Chanyeol menggeliat di ranjang besar miliknya, ia membuka matanya perlahan dan mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan bias cahaya lampu kamar yang memasuki penglihatannya.
ia melirik jam kecil di nakas, pukul 1 malam. ia sempat tak ingat apa yang terjadi namun setelahnya ia mendudukan diri dengan secepat kilat. sekelebat memori tentang dirinya bersama Baekhyun beberapa jam lalu terlintas di otaknya. Chanyeol menoleh ke samping, taunya ia tak mendapati keberadaan si mungil.
Chanyeol sangat yakin setelah mereka melakukannya, si mungil jatuh tertidur setelah berusaha keras mengimbangi nafsunya yang menggebu-gebu semalam.
lantas ia berdiri, mengenakan kembali trainingnya, tak peduli jika ia tak memakai atasan apapun. persetan dengan suhu ruangan yang rendah, ia hanya ingin mencari Baekhyun yang tiba-tiba saja menghilang.
"Baek," panggil Chanyeol saat pertama kali ia membuka pintu kamar. well, pintu itu tak terkunci dan itu artinya Baekhyun keluar meninggalkan kamar.
pria itu menuju ruang santai dan taunya juga tak mendapati keberadaan si mungil, ia berubah menjadi panik. pikirannya bercabang.
apa Baekhyun menyesal dan memutuskan untuk pergi disaat dirinya tertidur? jika ia maka sudah Chanyeol pastikan ia akan menyalahkan diri sendiri telah termakan oleh rayuan nafsunya sendiri.
langkah kaki ia bawa menuju dapur yang mana terdapat kamar mandi disana. kamarnya memang tak memiliki kamar mandi, karena ia rasa sedikit risih dengan keberadaan kamar mandi didalam kamar.
Chanyeol berusaha menetralkan napasnya, tenggorokannya kering, maka dari itu ia meraih gelas dan mengisinya dengar air lalu meneguk air tersebut dengan cepat.
"Baekhyun, kau dengar aku?" tak ada sautan dari simungil namun suara cucuran air dari shower yang berasal dari kamar mandi menarik perhatiannya.
dengan cepat ia melangkah dan meraih gagang pintu, berusaha membuka pintu tersebut namun dengan sialnya terkunci. pikirannya mulai kalut. ia yakin simungil berada di sana. entah apa yang ia pikirkan, namun taunya Chanyeol merasa frustasi akan pintu yang terkunci. ia mulai berfikiran jika si mungil bisa saja berbuat yang memikirkannya saja Chanyeol sudah berkeringat di buatnya.
"Baekhyun, kau disana?" panggil Chanyeol seraya mengetuk pintu pelan. "Baek, kau disana kan? kau dengar aku?" ulangnya.
sautan tak ia dapatkan, sedangkan suara cucuran air masih setia memasuki telinganya. "Baekhyun, buka pintunya." pinta Chanyeol pelan, namun ia tau si mungil tak akan menurutinya maka dari itu ia bersuara lebih keras.
"Baekhyun!" serunya dengan ketukan keras pada pintu, "Buka pintunya, Baekhyun." lagi ia berteriak.
ia tau ini tak akan berhasil, sebuah ide muncul di otaknya.
dengan cepat ia berjalan mundur, menyiapkan dirinya untuk mendobrak pintu tersebut. Chanyeol menarik napas dalam, lalu menjalankan idenya. hanya butuh satu kali kesempatan dan pintu terbuka.
memperlihatkan keadaan seseorang di hadapannya sekarang.
Baekhyun memakai satu set piyama miliknya dan itu luar biasa kebesaran di tubuh simungil, itu terbukti dengan bahu simungil yang terekspos bebas.
si mungil terduduk di bawah guyuran air shower, memeluk kedua lututnya yang ia tekuk. si mungil tampak memejamkan mata, entah tertidur atau apa namun taunya itu membuat Chanyeol khawatir.
"Hei," Chanyeol dengan cepat berjongkok di hadapan si mungil, tak perduli tubuhnya menggigil karena ia berani bersumpah guyuran air tersebut sangat sangat dingin.
"Baekhyun, hei." Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangannya, dan setelahnya terkejut akan suhu tubuh si mungil.
