Chapter 3
Thanks sudah mampir dan ngereview.. ceileeh.. crita ini banyak kontroversinya..
gomen na atas ketidaknyamanannya..
Ini hanya sekedar fanfiction saja.. jangan terlalu serius.. serius boleh, tapi buat hal positif saja.. kasihan didikan bapak ibu jadi enggak berguna..
Apa lagi ini?
Angkat kedua bahu dan bilang.. entahlah… hahaha..
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: T+, Ecchi?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M kok. XD
,
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
.
.
Sekolah….
Hampir setiap istirahat pertama, Hinata pasti akan mendatangi Sasuke untuk sekedar menanyakan soal yang sulit, soal yang tak bisa ia kerjakan. Awalnya Sasuke agak merasa terganggu. Bukan karena Hinata, tapi karena waktu bermain game onlinenya menjadi berkurang.
"Sakura, kau mau kemana?" Tanya Sasuke. Ia bahkan meraih tangan Sakura untuk mencegah Sakura pergi meninggalkannya berduaan dengan Hinata.
Sakura mencoba melepaskan gengaman tangan Sasuke. "Sasuke, aku sudah janji pada klienku. Gomen ne, aku harus pergi. Lagipula ada Hinata-chan yang akan menemanimu. Ne, Hinata-chan?"
"Ah, ha-hai.." Hinata hanya mengamini kata-kata Sakura saja. Ia memang mengharapkan hal itu.
"WOY SAKURA, hayaku hayaku! Ayo cepat!" Teriak Naruto dari pintu keluar kelas.
"Sasuke, lepaskan! Kau lihat sendiri, kan? Naruto-kun sudah memanggilku!" Kata Sakura. Sasuke lantas melepaskan genggaman tangannya pada Sakura. Sakura lalu menghampiri Naruto dan menghilang dari kelas itu.
"Kemarin bocah Sabaku, sekarang si Dobe.." Gumam Sasuke pelan.
"Sa-Sasuke-kun?" Panggil Hinata yang tidak begitu jelas mendengar kata-kata Sasuke.
"Hn?"
"Sasuke-kun sa-sangat dekat ya dengan Sakura-chan.." Kata Hinata. Entah kenapa suaranya terdengar pilu saat ia mengucapkan kata-kata itu.
"Tentu saja, dia itu keluargaku." Kata Sasuke. "Benar, kan?" Batinya.
"Ah, sodesuka.. Seperti diriku dengan Neji-nii sepertinya. Meski orang tua kami kakak adik, karena kami seumuran, kami juga menjadi sangat dekat seperti saudara kandung… Neji-nii juga sangat baik padaku. Kadang aku juga sering meminta bantuan darinya untuk mengajariku mengerjakan soal-soal yang sulit. Hanya saja, kadang aku kesulitan mengikuti cara belajar dia. Lebih mudah bagiku mengikuti cara belajarmu, Sasuke-kun.."
"Apa yang sebenarnya akan Sakura lakukan dengan Dobe? Bertemu dengan kliennya? Yang ada hubungannya dengan Dobe siapa? Mikasa, kah? Tempo hari mereka membicarakannya. Apa benar itu? Kenapa akhir-akhir ini Sakura sibuk sekali? Ia bahkan berangkat lebih awal. Katanya ada urusan. Sepagi itu? Jam stengah tujuh! Sekolah masuk jam setengah delapan!" Sasuke berkutik dengan fikirannya.
Hinata Sadar jika sedari tadi ceritanya tidak didengarkan oleh Sasuke sama sekali. Ia hanya bisa menunduk lesu. Tapi ia tidak akan mudah menyerah. Ia sudah tahu jika ini semua pasti akan sangat sulit. Mendekati sang pangeran bagi seorang rakyat jelata seperti dirinya adalah suatu hal yang diibaratkan sebagai langit dan bumi. Namun selama itu masih ada kesempatan dan kemungkinan, selama ia mempercayainya, maka apapun itu pasti bisa diraih.
"Sasuke-kun? Bisa kita mulai?"
"Ah, baiklah. Mana yang tidak kau kuasai?"
Hinata tersenyum senang. Rasanya semangatnya kembali menyala. "Yang ini…"
Mereka berdua hanyut dalam suasana sepi kelas.
…
Sakura dan Naruto berjalan bersama menuju perpustakaan sekolah…
Berjalan dengan gembira layaknya sepasang muda mudi yang sedang penuh semangat masa muda. Sepertinya motto sacral Guy-sensei sangat ampuh untuk dipakai.
"Kau berencana membuat Sasuke dan Hinata berkencan? Yang benar saja, Sakura!" Kata Naruto.
"Memang kenapa? Kau cemburu karena Sasuke dekat dengan cewek lain?" Tanya Sakura mencoba menggoda Naruto.
"Aku normal Sakura!"
"Lalu kenapa? Apa kau menyukai Hinata-chan?"
"Aku.."
"Jangan Naruto-kun! Dame!"
"Sakura, jangan kebiasaan memotong pembicaraan yang belum usai sampai titik!" Naruto kesal. Jika begini bisa menimbulkan kesalahpahaman.
"Aha, gomen, gomen… Lanjutkan!"
"Rata-rata cowok di sekolah ini menjadikan Hinata sebagai salah satu cewek yang ingin dikencani. Sebagai cowok normal, tentu saja aku menyetujuinya. Hinata itu cantik, baik, anggun, dan lumayan pintar juga.. Tapi aku tidak menyukainya seperti dalam takaran otakmu, Sakura! Berhentilah menciptakan imajinasi yang aneh dan tidak jelas itu!"
