"Kau baik-baik saja?"
Jongin bergerak cepat menghampiri Soojung yang tampak baru saja membuka matanya, pria itu memang sedari tadi memperhatikan Soojung yang sedang berbaring lemah dengan infus di punggung tangan kurus wanita itu dan juga kanula yang terhubung dengan tabung oksigen, bertujuan untuk membantunya bernapas.
"Aku sangat bangga padamu, Jungie. Ini entah keberapa kali kau bisa melewatinya." lanjut Jongin, mengecup punggung tangan istrinya yang terbebas oleh infus.
Soojung mengedarkan pandangannya dan sadar jika ia berada di rumah sakit. Soojung menatap Jongin, raut cemas dan lega terpancar di kedua mata pria itu membuat ia menarik senyum tipis, lalu meraih wajah Jongin dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku baik-baik saja." Soojung berucap lemah, berusaha meyakinkan Jongin jika ia baik, padahal kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan. Kepalanya seakan ingin meledak dan hancur berkeping-keping.
"Aku tau kau kuat."
Soojung mengangguk, "Dimana jagoanku?" tanya Soojung saat tak mendapati keberadaan buah hati disekitarnya. Jongin tersenyum tipis sebelum kembali meraih tangan si istri lalu menggenggamnya lembut.
"Ia pergi ke kafetaria bersama ibu. Setelah melihatmu tak sadarkan diri, aku langsung membawanya yang sedang menunggu kita di meja makan untuk sarapan bersama." jelas Jongin dan taunya itu membuat Soojung merasa dirinya menyebabkan Taeoh melewatkan sarapannya.
Seakan mengerti, Jongin dengan cepat menggeleng, "Tidak. Jangan salahkan dirimu, oke?"
Soojung menurut saja akan perkataan suaminya, namun hatinya tetap merasakan itu. Soojung merasa selama ini ia hanya bisa menyusahkan Jongin dengan keadaannya, dan juga di tambah ia selalu membantah ketika Jongin mengajaknya untuk mendapatkan pengobatan bahkan ketika pria itu rela bersujud memohon sambil berlutut di hadapannya.
Hei, ia sungguh mempunyai alasan mengapa ia mengambil keputusan seperti itu, ia hanya ingin anaknya memiliki ibu yang sehat, ia melakukan semua untuk Taeoh.
Ia ingin mengantar sang anak kesekolah, atau sekedar menemani sang anak bermain di arena bermain walaupun ia hanya bisa duduk menunggu di kursi tunggu. Itu memang merupakan hal sepele namun untuk anak seusia Taeoh itu sangat berharga di matanya.
"Kapan aku bisa pulang?" Soojung memutuskan untuk berusaha duduk, Jongin yang melihat itu menahan kedua bahu Soojung, mengisyaratkan agar Soojung tetap berbaring, awalnya ingin membantah, namun saat pusing kembali mendera, Soojung memilih menurut.
"Tidak ada kata pulang untuk kedepannya."
"Tapi aku ingin pulang."
"Aku bilang tidak itu artinya tidak, Jungie. Jangan membantah." Jongin sedikit membentak membuat Soojung bungkam. Iya tau sifat Jongin yang satu itu, Jongin sangat benci jika omongannya di bantah.
Namun karena sifat keras kepala yang dimilikinya Soojung tetap saja melayangkan protes, "Aku harus mengurus dirimu dan Taeoh, juga pekerjaanku di restoran akan terbengkalai begitu saja." Soojung menatap Jongin dengan memohon, tapi Jongin tetaplah Jongin.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri dan Taeoh aku yang ambil alih. Kau harus istirahat Soojung-ah. Pikirkan keadaanmu."
Soojung sungguh muak jika lagi-lagi Jongin membawa perihal kesehatannya disetiap pembicaraan apapun yang membuat dirinya lelah. Tidakkah Jongin tau jima sekarang Soojung benar-benar muak akan dirinya sendiri? Apa Jongin pikir Soojung dengan mudahnya menerima semua perlakuan Jongin? Memang, suaminya itu sangat perhatian bahkan ikut andil untuk mengontrol dirinya dan selalu ada kapan saja disaat dirinya tidak sadarkan diri seperti tadi pagi, tapi, Ayolah, Soojung sangat tidak ingin sepanjang hidupnya terus bergantung pada Jongin dan membiarkan anak mereka tumbuh tanpa bimbingannya, yang saat itu mungkin sedang terbaring lemah dirumah sakit.
Soojung berdeham pelan, "Tidakkah kau berfikir tentang perasaanku, oppa?" lirihnya, dan Jongin seketika tau jika Soojung memanggilnya oppa, maka wanita itu benar-benar berbicara serius. "Apa kau kira aku senang terbaring sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa?" lanjutnya. "Aku tersiksa, oppa. Tak taukah kau? Aku yang telah tersiksa kini bertambah tersiksa ketika kau menyuruhku untuk berbaring disini!"
