Chapter 5

.

.

Gomeeenn, tiba-tiba naikin rated menjadi M, biar aman aja dah.. soalnya tidakkah kalian berfikir jika FF ini rada berbau kearah sana.. errr itu loh…

Emang nanti ada adegan yang gitu sih.. jadi emang cocoknya itu rated M!

Hussshhh.. hussshhh,.. yg masih dibawah umur, gak disaranin baca ya… Bahaya, kataku sih..

.

.

Sehun memang bukan milikku. Aku sadar diri meski kita memiliki kesamaan 'Cadel'.. Aku cukup tersakiti karena Luhan kabur ke negeri Kungfu Panda, meninggalkanku yg saat itu masih cinta-cintanya ma dia, makanya aku harus move on darinya meski sangat sulit dan butuh perjuangan hidup dan mati mengingat betapa besarnya rasa tresnoku dengannya. #preet bgt dah…. Hingga pada suatu waktu, aku bertemu cowok rambut merah memiliki jimat sacral berupa gunting keramat. Dia membuatku jatuh cinta dan aku memutuskan memilih untuk mengejar cintanya, Akashi si iblis merah.. XD Hahaha.. #OrangGilaNgarangCerita. Gpp ini dunia FF. Apa aja bisa… lalalala

Tapi, wajib tahu ya, Sehun itu milik noona kok.. #apaLgIni

.

.

Akashi: "Kau terlihat senang akhir-akhir ini.. Apa karena komtroversial itu sedikit berkurang rasa kesalnya?"

Sata : "Tentu saja! Itu bisa jadi penyemangat, selain itu, suasana ceritanya jadi agak terlalu panas.. menurutku sih.."

Akashi: "Ceritanya? Sebaiknya dibuat panas terus saja biar pembacanya ikutan panas. Bukankah sudah rated M?" *smirk

Sata : "HEEE, maksudnya cerita apa pembacanya yg panas, Akashi-kun?" *polos

Akashi: "Jangan sok polos! Semua pembaca FF rated M sudah ternoda matanya.."

Sata : "Iya juga ya, habisnya ceritanya bisa menuliskan hal-hal yang panas dan sexiieehh.." *badanKuPanas Sebenarnya bisa juga dengan otaknya ikut ternoda? Kan pas baca jadi bayangin yg aneh-aneh? Hayooo.. Bagaimana jika bayanginnya sama idola tercinta, contohnya aku sama Akashi, di tempat yang sepi, berdua saling mengerti, melihat-lihat alam yang murni,

di arah sana,

ada yang bergerak,

nampak besar...

mulus..

putih suci..

ada tanduknya… ?

?

?

.

Sapi?...

.

Hahaha..

Imajinasinya sudah kelewat batas…

Akashi: "Kau tak apa-apa?" *memeriksaJidat

Sata semakin merasa panas. Ya iyalah, bayangkan aja diperiksa oleh orang yg disukai. Diberi jutaan kasih sayag dan perhatian… Sudah gitu, Akashi dengan tangannya yang lembut meski sering main basket itu sedang meraba-raba jidatku.. OMG… Dia menatap mataku dengan mata sayunya.. Menatap penuh arti, sangat tegas, dan menusuk tajam… #Hooeekk, lebay bgt ini orang.. XD gak ding, lebih tepatnya ngareepp… Hiks

Akashi: "Yahari, kau memang memiliki gejala sakit jiwa, Sata-chan. Aku sudah mencurigaimu sedari awal kita kenal."

THOOOENGGG

Sata terjatuh di pojokkan dengan aura hitam yang menyelimuti. "Akashi-kun mengataiku gila.. Hikss. Padahal aku baru saja memujinya jika dia itu penuh perhatian.. Aku benar-benar Mencintainya, tapi dia sepertinya—enggak..Nasib oh nasib.."

Ya begitulah perjuangan Sata mendapatkan cinta Akashi.. #Abaikaaaannnn

,

Udah ah, selamat membaca.. semakin ke sana semakin sexieh, panas, dan semakin tolol juga..

dozo minna-tachi..

Don't like, don't read na..

just do whatever u want..

.

Gomen atas ketidak nyamanannya ya.. Heaven peace…

.

`.

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M kok. XD

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

Awal musim panas tiba..

Hari ini langit terlihat cerah. Membiru berteman putih suci yang menghiasinya. Matahari memamerkan senyum terbaiknya. Cukup terik menyinari bumi Jepang siang itu. Ya, hari ini adalah awal memasuki musim panas. Terlihat orang berlalu lalang menggunakan payung untuk melindugi kulit dari sengatan sinar matahari.

"Panas…a..a..a..a..a.a..a.a..a.a.a.a.. …." Kata Sakura di depan kipas angin.

"Kalau kau seperti itu, kau bisa masuk angin!" Kata Sasuke yang sedang duduk di samping Sakura.

"He, ini kan musim panas. Aku tidak akan terkena masuk angin!" Bantah Sakura.

"Tapi kipas angin tidak baik untuk tubuh. Apalagi kau sedari tadi di depannya, seperti memakan angin yang dikeluarkan oleh kipas itu.."

"Aku tidak memakannya, Sasuke! Aku hanya ngadem!"

"Hah, terserah kau saja!"

"Moo, AC kamarku rusak. AC kamarmu juga rusak. Yang tidak rusak hanya AC di kamar Ayah-Ibu dan Itachi-nii. Mana mungkin kita bisa ngadem di kamar Ayah-Ibu… Kalau di kamar Itachi-nii, bisa juga sih, tapi Itachi-nii sedang pergi ke luar bersama teman-teman gilanya ke pulau Honshu. Enaknya yang sudah memasuki liburan musim panas… Beda dengan kita yang masih ada tambahan kelas seminggu. Kau sih enak, tidak mendapatkan kelas tambahan, hah, membuat iri saja!."

"Kalau kau iri, gunakan waktumu untuk belajar agar tidak mendapatkan kelas tambahan!"

"Iya, nanti kalau sudah waktunya aku pasti akan menggunakan otakku untuk belajar!.. Haah, menyebalkan, menyebalkan! Mendokusai na…. Lagi, Huh. Kapan AC di rumah ini diperbaiki sih? Aku sudah sangat kepanasan! Rasanya seperti masuk ke dalam oven saja.. Tinggal di tambah cream pasti jadi kue coklat yang nikmat!"

"Jika kau protes terus, kau akan tambah kepanasan, Sakura! Berhentilah mengeluh! Mungkin saja tukang reparasinya sedang banyak order karena pengguna AC se-Tokyo rusak semua AC-nya!" Sasuke ikut kesal karena sedari tadi Sakura mengeluh terus.