"Lalu apa masalahnya jika kau hanya menganggapnya sebagai teman sekelas? Berarti dia cocok dengan Sasuke-kun, kan? Itu akan menjadi pasangan yang sempurna! Sasuke tampan dan Hinata cantik. Pangeran dan tuan putri, bukankah itu hebat?" Sakura terlihat sangat antusias.
"Aku hanya menghawatirkanmu!"
"Menghawatirkanku?" Sakura terlihat bingung. Ia tidak mengerti maksud pernyataan dari Naruto.
"Ya."
"Aku tidak apa-apa, Naruto-kun? Aku baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Kau tahu, dari dulu Sasuke tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan seorang gadis."
"Sasuke masih normal, Sakura!"
"Aku tidak berfikir ke arah sana, Naruto no baka! Aku hanya mencoba merealisasikan pandangan Sasuke. Waktu itu untuk pertama kalinya, aku melihat Sasuke mengamati seorang gadis. Gadis itu Hinata. Dulu, waktu kita masuk kelas XI, aku melihat Sasuke memandang Hinata sangat lama. Bahkan Sasuke sampai tersenyum saat melihat Hinata kesulitan memasukkan bola basket ke ring. Saat itu, tanpa pikir panjang, Sasuke langsung membantu Hinata. Dia mengajari cara menembak bola, Naruto! Seorang Sasuke peduli pada wanita selain aku dan ibu itu mukjizat! Keajaiban! Unbelieveble!" Cerita Sakura menggebu-gebu.
"Jangan hanya satu sudut pandang kau jadikan sebagai acuhan, Sakura! Bagaimana kalau dugaanmu itu salah?"
"Kalau salah berarti mereka tidak akan bersama, kan?"
"Jangan mempermainkan perasaan mereka, Sakura! Perasaan itu bukan mainan!"
"Wakattayo.. Jangan khawatir! Aku tahu harus bagaimana nantinya.."
"Aku harap semua akan baik-baik saja.." Naruto merasa tidak begitu yakin dengan kata-katanya sendiri.
Entah apa yang membuat rasa mengganjal di benak Naruto. Ia sangat menyayangi Sakura. Ia tidak ingin Sakura terluka akan apa yang Sakura lakukan. Ia juga tidak ingin sahabatnya terluka, Sasuke. Ia bersahabat dengan Sakura maupun Sasuke sudah dari kecil, itu sangat lama. Persahabatan yang sangat lama terjalin akan terasa begitu erat, seperti saling memahami. Ia memang tidak sepintar Sasuke, jangankan itu, ia sadar betul bagaimana kapasitas otaknya, tapi ia bisa menjadi sosok yang paling mengerti bagaimana perasaan kedua sahabatnya itu. Naruto yang maniak ramen adalah sosok yang tak hanya berfikir, tapi ia selalu menjadikan hatinya sebagai acuhan pembuat keputusan.
"Konichiwa, Mika-chan…" Sapa Sakura.
"Hi, Mikasa.." Sapa Naruto.
"Kalian.. Gomen na meminta kalian menemuiku saat kalian sedang menikmati waktu istirahat kalian…" Kata Mikasa.
"Jangan menghawatirkan itu, Mikasa! benarkan, Naruto?" Kata Sakura.
"Hm, apa kau lupa jika kita ini teman dekatmu? Ayolah, jangan sungkan seperti itu!" Lanjut Naruto.
"Beruntungnya aku bisa mengenal kalian… Nah Sakura-chan, kau sudah baca kan pesanku semalam?" Tanya Mikasa. Sakura menangguk. "Eren mengajakku bicara, dia bilang dia tidak memiliki perasaan yang seperti aku rasakan. Dia juga bilang kalau dirinya belum terlalu mengerti hal-hal yang semacam itu…" Suara Mikasa terdengar miris di telinga Sakura dan Naruto.
"Mika-chan, gomen, tak seharusnya aku menyuruh Eren berbicara empat mata denganmu. Ini semua salahku, aku yang menyuruhnya.. Gomenasai, Mika-chan. Honto ni gomenasai…" Sakura menyesalinya. Ia sadar jika kali ini rencananya justru melukai hati kliennya.
Mikasa menggeleng, setelah itu ia tersenyum. "Kau tidak salah apapun, Sakura-chan.. Justru berkat kau, aku dan Eren menjadi dekat lagi setelah kami sempat jaga jarak. Eren bilang, ia akan mencoba melihatku sebagai cewek dan bagiku itu sudah lebih dari cukup. Apapun nanti keputusan Eren, aku sudah tidak mempermasalahkannya. Jika keinginanku tidak bisa tercapai, setidaknya aku masih menjadi keluarganya. Aku sudah bersyukur…" Kata Mikasa.
Sakura lantas memeluk Mikasa. Mikasa meneteskan air mata, membuat Sakura ikut menangis karenanya. Ia tahu betul bagaimana posisi Mikasa di keluarga Yeager, tak jauh berbeda dengannya. Serba sulit jika itu berhubungan dengan perasaan.
"Ma ma ma, dua wanita sedang menangis hanya akan menulariku saja!... Berhentilah menangis, Mikasa! Kalau ada yang tahu, bisa menjadi berita heboh! Bagaimana kalau sampai tersebar rumor, Mikasa itu tubuh singa, tapi ternyata hatinya Hello Kitty! Kau mau itu?" Kata Naruto.