"Masih banyak hal yang bisa aku lakukan dari pada berbaring disini. Salah satunya mengurus anakku. Anak kita. Aku tidak mau..." air mata yang mengalir dari sudut matanya yang entah sejak kapan dengan cepat di usapnya, "Aku tidak mau Taeoh memiliki ibu penyakitan sepertiku." lanjutnya dan Jongin tersentak saat Soojung menyebutkan kata 'penyakitan.'
Berulang kali Jongin meyakinkan jika ia akan selamanya hidup bersama istri dan juga anak mereka, ia tetap sadar bahwa itu semua hanya harapan semu.
Jongin sungguh tau jika Soojung tidak akan bertahan lama. Penyakitnya benar-benar menyebar dengan sangat cepat dan dengan Soojung yang menolak untuk menjalankan pertolongan akan memperparah keadaan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain selalu berada di samping Soojung kapanpun wanita itu membutuhkannya. Namun tidakkah Soojung tau bahwa itu semua membuat Jongin menjadi seperti seorang suami yang tidak berguna?
Istrinya sekarat dan ia tidak bisa melakukan apa-apa hanya karena itu semua perintah istrinya. Jongin akui tingkah keras kepala yang Soojung miliki sudah memasuki level tertinggi. Bahkan untuk kesehatan dirinya sendiri saja Soojung tidak ingin menekan sedikit egonya. Wanita itu bilang ingin hidup lama bersama dirinya dan juga anak mereka, namun dilihat dari apa yang wanita itu lakukan sekarang, Jongin yakin tidak akan mengubah apapun.
Jongin memijat pelipisnya, memikirkan tindakan apa yang akan ia ambil untuk kedepannya dan tentunya ia juga memikirkan reaksi Soojung akan keputusannya.
"Tidakkah," Jongin menghela napas pelan, "Tidakkah kau mencintaiku, Soojung-ah?" pertanyaan Jongin layangkan pada istrinya.
Soojung tampak mengangguk tanpa enggan menjawab. Hei, tentu saja ia mencintai Jongin. Dan itu membuat Jongin tersenyum lembut.
"Aku sangat ingin menua bersamamu, Soojung-ah. Melihat Taeoh tumbuh dewasa dan menimang cucu bersama." Jongin membawa tangannya untuk menggenggam milik Soojung, "Aku ingin kita duduk berdua di beranda rumah kita, sambil melihat mobil milik Taeoh datang dan ia bersama istrinya keluar dari sana, dengan satu anak laki-laki di pelukan menantu kita dan satu anak perempuan berjalan menggandeng tangan Taeoh." jelas Jongin panjang lebar, tak peduli jika ia rasanya akan menangis sekarang, "Aku ingin melakukan itu semua bersamamu. Kumohon...kali ini turuti perintahku."
Entah sadar atau tidak, Jongin taunya mulai menangis. Benar-benar menangis hingga Soojung bisa merasakan tangannya basah akibat air mata yang dikeluarkan Jongin saat pria itu mencium punggung tangannya berkali-kali.
Soojung tidak ingin menjawab jika ia tentu saja ingin semua itu menjadi kenyataan. Tidakkah itu impian seluruh keluarga di dunia? Hidup berdua bersama dan menikmati hari tua hingga hanya ajal yang dapat memisahkan mereka, bukan sebuah penyakit mematikan yang akan menyebabkan salah satu dari mereka meninggalkan orang yang mereka cintai.
"Oppa," Soojung mengelus pelan kepala Jongin membuat pria itu mendongak, "Ayo kita hidup bersama lebih lama, Oppa."
Jongin mengangguk, lantas berdiri dan membawa diri Soojung yang terbaring untuk ia peluk erat. Sangat erat seakan ia rasa tidak ada hari esok untuk memeluk tubuh ringkih itu.
Hari telah berganti sejak saat Soojung dirawat dirumah sakit, ini sudah hari ketiga dan Taeoh, tetap pada pendiriannya menolak untuk pergi kesekolah dengan alasan ia ingin menjaga ibunya.
Jongin yang mendengar hal tersebut hanya bisa menggeleng pelan sedangkan ibunya yang memang menawarkan diri untuk menjaga Soojung sementara ia bekerja hanya bisa tersenyum melihat tingkah cucu satu-satunya tersebut.
"Jadi masih tetap tidak ingin kesekolah?" Jongin bertanya sambil tangan bersidekap di dada, memperhatikan Taeoh yang masih setia tertidur di atas tubuh Soojung yang kini belum bangun. Berulang kali Jongin mengangkat Taeoh sejak tadi malam yang memilih tidur di atas tubuh Soojung, namun ketika Jongin lengah, anak itu kembali menaiki ranjang dan kembali tidur di atas Soojung.
Taeoh di hadapannya tampak menggeleng, "Tae tidak akan meninggalkan ibu!" raut wajahnya ia buat sekesal mungkin saat menjawab pertanyaan ayahnya dan itu membuat Jongin menggeleng akan sikap keras kepala anaknya yang tak jauh beda dengan Soojung.
