Chapter 4
If u don't like it, then don't read it..
It's easy, right?
Mudah kok..
Mudah..
Kalem…
Berhubung karakter Hinata itu cocok untuk bumbu kisah, ya buatku it's no problem.. Aku memang carinya karakter yang anggun, pemalu, kebalikan Sakuralah.. Mau pake Karin? Ino? Tenten? Aneh rasanya jika harus membayangkan karakter mereka anggun dan pemalu. Lagian aku sudah menggunakan mereka di SAKURA'S LOVE STORY.. Aku ini hanya mencoba adil.. #Plllaaakk..
Masih mau kesal karena cast utama lain Hinata?
Kesallah..
Sumangga… Itu hak pribadi masing-masing.
Jika memang tidak suka akan ceritaku, tidak usah dibaca saja. Gampang kok. Malah gak bikin kesal kan?
Ini benar-benar LIKE A FOOL daah… Pas banget.. Hahaha.. Heaven Peaceeee…
Semoga Tuhan masing-masing memaafkan kekhilafan kita ya.. Gomenasai minna-tachi, maaf jika membuat banyak pihak tak nyaman...
Masih bingung in FF SS apa SH? Tapi jika membaca summarynya, harusnya udah tahu.. Kenapa jadi seperti ini?.. Bukankah yang terpenting itu bagaimana ceitanya? Ya, setidaknya itu sih menurutku sebagai penikmat cerita.
Kedo, Omoshiroi…. #AkashiModeOn
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: T+, Ecchi?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M kok. XD
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
.
.
.
SAKURA'S POV
Aku, Haruno Sakura, usia tujuh belas tahun lebih, cukup tinggi, kurus. Cantik? In between, tergantung yang menilai, jika cantik ya syukur, kalau tidak, rasanya aku ingin duduk sendirian di pojokkan.. Haha..
Punya pekerjaan sampingan sebagai dokter cinta. Tidak pernah gagal menyatukan cinta target kliennya. Selalu ceria dan pantang menyerah. Cerewet dan banyak mengeluh! Suka ice cream dan bunga sakura. Soalnya aku lahir di musim semi saat bunga sakura berjatuhan dengan indahnya menghiasi negeri matahari terbit ini…
Soal cinta, aku mengerti banyak, tapi aku sendiri belum pernah mengalami yang namanya cinta. Kenapa aku bisa memiliki pekerjaan sebagai dokter cinta? Itu karena aku banyak menonton drama-drama cinta, membaca novel cinta, mendengarkan kisah cinta, sedangkan aku sendiri membutuhkan uang juga. Aku hanya melihat hal sebagai peluang bisnis!
Di masa mudaku, aku harus bekerja keras demi mendapatkan uang. Aku ingin bisa hidup secara mandiri. Bisa hidup dengan usahaku sendiri. Maka dari itu, mumpung masih muda, aku harus belajar.
Kenapa?
Aku ini hanya anak adopsi keluarga Uchiha. Sudah sewajarnya aku tahu diri.
Ada masalah dengan hal itu jika sampai saat ini aku masih berusaha tetap mendatangkan uang? Keluarga Uchiha kekurangan uang?
Tidak!
Keluarga Uchiha itu sangat kaya, lalau kenapa aku harus bersusah payah mendatangkan uang? Padahal, apapun yang ingin aku beli, ayah Fugaku maupun ibu Mikoto pasti akan membelikannya untukku.
Lalu kenapa aku masih butuh uang? Nice question!
Apa ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi anak angkat? Anak adopsi sebagai anak bungsu di keluarga yang tidak ada hubungan darah? Ada yang tahu bagaimana sebaiknya harus menempatkan diri?
Serba tidak nyaman.. Tidak juga sih, maksudku, bagaimanapun aku tidak boleh terlalu bernyaman ria atas kesempatan Tuhan yang diberikan keadaku.
Percayalah, keuarga Uchiha itu sangat baik padaku. Mereka menyayangiku layaknya anak sendiri. Senyum hangat Ayah Fugaku dan Ibu Mikoto selalu rata, sama, untukku, Itachi-nii, maupun Sasuke-kun… Aku benar-benar bagian dari mereka.
Aku memang sangat beruntung..
Kukira setelah meninggalnya kedua orang tuaku saat kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, aku akan hidup sebatang kara dalam dinginnya kehidupan yang tak adil untukku. Lebih parah lagi, aku bahkan sempat ingin menyusul ayah dan ibu..
Aku tidak memiliki harapan hidup saat itu…
Namun Tuhan datang dan memberikanku kesempatan, kesempatan untuk lebih memaknai hidup..
Aku bisa sampai saat ini, rasanya seperti mimpi…
Menjadi bagian keluarga Uchiha adalah kesempatan Tuhan untuk mengembalikan kebahagiaanku. Tapi, jika aku terus saja duduk di singgasana kenyamanan sebagai anak adopsi keluarga Uchiha. Bukankah aku ini terlalu banyak menikmati kebahagiaan yang Tuhan berikan?
Aku tidak boleh seperti itu. Aku harus tetap terus berusaha… Tak boleh selamanya aku mengandalkan background keluarga Uchiha dalam hidupku. Aku tidak boleh seperti itu, aku harus hidup sebagai Haruno, marga yang sampai saat ini terus aku pertahankan meski Ayah Fugaku sempat meminta mengganti margaku sebagai Uchiha..
Aku akan berjuang demi hidupku!
….
Kamarku masih terlihat rapi. Apa ibu yang membersihkannya? Ibu memang sangat baik padaku. Kasih sayangnya keadaku itu setara dengan ibu kandungku. Hmm, apa dahulu persahabatan mereka sangat erat ya? Sepertinya…
Aku merebahkan tubuh kurusku di ranjang…
Nyamannya…
Pulang sekolah, badan capek, pegal-pegal menghinggapi kaki indahku. Yaelah, kenapa akhir-akahir ini aku hobi membuat badanku kelelahan? Karena pekerjaan sampinganku? Hmm, iya juga, tapi mau bagaimana lagi, itu resikonya jika aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku dan focus untuk belajar. Cita-citaku itu tinggi loh, walau aku bodoh, sebenarnya aku ingin sekolah fashion di Perancis. Mendiang ayah bilang jika di Perancis ada sekolah tinggi jurusan fashion yang bagus. Ayah dan Ibu bahkan menyiapkan tabungan untuk pendidikanku di sana. Jadi aku harus berusaha lebih giat lagi. Aku harus bekerja keras!
