Dua minggu terlewati semenjak pertemuan terakhirnya dengan Baekhyun dan itu benar membuat Chanyeol merasa terbunuh secara perlahan.

Dalam waktu dua minggu dirinya telah mampir ke tiga negara untuk mengurus cabang perusahaan ibunya yang mengalami sedikit masalah. Awalnya ia tentu saja menolak dan berusaha berbicara pada sekertarisnya apakah bisa di wakil kan saja atau tidak, namun melihat wajah sekertarisnya yang begitu frustasi membuat Chanyeol sudah bisa menyimpulkan jawabannya.

Dan sekarang disinilah ia berada, di apartemennya. Dengan handuk menutupi bagian tubuh bawahnya dan tangan sibuk mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Chanyeol baru saja tiba di Korea pukul 11 malam dan setibanya di apartemen ia langsung memutuskan untuk membersihkan diri.

Setelah memakai pakaian santai, Chanyeol beralih pada lemari pendingin di dapur. Meraih beberapa cemilan ketika dirasa perutnya meraung minta diisi. Ia bisa saja memasak ramen namun badannya yang lelah lebih memilih untuk memakan cemilan saja.

Tubuhnya ia bawa duduk disofa, ia meraih remot TV dan mencari siaran olahraga favoritnya. Chanyeol lanjut menyantap cemilannya tanpa memperdulikan waktu yang beranjak tengah malam.

Pria itu hanya tidak ngantuk. Perjalanan yang panjang membuat ia memutuskan untuk tidur di pesawat maka dari itu ketika tiba dirumah Chanyeol langsung memutuskan untuk membersihkan diri bukannya beristirahat.

Fokusnya tetap pada TV ketika saja ia merasa seseorang memasuki pikirannya. Itu Baekhyun.

Dua minggu sudah mereka tidak bertemu dan itu benar jika Chanyeol merindukan si mungil nan cantik itu.

Salahnya sendiri yang tidak terpikir untuk meminta nomor ponsel Baekhyun. Ia lupa jika komunikasi adalah hal yang penting untuk membangun sebuah hubungan.

Jangankan membangun hubungan, nomor ponselnya saja Chanyeol tak punya. Ia terkekeh pelan, bayangan wajah Baekhyun yang imut memenuhi pikirannya dan itu taunya membuat Chanyeol gemas sendiri.

"Ahhh, aku merindukanmu, kecil!" serunya sambil terkekeh pelan, fokusnya kini berganti pada wajah Baekhyun hingga Chanyeol tak sadar hari sudah mulai pagi.

pria itu benar tak tidur sama sekali dan saat jam menunjukkan pukul 7, Chanyeol bangkit dan sedikit meregangkan otot tubuhnya karena terlalu lama duduk di sofa.

Langkah kakinya ia bawa menuju kamar mandi, dirinya memang telah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor, tetapi sebagai CEO ia harus tetap hadir, bukan?

Tak berapa jauh dari apartemen milik Chanyeol, tampak seseorang terduduk didepan toilet dan berusaha mengeluarkan seluruh isi perutnya.

itu Baekhyun. mual yang ia alami sejak beberapa hari lalu taunya berlanjut hingga sekarang. pria itu masih melanjutkan kegiatannya dan setelah dirasa mualnya berkurang, Baekhyun berdiri. memandang pantulan dirinya di kaca. Ia menghidupkan keran dan cepat membasuh mulutnya, meraih sikat gigi dan menyikat giginya dengan cepat.

fokus matanya tetap pada pantulan dirinya. ia sadar tubuhnya tampak lebih kurus dari biasanya, terlihat jelas juga lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya.

satu kata, mengerikan. ia terlihat seperti zombie sekarang. pikiran tentang ia mungkin saja memiliki penyakit mematikan membuatnya bergidik ngeri, namun setelahnya ia menggeleng. ia kan, hanya masuk angin. setidaknya itulah yang ia tau sekarang.

melirik jam yang ada disana, Baekhyun dengan cepat bergegas. ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari, menyambar selembar kemeja biru tua miliknya dan juga sebuah jeans hitam. ia dengan cepat memakainnya lalu menyambar ransel juga ponsel dan dompetnya, tidak lupa mengenakan sepatu, di saat ingin keluar ia teringat jika belum memakai pelembap bibir. bibirnya yang sedikit memucat itu taunya membuat Baekhyun sedikit tidak percaya diri.

setelah dirasa selesai, Baekhyun keluar dari apartemennya dan mengunci pintu. ia berjalan ke menuju lift, sedikit lagi sebelum sampai di lift, mualnya kembali. Baekhyun memaki dalam hati. Ia harus bekerja dan sialnya mual kembali menyerang. dengan cepat ia melangkah lalu menekan tombol lift. pintu lift terbuka dan Baekhyun bersyukur tidak ada siapa-siapa disana. Ia segera berjongkok dan tetap memegang perutnya. disaat pintu lift akan tertutup, sepasang sepatu tampak di mata Baekhyun. itu milik seseorang yang Baekhyun tau orang itu sedang menahan lift. Baekhyun mendongak namun sedetik kemudian menyesal akan tindakannya.

