Chapter 2

Maaf ya, ini tidak masuk cross over karena cast dari anime lain hanya sebagai cameo, jadi tidak mempengaruhi cerita cast utama…

Dozooo…

gomen, atas ketidaknyamanannya.. Heaven Peaceeeee

LIKE A FOOL

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

Rated: T+, Ecchi?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M kok. XD

=SATA ERIZAWA PRESENT=

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

Sakura memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang. Nafasnya tidak beraturan. Beberapa kali ia mencoba mengatur nafasnya. Ia bersandar pada tembok salah satu kelas X yang dekat dengan taman belakang sekolah KIHS. Ia juga tetap memantapkan pandangannya untuk mengawasi targetnya. Ia tidak akan mengalihkannya meski targetnya terlampau jauh darinya. Matanya sekelas mata elang. Sangat tajam dan focus.

Ya, Sakura sedang mengawasi target buruannya. Bukan, lebih tepatnya kliennya.

"Bagaimana?" Tanya seorang cowok berambut hitam penuh harapan. Yuuichirou nama cowok itu.

"Yuu-san…" Gumam seorang cewek yang jauh lebih kecil dari sang cowok. Shinoa sang ketua kelas XII-B

"Jawab saja, Shinoa!" Yuuichirou merasa tidak sabar.

"Haha, kau itu selalu tidak sabaran dan tergesah-gesah."

"Apa aku harus menuruti kata Sakura? Rencana B jika gagal? Rencana B itu sangat memalukan. Haruskah aku melakukannya? Menggunakan microphone radio sekolah untuk menyatakan perasaanku? Ayolah… Shinoa benar-benar membuatku ingin meremek mukanya dan membuangnya ke tong sampah.." Batin Yuuichirou.

"Yuu-san?" Panggil Shinoa.

"He? Henda Shinoa, kau tahu aku tidak bisa romantic. Itu aneh untukku. Sangat tidak cocok dengan imejku." Kata Yuuichirou.

"Setidaknya kau membawa bunga atau coklat mungkin. Jika kau mengira aku tidak ada manis-manisnya sebagai cewek, tapi aku kan juga ingin merasakan indahnya bunga-bunga cinta seperti cewek-cewek lain saat sedang jatuh cinta!"

"Hah, kau benar-benar merepotkan! Belajar darimana kau dengan kata-kata itu? Seperti bukan dirimu saja.." Kesal Yuuichirou.

"Belajar darimana saja.." Jawab Shinoa enteng. Ia tersenyum penuh arti.

Yuuichirou lantas tersenyum juga. Sekali lagi, apa yang Sakura katakan memang benar. Lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari bunga yang ada di taman belakang sekolah. Matanya menangkap sebuah bunga mawar merah yang hanya satu-satunya mekar di taman itu. Ia lantas memetiknya dan langsung berlutut di depan Shinoa.

"Ba-bagaimana?" Yuuichirou mulai bertanya lagi sambil memalingkan wajahnya karena merasa malu. Tangan kanannya yang memegang bunga mawar merah ia acungkan kepada Shinoa. Berharap Shinoa akan menerimanya.

Shinoa tertawa geli. Rupanya ia cukup berhasil mempermainkan cowok yang sudah ia kagumi cukup lama itu. Ya, sebenarnya Shinoa juga sudah menyukai Yuuichirou. Semakin mantap saat ia mendapat pencerahan dari Sakura. Yuuichirou tidak tahu saja jika sebenarnya Sakura juga lumayan dekat dengan Shinoa. Mereka sering berbincang saat Sakura menunggu Sasuke latihan Juudo. Mudah bagi Sakura untuk mendapatkan informasi dari Shinoa. Ya walaupun pada awalnya ia berupaya sembunyi-sembunyi, tapi pada akhirnya Shinoa mengetahui rencananya juga. Jadilah mereka bekerjasama untuk sekedar bermain dengan Yuuichirou.

"Sepertinya kau harus segera membayar Sakura setelah ini.. Segera bayarlah dia ya!" Kata Shinoa.

"Ma-maksudmu kau menerimaku?" Yuuichirou membulatkan matanya. Yuuichirou baru sadar jika Shinoa ternyata mengetahui jika dirinya meminta bantuan Sakura. Tak masalah, yang penting Shinoa menerimanya saja sudah lebih dari cukup. Ia sudah merasa bahagia akan hal itu.

"Tentu saja! Terima kasih sudah mengumpulkan keberanianmu untuk mengatakannya. Aku juga menyukaimu.." Shinoa menerima bunga mawar merah dari tangan Yuuichirou.

Yuuichirou tersenyum senang. Ia bangkit dari berlututnya. Mencoba mensejajarkan diri dengan Shinoa. Mendekap Shinoa dengan lembut. Shinoa tersenyum manis. Sementara itu Yuuichirou menatap Sakura yang menampakan diri dari persembunyiannya di balik tembok kelas X. Yuuichirou tersenyum pada Sakura. Sakura hanya membalas tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya pada Yuuichirou. Misi sukses! Segera bayar! Rasanya seperti itu arti senyuman dari bibir Sakura.

Meninggalkan pasangan yang sedang bahagia siang itu, Sakura lantas membuka buka note-nya, ia mengambil spidol hitamnya dari saku bajunya. Memberi tanda centang pada kolom Hyakuya Yuuichirou x Hiragi Shinoa. Itu selalu ia lakukan jika pekerjaannya sudah selesai dan sukses.

Sakura menutup kembali note-nya. Masih ada beberapa pasangan yang harus ia sukseskan hubungannya. Rata-rata dari kelas X. Itu bukan masalah untuknya. Toh ia tidak harus cepat-cepat melakukannya. Cinta itu butuh proses, tidak mungkin secara instan. Ia juga harus melakukan pengintaian untuk lebih mengenali bagaimana karakter target-targetnya.