"Muridayo! Mana mungkin!"

"Itu bisa jadi kemungkinan."

"Hah.."

"Berhenti mengeluh!"

"Hai.." Kata Sakura malas.

Mereka berdua masih saja merasa kepanasan. Apalagi mereka masih sempat-sempatnya beradu argument sehingga membuat mereka semakin kepanasan karena terbawa emosi.

tik tok tik tok

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, karena sudah memasuki musim panas, jam seperti itu sudah terasa terik mataharinya.

Sakura dan Sasuke masih di tempat yang sama. Tiduran di teras belakang dekat kolam renang. Masih setia dengan kipas angin ukuran jumbo yang berputar mengumpulkan angin. Terus dan terus berputar, membuat Sasuke dan juga Sakura merasa nyaman karena rasa panas cukup berkurang berkat adanya angin dari kipas.

Memang lumayan merasa nyaman, hanya saja cuaca panas saat itu benar-benar keterlaluan.

"Aaaaaa….. Aku tidak tahan terus seperti ini. Panaaaaaaaassssssss…." Teriak Sakura yang memang sudah sangat tidak tahan karena rasa panas terus menyapu tubuhnya.

Angin yang dikeluarkan kipas angin rasanya sudah tidak mampu lagi mengatasi panas yang tubuh Sakura rasakan. Dengan segera ia menanggalkan bajunya dan melemparnya kasar di sebelah Sasuke.

Sasuke yang sedari tadi tiduran di sebelah Sakura cukup kaget dengan apa yang Sakura lakukan. Mata sayunya melebar saat melihat Sakura dalam keadaan yang kepanasan seperti itu. Sakura hanya memakai hotpant dan tanktop saja.

Sasuke itu cowok normal. Ia merasakan hal wajar saja dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tapi, melihat Sakura yang seperti ini itu lain cerita. Dulu, baginya, melihat Sakura berpakaian pendek seperti saat ini itu biasa menurutnya. Saat itu, Sakura masih kecil, ia bahkan pernah mandi bersama dengan Sakura.

Sasuke mulai menyadari. Dahulu itu berbeda dengan sekarang. Laki-laki maupun perempuan mungkin tak begitu jauh bedanya. Manusia akan semakin tumbuh seiring berjalannya usia. Laki-laki maupun perempuan akan semakin terlihat perbedaannya. Ia sangat menyadari itu! Pelajaran biologi di sekolahpun sudah menjelaskannya dan otaknya yang jenius mampu dengan baik menyerap tuntas materi itu.

Saat ini, di sampingnya. Anak cewek yang dulu pernah mandi bersamanya sudah menginjak remaja akhir, akan segera menuju ke dewasa. Sakura terlihat sangat berbeda dengan stelan baju press body seperti itu. Lekuk tubuh indah Sakura tergambar jelas di balik tanktopnya. Kulit putih mulus tanpa cacat milik Sakura seolah menghipnotisnya. Menari-nari, membuatnya tak mengerti. Tubuh yang indah, kaki yang bagus, bahu yang sempurna seolah membuat mata Sasuke enggan berpaling meski itu hanya sedetik saja.

Perasaan aneh dalam dirinya semakin menjadi. Ada dorongan lain dari dalam otaknya. Ia merasa semakin aneh saja. Rasanya memang tak salah jika Sakura terlihat errr cukup sexy di matanya. Apalagi saat ia melihat keringat mengalir di leher mulus Sakura. Sasuke menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.

Otaknya menyuruhnya untuk menggerakkan tangannya. Ingin mencoba menyentuh kulit mulus itu. Ingin mencoba menghayati bagaimana rasanya jika kulitnya bersentuhan dengan kulit milik Sakura.

Ia sangat ingin tahu bagaimana rasanya. Ia benar-benar merasa penasaran. Tangannya yang mencoba lebih mendekat ke kulit Sakura yang mulus itu. Mencoba mendekat dan semakin mendekat. Ingin segera menyentuhnya…

Ada sensasi aneh yang timbul memenuhi otaknya. Ini pertama kalinya ia merasa seperti itu.

Sasuke harus kembali normal! Ia menghentikan gerak tangannya yang hampir saja bergerak tanpa ia sadari..

"Kenapa rasanya jadi semakin panas?" Batin Sasuke. Ia lantas menggerak-gerakkan kerah bajunya untuk mencoba menghilangkan rasa panasnya.

Sakura menyadari itu.

"Kan, panasnya semakin menjadi. Wajahmu terlihat memerah, Sasuke-kun. Jangan-jangan, kau malah sakit ya?" Sakura terlihat khawatir. Lantas ia mendekati Sasuke. Mencoba memangkas jarak dengan Sasuke. "Biar kuperiksa.." Sakura lantas meletakkan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Sasuke. Tangan kirinya memegang jidatnya sendiri dan tangan kanannya memegang jidat Sasuke.

Sasuke terdiam menerima perlakuan Sakura. Ia tak tahu kenapa ia terdiam seperti itu. Sakura mencoba menggerakkan tangannya untuk menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Sasuke.

Sasuke, bukankah saat ini kau bisa merasakan sentuhan kulit Sakura yang mulus itu? meski hanya tela[ak tangannya saja… Merasa ingin lebih? Setan memang selalu saja tahu apa yang diinginkan…

"Moo, aku tidak bisa merasakannya.." Kesal Sakura. Lantas ia melepaskan tangannya dan menarik pelan kepala belakang Sasuke. Memangkas jarak yang semakin rapat di antara mereka berdua. Sangat rapat hingga tidak ada lagi ruang yang memisahkan keduanya. Tangan kanannya Sakura memegang kepala belakang Sasuke, tangan kirinya mencoba menahan bahu kanan Sasuke. Ia menyamakan jidatnya dengan jidat Sasuke. Ia memejamkan matanya, mencoba meresapi, mencoba meraskan bagaimana kondisi tubuh Sasuke.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Sasuke bisa merasakan hembusan hangat nafas Sakura menerpa wajahnya. Jidat yang saling menempel, membuat wajahnya sangat dekat dengan wajah Sakura. Hidung mancungnya menempel dengan hidung milik Sakura. Kurang beberapa inchi lagi bibir mereka bertemu.

Hal ini mengingatkan ice cream coklat beberapa hari yang lalu..