Pria dihadapannya kini kembali muncul, setelah selama dua minggu menghilang. bukan menghilang, lebih tepatnya Baekhyun yang menghindari pria itu.

keduanya sama sekali tidak berniat untuk membuka suara. Baekhyun sudah berdiri dan menggigit bibir menahan mualnya, ia juga tidak lagi memegang perutnya karena itu sungguh aneh jika melakukannya di depan pria itu.

Dentingan lift berbunyi tanda mereka telah sampai di lobi. tidak ada yang ingin beranjak lebih dulu, tidak Baekhyun tidak juga pria itu, Chanyeol.

Hingga akhirnya Baekhyun memutuskan untuk keluar lebih dulu dengan tergesa. ia memperlambat langkahnya, ingin melihat apa Chanyeol mengejarnya atau tidak.

lama hingga ia rasa mualnya tidak kunjung reda dan tak sadar kaki nya telah sampai di halte.

Chanyeol tidak mengejarnya dan itu membuatnya sedikit merasa...sesak.

ia tau salahnya yang memutuskan untuk menjaga jarak, namun tidak Baekhyun kira jika Chanyeol mengikuti kemauannya. bahkan ini telah terlewati dua minggu dan benar pikirnya ada yang tidak beres dengan hatinya.

Baekhyun, entah sejak kapan merasa matanya memanas. air mata telat berkumpul di pelupuk mata namun ia tidak berniat mengusapnya. dirinya ia bawa duduk disalah satu kursi halte. beruntung ia memilih untuk duduk di pojok dan lumayan jauh dari beberapa orang yang juga sedang menunggu bus.

mualnya tak kunjung hilang dan Baekhyun sudah menangis sekarang. air matanya mengalir tak henti, namun ia tak bersuara. ia biarkan air matanya mengalir sedangkan kedua matanya terpejam. tangannya ia bawa mengusap perutnya, ia juga tidak tau mengapa ia melakukan itu namun saat dirinya mendaratkan telapak tangan miliknya di perut, terkejut adalah apa yang ia dapati.

ia bersumpah merasakan sesuatu disana. disaat tangannya bersentuhan dengan perutnya, benar dirinya merasa tertohok dan sebuah bisikan memasuki indra pendengarannya.

dengan cepat ia mengusap matanya hingga tak ada air mata yang tersisa, "Apa itu tadi?" tanya nya dalam hati. setelahnya tak mengambil pusing akan hal itu.

matanya ia bawa menjelajah. ia memandang kesana kemari, memastikan adakah bus yang tiba atau tidak. tangannya kembali mengusap perut, Baekhyun tau itu aneh namun ia biarkan saja. ia tetap mengusap perutnya, entah mengapa itu membuatnya...nyaman?

Seluruh pergerakan si mungil itu tak luput dari penglihatan Chanyeol. pria itu benar mengikuti Baekhyun hingga ke halte.

bertemu dengan wajah pucat Baekhyun di lift dan wajah mungil itu seperti menahan sakit taunya itu membangkitkan sisi khawatirnya.

meskipun Baekhyun telah berusaha menutupi itu dengan menggunakan pelembap, itu taunya tak berhasil di mata Chanyeol.

pria itu jelas betul tau bahwa Baekhyun sedang tidak baik. terlihat jelas saat lingkar hitam yang berada di bawah mata milik Baekhyun, dan juga binar merah di kedua pipi mochinya lenyap entah kemana.

Chanyeol bisa meninggalkan Baekhyun dan kembali ke parkiran apartemen untuk mengambil mobilnya, jika saja ia tidak Baekhyun yang menangis disana. Ia baru saja ingin menghampiri si kecil itu namun tersadar setelahnya jika ia sedang menyamar.

Baekhyun menangis. itu yang Chanyeol lihat. Chanyeol juga melihat bagaimana wajah terkejut Baekhyun saat ia mengusap perutnya. namun selanjutnya Baekhyun tetap mengusap perut miliknya.

itu tak luput dari mata Chanyeol. entah kenapa ia tersenyum melihat adegan tersebut.

tunggu dulu, Chanyeol membatin.

mengusap perut? menangis?

Chanyeol bertanya dalam hati, apa yang Baekhyun alami. namun entah pemikiran dari mana ia menyimpulkan bahwa Baekhyun kini tengah hamil.