"Hari ini cukup sampai disini dulu. Besok lanjut lagi… Aku lapar, Sasuke dimana ya? Dia pasti marah padaku karena aku meninggalkannya di kelas sendirian. Sasuke gomen.." Gumam Sakura yang langsung ke canteen dan memberi ice cream untuk diberikan kepada Sasuke untuk meminta maaf pada Sasuke.

Setelah membeli ice cream, Sakura berjalan agak cepat menuju kelasnya. Ia harus segera memberikan ice cream itu pada Sasuke fikirnya. Matanya berbinar saat melihat kelasnya berada di ujung matanya.

"Sa-Sasuke-kun..?" Tanya seorang wanita cantik berambut indigo sepunggang. Hinata Hyuga.

"Hm?" Kata Sasuke yang masih duduk di bangkunya. Ia lantas menutup komiknya.

"Bi-bisa me-mengajariku bagaimana menyelesaikan so-soal matematika ini?" Tanya Hinata.

Sakura menghentikan langkahnya saat mendengar suara Hinata. Sebelum terlihat oleh Sasuke dan Hinata, Sakura lantas menarik tubuhnya dan bersandar di tembok luar kelas itu, kelasnya, XII-A.

"Coba kulihat." Kata Sasuke.

"Ha-hai.. Dozo.." Hianata memperlihatkan soal matematika yang menurutnya sangat sulit itu pada Sasuke.

Di tembok luar kelas, Sakura tersenyum penuh arti. Ia mengintip sekilas dengan apa yang Sasuke dan Hinata lakukan. Sasuke menerangkan bagaimana caranya menyelesaikan soal matematika itu.

"Ho, Sakura? Kenapa tidak masuk?" Tanya seorang laki-laki yang memiliki name tag Sabaku no Gaara.

Sakura yang cukup kaget langsung menarik Gaara menjauh dari kelas itu. Menyeret paksa Gaara menjauh dari kelas itu.

"Sakura, kenapa kau mengajakku kembali ke luar kelas?" Tanya Gaara yang masih kebingungan dengan tingkah Sakura.

Sakura tersenyum tanpa dosa. "Gomen ne Gaara-kun, aku tidak mau di kelas sendirian saja denganmu. Sangat sepi. Dan itu menakutkan. Kau tahukan hantu-hantu sekolahan sering muncul saat sedang sendirian di dalam kelas? Seperti di film horror yang tadi malam aku tonton dengan Sasuke.." Bohong Sakura.

"Hah, kau mempercayai hal itu? Siang bolong seperti ini mana ada hantu Sakura!" Kata Gaara.

Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Benarkah? Kalau begitu aku salah.."

"Kau ini.. Kau sudah membuatku kelelahan naik turun tangga, Sakura! Itu sangat menguras tenaga!"

"Hai, hai, wakatta.. Ini, ice cream untukmu! Ini sebagai ganti rugi karena aku membuatmu kelelahan…" Sakura menyodorkan ice cream yang rencananya bakal ia berikan pada Sasuke.

"Ice cream? Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Sakura!"

Sakura menggeleng.. "Tidak, aku memang sudah membuatmu kelelahan. Aku bahkan mengajakmu berlari. Ayolah, kita jarang kan makan ice cream bersama seperti ini? Setidaknya temani aku kenapa? Kita ini teman sekelas, tapi jarang sekali mengobrol.."

"Dulu kita sering ngobrol, Sakura.. Kau lupa?"

"Hm? Benarkah?"

"Kita pernah seklub jurnalis di kelas X, tapi kau berhenti di kelas XI. Kita juga pernah pulang bersama usai kegiatan klub, walau akhirnya aku tak jadi mengantarmu pulang karena di jalan kita bertemu Sasuke yang menjemputmu.."

"Benar juga ya, tapi dulu kita tidak sekelas. Jadi kita memang jarang sekali ngobrol. Tapi sekarang kan kita sudah sekelas, semestinya akan sangat menyenangkan karena kita memiliki frekuensi waktu bertemu cukup banyak, ne Gaara-kun?"

Gaara hanya tersenyum. Mereka lantas duduk di bangku taman depan lab computer. Lab computer berada di bangunan belakang bangunan kelas XII-A.

Gaara dan Sakura menikmati ice cream yang Sakura beli. Mereka juga saling bercanda. Saling menceritakan cerita yang lucu. Berbagi kisah dan pengalaman. Hal itu membuat mereka terbawa suasana dan tertawa terbahak-bahak. Seakan melupakan jika mereka sedang berada di lingkungan sekolah. Sakura tertawa dengan lepasnya.

"Haha, benarkah? Kau tersandung batu dan kecebur ke sungai? Kau ceroboh sekalai, Gaara-kun.."

"Memang itu yang terjadi, aku menghindari kucing yang menyebrang jalan. Sepedaku oleng dan ban sepedaku menabrak batu, ya sudah, aku jatuh nyungslep ke sungai yang ada di pinggir jalan itu. Untung sungainya tidak dalam.."

"Hahhaha.. Kau ini…"

"Jangan menertawakanku Sakura!"

Tertawa keras Sakura dan Gaara terdengar sampai ke telinga Sasuke yang kebetulan sekali saat itu kelas XII-A sedang sangat sepi, hanya ada Sasuke dan Hinata. Sasuke melirik ke arah keluar lewat jendela yang ada di dekat bangkunya. Benar, ia melihat Sakura sedang tertawa riang bersama cowok berambut merah bata, Gaara.