Sensasi aneh itu semakin menggila. Sasuke kesulitan menahannya apalagi sesaat setelah tubuh Sakura terasa membebani tubuhnya. Jika terus begini, Sasuke akan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia tidak mau kehilangan akal sehatnya setelah tempo hari ia tiba-tiba mencium Sakura hanya karena sebuah ice cream! Ia tahu batasannya. Ia juga tahu jika terus berlanjut maka jantungnya akan berdetak tak menentu. Ia tidak mau itu. Ia tidak mau Sakura menyadarinya. Ia sudah berusaha keras agar tak menciptakan kecanggungan dengan Sakura karena peristiwa ice cream tempo hari.

Ia harus kembali normal! Berulang kali ia harus menegaskannya! Ia harus kembali normal! Setan harus kalah!

Dengan agak cepat Sasuke mendorong tubuh Sakura menjauh darinya.

"Sudah, sudah, aku baik-baik saja!" Kata Sasuke akhirnya.

Sakura semakin kesal. "Nande, aku belum memastikannya, Sasuke!"

Sasuke bangkit dari duduknya lalu melepas baju kaos berkerahnya dan berjalan cepat menuju kolam renang. Dengan gerakan mantap, ia menceburkan diri ke dalam kolam renang. Menyelam dan berenang menyusuri luasnya kolam renang yang ada di belakang rumah. Sakura hanya menatap heran dengan tingkah Sasuke.

"HOOIII, SASUKE! Badanmu panas, kenapa kau malah berenang? HOI SASUKEEEE! Bagaimana jika kau tambah sakit? Sasuke, kau mendengarkanku, kan? Haiiishh, ya ampun, Sasuke kau dengar tidak sih? Cepat keluar dari air!" Sakura mencak-mencak tak karuan di pinggir kolam renang.

Sasuke mencoba tak menghiraukan ocehan dari Sakura. Ia hanya ingin menghilangkan sensasi aneh yang baru saja dialami olehnya. Ia berharap dinginnya air kolam renang bisa membuat okatknya berfikir lebih jernih lagi. Menghapus, membuang, dan menghilangkan sensansi aneh itu.

"Sial.." Geram Sasuke di dalam air.

.

.

.

SUMMER itu musim panas…

Apa yang ada di otak jika dihadapkan dengan kenyataan, 'Yang lain libur, sementara kita harus berangkat?'.

Marah? Kesal? Bosan? Menyenangkan? Pasrah? Merepotkan? Membosankan? Atau malah ada yang bilang Ngantuk?

Jika hal itu ditanyakan pada anak Kelas XII-A, jawabannya adalah mengantuk!

Semua anak kelas XII-A yang mendapatkan kelas tambahan tetap berangkat seperti biasanya. Meski bukan bagian dari anak-anak dengan IQ tinggi, tapi mereka semua masih mematuhi aturan sekolah. Bagaimanapun, sekolah pasti melakukan hal yang terbaik untuk murid-muridnya. Bodoh maupun pandai itu sama-sama bagian dari sekolah. Sudah selayaknya sekolah melakukan hal itu dan sudah selayaknya juga, sebagai peserta didik sekolah, mematuhinya adalah keputusan yang terbaik.

Jam 07.30 – Ucapan selamat pagi masih lantang terdengar, masih semangat.

Jam 09.00 – Semangat mulai menurun, stamina menurun, sering menguap, dan rasanya mengantuk sekali.

Jam 10.00 – Istirahat, kehilangan stamina, meski sudah waktunya makan, tapi panasnya suhu membuat tubuh terasa malas untuk bergerak ke luar ruangan. Mataharipun kadang-kadang kejam juga.

"Matematika memang mematikan, sudah begitu udaranya panas sekali… Rasanya aku malas ke luar dari kelas. Tanpa AC pasti aku akan mati…" Keluh Sakura yang sedari tadi duduk dan meletakan kepalanya di meja.

"Kau benar, panaaasssss…. Andai saja ada manusia yang bisa membuat pakaian dengan teknologi mini AC di serat bajunya, aku pasti akan membelinya!" Sambung Ino yang sudah kehilangan semangatnya sejak awal. Sejak diumumkan adanya kelas tambahan!.

"Aku juga akan membelinya…" Sambung Lee.

"Ore mo.." Sambung Chouji.

"Masih terlalu awal untuk mengeluh, masih ada 5 hari lagi kelas tambahan untuk kita.. Lagian, khayalan tingkat tinggi kalian itu terlalu berlebihan!" Sambung Naruto dari bangku depannya Sakura dan Ino.

"Cara menyemangatimu justru membuat semakin panas, Naruto…" Ino membenarkan.

Sakura menutup matanya. "Suuurrraaaaaammmmmm…"

Manusia mengeluh itu wajar saja. Jika senang lupa, jika susah baru ingat dah. Memang kan? Manusia itu pada umumnya seperti itu. Lagian, mengeluh itu tidak dilarang. Itu suatu bentuk sikap alamiah yang ada pada diri manusia. Nanti bagaimana tingkatan rasa keluhan itu berkembang. Mau mengeluh terus atau tetap mengeluh tapi mencoba menjalaninya? Jika memilih untuk menjalaninya, maka asti akan ada usaha untuk menghilangkan rasa keluhan itu. Itulah manusia yang bijak!

.

.

Setelah kejadian Sasuke menciumnya tempo hari, jujur saja Sakura merasa kesulitan tidur di buatnya. Sasuke memang beralasan jika itu karena ada sisa ice cream di bibirnya. Tapi, ia bukan anak kecil yang bisa dengan mudahnya menerima alasan tak masuk akal seperti itu. Jika itu hanya karena ada sisa ice cream di bibirnya, Sasuke cukup memberitahukan hal itu padanya kan? Maksudnya, tanpa Sasuke membantu membersihkan dengan—bibirnya. Jika ingin membantu, bisa memakai tangan, kan? Sapu tangan? Atau tisu mungkin? Nah, hal-hal kecil itu membuatnya pusing tujuh keliling. Sakura terlihat tak bersemangat.

Tidak ada maksud lain dari ciuman sasuke tempo hari!

Itu yang Sakura patenkan! Hanya dengan itu rasanya semua akan baik-baik saja! Namun… detak jantung yang semakin cepat, sulit tidur karena Sasuke selalu mampir di pikirannya itu maksudnya apa? Sakura tahu jika dirinya itu memang bodoh, pertanyaan seperti itu merupakan contoh pertanyaan yang sangat sulit untuknya. Ia tak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Bukan suatu keanehankan jika saat ini ia dirundung kebingunangan dengan banyak pertanyaan yang tak mampu ia jabarkan jawabannya.