Satu hal lain yang lumayan membuatku merasa semakin lelah. Akhir-akhir ini aku banyak menerima pesan complain dari para fans Sasuke di sekolah. Tak hanya lewat pesan, bahkan chatting lewat FB juga. Mereka semua melayangkan banyak protes, keluhan, dan pertanyaan-pertanyaan tentang Sasuke kepadaku. Terutama mengenai kedekatan Sasuke dan Hinata. Ho, jadi mereka cepat juga menyadari jika Sasuke dan Hinata terlihat sering bersama akhir-akhir ini. Itu maha karyaku loh… Hehe.. Jika mereka tahu, aku pasti akan dilempari gelas oleh mereka! Pasti! Hiii, aku takut sekali… Kenapa Sasuke memiliki fans seperti itu? Seperti sasaeng fans di Korea saja. Maa, aku yakin itu hanya karena mereka sangat mencintai Sasuke…
Sasuke, sebaiknya jika kau sadar, bersyukurlah!
Sasuke itu fangirls-nya super banyak di sekolah. Mereka selalu saja update tentang aktivitas Sasuke. Berhunbung aku dan Naruto adalah orang paling dekat dengan Sasuke. Sudah bukan hal aneh jika aku maupun Naruto menjadi sumber berita mereka. Termasuk saat ini juga, tentang kedekatan Sasuke dengan Hinata. Aku harus menjawab apa? Menyikapi seperti apa? Aku memang mencoba mendekatkan hubungan Sasuke dan Hinata, tapi aku tidak tahu apa itu bisa dikatakan cinta. Makanya aku melakukan ini, aku hanya harus memastikannya. Semoga fans Sasuke tidak berfikiran yang tidak-tidak! Ah, sebaiknya aku diam saja..
Tunggu..
Apa Naruto itu benar ya?
Sebaiknya aku tak bermain-main dengan perasaan seseorang jika aku belum benar-benar tahu isi hati mereka…
Tapi bagaimana caranya aku bisa tahu jika aku tak memastikannya? Bukankah cara untuk mendekatkan mereka itu benar? Itu caranya, kan? Bukankah itu juga tak jauh-jauh dari pekerjaan sampinganku? Kan?
Haduuuhh…
Kenapa semakin aku memikirkan kata-kata dari Naruto membuat kepalaku pening? Apa Naruto mencampuri kata-kata itu dengan sebuah mantra aneh hasil dari kitab karangan pribadinya?
Tidak-tidak…
Tidak mungkin..
Karena Naruto itu sahabat yang baik. Ia hanya terlalu khawatir saja dengan sahabatnya.
Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti Naruto. Tak hanya baik, tapi baik sekaliiii.. Aku berharap dia menemukan cewek yang baik juga. Aku berdo'a untukmu Naruto. Haha, walaupun kau tak mendengarnya, tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu loh, dan Sasuke juga tentunya.
Sasuke maupun Naruto.. Dua cowok yang berkontribusi besar dalam kisah hidupku. Jika tidak ada mereka berdua, entah bagaimana hidupku sekarang. Dulu, aku sempat lupa bagaimana caranya tersenyum, tapi senyumku bisa kembali dengan mudahnya karena kehadiran mereka berdua. Sasuke kecil terlihat begitu polos saat meraih tanganku. Naruto kecil selalu tersenyum ikhlas kepadaku. Masa kecilku yang suram seakan kembali mekar setelah menemukan matahari yang terang.
Ukiran kenangan mereka berdua tak akan aku hilangkan. Jangankan itu, mencoba melupakannya saja tak mungkin aku lakukan. Tak akan mungkin!
..
Aku berbicara apa tapi arahnya nyambung kemana.. Resiko otak ciut dengan kapasitas memori rendah sepertiku memang wajar sih.
Sudahlah.. sebaiknya aku menikmati waktu istirahatku…
.
END OF SAKURA'S POV
.
.
"Teme, Sakura dimana?" Tanya Naruto yang kini sedang bermalas-malas ria di kamar Sasuke.
"Tidur paling.." Jawab Sasuke enteng.
"Hmm, eh Sasuke.."
"Hm?"
"Apa Sakura pernah berbicara soal cinta padamu?" Tanya Naruto tiba-tiba.
"Bukankah setiap hari yang dia bahas hanya tentang cinta?"
"Bukan masalah pekerjaan. Maksudku, tentang perasaannya. Aku sendiri tidak pernah mendapati Sakura membahas kisah pribadinya, terutama soal cinta. Apa kau tahu?"
"Tidak."
"Ayolah, kau kan lebih dekat dengannya daripada aku. Masak dia tidak pernah membahasnya denganmu? Setidaknya curhat begitu?"
"Tidak."
"Bukankah dia pernah bilang suka dengan cowok bernama Aomine Daiki ya? Teman seangkatan waktu kita di SMP. Kau ingat?"
"Ah, anak itu.."
"Sepertinya anak itu pindah di kelas tiga.."
"…."
"Itu karena kau, kan?"
"…"
"Kau berkelahi dengan anak itu dan memaksa anak itu pindah sekolah. Kau membuat Sakura menangis seharian…"
"…."
"Sasuke?"
"Anak itu hanya kurang ajar saja."
"Kau tahu, Sakura bilang, ia hanya kagum dengan kemampuan basket anak itu… Anak itu tidak ada niat jahat sedikitpun pada Sakura.."
"Semua sudah terjadi, Naruto.."
"Aku tahu, tapi tak seharusnya kau kesal seperti itu.."