Otaknya mulai mengumpulkan pertanyaan. Apa yang membuat Sakura bisa tertawa lepas seperti itu? Hanya karena dengan seorang Gaara? Apa yang dilakukan Gaara pada Sakura? Kenapa Sakura terlihat begitu senang?

"Sa-Sasuke-kun? Kau mendengarku?" Tanya Hinata.

"Hm? Ah, setelah ini kau bisa mensubtitusikan ke sini. Apa kau mengerti?"

"Hai, wakarimasu, Sasuke-kun. Arigato gozaimasu.."

"Hn."

"Yappari, Sasuke-kun memang sangat tampan. Dia juga sangat baik.." Batin Hinata sambil menatap Sasuke.

Merasa risih karena sedari tadi diperhatikan, Sasuke mencoba bertanya pada Hinata. "Masih ada lagi yang belum kau mengerti?" Tanya Sasuke.

Hinata bangun dari lamunannya. "Eh? Ano, tidak ada.."

"Oh, baiklah."

"Etto, Sasuke-kun.."

"Ya?"

"A-apa aku boleh bertanya lagi lain kali jika aku kembali menemukan soal yang sulit?"

"Hn, tentu.."

Hinata langsung tersenyum senang. "Arigato gozaimasu Sasuke-kun.." Hinata menundukkan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih pada Sasuke.

"Manis.." Gumam lirih Sasuke saat ia menyadari senyuman Hinata.

"Eh? Ad-ada apa Sasuke-kun? Kau berbicara sesuatu?"

"Ah, tidak." Huh, hampir saja, itu yang Sasuke fikirkan.

"Hm, baiklah, aku kembali ke bangkuku ya.."

Sasuke hanya mengangguk saja. Ia kembali ke arah jendela dimana ia bisa melihat Sakura dan Gaara yang sedang mengobrol.

Tidak ada!

"Kemana mereka pergi?" Batin Sasuke.

Kembali dengan Sakura dan Gaara yang sekarang berada di canteen sekolah. Mereka menikmati pesanan mereka. Dua mangkuk ramen dan 2 botol air mineral. Mereka duduk di dekat jendela canteen sekolah yang sangat ramai siang itu. Jam ke 5-6 setelah istirahat kosong. Semua guru sedang sibuk membahas rencana penetapan liburan di musim panas. Semua siswa KIHS bebas dengan kegiatannya sendiri-sendiri.

"Uh panas.." Kata Sakura saat menikmati kuah ramennya.

"Hati-hati.. Tiuplah dulu sebelum kau memasukkan ke mulutmu! Itu akan mengurangi rasa panasnya.." Saran Gaara.

"Iya, aku hanya tidak sabar saja menikmatinya. Sudah lama aku tidak makan ramen. Biasanya aku pasti akan makan dengan Naruto, tapi kali ini dia tidak masuk sekolah karena katanya sedang menjemput ibunya di bandara. Mentang-mentang putra tunggal kepala sekolah, paman Namikaze Minato, dia jadi seenaknya saja. Apaan bocah itu…" Sakura cemberut.

"Kalau sedang cemberut seperti itu kau terlihat lucu, Sakura. Pipimu menjadi bulat seperti telur ini.." Gaara menunjukkan telur rebus yang ada di dalam kuah ramennya.

"Enak saja menyamakan wajahku dengan telur ayam.."

"Bagaimana dengan bakpao?"

"Aku tidak mau!"

"Tahu bulat?"

"Tidak!"

"Ishh, dango!"

"Dango? Huh, sudah berhenti mencari kembaran pipiku! Aku tahu, pipiku ini cukup cubhi. Aku menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.." Sakura manyun.

"Sodesu ne… Tapi jujur saja, kau memang terlihat lucu ketika kesal dan itu membuatmu semakin cantik.."

"Hmm, baiklah-baiklah. Arigato. Tapi sekarang ini aku hanya memikirkan betapa laparnya perutku.."

"Wakatta, sore jaa, ittadakimasu.."

"Ittadakimasu.."

Mereka melanjutkan acara makan siang mereka. Suasana canteen yang cukup ramai mulai berkurang pengunjungnya. Menyisakan beberapa orang saja, termasuk Sakura dan Gaara yang rupanya sudah menyelesaikan acara makan siang mereka.

"Harusnya laki-laki yang mentraktir cewek, Sakura.." Kata Gaara karena makan siangnya dibayar oleh Sakura.

"Yaelah, memangnya kenapa jika yang membayar itu cewek? Toh yang penting membayar.."

"Bukan itu maksudku.. Aku hanya merasa tidak enak denganmu, ini juga terasa aneh.."

"Kamu saja yang merasa seperti itu! Aku biasa saja tuh. Lagian ya, aku akan mendapatkan bayaran banyak hari ini. Jadi tidak masalahkan aku mentraktirmu…"

"Ho, sepertinya kau sukses besar dengan para klien cintamu itu, heh?"

"Tentu saja, aku ini tidak pernah gagal!"

"Jadi, apa saja yang biasanya dilakukan oleh mak comblang seperti dirimu?"

"Oh, jadi kau tertarik untuk mendengarnya ne, Gaara-kun?" Gaara hanya mengangguk mantap saja. "Bukan mak comblang, aku ini dokter cinta! Aku kan bukan emak-emak! Aku ini masih tujuh belas tahun lebih. Master cinta seperti diriku ini pantasnya disebut dokter cinta bukan mak comblang!" Protes Sakura karena dipanggil mak comblang oleh Gaara.

"Yare-yare, baiklah Ai no Shizou, Dokter Cinta…"

Sakura menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. "Hmm, begini ya, tugas Dokter Cinta itu tak hanya menyembuhkan penyakit cinta, tapi juga membuat, menciptakan, merancang bagaimana cinta itu berkembang pada setiap pasiennya…"

"Ah, aku masih belum mengerti.."

