"Bisa kau jelaskan ini?"
Chanyeol melemparkan ponselnya sedang menampilkan ruang obrolan ke ranjang bersama seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Ia tidak peduli orang itu akan marah karena mengganggu privasinya, ia sungguh dibuat pusing.
Jisung yang sedang sibuk dengan kegiatan berbaringnya harus rela terganggu akan kehadiran kakaknya.
Seminggu yang lalu, atau tepatnya saat Jisung mengirimkan foto itu, Chanyeol pagi nya kembali memiliki perjalanan bisnis terkait agensi ayahnya yang mengadakan audisi di beberapa negara. Ia tidak langsung turun menangani hal itu namun setidaknya dirinya harus hadir untuk mengawasi itu.
Dan hari ini ia kembali, dan langsung membawa dirinya menuju rumah orang tuanya, rumah dimana Jisung tinggal.
"Hyung, bagaimana pekerjaanmu?" Jisung bertanya basa basi dan taunya itu tidak membuat Chanyeol terpengaruh.
"Kau tidak pernah bertanya perihal pekerjaanku." jawabnya sarkastik. "Jelaskan itu dan jangan berbohong barang satu katapun." suaranya terdengar mengancam.
Chanyeol itu seperti memiliki alat pendeteksi kebohongan dalam dirinya, dan itu membuat ia dengan mudah tau bahwa seseorang itu sedang berbohong atau tidak.
Seperti halnya Jisung, adiknya itu akan menggaruk kepalanya pelan jika sedang berusaha berbohong. Chanyeol tau itu karena ia dari kecil memperhatikan gerak gerik adiknya.
"Ah, itu." Jisung yang tau jika kakaknya bisa tau ketika ia berbohong, hampir saja mengutuk diri saat tangannya hendak menggaruk kepala dan beruntungnya ia dengan cepat menarik tangannya kembali. "Itu ternyata milik sahabatnya, Luhan hyung. Benda itu tertinggal disana." jelasnya seyakin mungkin agar Chanyeol tidak kembali bertanya.
"Benarkah?" tanya Chanyeol memastikan, menatap adiknya sinis.
"Kau tak percaya padaku?"
"Sejak kapan aku mempercayaimu."
"Hyung!" rengekan Jisung suarakan. "Ini masalah serius, aku tidak akan membohongimu." ㅡ maafkan aku hyung. Aku tidak bisa membiarkan kau menyakiti Baekhyun hyung karena aku sayang padanya.
Chanyeol menghela napas lelah dan ikut serta membaringkan diri di ranjang adiknya itu.
Pikirannya mulai tidak fokus sesaat setelah ia menerima foto yang di kirimkan Jisung padanya itu.
Bermacam kemungkinan bermunculan di kepalanya.
Bagaimana jika itu memang milik Baekhyun?
Bagaimana jika itu memang anaknya? Bagaimana jika ia memang mengandung anaknya?
Ia akui dirinya memang telah sering melakukan apa yang ia lakukan pada Baekhyun bersama wanita bahkan pria lain dan menyebabkan mereka hamil. Tapi setelah ia mengetahui itu, ia langsung bertindak cepat untuk melenyapkan semuanya.
Chanyeol tidak gila dengan membiarkan jalang mengandung anaknya. Ia tidak ingin mengecewakan ayahnya walaupun yang ia lakukan memang sebuah hal yang mengecewakan.
Tapi, ini Baekhyun. Baekhyun bukan jalang. Bukan sama sekali.
Baekhyun berpendidikan. Dia pintar, cantik, berwibawa dan terhormat. Ia tidak mungkin dan bersumpah tidak berniat melenyapkan Baekhyun dan anaknya jika memang Baekhyun sedang mengandung.
"Jisung-ah," ia memanggil Jisung yang sudah kembali fokus pada ponselnya dan adiknya itu hanya menjawab dengan dehaman.
"Apa menurutmu Baekhyun cantik?" tanya Chanyeol dan sebelum Jisung menjawab, ia kembali bersuara, "Itu pasti. Dia memang cantik sekali."