"Itu hanya salah faham saja."
"Kau selalu saja menganggap enteng semua hal…"
"…"
"Aku harap kau bisa jauh lebih jujur dengan perasaanmu, Sasuke!"
"Hn."
.
.
.
Memasuki musim panas memang semua terasa cerah, saking cerahnya, jika matahari tinggi sedikit saja, rasanya semakin panas. Eh, panas? Maksudnya panas secara arti asli, bukan panas-panas yang lain.
Langit cerah, awan putih menambah kesan indah bak lukisan, matahari terlihat sedang sombong di peraduannya. Musim panas meski panas tapi ditunggu-tunggu juga.
Apa sih maunya manusia itu?
HINATA'S POV
Hampir setiap pagi aku naik kereta yang sama dengan laki-laki yang aku sukai. Aku memuja ketampanannya yang tidak wajar itu. Dia sangat baik padaku. Dia selalu membantuku jika aku meminta bantuan padanya. Rasanya sangat bahagia jika orang yang disukai mau melihat, mendengar apa yang diucapkan…
Siapa yang tidak mengenal sosok paling popular di KIHS? Sosok paling dipuja anak-anak cewek yang melihatnya.. Mereka pasti akan jatuh cinta hanya dengan sekali melihatnya.
Ya, laki-laki itu adalah Sasuke Uchiha. Sang flower boy sekolah..
Awal bertemu saat upacara penerimaan siswa baru dua tahun lebih yang lalu. Aku dan dia menjadi perwakilan siswa baru. Sasuke menjadi siswa dengan nilai tertinggi di antar semua siswa baru laki-laki, bahkan di seluruh siswa yang mengikuti seleksi penerimaan siswa baru. Sedangkan aku? Aku memang masih di bawah Sasuke, tepatnya di nomor 6, tapi aku tertinggi untuk semua siswi perempuan yang mendaftar.
Dia berpidato dengan sangat baik. Dia bahkan mampu menghipnotis seluruh penjuru aula raksasa KIHS..
Termasuk diriku yang terhipnotis olehnya.. Pesonanya terlalu kuat..
Awalnya aku rasa Sasuke itu adalah cowok yang sulit didekati mengingat bagaimana matanya yang terasa dingin saat memandang. Ya, toh benar, dia memang tipe laki-laki yang sangat dingin. Jujur saja, aku cukup takut dengannya..
Lalu kenapa aku menyukainya?
Saat itu, mulai saat itu, aku jadi lebih sering mengawasinya. Ini pertama kalinya aku merasa tertarik dengan seorang laki-laki. Aku memang normal, hanya saja aku sangat pemalu dan belum mengerti apa itu perasaan tertarik pada lawan jenis. Apakah belajar dan les yang membuatku seperti itu? Entahlah..
Aku mengawasinya dari jauh dan saat itu aku menemukan fakta yang tak aku lihat dari keseharian Sasuke…
Sasuke bisa tersenyum hangat…
Aku menyukai senyuman itu dan aku berharap jika suatu saat nanti Sasuke akan memberikan senyuman hangatnya padaku. Hanya padaku... Saat itu aku memang sangat mengharapkannya.. Impian yang konyol bukan? Tapi itu sangat berarti untukku…
Hanya saja, aku juga merasakan sakit yang sama waktu itu…
Aku memang senang, bahagia karena ternyata Sasuke memiliki senyuman yang hangat, tapi rupanya senyuman itu hanya Sasuke tunjukkan kepada seorang gadis yang selalu saja ada di samping Sasuke. Gadis yang Sasuke lihat itu katanya tinggal di rumahnya.. Aku mulai mencaritahu gadis itu. Rupanya gadis itu bermana Sakura, Haruno Sakura.
Banyak siswa lain yang bilang jika mereka itu bersaudara. Memang bisa juga sih, kan mereka tinggal bersama… Tapi marga mereka berbeda. entahlah, aku tidak tahu…
Lagi, aku tetap merasa sedih…
Sakura itu salah satu tipe cewek yang sangat ceria, dia juga popular di sekolah ini, Dia terlihat sering bersama dengan anak-anak terkenal di sekolah ini. . Sai sang ketua klub seni, Gaara dari klub tenis, bahkan Naruto dari klub basket… Dia memiliki banyak teman. Sudah seperti itu, Sakura itu sangat cantik. Tinggi, langsing, dan memiliki tabiat yang baik. Bukan suatu keheranan jika dia memiliki banyak teman dan terkenal..
Banyak yang mendekati Sakura, sepertinya Sasuke juga seperti itu. Kurasa, Sasuke hanya melihat Sakura saja… Rasanya aku jadi iri dengan Sakura. Jika aku harus membandingankan diriku dengannya itu bagai langit dan bumi. Aku kaku, pemalu, dan tidak memiliki banyak teman, terutama teman laki-laki…
Aku memang tidak tahu pastinya. Rasanya hanya opiniku saja…
Melihat Sasuke selalu bersama Sakura, bahkan yang aku kira mereka sedang bertengkar, tapi tiba-tiba mereka berbaikan dan tertawa bersama… Kulihat Sasuke juga sangat perhatian dengan Sakura. Selalu menolong kesulitan Sakura, sampai saat ini pun, mereka terlihat selalu bersama, selalu seperti itu…
Itu menggores hatiku…
Aku bahkan pernah menangis seharian di rumah…
Aku memang bodoh, merasa cemburu pada Sakura. Padahal Sakura sendiri tidak tahu apa-apa. Aku hanya bisa memendam cinta sebelah pihakku pada Sasuke…
Tidak ada yang tahu aku menyimpan perasaan besar pada Sasuke… Tak satupun yang tahu… Hanya diriku..
Dan itu membuat hatiku terasa menyakitkan..