"Baekhyun, kau mendengarku?" ucap Chanyeol melihat si mungil yang masih setia memejamkan mata. "Baekhyun, ini tidak lucu." Chanyeol berusaha terkekeh, berharap si mungil terbangun dan tertawa melihatnya.
selang beberapa detik, hanya keterdiaman yang ia dapatkan. Baekhyun tidak meresponnya dan itulah yang menjadi puncak kekhawatirannya.
"Tidak, Baekhyun kumohon jangan begini." Chanyeol berusaha menggerakan badan si mungil namun taunya itu membuat tangan Baekhyun terlepas dari tautan dan terjatuh lemah.
Baekhyun tidak sadarkan diri. itu yang Chanyeol simpulkan. entah berapa lama si mungil membiarkan dirinya tertimpa oleh guyuran air sehingga membuatnya kehilangan kesadaran seperti ini.
tanpa berfikir Chanyeol mengangkat badan si mungil ke dalam dekapannya dan berjalan cepat keluar dari sana. ia membawa Baekhyun menuju kamarnya dan membaringkan tubuh si mungil ke ranjang tak peduli jika ranjangnya basah, menyelimuti si mungil dengan bedcover yang semalam ia singkirkan ke lantai.
"Baekhyun..." Chanyeol berucap lirih melihat Baekhyun yang tak sadarkan diri. ia mengusap kepala Baekhyun yang basah berulang kali, menghalau aliran air yang berasaal dari rambut si mungil agar tidak membasahi wajah.
"Maafkan aku." sesal Chanyeol. "Aku tidak tau kau akan seperti ini setelah kita melakukannya. maafkan aku." ucap Chanyeol lirih. dirinya sungguh menyesal sekarang. ia tidak menyangka Baekhyun akan bereaksi seperti ini setelah apa yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
ia sangat yakin jika si mungil telah menyesal melakukan seks bersamanya dan itu tau nya membuatnya marah pada dirinya sendiri.
ia marah pada dirinya sendiri karena telah menyentuh Baekhyun. jika ia tau akan begini ia pasti akan dengan keras berusaha untuk menahan nafsu kejinya.
"A-aku akan bertanggung jawab, Baek. Kumohon bangunlah." pintanya pelan.
namun Baekhyun yang tidak bereaksi sama sekali membuatnya lagi lagi merutuki diri. tanpa berfikir Chanyeol menyingkap selimut tebal tersebut dan membuka seluruh pakaian yang Baekhyun kenakan, ia berniat menggantinya dengan satu set pakaian hangat miliknya.
Chanyeol masih sibuk dengan kegiatannya dan kini Baekhyunpun telah berganti pakaian dengan yang lebih hangat. begitupun Chanyeol, pria itu telah melakukan hal yang sama pada dirinya.
ia berniat membawa si mungil kerumah sakit, namun itu sangat mustahil mengingat ini jam 1 malam. tetangga nya akan curiga jika ia membawa seseorang keluar dari apartemennya dengan keadaan tidak sadar.
Chanyeol berinisiatif untuk menurunkan panas Baekhyun. ia menuju dapur dan mengambil mangkuk yang telah diisi air hangat dan sebuah handuk kecil. ia kembali ke kamar dimana si mungil berada. Chanyeol merendam handuk tersebut kedalam mangkuk berisi air hangat lalu memerasnya, selanjutnya ia letakkan di kening si mungil.
setelah melakukannya, Chanyeol memilih duduk di ranjang menghadap Baekhyun. ia meraih tangan si mungil untuk di genggamnya. ia berani bersumpah tangan itu sangat sangat dingin dari miliknya.
yang Chanyeol lakukan hanya menatap si mungil sendu. sungguh ia sangat tak senang mendapati keadaan si mungil seperti ini.
Chanyeol hanya tau Baekhyun hidup sendiri dan selama ini tak pernah melakukan apa yang dinamakan seks. pria mungil cantik dimata Chanyeol itu sangat murni, bersih dan tak pernah sedikitpun disentuh oleh siapapun.
si jangkung berfikir, mungkin ini hanya efek samping saja. Baekhyun baru pertama kali melakukannya, mungkin si mungil merasakan aneh pada dirinya dan hal itulah yang membawa si mungil menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. namun yang ada malah Baekhyun tertidur disana. suhu yang dingin menjadi alasan untuk si mungil tertidur namun dingin yang menyerang membuat ia tak sadarkan diri.
setidaknya itulah yang bisa Chanyeol duga yang Baekhyun lakukan disaat ia sedang tertidur, namun hal itu sangat tidak benar.
si mungil memang menyesal telah melakukannya bersama Chanyeol.