Apa suatu kesalahan jika Sakura mencoba membuang, lebih tepatnya mengesampingkan semua hal aneh yang kini ia rasakan? Fokusnya saat ini hanyalah memastikan perasaan Sasuke dan Hinata. Itu tugas dan sekaligus pengobat rasa penasarannya. Ia hanya perlu mendekatkan Sasuke dan Hina, lalu melihat bagaimana perkembangannya. Jika iya, maka ia memang beruntung bisa mempersatukan mereka. Jika tidak, maka ia akan menjadi orang yang jahat.

Orang jahat bagi siapa? Sasuke? Bukan, lebih tepatnya Hinata.

Sakura tahu bagaimana Hinata memandang Sasuke. Bagaimana Hinata menempatkan sosok Sasuke di hatinya. Ia tahu, Hinata memiliki rasa pada Sasuke. terlihat jelas kok. Itu hal paling mudah yang dapat Sakura sadari karena ia suatu bagian wajib dari pekerjaan sampingannya. Dokter Cinta loh..

Bagaimana dengan Sasuke?

Hmm, menurut Sakura, Sasuke itu tipe laki-laki yang pandai menyembunyikan ekspresi dan perasaannya. Ia memang tumbuh besar bersama Sasuke, tapi ia tak begitu bisa membaca pandangan Sasuke. Ia hanya bisa menilai dari kebiasaan-kebiasaan Sasuke. Jika itu asing, maka ia akan cepat menyadarinya. Seperti misalnya, Saat Sasuke memulai melihat ke arah Hinata. Dengan tatapan lain dan menuut Sakura itu berbeda. Sakura tahu betul karena ia menyadarinya. makanya ia menyimpulkan jika seorang Sasuke mulai tertarik dengan gadis lain yaitu Hinata.

Lalu, apa Sakura bisa menyadari tingkah Sasuke saat tempo hari tiba-tiba menciumnya?

Yang itu sih, Sakura sadarnya dan menerimanya jika itu karena ada sisa ice cream di bibirnya. Tidak lebih dari itu. Jika lebih, maka sepertinya itu datang dari dirinya sendiri. Ia sadar, ia banyak memikirkan Sasuke karena hal itu. Namun, karena Sasuke tak bersikap canggung padanya, rasanya tak masalah mengabaikannya.

Toh, ia dan Sasuke sudah seperti biasanya menjalani hari-hari mereka. Masih bercanda, makan ice cream bersama. Tak ada yang berubah untuk kesehariannya.

Banyak hal yag bisa berubah. Setiap orang perlu mengetahuinya. Mungkin juga dengan hati.

Saaa, siapa yang tahu, kan?

.

$$$$$SSSSS

.

Tak terasa seminggu berlalu. Kelas tambahan baru saja usai. Yang awalnya sangat malas, nyatanya jika dilakukan dengan iklhas toh pada akhirnya terlewati juga. Kunci mudahnya hanya perlu menerima dan menjalani saja! Jauh lebih efektif dari pada melayangkan banyak protes tak terarah.

Sakura dan yang lain sedang melihat Gaara latihan tenis. Ini sudah kesekian kalinya ia menghabiskan waktu setelah kelas tambahan usai untuk menonton sesi latihan Gaara. Menonton Gaara sedang bermain tenis bagi Sakura itu sangat menyenangkan. Ia memang tak begitu mengerti aturan bermain tenis, tai saat melihat Gaara memegang raket dan berhasil mengembalikan bola tenis dengan mantap membuatnya tak henti-hentinya berteriak kegirangan. Gaara memang hebat, itu yang selalu ia gumamkan. Sudah begitu, wajah datar Gaara tidakkah jika diperhatikan semakin keren saja? Wajar. Gaara itu merupakan pangeran di KIHS juga, sama seperti Sasuke.

"Hai, dozo, Gaara-kun! Otsukare.." Kata Sakura sambil menyodorkan sebotol air mineral.

Gaara menerima botol berisi air mineral itu. "Arigato.." Ia lantas membuka dan meminum air mineral dari sakura.

"Sugoi na permainanmu, kau bisa memukul bola itu dengan sangat keras. Bwaaaakkk, aku seperti merasakan betapa dahsyatnya pukulanmu itu.." Sakura mempraktekan kembali bagaimana Gaara mengayunkan raketnya untuk memukul bola.

"Kau ingin mencobanya?" Gaara menunjuk ke arah raket tenisnya.

Sakura mendelik. "Hoihoi, ternyata kau tega juga ya memukul wanita.."

Gaara tersenyum. "Bercanda.."

"Iya tahu, mana mungkin pangeran tenis seperti dirimu tega melukai wanita. Yaelah, pangerannya para ibu-ibu guru KIHS.."

"Hah, kau ini…"

"Ne, sepertinya persiapanmu untuk melawan Sasori sudah matang. Permainanmu jauh semakin baik dari pertama kali aku datang melihatmu.."

"Aku mendapatkan suntikan penyemangat."

Sakura kebingungan. "Kadang kau itu mirip Sasuke ya. Apa orang pintar itu memang selalu menggunakan bahasa yg hanya bisa dimengerti oleh orang-orang pintar saja?"

Gaara tertawa. "Hei, kau datang melihat latihanku, aku semakin bersemangat untuk meningkatkan permainan terbaikku.."

"Karena aku? Ayolah, jangan bercanda! Aku ini bukan siapa-siapa, bukan peri suci yang bisa mengeluarkan sihir."

"Fantasimu memang luar biasa, Sakura…"

"Habisnya…"

"Semenjak kau datang, berteriak-teriak di pinggir lapangan, itu terdengar berisik sekali.."

Sakura cemberut.. "Gomen.."

"Tapi, karena itu juga, aku merasa senang. Kau tahu, biasanya aku selalu latihan sendiri dengan orang-orang klub tenis. Membosankan sekali.. Hanya suara peluit, kibasan raket, atau suara pantulan bola yang terdengar.. Suara cemprengmu itu membuat rame lapangan.."

"Cih, aku tahu, suaraku cempreng, tapi yang nonton dan teriak-teriak bukan hanya aku saja. Ada Naruto, Ino, Kiba, Chouji, bahkan dari kelas sebelah juga ada seperti Yuu-kun dan Eren-kun. Yah walau sekarang mereka sudah bubar entah pada kemana.."

"Suaramu paling menonjol Sakura.."

"Souka?.. Mungkin aku kelebihan energy karena selama kelas tambahan aku tak ada kegiatan pengintaian target cinta. Haha.."

"Dasar orang sok sibuk…. Nah Sakura.."

"Hm?"

"Tanggal 23 Juli nanti, maukah kau datang menonton pertandingan final tenis End of Summer? "

"23 Juli bukankah itu masih masuk kategori sebulan awal musim panas? Kenapa tidak dilakukan di akhir musim panas saja? Bukankah itu turnamen End of Summer?"