"Hahahahha.."
Mereka lantas tertawa bersama. Mikasa dan Sakura menghapus air mata mereka. Naruto hanya tersenyum pada ke dua teman dekatnya. Ia senang, ia bisa sedikit membuat temannya tersenyum. Semoga saja itu cukup untuk meringankan beban temannya, itu yang ia harapkan.
"Jadi, berapa yang harus aku bayar, Sakura-chan? 50.000 yen?" Tanya Mikasa.
"Ie ie, tidak usah! Aku menarik bayaran jika aku harus mengeluarkan uang untuk pengintaianku. Itu seperti ganti rugi saja. Ya memang aku meminta lebih, itu untuk bayar waktuku yang terbuang. haha.." Kata Sakura.
"Jika itu murni bisnis, harusnya kau benar-benar membuat list harga, Sakura-chan! Tarif sendiri, ganti rugi pengintaian juga sendiri…" Saran Mikasa.
"Aku tidak akan memanfaatkan uang teman-temanku. Aku hanya senang menikmati saat orang yang aku tolong mengucapkan kata terima kasih padaku. Rasanya aku menjadi dibutuhkan orang. Dengan begitu aku memiliki banyak teman.." Kata Sakura.
"Pantas saja kau memiliki banyak pelanggan meski bertarif mahal… Bukan hanya karena hasil kerjanya yang memuaskan, tapi ketulusan juga rupanya.."
"Sakura memang seperti itu.." Sambung Naruto mengakhiri perbincangan seru mereka. Ia selalu bangga dengan Sakura. Maka dari itu, ia pasti menyediakan waktu banyak untuk sekedar membantu Sakura.
…
Masalah Mikasa dan Eren sudah beres. Meski belum berhasil membuat pasangan itu bersatu sebagai seorang kekasih, setidaknya Sakura merasa lega karena Eren akan belajar menerima Mikasa sebagai seorang wanita, bukan sebagai keluarganya.
Melihat dari tatapan Eren saat itu, Sakura yakin jika Eren juga memiliki rasa yang sama dengan Mikasa. Eren hanya perlu menggalinya. Hanya perlu meyakinkan hatinya dan semua pasti akan menemui titik temu yang indah.
"Eren x Mikasa, centang! Beres… Yang agak susah lebih didahulukan saja. Ino x Sai? Haaahhh…" Kata Sakura saat ia kembali membuka buku note-nya.
"Ino? Sai? Siapa kliennya, siapa targetnya?" Tanya Naruto.
"Klien Yamanaka Ino-pig, target Shimura Sai-art no kaichou no KIHS! Nde, bagaimana menurutmu?"
"Haha, tak kusangka ada SasuHina yang lain di kelas kita.."
"Hei, kita sudah memilikinya sebelum SasuHina!"
"Dare?.."
"ShikaMari.."
"Hah, mereka itu…"
"Sebentar Naruto-kun, kau bilang SasuHina? Hoho, berani juga kau menyebut nama sacral itu… Awas amukkan fans Sasuke bisa membunuhmu loh…"
"Kalau mereka ngamuk, wajar saja Sakura, kan mereka mencintai Sasuke.. Haha.."
."Hehe, Terserah kau sajalah.. Tapi SasuNaru juga oke kok.. Hahah.. Tenang saja Naruto-kun, apapun yang terjadi, aku padamu.." Sakura menepuk-nepuk bahu Naruto.
Naruto mendelik pada Sakura. "Sakura, aku normal!"
"Goomeeeen, hanya bercanda.."
"Kau ini selalu saja seperti itu…"
Sakura hanya nyengir tanpa dosa. Ia dan Naruto memang paling asyik jika bercanda. Suasana akan semakin hidup. Sakura merasa jika bersama Naruto, ia bisa tersenyum lebar dan terasa ringan. Yah, walau bersama dengan Sasuke juga seperti itu, tapi kadang ia juga bisa merasa sungkan dengan Sasuke.
"Pasangan ShikaMari hebat loh, mereka bisa bersatu meski bagai langit dan bumi. Aku mengakuinya! Mengakui kehebatan mereka!.. Mungkin jika aku mendapatkan pekerjaan dengan klien seperti mereka, aku pasti akan sangat kesulitan.. Ino dan Sai saja membuatku ragu karena mereka sama-sama temanku. Haahh.."
"Untuk pasangan ShikaMari aku tak menandainya sebagai pasangan yang romantic karena kerjaaan mereka tiap hari hanya bertengkar melulu… Untuk masalah Ino dan Sai, tenang saja aku akan membantumu…"
"Honto ni?"
"Hai, Honto desu! Sesulit apapun itu, aku pasti akan membantumu, Sakura.."
"Naruto-kun, arigato… Aku terselamatkan." Sakura memeluk Naruto sesaat lalu melepaskannya. Sakura memang seperti itu. Itu gerak reflek saat ia mendapatkan pertolongan dari teman dekatnya.
Naruto tersenyum… "Pada akhirnya, kaulah yang selalu mengucapkan kata terima kasih, Sakura…"
Sakura juga hanya bisa tersenyum untuk membalas kata-kata Naruto. Sakura akan mengucapkan terima kasih kepada siapapun atas apa yang siapapun lakukan padanya, pertolongan sekecil apapun, jika itu baik untuk dirinya, ia pasti tidak akan lupa untuk berterima kasih. Mendiang orang tuannya selalu mengajarinya cara berterima kasih yang baik dan Sakura tidak akan pernah melupakan itu. Tidak akan pernah!