Baekhyun tidak tau mengapa dirinya merasa menyesal dan jijik akan dirinya sendiri maka dari itu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
sebelum memilih duduk di bawah guyuran air, ia berjalan menuju kaca berukuran sedang disana. menatap dirinya yang entah bagaimana sangat menjijikan di matanya. meneliti seluruh bercak dan tanda yang diciptakan oleh Chanyeol di seluruh leher dan dadanya. tangannya ia bawa menggosok salah satu tanda tersebut dengan kuat. ia ingin menghilangkan tanda tersebut karena ia merasa itu sangat menjijikan. tubuhnya terasa sangat menjijikan dan taunya pikiran tersebut membuatnya semakin semangat menggosokan tangannya ke seluruh tanda yang ada. ia terlalu tenggelam dalam fikirannya dan tanpa sadar itu menyakiti dirinya, terlihat beberapa tanda yang mulai bertambah jelas dan lebih parahnya lagi ada yang mengeluarkan darah. namun ia tak peduli, ia hanya ingin menghapusnya. tak peduli jika itu akan menyakiti dirinya.
dan setelah puas dengan apa yang di kerjakan, barulah si mungil berjalan menuju guyuran air dan mendudukan diri disana hingga tertidur dan tanpa sadar dinginnya air dan perih yang ia rasakan saat air tersebut menimpa tanda yang telah ia buat berdarah membuatnya tak sadarkan diri disana.
itulah yang terjadi. Chanyeol hanya terlalu mudah menyimpulkan sesuatu yang dirinya sendiripun ragu akan hal tersebut.
*
"Taeoh-yaaa, turun dan bangunkan ayahmu sekalian, jika tidak kalian akan terlambat!" seorang wanita cantik dengan fokus pada beberapa makanan yang telah siap dihadapannya berteriak kencang mengingat letak dapur dan kamar sang anak lumayan memiliki ruang.
"Tunggu sebentar, bu!" sahutan yang berasal dari kamar sang anak terdengar samar, membuat wanita tersebut -Soojung- tak bisa melakukan apa-apa kecuali membuang nafas lemah.
Langkah kaki ia bawa menuju kamarnya dan juga suaminya, berkehendak membangunkan seseorang yang memiliki hobi tidur bagaikan seekor beruang yang sedang berhibernasi.
"Hyung, bangunlah." perintah Soojung sembari tangan mengibas tirai besar yang menutupi kaca besar yang terhubung ke balkon.
"Hyung, cepatlah. Taeoh bisa terlambat." ulang wanita tersebut, kakinya ia bawa melangkah menuju suaminya namun tiba-tiba saja pusing mendera kepala.
Soojung mengerang keras membuat suaminya yang hampir saja terbangun dengan cepat berdiri, menopang tubuh sang istri yang hampir saja bertabrakan dengan lantai.
"Hei, Soojung-ah." pria itu -Jongin- menepuk pelan pipi sang istri yang kini tak sadar kan diri. "Sayang, kau dengar aku?" ulangnya pelan.
Sautan tak ia dapatkan maka dengan cepat ia mendekap tubuh Soojung dan membawah tubuh kurus itu dalam gendongan bridal. Ia berlari dengan cepat keluar kamar, tak peduli jika ia hanya mengenakan celana piyama dan kaos polos berwarna hitam yang ia gunakan saar tidur.
Keberadaan Taeoh di meja makan menghentikan langkahnya, "Taeoh ya, cepat ikut bersama ayah!" seru Jongin keras, sang anak yang sekarang mulai mengerti akan situasi ibunya hanya menurut dan mengikuti sang ayah menuju mobil setelah ia menutup pintu rumah.
Jongin telah membaringkan Soojung di kursi penumpang dengan Taeoh yang menyusul di jok belakang.