Hanya memandang dari jauh, mengagumi dari jauh, menikmati sensasi jatuh cinta sendirian, miris sekali rasanya…
Aku sangat menyukai Sasuke, ah, aku benar-benar mencintainya sampai-sampai membuatku tak mengerti…
Namun aku menerima perasaan seperti itu.. Jatuh cinta memang tak selalu bahagia.. Untuk cinta pertamaku memang menyakitkan, tapi tak apa, aku tak menyesali memendam cinta sepihak pada Sasuke..
Sama sekali tak menyesali perasaan itu…
Aku memang sempat pernah ingin menyerah untuk mencintai Sasuke diam-diam. Aku ingin berhenti mencintai Sasuke. Saat kelas XI, kami dipertemukan di kelas yang sama. Dia mengajariku cara menembak bola basket dan saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Sasuke tersenyum padaku. Hanya padaku… Harapanku terkabul. Aku tidak bisa melupakan senyuman itu sampai sekarang bahkan sampai terbawa mimpi…
Semenjak saat itu, aku memutuskan untuk tetap mencintai Sasuke..
Saat ini Tuhan memberiku kesempatan untuk bersama sekelas lagi dengan Sasuke. Ini tahun terakhirku bisa bersama Sasuke. Jika aku ingin terus bersamanya, memilikinya, aku harus lebih berusaha lagi..
Ini memang agak memalukan, tapi jika tidak seperti ini, aku benar-benar akan terlihat seperti orang tolol yang memendam rasa begitu lama pada akhirnya orang yang disukai tidak tahu..
Aku pasti akan menyesal seumur hidupku…
..
Apa Sasuke tidak tahu ya jika sudah dua tahun lebih selalu di kreta yang sama? Dari dulu sudah di kreta yang sama… Tapi rasanya dia memang tidak menyadarinya, dia selalu sibuk membalas candaan dari Sakura..
Apa dunianya dipenuhi Sakura ya?
Tidak juga!
Aku yakin itu!
Buktinya, sudah seminggu lebih aku melihat Sasuke berangkat sendirian. Tanpa Sakura! Apa mereka sedang bertengkar? Ie ie, mereka tetap bersama di sekolah…
Bukankah harusnya aku bersyukur? Walau Sasuke tak menyadari aku di kereta yang sama, tapi rasanya menyenangkan bisa memandang wajah Sasuke diam-diam seperti ini.. Aku senang berjalan mengekor di belakang Sasuke..
Aku harap ada keajaiban yang menyambungkan jalan kita, Sasuke-kun…
END OF HINATA'S POV
.
..
.
Hinata selalu berangkat bersama Sasuke. Ia memandang jauh Sasuke yang berdiri di desakkan para penumpang lain. Sasuke memang menyadari keberadaan Hinata akhir-akhir ini, tepatnya semenjak ia berangkat sendiri tanpa Sakura. Rasa memang membosankan, tapi ia menjadi mengedarkan pandanganan ke penjuru gerbong untuk menghilangkan kebosanannya. Dan ia menemukan sosok Hinata yang selalu duduk menunduk tak jauh darinya.
"Gadis yang aneh tapi dia lumayan manis.." Batin Sasuke. Itu yang ada di benak Sasuke mengenai sosok Hinata yang sekarang ini menjadi teman sekelasnya lagi.
.
…
.
.
.
Di kelas XII A yang terlihat cukup santai pagi ini…. Siswa-siswa penghuni kelas XIIA sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bukan belajar, lebih tepatnya melakukan hal-hal yang tidak penting, jauh dari kesan anak sekolah. Tiduran di meja meski masih pagi, menggosip layaknya talkshow, menikmati sarapan, bermain game online, ada juga yang menari-nari gerakan dance Kpop?
Ayolah, itulah serba-serbi hidup anak SMA. Jika sudah dewasa, akan menjadi bahan obrolan menarik loh..
Setidaknya, ada hal yang dikerjakan sembari menunggu sang guru datang mengajar…
"Ohayou minna…" Sapa seorang guru biologi yang selalu saja menggunakan masker yang katanya digunakan untuk menangkal serangan bakteri jahat dan virus. Kakashi-sensei.
"Ohayou sensei…"
"Genki desuka?" Tanya Kakashi-sensei.
"Hai, genki desu…"
"Sensei, sudah tidak perlu basa-basi!" Kata seorang dari arah barisan bangku tengah, Neji Hyuga.
"Gomen ne minna, sensei telat masuk, tadi sensei tersesat di jalan yang dinamakan kehidupan.. Tadi sensei di jalan bertemu dengan nenek-nenek yang kesulitan menyeberang jalan, sensei yang tidak tegaan, wajib hukumnya untuk menolong nenek yang sudah renta itu karena termakan usia. Lalu, ada seekor kucing yang tersangkut di pagar, karena sensei pecinta binatang, makanya sensei lekas menolongnya. Sensei bahkan rela memanjat dan mengambil resiko jika terjatuh. Sensei sampai mempertaruhkannyawa sensei untuk menolong kucing kawaii itu.. Setelah itu, lalu sensei…" Kata Kakashi-sensei yang mencoba menjelaskan apa yang terjadi padanya pagi itu. Ia memang terlihat seperti guru yang pemalas tapi sebenarnya ia adalah seorang wali kelas paling peduli pada siswanya.
Sekelas sudah biasa mendengar alasan semacam itu. Saking biasanya sampai-sampai berlalu begitu saja… dasar anak kurang ajar.
"Kami sudah tahu kerumitan hidup sensei, jadi lebih baik sensei tak perlu menjelaskannya lagi. Itu akan membuat bosan karena terlalu terbelit-belit. Lagipula, saya yakin sensei akan menggunakan alasan yang sama seperti yang kemarin-kemarin.." Kata Naruto.
Kakashi-sensei hanya tersenyum mendengar penuturan dari Naruto, keponakannya yang 'nakal' itu. "Haha, benar juga katamu, Naruto… Nah, sebaiknya pagi ini kita ngapain?"
Seisi kelas langsung memutar mata bosan berjamaah. Sensei mereka yang satu ini memang selalu seperti itu. Selalu lupa karena terlalu sibuk membaca Icha Icha Paradise favoritnya. Sudah mudah lupa, Kakashi juga sangat suka bercanda meski selera bercandanya sangat buruk.