Pria itu melotot dan menutup mulut dengan kedua tangannya, itu terlihat konyol, bersyukur tidak ada orang yang menyadari tingkahnya.

Baekhyun...hamil? anaknya?

Sudah pasti anaknya. Chanyeol membatin.

Seakan sudah tidak peduli, ia menghampiri Baekhyun tepat disaat bus tiba. Ia berdiri didepan Baekhyun yang tampak terkejut akan kedatangannya.

"Astaga!" ucap Baekhyun sambil memegang dadanya, terkejut. Kemunculan Chanyeol sangat tiba-tiba dan itu membuat hatinya entah mengapa berdebar kencang.

Seluruh penumpang yang tadi bersamaan menunggu bus telah menaiki bus lebih dulu, pintu bus tertutup dan suara yang dihasilkan benar membuat Baekhyun tersadar. ia mendorong Chanyeol dan sedikit berlari ketika bus itu telah berjalan lebih dulu. Baekhyun berdiri di pinggir jalan, menatap bus dengan pandangan kesal. ia baru saja ingin memaki si supir bus namun tersadar jika ada seseorang yang lebih pantas mendapat makiannya.

"Karenamu aku ketinggalan bus!" teriakan nyaring ia keluarkan, well, Byun Baekhyun yang asli telah muncul ke permukaan.

yang di teriaki malah diam saja membuat Baekhyun semakin kesal. "Chanyeol kau membuatku ketinggalan bus! astaga, aku bisa terlambat." gerutunya kesal.

Chanyeol tidak menanggapi. pria itu malah tersenyum selayaknya orang gila membuat Baekhyun mendengus kesal.

tidak ada siapa siapa di halte dan Baekhyun siap dengan seluruh makian jika saja Chanyeol tidak menarik tangannya dan memeluk dirinya.

Baekhyun terkejut, tangannya masih setia ia simpan disamping tubuhnya dan Chanyeol semakin erat memeluk dirinya. Baekhyun bingung dengan tindakan Chanyeol.

bukannya mereka saling menghindar? dan mengapa sekarang Chanyeol memeluknya? apa Chanyeol lelah menghadapi dirinya yang menghidar terus?

memang mereka tidak pernah bertemu lagi sejak pagi itu, namun itu tidak memungkinkan jika Chanyeol sering melihat dirinya karena jika ia pulang ia akan melewati pintu rumah Chanyeol terlebih dahulu.

Baekhyun melepas pelukannya secara paksa dan mendorong tubuh Chanyeol menjauh, itu benar membuat Chanyeol terkejut.

"Apa-apaan itu?" ucap Baekhyun tak terima. jujur saja ia memang merasa hangat di peluk Chanyeol, sejak memilih menghindar Baekhyun akui ia sedikit merindukan pria itu.

"Aku memelukmu." jawab Chanyeol santai seperti tak terjadi apapun.

"Aku tidak suka."

"Aku tidak peduli." Chanyeol mengendikkan bahunya, "Aku merindukanmu."

suaranya terdengar serius di telinga Baekhyun. pria mungil itu membuang wajah, menatap ke arah lain asalkan tidak ke arah Chanyeol yang ia akui sangat tampan dengan setelan jas hitam miliknya.

"Aku merindukanmu. sungguh." Chanyeol mengulang ucapannya. Baekhyun tidak menanggapi.

"Sayang," panggilan itu Chanyeol suarakan membuat Baekhyun menoleh dan menatapnya tajam.

"Apa?!" jawab.

"Eh, kau menoleh saat ku panggil sayang?"

Baekhyun yang tersadar langsung menggeleng. sialan, makinya dalam hati. kenapa ia merasa tertangkap basah begini?

"Tidak kok!" elaknya, "Kau tidak boleh memanggilku seperti itu lagi, jika ada yang mendengar mereka akan salah paham!" alasan tak masuk akal ia keluarkan.

Baekhyun sadar betul jika tidak ada siapapun disana, ia hanya terlalu malu di hadapan Channyeol.

"Siapa yang akan salah paham?" tanya Chanyeol sok polos. "Biarkan saja, kau kan pacarku." ucap Chanyeol santai.

Baekhyun tidak tau jika sifat asli Chanyeol kekanakan seperti ini. bahkan ini terlalu kekanakan melebihi Sehun.

"Pacarmu pantatku!" seru Baekhyun tak terima.

"Kau kan memang pacarku." Chanyeol tak mau kalah.

"Jangan suka seenaknya saja."

"Tidak kok. Kau memang pacarku."

"Bicara saja sana sama tiang!" seru Baekhyun kesal.

