gadis didepannya lagi.

Tanpa membalas ucapan gadis itu, Baekhyun berlari meninggalkan kelas, tak peduli jika tindakannya mendapatkan nilai buruk dimata dosen Song itu. yang ia pedulikan hanya Jongin dan penjelasan pria itu.

Baekhyun bingung. otaknya buntu dan tak tau lagi harus melakukan apa. ia tak tau harus mencari Jongin kemana lagi. lelaki itu menghilang dengan terlalu cepat menurutnya. ia meraih ponsel disaku celananya, menelpon Jongin dan taunya suara operator menyambut. berulang kali ia menelpon Jongin namun hasilnya tetap sama.

Baekhyun terduduk di koridor yang mulai sepi, ia bersandar pada salah satu dinding kelas, menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya yang ia tekuk. ia menyesal, sungguh. ia merasa bodoh. mengapa disaat ia hendak berkata akan mencoba membalas perasaan lelaki itu, Jongin malah dengan cepat meninggalkannya?

Baekhyun menangis sejadi-jadinya. namun tak terlalu jelas karena ia menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. ia menangis tersedu, hingga rasanya napasnya pun akan berhenti jika tak ia atur dengan baik.

"Jongin bodoh." serunya pelan. "Jongin bodoh. hiks, aku mencintai Jongin." lanjutnya lagi. ia tau ia bingung dengan perasaannya namun entah mengapa kalimat itu terucao begitu saja dari bibirnya.

ia tau ia tak pantas berucap seperti itu disaat ia terlalu banyak menyakiti Jongin. namun apa peduli Baekhyun? ia tetap akan berkata bahwa ia mencintai Jongin. meskipun ia belum tau perasaan apa yang ia rasakan terhadap lelaki itu, Baekhyun tau bahwa ia mulai memiliki perasaan yang sama dengan Jongin tepat disaat lelaki itu memilih untuk meninggalkannya.

"Aku mencintaimu, Jongin-ah." ucapnya sendu. "Aku mencintaimu. aku mencintaimu. maafkan aku, maafkan aku." racaunya tak jelas. namun ia tau itu semua sia-sia. Jongin telah pergi. lelaki itu pergi meninggalkannya disaat ia sadar jika ia mulai mencintai lelaki itu.

*flashback end.*

Tepukan di punggung tangan menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. sial, dalam hati ia merutuk. sudah berapa lama ia melamun? dan apa-apaan dengan air mata yang mengalir di pipinya? apa ia menangis? Baekhyun merasa malu sendiri.

Seorang pelayan dihadapannya memandangnya bingung sekaligus khawatir. pasalnya pelayan itu sedari tadi berusaha menyadarkan Baekhyun yang sedari tadi hanya melamun. Pelayan tersebut awalnya hanya membiarkan, namun mendapati pelanggannya yang mulai menangis ia mau tak mau mengambil tindakan tadi.

"Maafkan aku, ini sangat memalukan." Baekhyun mengusap pipinya sambil tersenyum canggung. pelayan perempuan dihadapannya hanya mengangguk tak kalah canggung.

"Ingin pesan apa?"

Baekhyun tampak berfikir. selera makannya tiba-tiba saja menghilang. ia berdeham pelan, "Apa tak apa jika aku batal memesan? selera makanku tiba-tiba hilang." ucapnya tak enak.

"Tak apa. aku mengerti." sang pelayan berucap tenang. "Kau tak apa? tunggu sebentar aku akan mengambil segelas air."

baru saja Baekhyun ingin menolak, pelayan wanita itu telah berlalu meninggalkannya menuju dapur. cukup lama Baekhyun menunggu hingga matanya menangkap sosok pelayan tadi dengan segelas air di tangan. namun tampilannya berbeda. wanita itu tak lagi memakai pakaian kerja seperti tadi, melainkan kaos santai dan celana 3/4 dengan ransel kecil di punggungnya.

wanita pelayan itu meletakkan gelas di meja tepat didepan Baekhyun. ia masih setia berdiri sedangkan Baekhyun merasa canggung.