"Apa yang sekarang sedang kutonton itu acara Teletubuies ya? Rambut kuning si Lala dan rambut pink si Poo… Kenapa kalian berpelukan seperti itu?" Sindir Sasuke yang tiba-tiba datang di hadapan Sakura dan Naruto.
Naruto nyengir. "Hoho, jadi kau cemburu? Iri karena Sakura-chan memeluku, ne Sa-su-ke-te-me-kun?" Naruto ikut menggoda Sasuke.
"Tidak ada yang boleh memeluk anggota keluargaku tanpa seizinku dan lagi, aku tidak merasa iri karena pada kenyataannya sudah menjadi milikku!" Sasuke terlihat serius. Ia bahkan menarik tangan Sakura ke pelukkannya.
Tanda tanya mulai muncul. Sudah menjadi milikku itu maksudnya apa? Apanya yang sudah menjadi milik Sasuke? Sakura sebagai milik keluarga Sasuke-Uchiha ataukah dalam arti lain? Milik Sasuke? Ah, kadang seorang jenius macam Sasukepun bisa membuat kalimat ambigu yang sulit dipahami, apalagi oleh Otak minim Sakura dan Naruto.
"Sudahlah, kalian ini selalu saja seperti itu! Aku yang memeluk Naruto, bukan dia yang memulainya. Shinji te!" Kata Sakura.
"Kau yang memulai? Apa yang ada di otakmu itu, Sakura? Bagaimana bisa kau melakukannya? Ini di lingkungan sekolah! Bagaimana jika ada yang melihat kalian? Bagaimana jika menjadi masalah?"
"Sasuke kau melihat kami, kan? Ya sudah, tidak ada apa-apa, kan asal kau tidak mengadu ke BP atau Orochimaru-sensei? Kau juga sering berpelukan dengan Sakura… Jadi, jangan terlalu over pada Sakura!" Kata Naruto.
"Aku tidak over pada Sakura!"
"Jika tidak over, berarti kau iri! Kau cemburu kan, Sasuke?"
Sasuke kesal, Naruto memang selalu pandai dalam berdebat. "Urusai na!"
"Narito-kun, sudah! Jangan dilanjutkan debat kalian! Nanti tidak usai-usai…. Sasuke-kun juga, jangan seperti itu! Aku bisa menjelaskannya…" Kata Sakura.
"Yare-yare, lebih baik aku undur diri daripada melihat pertengkaran alay Tom and Jerry kalian. Bye…" Naruto langsung kabur dari tempat itu. Ia sering merasa iri dengan Sasuke, Sasuke selalu saja bisa membuat dirinya bisa bertengkar ringan dengan Sakura. Sedangkan ia? Ia sangat jarang bertengkar dengan Sakura. Ia selalu memiliki pemikiran yang sama dengan Sakura.
Sasuke masih kesal dengan Sakura yang akhir-akhir ini seenaknya saja meninggalkannya. Ia membawa Sakura ke atap gedung sekolah. Ia menarik paksa tangan Sakura membuat Sakura merasa kesakitan. Meski Sakura memohon Sasuke untuk melepaskannya, tapi kata-katanya tak digubris oleh Sasuke.
Sasuke menghempaskan Sakura ke bangku yang ada di atap gedung sekolah. Cukup keras. Sakura meringis kesakitan.
"Ittai na…" Kata Sakura. Ia memegangi tangan kirinya yang ditarik paksa oleh Sasuke.
"Temani aku makan!" Kata Sasuke.
"Eh?"
Makan? Oh iya, Sakura baru ingat jika ia melihat sekantong kresek hitam ada di tangan kiri Sasuke. Sepertinya Sasuke membelinya di kantin sekolah.
"Gomen.." Kata Sasuke akhirnya. Ia tahu, ia memang selalu berlebihan jika itu mengenai Sakura. Ia sering lepas control, maksudnya ingin melindungi, malah sebaliknya, ia justru sering menyakiti Sakura.
"Ah, ya, tidak apa-apa…"
Sakura masih belum mengerti apa yang sebenarnya membuat Sasuke kesal padanya. Sasuke benar-benar kesal, kah? Buktinya sekarang Sasuke justru mengajaknya makan siang bersama di atap. Ah, ia memang tak bisa membaca isi pikiran Sasuke, sepertinya menuruti Sasuke adalah keputusan yang benar.
"Nah, Sasuke…" Sakura memulai pembicaraan usai makan bersama Sasuke.
"Hm? Nani?"
"Aku akan berangkat lebih awal mulai besok. Tagetku adalah Sai-kun. Kau tahu sendirikan bagaimana karakter tuan paling rajin se-KIHS satu ini? Dia akan datang lebih awal… Aku harus mendapatkan banyak infomasi darinya. Ini demi Ino.. Kau tak apa-apa kan jika aku berangkat duluan?"
"Aku akan ikut berangkat lebih awal bersamamu."
"Dame!"
"Nande?"
"Jika kau berangkat lebih awal, itu hanya akan menggangguku..."
Sasuke melotot pada Sakura. Bisa-bisanya Sakura menganggapnya penganggu. "Mengganggu?"
