Baekhyun baru saja menginjakan kakinya di apartemen setelah menguras seluruh tenaga nya sejak pagi. Well, tidak bisa di bilang pagi juga karena ia tiba dirumah sakit jam 10.

Sekarang jam 5 sore, dan Baekhyun memang sengaja meminta izin lagi karena kondisinya yang ia pikir bertambah parah dan tidak bisa di ajak kompromi.

Sepanjang menjalani operasi ia betul menahan seluruh gejolak yang berasal dari perutnya. Mualnya berulah lagi dan bersyukur Baekhyun bisa mengatasinya dengan tidak mengeluarkan seluruh isi perutnya tepat di tubuh pasien yang sedang ia tangani.

Langkahnya ia bawa menelusuri rumahnya, menghidupkan beberapa penerangan lalu meletakkan tas di sofa ruang tengah dan juga mendudukan diri disana.

Ia kesal, tentu saja. Ia tidak menyangka jika masuk anginnya akan bertambah parah. Kyungsoo berkali-kali mengajaknya untuk periksa tapi ia menolaknya. Entah mengapa ia merasa tidak perlu padahal mual itu betul sangat mengganggunya.

"Ah sial!" umpat Baekhyun saat ia rasa mualnya kembali. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan mendudukan diri dilantai, dan mengeluarkan apa yang baru saja ia makan, meskipun lebih banyak didominasi oleh cairan.

15 menit Baekhyun berada di posisi yang sama, dan berfikir tentang apa yang ia alami.

Mual. Iya, dirinya mual dan itu terhitung sudah 5 hari. Ia juga sudah minum obat yang ia beli di apotik dan ia rasa juga ia istirahat cukup banyak. Tapi mengapa tidak kunjung mereda?

Baekhyun berdiri, lalu membuka seluruh pakaiannya. Ia berniat membersihkan diri. Ia tidak memakai apapun saat ini dan ketika melewati kaca besar yang ada di kamar mandi, langkahnya terhenti.

Ia terus memandangi tubuhnya melalu kaca. Tidak ada yang beda, menurutnya. Hanya sedikit lebih kurus karena ia memang merasa kurang sehat belakangan ini dan juga pipinya yang tampak sedikit tirus dari biasanya. Itu tidak ia abaikan malahan satu objek lainnya sukses menarik perhatiannya.

Perutnya. Iya, Baekhyun kini memandang perutnya. Baekhyun ragu, ia ingin sekali menyentuh perutnya itu tapi entah mengapa disatu sisi rasanya ia tidak berani. Oh, kalian tau pasti apa yang di pikirkannya sekarang.

Ini memang telah lewat dua minggu sejak malam itu bersama Chanyeol, dan ia tidak bohong jika tubuhnya banyak mengalami perubahan.

Mual, pusing yang ia alami saat di pagi hari juga sore terus saja berlangsung hingga sekarang. Ia bukannya tidak memikirkan hal lain selain masuk angin, hanya saja dirinya terlalu takut.

Takut jika apa yang ia pikirkan benar. Baekhyun kembali memandang perutnya, tangannya perlahan bergerak ke arah perutnya dan mencoba menyentuh benda itu dengan telunjuk lentiknya.

Ia berharap sesuatu yang lembut yang ia dapatkan saat menyentuh perutnya, namun apa yang sekarang ia dapatkan adalah sesuatu yang keras. Sangat keras hingga rasanya Baekhyun bisa saja mati ditempat jika tidak bisa mengontrol diri.

Baekhyun membawa langkahnya mundur. Tidak percaya dengan apa yang baru saja di sentuhnya.

"Tidak." Baekhyun menggeleng kuat, "Tidak. Kau tidak mungkin ada disana kan?" lirihnya pelan namun taunya ia tak yakin dengan pada dirinya sendiri.

Baekhyun berlari menuju kamar dan menyambar selembar celana training dan juga kaos kebesaran yang biasa ia gunakan saat tidur. Persetan jika bahunya terekspos saat ia berjalan, ia sungguh tak memikirkan hal itu sekarang.

Pria mungil itu meraih dompet dan juga ponselnya setelah memakai sandal rumahan dan keluar meninggalkan apartemen setelah menguncinya.

Baekhyun tergesa menekan tombol lift dan saat pintu terbuka ia langsung saja masuk dan memilih menuju lantai dasar.

Setelahnya di lantai dasarpun ia langsung bergegas keluar melewati lobi apartemen. Lobi cukup ramai mengingat ini sore hari dan beberapa pemilik yang lainnya pasti menuju rumah masing-masing. Ia sadar jika beberapa pasang mata sempat memperhatikannya tapi ia sungguh tidak ambil pusing.