"Ya ampun, sensei…"
"Loh, sensei kenapa malah bertanya? Sensei kan guru, harusnya sensei lebih tahu daripada kami…"
"Huuuuu…"
"Oh, jadi kalian masih menganggapku sebagai guru kalian rupanya.." Kata Kakashi-sensei.
"Tentu saja!"
"Woooaah, sensei merasa tersanjung… Baiklah karena mood sensei sedang bagus-bagusnya, sensei akan memberikan kabar baik untuk kalian semua. Berhubung sudah memasuki musim panas, kalian sudah menjalankan ujian kalian 3 minggu yang lalu, kalian juga sudah belajar dengan semangat, Hasil ujian kalian juga sudah kalian ketahui 2 minggu yang lalu, kalian juga sudah ikut perbaikan seminggu yang lalu, lalu kalian…"
"Sensei, to the point saja! Terlalu panjang!" Seru Sakura dari pojok belakang.
"Hoho, Sakura sepertinya kemampuan bahasa Inggrismu meningkat!" Puji Kakashi-sensei.
"Arigato sensei atas pujiannya. Saya benar-benar tersanjung.." Kata Sakura tersenyum senang dipaksakan menanggapi 'pujian' dari Kakashi. Kakashi memang selalu seperti itu. Bagaimanapun di luar sekolah, Sakura cukup dekat dengan pamannya Naruto yang satu ini.
"Hah, kalian memang tidak bisa diajak ngobrol panjang. Baiklah, intinya setelah melalui ujian kehidupan sekolah yang menyedihkan, kalian sudah di bebaskan dari tugas sekolah kalian mulai hari ini! Itu hasil dari rapat sekolah seminggu yang lalu! Kalian senang?"
"YEY…"
"HORE…"
"YUHUUU"
"LALA.. YEYEYE.. LALALA YEYEYE"
Seisi penghuni kelas langsung happy huray ria menanggapi berita dari Kakashi. Rasanya seperti beban 10 ton menghilang dari tubuh. Ada yang biasa saja macam Sasuke, Neji, dan Gaara. Ada yang menari-nari geje macam Karin dan Tenten. Ada juga yang menunduk penuh penderitaan? Selain itu, ada pula yang terlihat tak perduli dan lebih memilih tidur macam Shikamaru.
Kakashi mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Anak didiknya memang menggemaskan. Lalu ia tersenyum penuh arti.
"Tapi…" Kata Kakashi-sensei.
"Tapi?"
"Masih ada tapinya?"
"Tapi apa, sensei?"
Yang menunduk penuh penderitaan sudah tahu apa itu.. Aura suram jelas terlihat memancar dari mereka.
"Yang nilainya di bawah standar pasti sudah tahu apa maksudnya, kan?" Tanya Kakashi-sensei. Seisi kelas terdiam. "Kalian akan mendapatkan kelas tambahan selama seminggu penuh mulai senin depan sementara yang lain silahkan mulai menikmati liburan musim panas kalian!"
"Sudah kuduga…" Batin Sakura, Naruto, Ino, Kiba, Lee, Chouji secara bersamaan.
"Nah, hari ini kalian bebas ngapain saja! Jika ingin pulang, tunggulah tanda bell dari sekolah! Jangan membolos! Kasihanilah guru kalian ini yang selalu mendapatkan ceramah dari guru BP kalian! Mengerti?"
"Mengerti, sensei.."
"Baiklah, sensei ke kantor dulu. Selamat menghadapi masa muda kalian! Jaa…" Pamit Kakashi-sensei.
"Arigato gozaimasu…"
.
….
.
.
Sepeninggal Kakashi… suasana kelas kembali rame. Suara gaduh tak hanya terdengar dari kelas XII A, tapi juga dari kelas-kelas yang lain. Mereka sibuk dengan rasa bahagia akan adanya libur musim panas yang hampir sebulan itu.
"Hah, Sasuke ke toilet, lalu katanya dipanggil Jiraiya-sensei untuk membantu menerjemahkan bahasa Inggris. Dasar anak pintar kesayangan para guru!... Naruto? Dia kelaparan jadi sudah pasti mencari ramen... Ino? Hah, aku lupa, tadi aku menyuruhnya mengantarkan kuas ke ruang klub seni. Sudah pasti karena aku akan mendekatkan dirinya dengan Sai… Mendokusai, kelas cukup sepi. Yang lain pada kabur ke kantin dan ke perpust sembari menunggu bell pulang. Sementara diriku? Hanya berdiam diri di kelas seperti orang 'ilang'.." Gumam Sakura sembari meletakan kepalanya di mejanya.
Gaara si kepala merah mendekati Sakura yang sedang meletakkan kepalanya di meje sambil menatap jendela luar. Ia menempelkan ice cream coklat yang ia bawa ke pipi Sakura.
Sakura terlihat kaget karena sensasi dingin dari ice cream menerpa pipi putihnya.
"Gaara-kun! Moo…" Kesalnya.
"Gomen, jangan marah nanti cepat tua dan semakin mirip dengan emak-emak!... Ini, dozo.." Gaara memberikan ice cream yang ia bawa kepada Sakura.
Sakura menerima ice cream itu.. "Ice cream? Hm, apa ini ganti dari yang tempo hari?"
"Tidak juga, aku memberikannya khusus untukmu…"
"Baiklah, arigato.."
"Doitashimashite.."
Gaara lalu menjatuhkan pantatnya dan duduk di samping Sakura. Mereka berdua lantas menikmati ice cream coklat yang Gaara beli bersama.
Rasa dingin es berpadu dengan manisnya coklat menari-nari di lidah. Sakura sangat menyukai rasa itu. Rasa coklat. Rasanya dengan makan coklat, mood-nya akan semakin baik. Termasuk rasa suramnya hari ini sepertinya sedikit berkurang.