"Ini hari ketiga kau tidak masuk sekolah, Taeoh-ya. Tidak kasihan pada ibu guru yang menunggu disekolah?" Jongin berusaha membujuk dengan tangan yang ia rentangkan sambil berjalan ke arah anaknya itu dan Taeoh langsung menenggelamkan wajah di dada ibunya saat ia tau Jongin pasti akan mengangkatnya secara paksa.
"Tae tidak mau sekolah! Pokoknya tidak! Tidak mau!" anak itu mulai teriak dan Soojung terlihat terusik dan perlahan mulai membuka matanya.
Melihat Taeoh berada di atasnya membuat ia tersenyum, "Tae-ya," suaranya serak namun tetap dapat di dengar Taeoh maupun Jongin yang ada didekatnya.
Jongin menatap anaknya kesal, "Lihat kan? Ibu jadi terbangun!" pria itu tidak dapat menahan nada ketusnya.
Soojung memberi kode 'cukup' hanya dengan tangannya dan beralih pada anaknya. Ia mengelus kepala anaknya lembut, membuat anak itu mendongak dengan mata sipitnya yang sedikit berair, "Tae, lihat! Ayah sedang kesal. Mirip beruang ya?" seruan candaan ia suarakan membuat sang anak mau tak mau melihat si ayah yang memang ia akui dalam hati mirip beruang.
Namun karena ia merasa sekarang ia dan ayahnya adalah musuh, maka ia menggeleng, "Tidak."
"Eyyyy, masa iya tidak mirip? Coba perhatikan lagi." ujar Soojung kembali.
"Tidak mau!" Taeoh menggeleng kuat, "Tae tidak mau melihat ayah! Ayah jahat bu!" adunya pada Soojung dengar air mata yang bercucuran.
"Tapi ayah benar, hari ini Tae harus sekolah."
"Tidak mau!" sifat keras kepala nya mulai muncul kepermukaan, "Tae ingin disini bersama ibu." akunya jujur. "Tae tidak ingin ibu tertidur seperti kemarin, tidak mau!"
"Itu tidak akan terjadi lagi, kok! Lihat, ibu kan sekarang sudah bangun." Soojung menaik turunkan alisnya menatap anaknya dengan tatapan jahil. "Ibu janji jika Taeoh pulang nanti, ibu tidak akan tertidur." Soojung mengarahkan jari kelingkingnya pada anaknya, membuat sebuah perjanjian seperti biasa mereka melakukannya.
Namun yang ada Taeoh hanya menatap jari kelingking yang kurus itu, "Ibu tidak bohong?"
Soojung mengangguk, "Apa ibu pernah berbohong pada Tae? Ibu kan bukan ayah!" seru Soojung bercanda sambil menatap ke arah Jongin yang membuang muka. Jongin memang suka berbohong namun tidak tentang sesuatu yang serius. Ia sering berbohong atau beringkar janji hanya tentang makan malam bersama yang batal atau menjemput anaknya kesekolah namun yang datang malah sopir pribadi mereka bukan dirinuya sendiri dan hal itu pula yang menjadi alasan bagi anaknya untuk memanggilnya pembohong.
Taeoh mengaitkan kelingking kecilnya dengan milik sang ibu, "Baiklah, Tae akan sekolah. Ibu sudah berjanji ya!" tubuh kecilnya ia bawa bangkit menuruni ranjang melalui kursi karena memang kaki kecilnya tidak sampai untuk langsung menaiki ranjang.
"Nenek, ayo mandi!" anak itu menghampiri neneknya yang hanya menyaksikan interaksi antara keluarga kecil tersebut dengan raut wajah yang ingin menangis, membuat wanita paruh baya itu membuang muka segera dan menghapus air matanya pelan tanpa ingin ketahuan oleh keluarga kecil itu.
Wanita tua itu hanya sedih saat melihat interaksi mereka, bayangan akan Soojung yang akhirnya akan meninggalkan Taeoh serta buah hati mereka membuat hatinya entah kenapa merasakan sesak yang teramat. Ia tidak bisa membayangkan jika menantu nya itu memang meninggalkan anak dan juga cucunya hanya berdua, akan seterpuruk apakah nanti Jongin ddan Taeoh. Ia tidak bisa memikirkan itu, bahkan disaat baru akan memikirkannya saja hatinya kembali sesak.
Tak ingin berlama-lama ibu dari Jongin tersebut berdiri lalu membantu cucunya membuka seluruh pakaian dan menggiring si kecil ke kamar mandi, sedangkan Jongin dan Soojung tampak berbicara seperti biasa.
*
Di hari ketiga setelah ia mengambil izin, Baekhyun kini kembali melangkahkan kakinya di lobi rumah sakit. Beberapa perawat yang waktu itu sempat mendengar perihal tentang dirinya dan Ketua mereka sempat melirik dirinya dengan berbagai tatapan, namun seakan tak ambil pusing, Baekhyun terus melanjutkan langkahnya menuju ruangan miliknya.
Tidak ada Kyungsoo yang menyambutnya seperti biasa dan Baekhyun hanya bisa memaklumi karena memang ia datang sangat pagi sekali hari ini. Entah apa yang ia pikirkan sehingga memilih untuk datang ke rumah sakit pagi sekali. Ia hanya tidak ingin berpapasan dengan Chanyeol nanti.