"Kau boleh duduk disini jika mau." Baekhyun bersuara. taunya wanita itu langsung tersenyum dan mengambil duduk tepat dihadapnnya.

"Maaf jika lancang memukul tanganmu tadi." mulai wanita itu. "Awalnya aku biasa saja, namun melihatmu mulai menangis membuatku sedikit khawatir." jelasnya.

"Ah, tidak apa. akan sangat memalukan jika kau tidak segera menyadarkanku. terima kasih..."

"Jung Soojung."

"Terimakasih, Soojung-ssi." lanjut Baekhyun setelah mengetahui nama wanita di hadapannya.

"Kau bekerja disini?" tanya Baekhyun setelah mendapat keterdiaman diantara ia dan Soojung.

"Ah? Tidak. ini restoranku." jawab Soojung dan Baekhyun terkejut. jika ini restorannya sendiri, mengapa tadi Soojung menggunakan seragam khusus karyawan?

seakan mengerti, Soojung menjelaskan, "Aku hanya ingin berbaur dan dekat dengan karyawanku. maka dari itu aku turut andil dalam melayani pengunjung."

Ah, Baekhyun mulai mengerti. wanita didepannya ini terlihat sangat rendah hati dan tidak sombong. Baekhyun bisa merasakan jika wanita didepannya ini merupakan seorang bos yang baik bagi karyawan-karyawannya.

"Berapa umurmu?" pertanyaan acak dari Soojung keluar. jika Baekhyun tidak tau, Soojung sedikit tertarik dengan dirinya. bukan tertarik dalam hal perasaan, hanya saja Soojung merasa ia bisa berteman baik dengan pria di hadapannya saat ini.

"Aku? 33 tahun." Baekhyun menjawab enteng.

"Apa? astaga, maaf." Soojung berubah canggung. "Kau tidak terlihat seperti seseorang berumur 33, hyung." ucap Soojung antusias.

"Hyung? ku kira kau wanita."

Soojung membelalakan mata, "Aku memang wanita! hanya saja, aku tidak terlalu suka memanggil pria yang lebih tua dengan sebutan oppa. aku geli." jelasnya lalu terkekeh kemudian, "Aku bahkan memanggil suamiku dengan sebutan hyung sampai sekarang."

"Kau bersuami?" tanya Baekhyun, dan lagi lagi terkejut.

Bagaimana tidak? Penampilan Soojung sangat tidak menampilkan bahwa ia seorang yang telah bersuami. Wanita itu hanya menggunakan kaos putih bergambarkan tokoh salah satu superhero dan jeans hitam seperempat dengan boots hitam sekitar 5 cm. Soojung terlihat seperti anak SMA yang sedang bekerja paruh waktu.

"Bahkan aku sudah memiliki satu anak." ucap Soojung mantap.

"Benarkah?" tanya Baekhyun antusias. Baekhyun sangat menyukai anak-anak. ia sudah bilang kan? jika tidak, kalian sudah tau sekarang.

"Anak laki-laki tampan berumur 6 tahun. kau ingin melihatnya?" tawar Soojung saat ia lihat pria dihadapannya berwajah sumringah setelah ia berkata ia memiliki anak. "Ah tunggu dulu, hyung. aku belum tau namamu."

"Byun Baekhyun. Kau bisa memanggilku Baekhyun, atau Baek. terserah senyamanmu saja." ucap Baekhyun cepat. "Dan sekarang mana fotonya? aku ingin melihat anakmu. awas saja kalau tidak tampan!" Baekhyun sedikit bersungut dan Soojung yang melihat itu terkekeh pelan. Baekhyun sangat lucu menurutnya.

ini bahkan belum sejam ia mengenal Baekhyun, dan Soojung telah dapat berasumsi jika pria itu tipikal pria dibawah. kalian tentu tau apa maksudn Soojung. Soojung sudah dapat menyimpulkan bahwa Baekhyun seorang carrier.