"Itu karena waktu seleksi, hanya diambil 4 besar di setiap provinsinya. 4 besar itu diambil dari turnamen sebelumnya, Interhigh. Ini seperti dipersingkat saja…"

"Ah, souda ne.. Baiklah, wakatta, aku pasti aku datang mendukungmu, aku akan membawa semua anak sekolah kita untuk mendukungmu. Jadi, jangan kecewakan kami ya!"

"Arigato, aku akan berusaha keras, gambarimasho.."

Sakura melupakan hal penting. Ia tak ingat apa itu. Suasanya nyaman dengan Gaara kadang membuatnya lupa banyak hal. Gaara memang asyik untuk diajak ngobrol bersama. Ia tak menyadari jika ia sudah banyak menyunggingkan tawa saat bersama Gaara. Bukan apa-apa atau bagaimana, nyatanya, Gaara memang selalu saja bisa menemukan topic pembicaraan yang hangat. Membuat nyaman dan betah berlama-lama di sampingnya.

.

.

Hari terakhir kelas tambahan sudah usai. Tepat seminggu, tidak, 6 hari masuk kelas. Sakura berhasil menjalaninya dengan perasaan campur aduk. Malas, panas, ngantuk, bosan, dan senang juga. Rasa yang berwarna-warni, kan? Seperti pelangi saja yang memiliki banyak warna indah. Bukannya memang sebaiknya hidup juga seperti itu? Menelaah lebih jauh, sebenarnya, sepelik apapun hidup pasti terselip tawa di anataranya. Pasti ada bahagia yang menyertainya. Bagaimana cara menyadarinya? Mudah, maka bersyukurlah!

.

Saat sedang berjalan menuju stasiun Rinnegan, Sakura bertemu dengan Hinata. Hinata terlihat sedang kesusahan membawa tumpukkan buku. Merasa menjadi teman yang baik, Sakura langsung membantu Hinata yang kerepotan itu.

"Sakura-chan, arigato.."

"Jangan difikirkan, Hinata.."

Mereka berdua lantas membeli tiket kereta dan duduk di ruang tunggu kereta. Sepertinya kereta agak lama datangnya. Mereka terlalu awal datang atau memang terlambat karena kereta sebelumnya sudah berangkat beberapa saat yang lalu?

Sembari menunggu kereta datang, mereka berdua lantas mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan yang mendera. Banyak yang mereka bicarakan. Mulai dari Hinata yang tetap masuk les, kelas tambahan Sakura yang membosankan, pertandingan Gaara, bahkan kedai ice cream enak di dekat sekolah. Biasa, cewek..

Tunggu sebentar..

Bukankah saat ini adalah kesempatan? Ya, Sakura yang cepat menyadari hal-hal yang tidak penting langsung bergerak cepat kerja otaknya.

Saat ini, detik ini adalah kesempatan baginya untuk mencari informasi tentang Hinata, kan? Ini akan sangat berguna untuk misinya.

"Sa-Sakura-chan, tidak dijemput Sasuke-kun?" Tanya Hinata basa-basi.

Ya ampun, baru saja Sakura memikirkannya, tapi Hinata mempermudah arah pembicaraan. Sepertinya Sakura harus segera sujud syukur karena sering dipermudah pekerjaannya?

"Hm, tidak. Semalam aku bertengkar dengannya."

"Betengkar? Ke-kenapa?"

"Biasanya, jika isi kulkas habis, aku akan belanja dengan dia. Tapi, karena dia terlalu sibuk main game, aku meminta Itachi-nii untuk menemaniku. Setelah aku pulang, Sasuke terlihat kesal padaku. Haah, dia memang selalu seperti itu.. Nanti paling balik sendiri."

"Wah, kalian terliat sa-sangat de-dekat ya.." Jujur, Hinata merasa sedih karenanya. Sasuke merasa kesal karena Sakura lebih memilih Itachi untuk membantunya? bukankah itu hanya bentuk protes kecemburuan saja? Itu hal yang bisa Hinata simpulkan.

"Dekat ya? Wajar, kan? Kami keluarga, secara tidak langsung, aku ini adiknya dia.."

"Sodesu ne.. Tapi, Sakura-chan dan Sasuke-kun terlihat sangat cocok saat bersama.."

"Hahaha, kami sering bertengkar, kau bilang cocok? Ya Tuhan, Hinata… Meski aku tak ada ikatan darah dengannya, tapi jika kau berfikir hubungan kami dalam hal romantic, itu tidak mungkin. Sasuke itu kakakku!"

Entah bagaimana, Hinata merasa sangat senang. Penuturan yang ia harapkan keluar dari bibir Sakura. Itu artinya, Sakura tidak memiliki rasa pada Sasuke kan? Tidak dalam hal romantic seperti yang ia bayangkan selama ini, kan? Buktinya Sakura bisa mengatakannya dengan nada yang sangat enteng.

"Ji-jika seperti itu, ap-apa boleh aku mengenal lebih dekat lagi tentang Sasuke?"

Sakura memang mengharapkan hal ini. Berbicara empat mata dengan Hinata memang lebih cepat memuluskan rencananya. "Tentu saja. Aku akan membantumu."

"Honto ni?"

"Hai, honto desu."

"Sakura-chan, a-arigato gozaimasu.."

Sakura sudah memutuskan untuk membantu Hinata. Memang ini tak masuk sebagai bagian dari pekerjaan sampingannya, tapi metodenya tak jauh berbeda. Semua perlu pendekatan.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Sakura banyak berfikir. Memutar otaknya. Mencari cara untuk rencananya.

"Akan sangat sulit jika aku belum berbaikkan dengan Sasuke.." Gumamnya.

Terus berfikir keras. Membolak-balik kemampuan otaknya. Mengobrak-abrik seluruh penjuru otaknya, mencari, memahami, menciptakan, menyusun, merangkai banyak hal, banyak cara, semuanya ia lakukan demi tujuan rencananya yang sejujurnya ia tak begitu yakin dengan hasilnya. Ada rasa takut akan hasilnya, Sakura juga kepikiran. Kata-kata Narutolah yang membuatnya seperti itu.

"Jika aku tak ingin mempermainkan perasaan Hinata maupun Sasuke, maka aku hanya perlu membuat mereka bersatu, kan? Mereka harus memiliki rasa yang sama, maka semua akan selesai.."

Sakura, apa kau tahu?