"Ibu seperti ini lagi, yah?" Taeoh bertanya pelan. Anak lelaki berusia 6 itu tau akan kondisi ibunya. Ia tau jika ibunya memang selalu kurang sehat. Ibunya sering kehilangan kesadaran tiba-tiba dan penampakan akan hal itu sudah terbiasa di mata si kecil.
"Mungkin ibu hanya kelelahan, jagoan. Jangan khawatir." Jongin berusaha menenangkan si kecil yang sekarang tampak mengusap ujung mata.
Jongin mengendarai mobilnya dengan cepat namun pasti hingga ia tiba di rumah sakit.
Ia tidak tau mengapa ia memilih rumah sakit tersebut namun yang ada dipikirannya hanya kesadaan istrinya.
Jongin dan keluarga kecilnya memang baru saja tiba di korea beberapa minggu, setelah memutuskan untuk meninggalkan California, kota di mana ia dipertemukan dengan istrinya dan juga kota yang dijadikannya sebagai target untuk menuntut ilmu dan menjadi sukses seperti sekarang.
Mereka tiba tepat didepan lobi rumah sakit, Jongin dengan cepat memapah tubuh Soojung dan itu taunya membuat satpam yang sedang berjaga segera meraih brangkar yang memang disediakan di sisi kanan rumah sakit jika ada pasien yang tiba dengan keadaan kritis.
Beberapa pasang mata melihat itu, namun Jongin mengabaikannya dan setelah meletakkan Soojung di brangkar dan membiarkan beberapa perawat membawa sang istri keruang UGD, Jongin meraih Taeoh kedalam gendongannya dan menyusul Soojung. Namun wanita itu telah di bawa oleh perawat untuk di tangani sedangkan kedua lelaki berbeda umur hanya bisa menunggu wanita tercinta mereka di ruang tunggu.
"Apa ibu akan baik-baik saja?" Taeoh memulai, sedangkan ia masih setia berada di pangkuan Jongin yang kini terduduk di salah satu kursi ruang tunggu.
"Ibu akan. Ibu sudah terbiasa mengalami ini kan?" Jongin mengusap rambut sang anak pelan, berusaha menenangkan. "Ibu itu orang yang kuat. Taeoh sudah tau itu kan?"
Si kecil mengangguk pelan, namun tetap ia menangis melihat ibunya yang kembali seperti ini.
"Ibu pasti akan bertahan. Ibu tidak akan pergi meninggalkan Ayah dan Taeoh. Ibu tidak akan meninggalkan kita, nak. Ibu tidak akan melakukan itu." jelas Jongin menenangkan sang anak. Ia tau Taeoh sangat menyayangi Soojung lebih daripada si kecil sayang pada dirinya. Jongin memaklumi hal itu karena memang cinta seorang anak kepada ibunya tidak ada yang bisa menandingi.
Taeoh hanya diam saja, anak itu mengerti. Ibunya sayang padanya maka dari itu ia yakin Soojung tidak akan meninggalkannya bersama sang ayah.
Soojung mengidap kanker rahim stadidum dua, dan ia mengetahui hal itu setelah beberapa bulan melahirkan Taeoh. Jongin mengetahui hal itu. Sudah jutaan kali pria itu membujuk bahkan memohon hingga berlutut di hadapan sang istri hanya agar Soojung mau untuk menjalani pengobatan untuk kesembuhannya.
Pria itu sudah pasti mencintai istrinya sebagai mana mestinya. Ia ingin hidup selamanya bersama sang istri dan juga buah hati mereka. Maka dari itu ia tidak segan memohon dan berlutut di hadapan sang istri agar menurut akan sarannya.
Namun wanita itu tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menjalani pengobatan itu karena suatu hal hanya wanita itu sendiri yang tau.
Jongin mencoba berusaha mengerti awalnya. Pria itu memaklumi, mungkin Soojung tidak ingin waktunya hanya ia habiskan di rumah sakit sedangkan anak mereka yang waktu itu baru berusia beberapa bulan dititipkan pada babysitter.
Itu taunya berlangsung hingga sekarang. Entah itu sebuah keajaiban atau kemurahan dari yang maha Kuasa, Soojung berhasil bertahan hingga sekarang, meskipun berkali-kali ia bisa kehilangan kesadaran kapan saja.
