Chapter 6
.
.
Ogenki desuka minna-tachi?
Gomenasai honto ni gomenasai, baru bisa update.. biasa sibuk. Ngurusin dua FF saja sudah bikin pusing…
Tidak hanya sibuk, tapi juga sedang baper karena Erwin Smith dan Armin Arletto dari Attack on Titan di komik diperdebatkan siapa yang mati dan hidup. Sepertinya Erwin yang akan mati.. Huuu… udah pada RIP buat Erwin lagi… Kan kasihan bang Levinya…
.
.
.
Udah ah, gak ada gunanya curhat, langsung saja dah…
Dozo minna-san…
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M kok. XD
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
..
.
Sakura tahu betul jika akhir-akhir ini ada yang tidak beres dengan dirinya, terutama menyangkut Sasuke. Gejala jantung berdetak lebih kencang saat terjebak berduaan dengan Sasuke cukup mengganggunya. Ditambah lagi, kini otaknya yang minimpun juga ikutan berputar-putar tak jelas tanpa arah dan terkesan abstrak. Membuat pusing dan melelahkan. Meski ia berusaha mencari jawaban atas rasa yang mengganggunya, ia tak menemukannya. Semakin ia mencoba mencari semakin jauh saja jawaban yang ia harapkan. Pada akhirnya, ia hanya akan menemukan jalan buntu, sama dengan usahanya yang sudah-sudah. Sia-sia, heh?
Sakura tahu itu…
"Bagaimana ini?"
Hanya pertanyaan seperti itu yang dapat Sakura lontarkan. Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana tanpa ada jawaban yang jeas dan memuaskannya.
Jika ia merasa kesulitan mendapatkan jawaban yang ia inginkan sebaiknya ia melupakannya kan? Melupakan mungkin sedikit mustahil karena ia selalu bertemu Sasuke. Ia seatap dengan Sasuke, bersebelahan kamar juga! Jadi bagaimana? Sakura merasa jika hal seperti itu sebaiknya ia lupakan saja.
"Sakura, kau baik-baik saja?" Tanya Itachi ketika melihat Sakura duduk meletakkan pipinya di atas meja.
"Ah, Itachi-nii.. Hm, daijoube.." Jawab Sakura lemas.
"Sepertinya ada yang kesal.."
"Iya kesal padamu, Nii-san." Sakura selalu saja mengalihkan pembicaraan. Caranya menanggapi masalah kadang justru akan membuatnya terjatuh suatu saat nanti. Sayangnya Sakura belum menyadarinya.
"Kenapa? Bukannya kemarin tidak ada apa-apa?"
"Iya, aku kesalnya itu karena sampai saat inipun Nii-san lupa memberikanku oleh-oleh dari liburan! Jika lupa membelinya, setidaknya belikan aku ice cream coklat kek. Padahal tempo hari kita pergi belanja bersama dan Nii-san tak membelikanku apa-apa."
"Aiiishh honto ni omae wa… ini!" Itachi memberikan kalung unik berbandul kerang cantik. Ia membelinya saat ia berlibur bersama teman gank-nya 'akatsuki'.
Mata Sakura langsung melebar. Bibirnyapun mulai menarik simpul bahagia. "Waah, kireii desu ne… Arigato ne Nii-san. Aku sangat senang.." Sakura memeluk kalung itu.
"Kemarikan, aku akan memakaikannya padamu." Sakura mengangguk dan Itachi memakaian kalung itu.
"Shankyu, aku pasti akan menjaganya!"
"Kau harus menjaganya! Itu penting!" Kata Itachi terlihat cukup serius. Sakura kembali mengangguk dan tersenyum.
Itachi mengambil duduk di samping Sakura. Mengambil buah apel merah dan mengigitnya. Mata sayunya hanya setia memandangi Sakura yang sedang mengamati kalung yang baru saja ia pakaian. Ia tersenyum dalam diam melihat tingkah 'adik'nya yang terlihat lucu di matanya. Semakin bertambah usia, Sakura tumbuh menadi gadis yang rupawan. Itachi mengakuinya.
"Ne, Sakura.."
"Ya?"
"Kira-kira kado apa yang cocok untuk Sasuke?"
"Kado untuk Sasuke?" Sakura terlihat bingung.
"Jangan bilang kau lupa dengan ulang tahun Sasuke?"
Sakura memutar otaknya."Astaga! Ini Juli! Sasuke no tanjoubi, tanggal 23! Aku tahu aku ini bodoh, tapi tak kusangka jika aku benar-benar sangat bodoh bisa melupakan hari sepenting itu!"
"Jangan menyalahkan dirimu sampai seperti itu, Sakura. Masih sekitar dua mingguan lagi. Meski kurang…"
"Iya juga, tapi sayangnya aku sudah membuat banyak janji pada tanggal itu! Itu final tournament tenis End of Summer Nii-san! Sekolahku masuk final dan wakilnya adalah murid dari kelasku! Mana mungkin aku membatalkannya aku sudah berjanji akan menjadi pemandu sorak!"
"Kau bisa merayakannya malam harinya.." Itachi memberi solusi.
Sakura mempertimbangkannya. Sepertinya ada benarnya juga saran dari sang kakak. Iapun menyetuuinya. Mereka berdua melanjutkan mengobrol untuk membahas hadiah yang cocok untuk Sasuke. Sebenarnya, Sasuke sendiri tak begitu peduli dengan hadiah di ulang tahunnya.
.
.
.
LIKE A FOOL
.
..