Tujuannya hanya satu, apotik. Ia tidak tau apa yang ia pikirkan namun nyatanya disinilah ia berada. Mengantri hanya untuk mendapatkan satu benda yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya akan ia gunakan. Tidak sekarang, maksudnya. Namun lihatlah, ia bahkan tidak sabar untuk membelinya.

"Aku ingin membeli ㅡ uhm, bagaimana aku mengatakannya?" Baekhyun berucap pelan saat telah berhadapan dengan apoteker wanita di hadapannya. Ia bingung bagaimana harus bicara, ia tidak malu hanya saja, sedikit ragu.

"Sepertinya aku tau apa yang kau butuhkan," wanita itu sedari tadi melirik Baekhyun yang gelisah di kursi antrian seakan mengerti apa yang akan dibeli pria itu.

Wanita itu berbalik meninggalkan Baekhyun menuju rak yang ada di belakangnya lalu kembali dengan membawa dua benda yang Baekhyun butuhkan.

"Uhm, terima kasih bibi." ucap Baekhyun pelan lalu memberikan beberapa jumlah uang kepada wanita itu. Wanita itu tersenyum tulus melihat Baekhyun.

"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan gegabah, oke?"

Entah apa maksud dari wanita itu namun Baekhyun tidak peduli. Ia mengucapkan terimakasih lagi dan pamit setelahnya untuk kembali ke rumahnya.

Kini alat itu sudah ditangannya dengan air seni miliknya yang telah ia siapkan didalam sebuah wadah kecil. Baekhyun berdiri di wastafel kamar mandinya. Dirinya gugup. Entah apa yang akan terjadi nanti itu taunya membuat Baekhyun ingin menangis saja.

Baekhyun ragu, jika ia meletakan alat itu maka ia harus siap dengan resikonya. Dengan apapun hasilnya nanti ia harus bisa menghadapinya.

Tapi entah mengapa nyalinya terasa menciut sekarang. Ia tidak takut, jujur saja. Hanya, bagaimana jika itu benar?

Bagaimana dirinya benar-benar mengandung? Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Bagaimana akan karirnya? Pekerjaannya? Dan terlebih lagi, bagaimana jika bayi itu lahir, dan ia bertanya akan ayahnya?

Apa Baekhyun siap akan semua itu? Sekali saja ia meletakkan alat itu maka masa depannya akan berubah. Atau tidak sama sekali jika hasilnya berbeda dari yang ia pikirkan.

Tapi gejalanya, sungguh membuat Baekhyun frustasi. Ini sama seperti apa yang Luhan alami dua bulan yang lalu. Mual, pusing, perasaan yang mudah berubah. Semua itu juga Baekhyun alami sekarang.

Namun, ia juga penasaran. Baekhyun tidak bisa terus bersikap masa bodoh jika dirinya benar-benar mengandung kan?

Lagipula, itu anaknya. Toh dia tentu sanggup menghidupinya, bahkan sampai anaknya dewasapun ia tentu sanggup menghidupi anaknya.

Tapi, apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya?

Ia tidak memiliki siapa-siapa. Maksudnya, Baekhyun dikenal dengan sebutan pria bebas. Ia tidak terikat dengan pria manapun bahkan disaat umurnya yang sudah sangat matang. Dan keadaannya yang tiba-tiba hamil?

Baekhyun tidak punya pilihan, ia memejamkan mata dan mengintip di balim matanya sembari tangannya ia bawa menuju wadah kecil dihadapannya dan meletakkan benda itu dengan posisi yang benar.

Baekhyun berdoa dalam hati, semoga dugaannya salah. Tidak apa jika dirinya mengandung namun harapan untuk itu tidak terjadi masih tersimpan di benaknya.

Pria itu mengetuk-ngetuk jarinya di ujung wastafel. Tinggal menunggu beberapa menit. Hanya beberapa menit saja dan ia akan menemukan jawaban.

Setelah ia rasa cukup untuk menunggu, Baekhyun menarik napas dalam. Perlahan dengan tangannya yang bergetar meraih benda tersebut. Baekhyun menatap pantulan dirinya dikaca, mengatakan pada dirinya disana bahwa semua akan baik-baik saja.

Lagi, pria itu menarik napas dalam dan membuangnya pelan, "Tak apa, Byun Baekhyun. Tak apa. Tak akan terjadi apapun." disaat seperti ini yang bisa ia lakukan hanyalah menenangkan diri sendiri.

Perlahan pandangannya ia bawa pada benda ditangannya. Membaliknya dengan perlahan karena memang ia memang sengaja memegang sisi belakang benda itu. Matanya bergerak meneliti benda tersebut. Ia menerjapkan mata, meyakinkan jika apa yang ia lihat mungkin saja salah. Namun bahkan seratus kalipun ia mengerjapkan mata, hasilnya tidak akan berubah.