Chanyeol memperbaiki posisinya menjadi duduk menghadap Jisung. Ia berniat ingin mengakui semuanya pada Jisung tentang apa yang telah ia lakukan dengan Baekhyun.
"Jisung-ah." panggilnya lagi. "Aku ingin mengatakan sebuah rahasia," ucapnya lalu menatap adiknya itu serius. "Kau harus berjanji dahulu untuk tidak memberitahu ayah, apalagi ibu. Jika ibu tau, dia akan membunuhku." jelasnya.
Jisung menegang di tempat. Ia sudah tau apa yang akan dikatakan oleh hyungnya itu. Ini mengenai Baekhyun.
"Ini mengenai Baekhyun."
Dan dugaannya pun benar. Jisung memasang wajah polosnya dan berniat mendengarkan keluh kesah hyungnya itu walaupun ia sendiri sudah mengetahuinya.
"Baekhyun hyung? Apa yang terjadi?" tanya Jisung setenang mungkin, tak ingin membuat hyungnya curiga.
"Kau tau kan, aku adalah seorang pria dewasa. Dan kau tau hormon pria dewasa dan anak laki-laki seusiamu berbeda." Chanyeol berusaha menjelaskan sedetail mungkin, tidak langsung pada intinya. Ia takut Jisung tidak mengerti maka dari itu ia berniat menjelaskannya. "Kau tau, seorang pria sepertiku tentu membutuhkan apa yang namanya kebutuhan jasmani. Maksudku," Prianitu memberi jeda dan taunya itu membuat Jisung jengah.
Lelaki 17 tahun itu tentu tidak bodoh akan apa yang sedang berusaha Chanyeol jelaskan.
"Hyung, langsung intinya saja. Aku mengerti apa yang kau jelaskan tadi." ucapnya, ia jadi tak sabaran mendengar kejujuran dari mulut Chanyeol.
"Oke rileks, kau terlalu bersemangat." Chanyeol menarik napas dalam, mempersiapkan diri sebelum sebuah kalimat jujur ia layangkan pada Jisung. "Aku melakukan seks bersama Baekhyun."
Jisung menganga ditempat. Seakan apa yang Chanyeol katakan tidak masuk akal sama sekali. Tentu itu hanya sandiwaranya. Ia sudah tau hal ini lebih dulu sebelum Chanyeol menjelaskan.
"Kau?! Hyung bagaimana bisa kau melakukannya pada Baekhyun hyung?!" ucapnya dramatis. "Kau tidak memperkosanya kan?! Atau kau memaksanya?! Astaga apa yang terjadi!" Jisung berubah menjadi berlebihan dan itu membuat Chanyeol bergerak untuk menenangkan adiknya itu.
"Yaaa tenanglah! Kau bereaksi seakan aku baru saja membunuh seseorang," ucapnya kesal.
"Hyung yang kau lakukan pada Baekhyun hyung itu namanya pemerkosaan! Kriminalitas! Aku akan melaporkanmu!" ancamnya dan itu membuat Chanyeol menegang.
"Tidak! Astaga aku tidak memperkosanya!" Chanyeol berusaha menjelaskan, "Kami melakukannya dalam keadaan sadar, dan Baekhyun menerima semua perlakuanku." jelasnya. "Kau bisa bertanya padanya."
Jisung diam menatap hyungnya itu. Ia tau Chanyeol tidak mungkin berbohong dan ia bingung bagaimana harus bereaksi.
"Maka dari itu aku bertanya maksudmu mengirim foto itu padaku." lanjutnya. "Aku berfikir bahwa itu milik Baekhyun."
Jisung lagi-lagi menegang di tempat. San lagi tidak tau bereaksi apa. Ia tidak mungkin berkata bahwa itu memang milik Baekhyun. Hyungnya bisa saja melenyapkan Baekhyun hyung-nya dan Jisung tidak mau itu terjadi.