Sakura Dan Sasuke memasuki kereta Suna Express. Duduk bersebelahan di dekat pintu keluar kereta. Mereka berdua berencana mengunjungi rumah Naruto. Liburan kali ini sepertinya Sasuke dan Sakura tak memiliki rencana pasti untuk menghabiskannya. Seperti tahun sebelumnya mereka liburan di pantai. Saat ini karena Sakura ikut tambahan kelas, sepertinya acara bersenang-senang harus ditunda terlebih dahulu.
Di sepanjang perjalanan, Sasuke terus saja memprotes kalung yang Sakura pakai. Sasuke bilang jika kalungnya sangat jelek, murah, dan norak. Mau-maunya pakai kalung dari limbah dan sebagainya. Ia hanya tidak senang Sakura terlihat bahagia memakai pemberian kakaknya, Itachi.
Sakura memang tahu jika Sasuke tak begitu bisa memahami keindahan seni kerajinan kreatif. Ia berusaha membela diri, membela kalung berharga pemberian Itachi.
Satu jam kemudian, mereka sampai di rumah Naruto. Rumah mewah bergaya eropa itu nampak indah dengan taman bunga di halamannya. Kushina, ibu Naruto memang sangat menyukainya. Menyukai berbagai macam jenis bunga. Ya, Mikoto, ibunya, juga sama.
"Ara… Arigato bingkisannya, Sakura… Mikoto memang paling hebat dalam membuat kue-kuean seperti ini. Jangan lupa sampaikan terima kasih dari bibi padanya ya!" Kata Kushina sesaat setelah menerima purcle kue yang ia bawa dari rumah.
"Iya bibi.."
"Naruto sudah menunggu di taman belakang, biasa dia sedang bermain PS. Anak bandel itu memang tahu dengan baik bagaimana menghabiskan waktu liburannya. Haaah.."
Setelah bertegur sapa dengan Kushina, Sasuke dan Sakura menghampiri Naruto di taman belakang. Benar juga, Naruto sedang asyik bermain PS. Teriak-teriak tidak jelas dan mengganggu telinga. Jika Sakura tak menghentikannya, Sasuke pasti sudah melempari Naruto dengan sepatu.
"Naruto.."
"Naruto.."
"…"
"Sial anak itu terlalu focus bermain PS." Sakura mulai menyeringai. Ia mengambil nafas panjang. Sasuke menutup kedua telinganya. "NARUUUTOOOOOOOOO…"
Si punya nama langsung menoleh dengan cepat. Sudah ia duga jika hanya dengan teriakan dari Sakura yang bisa mengalihkan dunianya? Naruto memang menyukai hal lebay!
"Haha, Sakura, Sasuke ka?... Osashiburi…"
"Baru beberapa hari yang lalu kita bertemu Naruto no baka!" Kata Sakura.
"Iya juga sih… Hehe…"
Mereka mengobrol seperti biasanya. Sesekali diselingi dengan makan makanan ringan yang Kushina sediakan. Meminum jus semangka memang sangat cocok dengan musim panas yang sangat panas itu. Sasuke terlihat tak begitu menikmati acara ngobrol mereka. Ia kesal karena sedari tadi hanya membahas rencana untuk pemandu sorak final End of Summer yang akan diikuti Gaara. Ia sama sekali tak tertarik dengan hal macam seperti itu. Apalagi jika ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan keramian. Ia memang sangat membencinya. Keramaian itu sangat merepotkan.
Karena merasa semakin bosan dengan semangat berapi-apinya Sakura dan Naruto saat membicarakan EoS, Sasuke akhirnya memilih untuk tidur siang saja. Tempat yang mereka gunakan untuk mengobrol memang di design untuk tempat khusus mengobrol dengan tanpa kursi. Lesehan dengan kasur lantai yang empuk dan karpet merah buatan Turkey. Sepertinya angin sepoi-sepoi yang datang dari taman belakang membuat Sasuke terlalu nyaman dalam lelapnya.
Melihat Sasuke yang tidur nyaman, Sakura dan Naruto memutuskan untuk tidak mengganggu Sasuke. Mereka mengobrol di pinggir kolam renang tak jauh dari tempat Sasuke tertidur. Mereka berdua memasukkan kedua kaki mereka ke dalam air kolam. Menikmati nikmatnya ice cream coklat bercampur roti tawar dan coko chip buatan ibu Naruto, Kushina.
"Sasuke itu terus saja merengek-rengek tak jelas padaku akhir-akhir ini. Menyebalkan sekali sikapnya. Aku tahu ia memang kadang seperti itu, tapi jika terlalu gampang marah seperti saat ini kan aku kesal juga. Hal sepele saja, aku kena semprot! Haah mendokusai na.." Gerutu Sakura.
"Sabar saja, biasa kan pangeran manja memang seperti itu. Sasuke itu sangat menyayangimu, Sakura. Dia pasti akan mudah kesal jika itu menyngkut akan dirimu." Timpal Naruto.
"Rasanya aku seperti memiliki kakak Sis-con akut…"
"Kalian kan memang bersaudara, sudah sewajarnya kan dia seperti itu? Itachi-nii juga sama saja, dia juga sering menengahi kita jika kita ngobrol berdua! Itachi-nii jauh lebih menyebalkan!"
"Jika itu Itachi-nii, aku merasa wajar-wajar saja karena Itachi-nii 2th di atas kita. Wajarlah sikap kekakakannya. Kalau Sasuke? Kita seumuran, sesekolah, sekelas bahkan serumah denganku.. Rasa kesalnya kadang membuatku tak mengerti. Tiba-tiba marah, tiba-tiba sangat baik… Haah…" Sakura mengaduk-aduk ice creamnya. Mencoba mencapur roti tawarnya dengan cream ice cream..