Setelah perdebatan mereka tempo hari, Chanyeol dengan sukarela meluangkan hari kerja nya hanya untuk menemani Baekhyun di apartemen Chanyeol. Tidak ada hal penting yang mereka lakukan, hanya duduk di depan TV sambil memakan beberapa cemilan, menelpon layanan pesan antar untuk makan siang mereka dan begitu juga dengan makan malam. Mereka juga hanya sesekali berbicara dan itupun seputar pekerjaan, tidak ada yang penting.
Malam itu Chanyeol memang memintanya untuk kembali menginap, namun pikiran Baekhyun yang melayang entah kemana membuat pria mungil itu dengan cepat menolak dengan alasan ia besok harus bekerja. Namun ketika Chanyeol mengiyakan dan Baekhyun tiba di apartemen miliknya, pria mungil itu malah menelpon Kyungsoo dan meminta tolong dibuatkan surat izin untuk dirinya yang tidak akan bekerja untuk dua hari kedepan. Awalnya pria dengan mata bulat itu menyemprot dirinya habis-habisan dengan makian karena tidak masuk kerja tanpa alasan apapun, namun ketika Baekhyun bilang jika ia akan menjelaskan nanti, barulah Kyungsoo bisa meredamkan amarahnya walaupun pria itu masih menjawab telpon Baekhyun dengan ketus.
Dan sejak saat ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya, sejak saat itu juga ia sengaja menghindar dari Chanyeol. Bukan maksud apa-apa, Baekhyun masih canggung saja bila bersama dengan Chanyeol sedangkan mereka baru kenal kurang lebih seminggu. Chanyeol memang bilang jika ia bisa bersikap biasa saja, namun Baekhyun tetap saja tidak bisa. Pria mungil itu masih merasa canggung. Apalagi setelah mereka bercinta. Baekhyun benar-benar harus menyembunyikan wajahnya dari Chanyeol.
Selain canggung dengan pria itu, dirinya juga malu untuk bertemu Chanyeol. Sikapnya yang kekanakan dengan mengurung diri di kamar mandi dan kehilangan kesadaran disana sangat kekanakan dan pikirannya tentang Chanyeol yang menertawai perbuatannya itu semakin membuat Baekhyun malu. Untung saja Chanyeol tidak menertawakannya waktu itu, jika iya, mau diletakkan dimana wajah Baekhyun yang imut setengah mati itu.
Ngomong-ngomong sekarang ia berada dirumah sakit, pikirannya akan Sehun yang hari ini pasti akan mengikutinya seharian hanya demi sebuah penjelasan sudah membuatnya risih seketika.
Pria pucat itu memang telah menelponnya saat pria itu tau jika Baekhyun mengambil izin selama dua hari, namun alasan Baekhyun mengambil libur yang tak Sehun ketahui membuat Sehun terpaksa mengancam akan mengikuti Baekhyun kemana pun jika pria itu telah kembali kerja. Begitu pula dengan Luhan, pria yang sedang mengandung itu tak kalah menyebalkannya dari Sehun jika menginginkan sesuatu. Memang pasangan yang serasi, pikir Baekhyun.
Baekhyun meletakkan tasnya di meja dan berlalu menuju lemari dan mengambil satu stel pakaian khas dokter miliknya dan segera mengganti pakaiannya diruang ganti.
Setelah selesai ia meraih jas putih kebanggaannya lengkap dengan seluruh peralatan yang ia butuhkan untuk bekerja. Ia sungguh merasa semangat hari ini. Mungkin ini semua karena demamnya yang sudah turun -ia terkena demam selama dua hari- sehingga Baekhyun merasakan kembali semangat dalam dirinya.
Disaat ingin membuka pintu, Baekhyun dikejutkan dengan tatapan tajam ketiga sahabatnya, Kyungsoo, Sehun dan juga Luhan yang juga ikut kedalam arus bersama Kyungsoo dan Sehun. Tubuh Baekhyun di dorong tiba-tiba hingga terduduk di kursi dan ketiga sahabatnya itu mengelilinginya. Dengan Sehun tepat dihadapannya, Luhan disisi kanan Sehun sementara Kyungsoo di kiri.
Ia seperti seorang kriminal yang sedang di intropeksi dan itu sungguh sangat berlebihan di mata Baekhyun. Ketiga pria itu masih menatap Baekhyun tajam sedangkan yang ditatap hanya mengeluarkan tatapan datar dan tak berminat miliknya.
"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun memulai dengan tak minat, menatap bergantian sahabatnya seakan ia sedang menatap mentimun yang sangat ia benci.
"Aku ingin memutilasimu." Kyungsoo menjawab sinis.
Sehun dan Luhan bersamaan mendelik menatap Kyungsoo, itu kan bukan sama sekali rencana yang mereka buat. Sehun dan Luhan yang terlalu polos tidak tau saja jika Kyungsoo hanya bercanda. Namun kedua pasangan aneh itu menanggapinya terlalu serius.