Soojung meraih ponselnya di tas lalu memasukan angka sandi pengaman lalu membuka folder galeri dengan cepat. Ia menekan folder berjudul "Kim Family" dan terpampanglah ratusan foto disana. foto dirinya, anaknya dan juga suaminya.

"Suamimu bermarga Kim ya?" celetuk Baekhyun ketika tak sengaja ia melihat nama folder tersebut. Soojung hanya mengangguk dan jarinya bergulir mencoba memilih foto anaknya yang menurutnya paling tampan.

satu foto telah ia dapatkan dan segera menekannya. terlihat foto seorang anak laki-laki yang sedang menggunakan topi hitam dengan pakaian kasual yang melekat di tubuh kecil itu. mata sipitnya tak jauh berbeda dengan Soojung, itu yang Baekhyun dapatkan. namun ketika meneliti wajah anak tersebut difoto itu, pandangannya jatuh pada postur mungil hidung milik anak laki-laki Soojung. itu mengingatkannya akan hidung seseorang. Baekhyun akui itu benar-benar terlihat sama.

"Namanya Taeoh. Kim Taeoh. ia berada di kelas 1 sekarang." ucap Soojung. "Tampan kan?"

Baekhyun mengangguk menyetujui. Taeoh memang tampan untuk anak seusianya.

"Ia sedang kutitipkan di rumah mertuaku karena tadi aku sempat memarahinya. alhasil ia merajuk. biasanya ia akan berkeliaran direstoran, berbaur dengan karyawanku jika hari libur." jelas Soojung.

"Kau tidak harus memarahinya. kenapa aku jadi kesal ya?"

Baekhyun berucap bingung. setelah Soojung berkata ia memarahi anaknya itu, entah kenapa ia menjadi kesal akan Soojung. tidak seharusnya Soojung memarahi anaknya yang tampan itu.

"Aku memarahinya karena suatu alasan. ia terus bergantung di kaki ayahnya disaat ayahnya ingin pergi. Taeoh memang selalu seperti itu. ia sangat dekat dengan ayahnya."

"Ah...begitu."

"Kau benar-benar tidak ingin makan, hyung? aku bisa membuatkanmu sesuatu." tawar Soojung mengingatkan Baekhyun akan tujuan awal pria itu. namun Baekhyun menggeleng, itu benar bahwa selera makannya benar-benar hilang sekarang.

"Aku ingin pulang saja." jawab Baekhyun. pria itu berdiri dan merapikan topinya, Soojung yang melihat itu ikut berdiri.

"Kau berjalan kaki?" tanya Soojung.

Baekhyun mengangguk, "Sebenarnya menggunakan bus."

"Ayo aku antar." tawar wanita itu.

Baekhyun tampak menggeleng, "Tak perlu, aku bisa--"

Ucapan Baekhyun terhenti karena dering ponsel miliknya berbunyi. dengan cepar ia meraih ponsel di saku hoodienya dan setelahnya mengangkat panggilan setelah meminta izin pada Soojung.

Itu panggilan dari Sehun. ia ingat Sehun memiliki jadwal di hari libur, dan panggilan dari Sehun membuatnya bingung. ada apa hingga hoobae nya itu menelponnya di siang hari begini?

"Ada apa?"

"Ketua mencarimu." ucap Sehun di sebrang sana tepat pada poinnya.

"Apa ia tidak memiliki otak? ia tidak tau jika hari ini hari liburku?" kata 'ketua' yang Sehun ucapkan taunya membuat Baekhyun emosi jika mengingat apa yang hampir saja dilakukan ketua sialan itu padanya. mengingatnya saja membuat emosi Baekhyun meletup-letup. apalagi sekarang Sehun bilang pria brengsek itu sedang mencarinya.

"Aku tidak tau, intinya dia mencarimu dan menunggu kedatanganmu dalam 15 menit. jika tidak promosimu untuk menjadi professor akan ia batalkan."