"Sabar saja. Itu hanya tandanya jika dia memperdulikanmu.."
"Sasuke bahkan pernah…." Sakura menghentikan ucapannya. Ia tak ingin membahas ciumannya dengan Sasuke. sepertinya lebih baik jika itu hanya menjadi rahasia saja.
"Kenapa dengan, Sasuke?" Naruto cukup penasaran.
"Ah, tidak kok… Ayo ke tempat Sasuke. Aku ingin main PS bersamamu."
Naruto tak begitu mempermasalahkannya. Jauh di dalam hatinya, sejujurnya ia cukup menyadari jika sahabatnya yang satu ini mulai dipermainkan oleh permainannya sendiri. Ia memang belum memastikannya, tapi ini adalah tanda. Tanda awal baginya untuk lebih memperhatikan ke dua sahabatnya itu.
Sakura dan Naruto bertanding bermain PS. Sakura selalu menang jika bermain game dengan taktik serangan! Naruto tidak pernah bisa mengalahkan Sakura dalam bermain PS terutama jenis taktik serangan yang membutuhkan kemampuan otak untuk berfikir, bahkan game online yang mereka berdua ikuti, level Sakura juga jauh di atas Naruto. Kadang Naruto berfikir, Sakura pandai membuat strategi serangan maupun perang, tapi kenapa sering mendapatkan nilai buruk. Naruto sama sekali tak mengerti bagaimana otak Sakura bekerja.
Sakura memang cukup hebat dalam bermain game taktik. Sayangnya, masih kalah jauh dengan Sasuke. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dengan Sasuke. Rasanya menyerah sebelum bertanding jauh lebih baik daripada harus bertanding dengan Sasuke tapi kalah telak yang di dapat.
Cukup lama mereka berdua bermain PS. Sakura mulai bosan dan lelah. Akhirnya ia menyerah dan tiduran di samping Sasuke. Naruto kembali melanjutkan permainan meski sendiri. Sesekali ia memperhatikan kedua temannya yang sedang tiduran di sampingnya itu. Ah, rupanya Sakurapun ikut terbuai mimpi di musim panas. Sakura tertidur dengan cepatnya.
Selang beberapa saat, Sasuke membuka matanya. Mengusapnya pelan untuk membuat pandangannya agar lebih jelas. Ia melihat Sakura tertidur di dekatnya. Sangat damai dan rasanya Sakura terlihat sangat…manis? Mata indah dengan bulu mata lentik itu sedang terpejam, bibir tipis merekah itu, hidung dan dada yang kembang kempis secara teratur, tubuh ramping itu, kaki yang jenjang. Semua sangat sempurna di mata Sasuke.….Sepertinya fikiran normalnya harus ia tata kembali! Fikiran aneh memang menyerang otaknya akhir-akhir ini. Itu menjadi beban berat untuknya.
Dengan cepat ia mengambil jaket yang tergletak di samping Sakura dan langsung menutupi kaki Sakura dengan jaketnya itu.
.Sasuke lalu mencari sosok Naruto si kepala duren itu. Naruto sudah tidak bermain PS, terlihat dengan LED besar di depannya yang mati. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Naruto sedang duduk di kursi taman. Naruto sedang bermain dengan Hpnya. Tanpa basa-basi, Sasuke langsung menghampiri Naruto yang terlihat cukup serius dengan Hpnya.
Sasuke mematung seketika saat ia melihat apa yang membuat Naruto begitu seius dengan Hpnya. Rupanya Naruto sedang melihat blue film!
"Saitte! Menjijikkan!" Kata Sasuke.
Naruto langsung menoleh cepat dang tersenyum aneh tidak jelas. "Haha, wajar sasuke. aku ini normal! Kau mau melihatnya?" Goda Naruto. Naruto menunjukkan video itu pada Sasuke, pas sekali dengan adegan panasnya.
Sasuke terlihat cukup kesal. "Jauhkan itu atau aku akan melempar HPmu ke kolam!"
"Jiiiaahh baiklah!..." Naaruto mematikan Hpnya. "Nah Sasuke, apa kau tidak pernah melihat film seperti itu?"
Sasuke duduk di samping Naruto. "Kenapa memangnya?"
"Ya kan, ini wajar saja ditonton buat anak seumuran kita. Maksudku bukan untuk konsumsi sehari-hari. Hanya untuk edukasi saja."
"edukasi katamu? Kau saja tersenyum mengerikan saat menontonnya."
"Aku normal Sasuke! Tapi tidak sampai yang aneh-aneh, aku hanya sekedar menontonnya. Aku masih warah Sasuke. Jangan kau menduga yang aneh-aneh!"
"Cih, banyak alasan saja kerjaanmu!"
"Kau juga pernah melihatnya, kan? Ngaku saja Sasuke, aku tahu banyak hal tentang dirimu." Naruto menyeringai.
"Tentu saja! Tapi tak seekstrim dirimu!"
"Hahahaha.. Sudahlah!..." Naruto meregangkan otot-ototnya. "Setidaknya, jangan pernah melakukan hal semacam ini di luar nikah."
"Ah.."
Menjelang sore, Sakura dan Sasuke berpamitan pulang. Mereka berjalan riang menuju stasiun kereta Kurama, stasiun kereta terdekat dengan rumah Naruto. Sore ini terlihat sangat sibuk dengan banyaknya orang-orang yang pulang kerja. Kereta terlihat sangat penuh. Meski begitu, Sakura dan Sasuke cukup beruntung karena berhasil masuk di antara himpitan yang menyesakkan di dalam kereta.