"Hyung, kenapa jadi bertindak di luar rencana?" Sehun berbisik pada Kyungsoo yang kini menghela napas lelah.
"Minggir!" Kyungsoo mendorong tubuh Sehun hingga yang terkecil diantara mereka itu hampir saja terjatuh, lalu mengambil posisi Sehun tadi.
"Bisa kau jelaskan sesuatu, Baek?" nada bicaranya ia tekankan, ia harus bersikap keras kali ini. Pasalnya selama ini Baekhyun hanya menanggapi dirinya dengan candaan dan kali ini Kyungsoo sedang tidak ingin bercana.
Baekhyun bersikap seolah-olah tak peka, "Apasih? Minggir, aku harus bekerja!" tangannya menepis tangan Kyungsoo dan disaat ia berdiri, saat itu juga ia kembali terduduk karena Kyungsoo kembali mendorongnya.
"Kau pikir hanya kau yang bekerja?"
"Ya jika kalian juga ingin bekerja, bekerja saja sana! Aku kan tidak meminta kalian menemuiku." jawab Baekhyun ketus.
"Kau ini menganggap kami apa sih, Baek?" Luhan yang tampak kesal mulai bersuara. Dirinya yang hamil memang sedikit sensitif hari ini, tidak hanya hari ini sih, setiap hari sebenarnya namun ditambah sikap Baekhyun yang seperti ini membuat dirinya bertambah sensitif dan rasanya ia ingin menangis saja.
"Ya! Kenapa kau terlihat seperti mau menangis begitu?" Tanya Baekhyun panik melihat mata Luhan yang sudah berkaca-kaca. Sehun yang mendengar ucapan Baekhyun segera menoleh pada Luhan.
"Kau tidak apa-apa?" Sehun bertanya panik. "Salahmu sih, hyung!" tuduhnya pada Baekhyun.
"Kenapa jadi aku? Harusnya kan aku yang nangis bukan dia!" balas Baekhyun tak terima.
"Ya ini karena sikapmu itu! Hyung, kau sebenarnya menganggap kami sahabatmu atau tidak sih?" Sehun mulai menyudutkan Baekhyun.
"Tentu saja! Untuk apa bertanya jika sudah tau jawabannya? Bodoh!"
"Tapi kau tidak bersikap seperti kami sahabatmu, hyung!" protes Sehun tak terima jawaban Baekhyun.
"Lalu aku harus bersikap seperti apa? Sehun, kau ini kenapa aneh sekali sih?"
"Kau yang aneh, hyung! Jika kami sahabatmu, kenapa tidak menceritakan pada kami perihal dirimu dan Ketua?" Kalimat yang sedari tadi Sehun tahan akhirnya ia lontarkan juga membuat Baekhyun tersentak ditempatnya.
Ia tidak tau jika para sahabatnya akan membahas hal ini. Awalnya ia hanya mengira mereka hanya akan menanyakan mengapa dirinya mengambil izin mendadak maka dari itu ia sudah menyiapkan jawaban yang ia yakin mereka bisa percaya. Namun pertanyaan Sehun sekarang benar benar membuat Baekhyun mati kutu.
"Apa? Aku tidak ada perihal apapun dengan ketua!" Baekhyun berusaha mengelak. Ia menghindari tatapan ketiganya.
"Kau bohong! Aku sendiri yang mendengar ucapanmu waktu itu!" Sehun tak mau kalah, ia sangat-sangat ingin membuat Baekhyun merasa bersalah kali ini. Biarkan saja, biar Baekhyun sadar jika dirinya masih punya sahabat yang bisa dijadikan tempat cerita, bukan memilih memendam semua sendiri. Sehun bersyukur waktu itu ia menyusul Baekhyun, jika tidak pasti ia tidak tau kejadian menyakitkan yang menimpa hyung kesayangannya itu.
"Lalu jika sudah tau, apa lagi yang mau kau cari tau?" ketiga temannya terkejut. Itu berarti Baekhyun baru saja membenarkan pristiwa yang selama ini mereka bertiga bicarakan. Luhan tampak nangis dipelukan Sehun sedangkan Sehun sendiri sudah menganga tak percaya.
Lain halnya dengan Kyungsoo yang untung saja bisa mengontrol diri. Kyungsoo berdeham pelan, "Tak apa. Lagipula itu telah berlalu. Tidak usah dipikirkan." pria itu mengusap bahu Baekhyun pelan. "Dan Sehun, kau sudah tau kan? Sekarang berhenti bertanya terus." Kyungsoo menatap si yang paling kecil dengan tatapan khusus.
"Aku hanya kesal saja! Baekhyun hyung lebih memilih untuk memendam sendiri padahal ia memiliki kita sebagai sahabatnya! Aku merasa tidak berguna, tau tidak sih?" jelas Sehun masih tak terima. Luhan melepas pelukannya pada Sehun dan berlutut didepan Baekhyun yang duduk dikursi.
"Baekhyun-ah, apa...apa Ketua sialan itu benar-benar menyentuhmu?" Luhan bertanya pelan ingin memastikan.