Baekhyun menghela napas entah untuk yang kesekian kalinya, lalu mendudukan diri dilantai, sepertinya akhir-akhir ini ia berteman akrab dengan lantai kamar mandinya, dan menenggelamkan kepala di antara kedua lekukan lututnya sedangkan tangannya masih menggenggam benda itu.

"Mampus kau, Byun Baekhyun!" erangnya frustasi.

*

Setelah menenangkan diri selama dua jam dengan cara membenamkan kepala di bantal, akhirnya Baekhyun memilih bangkit.

"Benar. Kau tidak akan mati hanya karena kau hamil, Baekhyun! Ayolah, kemana perginya Baekhyun yang dulu?" dirinya ia bawa duduk di sisi ranjang.

Baekhyun berdiri, lalu merapikan tempat tidurnya yang terlihat sangat berantakan. Setelah selesai ia berjalan keluar kamar menuju dapur.

Ia lapar, dan entah kenapa tiba-tiba ia jadi malas memasak. Bahkan dirinya tidak membersihkan diri sejak pagi, sebenarnya tadi ia berniat, tapi karena terlalu tenggelam dengan pikiran dirinya yang hamil -dan ternyata itu benar- membuat ia mengurungkan niatnya.

"Ah, aku lapar sekali." erangnya sambil memegangi perutnya dan langsung tersadar jika ia tidak lagi seorang diri, melainkan membawa nyawa lain yang tentu saja butuh nutrisi.

Baekhyun mengelus perutnya pelan, "Ah, bagaimana bisa papa melupakan kehadiranmu? Maaf. Ayo kita pergi makan!"

Pria itu melirik jam yang berada di salah satu sisi dinding apartemennya. Pukul setengah sembilan malam. Masih belum terlalu malam untuk sekedar keluar dan mencari makan kan?

Baekhyun beraih jaketnya, ia sadar jika sudah memasuki musim dingin dan ia tidak ingin mengambil resiko dirinya terkena hipotermia terlebih lagi ia tidak sendirian sekarang.

Langkahnya ringan ia bawa melewati lobi yang mulai sepi, mungkin beberapa penghuni lebih memilih memasak ramen daripada keluar di cuaca yang seperti ini namun apa peduli Baekhyun? Selama ia bisa menjaga dirinya baik-baik saja kenapa tidak?

Keberadaan sebuah tenda yang menjual makanan terlihat oleh mata Baekhyun. Sambil bersenandung kecil ia berjalan kesana.

Ia tau, seharusnya sekarang dirinya berada dikamar. Mengamuk dan menangis karena mendapati dirinya yang hamil. Namun entah mengapa ia tidak merasakan hal itu sedikitpun.

Baekhyun lebih ke...apa ya? Ia merasa senang. Sangat malah. Dirinya tidak berhenti tersenyum walaupun tadi di rumah ia sempat berdiam diri selama dua jam dengan segala macam hal yang ada di pikirannya.

Namun setelah itu ia merasa, hamil juga tidak terlalu buruk. Dirinya selalu sendiri selama ini. Maksudnya, oke, ia memang memiliki Luhan, Kyungsoo bahkan Sehun. Ketiga sahabatnya itu selalu menemainya setiap hari.

Itu di rumah sakit. Ketika telah pulang, Baekhyun merasa ia benar-benar sendiri. Ayah dan Ibunya sudah tidak ada, dan Baekhyun sudah tidak bersedih akan hal itu. Orang tuanya meninggal karena telah takdir dan Baekhyun telah merelakan kepergian mereka. Lagipula itu terjadi sudah lama sekali. Saat ia masih berada si bangku sekolah menengah. Sejak orang tuanya tiada, Baekhyun tinggal bersama kakek dan neneknya di Jeju. Kakek dan neneknya lah yang telah menyekolahkan Baekhyun hingga ia bisa menjadi dokter seperti sekarang. Dan Baekhyun sangat berterima kasih akal hal itu hingga sekarang ia lah yang menghidupi dua orang kesayangannya itu.

Kembali ke topik awal, Baekhyun telah duduk manis di salah satu kursi disana. Tangannya ia bawa saling bergesekan satu sama lain. Ia merasa tangannya akan beku tapi tak apa, ia masih bisa mengatasinya.

Terlihat seseorang berjalan ke arahnya, seorang wanita paruh baya menghampirinya, "Ingin pesan apa, sayang?" wanita itu bertanya sangat ramah. Dan bukannya risih, Baekhyun malah tersenyum sangat manis. Wanita itu mengingatkan nya pada sang nenek yang ada di Jeju.