Suara pintu terbuka taunya membuat pikiran Jongin yang tadi berkelana ke masa lalu tersadar. Ia melihat beberapa perawat keluar dan menjauh dari sana. Namun yang anehnya tidak ada satupun dari perawat itu menghampirinya.
"Tae, tunggu disini sebentar." Jongin berucap pada sang anak yang ia dudukan di kursi tepat disampingnya.
Jongin berjalan menuju pintu yang terbuka namun seseorang yang keluar dari sana mengejutkannya. Ia kenal siapa seseorang yang mengenakan pakaian dokter ini. Sangat kenal bahkan hingga ia tak bisa melupakannya.
"Ooh Sehun." panggil Jongin pelan tak menyangka ia akan bertemu dengan teman lama.
Namun Sehun didepannya tampak dingin. Sama sekali tak berniat menggubris Jongin yang sudah menatapnya tak percaya, "Kau wali dari Kim Soojung?" kata 'Kim' Sehun tekankan membuat Jongin tau apa yang ada di pikiran pria itu.
Jongin mengangguk, "Aku suaminya."
"Ikut aku. ini serius melihat bagaimana istrimu tidak pernah mendapatkan pengobatan selama ini."
Jongin hanya menurut. ini semua terlalu tiba-tiba baginya.
ia tau Sehun dulu juga merupakan seorang mahasiswa kedokteran, namun tidak menyangka jika Sehun si pecicilan teman seangkatannya itu benar-benar mendalami pendidikannya hingga ia sukses seperti sekarang.
sebelum mengikuti Sehun, ia berbalik ke arah sang anak dan menggendongnya, mengikuti Sehun yang sudah jalan terlebih dahulu, namun masih terlihat di pandangan Jongin.
"Silahkan duduk." ucap Sehun tanpa melihat Jongin. Sehun bahkan tak sadar jika teman lamanya itu bersama seorang anak yang ada di pangkuannya.
Sehun berbalik, terkejut mendapati anak laki-laki di ruangannya. ia meneliti anak laki-laki tersebut dan memandang Jongin kemudian. lalu tersadar jika anak laki-laki itu 99% seperti kloning Jongin.
"Seperti yang kau lihat, disini aku bukan seorang dokter spesialis kanker. aku dokter bedah." Sehun memulai, ia menyamankan posisi duduknya yang berhadapan langsung dengan teman lama.
Jongin hanya bisa diam saja, tak bersuara karena ia tau Sehun belum selesai dengan kalimatnya.
"Pengecut."
Satu makian lolos dari bibir Sehun, Jongin awalnya terkejut namun ia mencoba menahan hatinya.
Sehun pantas menyebutnya pengecut atau bisa lebih dari itu karena memang itulah kenyataannya. ia pergi meninggalkan temannya itu tanpa pamit dan gerak-gerik mencurigakan sekalipun dan itu sungguh membuat Sehun menanam benci akan dirinya.
Jongin memiliki alasan mengapa ia tidak berpamitan pada teman seangkatannya itu. dan semua itu berkaitan dengan pria mungil yang sampai saat ini masih menghuni sebuah ruang khusus di hatinya.
"Kau sungguh pengecut, bajingan dan brengsek." lanjut Sehun dingin.
"7 tahun, dan kau dengan beraninya muncul di hadapanku."
"Sehun-ah," Jongin menyela, namun Sehun tampak menggeleng.
"Hubungan kita tidak sedekat itu, Jongin-ssi. setidaknya untuk sekarang." jawab Sehun sarkastik.
"Kau bisa hukum aku nanti. aku hanya ingin mendengar kondisi istriku. hanya itu."
"Ah kau benar. kau sudah memiliki istri," Sehun tersenyum sinis, "Oh, dia anakmu?" Sehun memfokuskan pandangannya pada Taeoh yang berada di pangkuan Jongin
Taeoh menatap Sehun takut, wajah Sehun yang berubah dingin membuat nyali seorang anak yang biasanya banyak bicara itu menjadi mengecil.
"Ya, dia anakku. Jika kau bermaksud memanggilku hanya untuk memaki dan menyudutkanku, maaf, itu sangat tidak penting karena disini aku akan jelas mengutamakan kondisi istriku lebih dulu." Jongin mengambil tindakan, berdiri dan lanjut menggendong anaknya, "Aku permisi."