"Kudengar kau ikut kelas tambahan?" Tanya Gaara.
"Hm, begitulah. Sudah biasa kan buat otak pas-pasan dan alergi perpustakaan macam diriku?"
"Kau selalu saja terlihat santai, Sakura.."
"Lha aku kan memang sudah bodoh dari sononya.."
"Jangan menyerah akan keadaanmu, kau bisa memperbaikinya. Jika kau berusaha, kau akan mendapatkannya, Sakura. Kau sudah pernah melakukannya, kau pasti bisa melakukannya lagi! Kau hanya perlu niat yang tulus dan semangat untuk menggapainya.."
Sakura mendengarkan dengan seksama pencerahan dari Gaara. Entah kenapa jika Gaara berbicara itu seperti memiliki charisma tersendiri untuk menyedot perhatian. Gaara memang mempesona dengan kata-kata indahnya dan Sakura mengakuinya.
"Nah, Gaara-kun.."
"Ya?"
"Kau ini terlalu baik hati sekali.."
"Terima kasih.."
"Hah, aku pasti akan berusaha.. Lagian ya, walau mendapat kelas tambahan itu merepotkan, tapi aku senang kok daripada di rumah kepanasan.."
"Kau selalu terlihat ceria apapun keadaanmu. Tapi jika kau murung dan bersedih, itu sama sekali tidak cocok denganmu…"
"Aku harus selalu bersemangat mumpung masih muda.. Semangat masa muda!.. Etto, sepertinya aku pernah dengar kata itu…"
"Itu motto sacral Guy-sensei, guru olahraga kita. Lee juga sering mengumandangkannya di kelas, dan tadi Kakashi-sensei juga memakai motto itu.."
"Haha, benar juga, Kakashi-sensei kan sohibnya Guy-sensei…"
"Ne Sakura…"
"Nani?"
"Aku juga masuk senin depan.."
"Loh, bukannya kau tidak mendapatkan kelas tambahan, Gaara-kun? Jangan bilang kau masih ingin belajar lagi demi mengalahkan Shikamaru dan Sasuke. Waah, kau ambisius sekali sih…"
"Bukan seperti itu, Sakura!"
"Kirain.. Habisnya posisi 4 teratas tidak pernah berubah. Selalu saja dihuni oleh orang-orang seperti kau dan yang lainnya.. Kalau bukan seperti itu, lalu kenapa?"
"Aku harus tetap masuk untuk klub tenis. Kau tahu sendirilah.."
"Jiaaah, dasar tuan atlet.. Benar sih, akhir musim panas ini kau kan akan bertanding dengan Sasori dari Suna International High School di final kejuaraan End of Summer – Tennis Cup.."
"Aku harus giat berlatih. Sasori itu lawan yang tangguh…"
"Kalau tidak tangguh, tidak akan masuk ke final Gaara-kun!.. Seperti Gaara-kun, kau juga masuk final sudah pasti kau pemain yang tangguh juga.. Gaara-kun pasti akan menang! Ganbatte ne!" Sakura terlihat begitu semangat untuk menyemangati Gaara.
Gaara tersenyum tipis pada Sakura. Gadis ceria di sampingnya ini memang selalu membuat hatinya merasa lebih nyaman. Bukan keputusan yang salah istirahat kali ini ia menemui Sakura. "Hai, hai, omae mo.."
"Hai.."
Sepertinya Sasuke sedang melihat Sakura tengah mengobrol asyik dengan Gaara, seorang laki-laki yang cukup membuatnya kesal akhir-akhir ini selain Naruto dan Kakak tercintanya-hoeek..
Sasuke hanya melihat mereka dari arah pintu masuk. Kedatangannya sama sekali tak disadari Sakura maupun Gaara sekalipun. Rasanya obrolan Sakura dan Gaara sangat asyik sehingga melupakan kehadirannya. Sasuke merasa wajar jika saat ini ia merasa semakin kesal.
Kesal, sangat kesal!
Ia ke toilet, lalu menuju ruang guru yang jauhnya minta ampun dari toilet hanya untuk menemui Orochimaru-sensei, tapi nyatanya Orochimaru-sensei tidak ada di ruangannya, Anko-sensei menyuruhnya ke perpustakan untuk menemukan keberadaan Orochimaru-sensei, setelah sampai di perpustakaan, Orochimaru-sensei hanya memberikan hardcopy naskah yang harus ia translate ke bahasa Inggris saja, katanya ia boleh mengerjakannya di rumah. Setelah berjalan bolak-balik yang membuat kakinya lelah, belum lagi banyak anak-anak SMA KIHS yang menjadi fans-nya mencegatnya hanya untuk bertanya, basa-basi, sok dekat dengannya. Itu merepotkan bagi Sasuke. Setelah itu, ia harus kembali menaiki tangga, dan mendapati pemandangan yang tidak mengenakan pandangan matanya. Wajar kan ia merasa kesal?
Ada apa denganmu, Sasuke?
Sasuke bilang itu karena ia kelelahan, muter-muter jalan kaki, sama melihat Gaara!
Alasan yang wajar, kah?
Bagi Sasuke itu wajar-wajar saja!
Awal musim panas yang panas semakin menambah panas hatinya Sasuke. Dengan langkah kesal, ia berjalan meninggalkan kelas XIIA. Berjalan agak cepat menuju kantin belakang sekolah. Ia menggambil uang dari saku celanannya untuk membeli ice cream coklat. Sebungkus ice cream coklat! Bukankah Sasuke tidak menyukai makanan yang manis-manis? Lalu kenapa ia membeli ice cream coklat kesukaan Sakura.
Merindukan Sakura?
Entahlah, otaknya menyuruhnya untuk memakan ice cream yang dingin agar pikirannya yang memanas semakin mereda.
Ngadem, heh?
Mendinginkan pikiran memang memiliki banyak cara ya? Ada yang pernah melakukannya dengan merendam kepala di washtafle seperti yang Naruto lakukan? Jika ada yang belum, mungkin saja hal ini bisa dijadikan referensi.