Sakura sebaiknya lain kali mencari kosa kata yang tepat jika ingin berbicara dengan Sasuke. "Bukan seperti itu, Sasuke-kun… Aku ingin cepat selesai urusanku dengan Ino. Kisah romance macam gini bukannya kau tidak suka? Makanya, aku hanya ingin cepat menyelesaikannya.. Setelah itu semua selesai, aku akan mengurangi jam kerja sampinganku. Aku sudah kelas XII, sudah waktunya focus belajar.."
"Hm, sepertinya kau sudah mendapatkan pencerahan…" Sasuke mencoba mengerti. Sakura benar, membuntuti oang lain, ah, maksudnya menjadi stalker itu merepotkan. Cukup sekali ia menemani Sakura mencari alamat target Sakura, dan itu benar-benar melelahkan. Sudah melelahkan, ia hanya mendapatkan semangkuk ramen dari Sakura sebagai bayaran. Haah, ia bosan mengingatnya.
"Iya, kemarin Gaara-kun menasehatiku…"
"Bocah itu lagi? Bukannya aku juga menasehatinya tiap hari? Kenapa harus bocah itu yang ia sebut?" Batin Sasuke. Rasanya agak kesal.
"Sasuke-kun? Tidak apa-apa, kan?"
"Terserah kau saja.."
"Kau bilang terserah, tapi wajahmu menunjukkan kau marah padaku. Katakan yang benar, Sasuke-kun!"
"Yare-yare, selesaikan urusanmu dengan cepat dan kita berangkat bersama lagi! Puas?"
"Hai, aku puas! Arigato, Sasuke-kun…"
"Hn."
Memiliki sebuah alasan untuk melakukan sesuatu adalah sebuah tujuan. Setiap tujuan memiliki alasan kenapa harus dicapai. Sakura melakukan itu tak hanya untuk menyelesaikan urusannya dengan Ino dan Sai, tapi ia juga harus membuat rencana untuk Sasuke dan Hinata. Berhasilkah ia melakukannya di waktu yang bersamaan sepeti itu? Yang pasti ia akan berusaha.
Ia yakin, ia pasti bisa.
Sakura yakin akan hal itu.
…
.
Sesuai permintaan Sakura, Sasuke mulai pagi ini akan berangkat sendirian tanpa Sakura. Agak aneh memang jika ia harus berjalan sendirian menuju stasiun kreta RASENGAN. Tapi mau bagaimana lagi, kali ini ia benar-benar harus mengalah demi Sakura. Dengan begini bukankah Sakura akan kembali focus pada sekolahnya, kan?
"Mendokusai.." Gumam Sasuke sepanjang jalan menjuju stasiun kreta.
Sasuke mengakui jika ia memang sering mengeluh dengan tingkat kecerewetan Sakura. Itu karena ia menyukai ketenangan. Namun, rasanya ada yang kurang jika ia tidak mendengar suara cempreng Sakura dalam waktu yang menurutnya cukup lama. Mungkin karena ia sudah hidup lama dengan Sakura makanya ia memiliki perasaan seperti itu.
"Sai-kun, ohayou.." Sapa Sakura dari pintu ruang klub seni.
"Ah, Sakura desuka? Ohayou.." Kata Sai. Ia duduk santai di meja ketua klub seni. Ia sedang menata dan membersihkan peralatan lukisnya.
Sakura lalu bersandar di pintu ruang klub seni. Ia bahkan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Seorang ketua memang selalu terlihat rajin ya? Pagi-pagi sudah berada di klub seni.."
"Aku hanya memegang tanggung jawabku.. Lalu, apa yang kau lakukan dua hari ini, Sakura? Kaupun datang lebih awal dari biasanya… Tidakkah itu terlalu mencurigakan?"
"Rasanya tidak mencurigakan.. Apa murid yang terkenal sering terlambat seperti diriku tidak boleh insyaf? Akupun ingin mendapatkan kesan yang baik di tahun terakhir sekolah kita ini…"
"Hoo, Kau sudah dewasa rupanya.."
"Bukankah tahun ini kita semua sudah dewasa?"
"Benar juga 18 tahun ya? Aku tarik ucapanku tadi…" Sai tersenyum.
"Senyummu selalu meragukan, Sai-kun…"
"Arigato sudah memuji…"
"Ish, kau selalu saja seperti itu. Aku heran, orang dengan senyum palsu seperti dirimu memiliki fans banyak.."
"Apa aku sepopuler itu?"
"Hm, kau itu selalu membawa nama baik sekolah kita. Kau mengharumkan nama sekolah kita dengan membawa trofi kemenangan lomba lukis. Kau memang sangat berbakat di bidang itu…"
"Apapun yang kau lakukan dengan sepenuh hatimu, kau pasti bisa meraihnya, Sakura. Hanya sebuah kebetulan saja aku bisa melukis.."
Satu yang Sakura sadari, ternyata berbicara dengan Sai itu sangat menyenangkan. Menurutnya, Sai itu cukup berkelas dan memiliki gaya berbicara unik. Sakura menyukainya. Berdebat dengan Sai pasti sangat sulit untuk menang. Itu akan semakin menarik.
"Selalu merendah rupanya.. Demo, mungkin itu memang daya tarik darimu.."
Sai kembali menunjukkan senyuman khasnya. Ia lalu meletakkan kuas lukisnya di dalam wadah dan menatap ke arah Sakura. Ia tertarik dengan maksud kedatangan Sakura.
"Apa bukan sebuah kebetulan saja jika dua hari ini kita bertemu? Kau menginginkan sesuatu dariku, Sakura?"