Baekhyun menggeleng. "Tidak. Niatnya sudah kupatahkan duluan sebelum.ia menyentuhku." dalam hati Baekhyun sempat ingin bilang bahwa pria itu menciumnya, namun ia tak mau sahabatnya menatapnya iba.
"Kau tidak berbohong kan pada kami?"
Dengan cepat Baekhyun menggeleng. "Tentu saja tidak! Aku baik-baik saja jika kalian mau tau keadaanku."
Sehun yang masih kesal, menyeletuk, "Aku tidak tuh, biasa saja."
"Aku tidak bicara padamu, menyebalkan!" balas Baekhyun ketus.
Kyungsoo yang memperhatikan kedua pria yang berbeda usia itu hanya menggeleng. Mereka terlihat seperti anak SMA sedang bertengkar dibandingkan dengan seorang dokter.
"Sudah kan? Aku mau bekerja!" Baekhyun memegang bahu Luhan yang masih setia berlutut dihadapannya dan membantunya berdiri. Lalu menepis bahu Sehun yang menghalangi jalannya membuat Sehun mengumpat pelan. Pemandangan Baekhyun pergi tersebut mendapat tatapan berbeda arti dari ketiga sahabatnya.
"Kenapa aku punya sahabat menyebalkan sekali?" gerutu Baekhyun menuju ruang dokter lainnya, berniat mengambil beberapa dokumen dan data pasien yang akan ia periksa hari ini.
Setelah beberapa dokumen pasien ada di tangannya, ia memeriksa dengan teliti. Satu persatu nama ia periksa dan tatapannya jatuh pada satu nama.
"Bukannya? Ah tidak-tidak. Marganya saja berbeda."
Baekhyun mulai berjalan menuju gedung ruang rawat inap, ia memang sendirian pagi ini karena tugasnya hanya memeriksa keperluan pasien seperti infus dan obat untuk dikonsumsi pasien pada pagi hari.
Terhitung sudah empat kamar ia masuki dan ini terakhir, kamar yang di huni oleh seseorang yang sempat ia kira orang yang sama dengan ia temui beberapa hari lalu.
Baekhyun mengetuk pintu didepannya dan tidak ada suara yang menjawabnya membuat Baekhyun mengambil tindakan membuka pintu secara sepihak. Tanpa menunggu ia membuka pintu dan tampak seorang wanita tengah tertidur namun dengan posisi membelakangi Baekhyun. Dan yang Baekhyun tidak tau, wanita itu tidak tertidur sama sekali melainkan memang wanita itu tidak mendengar ketukannya yang bisa dibilang sangat pelan.
"Selamat pagi, akan kuperiksa ya." Baekhyun berucap dengan nada cerianya, ciri khas dirinya jika sedang berhadapan dengan pasien, namun ketika pasien wanita itu berbalik, Baekhyun terkejut atas siapa yang dihadapannya saat ini.
"Soojung-ah!" pekikan tertahan Baekhyun tak percaya. "Apa yang terjadi, Soojung-ah?" Baekhyun tampak memegang kening Soojung, berniat memastikan apakah wanita itu demam atau tidak. Namun suhunya biasa saja membuat Baekhyun sedikit menghela napas lega.
"Baekhyun hyung?" suaranya terdengar lemah dari sebelum mereka bertemu, dan taunya itu mengambil fokus Baekhyun.
"Ini aku. Kenapa kau disini? Apa ada yang terluka? Apa kau merasakan sesuatu? Katakan padaku!" tak sadar jika dirinya tiba-tiba panik, Baekhyun mencecar berbagai macam pertanyaan pada Soojung yang membuat wanita itu terkikik geli walaupun itu terdengar sangat lemah.
"Kau seperti ibuku, hyung." bjawab Soojung seadanya masih dengan kikikannya.
"Ya! Jangan tertawa! Aku khawatir tau. Astaga, kita baru berteman beberapa hari dan kau sudah mengkhawatirkanku." seru Baekhyun tak percaya.
"Aku tidak sadar jika dirawat dirumah sakit tempat hyung bekerja." Soojung memperbaiki posisinya menjadi duduk, Baekhyun yang awalnya ingin membantu langsung ditolak Soojung dengan alasan wanita itu bisa melakukannya sendiri.
"Dan beruntung kau di bawa kesini, jadi aku bisa menemuimu." Baekhyun duduk disisi ranjang, berhubung Soojung pasien terakhirnya, ia memutuskan untuk tinggal sedikit lama. Ditambah ia menyadari jika Soojung sendirian, ia berniat ingin menemani wanita itu. "Kau sakit apa? Kenapa bisa berakhir dirawat seperti ini?" omel Baekhyun, "Kau pasti seorang yang ceroboh kan? Ngaku kau!"
Soojung menggeleng lemah dengan senyum di wajah, "Tidak kok." jawabnya jujur, "Hyung, tidakkah kau membaca riwayat medisku?" Soojung bertanya pada Baekhyun yang kini tampak mengerutkan dahi.