"Untuk apa bicara dengan tiang jika ada malaikat cantik disini?" Chanyeol mengulas senyum melihat Baekhyun yang terlihat salah tingkah didepannya.

"Setelah dua minggu lamanya tidak bertemu, kualitas otakmu menurun. kepalamu terhantam sesuatu?" ujar Baekhyun mengejek.

"Wah, kau bahkan menghitung waktu kita tidak bertemu? manisnyaaa." bukannya menjawab, Chanyeol malah semakin gencar menggoda Baekhyun.

"Terserahmu saja." Baekhyun pasrah, lelaki itu melirik jam di tangannya. jam delapan lewat, ia sudah tak peduli jika terlambat, maka dari itu tangannya ia bawa meraih ponsel di saku dan melakukan panggilan pada Kyungsoo.

"Kenapa belum datang juga?"

"Ada sesuatu terjadi. mungkin aku akan mengambil shift sore saja. kau bisa mengatur jadwalku kembali?" pinta Baekhyun, terdengar dengusan Kyungsoo dan itu membuat Baekhyun cemas temannya itu tidak menolongnya. namun apa yang didengar setelahnya membuatnya bernapas lega.

"Baiklah, tapi bagaimana tubuhmu? baik-baik saja? masih merasa mual?" pertanyaan Kyungsoo sedikit membuatnya tercekat.

ia menatap Chanyeol yang sedang menatapnya. Chanyeol menatapnya intens seakan ia bisa membaca pikiran Baekhyun.

Baekhyun menggeleng seakan Kyungsoo bisa melihatnya.

"Mualnya masih suka muncul secara tiba-tiba." kalimat yang Baekhyun keluarkan membuat Chanyeol menatapnya semakin serius, "Tapi itu tidak masalah, aku bisa mengatasinya. terimakasih sudah mengkhawatirkanku, Kyung. kututup, bye."

Baekhyun memutuskan sambungan sepihak, tak peduli jika nanti Kyungsoo mencapnya tidak sopan. ia sudah sangat risih dengan Chanyeol yang semakin lama semakin merapat padanya.

"Bisa menjauh tidak?" Baekhyun memandang Chanyeol malas.

Chanyeol otomatis menjauhkan diri, namun tetap berada di dekat Baekhyun.

"Kau sakit?" tanya Chanyeol saat mendapati wajah Bajah Baekhyun yang benar sedikit pucat dan itu membuat dirinya khawatir.

Dua minggu tidak melihat Baekhyun wajar saja jika berbagai macam spekulasi memenuhi otaknya. Apakah Baekhyun makan dengan baik atau tidak, tidur dengan nyenyak atau tidak dan yang lain sebagainya.

Sepanjang perjalanan bisnisnya pun ia tak pernag tidak memikirkan Baekhyun. Hampir setiap hari ia menelpon adiknya Jisung dan berkali kali memohon agar adiknya itu mau menemui Baekhyun hanya sekedar untuk meminta nomor ponselnya.

Itu sangat memalukan dan Jisung langsung saja menolak mentah mentah tanpa peduli ancaman sang kakak dengan menutup sambungan secara sepihak.

Dan disinilah ia sekarang, berdiri di hadapan Baekhyun yang masih sibuk menatapnya dengan tatapan tajam. Bagi si mungil tatapan itu mengerikan namun berbanding terbalik dengan Chanyeol yang menganggap tatapan itu sangat menggemaskan.

"Kau sakit?" pertanyaan yang sama ia tanyakan lagidisaat hanya keheningan yang ia dapatkan.

Baekhyun tak tau mau menjawab apa, ingin mengaku tapi rasanya tidak pantas. tapi hatinya merasa hangat saat Chanyeol terlihat perhatian padanya. Baekhyun menggeleng, "Tidak."

"Tapi kau terlihat sakit." Chanyeol kembali menimpali.

Baekhyun berdecak kesal, "Aku bilang tidak ya tidak." kepalanya ia bawa bergerak kesana kemari, memastikan siapa tau ada taksi yang lewat.

"Aku pergi bersama." tawar Chanyeol yang memperhatikan Baekhyun.

"Terima kasih tapi aku bisa pergi sendiri, Chanyeol-ssi." ucapnya ketus.

Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah pria didepannya ini. Chanyeol hendak meraih pergelangan tangan Baekhyun secara paksa, namun apa daya si mungil telah memilih masuk ke dalam taksi yang entah kapan tiba, Chanyeol tidak menyadari itu karena fokusnya hanya tertuju pada Baekhyun.

"Sial!" umpatnya kesal.

diwaktu yang sama dan tempat berbeda, Sehun tampak tergesa memasuki ruangan yang Kyungsoo tempati bersama Baekhyun.