"A-aku t-tidak tau." jawab Jisung gugup. Bahkan ia berkeringat sekarang. "B-baekhyun hyung b-berkata jika i-itu milik t-temannya."
Chanyeol dalam hati curiga. Adiknya berubah menjadi gugup seolah takut ia menanyakan sesuatu yang mungkin saja Jisung tau jawabannya.
"Jisung-ah, kau tau kan, kau tidak bisa berbohong padaku." ucapannya terdengar serius. "Ada yang kau sembunyikan dariku?"
"T-tidak!" sahutnya cepat bahkan Chanyeol belum sempat mengambil napas selanjutnya.
"Tidak? Kau yakin?"
"A-aku tidak berbohong." jawab Jisung masih sama.
"Apa yang kau bicarakan dengan Baekhyun malam itu?"
"Huh?" Jisung mengerjapkan matanya. Bingung mengapa Chanyeol bertanya demikian.
"Apa yang kau bicarakan padanya?" ulang Chanyeol menatap adiknya serius.
"Tidak ada. Kami hanya mengobrol biasa. Ia banyak bertanya tentang sekolah dan kegiatan trainingku." ia berbohong. Dan Chanyeol tau itu. Adiknya menyembunyikan sesuatu.
Pria itu berdiri. Menatap adiknya dengan senyuman penuh arti yang membuat Jisung meneguk ludahnya.
"Baiklah. Aku akan pergi menemui Baekhyun." ucapnya lalu berbalik. Namun sebelum tangannya menggapai knop pintu, Jisung berseru padanya.
"J-jangan!"
Chanyeol berbalik menatap Jisung, meminta penjelasan.
"B-baekhyun hyung mungkin saja sedang istirahat dan kau tidak bisa mengganggunya. Dia bisa saja sangat lelah."
"Darimana kau tau semua itu?" Chanyeol bertanya menjebak. "Ia bahkan tidak tidur selama seminggu hanya karena menjalankan tugasnya di rumah sakit." pria itu tersenyum miring, "Jisung-ah, apa kau mulai berbohong pada hyungmu? Ayolah! Bukankah kita bersahabat?"
Tanpa mendengarkan jawaban Jisung, Chanyeol melanjutkan langkahnya meninggalkan anak itu. Menuju apartemennya -lebih tepatnya apartemen Baekhyun.
ㅡ
Kehamilannya memasuki bulan pertama, dan itu semua tidak mudah bagi Baekhyun.
Morning sickness dan masa mengidamnya semakin menjadi-jadi.
Setiap pagi ia harus rela berakhir di depan toilet selama setengah jam sebelum memutuskan untuk berangkat kerja dengan tubuh lemas karena melewatkan sarapan pagi, karena tubuhnya tidak bisa menerima makanan apapun.
Untuk morning sickness ia masih bisa mengatasinya sendiri, tentu saja ia harus bisa. Baekhyun tinggal sendiri di apartemennya, tanpa seorangpun yang menemani. Dan mau tidak mau pria itu harus bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Dan disaat mengidam, ia merasa beruntung memiliki sahabat yang setia untuk memenuhi segala kebutuhan anehnya pada tengah malam, ya, Baekhyun mengalami fase mengidam hanya saat tengah malam dan itu benar-benar merepotkan sehingga ia berfikir bahwa ia akan merepotkan sahabatnya untuk beberapa waktu kedepan.
Dan lagi, ya, sahabatnya sudah mengetahui kabar kehamilannya. Jangan tanyakan bagaimana reaksi mereka, tentu mereka bertiga langsung menyerang Baekhyun dengan 1001 pertanyaan.
Baekhyun berkata bahwa ia baik-baik saja dengan kehamilannya dan mereka bertanya tentang siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.
Tentu ia tidak memberitau sahabatnya. Ia masih belum siap akan apa yang akan sahabatnya lakukan jika mereka tau bahwa itu adalah CEO dari agensi terbesar di negara mereka.