"Tidak. Aku hanya memeriksa nama lalu nomor kamar. Kau tau, pasien yang aku periksa setiap harinya memiliki beda kasus. Dan karena aku dokter bedah, dimana itu hanya di butuhkan dalam waktu tertentu dan disaat luang seperti ini aku hanya akan mengambil tugas memeriksa kebutuhan kalian jika ada yang kurang." jelas Baekhyun panjang. "Kau sakit apa?" sambungnya sambil tangannya ia bawa memperbaiki rambut panjang Soojung yang terlihat berantakan, menyelipkannya di belakang telinga wanita itu.
"Aku tidak ingin memberitaunya. Biar hyung tau saja sendiri." kekeh Soojung.
"Ah, jadi kau merahasiakannya dariku?"
Soojung mengangguk, "Iya. Aku tidak mau memberitaumu." raut wajah Soojung berubah dalam sekejap. Ia tetap tersenyum, namun sorotan matanya yang menunjukkan kesakitan sangat jelas dimata Baekhyun.
"Hyung...apa hyung seorang carrier?" pertanyaan acak ia tanyakan pada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk segera. Ia memang seorang carrier dan itu sama sekali tak membuatnya malu.
"Hyung juga suka anak-anak, kan?" lagi, Soojung bertanya hal yang menurut Baekhyun sangat tidak masuk akal.
"Hyung, apa hyung punya pacar?"
Baekhyun hendaknya ingin mengangguk namun kemudian ia menggeleng kuat. "Kenapa kau menanyakan hal yang aneh? Tidak biasanya." Baekhyun memicing curiga.
Soojung terkekeh lagi, "Tidak apa. Ah iya, hyung. Mau ku kenalkan dengan suamiku?" tawar Soojung antusias, "Aku bercerita tentangmu beberapa hari lalu padanya, tapi aku lupa menyebut namamu kemarin sehingga ia menyebutmu 'oppa baru'ku. Suamiku benar-benar konyol."
Soojung tidak tau entah apa yang merasukinya. Namun pikirannya tentang ia yang akan meninggalkan suami dan anaknya untuk selamanya sungguh membuatnya tersiksa. Dan entah datang dari mana ide tersebut, ia berinisiatif untuk mendekatkan Baekhyun pada anak dan juga suaminya. Dengan itu Soojung yakin jika suami dan anaknya dapat menerima kepergiannya. Bukan bermaksud untuk memaksa kedua orang yang ia cintai untuk mengganti posisi dirinya, akan lebih baik jika mereka berdua mempunyai seseorang yang bisa merawat mereka.
Dan Baekhyun seorang carrier. Entah mengapa tiba-tiba pikiran akan suami dan anaknya serta Baekhyun tinggal di atap yang sama membuat hatinya menghangat. Ia seakan bisa saja pergi dengan tenang kapan saja karena ia yakin suami dan anaknya berada ditangan orang baik seperti Baekhyun.
"Soojung-ah, kenapa melamun?" Baekhyun menepuk pipi Soojung pelan.
Soojung menggeleng, "Tidak kok! Hyung mau menunggu sebentar? Suamiku sedang mengantar anakku kesekolah, beberapa menit lagi mungkin ia akan kembali."
Baekhyun menurut saja. Toh, kerjaannya juga tidak ada. Mereka bercerita tentang apa yang mereka lakukan selama mereka tidak bertemu. Percakapan lebih banyak didominasi oleh Baekhyun karena pria itu sadar jika Soojung sangat terlihat lemah bahkan hanya untuk berceloteh, jadi ia mengambil kesempatan untuk bercerita guna menghibur wanita itu.
Baekhyun bercerita banyak hal, tentang dirinya yang terkena demam dengan alasan tertidur di bath up hingga berjam-jam, tentang sahabatnya yang menelpon dengan makian karena dirinya tiba-tiba saja tidak bekerja, dan hal lainnya. Semua ia ceritakan tentu saja kecuali tentang dirinya bersama Chanyeol. Ia tak mau terlihat murahan didepan teman barunya itu.
Bunyi ketukan dipintu membuat keduanya berhenti dari aktifitas mereka. Baekhyun menoleh berbeda dengan Soojung yang langsung memfokuskan mata sipitnya ke arah pintu.
Suara seorang pria masuk di telinga Baekhyun dan entah mengapa ia merasa jantungnya berdebar mendengar suara tersebut. Ia sungguh mengenali suara itu, dan ia bersumpah suara itu semakin terdengar dewasa di telinganya.
Baekhyun berbalik, gerakannya sangat lamban, terasa seperti slow motion dan itu taunya membuatnya gugup.
Disaat ia telah berbalik sepenuhnya, ia yakin pertahanannya runtuh seketika. Seseorang yang selama ini ia tunggu kedatangannya, kini berdiri didepannya. Sangat sempurna dan sangat dewasa. Membuat detak jantungnya berdetak tak karuan.
Ini salah. Baekhyun dalam hati meyakinkan jika perasaannya salah. Ia tidak seharusnya merasakan hal itu lagi. Setidaknya tidak sekarang. Tidak lagi.