Semua kisah yang kau tuliskan untuk orang lain, tak hanya kau yang menjadi sutradaranya. Sutradara memang berkuasa untuk mengarahkan pemain-pemainnya. Tapi ini bukan sandiwara, ini kisah nyata dimana para pemain bebas mengekresikan perasaannya.

Sakura, apa kau juga tahu?

Kau menganggap dirimu sebagai sutadara dalam kisah Hinata dan Sasuke, tapi mereka berdua memiliki hati, apa kau yakin bisa membaca isi hati terdalam mereka? Bisakah kau memahaminya? Bagaimana jika dalam kisah yang akan kau tulis, yang akan kau sutradarai, tiba-tiba salah satu pemainmu tak terima dengan peran kisahmu? Bagaimana jika salah satu pemain merangkap menjadi sutradara selain dirimu. Apa kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Percayalah, itu pasti akan menjadi kisah yang tolol, cukup tolol untuk dimengerti..

Entahlah..

"Aku sadar jika aku tak cukup pintar memaknai persoalan. Kenapa tiba-tiba di otakku dipenuhi bisikkan-bisikkan seperti itu?.. Sutradara lain? Sasuke-kun desuka? Apa itu maksudnya Sasuke?.. Aku tahu pasti jika cowok jutek seperti dia itu bukan cowok yang mudah untuk dikendalikan, tapi jika aku tak berhasil membutnya jatuh cinta pada Hinata, maka aku akan menjadi orang jahat karena mengingkari janjiku pada Hinata… Sasuke memang bisa mengendalikan kisahnya, tapi aku akan berusaha lebih keras lagi mengimbanginya…"

"Apa yang kau gumamkan, Sakura? Berbicara sendiri seperti orang gila." Kata Sasuke yang datang dari arah belakang Sakura. Sasuke membawa sekantong kresek yang Sakura yakini itu isinya kimchi super pedas dari kedai makanan Korea dekat rumah mereka.

"Bukan urusanmu."

"Jam berapa sekarang, hah? Kenapa kau pulang telat?"

"Cerewet sekali sih. Kau tahu, aku sudah izin pada ibu jika hari ini aku akan pulang agak petang."

"Menonton bocah Sabaku lagi, heh?"

"Iya, memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa." Sasuke berjalan mendahului Sakura yang terlihat bingung dibuatnya. Kenapa Sasuke tak membalas omelannya? Biasanya akan terjadi omelan yang lebay dan pada akhirnya akan membuat ia dan Sasuke kembali normal seperti biasanya..

"Sasuke-kun, kau masih marah soal semalam?" Sakura mencoba menyeimbangkan langkah kakinya dengan Sasuke.

"…"

"Sasuke-kun!"

"…"

"Aku minta maaf.."

"…" Sasuke berjalan lebih cepat dari Sakura, seolah tak mau berjalan beriringan dengan Sakura.

"Matte te ba… Sasuke-kun!"

"…"

Sakura berjalan lebih cepat lagi. Ia bahkan berlari kecil demi mengimbangi langkah sasuke. Lalu, ia menarik tangan Sasuke dan menggenggam dengan tangannya. "Sasuke-kun, aku minta maaf! Gomen.. Honto ni gomen na.."

"Sakura.." Sasuke berbalik menatap Sakura.

"Ya?" Sakura harap-harap cemas. Sasuke jika ngambeg itu merepotkan menurutnya.

"Aku tidak suka hal yang biasa aku lakukan diambil alih oleh orang lain, termasuk kakakku! Dan seharusnya kau sudah tahu itu."

"Gomennasai, aku tak akan mengajak kak Itachi lagi, aku akan mengajakmu, jika kau sibuk, aku akan menunggumu.."

Ini lebay, berlebihan, tapi jika Sakura tak mengalah, ini akan tambah merepotkan, kenapa? Ini si bungsu Uchiha loh. Pangeran egois yang pernah ada di awal abad 21 ini! Susah banget kalau lagi bête, Sakura saja sering takut dibuatnya. Aura Sasuke memang tak semenakutkan dulu waktu ia dikira ada sesuatu dengan Aomine Daiki. Sakura ingat betul bagaimana ia melihat mata Sasuke yang memerah dan dengan brutal memukuli Aomine. Padahal itu hanya salah faham saja.. Sampai ia terus bertanya-tanya, apa karena dirinyalah yang membuat Aomine pindah sekolah? Jika benar, ia pastilah merasa sangat bersalah.

Sakura, sayangnya kau terlibat meski semua ulah Sasuke. Itu karena kau, Sakura!

"Ayo pulang!" Ajak Sasuke. Sakura langsung mengangguk senang. Ia tahu jika Sasuke memafaafkannya. Terbukti sekarang Sasuke menggandeng tangannya dan pulang bersama. Ini sama dengan waktu mereka kecil. mereka selalu bergandengan tangan jika berpergian. Entah itu bermain ataupun pulang sekolah. Sakura merasa seperti kembali ke masa kecil mereka. Jika ia bersama Sasuke, rasanya ia merasa nyaman dan aman. Sasuke selalu melindunginya. Sakura tahu kok..

Mereka sering bergandengan tangan dimulai sejak orang tua Sakura meninggal 10 tahun yang lalu. Sakura terlihat sangat terpukul saat kematian kedua orang tuannya. Tiap hari hanya bisa menangis. Saat itulah, Sasuke datang dan mengulurkan tangan pada Sakura, Sasuke bahkan tersenyum saat mengajaknya membeli ice cream coklat, Sakura kecil yang polos dengan senang hati menerima uluran tangan dari Sasuke. Semenjak saat itu, jika pergi kemana-mana, Sasuke akan menggandengnya, Sasuke akan melindunginya, sama seperti yang Sasuke janjikan.

Sekarang mereka sudah besar, Sakurapun perlahan sudah bisa merelakan kepergian kedua orang tuanya. Ia memang sudah jarang bergandengan tangan dengan Sasuke, tapi Sasuke masih terus saja melindunginya, memberinya tempat yang nyaman seperti biasanya. Kadang kalanya memang bertengkar, tapi tak lama, akan kembali normal seperti semula..

Tangannya saat ini sedang digenggam erat oleh Sasuke. Sangat erat sampai-sampai ia bisa merasakan kehangatan tangan Sasuke yang sedari dulu selalu menggenggam tangannya. Sudah berapa lama ya tak seperti ini? Sudah cukup lama, Sasuke memang selalu bersamanya, tapi frekuensi menggenggam, menggandeng tangannya berkurang bahkan sangat jarang semenjak ada masalah dengan Aomine Daiki. Sakura juga merasa, jika Sasuke menyembunyikan aura hitam dan gelap dalam dirinya. Sakura tak tahu kenapa seperti itu. Yang jelas, ia merasa sangat takut jika Sasuke sedang marah.