Berdesak-desakkan, sangat pengap, dan saling berhimpitan membuat sangat sulit bergerak. Sasuke melihat Sakura kesulitan bernafas karena terjebak di anatara para pekerja dewasa. dengan gerakan penuh tenaga, ia meraih tangan Sakura dan menariknya cepat agar mendekat dengannya. Sasuke berhasil membuat Sakura berada dalam perlindungannya. Sakura berada di depannya dengan bersandar pada jendela kereta. Sasuke menjadikannya sebagai tameng untuk melindungi Sakura dari penumpang lain yang menurut Sasuke mengambil kesempatan dalam kesempitan kereta itu.
Sasuke terlihat sangat lega melihat Sakura di sisinya. rasanya seperti sudah 'menyelamatkan' Sakura dari tempat neraka. Sakurapun juga merasa lega, nyaman. Berada di samping Sasuke memang jauh lebih nyaman dari pada harus beradu badan dengan kesumpekkan penumpang lain. Merasa seperti dilindungi oleh Sasuke. Maa, memang seperti itu yang selama ini ia rasakan jika sedang berasama dengan Sasuke. Sasuke selalu melindunginya!
Kereta terus melaju dengan cepat. Namun tiba-tiba kereta menjadi tak stabil saat melintasi tikungan yang cukup tajam sehingga membuat seluruh penumpang kehilangan keseimbangan.
Sakura langsung meraih tubuh Sasuke yang ada di depannya untuk berpegangan agar tak terjatuh. Pelukan sakura yang cepat dan mendadak ditambah timpaan dari penumpang lain, membuat Sasuke juga kehilangan keseimbangannya, iapun terjatuh di tubuh Sakura.
Sakura memejamkan ke dua matanya takut jika ia akan tersakiti. Memang cukup sakit saat ia harus merasakan punggung kurusnya bersapaan dengan jendela kereta yang tertupup rapat itu. Ditambah dengan beban tubuh Sasuke di pelukannya. Sebenarnya, Sasuke berusaha keras untuk menahan dirinya agar tak jatuh menimpa Sakura. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya di dinding kereta. Sakura merasa cukup beruntung tak semuanya merasakan ketimpaan beban tubuh Sasuke dan penumpang lain. Sasuke sekali lagi berhasil melindunginya.
Namun….
Pegangan erat Sakura pada tubuh Sasuke yang lebih tepat terlihat tengah memeluk Sasuke, membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Jantung keduanya mula berdetak cepat. Saking cepatnya sehingga membuat tak beraturan, tak menentu. Mereka berdua jelas merasakan jantung mereka. Sasuke maupun Sakura bisa merasakan jantung mereka sendiri dan jantung lain yang bukan milik mereka. Sakura bahkan bisa merasakan hembusan hangat nafas Sasuke di tengkuknya. Sangat tak beraturan. Sakura tahu jika saat ini Sasuke mengeluarkan tenaga lebih untuk melindunginya dari ketimpaan penumpang lain. Tetapi nyatanya, Sakura jusru kehilangan kendali akan tubuhnya. Semua terjadi di luar kendali otaknya. Rasanya ia ingin segera lari dari situasi seperti ini, lari dari posisi ini yang selalu saja mengingatkannya pada kejadian yang sudah-sudah. Sakura yang berusaha menyingkirkan jauh fikiran anehnya justru harus bertemu kembali dengan rasa yang membuatnya seakan putus asa.
Bagaimana dengan Sasuke? Sesaat setelah kereta kembali melaju normal, meski suasana masih berdesakkan setidaknya semua dalam kondisi bisa menjaga keseimbangannya.
Hanya saja, rasanya seperti lupa waktu dan suasana….
Sasuke bahakan lebih parah dari Sakura. Batas normal yang selalu ia kendalikan memang semakin sulit baginya. Hal seperti ini justru semakin ingin mengambil alih dirinya. Memaksa keras untuk menghapus batas normal itu. Hasrat yang besar ingin segera keluar. Tanpa sadar ia menarik Sakura dengan tangan kirinya ke dalam pelukkannya. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dirinya di dinding kereta.
Sakura hanya terdiam tanpa kata sesaat setelah Sasuke tiba-tiba meraih pinggang rampingnya ke dalam pelukkan Sasuke. Otaknya yang penuh tanya terasa semakin bual, semakin keruh untuk sekedar berfikir jernih. Bagaimana bisa, bagaimana mungkin, kenapa, bahkan apa, ia tidak bisa merangkai kata untuk mengungkapkannya. Blank! Ia tidak bisa berkutik. Anehnya tangannya malah tidak mau lepas memegang tubuh Sasuke.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Sasuke akhirnya. Sasuke melepaskan pelukkannya pada Sakura
Sakura terbangun dari kemelut otaknya yang berputar-putar. "Ha-hai aku tak apa-apa.."
Sakura langsung melepaskan kedua tangannya dari tubuh Sasuke. Mereka berdua langsung terdiam, tidak tahu apa yang harus diucapkan. Rasanya berat dan tak punya ide.
Sakura membalikkan badanya mengarah ke jendela luar sama seperti posisi Sasuke. Ia membelakangi Sasuke. Bohong jika jantungnya sudah kembali normal ia bahkan bisa merasakan jantung Sasuke saat bersentuhan tadi.