Apalagi Sehun, Baekhyun sangat mengawasi anak itu jika saja Sehun tau siapa ayah dari bayi yang dk kandungnya. Baekhyun tidak mau mengambil resiko Sehun menghajar Chanyeol habis-habisan. Ia tidak mau Sehun berurusan dengan Chanyeol.
Ya, setelah apa yang di jelaskan Jisung tentang Chanyeol minggu lalu, ia menjadi menutup diri dari dunia luar. Maksudnya, ayolah, seluruh dunia tau siapa Park Chanyeol dan ia tidak mau mengambil resiko salah satu mata-mata milik pria itu mengetahui kehamilannya.
Baekhyun bangun lebih awal hari ini, padahal ini adalah hari libur, dimana ia seharusnya bermalas malasan.
Namun sekarang, ia merasa semangat. Baekhyun berniat untuk membersihkan apartemennya hari ini, mulai dari kamar mandi hingga pintu keluar sekalipun, ia ingin membersihkannya. Entahlah, dirinya merasa itu akan berguna suatu saat.
Ia telah siap dengan segala alat yang ia butuhkan. Baekhyun juga sudah meminum susu hamilnya ㅡyang Kyungsoo belikan 3 hari yang laluㅡ dan sarapan. Kini dirinya telah menggunakan celana pendek dan baju kaos yang sangat buluk ㅡia sengajaㅡ dan siap untuk bergerak.
Baekhyun memilih membersihkan kamar mandinya lebih dulu, menyikat lantainya dan membersihkan apapun yang bisa ia bersihkan disana. Alat mandinya ia rapikan begitu pula dengan handuk yang hanya terletak di wastafel, ia meraih benda itu dan menggantungnya di tempat yang semestinya.
Tubuhnya berkeringat dan itu baik. Ia bersenandung kecil, sesekali berbicara sendiri ㅡlebih tepatnya pada bayinyaㅡ yang membuatnya senang.
Seperti saat ini, ia menyapu dapurnya dengan mengoceh panjang, seakan sedang menasehati seorang anak kecil.
"Nanti jika Taehyungie sudah lahir, Taehyungie harus menjadi anak baik. Setelah besar, papa akan mengajak Taehyungie mengunjungi nenek dan kakek. Dan juga, papa akan mendaftarkanmu kesekolah. Kita tidur bersama, bermain bersama, dan juga mandi bersama. Semua akan kita lakukan bersama karena Taehyungie hanya punya papa. Ingat ya, hanya papa. Karena hanya papa yang akan bersama Taehyungie selamanya."
Ia mengoceh panjang, menyuarakan pikirannya tentang anaknya yang berjenis kelamin laki-laki ㅡpadahal ia belum bisa melihat apa jenis kelamin bayinyaㅡ yang ia beri nama itu. Ia menyuarakan seluruh isi pikirannya tentang kehidupan mereka nanti setelah bayi itu lahir.
Baekhyun menyeka keringatnya, sesekali ia mengambil minum dan beristirahat sekitar 5 menit sebelum akhirnya kembali melanjutkan tugasnya.
Kini ia beralih pada ruang tamu, ia merapikan bantal dan semua yang ada disana, namun ketika hendak melanjutkan, suara ketukan yang berasal dari pintu apartemennya menghentikan geraknya. Ia melirik pada jam yang ada di sisi dinding, jam 11 siang. Ia bertanya-tanya siapa orang yang bertamu pada jam segitu.
Ia berjalan menuju pintu tanpa memperhatikan penampilannya yang terlihat seperti pembantu, dan ketika pintu di buka, ia benar-benar tidak tau harus berkata apa. Bahkan rasanya bernapaspun ia tak sanggup.
Seseorang dihadapannya ini, seseorang yang telah meninggalkannya. Seseorang yang telah membiarkannya hidup dalam bayangan rasa bersalah. Seseorang yang diam diam ia rindukan.
Baekhyun meneguk ludahnya, ia gugup. Canggung melingkupi dirinya. Tidak tau harus berbuat apa sedangkan pria di hadapannya menatapnya dengan tatapan rindu yang tak bisa ia tampung.