Sehun membiarkan Jongin keluar dari ruangannya. setelahnya Sehun sadar, setelah 7 tahun sejak terakhir pertemuan mereka, sangat tidak pantas rasanya ia menyambut sahabatnya dengan kejam seperti yang ia lakukan tadi.
tapi apa boleh buat. sejak melihat wajah Jongin di matanya, ia tiba-tiba merasa marah dan ingin sekali menghajar pria itu. Sehun ingin melakukannya bukan tanpa alasan, melainkan itu semua karena Baekhyun.
Sehun pikir Jongin meninggalkan Baekhyun disaat Baekhyun cinta pada pria itu. Namun yang tidak Sehun ketahui adalah bahwa ia salah besar. Jongin tidak tau perihal Baekhyun yang mencintainya, maka dari itu Jongin memilih pergi setelah berpamitan dengan Baekhyun dihari itu dan itu juga menjadi hari ia juga bertemu dengan Jongin untuk yang terakhir kalinya.
Sehun meraih ponselnya di nakas, sekarang bahkan masih pukul 7 pagi, ia baru saja menyelesaikan jaga malam dan sekarang waktunya ia berganti shift.
Pria itu membuka folder kontak dan mencari nama calon suaminya disana. Luhan. ia membuat panggilan dan berkata pada Luhan kalau ia akan mampir ke apartemen Baekhyun sebentar, dan disaat Luhan bertanya ada apa, Sehun hanya bisa menjawab bahwa ia akan menceritakannya saat tiba di rumah.
Setelah melepas jas khususnya, Sehun meraih jaket hitam miliknya disudut ruangan dan meraih dompet serta ponselnya dan juga kunci mobil, lalu berjalan meninggalkan ruangan setelah ia mengunci ruangan tersebut.
dan entah mengapa Sehun merasa gelisah sekarang, langkah kaki ia percepat menuju parkiran dan langsung menginjak gas begitu ia duduk di balik kursi kemudi mobilnya, meninggalkan pelataran rumah sakit menuju kediaman Baekhyun.
*
Baekhyun tidak tau apa yang terjadi, namun sedetik setelah ia membuka mata, pusing mendera kepalanya. itu terasa seperti kepalanya di hempaskan di dinding berkali-kali hingga dirasa tengkoraknya bisa retak dalam beberapa saat.
Si mungil berusaha duduk, berulang kali ia berusaha karena sempat gagal karena pusing, dan sekarang ia berhasil bersandar di kepala ranjang.
matanya ia bawa mengitari seluruh ruangan. terasa asing dan seketika ia sadar bahwa ia tidak berada di apartemennya.
ingatan tentang kejadian semalam menerobos masuk fikirannya dan setelahnya ia menunduk, memeriksa keadaannya yang telah nyaman menggunakan hoodie hitam besar dan begitu pula dengan celana.
seketika bayangan seseorang memasuki fikirannya. itu Chanyeol.
pria-nya. mengapa Baekhyun menyebutnya demikian? karena memang setelah apa yang mereka lakukan, Chanyeol resmi menjadi pria-nya. pria itulah yang menggagahinya untuk pertama kalinya dalam 33 tahun ia hidup.
Baekhyun memegang dada kirinya, kenapa rasanya sesakit ini?
mengapa rasanya ini semua tidak benar?
ia tiba-tiba saja merasa dirinya sangat menjijikan.
seluruh fikiran negatif memasuki fikirannya. bagaimana jika ia hamil? apa yang akan ia lakukan? apa Chanyeol akan bertanggung jawab?
Baekhyun menyimpulkan: tidak. pria itu tidak akan bertanggung jawab.
pria seperti Chanyeol pasti telah sering melakukan hal seperti yang mereka lakukan semalam, dan bertanggung jawab? itu sangat bukan tipe Chanyeol kan?
Baekhyun tersenyum miris. ia berusaha berdiri, beruntung pusing masih bisa ia atasi, ia berjalan keluar menuju ruang santai, namun tidak menemukan siapapun. well, setidaknya hanya ia dan Chanyeol disana dan sekarang Chanyeol sedang tidak ada ditempat.