Semenjak masalah dengan Aomine Daiki usai, sakura menyadari banyak hal berubah dari diri seorang Sasuke. Tak hanya Sasuke yang memiliki sisi gelap, tapi juga Sasuke berubah menjadi sosok dingin dan jarang bicara banyak. Lain halnya saat Sasuke masih kecil yang sangat manis karena selalu ceria. Sasuke remaja lebih tegas, dan entah bagaimana jauh kelihatan murung. Seperti sedang menahan sesuatu yang tak bisa Sakura cari apa penyebabnya. Sasuke juga menjadi mudah kesal yang menurutnya tanpa sebab itu. Tiba-tiba baik, tiba-tiba juga menjadi menyebalkan.

Sakura menjadi merasa bodoh karena semakin kesulitan mengerti Sasuke. Ia tahu Sasuke, tapi ia tak bisa mengenal jauh lebih dalam karakter Sasuke saat ini. Terlalu banyak laci yang perlu ia buka. Loker dalam hidup Sasuke terlalu sulit untuk dipecahkan Sakura. Meski ia berusaha keras untuk memasukinya, sama saja, hanya jalan buntu yang selama ini ia temukan. Jika seperti ini terus berlanjut, maka ia akan kesulitan membaca arah hati Sasuke kemana. Tantangan sulit akan segera menghadangnya. Bagaimana ia bisa menyatukan Hinata jika seperti ini?

Pertanyaan yang bagus. Sakura hanya perlu berusaha dan nanti bagaimana Tuhan yang menentukan? Yakin seperti itu? Bagaimana dengan resiko yang dibicarakan oleh Naruto? Sakura memikirkannya, tapi ia tak menginginkan hal itu terjadi. Yakin, ia memang berniat baik jika Sasuke bisa dekat dengan seorang cewek. Ia mengharapkannya mengingat bagaimana dinginnya Sasuke menanggapi para fangirlsnya. Ia khawatir jika Sasuke tak bisa mendapatkan cewek yang benar-benar mencintai Sasuke apa adanya bukan karena ada apa-apanya. Dan rasanya, beruntung sekali ia menyadari perasaan Hinata. Menurut Sakura, Hinata itu sangat-sangat mencintai Sasuke. Bukan cinta seperti para fangirls Sasuke, yang kagum saat ada Sasuke, setelah itu melupakan saat Sasuke tak ada.

Bukankah itu yang sebaiknya dilakukan oleh seorang adik yang baik?

Adik ya?

Mendengar posisinya saat ini membuat Sakura merasa—entahlah, ini membingungkan. Sakura merasa ingin focus sekolah, tapi pekerjaan sampingannya melambai-lambai, meminta untuk segera diselesaikan. Ia ingin kakak angkatnya—Sasuke bahagia dan mendapatkan cinta, tapi sisi lain ia juga khawatir. Bagaimana jika ia harus menjaga jarak dengan kakaknya itu? Ia harus tahu diri jika saat Sasuke kencan nanti, ia harus menahan diri untuk tak terlalu menempel pada Sasuke. Ia harus ini, itu, demi menyediakan privasi waktu untuk Sasuke dan kekasihnya? Bisa tidak ya mengingat bagaimana dekatnya ia dengan Sasuke…

Loh, rasanya Sakura terlalu banyak fikiran hari ini. Rasa lelah dan mata pelajaran merepotkan mungkin merupakan alasan yang membuatnya seperti itu. Mencoba menampik, menjauhkan dari hal-hal negative, dan tetap berfikir wajar.

.

.

SASUKE'S POV

Sudah lama rasanya aku tak menggandeng tangan Sakura. Padahal dulu kami saling bergandengan bersama kemanapun kami pergi.

Kami berjalan menuju rumah tanpa bicara, tapi masih saling membalas senyuman. Senyuman? Tidak juga, aku hanya tersenyum tipis. Bukan hanya karena kami bisa bergandengan tangan, tapi aku senang melihat senyuman Sakura yang terlihat ikhlas seperti ini..

Sangat sulit mengembalikan senyumannya yang sempat hilang itu..

Sakura dulu sangat rapuh, aku ingat benar bagaimana masa lalunya yang suram. Kini, rasanya menyenangkan bisa melihatnya tumbuh kuat seperti ini. Aku berusaha sangat keras demi membuatnya bangkit dari keterpurukkan. Hal itu membuatnya sangat bergantung padaku dan aku tak masalah untuk selalu menjadi tempat dimana ia mencari apa yang ia butuhkan. Toh aku memang sudah berjanji untuk selalu menjaganya. Itu janjiku… Sakura sangat bergantung padaku, tapi itu dulu.

Sekarang?

Ia menjadi jauh lebih mandiri. Apa-apa berusaha sendiri meski kadang masih merengek minta bantuan padaku. Tapi itu kadang-kadang, dan kenapa juga ia harus merengek pada Naruto dan juga kak Itachi juga? Bukankah sedari dulu yang menjadi tempat rengekannya hanya aku?

Aku tidak suka apa yang biasanya aku lakukan diambil alih orang lain!

Aku tak suka!

Dia itu memang bodoh atau tidak peka sama sekali sih? Semakin kesini, tingkahnya semakin membuatku kesal saja. Bagaimana ia bisa lebih mementingkan pekerjaan sampingannya itu? Bagaimana ia bisa bermain-main dengan bocah-bocah cowok lain? Aku tahu itu pekerjaannya, tapi masak iya kudu menemaninya mengintai di hari minggu, di taman bermain, membeli bunga, mencoba bermain wahana permainan. Apa-apaan itu? Bukankah kliennya hanya ingin mengajak Sakura jalan-jalan saja? Aku tahu dari mana? Tentu saja aku ini mengawasinya!

Dan lagi, apa-apaan Sakura itu? Maksudnya apa coba, merelakan tubuh kelelahan hanya untuk melihat bocah Sabaku latihan? Tidak penting sama sekali. Dia bahkan terlihat kegirangan di pinggir lapangan. Jijay, sok bersikap fangirling… Cih, niatku menjemputnya jadi malas…

Hah..

Bodo, mendokusai.. Yang penting saat ini aku sedang bersamanya. Menggenggam erat tangan mungilnya. Sakura itu—adik yang berharga, tak seorangpun boleh merebutnya dariku. Bahkan kakak sekalipun!

Kak Itachi? tentu saja dia! Baka aniki!