Setelah membayar ice cream coklatnya, Sasuke berjalan ke taman belakang yang selalu saja sepi meski sekolah sedang bebas. Sasuke yang kesal selalu memancarkan aura yang sulit di dekati. Rasanya, seolah ia memiliki kemampuan untuk membuat benteng transparan agar semua orang tak bisa mendekatinya.
Sasuke memang menyukai kesendirian.
Tidak, lebih tepatnya keramaian. Ia senang kok kalau ada Sakura meski Sakura cerewet. Lagi, nyatanya ia betah-betah saja bersahabat dengan Naruto, sang master berisik!
…
Sesuai dengan apa yang Sasuke pikirkan, ternyata taman belakang memang tempat paling cocok untuk menyendiri selain di atap sekolah. Jika Sasuke boleh berhyperbolic, rasanya atap sekolah dan taman belakang sekolah adalah tempat pribadi miliknya. Iya kok, setiap ia berada di tempat itu, tidak ada seorang siswa sekolah yang berani mendekat padanya.
Sasuke duduk di sebuah bangku taman. Ia menghela nafas beberapa kali. Sudah bosan, ia juga sangat kesal. Dengan asal ia membuka bungkus ice cream yang dibelinya
Sasuke berniat memakan ice cream coklat manis yang tak disukainya. Sensasi manis bercampur dingin menggoyang lidahnya sesaat setelah ia menggigit ice cream itu.
"Ini terlalu manis. Kurasa aku memang tak menyukai rasa manis. Ini rasa yang mengerikan!" Gumam Sasuke dalam kesendiriannya.
"Sasuke-kun, hah, hah, yappari, kau memang di sini rupanya. Aku mencarimu kemana-mana!"Kata Sakura yang terlihat terengah-engah karena kelelahan.
"Apa ia berlari mencariku?" Batin Sasuke. "Kenapa kau mencariku?" Tanya Sasuke dengan nada yang cukup kesal.
"Kau tanya kenapa? Hoii, salah ya jika aku mencarimu?"
"Hn."
"Hidoii!"
"Bukannya tadi kau sedang… Ah, kau mau ice cream?" Tawar Sasuke. Sasuke malas membahas laki-laki yang membuatnya kesal.
Mata Sakura terlihat berbinar-binar saat melihat ice cream coklat di tangan Sasuke. "Jika aku tak ke sini, aku yakin kau akan membuang sisa ice cream itu, kan?"
"Hn."
"Sudah aku bilang kan, jika tak suka yang manis-manis sebaiknya jangan dibeli, jangan dimakan! Ini akan sayang. Bagaimana jika tak ada aku? Kau hanya akan membuangnya begitu saja di tempat sampah…?"
"Jika kau tidak mau, buang saja!"
"Iya aku makan!" Kata Sakura yang menyambar ice cream dari tangan Sasuke. Ia lantas duduk di sebelah Sasuke mecoba menikmati ice cream kesukaannya. "Berlari mencarimu ternyata membuatku merasa haus. Arigato Sasuke-kun sudah memberiku ice cream, ini sangat membantu menghilangkan rasa hausku…"
Sakura tersenyum senang. Sasuke tahu jika senyuman Sakura itu memang sangat manis di matanya. Mungkin juga di mata orang lain. Baginya, Sakura itu sangat cantik karena selalu saja ceria. Ia akan menyimpan pengakuan kecantikannya Sakura hanya untuk dirinya sendiri! Hanya untuk dirinya! Camkan itu!
Sasuke memperhatikan setiap inchi ice cream yang Sakura gigit. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, ice cream itu memasuk ke dalam mulut Sakura. Sakura memejamkan matanya tatkalah ice cream favoritnya itu menari-nari di mulutnya. Manis, gurih, renyah, dan dingin. Paduan unik dari ice cream memang sangat lezat. Bodoh sekali jika Sasuke tak menyukainya.
Sakura terlihat sedang mengulum dan menjilati ice cream coklat itu. Sasuke yang ada di sampingnya hanya mengamati apa yang Sakura lakukan tanpa ada niat mengganggu aktivitas Sakura. Sasuke yakin jika Sakura tengah berusaha menghilangkan rasa lelah dan hausnya.
Sakura sangat menikmati ice creamnya! Perlahan-lahan..
Mata Sasuke tak berpaling sedikitpun dari Sakura. Sakura memang manis. Sasuke memfokuskan pandangannya. Ia menuruni pandangannya dari jidat, mata, hidung, lalu bibir Sakura yang tengah menikmati ice cream.
Ice cream itu terlihat semakin manis karena dimakan Sakura? Pertanyaan aneh dari Sasukepun muncul. Ia memang tak menyukai manis. Tidak menyukai sama sekali! Tapi, sisa ice cream itu terlihat semakin manis saat menempel di bibir Sakura. Kenapa rasanya itu terlihat semakin menggoda? Setiap kali Sasuke mengamatinya, rasanya semakin menggoda saja. Menggugah asa untuk ikut menikmatinya. Membuat penasaran, apakah rasa manis yang membuatnya tergoda itu juga akan dibencinya?
Bagaimana rasanya?
Sasuke benar-benar sangat penasaran.
Rupanya otaknya yang super jenius itu berusaha membuat berbagai macam kemungkinan. Ia membayangkan banyak hal!
Sakura menoleh ke arah Sasuke yang sedari tadi terdiam mengamatinya. Sakura memang tahu jika Sasuke itu tidak banyak bicara, tapi ini sudah hampir sepuluh menit berlalu, kenapa Sasuke tak kunjung membuka mulutnya? Bahkan, saat ia menoleh ke arah Sasuke sekalipun, Sasuke tetap saja asyik terdiam. Apa Sasuke melamun?
"Sasuke-kun?" Panggil pelan Sakura.