Sakura menatap lurus ke luar jendela untuk menormalkan jantungnya, tapi, saat ia mencoba melihat ke arah luar ia menangkap bayangan Sasuke dari kaca jendela kereta. Mata Sasuke terlihat sangat tajam menatap dirinya.
"Sasuke menatap tajam diriku.. ke-kenapa aku… aku menjadi ta-takut…?" Batin Sakura.
.
.
.
LIKE A FOOL
.
.
.
"WOOOOOAAAA… SAKURA! KAU MENAKUTKAN!" Teriak Naruto saat membuka kamarnya dan mendapati Sakura berdiri di depan pintu kamarnya dengan tampang yang menakutkan. Mata hitam, berkantung, terlihat pucat, berkeringat, dan rambut yang cukup berantakkan.
"Naruto tolong aku, hiks…" Sakura menangis dan langsung memeluk Naruto.
Naruto mencoba menenangkan Sakura dan membawa Sakura masuk ke dalam kamarnya. Rupanya hari ini Sakura kembali mendatangi rumah Naruto karena setelah kejadian di kereta kemarin sore dengan Sasuke, ia sama sekali tak bisa tidur, ia selalu kepikiran Sasuke. Sasuke berputar-putar di otaknya. Membuatnya kepikiran semalaman suntuk, sudah begitu, kepalanya menjadi pusing, ia bahkan menjadi tak berselera makan.
"Jadi seperti itu?" Tanya Naruto. Mereka duduk di balkon kamar Naruto.
"Hn.." Sakura menghapus air matanya.
"Kau memiliki perasaan lebih pada Sasuke ya, Sakura?" Tanya Naruto tanpa basa-basi. Ia memang sudah menduganya sejak awal jika hal ini pasti akan terjadi mengingat bagaimana dekatnya hubungan Sasuke dan Sakura.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini… Naruto, aku tidak mau seperti ini. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku berlanjut, aku ini adiknya Sasuke! Aku harus tahu diri, aku tidak mau mengecewakan ayah Fugaku daan ibu Mikoto…"
"Sakura, sedari awal aku mengkhawatirkanmu karena hal ini. Kau tahu kan, jika kau mencoba menyatukan Sasuke dengan cewek lain aku mecolaknya? Ini, ini yang aku maksud… Ketahuilah Sakura, jika kau ingin bersama Sasuke dalam lingkup hubungan romance, kurasa itu tak apa-apa, kau tak memiliki ikatan darah dengan Sasuke…"
"Naruto, mengertilah posisiku di keluarga Uchiha…"
"Aku mengerti, Sakura. Sangat!.. Hanya saja ini akan membuatmu terluka.."
"Tak apa, Naruto.. Toh aku juga belum memastikannya, perasaan ini hanya membuatku bingung saja. Mungkin karena perlakuan Sasuke saja yang akhir-akhir ini agak berubah,, makanya aku jadi salah paham, salah tafsir. Tapi jika ini memang sebuah rasa yang bersifat romantic, aku harus segera menjauh dari Sasuke… Aku tidak akan membiarkan perasaan ini semakin berkembang menjadi cinta!"
"Sakura, tak perlu sejauh itu!"
"Harus, aku harus melakukannya, Naruto! Kau tahu, kan? Aku sudah berjanji pada Hinata akan membantunya bersama Sasuke…:"
"Kenapa harus, Sakura?"
"Karena aku berjanji.. Aku harus memenuhi janjiku pada Hinata.."
"Sakura.."
"Naruto, bantulah aku!. Bantulah aku agar aku tak menjadi orang jahat karena ingkar janji.."
Mata Sakura terlihat begitu serius dengan kata-katanya. Naruto menghela nafas panjang. "Resiko sakit dan menangis, kau pasti akan menanggungnya, Sakura…"
"Aku tahu, tapi aku yakin itu tidak apa-apa…"
"Berjanjilah untuk tidak menangis karena kesedihan di depanku lagi, Sakura!" Naruto tidak suka melihat Sakura menangis di depannya. Ia sangat menyanyangi Sakura. Mana bisa ia membiarkan Sakura terluka.
"Hn aku berjanji…" Sakura kembali tersenyum. "Naruto, bantulah aku mencari kost!" Ide yang sudah lama Sakura fikirkan akhirnya bisa keluar juga dari mulutnya.
"Apa?"
"Naruto, temani aku cari kost!"
"Tidak!"
"Narutooo…."
"Tidak!"
"Onegaishimasu, Naruto-kun…"
"Tidak Sakura! Tidak… Kau ingin membuatku dibunuh kedua kakakmu yang gila itu? Tidak! Aku tidak mau!"
"Ayolah, aku akan membeliknmu ramen selama sebulan!"
"Ramen memang menggoda, tapi Sakura, jangan sampai seperti itu. Jangan menggunakan ramen untuk menyuapku!... Jika dekat dengan Sasuke begitu menyesakkan, kau hanya perlu menjaga jarak dengan Sasuke dan bersikap wajar seperti yang biasanya. Sembunyikan emosimu!"
"Tidak bisa! Jika semakin lama aku bersama Sasuke, aku takut aku akan semakin sulit melupakan perasaan aneh ini! Kau bilang kau tak mau melihatku menangis, kan? Makanya, bantulah aku!"
Mereka berdua terus saja beradu argument tentang keinginkan Sakura untuk tinggal di kost. Hingga pada akhirnya Narutopun menyerah dan mau menemani Sakura mencari kost. Sakura terlihat sangat senang sekali. Naruto hanya bisa tersenyum dipaksakan. Bagaimanapun keputusannnya membantu Sakura semakin menambah kekhawatirannya. Rasanya semakin hari, langkah yang ia ambil untuk membantu Sakura semakin membuatnya takut. Anehnya, tak tahu kenapa ia menuruti saja permintaan dari Sakura.