Sehun membawa sebuat berita panas, versi dirinya tentu saja. pria itu langsung mengambil posisi duduk setelah masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. itu memang sudah kebiasaannya dan Kyungsoo maupun Sehun memaklumi sifat pria termuda dari mereka itu.

"Aku membawa sebuat berita. entah harus senang atau sedih untuk menanggapi ini." Sehun memulai, entah apa yang akan ia bicarakan namun taunya itu membuat fokus Kyungsoo beralih padanya.

Sehun membicarakan perihal Soojung. Istri dari Kim Jongin si pria brengsek menurutnya yang kini terbaring lemah diruangannya. semakin hari tidak ada perubahan, tubuhnya perlahan mulai kurus dan banyak perubahan lain di tubuhnya membuat Sehun tau jika wanita itu tidak akan bertahan. di tambah lagi dengan Soojung menolak di beri pengobatan apapun. wanita itu sungguh keras kepala.

Kyungsoo justru tau perihal Jongin dan Baekhyun, tentu saja ia mendapatkan informasi dari siapa lagi kalau bukan Sehun?

Sehun menceritakan tentang pertemuan rahasianya dengan Kim Jungwoo, dokter spesialis kanker yang menangani Soojung. bukan tanpa tujuan ia melakukan itu, hanya saja ia sedikit prihatin dengan apa yang Jongin alami saat ini.

Jongin terpuruk dan benar itu adanya. ia meyakinkan dalam hati harusnya ia senang karena Jongin mendapatkan karma yang setimpal karena telah menyakiti Baekhyun dulu, dan sekarang justru Jongin yang akan tersakiti.

tapi entah mengapa disisi lain dirinya merasa iba, setiap pagi ia memperhatikan Jongin yang keluar dari ruangan dengan lesu sambil menggandeng tangan anaknya yang telah siap dengan pakaian sekolah, namun rautnya berbanding terbalik dengan Jongin. anak itu tampak...bahagia?

pernah satu hari, Sehun yang baru saja selesai menjalankan tugas malam tak sengaja melihat Jongin dan anaknya berjalan keluar dari ruang rawat istrinya, awalnya ia tidak mendengar apa yang sedang ayah dan anak itu bicarakan, namun celotehan anaknya tentang bagaimana bocah kecil itu memimpikan ibunya yang datang dengan baju serba putih dan sayap di punggung, Sehun terkejut bukan main. berbeda dengan Jongin yang tersenyum tulus saat itu. seperti pria itu bahagia mendengar sang anak yang bercerita tentang mimpinya.

sejak saat itu pula Sehun memutuskan ikut andil dalam memantau kondisi Soojung. ia merasa dirinya sedikit tidak beretika dengan memaki Jongin di awal pertemuan mereka sekian lama, sedangkan ia tau bahwa kondisi Jongin saat itu tidak baik-baik saja mengingat istrinya yang sedang sakit parah.

"Lalu?" Kyungsoo penasaran saat Sehun diam.

"Kita hanya perlu menunggu persetujuan Jongin perihal melepas seluruh alat bantu istrinya." lanjut Sehun.

Kyungsoo menganga tak percaya, itu artinya sudah tidak ada harapan kan? hidup wanita itu kini bergantung pada alat medis, seakan dilepas beberapa detik saja, wanita itu sudah dipastikan kehilangan nyawanya.

"Dan sialnya Jongin tak akan pernahh menyetujui itu sampai kapanpun." Sehun berucap frustasi. tangan ia bawa menjambak rambutnya pelan, ia harus berfikir bagaimana cara agar Jongin menyetujuinya.

hey, jangan fikir dia jahat. ia memang kesal pada Jongin, namun ia tidak mungkin senang melihat teman lamanya itu menderita. Sehun hanya tidak ingin wanita itu, Soojung, keadaannya semakin parah dan Sehun tau itu sangat menyiksa. ketika tubuhmu ditancapkan jarum di bagian tertentu agar kau bertahan hidup, bisa di pastikan saat itu juga kau akan memilih mati dari pada harus bersama alat alat itu selama sisa umurmu.

"Kita tidak bisa membiarkannya, wanita itu sungguh tersiksa, Sehun." Kyungsoo berucap serius. "Aku tidak mengenal Jongin yang kau bicarakan maka dari itu maaf, aku tidak bisa membantu untuk meyakinkannya." sesal Kyungsoo. Sehun mengangguk dan menjawab tak apa, semuanya akan baik baik saja.

beda dengan Kyungsoo beda pula Sehun, pria itu terpikir akan seseorang yang ia sangat yakin bisa meluluhkan Jongin dalam sekejap.

Baekhyun, siapa lagi?

ditambah lagi ia mendengar bahwa Baekhyun berteman baik dengan Soojung itu. memang belum lama berteman, tapi Baekhyun dan Soojung akrab dalam sekejap.