"Aku ingin membeli semangkuk ramen dan segelas susu stroberi hangat."

Baekhyun tidak peduli, namun tiba-tiba saja ia ingin ramen. Padahal jika di ingat-ingat, sekitar 5 bungkus ramen instan tersimpan di lemari penyimpanan dirumah dan dirinya malah berakhir dengan membeli ramen disini.

Wanita di hadapannya tampak terkekeh, "Tapi aku hanya menjual ramen, tidak dengan susu stroberi." ucapnya membuat Baekhyun sedikit kecewa. Ia tidak mendapatkan susu stroberi. "Tapi jika kau mau aku bisa membuatkanmu segelas teh lemon hangat." lanjut wanita itu.

Baekhyun mengangguk. Tak apa, pikirnya. Setidaknya teh lemon hangat dapat membantunya menghangatkan tubuh.

Wanita itu berbalik meninggalkan Baekhyun dan tidak perlu menunggu waktu lama ia kembali dengan nampan berisikan pesanan Baekhyun.

"Terima kasih!" ucap Baekhyun saat pesanan telah tersaji di hadapannya.

Tak menunggu lama Baekhyun meraih sumpit dan mulai memakan ramennya. Sesekali juga ia meminum teh lemonnya. Ia sama sekali tidak sadar jika sedari ia mendudukan diri disana, dua insan lainnya menatap Baekhyun dengan tatapan geli sekaligus gemas.

"Hyung, aku kesana saja ya?" Jisung baru saja hendak berdiri namun ujung lengan jaketnya dengan cepat di tarik oleh Chanyeol sehingga anak itu kembali duduk.

"Diam disini. Biarkan dia makan dulu."

"Tapi hyung, aku benar-benar merindukan Baekhyun hyung." ucap Jisung lucu sambil mempout bibirnya.

"Biarkan dia makan dulu Jisung. Jangan mengganggunya." tegas Chanyeol membuat Jisung diam dan mereka lanjut menyantap ramen.

Chanyeol dan Jisung telah berada disana bahkan sebelum Baekhyun datang. Kedua kakak beradik itu baru saja kembali entah dari mana sejak pagi tadi dan berakhir dengan kelaparan lalu memutuskan untuk makan di kedai ramen yang biasanya buka di dekat apartemen Chanyeol.

Jisung berkata ia ingin menginap di tempat hyungnya itu. Chanyeol tidak ambil pusing, toh besok juga Jisung tidak sekolah, anak itu besok akan datang ke agensi untuk mengatur seluruh jadwal trainee nya.

Keduanya memang sedari tadi berbicara hal yang tidak terlalu penting, kadang Jisung tertawa begitu pula Chanyeol hingga sosok mungil memasuki kedai itu membuat keduanya terdiam secara bersamaan.

Jisung yang memang hampir tiga minggu tidak bertemu Baekhyun tersenyum senang. Jujur saja bocah itu rindu pada Baekhyun, hanya saja terlalu malu untuk menghampiri Baekhyun padahal ia bisa saja menghampiri Baekhyun di rumah sakit jika saja ia tidak punya muka.

Keduanya telah menghabiskan makanan mereka, dan sekarang yang tengah dilakukan kedua kakak beradik itu adalah mengamati Baekhyun yang tengah mengunyah ramen dengan semangat. Itu sangat menggemaskan di mata keduanya. Jisung yang terkekeh geli dan Chanyeol yang hanya tersenyum.

Terlihat Baekhyun tengah meneguk teh lemonnya hingga kandas tak bersisa. Pria mungil itu membersihkan sudut bibirnya menggunakan tissu lalu tampak berdiri menuju wanita yang tadi juga melayani mereka. Kelihatannya Baekhyun berniat pulang karena terlihat pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya.

Suara Baekhyun yang mengucapkan terima kasih memasuki pendengaran keduanya dan seakan memiliki sensor akan suara Baekhyun, Jisung berdiri lebih dulu, oh jangan lupakan Chanyeol yang juga memiliki refleks yang sama dengan Jisung. Jisung menepuk bahu kakaknya dan menyuruh Chanyeol membayar sedangkan dirinya sendiri telah berlari menyusul Baekhyun.

"Yang benar saja!" Chanyeol berdecih. Kakinya ia bawa melangkah menuju wanita penjual dan bertanya totalnya.

Ia mengeluarkan beberapa jumlah uang dan menunggu wanita itu memberikan kembalian. Matanya masih setia menangkap eksistensi Baekhyun yang terlihat terkejut ketika Jisung menepuk bahunya.