Naruto, sebegitu besarnya ya kau menyayangi, Sakura?
Bukan kost, lebih tepatnya sebuah apartemen kecil minimalis, lengkap dengan tempat tidur single bed, ruang tamu, kamar mandi mini dan dapur. Cukup bagus dan terlihat nyaman. Apartemen itu berada di lantai dua, berada di paling pojok berteman dengan tiga kamar di sampingnya.
Sakura menyukai apartemen minimalis itu. Tak jauh dari kompleks rumah Naruto dan stasiun Kurama. Jadi ia tak harus bersusah payah jika harus berangkat ke sekolah.
"Dengan begini kita bisa berangkat bersama, Naruto. Aku pasti akan membangunkanmu setiap hari!" Kata Sakura.
"Haha, benar juga… Sewa apartemen ini tak begitu mahal juga, aku pasti akan membantumu membayarnya. Jangan sungkan ya!"
"Tidak usah khawatir, tabunganku banyak!"
"Lalu kapan kau akan memulai pindahannya? Aku akan membantumu."
"pertama, aku harus meminta izin pada ayah dan ibu dan kedua nii-san-ku…"
"bagaimana kau menjelaskannya? Itu akan sangat sulit, aku yakin bibi Mikoto tidak akan mengizinkanmu.."
"Soal itu, aku sudah memikirkannya. Aku memiliki senjata ampuh untuk itu.." sakura tersenyum senang.
"Aku percaya padamu, Sakura.."
"Arigato, naruto-kun…"
Naruto tersenyum.. "Sasuke pasti akan membunuhku.." Batinnya miris.
.
.
.
Like a Fool
.
.
.
Suasana ruang tamu keluarga Uchiha terlihat cukup mencengkam. Sakura duduk di sebelah sang ibu. Sasuke dan itachi berada di seberangnya, dan sang kepala keluarga, Fugaku, duduk sendiri memimpin kursi-kursi ruang tamu itu.
Protes dan butuh penjelasan selalu melayang pada Sakura. Sakura berusaha dengan baik menjelaskan keinginannya itu. Keinginannya untuk tinggal sendiri di apartemen.
"Ibu sudah lelah, Sakura.. Ibu tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi keinginanmu itu. Apa ibu dan keluarga ini mengecewakanmu? Membuatmu tidak nyaman sehingga kau ingin pergi dari rumah ini.. Membuatmu tak betah tinggal di sini…" kata Mikoto.
"Bukan seperti itu, ibu.. Rumah ini sangat nyaman… Aku menyukainya, sangat menyukainya…"
"Lalu kenapa? Kenapa. Sakura?"
"Apa anak ayah memperlakukanmu tidak baik, sakura?" Tanya Fugaku.
Sakura menggeleng. Lalu ia tersenyum manis. "Itachi-nii, sangat baik padaku… sasuke-kun mo... Mereka memperlakukanku sangat baik, Ayah, Ibu…"
"Itachi, bantu ibu!" Mikoto menoleh pada si sulung.
"Sakura, kenapa tiba-tiba seperti ini? Kau juga masih kecil untuk tinggal sendirian lagi pula sebentar lagi kau dan sasuke juga akan lulus." Kata Itachi. Sementara si bungsu Sasuke sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun, terhitung semenjak Sakura mengutarakan keinginannya untuk pindah.
"Justru karena itu, Nii-san.. Nii-san, ibu, ayah, dan Sasuke-kun juga sudah tahu jika setelah lulus aku akan melanjutkan kuliah di luar negeri, di Prancis. Aku akan tinggal sendirian di sana. Ini pasti akan sangat sulit mengingat bagaimana kehangatan rumah ini. Tapi, jika dengan cepat aku belajar tinggal sendirian, aku yakin jika aku kuliah nanti, aku tidak akan kaget tinggal sendirian. Ayah selalu bilang untuk belajar hidup mandiri, inilah saatnya aku belajar…" Kata Sakura.
"Belajar mandiri tak harus meninggalkan rumah, Sakura…" Mikoto masih mencoba menyanggah.
"Ibu benar… Nii-san setuju dengan ibu. Tak seharusnya seperti itu! Nii-san akan mengajarimu, sakura…" Sambung Itachi.
"…"
Suasana kembali terdiam. Menunggu Fugaku mengambil keputusan. Fugaku adalah sosok yang bijaksana. Bagaimanapun ia juga tak bisa mengabaikan keinginan Sakura, anak sahabat terbaiknya itu.
"Baiklah, ayah mengizinkanmu dengan banyak pertimbangan..'
"Anata!" Kata Mikoto cukup keras.
"Ayah!" Itachi ikutan tidak setuju.
Fugaku memberikan alasan yang tepat untuk mengizinkan keinginan Sakura. Meski sempat eyel-eyelan dengan Mikoto dan Itachi, akhirnya keputusannya dimengerti juga meski rasanya berat. Sakura sangat senang dengan izin yang diberikan ayahnya. Senjata ampuhnya memang berhasil meskipun membuat ibunya menagis.
.
.
Usai 'meeting' yang sangat kolot itu, Sakura kembali ke kamarnya. Sebenarnya ia ingin berbicara pada Sasuke yang kini sedang berjalan mengekorinya. Tapi sikap Sasuke seolah membuat dinding yang tak mau didekati. Imbasnya Sakura juga ikutan diam, ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Sasuke.