"Kau bukan laki-laki yang bodoh, Sai-kun. Aku yakin kau sudah mencurigaiku karena tiba-tiba seorang seperti diriku mendekatimu… Yah, memang kau sudah curiga dengan orang yang mencurigakan ini, kan?"
Sakura juga sudah tahu akan hal itu. Ia berjalan mendekati Sai yang sedang duduk di meja yang ada di ruang klub seni.
"Nde, siapa yang menjadikanku target cinta?" Tanya Sai tanpa basa-basi.
Sakura tersenyum. "Yappari, kau memang sudah mengetahuinya… dua hari pengintaian langsung ketahuan.. Tidak seru sama sekali.. "
"Ayolah, di kelas kita siapa yang tidak tahu profesi sampinganmu itu, ne Dokter Cinta?"
"Hahaha, terlalu mencolok rupanya. Baiklah, aku menyerah… Haruskah aku mengatakan siapa yang menjadi klienku padamu?"
Sai sejenak berfikir. "Hm, Ino-chan desuka?"
"Bingo! Bagaimana kau tahu itu dia?"
"Beberapa kali aku menangkap basah dia selalu menatapku. Jika aku ingin berbicara kepadanya, dia malah kabur menjauh. Ternyata benar dia ya? Mudah sekali untuk ditebak.."
"Ino menjadi pemalu? Itu menjijikan jika harus aku bayangkan,," Batin Sakura. Yang Sakura tahu, sahabatnya yang paling berisik ini adalah sosok dengan stok percaya diri tinggi.. "Jadi sebenarnya tadi kau hanya menduga saja jika itu Ino?"
"Hai.. Aku hanya ingin memastikannya darimu, nona database.." Sai kembali tersenyum.
"Haah, aku terperangkap kata-katamu. Kau tahu, tak seharusnya aku membocorkan siapa klienku itu pada target…"
"Suman…"
Sakura yang cukup lelah karena sedari tadi ia berdiri lantas bersandar pada meja Sai. "Jadi bagaimana menurutmu? Jangan mencoba membohongiku jika kau sedang menjalin hubungan dengan cewek lain! Aku sudah menyelidikimu!"
"Kau menakutkan, Sakura.."
"Biar.."
"Ino itu gadis yang cantik dan baik. Dia juga terlihat ceria, tapi aku tidak menyukai cewek yang suka berdandan berlebihan.."
Sakura lantas ingin tertawa. Itu maksudnya jika Sai mengatai sahabatnya itu menor? Sepertinya ia akan menjadikan pernyataan Sai untuk menjaili Ino.
"Intinya kau menyukai Ino, tapi kau belum memastikan bagaimana perasaanmu, kan?" Tanya Sakura. Sai mengangguk. "Jujur saja, karena kalian berdua adalah temanku dari dulu, teman sekelas juga, aku tidak bisa memaksakan kehendak perasaan kalian. Ino-chan mo, Sai-kun mo.. Meski Ino sahabatku dan dia menyukaimu, tapi jika kau tak memiliki rasa yang sama, aku tidak akan memaksamu. Namun, aku mohon, jangan memberikan harapan palsu padanya ya.. Kau menolaknya saja pasti akan membuatnya terluka, jangan lakukan itu! Jangan memberinya harapan palsu! Kau hanya akan membuatnya semakin terluka!"
"Kau memang teman yang baik Sakura. Beruntungnya mengenal dirimu. Tapi aku tidak memiliki pemikiran seperti itu. Ino cukup menarik di mataku…"
"Benarkah?" Sakura terlihat senang.
"Hn. Lalu, apa kau mau membantuku?"
"Watashi? Membantumu mendekati Ino?"
"Tak hanya itu.. Buatlah dia menjadi gadis yang cantik senatural mungkin dan tingkatkan nilai-nilainya, hingga saat itu tiba, tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya…"
"Kau menarik, Sai-kun. Aku menyukai cara berfikirmu yang selalu positif itu. Aku akan melakukannya untukmu dan juga Ino…"
"Yoroshiku ne, Sakura…"
"Hai, Sai-kun…"
Dan mereka saling berjabat tangan.
Sakura memang tak berniat menerima permintaan Ino untuk mendekati Sai. Itu karena mereka teman sekelas. Ia memikirkan resikonya. Jika cinta mereka tak terbalas sudah pasti akan menimbulkan kecanggungan. Akan aneh rasanya jika itu dalam satu kelas. Lagipula, Ino maupun Sai, mereka sama-sama teman Sakura. Ia benar-benar harus berhati-hati.
Memang Tuhan masih berpihak kepada Sakura. Ia sangat bersyukur akan hal itu. Sai memiliki perasaan yang sama dengan Ino meski membutuhkan waktu untuk memantapkannya. Bagi Sakura itu sudah lebih dari cukup untuk merancang jalan ke arah yang lebih dalam. Sakura akan berusaha lebih keras lagi.
Ino x Sai. Selesai?
Bisa iya, toh pada akhirnya Sakura sudah tahu bagaimana arah perasaan mereka berdua. Ia hanya harus bertindak layaknya teman yang baik untuk memperbaiki cara bersikap Ino sesuai permintaan Sai. Tidak perlu harus menjadi Dokter Cinta, kan?
….
Sakura tengah berdiri di balkon depan kelasnya. Ia sedang bersama Naruto yang tumben sekali pagi itu berangkat lebih awal padahal tidak ada PR. Naruto lumayan rajin akhir-akhir ini. Sepertinya setelah ibunya pulang dari luar negeri, Naruto sering mendapatkan ceramah.