"Baekhyun."
Baekhyun menegang saat mendengar suaranya. Ini bukan pertama kalinya ia bertemu pria ini setelah sekian lama, namun lihat lah reaksinya sekarang. ia seperti orang bodoh.
"Baekhyun." ulang pria itu dan Baekhyun tersadar ada yang salah akan suara pria itu.
Suaranya terdengar menyakitkan. Seperti seseorang yang putus asa, atau kehilangan harapan. Ia bisa merasakan semua itu hanya dengan mendengarkan suara pria itu.
"Soojung..." pria itu kembali bersuara. "A-aku t-tidak bisa menyelamatkannya...a-aku tidak bisa menahannya." isak tangis akhirnya pria itu suarakan. "Soojung pergi meninggalkanku, Baekhyun. Dia lebih memilih meninggalkanku. Dia pergi. Dia pergi tanpa berbicara denganku."
Jongin menangis terisak. Tampilannya sangat kacau. Setelan jas hitamnya tampak sangat cocok ditubuhnya namun bukan itu yang Baekhyun perhatikan. Bekas air mata di beberapa sisi jas tersebut. Ia tidak yakin namun Jongin pasti telah menangis terlalu lama.
Baekhyun tak tau apa yang harus ia lakukan, ia membawa Jongin ke pelukannya, dan pria itu dengan segera memeluk Baekhyun dengan erat. Erat sekali sehingga Baekhyun bisa merasakan napas Jongin di ceruk lehernya. Mereka berpelukan tepat di pintu apartemen Baekhyun.
Tanpa tau jika seseorang baru saja melihat hal itu berbalik, dengan perasaan yang ia tidak tau apa itu.
ㅡ
Setelah menenangkan Jongin, Baekhyun bergegas meninggalkan pria itu untuk berganti baju dengan setelan hitam.
Soojung tidak selamat. Wanita itu meninggal dunia. Tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya.
Ia sedih tentu saja. Soojung temannya. Sedaei tadi ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak boleh menangis karena ia harus menguatkan Jongin.
Jongin duduk di ruang tamu, dan Baekhyun menghampirinya dengan kunci mobil di tangan.
Ia meraih tangan Jongin untuk berdiri dan menggenggamnya. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan untuk menenangkan pria itu.
Bohong jika ia bilang tidak ingin bertanya pada pria itu. Seribu pertanyaan kini Baekhyun suarakan di dalam hatinya. Namun ia tau waktunya sangat tidak tepat. Jongin sedang berkabung dan ia masih memiliki otak untuk tidak membuat keadaan semakin memburuk.
Baekhyun tidak tau darimana pria itu mendapatkan alamatnya, dan juga kenapa pria itu menghampiri dirinya disaat seharusnya ia mengurus acara pemakaman istrinya.
Ia akan menanyakan hal itu nanti. Dan sekarang dirinya duduk di kursi kemudi, mengendarai mobilnya dengan Jongin disampingnya yang hanya diam, menuju rumah sakit.
Setibanya disana, banyaknya wartawan membuatnya bingung. Apa ada orang penting yang masuk rumah sakit sehingga wartawan berdesakan di depan lobi?
Jongin melihat wajah bingung Baekhyun, "Mereka menungguku untuk memberikan klarifikasi," jelasnya. "Aku tidak mungkin melakukannya sekarang karena istriku yang masih tertidur didalam harus segera di makamkan."
Baekhyun mengangguk tanda mengerti namun dalam hati bertanya-tanya, siapa Soojung sebenarnya dan mengapa wartawan butuh klarifikasi dari Jongin.
Dan sekali lagi, Jongin menjawab pertanyaan dalam hatinya, "Soojung dulu seorang model sebelum ia menikah denganku. Dan kematiannya secara tiba-tiba tentu saja membuat beberapa pihak terkejut dan membutuhkan kebenaran."
Jongin menarik tangan Baekhyun menuju lift dimana kamar pemakaman berada.