"Misalnya, aku bisa membantumu mendekati cewek yang kau sukai. Kau tinggal tunjukkan saja wanita yang kau sukai itu siapa padaku. Nanti akau akan membantumu mendekatinya, membantumu mendapatkan nomor kontaknya, alamatnya, hobinya, kesukaannya, apapun tentangnya, syukur-syukur kalau bayarannya lebih, aku juga akan membantumu mendapatkan hatinya…" Sakura terlihat begitu bersemangat.

"Seperti stalker saja kerjaanmu itu dan lagi apa kau sedang berpromosi, Sakura?"

"Haha, aku hanya memanfaatkan kesempatan, Gaara-kun. Stalker ya? Iya juga, tapi memang kenyataannya seperti itu. Itu resiko yang harus aku lakukan untuk mendapatkan informasi si target cinta."

"Aku penasaran berapa banyak kau memiliki waktu luang untuk melakukan semua itu? Kau pasti sangat sibuk."

"Ya aku ini sangat sibuk sekali. Waktuku tersedia banyak untuk pekerjaan sampinganku itu. Pagi, siang, malam!"

"Dan kau pasti melupakan tugasmu sebagai seorang siswa, kan?"

"Haha, kenapa tidak sekalian kau mengataiku gara-gara perkerjaan sampinganku maka nilaiku do re mi fa sol?"

"Aku tidak mengatakannya, Sakura! Tapi bagaimanapun kau itu masih seorang siswa dan sekarang sudah kelas XII! Kau harus mulai focus dengan nilai-nilaimu!"

"Aku akan vakum setelah memasuki semester dua nanti. Masih rencana sih. Aku juga tidak mau melupakan masa depanku. Begini-begini, aku juga memiliki cita-cita yang harus aku capai!"

"Hm, kalau begitu rajinlah belajar agar nilaimu membaik dan cita-citamu tercapai!"

"Hai, Tuan Pintar!" Sakura membuat pose hormat pada Gaara. Ia tersenyum manis pada Gaara. Gaara menyukai senyuman itu. Senyuman yang membuat hatinya terasa nyaman.

"Anak pintar!"

"Gaara-kun, kau cowok yang baik dan juga pintar, cukup terkenal di sekolah, pasti banyak cewek yang menyukaimu. Tapi kau tidak pernah terlihat dekat dengan seorang cewek di sekolah ini… Nde, siapa cewek yang kau sukai? Apa aku mengenalnya?"

"Jadi kau berencana mengendusku?"

"Ya begitulah. Ayo katakan! Siapa cewek itu, Gaara-kun? Bohong banget jika kau tidak memiliki cewek yang kau sukai.."

"Hmm.."

"…"

"Siapa?"

"Jika aku mengatakannya, apa kau serius akan membantuku?"

"Hn, tentu saja! Ayo katakan! Dia siapa?"

"Katty Perry!"

"HEEEE, nani sore wa? Katty Perry, mana mungkin itu bisa kulakukan, Gaara-kun!"

"Tadi kau bilang siapa saja.."

"Iya, tapi yang kiranya itu mungkin digapai, Sabaku-san!"

"Gomen, gomen, Haruno-san.."

"Nde, Dare desuka?"

"Kau masih penasaran?"

"Tentu saja. Kau itu baunya beda, aku sulit mengendusmu. Kau hampir tidak pernah terlibat gosip."

"Hm, souka?"

"Hai. Hee, cepat katakan!"

"Hmm.."

"Dare?"

"..."

"Gaara-kun?"

"Omae!"

Sakura justru tertawa lebar saat mendengar jawaban dari Gaara. Ayolah, dirinya? Dirinya yang Gaara suakai? Mana mungkin, kan? "Ya ampun, bercanda lagi.. Katakan yang benar!"

Sakura menatap mata Gaara dengan serius berharap segera mendapatkan jawaban kejujuran dari Gaara. Sementara Gaara terlihat sedang berfikir..

"SAKURA!" Dari pintu canteen sekolah Ino memanggil Sakura dengan cukup keras membuat Sakura dan Gaara menoleh secara bersamaan.

"Ino?" Gumam Sakura. Ino menghampiri meja duduk Sakura dan Gaara. "Ada apa? Kau terlihat terburu-buru.."

"Hah, hah, hah, sebaiknya kau segera menemui Sasuke-kun dan belilah ice cream! Dia kesal karena kau meninggalkannya begitu lama dan beruntungnya, aku yang jadi sasaran kekesalannya!" Ino menceritakan dengan kesalnya.

"Haaiisssh, ayam itu kekanak-kanakan sekali. Baiklah aku akan segera menemuinya… Ayo, Ino!.."

"Ayo…" Kata Ino.

"Cotto matte kudasai Ino… Gaara-kun, gomen ne aku harus pergi. Lain kali kita lanjutkan perbicangan kita. Jaa, matta ne.." Pamit Sakura yang langsung membeli ice cream dan berjalan cepat menemui Sasuke.

"Perbincangan apa, Jidat?" Bisik Ino.

"Mau tahu saja kau, Pig. Ra-ha-si-a.." Bisik Sakura. Ino mengerucutkan bibirnya, ia kesal. Kenapa temannya yang satu ini suka sekali main rahasia dengannya?

Gaara tersenyum melihat Sakura yang terburu-buru. "Aku ini sedang tidak bercanda, Sakura.." Gumamnya miris.

..

Di kelas….

"Lihat tatapannya Sasuke! Dia terlihat sangat kesal, kan? Karena daripada aku akan bosan melihat acara opera pertengkaran kalian yang lebay itu, lebih baik aku menemui Sai-kun di perpustakaan. Jaa…" Kata Ino yang langsung pergi meninggalkan Sakura.