Rasanya, kenapa tiba-tiba menjadi canggung?
Sakura hanya terus saja melangkah, menaiki step by step anak tangga menuju kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Sasuke.
Perlahan tapi pasti, akhirnya mereka berdua sampai di atas. Ketika sakura hendak membuka kamarnya. Tiba-tiba tangan kirinya dicengkram oleh tangan Sasuke. Sasuke bahkan menarik paksa tangan Sakura dan membawanya ke kamarnya, meninggalkan kamar Sakura yang sedikit terbuka.
Sasuke menghempaskan keras tubuh langsing Sakura ke ranjangnya. Sakura sangat kaget dengan perlakuan Sasuke yang tak biasa itu. Sakura juga bisa merasakan sakit dari bekas cengkraman tangan Sasuke di tangannya. Sasuke bersikap cukup kasar terhadap Sakura.
Sasuke bahkan menindih tubuh Sakura. Sakura mencoba menahan tubuh Sasuke agar tak semakin menindih tubuhnya. Sasuke menatap tajam Sakura. Ada hasrat lain yang melonjak, membuncah kuat, hanya saja emosinya saat itu jauh lebih kuat, jauh lebih berkuasa untuk segera disalurkan.
"Sasuke-kun, menyingkirlah. Berat!.. Ada apa denganmu hah? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?" Ronta Sakura.
"Kau yang ada apa! Tiba-tiba ingin pindah dan tinggal sendiri. Apa-apaan kau ini, HAH?"
"Aku tadi sudah menjelaskannya dan kurasa itu sudah cukup jelas, Sasuke-kun!"
"Seenaknya membuat masalah, seenaknya membuat alasan, seenaknya memutuskan. Apa yang ada di otakmu itu Sakura?"
"Hargailah keputusanku, Sasuke-kun!"
Sasuke semakin menatap tajam Sakura. "Apa-kau sedang berusaha menghindariku?"
"Hah? Ha-ha ha ha… Menghindarimu?" Sakura tertawa hambar. "Yang benar saja! Aku melakukan ini atas keinginanku sendiri!" Bohong, Sakura memang sedang berbohong. Salah satu alasan ia pindah memang karena Sasuke juga.
"Uso!"
"Uso janai!" Sakura menatang Sasuke dengan berani melawan tatapan tajam Sasuke. "Aku akan belajar mandiri aku sudah memikirkannya jauh sebelum ini. Bukan karena keluargamu ini juga demi diriku. Jika tidak mulai dari sekarang, kapan lagi? Saat aku kuliah di Prancis nanti aku akan sendirian. Kau dan Naruto akan masuk universitas dengan basic bisnis, sedangkan aku akan masuk universitas basic fashion. Bukankah kau bilang kau akan masuk Oxford? Kita tak bisa selamanya bersama. Kita memiliki cita-cita yang berbeda. Tapi, kita masih bisa bertemu, kau juga bisa mengunjungiku. Apartemen yang aku sewa dekat kok, searah dengan kompleks rumah Naruto…"
"Ini ulah Naruto, aku akan membunuhnya!"
"Naruto tidak ada hubungannya dengan keputusanku. Berhentilah bersikap kekanakan! Ini semua datang dari hatiku… Mengertilah Sasuke-kun, ada kalanya jika kita harus berpisah. Toh Cuma sementara…"
Semenatara memang masih bisa Sasuke pertimbangkan. Bukankah itu artinya jika ia dan Sakura tak akan berpisah selamanya? Ayolah, ia sadar, terlalu lama bersama Sakura membuatnya menyayangi Sakura. Jika Sakura pergi, rasanya pasti akan berbeda. Namun, Tidak tahu kenapa, Sasuke menyingkir dari tubuh Sakura. "Maaf aku membuat tanganmu kesakitan.." Kata Sasuke akhirnya.
Sakura bangkit dari ranjang Sasuke. Ia duduk dan memijat pelan bekas cengkraman Sasuke. "Tidak terlalu sakit kok… Maaf juga karena sebelumnya aku tak memberitahumu."
"Kapan kau akan pindah?"
"Secepatnya.. Mumpung masih libur, jadi aku memiliki banyak waktu."
"Hm, souka."
"Hai."
….
…
Tidak ada pembicaraan lanjut, akhirnya Sakura memilih meninggalkan kamar Sasuke. Jujur saja, perlakuan Sasuke tadi membuatnya ketakutan setengah mati. Ditarik kasar, dihempaskan di ranjang,, ditindih, rasanya otaknya menyiapkan praduga yang aneh dan tidak wajar. Tapi nyatanya semua praduga otaknya salah, Sasuke hanya kesal dan marah padanya. Lega. Apa maksudnya? setidaknya Sasuke tak menyadari perasaannya, tak menyadari alasan lain yang sesungguhnya.
"Kuso!" Sasuke memukul kasur ranjangnya. Ia sangat kesal tak bisa mencegah Sakura…
.
.
.
LIKE A FOOL
.
.
.
Dengan kekuasaan dan uang, apartemen yang tadinya hanya boleh disewa dapat dengan mudah dibeli. Fugaku membeli apartemen minimalis itu dengan harga yang tidak akan mungkin ditolak pemiliknya! Sudah pasti di atas harga normal. Harga satu pintu setara dengan harga kesuluruhan apartement yang berjumlah 8 pintu itu. Manusia biasa pasti akan dengan mudah tergoda. Uang adalah alasan utama. Tidak usah sok suci dan munafik. Di dunia ini uang memang sangat penting.