Disana berdiri Sehun dan Luhan, juga Kyungsoo. Dan juga dokter Jungwoo, selaku dokter yang menangani Soojung. Terlihat ibu Jongin beserta ayahnya disana, dengan seorang anak di berdiri di antara mereka, tersenyum sangat tenang sambil menatap ke arah Soojung yang sedang di urus oleh beberapa orang.
Jongin membawanya berdiri tepat di depan jendela kaca, menghadap ke arah Soojung secara langsung. Dan Baekhyun tidak bisa untuk tidak menangis.
"Dia sangat cantik." pujian itu Jongin suarakan, namun air matanya kembali mengalir. "Aku sangat mencintainya, aku bersumpah." pria itu menyeka air matanya. "Tapi ia memilih meninggalkanku, ia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya." lanjutnya dan membawa tatapannya pada Baekhyun. "Soojung meninggalkanku, Baek. Ia meninggalkanku dan anak kami."
Baekhyun mengelus lengan kanan Jongin, berusaha menenangkan. Sementara para sahabatnya yang memperhatikan itu tampak seperti akan menangis. Mereka semua tidak menyangka jika wanita itu pergi lebih cepat dari yang seharusnya.
Sepasang kaki mungil berdiri di antara Baekhyun dan Jongin, itu adalah Taeoh. Anak Jongin bersama Soojung. Anak itu terlihat tidak menangis, namun tidak mengeluarkan suara apapun. Anak itu hanya menatap ayahnya lalu tangan mungilnya meraih tangan Jongin untuk di genggam.
"Ayah, its okay. Mommy is happy now. She's happy." ucapnya pada Jongin.
Dan Jongin tidak bisa untuk tidak menangis. Pria itu berlutut dan membawa Taeoh ke pelukannya. Dan anak itu yang melihat ayahnya menangis, akhirnya itu terbawa suasana. Suara isakan yang bersautan terdengar pilu. Membuat semua yang ada disana membuang muka dan menyeka air mata masing-masing.
"Ayah, its okay. You still have me." ucap anak itu ditengah tangisnya.
Baekhyun dan seluruh yang ada disana melihat kedua insan yang itu. Kedua insan yang kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Sumber kehidupan dan kebahagiaan mereka.
ㅡ
Baekhyun kembali ke apartemennya pada pukul 4 sore, dengan seorang anak yang menggenggam tangannya, mereka berjalan di lorong gedung apartemennya. Anak itu hanya diam dan menurut, genggamannya sangat kuat di tangan Baekhyun.
"Taeoh tidak perlu khawatir, paman bukan orang jahat." Baekhyun berusaha meyakinkan, karena dari tadi Taeoh hanya diam saja.
Setelah acara pemakaman selesai, Jongin menyerahkan Taeoh pada Baekhyun. Tidak, Tidak, pria itu bukan menelantarkan anaknya, melainkan menitipkan Taeoh pada Baekhyun karena besoknya ia akan mengadakan konferensi pers tentang kematian istrinya.
Ayah dan Ibunya, serta ibu mertuanya ikut andil dan ia tidak mau Taeoh menjadi terlantar, mengingat Soojung telah tiada, Jongin takut anak itu memiliki perubahan pada mentalnya, karena sejak tau ibunya telah tertidur untuk selamanya, anak itu lebih banyak diam dan sesekali menenangkan Jongin.
Baekhyun menekan beberapa tombol untuk memasukan kata sandi apartemennya lalu keduanya masuk dan menuju sofa. Baekhyun meletakan tas berbentuk lebah milik Taeoh yang memang ia sandang di bahu kanannya di meja dan membawa Taeoh untuk duduk di sofa.
Pria itu berlutut di lantai, menyamakan tingginya dengan Taeoh yang duduk.
"Taeoh, tidak apa jika kau menangis. Jangan menahannya." Baekhyun meraih tangan anak berusia 6, itu. "Jangan hanya diam saja, menangislah. Ibu pasti tidak senang melihatmu seperti ini."