"Ino tidak membantu sama sekali. Haah." Gumam Sakura. "Sasuke-kun.." Panggil Sakura dari depan pintu kelas.

Sasuke tak menghiraukan panggilan Sakura. Ia justru mengalihkan pandangannya dari Sakura. Sakura menghembuskan nafasnya. Ia harus sabar menangani Sasuke yang jika kesal itu menurutnya sangat merepotkan. Dasar anak bungsu!

Sakura mendekati tempat duduk Sasuke. Mencoba duduk di sebelah Sasuke. Ia kembali menyapa Sasuke dengan panggilan yang lembut. Sasuke kembali mengabaikannya. Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura. Habis sudah kesabaran Sakura.

"Warui na, aku lama.." Kata Sakura.

"…"

"Sasuke, sampai kapan kau akan marah padaku? Apa kau tak lelah?"

"Aku tidak marah, Sakura. Aku hanya kesal."

"Sama saja, baka!.. Ini ice cream dan aku minta maaf.."

Sasuke menerima ice cream dari Sakura. "Cuma sebungkus?"

"He? Biasanyakan segitu, Sasuke? Bukannya kau tidak pernah menghabiskan sebungkus ice cream-mu? Kau hanya memakan segigitan saja! Kau bilang tidak menyukai manis. Kau membuatku yang selalu menghabiskan sisa ice cream-mu itu, Sasuke!"

"Hari ini aku akan menghabiskannya!"

"Ahso.. Baiklah, nanti aku akan membelikanmu yang banyak! Ambil tasmu dan kita pulang!"

"Pulang?"

"Iya, ayo pulang. Toh, kita diperbolehkan untuk pulang cepat. Kau tidak lihat yang lain sudah menenteng tas mereka? Ayo ikutan mereka pulang! Aku sudah bosan di sekolah!"

"Ah benar juga. Kenapa aku baru sadar jika anak-anak yang lain beranjak pulang?" Batin Sasuke yang sepertinya mulai menyadari jika hari ini ia terlalu banyak melamunkan hal yang tidak penting menurutnya.

"Malah melamun, ayo!" Kata Sakura yang sudah menenteng tasnya.

"Baiklah.."

Dua insan manusia berbeda jenis terlihat saling bercanda di sepanjang trotoal jalan siang itu. Di tangan mereka terlihat memegang ice cream ukuran jumbo. Warna putih yang menandakan rasa vanilla dan warna coklat pekat yang menandakan rasa coklat.

Sesekali di sela bercandaan mereka, mereka mengesap ice cream itu dengan pelan. Rasa manis ice cream berpadu sempurna dengan sensasi dingin dari ice cream itu. Rasa haus karena terik matahari siang itu terasa jauh berkurang. Sangat sejuk apalagi saat mereka berhenti di bawah pohon yang ada di pinggir jalan yang mereka lewati. Pohon yang rindang seperti sedang menangkap angin yang sedang lewat. Terasa nyaman dan sepoi-sepoi menyapu tubuh yang sudah sangat kelelahan.

"Cepat habiskan!" Perintah Sasuke.

"Tadi seharusnya kau tidak usah banyak gaya dengan mengambil banyak ice cream jika pada akhirnya kau tak bisa menghabiskannya!" Keluh Sakura.

"Buang saja kalau kau sudah kenyang!"

"Jika dibuang sebanyak ini kan sayang, di luar sana masih banyak orang yang tak bisa mendapatkan banyak makanan. Kita harus bersyukur, kita masih bisa membeli makanan enak dengan uang berlebih kita!"

"Yare-yare.."

"Lain kali jangan mengulanginya! Kalau dua bungkus ice cream aku masih mampu, tapi tidak dengan jumlah sebanyak ini!"

"Hn."

Sakura melanjutkan menghabiskan ice cream sisa milik Sasuke.

"Cepat habiskan Sakura, di dalam kreta dilarang makan!"

"Iya, berisik!"

Membutuhkan waktu sekitar seper empat jam untuk menghabiskan enam bungkus ice cream dengan cepatnya. Sakura sudah sangat kekenyangan, sudah begitu kepalanya juga terasa nyut-nyutan karena dinginnya ice cream. Bayangkan saja, sudah begitu, hari ini ia makan ice cream dengan Gaara, dilanjutkan dengan makan ramen, setelah itu, ia juga harus menghabiskan enam bungkus ice cream lagi saat pulang sekolah. Rasanya perut Sakura mulai tidak nyaman. Makan berlebihan memang tidak baik untuk tubuh. Lain kali ia tidak akan mengulanginya!

Sakura dan Sasuke berjalan menuju stasiun kreta RINEGAN, satu-satunya stasiun kreta yang paling dekat dengan KIHS. Jam setengah dua belas siang suasana stasiun tidak seramai jam-jam sibuk. Hanya ada puluhan orang yang berlalu lalang. Biasanya jika sedang dalam jam sibuk, stasiun akan dipenuhi banyak penumpang.

"Hinata-chan?" Sapa Sakura saat melihat seorang gadis berpakaian sama dengan dirinya dan Sasuke.

Hinata menoleh dan melihat Sakura dan Sasuke. Iapun tersenyum ramah seperti biasanya. "Sakura-chan to Sa-Sasuke-kun…?"

"Hinata-cha juga mau pulang?" Tanya Sakura.

"Ya-ya se-seperti itulah.. Sakura-chan to Sasuke-kun mo?"

"Hai, kami juga akan pulang. Ano, bukankah distrik Hyuga searah dengan distrik Uchiha? Mungkin sebaiknya kita pulang bersama saja, ne Sasuke-kun?" Kata Sakura.