Mikoto juga membeli banyak furniture dan kebutuhan dapur untuk mengisi apartemen Sakura. Ia bahkan mengecat ulang dan membuat apartemen Sakura terlihat jauh lebih baik dan nyaman untuk ditinggali. Memang berlebihan, tapi karena rasa cinta dan sayanglah semua bukan hal yang berlebihan bagi Fugaku dan Mikoto. Bagaimanapun Sakura juga anak mereka berdua meski bukan dari darah mereka.
.
.
Dalam satu bangunan itu terdiri dari dua lantai dan 8 pintu utama. 4 pintu di lantai bawah dan 4 pintu di lantai atas. memang bukan apartemen mewah, jangankan mewah, meski minimalis tapi sebenarnya sangat sederhana….
Sakura, Sasuke, Itachi, dan Naruto bahu membahu membantu Sakura pindahan. Mereka saling gotong royong menata tempat tinggal baru Sakura. Menata kursi, ranjang, almari, dan juga mengisi isi kulkas. Itachi bahkan terlihat sangat menikmati waktunya ketika ia sedang asyik menata bunga asli untuk hiasan ruang tamu. Sasuke dan Naruto beradu argument tentang letak paling bagus untuk menaruh almari pakaian. Sakura kebagian tugas menata gorden di jendela. Ia senang melihat keakraban keluarganya.
Acara pindahan hampir selesai secara keseluruhan, Sakura memutuskan untuk memasak ramen di dapur. Ia juga membuat tempura dan daging sapi panggang. Naruto ikut membantu. Itachi menyiapkan minuman. Sasuke? Sasuke yang tak tahan dengan gerah memilih untuk mandi.
Setelah semuanya selesai, masakan juga selesai, layaknya pesta kecil, mereka berempat menikmati hidangan sederhana itu dengan rona kecerian. Sasuke memang tak banyak tersenyum, itu sifat bawaannya, tapi itu juga hasil dari kekesalannya pada Sakura. Siapa bilang rasa kesalnya sudah hilang? Ia masih sulit menerima saja. Berangkat sendirian ke sekolah itu merepotkan dan membosankan. Siapa lagi yang akan ia goda? Siapa lagi yang akan menjadi sasaran kekesalannya? Siapa lagi yang harus ia kerjai? Itachi? Bermain dengan kakaknya sama sekali tidak mengasyikkan. Kakaknya selalu sibuk dengan urusan anak kuliahan. Jujur saja, bukankah itu seperti kesepian?
Sasuke tak mau mengakuinya! Maaf saja, egonya masih terlalu tinggi untuk sekedar mengakuinya.
Malampun tiba. Naruto kembali ke rumahnya. Itachi dan Sasuke juga sama. Sebenarnya Sasuke ingin menemani Sakura di malam pertamanya tinggal sendirian di apartemen, tapi sang ibu tiba-tiba datang membawa selimut tebal, banyak makanan, dan baju ganti, lalu bilang jika ia akan menemani Sakura untuk dua hari ke depan! Tingkat kekhawatiran yang akut. Ingat, wajar, orang tua..
"Jendela sudah dikunci, pintu depan sudah dikunci double, kompor listrik sudah mati, air kamar mandi sudah mati. Shiiip, sudah aman!" Kata Mikoto.
"Ibu, aku sudah mengeceknya dengan sangat baik! Ibu istirahat saja!"
"Sakura, kau akan tinggal sendirian, itu berbahaya jika kau sampai lupa mengunci apartemenmu.. Ingat, jangan sampai lalai!"
"Iya, Kaa-san… Arigato.."
Mikoto tersenyum dan mereka tidur bersama di kasur single bad tapi muat untuk dua orang. Sakura tersenyum memandangi wanita setengah abad yang terlelap di sampingnya saat ini. Wanita yang masih sangat cantik meski sudah berumur. Wanita yang sangat menyayanginya layaknya ibu kandungnya.
"Mikoto-kaa-san saiko.. Ibu yang terbaik! Arigato untuk semuanya.." Sakura membenarkan selimut Mikoto.
Beep…beep..beeep… ada pesan masuk. Sakura mengambil Hpnya. Membaca pesan itu, lalu ia tersenyum.
To: Hinata Hyuga
'Iya, tanggal 23. Seminggu lagi.. Tenang saja, aku akan membantumu. Persiapkan saja dirimu untuk hari itu!
Balas Sakura..
.
.
.
Di tempat Hinata…
"Sasuke-kun, aku tidak akan menyerah akan perasaan ini…" Gumam Hinata saat melihat foto Sasuke di anatara kerumuman siswa lain saat darma wisata di panati Okinawa kelas XI.
.
.
.
To be continue…
.
.
.
Malam-malam buatnya, nahan lapar dan kantuk. Pengen makan, tapi takut gemuk. Pengen tidur, tapi gak bisa tidur. Lanjuttin FF biar cepet rampung tapi idenya gak nyambung-nyambung. Ahhh… semprolll
.
.
Next chapter: "Sasuke-kun, jangan…"
.
.
Akashi : "jangan apa?"
Sata : "Jangan kau tinggalkan aku.."
Akashi : "Baiklah.."
Sata : "Honto ni?"
Akashi : "Honto desu."
Akashi semakin mendekatkan wajahnya pada Sata. Dekat dan semakin dekat… sata memejamkan ke dua matanya…
Praaankkkkk *rantangJatuhdiTabrakKucing
Sata : "Yah, hanya mimpi…"
.
.
.arigato sudah membaca, sampai jumpa di next chapter ya.
Bye..
Matta ne…