Baekhyun sedikit merasa bersyukur akan hal itu. ia tidak tau apa yang akan ia katakan atau setidaknya yang ia lakukan jika pria itu benar-benar ada di hadapannya.
namun kini harapannya dirampas kasar, Chanyeol, berdiri bersandar pada pintu kamar mandi, memperhatikan Baekhyun yang telah menangkap keberadaannya disana.
Chanyeol berjalan menuju Baekhyun, dengan kedua tangan di saku celana, pria itu telah siap dengan jas hitam khasnya, dan Baekhyun seketika tau pria itu akan pergi bekerja.
"Sudah bangun? atau aku membangunkanmu?" Chanyeol bersuara. jarak mereka sangat dekat. mungkin jika Chanyeol meluruskan lengannya kedepan maka telapak tangannya langsung bertabrakan dengan dada si mungil.
"tidak. a-aku memang sudah bangun." si mungil menjawab kaku. tak tau harus berbicara apa. ia merasa malu, rendahan dan menjijikan.
"Aku telah menyiapkan sarapan. kau bisa memakannya dan setelah itu minum obat, mengerti?"
Baekhyun hanya diam saja dan itu taunya menbuat dahi Chanyeol berkerut, "Baekhyun..." panggilnya pelan, "Kau baik-baik saja? apa ada yang sakit?" punggung tangan ia bawa namun setelah nya tersentak saat si mungil dengan kasar menepis tangannya.
"Ma-maafkan a-ku." cicit Baekhyun pelan merasa pukulan nya terlalu kasar, namun nyatanya itu tidak ada apa apa bagi Chanyeol.
"Ada apa? kau bermimpi buruk?"
ya. dalam hati Baekhyun menjawab. dan mimpi buruknya adalah dirinya yang menjadi menjijikan seperti sekarang.
"Baekhyun, jangan diam saja. katakan jika ada sesuatu terjadi. kau membuatku khawatir."
"A-aku tidak--maksudku, a-aku baik-baik saja." jawabnya terbata. itu aneh di mata Chanyeol mengingat bagaimana pribadi Baekhyun yang sedikit banyak bicara.
"Kau tidak baik-baik saja." Chanyeol menyimpulkan cepat. tangannya ia bawah untuk meraih Baekhyun namun si mungil taunya melangkah mundur.
"Ma-maaf. Kau ti-tidak boleh menyentuhku." si mungil mulai merasa matanya memanas. Ia tidak tau apa yang terjadi namun ia rasa ia mulai menangis.
"Apa maksudmu? Baekhyun, Baekhyun dengarkan aku."
"Tidak Chanyeol, kau dengarkan aku." Baekhyun menekankan. "Bisakah kau melupakan apa yang telah kita lakukan?" si mungil bertanya, tangannya ia bawa menghapus air mata yang berada di ujung matanya.
"Tidak. aku tidak bisa." jawab Chanyeol cepat. entah mengapa dia merasa marah.
apa maksudnya Baekhyun meminta ia melupakan itu? Chanyeol sadar jika ia pernah tidur dengan beberapa wanita bahkan pria yang ia temui di bar dan paginya ia tinggalkan dengan sejumlah uang di nakas. tapi ia tidak akan melakukan itu pada Baekhyun. ia tidak segila itu.
Chanyeol tau jika Baekhyun bisa saja menyesal telah memberikan seluruh dirinya pada Chanyeol malam itu namun Chanyeol berani bersumpah jika Baekhyun adalah yang terbaik dari semua pengalaman yang ia dapatkan selama ini.
Chanyeol tidak akan mencampakkan Baekhyun seperti ia mencampakkan jalangnya diluar sana. tidak. Baekhyun jauh lebih berharga dari mereka semua.
"Dengar, aku tidak akan melupakannya." ucap Chanyeol final. Baekhyun menggeleng tanda tidak setuju membuat Chanyeol menjadi marah.
"Kau dengar aku? aku tidak akan melupakannya. bahkan jika kau mengandung anakku pun aku tidak akan melepasmu." suaranya terdengar emosi membuat Baekhyun ciut. Chanyeol dihadapannya saat ini merupakan hal baru yang Baekhyun lihat. dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan mebuat Chanyeol marah untuk kededepannya. semoga saja jika mereka bertemu lagi.
"A-aku menjijikan." seakan tidak mendengarkan, Baekhyun menjawab. "Kau tidak pantas berdekatan denganku."