Wanita dihadapan Chanyeol yang sekarang jengah karena Chanyeol tidak segera menerima kembaliannya mengikuti arah pandang Chanyeol.

"Ah, dia memang sangat manis." sebuah suara memasuki pendengaran Chanyeol dan taunya wanita itu pemiliknya.

"Huh?"

"Pria mungil itu. Ia manis sekali."

"Ah, iya." entah mengapa Chanyeol terlihat salah tingkah. Setelahnya ia menerima kembalian dari wanita itu, "Terima kasih bibi." ucapnya lalu berlari mengejar ketertinggalannya.

Baekhyun yang tengah berjalan pelan sambil bersenandung itu terkejut ketika mendapati seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Jisung yang tengah tersenyum tak berdosa ke arahnya.

"Haiiii Baekhyun hyung!" sapaan ceria Jisung serukan dengan wajah yang tak kalah cerianya.

"Ya, Park Jisung!" ucap Baekhyun tak percaya. "Ini benar kau? Wah aku kira kau menghilang."

"Menghilang?" tanya Jisung bingung. "Ah, jadi selama ini kau mencariku?" goda Jisung dengan alisnya yang sengaja ia naik turunkan.

"Tentu saja! Aku kehilangan teman bicara." jujur Baekhyun. "Kenapa bisa ada disini?" tanya Baekhyun yang heran akan kemunculan Jisung tiba-tiba.

"Eung? Aku baru saja selesai makan bersama Chanyeol hyung di tempat yang sama denganmu." jawabnya. "Kau tak menyadari keberadaan kami hyung?"

"Ah benarkah? Aku tidak." aku Baekhyun.

"Ah tak apa. Intinya kan kita bertemu disini." Jisung refleks mengacak rambut Baekhyun yang memang sedari tadi menarik perhatiannya. Bagaimana tidak? Angin terus saja menerpa rambut pria itu dan membuat rambutnya bergerak kesana kemari. Jisung yang gemas refleks saja mengacaknya.

Dan tiba-tiba saja sebuah tangan menepis tangan Jisung dengan kasar. "Kau lupa umur hah?"

Itu Chanyeol. Ia memperhatikan sedari tadi bagaimana adiknya itu memperlakukan Baekhyun dan apa yang baru saja di lakukan benar-benar kurang ajar di mata Chanyeol.

"Ah, sakit hyung!" ringis Jisung.

Chanyeol tak peduli dan membawa pandangannya pada Baekhyun. "Selamat malam, pacar!" sapanya dengan senyum yang menurut Baekhyun sangat terlihat idiot dimatanya. Namun tak di pungkiri pula itu sedikit, tampan.

"Ah aku lelah sekali." seakan tak peduli Baekhyun meregangkan badannya secara sengaja, "Jisung-ah, hyung pulang dulu ya?" pamitnya pada Jisung yang hanya mengangguk. Berbeda dengan Chanyeol yang menganga melihat Baekhyun telah berjalan meninggalkannya.

Chanyeol menyusul Baekhyun dan melihat itu Jisung menyusul Chanyeol. Jujur saja mereka terlihat seperti saling membuntuti satu sama lain.

"Baekhyun-ah." panggil Chanyeol saat mereka melintasi lobi. "Ya, Byun Baekhyun." ulangnya namun Baekhyun tetap tidak menggubrisnya.

Chanyeol itu bukan orang yang sabar, maka dari itu ia berlari menyusul Baekhyun. "Kau tidak mendengarku ya?"

"Ah, Chanyeol! Kau disini juga?" seakan tak terjadi apa-apa Baekhyun menyapa Chanyeol seakan ia baru saja melihat pria itu.

Heol, Chanyeol baru tau sikap Baekhyun yang ini.

"Menurutmu?" balasnya kesal.

Mereka berdiri didepan lift dengan Jisung yang sedari tadi memang tak berniat ikut campur urusan kedua hyung didepannya.

Lift terbuka dan ketiganya masuk secara bersamaan. Baekhyun menekan angka di mana rumahnya berada dan tak lama lift yang membawa mereka tiba di tujuan.

Baekhyun berjalan terlebih dahulu, dengan Jisung di belakang Chanyeol dan Chanyeol di belakang Baekhyun.

Saat Baekhyun melewati apartemen Chanyeol, Chanyeol otomatis berhenti dan memilih masuk, itu sebelum ia lihat Jisung yang lanjut mengikuti Baekhyun.

"Oi, Park Jisung, kau tidak lupa apartemenku kan?" seruan Chanyeol terhadap Jisung taunya membuat Baekhyun ikut menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik dan langsung mendapati keberadaan Jisung didepannya.

"Kau mengikutiku?" Tanya Baekhyun pada Jisung. Anak itu mengangguk saja.