"Benar, kah?" Tanya Sakura yang sedari tadi tak kuasa menahan tawanya.
"Jangan menertawakanku, Sakura! Kau harusnya kasihan padaku karena aku harus menahan ngantuk saat berangkat ke sekolah. Haaahhh, Ibuku mengancam akan memblokir kartu ATMku jika aku berangkat kesiangan ke sekolah… Kejamnya dunia ini…" Keluh Naruto menjadi-jadi.
"Hahaha, aku juga akan berangkat pagi mulai saat ini, Naruto. Jika rumah kita searah, aku pasti akan berangkat bersamamu. Aku akan memastikanmu bangun pagi. Aku juga tak segan-segan akan menyiramu dengan air jika kau sulit dibangunkan! Aku yakin, bibi Kushina tidak akan keberatan…"
"Kau jauh lebih menakutkan dari ibuku, Sakura…"
"Aku loh…"
Mereka kembali tertawa. Ya seperti itulah jika Sakura sedang bersama Naruto, yang ada hanya tertawa dan tertawa. Mereka tahu benar bagaimana harus bercanda dengan baik. Mereka memiliki selera humor yang sama.
"Ino x Sai, sepertinya tidak sesulut yang kita bayangkan. Mereka sudah memiliki rasa yang sama. Tinggal menunggu waktu saja.." Kata Sakura.
"Hm, benar rupanya. Sai ternyata bisa jatuh cinta juga.. Tapi, kau tidak terlalu terlihat bersemangat. Bukannya biasanya kau akan menari-nari kegirangan jika pekerjaanmu selesai?"
"Aku senang, aku bahagia akhirnya temanku mendapatkan orang yang disukainya. Tapi karena ini bagian dari pekerjaanku, jika selesainya terlalu cepat seperti ini rasanya kurang greget.. "
"Tenagamu terpakai sedikit.."
"Kau benar.. Hah…"
"Mungkin sudah waktunya kau pensiun, Sakura… Bukankah sebaiknya kita focus belajar? Sebentar lagi kita akan lulus, kita juga perlu masuk perguruan tinggi juga, kan?"
"Hoho, apa aku sedang bermimpi bisa mendengarkan kata-kata seperti itu keluar dari bibir seorang Naruto?"
Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia itu setipe dengan Sakura. Bodoh, berotak minim, malas belajar, dan alergi perpustakaan. "Ibuku yang bilang.."
"HAHAHA.. Bibi Kushina memang keren.. Bisa membuatmu kwalahan seperti ini…"
"HAH, resiko memiliki ibu cerewet…"
"Aku akan mengadu pada Bibi Kushina…"
"Katakan saja, toh ibuku memang sudah cerewet dari lahir…"
HAHAHAHA…
Naruto meregangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku. Ia lantas menyandarkan kedua tangannya bertumpu pada pembatas balkon. Ia menatap sekeliling sekolahnya yang memiliki halaman sangat luas itu. Matanya mengamati dengan teliti setiap sudut sekolah yang mampu matanya tangkap. Ia melihat sosok Sasuke sedang berjalan santai menuju gedung kelas XII.
"Ne Sakura…"
"Ya?"
"Lihatlah!" Naruto menunjuk ke arah Sasuke. Sakura mengikuti arah tangan Naruto. "Itu Sasuke, kan? Dan juga, di belakangnya ada Hinata?" Kata Naruto.
"Waah, kemajuan yang pesat rupanya…"
"Masaka… Kau sengaja membuat mereka berangkat bersama?"
"Hm, tentu saja.."
"Kau yakin akan hal itu?"
"Hm, aku yakin. Kira-kira apa yang mereka lakukan jika mereka berduaan di kreta yang sama ya? Apa Sasuke yang dingin sama cewek akan menyapa duluan Hinata? Apa Hinata yang pemalu mengajak Sasuke bicara? Itu pasti so sweet kan, Naruto-kun?"
Naruto menghela nafas. Ia tidak tahu harus memperingatkan Sakura dengan cara apa lagi. "Aku harap kau tidak terlalu jauh bermain dengan perasaan mereka, Sakura…"
"Gomen Naruto-kun, aku sudah sejauh ini dan rasanya sulit untuk kembali…" Sakura justru menunjukkan senyum terbaiknya. Kalau sudah begini, Naruto bisa apa?
Sasuke sudah sampai di depan kelas XII-A. Ia melihat Sakura sedang bercanda dengan Naruto. Naruto berangkat pagi? Itulah yang mengganggu fikiran Sasuke. Bagaimana bisa seorang pemalas seperti Naruto menjadi begitu rajin. Apa Nauto membantu Sakura dalam pengintaian? Banyak pertanyaan yang beputar di otak jenius Sasuke. Tapi sayang, otak jeniusnya tidak bisa menemukan jawaban memuaskan untuknya.
Sasuke berjalan menghampiri Sakura. Hinata yang mengekor di belakangnya lantas permamitan untuk duluan masuk ke dalam kelas meninggalkan Sasuke yang berjalan melewati pintu kelas dan mendekati pada Sakura dan Naruto.
"Ohayou, Teme…"
"Ohayou, Sasuke-kun.."
"Hn, Ohayou Dobe, Sakura… Sepertinya kalian dalam mood yang bagus pagi ini." Sindir Sasuke.