"Hn. Terserah kau saja." Kata Sasuke. Sakura tersenyum senang. Hinata terlihat malu-malu.

"Ba-baiklah kalau begitu.."

'Perhatian, kereta jurusan stasiun RASENGAN akan segera tiba, dimohon para calon penumpang untuk mempersiapkan diri..' Terdengan suara pemberitahuan kedatangan kereta. Para calon penumpang kereta segera mempersiapkan diri termasuk Sakura, Sasuke, dan Hinata.

Pintu kereta terbuka, Sasuke memimpin masuk kereta disusul Sakura dan Hinata yang mengekor di belakangnya. Tapi, dengan gerakan super lincah dan cepat, sebelum pintu kereta tertutup Sakura berhasil menyelinap keluar dari kereta.

"Sasuke, Hinata, gomen, kalian pulanglah dulu, aku ada barang yang ketinggalan di sekolah." Teriak Sakura seiring berjalannya kereta yang Sasuke dan Hinata tumpangi. Masih sempat-sempatnya Sakura melambaikan tangannya. "Dengan begini mereka akan memiliki waktu untuk bersama.. Hihihi.." Gumam Sakura senang.

Kenapa Sakura melakukan hal itu? Memberi kesempatan untuk Sasuke dan Hinata berduaan. Sakura memiliki pekerjaan untuk mengintai dan mengawasi setiap target dari kliennya. Hal itu membuatnya memiliki sifat sangat perhatian dan pengertian. Sakura menjadi mudah peka akan tabiat orang lain. Maka dari itu, menurut penglihatannya, Sakura menyadari ada tatapan lain dari kedua temannya itu, Sasuke dan Hinata. Meski ia sendiri belum memastikannya, tapi ia akan mencoba mencaritahu.

"Haiish, anak itu.." Kesal Sasuke karena Sakura tiba-tiba saja meninggalkannya.

"Ano, Sasuke-kun, daijoub desuka?" Tanya Hinata terlihat khawatir.

"Hn daijoube.."

Mereka berdua mencari tempat duduk yang kosong. Beruntung karena di gerbong yang mereka masuki hanya terdapat beberapa penumpang saja, sehingga menyisakan tempat duduk kosong cukup banyak. Mereka mengambil tempat duduk yang tak jauh dari pintu keluar kereta.

Setelah mendapatkan tempat duduk, suasana kembali terdiam. Sasuke sibuk dengan fikirannya sendiri. Sementara itu, Hinata hanya duduk menunduk sambil memegangi roknya. Ia hanya tidak menyangka akan pulang bersama Sasuke. Berdua bersama orang yang dari kelas sepuluh sudah ia kagumi. Sama dengan Sakura, Naruto, dan Ino, ia juga selalu dipertemukan di kelas yang sama dengan Sasuke. Keberuntungan? Jodoh?

Selalu di kelas yang sama, selalu bertemu setiap hari membuat Hinata memiliki perasaan lebih pada Sasuke. Bagaimana tidak? Siapa sih yang tidak terpana dengan si bungsu Uchiha satu ini? Sudahkaya, pintar, dan juga tampan. Sang pangeran idaman di sekolah adalah sebutan embel-embel di belakang nama Sasuke. Selalu dikagumi banyak siswi-siswi di sekolah juga.

Hinata tak pernah membayangkan akan berduaan bersama Sasuke di kreta seperti ini. Tapi nyatanya, kali ini ia tengah mengalaminya. Doanya didengar oleh Tuhan. Setelah dua tahun lebih lamanya menunggu, akhirnya waktu bersama, berdua dengan Sasuke terwujud juga. Sepertinya lain kali ia harus berterima kasih pada Sakura.

Ada masalah!

Hinata adalah sosok gadis yang sangat pemalu. Ia memang menyukai Sasuke, tapi tak ada yang tahu perasaannya itu. Ia selalu memendamnya. Baginya, Sasuke itu terlalu tinggi untuknya dan rasanya itu tidak mungkin mengingat bagaimana populernya seorang Sasuke. Tapi, bagaimanapun ia ingin juga merasakan bagaimana indahnya cinta di masa sekolah juga. Meskipun orang yang ia sukai itu seorang Sasuke Uchiha-sang pangeran sekolah.

Jika suaranya bisa keluar, Hinata ingin sekali berteriak senang karena bisa pulang bersama dengan Sasuke. Tapi rasanya tenggorokkannya terasa tertahan. Ia hanya bisa terdiam, berusaha menenangkan jantungnya yang sedang berdendang tanpa melodi.

Hinata ingin bertanya pada Sasuke, ingin memulai pembicaraan. Tapi fikirannya terasa seperti sedang berkecamuk, berombak-ombak, dan sangat sulit ia gunakan untuk berfikir dengan benar. Membuatnya kesulitan merangkai kata-kata. Ia harus segera memecah kediaman ini! Rasanya sangat canggung!

"A-ano, Sa-Sasuke-kun…" Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya kata-kata keluar juga dari bibir tipis Hinata.

"Hn?" Kata Sasuke.

"Se-sepertinya sebentar lagi akan ada libur musim panas. Aku men-dapatkan info dari Guy-sensei.."

"Ah, souka?"

"Hai, tiga minggu lagi tepatnya. Minggu terakhir sebelum liburan akan diadakan kelas tambahan untuk kelas XII, tepatnya untuk mereka yang nilai ujian kemarin kurang baik."

"Jadi Sakura akan mendapatkan kelas tambahan itu?" Batin Sasuke. "Kau termasuk dalam itu?"