Aku tahu bagaimana orang macam dia menatap Sakura. Dia menatap Sakura sebagai wanita! Sakura memang seorang wanita, apanya yang salah? Yang salah karena dia melupakan Sakura sebagai adiknya! Itu menjijikan!

Belum ada yang menyadari hal itu, Sakurapun. Dia terlalu polos akan hal seperti ini meskipun ia selalu mengagung-agungkan jika dirinya itu dokter cinta. Sakura terlalu bodoh soal cinta yang menyangkut dirinya sendiri.

Apa Sakura itu tak pernah jatuh cinta ya?

Cih, aku malas mengetahuinya…

Tapi.. kadang aku penasaran juga.. Adakah sosok laki-laki yang ia idamkan? Seperti apakah sosok laki-laki itu? Seperti apakah tingkahnya? Tampangnya? Karakternya? Seperti Itachi-nii? Naruto? Atau mungkin Gaara?

Tidak..

Itu tidak mungkin!

Aku..

Akkhhh… kenapa semua ini rasanya memuakkan?

Kenapa harus seperti ini?

Kenapa aku selalu kepikiran? Setiap hal kecil yang Sakura lakukan padaku selalu berputar-putar di kepalaku?

Aku bahkan sempat kehilangan akal sehatku dengan tiba-tiba menciumnya. Apa yang sedang aku pikirkan saat itu, hah? Bagaimana bisa aku kehilangan kendali sampai seperti itu?

Untung Sakura cukup bodoh untuk tak begitu memikirkan ciuman itu.. Mudah bagiku menghilangkan kecanggunggan yang tercipta…

Semenjak saat itu, aku selalu berusaha mengendalikan diriku. Menahan agar tetap di batas kewajaran. Aku harus berfikir normal! Tidak boleh lepas kendali!

Ini sangat sulit, aku bahkan semakin kesulitan mengendalikannya… Selalu saja ada hal yang menarik diriku keluar dari batas kenormalan. Sakura, dia benar-benar membuatku kesulitan menahan diri…

.

END OF SASUKE'S POV

.

.

kamar Sakura… Sasuke dan Sakura duduk bersampingan di lantai bersandar pada ranjang Sakura. Sakura memegang sebuah sterofoam putih yang digunakan untuk wadah kimchi.

"Umaaa, oishi ne Sasuke-kun, kimchi wa.." Kata Sakura sejenak setelah menikmati kimchi yang Sasuke beli tadi sore. Sasuke hanya diam saja, ia tetap tenang menikmati kimchinya.

Bau unik dan rasa pedas kimchi terasa lezat menggoyang lidah. Sakura tak henti-hentinya memenuhi rongga mulutnya dengan banyak kimchi. Membuatnya belepotan di sekitar bibirnya. Sepertinya rasa pedas kimchi ustru seperti candu yang membuat ketagihan saja.

Sasuke menyadarinya dengan cepat. Ini sama dengan ice cream itu. Terlihat menggoda. Kimchi atau bibir Sakura? Perbedaan yang sangat sulit ia putuskan yang mana sebaiknya ia pilih. Ayolah, Sasuke sudah pernah merasakan 'kemanisan' bibir Sakura di taman belakang sekolah. Ia tak munafik jika nyatanya ia masih penasaran, apakah saat ini rasa 'manis' itu masih sama seperti waktu itu? Apa kimchi itu akan juga berubah manis atau tetap pedas seperti rasa aslinya?

"Ne, Sakura.." Sasuke menatap intens Sakura.

"Ha-hai?" Tatapan Sasuke yang begitu tajam membuat Sakura tergagap. Apalagi saat Sasuke perlahan mencoba memangkas jarak dengan dirinya. Semakin dekat, semakin mendekat, semakin terasa dekat, dan sangat dekat.

Sasuke memajukan wajahnya, mendekati wajah Sakura. Sakura tidak tahu bagaimana bisa ia terpaku seperti ini. Tidak bisa bergerak seinchi pun. Kenapa ia diam saja seolah bersikap pasrah? Kenapa tatapan Sasuke terasa melemahkan otot-otot tubuhnya.

Serasa terhipnotis saat Sasuke menggerakan tangannya untuk menyingkirkan poni rambut Sakura. Sasuke semakin dekat, berusaha untuk menciumnya lagi? Seperti di taman belakang sekolah? Tanpa sadar, Sakura memejamkan kedua matanya.

Wake up, Sasuke!

Sakura itu adikmu!

Tapi rasanya terlalu sulit mengendalikan diri..

"Ada sisa bumbu kimchi di pinggir bibirmu.." Kata Sasuke akhirnya. Ia lalu menjauhakan wajah dan tangannya dari Sakura. Ia menghela nafas panjangnya. Lega, ia bisa mengendalikannya sekali lagi setelah kekacauannya di pinggir kolam renang waktu itu.

Sakura juga langsung memalingkan wajahnya. Ia mengusap cepat bibirnya untuk membersihkan sisa bumbu kimchi yang Sasuke maksud. "Ah, a-arigato su-sudah memberitahu.."

"Hn." Sasuke beranjak bangun dari duduknya. "Aku kembali ke kamarku. Kau habiskan saja kimchi itu! Oyasumi." Kata Sasuke serasa meninggalkan Sakura.

"O-oyasumi.." Balas Sakura yang entah Sasuke dengar atau tidak.

Sepeninggal Sasuke dari kamarnya, Sakura lantas merasa sangat lemah. Tenaganya seolah hilang dari tubuhnya yang selalu ceria dan bugar. Jantungnya kembali berdetak tak menentu dan semakin kencang. Rasanya sangat tak nyaman. Sakura tak menyukainya.

"Sepertinya aku harus segera menjauhi Sasuke. Aku yakin, kesulitan tidur, jantung yang berdetak tak karuan akhir-akhir ini, semua itu pasti karena Sasuke. Aku tidak mau terus berlanjut... Tuhan, ini menyakitkan.." Batin Sakura yang terus saja mencengkram dadanya. Ia bahkan meneteskan air mata untuk hal yang membuatnya tak mengerti.

.

.

.to be continue….

.

.

.

yayaya, udeh dulu 6K, rekor,… aku mau berfantasi liar buat chapter2 selanjutnya… Yang percakapan ringan ma Akashi abaikan saja, itu hanya sok gila aja yang lagi kumat.. #guntingAkashiMelayang. Haha

Selanjutnya akan berusaha lebih baik…

.

.

Next Chapter…

"Naruto, bantu aku mencari kost…"

.

.

Gambarimasho..

Jaa…

Udah?

Gitu aje?

Ngantuk soalnya..

Ya udah..

bye..

Oyasumi..