"Baekhyun hyung," Soojung memanggilnya membuarnya tersentak, "Ini suamiku hyung, Kim Jongin." sambung wanita itu tersenyum menatap Jongin yang sekarang berada didepan mereka atau tepatnya disamping Baekhyun yang terus menatap pria itu.
Sama hal nya dengan Baekhyun, Jongin dengan sialnya merasakan jantungnya seakan berhenti melihat seseorang yang sedang bersama istrinya saat ini.
Sumpah serapah ia ucapkan saat melihat kehadiran Baekhyun didepannya. Penolakan yang dulu Baekhyun berikan padanya entah sejak kapan mulai terputar otomatis di otaknya, ia tidak peduli bagaimana Baekhyun dan istrinya bertemu, yang ia pedulikan hanya, mengapa harus Baekhyun?
Mengapa harus Baekhyun yang kembali terhubung dalam kehidupannya? Kenapa Tuhan kembali membawa Baekhyun untuk masuk ke kehidupannya? Memang Soojung yang berteman dengan Baekhyun, tapi teman Soojung termasuk temannya juga kan?
Baik Jongin dan Baekhyun tidak sadar, raut tegang keduanya tidak luput dari pandangan satu satunya wanita yang ada disana. Soojung terlalu peka sehingga ia tau kedua pria dihadapannya tampak saling mengenal satu sama lain. Namun ia mencoba pura-pura perduli.
"Sayang?" panggilnya pada Jongin membuat Baekhyun tersadar begitu pula Jongin. Pria itu menatap istrinya.
"Ah, maafkan aku." Jongin berbicara formal dan itu membuat Baekhyun entah mengapa merasa perih dihatinya, "Aku Kim Jongin, senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi." ucapnya dengan senyum yang sangat jelas dipaksakan, tangannya ia bawa untuk berjabatan dengan Baekhyun.
Baekhyun meneguk ludahnya, ragu untuk menerima tangan itu. Matanya serasa memanas. Kenapa, kenapa Jongin terlihat sangat berubah padanya? Kemana Jonginnya yang dulu? Apa benar Jongin sudah melupakan dirinya sehingga pria itu bersikap tidak kenal dengannya?
Tiba-tiba saja, Baekhyun berdiri, ia tidak menerima jabatan tangan Jongin, ia tidak ingin. "Maafkan aku, aku baru ingat jika memiliki jadwal operasi pagi ini." ucapnya bohong, "Soojung-ah, aku akan kembali lagi kesini, oke? Jaga kesehatanmu." ucapnya cepat dan segera berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Baekhyun berlari kembali keruangan pribadinya. Air matanya tidak dapat lagi ia tahan sehingga di sepanjang perjalanan ia menangis. Beruntung ini pagi hari, sehingga tidak banyak yang memperhatikan dirinya yang sangat menyedihkan.
Sesampainya diruangannya tampak Sehun dan Kyungsoo yang sedang berdiri sambil berbicara, Baekhyun tak peduli tentang apa yang mereka bicarakan dan ia langsung saja menubrukkan dirinya pada Sehun, memeluk pria itu erat dan menangis di dada Sehun. Beruntung badan Sehun yang bugar dapat menahan tubrukan Baekhyun sehingga mereka berdua tidak jatuh. Dengan cepat ia menahan pinggang Baekhyun yang hendak merosot jatuh, Kyungsoo panik, apalagi Sehun.
"Astaga, apa yang terjadi?!" tanya Sehun panik, "Hei, hei, bernapas yang benar!" Sehun berseru saat ia rasa napas Baekhyun terputus-putus didadanya. Sehun menangkup kedua sisi wajah Baekhyun dengan tangannya, "Bernapas yang benar! Baekhyun, lihat aku. Tarik napasmu pelan, lalu keluarkan secara perlahan!" Baekhyun yang tak kunjung menurut membuat Sehun frustasi, "Demi Tuhan, bernapas dengan benar! Kau dengar aku? Bernapas.dengan.benar! Lakukan, Baek!" ia tak peduli di cap kurang ajar karena telah membentak orang yang lebih tua, Baekhyun sangat menyedihkan sekarang.
Baekhyun dengan perlahan mengikuti perintah Sehun, napasnya masih sedikit terputus-putus namun ia tetap menangis.
"Apa yang terjadi? Demi Tuhan, kau menakutiku!" ucap Sehun kesal.
"D-dia ke-kembali..." ucapnya putus-putus.
"Apa? Siapa?" Sehun awalnya bingung dan seketika tersadar siapa yang dimaksud Baekhyun.
Jongin. Sehun memang sudah tau jika pria itu kembali, namun ia sangat ingin merahasiakannya dari Baekhyun.
Dan yang ia dapati sekarang, Baekhyun sudah tau jika Jongin telah kembali. Seseorang yang mungkin masih bersarang di hatinya telah kembali.
Dan Sehun tak senang akan hal itu. Ia tak mau Baekhyun kembali tersakiti. Tidak lagi.
*
sorry for some typo(s) dan late updatenya. hehe. have a nice weekend!