"Tidakkah kau sadar, Baek? aku yang membuatmu seperti ini! aku yang tidur bersamamu! mengapa kau bertingkah seakan aku tidak melakukan apa apa disini?" bentak Chanyeol membuat Baekhyun tersentak, "dan jika kau merasa menjijikan, satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah aku! aku, Baekhyun! aku yang telah melakukannya padamu! tidak bisakah kau mengerti?" jelas Chanyeol frustasi.
Chanyeol menghela napas kasar karena tersadar jika ia baru saja membentak Baekhyun hingga tubuh si mungil bergetar, namun entah mengapa ia tidak ingin meminta maaf. ia hanya membiarkan itu semua terjadi, setidaknya sampai jika Baekhyun bisa berfikiran jernih dan mencerna semua kalimat yang Chanyeol lontarkan.
"Habiskan sarapanmu dan setelah itu minum obat. aku akan pergi bekerja."
kalimat Chanyeol final, Chanyeol berbalik berjalan meninggalkan Baekhyun dan saat itu juga Baekhyun terisak.
Baekhyun tak peduli jika Chanyeol mendengarnya namun si mungil tak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Chanyeol terlalu baik padanya, disaat ia sendiri telah berbuat jahat karena mencoba menyuruh pria itu melupakan hal yang telah mereka lakukan, Chanyeol justru malah ingin terus mengingatnya dan bahkan bertanggung jawab jika ia bisa saja mengandung anak mereka.
Chanyeol taunya berbalik, menatap tubuh ringkih itu yang sedang menunduk dan terisak. ia menarik napas pelan dan dengan pelan pula kembali ke arah Baekhyun, ujung sepatunya bertemu dengan jari kaki telanjang milik Baekhyun namun setelahnya ia menarim Baekhyun ke pelukannya.
"Baiklah, maafkan aku." Chanyeol mengalah, ia tidak ingin Baekhyun menilai bahwa dirinya memiliki tempramental yang buruk. ingat saja bahwa mereka baru beberapa hari bertemu, dan Chanyeol sangat tidak ingin menyakiti Baekhyun disaat pria jangkung tersebut berfikir jika Baekhyun lah selama ini sosok yang ia cari untuk menjadi pendamping selamanya.
"Maaf jika membentakmu, aku sungguh tidak bermaksud." Chanyeol melepas pelukannya, dan ia membawa kedua tangannya untuk menangkup wajah basah Baekhyun. "Jangan menangis, aku bisa memahami mengapa kau berkata demikian. kau hanya takut, benar?"
Baekhyun mengangguk. pria di hadapannya itu sangat tau maksudnya.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan meninggalkanmu, Baek. tidak akan. Bahkan jika kau mengusirku dan memintaku untuk meninggalkanmu aku tidak akan melakukannya. Aku tau ini terdengar seperti kita telah menjalani hubungan sejak lama namun, aku sungguh tak akan meninggalkanmu. bahkan di saat waktu terburukmu, aku tidak akan meninggalkanmu. atau bahkan jika kau mengandung anakku, aku akan selalu bersamamu dan akan mendampingimu untuk membesarkan anak kita." penjelasan panjang Chanyeol berikan dan itu sungguh membuat Baekhyun merasa tenang.
"Kau terlalu banyak bicara. aku baru tau sisimu yang ini." si mungil menjawab pelan.
"Kau akan tau semuanya dalam beberapa hari, Baek. jadi, persiapkan dirimu."
Baekhyun tersenyum tipis, dan itu taunya membuat Chanyeol ikut tersenyum.
Baekhyun tidak tau apa keputusan yang ia ambil benar, namun pria didepannya ini sungguh menggunakan seluruh yang ia bisa hanya untuk meyakinkan dirinya.
setidaknya sekarang Baekhyun tenang. ia tak harus memikirkan apa apa lagi untuk kedepannya dan untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi selepas ia berurusan dengan Chanyeol.
namun satu yang Baekhyun tidak tau, bahwa sesuatu yang telah lama ia kubur, taunya bangkit kembali.
cintanya yang telah lama ia lupakan, taunya kembali padanya.
Baekhyun tidak tau, Jongin telah kembali setelah sekian lama meninggalkan dirinya. Jongin-nya.
*
selamat malam.