Hinata menggeleng. "Ini berkat Sasuke-kun yang selalu mengajariku jika aku kesulitan mengerjakan soal. Terima kasih banyak, Sasuke-kun…"

"Itu bukan karena diriku. Itu hasil kerja kerasmu, kau bisa membanggakannya.."

"Ba-baiklah.. Demo, doumo arigato, Sasuke-kun.."

"Hn."

Mereka kembali terdiam lagi. Hanya suara penumpang lain yang sayu-sayu terdengar. Suara roda kereta yang bergesekkan dengan rel kereta mendominasi suasana di dalam kereta itu. Sasuke terlihat duduk agak jauh dari Hinata. Sasuke duduk tanpa menoleh ke Hinata. Hinata yang duduk selisih dua kursi di samping Sasuke, masih menunduk malu dan sesekali menoleh untuk melihat Sasuke. Memandang laki-laki idamannya itu.

"Kami-sama, Sasuke-kun wa kakoii desu…" Batin Hinata. Wajahnya terasa memanas. Jika di situ ada cermin datar, mungkin ia kan melihat betapa merahnya pipinya saat itu. Ia benar-benar merasa sangat malu.

Setelah berhasil membuat Sasuke dan Hinata pulang bersama, saatnya Sakura dirundung kebingungan. Ia tidak memikirkan rencana apa selanjutnya harus ia lakukan. Ide meninggalkan Sasuke dan Hinata datang begitu saja. Biasanya ia selalu membuat daftar rencana cadangan, tapi kali ini rupannya ia tak memikirkannya.

"Aku mau ngapain ya? Kembali ke sekolah? Ayolah, tadi aku berbohong. Pulang? Masih dua jam lagi sampai ada kereta ke stasiun RASENGAN. Apa aku menemui Mikasa saja ya? Tapi seharusnya aku membuat janji terlebih dahulu dengannya. Hah, aku melupakan hal itu… Baka.." Pikir Sakura.

Entah apa yang membuatnya cukup beruntung kali ini, Eren Yeager menyapanya dari arah samping.

"Loh, Haruno-san?" Kata Eren.

"Yeager-san, mau pulang?" Tanya Sakura.

"Rencananya, tapi ketinggalan kereta.. Kau sendiri?"

"Aku juga ketinggalan kereta.. Etto, apa kau juga menumpang kereta jurusan stasiun RASENGAN?" Lagi, Sakura berbohong lagi. Mau bagaimana lagi. Awalnya sudah berbohong, kesana-sana pasti juga akan ada bohong lagi.

"Lebih tepatnya stasiun setelah itu, SHARINGAN…"

"AH, souka… Kereta selanjutnya masih dua jam lagi.."

"Kau benar, itu cukup lama… Mau menemaniku makan siang?" Eren menawarkan ide sembari menunggu kereta datang.

"Mati aku, aku sungguh sangat kenyang. Tapi, aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas mendekati target. Eren Yeager x Mikasa Ackerman ada di daftar nomor satu targetku! Huhu…" Batin Sakura. "Apa tidak apa-apa, Yeager-san?" Tanya Sakura basa-basi.

"Hm, tentu saja, Haruno-san.. Etto, sebaiknya kau memanggilku Eren saja, toh kita teman seangkatan.."

"Hai, Eren-san. Aku mengizinkanmu memanggilku Sakura…"

"Hm, Sakura-san. Namamu sangat indah. Kau juga cantik, sama seperti bunga sakura.."

Wanita akan jatuh pada pujian! Tapi Sakura akan selalu berusaha menganggap pujian itu sebagai hal yang biasa saja. Jika ia sampai memasukkannya ke dalam hati, ia percaya jika semua pasti akan berjalan tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. "Arigato.. Aku terima pujianmu.. Ano, Eren-san.."

"Ya?"

"Kau tidak pulang bersama Ackerman-san? Setahuku aku selalu melihatmu bersamanya.." Sakura tahu pasti bagaimana ia menempatkan posisinya sebagai teman sekaligus dokter cinta. Ia bisa memanfaatkan kesempatan untuk menggali informasi sebanyak mungkin.

"Ah, Mikasa ya? Hmm, sepertinya ia sedang ingin pulang sendiri.."

Sakura langsung merasa tidak enak. Ia tahu, saat mendengar jawaban Eren, ia yakin jika sesuatu hal tengah terjadi antara Eren dan Mikasa. Nada suara Eren terlihat –sedang tidak baik. "Gomenasai, Eren-san… Tak seharusnya aku bertanya seperti itu.."

"Bukan apa-apa, Sakura-san. Nanti pasti akan kembali seperti biasanya… Tak perlu menghawatirkannya, kami itu serumah, bersaudara, jadi aku masih bisa tahu keadaannya.."

"Cowok yang tidak peka! Benar kata Naruto, Eren itu sama sekali tidak bisa membaca kondisi. Harusnya ia mencari tahu kenapa Mikasa seperti itu! Ini malah santai saja.. Apa-apaan ini bocah…" Batin Sakura. "Jangan seperti itu, Eren-san. Ada baiknya jika kau dan Mikasa duduk bersama dan membicarakan duduk permasalahannya. Kadang cewek juga ingin diperhatikan. Cewek itu juga ingin dilindungi, ingin merasa nyaman di samping laki-laki. Tak terkecuali cewek macam Mikasa juga…" Kata Sakura.

"Ingin dilindungi? Kau tahu sendiri bagaimana Mikasa itu. Dia itu tomboy, pemegang sabuk hitam olahraga juudo. Dia lebih jago berkelahi dari pada aku. Yang ada, aku yang selalu dilindunginya.. Haha, lucu sekali diriku ini yang selalu bersembunyi di belakang Mikasa.."