"Kita sudah membahasnya kemarin, Sasuke-kun…" Kata Sakura.
"Hah, kau selalu saja ketus seperti itu! Jika seperti itu terus, kau tidak akan mendapatkan pacar!" Lanjut Naruto.
"Kehidupan pribadiku bukan urusanmu! Lagian, orang banyak senyum macam kau saja juga tidak memiliki pacar! Bercerminlah!"
Naruto terdiam. "Sasuke benar juga ya?" Batinnya miris.
"Jangan seperti itu, Sasuke-kun! Kau juga harus memikirkan gadis yang akan kau kencani. Kami akan membantumu. Katakan siapa gadis yang kau sukai?" Tanya Sakura mencoba mencairkan kekesalan Sasuke.
"Aku tidak tertarik dengan bisnis sampingan kalian."
"Haiiis, Ya sudahlah. Terserah kau saja, Sasuke. Aku ke dalam kelas dulu…" Pamit Naruto yang langsung meninggalkan Sakura dan Sasuke.
"Sudah kau selesaikan misimu dengan Ino?" Tanya Sasuke.
"He? Kau menanyaiku? Tumben sekali, biasanya kau acuh dengan pekerjaan sampinganku itu.. Kenapa? Kau menghawatirkanku?" Tanya Sakura. Benar, Sasuke malah selalu melarang Sakura melakukan pekerjaannya sebagai dokter cinta.
"Aku sudah bosan berangkat sendirian."
"Haha, kau ini.. Baru saja dua hari, tapi kau sudah mengeluh. Kau ini kekanak-kanakan sekali.." Sakura mendekatkan dirinya pada Sasuke. Mata emerladnya menangkap dasi milik Sasuke yang tak terpasang pada tempatnya. Ia merapikan dasi milik Sasuke. "Kau bahkan tidak benar memakai dasi. Jika bertemu dengan Orochimaru-sensei, kau akan dihukum…"
Sasuke menantap Sakura yang serius membenarkan dasinya.. "Biarkan saja seperti itu!"
"Tidak, imejmu akan rusak jika kau seperti ini…" Sakura menepuk pelan bahu Sasuke. Seolah memberihkan debu yang menempel di baju seragam Sasuke. Lalu ia juga merapikan tatanan rambut Sasuke yang terlihat agak berantakan di mata Sakura. "Nah, jika rapi seperti ini kan kau terlihat semakin tampan. Anak baik dan kebanggaan guru-guru haruslah seperti ini.. Rapi dan berwibawa..."
"…"
Sakura menegadahkan kepalanya. Mencoba menatap wajah Sasuke yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Ia lantas tersenyum hangat pada Sasuke. "Sasuke-kun wa kakkoii desu…" Sakura mencubit hidung Sasuke yang mancung.
"Sakit, Sakura!" Protes Sasuke karena cengkraman Sakura pada hidungnya itu tidak main-main.
Sakura tersenyum tanpa dosa. "Mengo, mengo.. (baca:gomen, tapi dibalik)"
"Belajar dari mana kata-kata sok imut itu?"
"Hm, Naruto-kun?"
"Jangan sampai kau tertular virus gilanya Naruto!"
"Yare-yare…"
"Kau sudah tertular virus bodohnya Naruto, jangan sampai gilanya juga!"
"Hidoiii.. Jika Naruto-kun mendengarnya, dia pasti kecewa.."
Suasana menjadi terdiam. Sakura hanya mengamati Sasuke yang menatapnya cukup intens. Apakah ada yang aneh dengan dandanannya pagi ini?
"Ne Sakura?"
"Hn, ada apa?"
"…"
Sakura semakin menatap Sasuke menuntut jawaban dari pertanyaannya.
"…" Rupanya Sasuke tidak tahu harus menjawab apa.
"Sasuke-kun?"
Sasuke spontan menarik Sakura ke dalam pelukannya. Sakura semakin bingung dengan tingkah Sasuke padanya.
"Ada apa?" Tanya Sakura yang masih dipeluk Sasuke meski tidak begitu erat. Sasuke mengelus lembut rambut sebahu Sakura yang Sakura ikat kuda.
"Ada kotoran di rambutmu.." Jawab Sasuke.
"Hm? Kotoran? Ah, arigato sudah membersihkannya.." Kata Sakura yang menyudahi perasaan herannya pada tingkah Sasuke.
"Sama-sama." Sasuke menyudahi pelukkannya pada Sakura. "Ayo ke kelas!" Ajak Sasuke dan merekapun berjalan memasuki kelas mereka.
"Jika seperti ini, aku benar-benar sangat khawatir.." Batin Naruto yang rupanya sedang berdiri di dekat jendela untuk mengawasi Sakura dan Sasuke. Menguping? Ia tidak menolak itu…
.
.
to be continue….
.
.
Yah seperti itulah chapter 3, ntar chapter 4 akan rada gila.
Segila apa? Segila gilanya dah..
Ntar tunggu aja dah..
Eh, tunggu, gilanya itu kayak apa? Entahlah, aku memang lagi pengen aja menulis kata 'gila'.. Haha, dasar aneh..
Mau minta maaf karena ceritanya belum terlalu mengarah ke konflik yang menunjukkan jika itu sebuah cerita yang tolol (FOOL), padahal judulnya LIKE A FOOL, harusnya penuh ketololan, kesedihan, dan air mata karena luka yang mendalam. Ntar diusahain dah..
Arigato minna sudah mengikuti cerita ini…
Review?