"Pria sialan itu! Katakan pada pria brengsek itu aku akan datang dalam 10 menit!" ucapnya marah lalu memutuskan panggilan sepihak. Soojung yang melihat Baekhyun sedang berapi-api sekarang sedikit ciut. Baekhyun benar-benar seram saat ia marah.

"Hyung? tak apa?" Soojung bertanya hati-hati. Baekhyun berbalik menatap wanita itu dengan wajah memerah.

"Apa tawaranmu tadi masih berlaku?"

Soojung dengan cepat mengangguk. mengatakan bahwa Baekhyun bisa mengikutinya menuju parkiran. setelah sampai parkiranpun Baekhyun berucap bahwa ia saja yang menyetir dan tanpa menjawab Soojung memberikan kunci mobilnya.

Beruntung letak restoran milik Soojung dan rumah sakit lumayan dekat, jadi Baekhyun tidak perlu menginjak pedal gas terlalu dalam.

Soojung bertanya hati-hati tentang apa yang terjadi. ia kira Baekhyun tak akan menjawab, namun taunya pria itu menceritakan semuanya.

Ketua Kang. Pria berumur 37 pemilik rumah sakit tempat ia bekerja, bisa Baekhyun bilang memiliki obsesi pada Baekhyun. berkali-kali pria itu mengajak Baekhyun makan malam bersama, namun selalu Baekhyun tolak. namun entah mengapa minggu lalu ia tiba-tiba saja mengiyakan ajakan ketuanya itu. pria bermarga Kang itu mengirimkan alamat tempat dimana mereka akan makan bersama. namun saat Baekhyun tiba di tempat itu, ia sadar jika itu adalah salah satu hotel berkelas di seoul. awalnya Baekhyun mencoba berfikir positif, mungkin saja ketuanya itu ingin mengajaknya makan malam di rooftop hotel tersebut. namun yang ia dapati adalah pria itu yang menunjukkan nomor kamar dimana pria itu berada.

Setibanya di kamar hotelpun Baekhyun berubah bingung. hatinya sedikit panik. pria itu tampak terbaring di ranjang hanya menggunakan celana kerjanya tanpa atasan apapun. Baekhyun taunya berubah cemas, namun tak ingin memperlihatkannya di hadapan pria itu.

lalu hal yang tak sempat ia pikirkan terjadi, pria itu menariknya ke ranjang dan hendak melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. waktu itu, Baekhyun hampir saja dilecehkan. beruntung dengan pikiran sehat ia menggunakan keahlian hapkido nya untuk melumpuhkan pria brengsek itu lalu dengan cepat meninggalkan pria itu dengan beruaian air mata.

dan semenjak itu pula, Baekhyun lebih memilih menguras otak dan tenaganya dengan tinggal di rumah sakit selama 7 hari dan tidak pulang kerumah. itulah alasan pastinya mengapa Baekhyun meninggalkan rumahnya selama satu minggu.

Soojung yang mendengar ceritanya hanya mengangguk tak percaya. wanita itu tak menyangka jika pria setenang Baekhyun pernah mengalami hal yang tidak mengenakan seperti itu. Soojung membawa tangannya mengusap pundah Baekhyun pelan. mengatakan bahwa semuanya telah baik-baik saja sekarang dan hal itu di amin kan Baekhyun dalam hati mengingat ia akan kembali dihadapkan dengan wajah pria brengsek itu sebentar lagi.

"Terima kasih tumpangannya, Soojung-ah." ucap Baekhyun setelah ia keluar dari mobil dan berdiri dihadapan Soojung yang telah bersiap untuk masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.

"Tidak masalah, hyung. aku senang bisa membantumu."

"Aku akan mampir ke restoranmu lain kali. asalkan kau bawa serta anakmu itu, oke? karena aku sangat ingin bertemu dengannya." pinta Baekhyun sebelum ia pamit dan setelah Soojung pergi meninggalkan lobi rumah sakit.

hallo!