"Hyung, Baekhyun hyung belum datang?" tanya Sehun membuat Kyungsoo yang sedari tadi melamunkan entah apa terkejut.

"Ia sedikit terlambat. ada beberapa hal terjadi, katanya." Kyungsoo mengendikan bahu pelan.

"Arraseo." Sehun menanggapi.

tak ada yang lanjut bicara. Sehun tetap pada pikirannya sementara Kyungsoo kembali pada berkas. Sehun harus bisa menemukan jalan agar ia bisa meluluhkan Jongin.

dan satu satunya cara yang ia yakin itu manjur adalah dengan mempertemukan Baekhyun dan Jongin.

Chanyeol tidak menyusul Baekhyun, disaat Baekhyun pergi meninggalkannya dengan taksi, ia tiba-tiba saja mendapat panggilan dari seseorang yang tidak lain adalah Jisung.

Pria itu mengumpat kesal, adiknya itu memang sangat mengganggu. Kenapa disaat Chanyeol seperti tadi adiknya itu menelpon? Chanyeol bersumpah akan menarik kedua telinga adiknya saat mereka bertemu nanti.

Jisung memintanya kerumah. Ada hal penting yang akan dibicarakan anak itu. Chanyeol memaki betapa kurang ajarnya adiknya itu dengan memerintah dirinya untuk datang, dia anak tertua dan adiknya sangat tidak menghormatinya dengan cara seperti itu.

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat disamping mobil milik ayahnya. Sekali lagi pria itu memastikan jika tidak salah melihat dan taunya itu benar-benar mobil sang ayah.

Tak biasanya sang ayah ada dirumah, itu yang Chanyeol pikir. Tapi ia tak ambil pusing dan lanjut melangkahkan kakinya menuju rumah.

Pintu terbuka dan yang ia dapati adalah keberadaan sang adik yang sedang asik dengan ponsel miliknya dan sang ayah yang membaca koran dengan secangkir kopi dihadapan pria paruh baya itu. Ia melirik ke dapur, mencari keberadaan ibu namun tampaknya sang ibu tidak berada disana.

"Ayah," sapa Chanyeol, ayahnya mendongak melihat Chanyeol dan tersenyum setelahnya. Seperti telah terbiasa, Chanyeol memeluk sang ayah yang memang tampak bertambah tua dan tak lupa mencium pipinya. "Ayah sehat?" tanyanya memastikan.

Tuan Park mengangguk mantap. Menepuk pundak lebar Chanyeol pelan lalu mempersilahkan anaknya duduk.

Chanyeol duduk disamping Jisung yang tampak tak peduli dengan kehadiran orang-orang disekitarnya.

"Ya!" sentak Chanyeol dengan menyiku lengan adiknya dan itu membuat ponsel Jisung jatuh.

"Hyung!" Jisung berdecak kesal. "Mengacau saja." gerutunya pelan.

"Biarkan saja." jawab Chanyeol tak peduli. "Ayah, mengapa anak nakal ini tidak sekolah?" tanya Chanyeol pada sang ayah. Chanyeol bertanya demikian karena ini masih pagi dan adiknya itu dengan santainya berada dirumah bukannya disekolah.

Ayahnya tampak memasang wajah serius sedangkan adiknya tampak tak peduli dengan kembali memainkan ponselnya. "Letakkan ponselmu, Park Jisung." perintah sang ayah dengan suara khasnya jika ia tak ingin dibantah.

Chanyeol merasa ada yang berbeda dari sang ayah dan begitu pula dengan adiknya.

Pikiran tentang adiknya yang mungkin membuat ulah hingga sang ayah turun tangan dan Jisung berada dirumah sekarang memenuhi pikirannya. Apa yang telah dilakukan adiknya hingga ayahnya yang super sibuk itu meluangkan waktu hanya untuk menghadap adiknya itu?

Seingat Chanyeol adiknya tak pernah bertingkah disekolah. Maksudnya, sampai ayahnya benar-benar turun tangan seperti ini. Jisung masih seperti anak-anak lainnya. Berkelahi lalu masuk ke ruang kedisiplinan dan mendapatkan hukuman, itu memang sudah biasa. Tapi melihay ayahnya disini, apa yang Jisung telah lakukan? Pasti kali ini bukan hal yang biasa kan?

"Bagaimana perusahaan?" pertanyaan pertama yang ayahnya tanyakan pada Chanyeol. Ayahnya memang masih pergi ke kantor, namun hanya untuk memantau kinerja Chanyeol, seluruh pekerjaan seperti menghadiri meeting, mendiskusikan kerja sama baru atau sekedar berkunjung ke cabang perusahaan mereka yang berada di luar negeri, Chanyeol yang melakukan itu semua.