Anak itu mendongak, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dan tanpa di duga, Taeoh merentangkan tangan dan meraih leher Baekhyun untuk ia peluk dan menangis disana.
Baekhyun menerimanya, ia bahkan membawa Taeoh kedalam dekapannya dan berdiri. Taeoh cukup berat dan itu tak membuatnya berhenti. Ia terus mengelus punggung anak itu sambil sesekali bergerak mengayunkan badan Taeoh pelan.
Ia sedih sekali. Sangat. Membayangkan apa yang akan terjadi dengan Taeoh kedepannya.
Ibunya telah tiada, dan ayahnya seorang pemimpin perusahaan. Bagaimana dengan kebutuhan anak itu? siapa yang akan merawatnya? Siapa yang akan memasakannya makanan? Siapa yang akan membantunya membuat PR? Siapa yang akan membimbingnya menjadi pribadi yang baik ketika ia beranjak dewasa?
Baekhyun tidak tau apa yang akan Jongin lakukan kedepannya, tapi ia berjanji akan membantu pria itu sebisanya.
Suara tangisan Taeoh mereda dan Baekhyun memilih untuk membawa anak itu ke kamarnya. Ia membaringkan Taeoh yang tampak lelah karena menangis dan mengambil posisi disampingnya. Ia berbaring dengan tangan kiri menyangga kepalanya dan menghadap Taeoh yang sedang menatapnya.
"Mau mendengar kabar bahagia?" tawar Baekhyun pada Taeoh. ia tau apa yang ia katakan merupakan rahasia terbesarnya, namun ia tidak peduli. Tujuannya sekarang hanya ingin menenangkan anak yang ada dihadapannya saat ini.
"Apa itu?" tanya Taeoh dengan alis berkerut, anak itu tampak tertarik.
"Kau yakin ingin mendengarnya?"
Taeoh mengangguk kecil, itu terlihat lucu. "Disini," Baekhyun membawa tangannya pada perutnya, "Disini ada adik bayi."
"Adik bayi?" anak itu tampak bingung. "Seperti saat aku berada di perut ibu?"
Baekhyun tidak tau Taeoh merupakan anak yang cerdas. Anak itu langsung mengerti akan maksudnya dan itu membuat Baekhyun bernapas lega karena dengan itu ia tidak perlu menjelaskan dengan panjang lebar.
"Ya benar!" Baekhyun tampak senang, "Dan ia akan tumbuh menjadi anak tampan sepertimu." ucapnya sambil memberi cubitan kecil pada hidung Taeoh.
"Sepertiku?" ulangnya. "Apa aku tampan, paman?"
Baekhyun mengangguk antusias, "Tentu saja! dirimu anak yang tampan dan kuat. Kau bisa melakukan semuanya, bahkan hal tersulit sekalipun." kalimatnya memiliki arti tertentu. Ia memberikan semangat pada anak itu, bahwa kehilangan seorang ibu bukan akhir dari segalanya. Perjalanan Taeoh masih panjang, dan itu tidak boleh di sia-siakan.
"Apa aku seperti itu?" tanya Taeoh.
"Itulah dirimu." jawab Baekhyun mantap. "Ibumu pasti bahagia disana melihat anaknya tumbuh menjadi laki-laki yang kuat." lanjutnya. "Taeoh harus bisa menjalani semuanya, aku akan membantumu. Aku berjanji." ucapnya lebih kepada diri sendiri.
Ia tidak mengerti mengapa berjanji hal itu pada anak kecil yang baru saja kehilangan seorang ibu, yang ia tau hanya ia tiba-tiba saja memiliki perasaan bahwa kedepannya ia akan selalu bersama anak itu.
"Sekarang bisakah kau memejamkan matamu untukku?" ucapnya lalu mengelus surai coklat itu dengan lembut, lalu membawa anak itu menuju pelukannya, dan tertidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Seolah mereka merupakan sepasang ibu dan anak.
ㅡ
Sorry for the very late update T.T