Entah mengapa, panggilan suara pelan dari Sakura terdengar menggoda juga di telinga Sasuke. Ekspresi bingung Sakura dengan mulut menganga tipis terlihat sangat seksi di matanya. Ditambah dengan sisa ice cream di ke dua bibir tipis milik Sakura yang memang sudah membuatnya penasaran, semakin membuatnya penasaran. Apalagi saat ini Sakura tengah berada tepat di depannya. Wajahnya tak sampai setengah meter darinya. Rasanya itu semakin menggodanya.
Menari-nari, melambai-lambai, meminta untuk segera dijamah..
Dijamah?
Sasuke, kau kehabisan kosa kata?
Ini gila…
Sasuke tak tahan..
Dengan gerakan cepat, Sasuke meraih tangan kiri Sakura dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menahan kepala Sakura agar lebih mendekat dengannya.
Sasuke mendaratkan bibirnya di bibir Sakura..
Sasuke mencium Sakura!
Ia menciumnya..
Sakura melebarkan kedua mata emerladnya. Ia sangat kaget dengan perlakuan Sasuke terhadapnya.
Sasuke menempelkan bibirnya di bibir tipis Sakura yang terdapat sisa ice cream. Mencoba menyesap, menikmati rasa yang sedari tadi menggoda pikirannya karena rasa penasaran yang berkepanjangan. Ia bahkan memejamkan kedua matanya untuk menikmati rasa yang membuatnya sangat penasaran itu.
Manis, sangat manis, sesuai yang Sasuke bayangkan..
Hanya saja, rasa manis ini terasa berbeda, ini memang manis, tapi ia tak bisa melepaskannya. Ini berbeda, ini lain. Bagaimana ya? Sasuke bahkan kesulitan menjelaskannya.
Ciuman dari Sasuke berlangsung cukup lama. Satu menit lebih terjebak dalam situasi seperti itu rasanya sangat lama. Entah bagaimana rasanya, hal yang sama menghinggapi hati Sakura. Ia juga tidak tahu apa ini. Dirinya dicium Sasuke? Sasuke mencium bibirnya! Apa yang bisa ia komentari tentang perlakuan sahabat, sekaligus kakak angkatnya saat ini? Apa?
Sakura bingung, tapi, rasanya seperti di terpa angin yang berhembus mesra di wajahnya. Seperti ada jutaan kupu-kupu menggelitik telinganya. Ini benar-benar aneh. Jika itu sebuah rasa kebahagiaan, kenapa jantungnya berdetak lebih kencang? Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu.
Tidak sakit, tapi ini aneh, ini tak pernah Sakura rasakan…
..
Seharusnya masih ada segigitan lagi ice cream itu akan dihabiskan oleh Sakura. Tapi karena tiba-tiba Sasuke menciumnya, sisa ice cream itu terjatuh begitu saja. Seolah menjadi sosok paling tak diinginkan di situ. Padahal, jika lebih sok romantic, sebenarnya ice cream itu menjadi saksi biksu ciuman pertama mereka.
..
Lebih dari semenit ciuman itu berlangsung, Sasukepun melepaskan bibirnya dari bibir Sakura. Ia lantas melihat Sakura yang terbengong karena perbuatannya. Sakura terlihat seperti orang bodoh karena ekspresi kagetnya.
"Ada sisa ice cream di bibirmu.." Kata Sasuke akhirnya. Ia lantas mengalihkan wajahnya untuk menghindari tatapan penuh tanya Sakura. Ia tidak mau menciptakan kecanggungan dengan Sakura.
Keheningan terpecah saat Sakura mendengar ucapan dari Sasuke. "Hah? Oh, ah.. ya.." Sakura tidak tahu harus bersikap apa. Jangankan bersikap, mengeluarkan kata-kata saja rasanya sulit..
Ternyata hanya karena ada sisa ice cream di bibirnya, makanya Sasuke menciumnya? Sakura lantas memegangi dadanya yang berdetak kencang itu. Lalu kenapa dadanya masih saja terus berdetak kecang? Semakin ia mengeratkan pegangannya pada dadanya, semakin cepat jantungnya berdetak.
"Jika itu hanya karena sisa ice cream, kenapa rasanya aku ingin menangis?" Batin Sakura.
.
.
.
….
.
to be continue….
.
.
Horeeee… udah chapter 4.. tak kusangka sampai sejauh ini… Gak nyangka, bikin suatu ketololan bisa bertahan sampai sejauh ini… MINUM SUSU, BIAR KUAT kata Dodit, ngutip di stand up comedy Hahahha… ini dunia cyber neng, bebas kok mau komentar gimana. Lha, orang kitanya juga gak bisa liat kayak apa orangnya. Haha... Positif negetif itu biasa kok… Tergantung Bagaimana orang mau menyikapinya.. Sebaiknya, menyikapinya dengan positif saja. Aku sih.. Ya, pokoknya minta maaf aja yak karena banyak bikin pihak kesal.
Pesan untuk chapter ini: Jangan ngebayangin yang aneh-aneh ya.. Haha.. terserah ding, toh ini memang rated T+ semi M.. Haha.. yang masih kecil, mending tak usah dilanjutin, karena akibat fatalnya bukan tanggungan penulis. Lagi, yang gak suka cerita ini, silahkan, skip aja, gak usah dibaca juga gakpapa kok. Santai saja…. apa lagi ini?
Note: Aomine Daiki dari Kurobas
Ini rencana mau FF rated M, Tapi aku lebih suka jika disensor.. tapi agak sulit mendapatkan feel-nya… Terus bagaimana? Saya ini mathih poloth kok… #sehunCadelModeOn
Besoklah, insyaallah, gak janji.. FF ini karena semi M, udah gitu genrenya hurt, sakit hati, judulnya jg irony sekali.. jadi aku akan berusaha… semangat pantang menyerah dan berapi-api hitam kayak amaterasunya Saskey.. hahha
.
sampai jumpa di chapter selanjutnya….
Karena akan mendekati pasangan asli.. yaelah, udah bnyak hints sebenarnya.. yg ngebaca penuh perasaan, dari hati, tahu kok ini FF bakal ke arah mana…
Jaa na…