"Baik, Ayah. Dua minggu waktu yang cukup untuk aku mengatur semua." Chanyeol menjawab mantap.

Ayahnya tampak mengangguk mengerti, Chanyeol sungguh bisa di andalkan. Anaknya itu sungguh memiliki rasa tanggung jawab yang besar.

"Aku bangga padamu." pujinya. "Ah, dan ada satu hal yang ingin ayah tanyakan." lanjut ayahnya.

Chanyeol menatap ayahnya bertanya, seperti nya ini hal serius, Chanyeol mencoba bersikap biasa saja tapi ia tak bohong jika dirinya sedikit ciut sekarang.

"Apa kau yang telah meloloskan anak nakal itu pada audisi?"

Chanyeol melongo, "Apa?"

"Anak nakal itu," Telunjuk sang ayah mengarah pada Jisung, "Anak nakal itu lolos pada audisi yang di adakan agensi kita. Apa kau yang meloloskannya?"

Chanyeol menatap Jisung yang telah lebih dulu menatapnya malas-malasan, "Apa?" Jisung berucap malas.

Chanyeol bingung. Apa maksud ayahnya dan adiknya yang lolos? Yang benar saja.

Agensi nya emang melakukan audisi untuk pada calon idol baru di Seoul. Namun ia tak ikut serta akan itu. Semuanya ia serahkan pada sahabatnya, Kasper yang memang ia letakkan di bagian perekrutan calon idol baru. Audisi memang telah selesai beberapa hari yang lalu dan tentu saja Chanyeol tau itu karena Kasper tak pernah absen untuk memberi laporan padanya.

Tapi, adiknya? Ia sungguh tak tau apa-apa. Bahkan ia bersumpah tak memberi tau adiknya jika agensi mereka mengadakan audisi, namun bagaimana caranya adiknya itu tau? Bahkan lolos audisi.

"Kau ikut audisi?" tanya Chanyeol tak percaya pada Jisung yang kini terlihat biasa saja.

Ayahnya menatap Chanyeol bingung, "Kau tidak tau?"

"Tidak, ayah." jawab Chanyeol cepat. "Aku saja tidak tau jika Jisung ikut serta, bagaimana mungkin aku meloloskannya?" ungkap Chanyeol. "Aku berada di Moskow saat itu." jujurnya.

"Dia benar-benar lolos? Lalu bagaimana ibu?"

Ibunya. Iya, ibunya sangat menentang anak-anaknya menjadi idol disaat mereka memiliki agensi sendiri.

Chanyeol sangat mencintai musik sejak kecil. Piano, gitar, drum dan yang lainnya dapat ia mainkan dengan baik. Ia juga pandai bernyanyi, walaupun suaranya berat tapi itu tak merusak keindahan suaranya sama sekali. Dulu ia sempat bertengkar dengan ibunya karena Chanyeol berkata ia ingin menjadi idol. Ibunya menentang keras, terlebih lagi saat Chanyeol bilang ia tidak akan menyusahkan sang ibu. Chanyeol berkata ia tidak akan ikut audisi di agensi mereka melainkan agensi tetangga.

Tentu ibunya marah. Ibunya melarang bukan karena agensinya, melainkan niat Chanyeol yang ingin menjadi idol itu.

Ibunya tidak setuju ia menjadi idol dengan alasan itu semua hanya cita-cita semata. Maksudnya, nama Chanyeol tentu tidak akan selamanya harum di muka publik, kan? Pasti ada pasang surut yang terjadi disaat telah menetapkan diri menjadi idol. Persaingan kuat dan tentunya nanti akan ada idol baru yang muncul dan nama Chanyeol pasti akan meredup, lalu apa? Chanyeol akan terbuang -begitu kata ibunya- dan menjadi pengangguran. Intinya ibu bilang jika menjadi idol merupakan sebuah pekerjaan yang tidak tetap.

Alih-alih menjadi idol, ibunya menyarankan ia menjadi CEO di agensi mereka. Chanyeol menolak mentah-mentah, tentunya.

Ia ingin menjadi idol lalu di paksa untuk menjadi CEO disana. Bisa kalian bayangkan betapa irinya ia setiap hari melihat idol berlalu lalang disekitarnya?

"Ibumu marah, ia dikamar."

"Sudah kuduga." Chanyeol terkekeh pelan, "Kau benar-benar lolos, huh?" Chanyeol mengacak rambut Jisung hingga terlihat berantakan. Anak itu menyerngit tak suka.

"Kau tak percaya? Heol, aku ini berbakat tau." ucap Jisung menyombongkan diri.

"Kau tidak memaksa Kasper meloloskanmu kan?"