"Aku ingin menginap ditempatmu. Bolehkan hyung?"

"Eh?" Baekhyun bingung, "Menginap ditempatku? Bukankah besok kau harus kesekolah?"

Jisung menggeleng, "Besok aku akan ke agensi untuk mengambil jadwal trainingku."

"Wah, kau seorang trainee?" tanya Baekhyun tak percaya.

Tampak Jisung mengangguk antusias, "Tentu saja. Aku hebat kan?" ucapnya membanggakan diri.

Chanyeol yang memperhatikan itu segera menyusul keduanya dan dengan cepat menahan tangan adiknya itu. "Ayo pulang."

Jisung berusaha menghempas tangan Chanyeol namun cengkraman pria itu benar-benar kuat. "Tidak mau! Baekhyun hyung tolong aku."

"Eh?" Baekhyun terkejut. Bingung harus bersikap bagaimana sedangkan Chanyeol tampak marah pada adiknya. "Chanyeol-ssi, aku tak apa jika Jisung menginap di tempatku." pelan sekali suara ia keluarkan. Baekhyun sendiri tak yakin apa Chanyeol mendengarnya.

"Tidak. Anak itu akan mengganggumu semalaman. Jisung suka begadang hanya untuk bermain game dan ia sangat berisik." jelas Chanyeol sedikit ketus. Dan entah mengapa Baekhyun tak senang dengan nada bicara pria itu.

"Tak apa. Lagipula kamarku kedap suara."

"Hyung dengarkan? Baekhyun hyung saja tidak masalah." Jisung kembali berusaha menghempas tangan Chanyeol.

"Tidak. Ayo pulang."

Chanyeol tampak menyeret Jisung dan Jisung kini memanggil nama Baekhyun, meminta untuk di selamatkan.

"Hyung, aku ingin tidur bersama Baekhyun hyung." rengek Jisung dan Baekhyun yang sedikit kasian dengan anak itu dengan cepat berjalan menyusul keduanya dan meraih tangan Chanyeol. Baekhyun benar menggenggam telapak tangan Chanyeol yang bebas dengan erat.

Chanyeol taunya berbalik menatap Baekhyun, lalu kembali menatap tangannya yang sedang di genggam si cantik itu.

"Tak apa. Biarkan Jisung bersamaku." ucapnya meyakinkan Chanyeol.

Chanyeol tampak bingung. Pasalnya tangan Baekhyun yang sedikit dingin itu membuatnya sedikit lupa diri. Benar tangan itu sangat nyaman ia rasa dan itu sedikit membuatnya luluh.

Pria tinggi itu melepaskan tangannya dari lengan Jisung membuat adiknya itu dengan cepat mengusap lengannya yang terasa nyeri.

"Jangan membuat Baekhyun terganggu, paham?"

Jisung mengangguk antusias. Tentu saja. Ia telah memikirkan betapa nyamannya tidur bersama Baekhyun nanti.

*

Baekhyun baru saja membersihkan diri dan berlalu menuju ruang tengah, mendapati Jisung yang sedang asik dengan game di ponselnya. Setelah perdebatan kecil antara kakak beradik itu, akhirnya Baekhyun bisa menyeret Jisung untuk menginap di apartemennya. Dengan ancaman dari Chanyeol untuk tidak mengganggu Baekhyun.

"Jisung-ah, bersihkan dirimu. Aku sudah menyiapkan baju ganti. Ah, kamar mandi di dapur kerannya tidak bisa dihidupkan, jadi kau bisa mandi di kamarku saja."

Jisung mengangguk mengerti tanpa menjawab. Tubuhnya jujur saja memang terasa lengket, karena seharian berkeliling entah kemana bersama Chanyeol.

Baekhyun berjalan menuju dapur sedangkan Jisung sudah pasti telah berada di kamar mandi. Pria itu membuka kulkas, meraih dua kotak susu stroberi, untuknya dan Jisung lalu beberapa cemilan lainnya dan membawanya ke ruang tengah, menghidupkan tv dan mencari beberapa siaran yang menarik.

15 menit terlewat dan susu milik Baekhyun telah kandas. Tinggal beberapa cemilan saja di atas meja yang dengan perlahan ia santap.

Fokusnya terus ke tv sementara suara pintu kamar terbuka menarik perhatiannya dan mendapati Jisung disana.

Anak itu menggunakan baju kaos Baekhyun yang memang memiliki ukuran besar, tak tau mengapa Baekhyun selalu membeli baju dengan ukuran berlebih. Dan juga celana piyama Baekhyun yang terlihat sedikit singkat karena Jisung memang memiliki tinggi yang berlebihan.