"Benar juga ya, Hahaha. Mikasa bahkan pernah menolongku dari gangguan preman jalanan... Ya bagaimanapun karakter Mikasa, dia tetaplah seorang cewek. Percayalah, diapun ingin mendapatkan perhatian darimu Eren-san. Kau selalu bersamanya, kan?…"

"Hmm, aku juga mulai memikirkannya akhir-akhir ini. Sepertinya ada yang aneh dengan Mikasa.. Dia terlihat berbeda dan agak lain kepadaku.." Gumam Eren.

"Tuhkan, apa aku bilang. Kau mulailah lebih memahaminya! Hidup bersama dalam waktu yang lama, hal berbeda sekecil apapun itu pasti akan mudah disadari.."

"Hm, aku akan melakukannya.."

Sakura tersenyum senang. Yap, pelan-pelan ia sudah bisa merubah cara fikir Eren. Ia kan menjejali materi tentang Mikasa kepada Eren. Ia akan membuat Eren melihat Mikasa sebagai cewek, bukan sebagai pelindung Eren. Ia tahu tak akan semudah rencananya, tapi ia akan berusaha demi Mikasa-temannya dan juga demi Naruto-sahabatnya.

Sesuai dengan ajakan Eren, Sakura akhirnya menemani Eren makan siang. Beruntungnya, kali ini ia tak harus menikmati semangkok ramen lagi karena Eren mengajaknya makan Sushi di kedai tak jauh dari stasiun RINEGAN. Namun tetap saja, perutnya yang kecil kesulitan menerima asupan banyak makanan. Alhasil ia menyisakan cukup banyak sushi. Sakura sangat anti membuang makanan, dengan banyak ide, ia berhasil membuat Eren menghabiskan sisa sushinya. Yokatta…

Usai makan siang dan mengobrol banyak, Sakura dan Eren memutuskan untuk pulang bersama. Sakura akan turun lebih dahulu di stasiun RASENGAN. Sementara Eren harus menunggu satu stasiun kereta lagi, stasiun SHARINGAN.

"Jika kau membutuhkan teman cerita tentang Mikasa, kau bisa menghubungiku. Bagaimanapun aku cukup dekat dengannya. Mungkin aku bisa membantumu karena wanita itu jauh mengerti bagaimana persasaan sesamanya. Jangan memendam masalah sendiri! Bagilah dengan orang yang kau percayai! Itu akan membuatmu lebih baik.." Kata Sakura.

"Hai, arigato na, Sakura-san. Aku pasti akan menghubungimu. Terima kasih juga sudah membagi akun e-mail-mu…"

"Sama-sama.. Aku sudah sampai di stasiun RASENGAN, matta ashita ne, Eren-san…" Sakura pamitan dengan Eren.

"Jaa matta, Sakura-san…"

Sakura keluar dari pintu keluar stasiun RASENGAN. Berjalan di trotoal menuju distrik Uchiha, rumah dimana ia tinggal. Berjalan sendirian memang rasanya agak aneh karena biasanya ia akan ditemani oleh Sasuke.

Langkahnya terasa berat. Ia masih kekenyangan. Jika ia berjalan semakin cepat, maka perutnya akan terasa sangat sakit. Berjalan lambat, tapi akan lama sampai rumah. Sakura itu selalu memperhitungkan hal-hal kecil yang menjadi kemungkinan. Ia harus menentukan, menyusun, dan membuat rencana. Ia selalu seperti itu. Ia menimang, menimbang mana yang menguntungkan mana yang tidak. Ya, itulah seorang Sakura. Haruno Sakura.

"Sakura-chan?" Panggil seorang laki-laki dari dalam mobil yang suaranya terdengar familiar di telinga Sakura.

"Itachi-niisan…"

"Ayo masuk! Kita pulang bersama!" Itachi menyuruh Sakura masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat ia menuruti perintah kakaknya itu.

"Hah, aku terselamatkan..." Kata Sakura penuh syukur.

"Kau tidak pulang bersama Sasuke? Dimana bocah itu?"

"Aku menyuruhnya pulang duluan, Nii-san.. Aku tadi masih ada urusan dengan temanku.."

"Hm, souka.. Ne, Sakura?" Itachi menatap Sakura.

"Ya?" Sakura menaikan alisnya mencoba mencaritahu pertanyaan Itachi.

"Omae…"

"…"

"…"

"Aku? Ada apa denganku? Nani desuka?" Sakura penasaran karena Itachi menatapnya cukup intens.

"Tidak ada apa-apa.. Ayo pulang!" Kata Itachi akhirnya. Ia langsung menyalahkan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah.

Sakura yang cukup kebingungan dengan tingkah sang kakak hanya menganggapnya sepele saja. Iapun membiarkannya seperti angin lalu. Kakaknya yang satu ini kan memang kadang-kadang terlihat aneh dan sulit dimengerti. Perlakuan dari sikap sang kakak sudah biasa Sakura dapatkan, jadi membiarkannya hanya sebagai angin lalu rasanya tidak apa-apa, kan?

Tidak apa-apa, kan?

Ya, tidak apa-apa…

.

.

to be continue….

.

.

Hari ini aku update panjang2 chapternya ya.. Hmm, lagi senang kok, mood baik, semangat menulispun juga baik…

Kenapa membaik? Pokemon Go? Bukkaaaannn! Hahahah, itu game bahaya kalau sampai dimanfaatkan teroris! Hati-hati saja kalau main itu game ya.. Hacker ada dimana-mana..

chapter 2 selesai… semangat untuk next chapter..

Sepertinya ini FF akan cepat tamat deh.. Soalnya aku dapet idenya hanya di endingnya saja, biasanya itu membuat sedikit ide buat ngawali ceritannya. Pokoknya berusaha saja dah..

Review?

Arigato sudah mampir…