"Hyung!" Jisung membentak tak percaya, "Aku saja tidak tau yang mana Kasper hyung itu, bagaimana bisa aku memaksanya?"

"Oke, oke santai saja." Chanyeop tertawa. "Jadi, bagaimana dengan ibu?" Chanyeol kembali membawa tatapan pada sang ayah.

"Marah, tentu saja. Ibumu telah menyiapkan segala macam untuk masa depan adikmu itu. Kau tau kan ibumu ingin adikmu itu menjadi dokter? Dan anak nakal ini malah diam-diam ikut audisi. Bisa kau bayangkan betapa marahnya ibu?" Ayahnya menjelaskan namun terlihat seperti ingin tertawa.

"Lalu ayah bagaimana?" Chanyeol meminta pendapat sang ayah. Jujur dirinya sangat mendukung adiknya itu. Memang bukan dirinya yang menjadi idol, dan ia cukup puas jika adiknya yang menjadi idol. Setidaknya Jisung mewakili cita-citanya.

Ayahnya tersenyum tanpa beban seakan itu semua hal biasa. "Ayah bisa apa?" jawabnya singkat, "Jujur saja ayah memang ingin ia menjadi idol."

"Ayah!" Chanyeol menatap sang ayah tak percaya, "Lalu dulu mengapa ayah menentangku?"

"Itu beda lagi Chanyeol. Kau anak sulung, tentu ayah dan ibu membutuhkan pewaris selanjutnya untuk melanjutkan perusahaan. Dan satu-satunya yang bisa di andalkan adalah kau." jelas sang ayah. "Ayah bisa saja memberikan semua ini pada Jisung jika saja adikmu itu lahir 5 tahun setelahmu. Tapi ini 17 tahun. Ia lebih terlihat seperti anakmu daripada adikmu." jelas ayahnya.

Jisung? Anak itu memperhatikan sambil tersenyum saja. Hatinya sedang senang karena ayahnya mendukung. Urusan ibu? Belakangan saja. Jisung yakin ayahnya pasti bisa menjinakkan ibunya itu.

"Lalu bagaimana tentang tanggapan trainee lainnya jika mereka tau kau adik pemilik agensi?" Chanyeol kembali pada Jisung. Ia sedikit kesal melihat wajah sumringah adiknya itu.

"Tak akan ada yang tau. Lagipula mereka pasti taunya kau anak tunggal." Jisung kembali dengan ponselnya dan tak lama kemudian bersuara, "Ah, apa Kasper hyung tau aku adikmu?" tanya anak itu pada Chanyeol.

"Tentu saja! Dia tidak bodoh dengan tak memeriksa datamu lebih dulu."

"Tapi hyung, bukan hanya aku saja yang bernama Park. Peserta lain pasti ada."

"Kau pikir saja sendiri. Aku tidak mungkin tak memberi tau Kasper wajahmu itu."

Jisung mengangguk tanda mengerti. "Lalu, bagaimana dengan ibu nanti?" tanyanya pada Chanyeol namun sedetik kemudian ia menatap sang ayah, "Ayah, bagaimana ibu?"

"Tenang saja ayah akan mengatur semua. Kau hanya perlu fokus pada masa trainee dan sekolahmu, mengerti?"

Lagi Jisung mengangguk dan Chanyeol memutar bola matanya malas. Ia berniat akan menghampiri Kasper dan bertanya hal ini nanti. Perihal ibu? Ia serahkan semuanya pada sang ayah.

Chanyeol berdiri, berniat kembali ke kantor setelah berpamitan pada sang ayah dan berjalan menuju mobilnya. Ia baru saja hendak masuk kedalam mobil sebelum teriakan Jisung menghentikan tindakkannya.

"Apalagi?"

"Ayo jalan-jalan hyung." Ajak Jisung. Anak itu memang telah memakai pakaian yang lumayan, walau hanya hoodie dan jeans yang memiliki sobek di masing-masing bagian lutut, wajahnya yang tampan itu sangat membantu penampilannya.

"Kemana? Aku sibuk." Chanyeol malas. "Lagipula kenapa tidak sekolah? Hanya membicarakan hal itu saja harus meliburkan diri. Berlebihan." ejeknya.

"Ini kan menyangkut masa depanku. Tentu saja harus dibicarakan secara serius." Jisung menjawab seenaknya, "Lagipula sebentar lagi aku akan menjadi idol, siapa yang peduli dengan sekolah?"

Chanyeol tak menjawab alih alih menyuruh adiknya masuk kedalam mobil. Jujur Chanyeol juga tak tau harus membawa adiknya kemana, dirinya sendiri juga malas kembali ke kantor karena ia tau semua pekerjaannya telah selesai dan perusahaan baik-baik saja.