"Hyung, celananya pendek." eluhnya tapi ia tetap saja memakainya dan memilih duduk di samping Baekhyun.

Baekhyun hanya terkekeh saja, dan melanjutkan acara menontonnya. Ia meraih satu kotak susu yang memang ia tinggalkan untuk Jisung dan memberikannya pada anak itu.

"terima kasih." ucap Jisung, Baekhyun mengangguk.

Tidak ada yang bersuara lagi setelahnya. Baekhyun asik menonton sedangkan Jisung sibuk dengan pikirannya.

Sejak keluar dari kamar mandi Jisung tak henti-hentinya berpikir. Apa yang di lihatnya di kamar mandi memang benar membingungkannya. Maksudnya, ia tentu tau itu alat apa. Tapi, yang ia tanyakan, itu milik siapa?

Milik Baekhyun?

Atau milik seseorang lainnya?

Maksud Jisung disini, apa Baekhyun sudah punya pacar? Lalu Baekhyun menghamili pacarnya dan alat itu tertinggal dirumah Baekhyun? Jisung seketika merinding hanya karena memikirkannya.

Jisung meraih ponselnya, terpujilah otak pintarnya yang sempat-sempatnya mengambil gambar alat itu dan sekarang ia berniat mengirimkannya pada Chanyeol.

Ia membuka aplikasi chat dan mengetikkan sesuatu di ruang chatnya bersama kakaknya itu.

Jisung hanya mengirim foto dengan kalimat, 'Aku menemukan ini didalam kamar mandi Baekhyun hyung.' setelah mengirim gambar tersebut Jisung menyimpan kembali ponselnya di samping tubuh.

Pandangan Jisung tak lepas sedikitpun dari Baekhyun membuat pria itu sedikit merinding dan langsung menoleh dan mendapati Jisung menatapnya.

"Kenapa?" tanya Baekhyun. Jisung tersadar lalu menggeleng.

"Tidak ada. Hyung cantik sekali."

Baekhyun berdecih, "Anak kecil jaman sekarang. Aku ini hyungmu, tau?!"

"Aku kan hanya memujimu. Salah memangnya?" Jisung membela diri.

"Terserah kau saja." Baekhyun terlihat tak berminat meladeni Jisung dan lanjut menonton tv. Sesekali pria itu tertawa dengan apa yang di tampilkan alat persegi empat itu.

Tapi Jisung tetap saja lanjut memandang Baekhyun. Antara ragu ingin bertanya namun segan, jika tidak bertanya ia akan mati penasaran.

Lagipula Chanyeol belum membalas pesannya. Mungkin saja kakaknya tidur atau mengerjakan hal lain.

"Hyung," panggil Jisung takut-takut. Ia masih ragu tapi ia memantapkan diri untuk bertanya. Ini demi nyawanya, jika tidak ia akan mati penasaran.

"Eung?" Baekhyun menoleh dengan mulut penuh cemilan, "Kenapa?"

"Hyung.." ucap Jisung ragu, "Aku ingin bertanya, tapi kau janji tak akan marah?"

"Bertanya apa?" Tanya Baekhyun. "Dan kenapa aku harus marah? Tanya saja." ucap Baekhyun santai.

"Itu.."

"Hm? Apa?"

"Itu...kau..." Jisung menelan air ludahnya kasar. "Ahhh entahlah!" anak itu malah menghempaskan tubuhnya ke sofa. Baekhyun menyerngit bingung melihat tingkah Jisung.

"Jisung-ah, tanyakan saja." Baekhyun menarik tangan Jisung agar anak itu kembali duduk, "Tanyakan saja. Tak apa."

"Berjanji tidak akan marah kan?" tanya Jisung memastikan.

Baekhyun mengangguk, lagipula Jisung ingin bertanya perihal apa hingga dirinya akan marah?

"Aku menemukan 'itu' di kamar mandi." sejujurnya Jisung sudah berkeringat dingin bertanya akan hal ini. Tapi salahnya sendiri yang memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi. "Hyung...apa itu milikmu? Atau milik orang lain?"

Baekhyun terdiam. Ia meneguk ludahnya kasar. Tiba-tiba saja ia memaki dirinya sendiri betapa bodohnya ia dengan tidak menyingkirkan benda itu.

Tentu saja Jisung melihat benda itu, Baekhyun terlalu pintar dengan tidak membuang alat itu segera setelah menggunakannya.

Namun sekarang telah terjadi. Apa yang akan Baekhyun katakan pada Jisung?

Apa dia harus berkata jujur jika ini anak Chanyeol?

Atau mengelak dengan berkata bahwa alat itu milik kekasihnya?

Tapi bagaimana tanggapan anak itu nanti?

Baekhyun bingung, entah kenapa ia pusing hanya untuk memikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada Jisung.

Jisung hanya anak 17 tahun yang kebetulan ia kenal karena pertemuan mereka di rumah sakit. Itu saja. Dan entah bagaimana jadinya ia bisa berkenalan dengan kakak dari anak itu.

"Itu..." jawab Baekhyun gugup. Jisung juga tak kalah gugupnya menunggu jawaban Baekhyun. "Berjanji pada hyung untuk tidak mengatakannya pada siapapun." pinta Baekhyun pada Jisung.

Jisung bingung tentu saja, "Kenapa?" tanya Jisung. Setelahnya ia menganga tak percaya, "Itu milikmu hyung?"

Dengan ragu dan sedikit takut, Baekhyun mengangguk. "Kau telah berjanji tidak memberi tau siapapun." peringat Baekhyun.

"Hyung! Tapi...bagaimana dan siapa?" Jisung terlihat sangat terkejut. Baekhyun hyung-nya hamil dan tentu saja ia tidak bisa bersikap biasa saja. "Siapa yang melakukannya padamu hyung?"

"Aku tidak bisa memberitaumu Jisung-ah."

"Kau harus!" Jisung tampak kesal. "Aku janji tidak akan memberi tau siapapun."

"Tidak bisa, Jisung-ah. Aku...maksudku aku tidak bisa memberi taumu."

"Kenapa?" tanya Jisung pelan.

"Kau bisa saja tersakiti Jisung-ah."

"Kenapa? Apa aku mengenal orang itu?" seketika Jisung menutup mulutnya tak percaya, "Chanyeol hyung..."

Baekhyun terdiam tak bersuara. Ia tidak mengiyakan, tidak juga menolak tentang pemikiran Jisung.

Jisung mengusap rambutnya kasar, "Bagaimana bisa kau dan Chanyeol hyung?!" suaranya meninggi. "Ia memaksamu? Atau...hyungku memperkosamu?!" tanya Jisung memastikan.

"Tidak!" Baekhyun dengan cepat menepis pemikiran Jisung. "Chanyeol tidak seperti itu. Astaga, bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu tentangnya?"

"Dia sering melakukannya." jujur Jisung.

Membuat Baekhyun rasanya ingin mati saja. Chanyeol sering melakukannya.

Menghamili seseorang. Ini bukan pertama kalinya.

Baekhyun tertegun, kenapa?

Kenapa Chanyeol seperti itu? Bagaimana mungkin pemikirannya tentang Chanyeol yang merupakan pria baik-baik berbanding terbalik dengan apa yang baru di katakan Jisung, adik kandung Chanyeol sendiri?

"Hyung...Chanyeol hyung tidak seperti yang kau fikirkan." aku Jisung. "Kau bukan orang pertama yang mengandung anaknya. Demi Tuhan, jangan sampai Chanyeol hyung mengetahui ini!" erang Jisung frustasi.

Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jisung namun entah mengapa Ia terpikirkan nasib anaknya. Apa anaknya akan lahir tanpa seorang ayah? Baekhyun meringis membayangkannya.

Hei, ini kali pertama dirinya hamil dan tentu saja rasa bahagia itu ada. Dalam beberapa bulan ia akan melahirkan seorang manusia. Sebuah anugrah yang dititipkan Tuhan padanya untuk menemani hari-harinya yang kesepian.

Tapi, kehadiran anak tanpa seorang ayah? Bukankah itu terdengar menyedihkan?

"Jangan beritau Chanyeol hyung. Kumohon, aku tidak mau keponakanku tidak jadi lahir." Jisung memegang bahu Baekhyun erat. Menatap Baekhyun dalam.

Selain khawatir, Jisung jujur saja senang jika Baekhyun mengandung anak kakaknya. Hanya saja, sedikit kesal mengingat apa yang akan kakaknya lakukan jika salah satu mainannya kedapatan mengandung.

"Aku harus bagaimana? Jisung-ah, apa yang harus aku lakukan?" Baekhyun taunya telah menangis saja mendengar kalimat per kalimat yang Jisung keluarkan.

"Tenang saja, hyung. Aku akan mengatasinya. Kau hanya perlu merawatnya dengan baik, ya?" ucap Jisung tenang.

Baekhyun mengangguk saja, Jisung menarik hyungnya itu kepelukannya. Mengusap punggung Baekhyun pelan, menenangkan.

Sedangkan pikirannya kini melayang entah kemana, tentang apa yang akan ia katakan pada Chanyeol karena anak itu telah terlanjur mengirimkan foto alat itu pada kakaknya.

*

tolong jgn hujat aku ini semakin gajelasTㅅT