Chapter 7
.
.
.
Karena chapter ini panjang jadi aku jadiin dua chapter..
.
.
WARNING! MOHON YANG DI BAWAH UMUR TIDAK USAH MEMBACANYA ATAU SKIP AJA! BUAT JAGA-JAGA…
.
DON'T LIKE DON't READ!
.
EASY, RIGHT?
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok aim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
…
.
.
"Sa-sasuke-kun?" Panggil Hinata.
"Nani?" Jawab Sasuke.
"Ki-kita sekelas ya?.."
"Hn."
Hinata mengambil kotak makan dari tasnya. Ia menunduk malu-malu. "Ma-mau me-mencicipi bekal buatanku sendiri?"
Sasuke mentap gadis kaku di depannya itu. Ia memang sudah lama mengenal Hinata ia juga sering belajar bersama dengan Hinata, tapi meski sering bersama, Hinata terus saja terlihat malu-malu saat bersama dengan dirinya.
Sasuke melihat beberapa takoyakidari dalam kotak makan itu. Dengan tangan kanannya iapun mengambil takoyaki dan memakannya.
"Umma"
Hinata memanncarkan senyuman bahagianya. "A-arigato.."
.
.
.
SAKURA'S POV
Ahh, aku hampir melupakannya jika saat ini aku sudah tinggal sendiri. tidak lagi… menumpang di rumah Sasuke. Mau bagaimana lagi, rasanya itu yang terbaik. Lagi pula memang aku juga tak begitu pantas tinggal di rumah itu. Mereka terlalu baik padaku membuatku terlena jika sebenarnya aku bukanlah siapa-siapa…
Menjadi bagian keluarga Uchiha karena mereka mengangkatku sebagai anak bungsu mereka adalah anugerah. Aku sangat bersyukur akan hal itu.. Namun kadang juga aku tak bisa selamanya seperti itu kan? Maksudku.. apa iya aku akan terus mengandalkan keluarga Uchiha? Aku juga memiliki hidup yang harus aku pertanggung jawabkan…
Selain itu. Sepertinya itu yang terbaik untukku dan Sasuke…
.
.
Masaka sendiri mencuci baju sendiri, bersih-bersih rumah sendiri ahhh.. rasanya aku sedang bernyanyi lagu dangdut saja…
Aku meregangkan otot-ototku.. gilaaa sangat capek.. lelah sekali… sarapanku bahkan semangkuk ramen instant. Beruntung semalam Naruto datang berkunjung dan memberiku banyak ramen instant. Jika ibu Mikoto tahu aku pasti akan dimarahi… Aku sudah berjanji padanya untuk memakan makanan yang sehat.. Ibu, gomenasai…
Sasuke belum terlihat terhitung sejak empat hari yang lalu.. ah, dia kan ikut bimbingan belajar bisnis.. maklum.. Oxford incaran dia. Sepintar apapun dia, rupanya tidak bisa menolak perintah ayah Fugaku untuk ikut les. Hahaha.. aku yakin dia pasti sedang kesal karena waktu main game online-nya berkurang.. kekekke..
Oh ya, besokkan ulang tahun Sasuke… hmmm, Itachi-nii bilang untuk membeli kado untuk Sasuke. Nii-san bahkan memberiku banyak uang.. apa yang harus aku beli? Action figure? Sasuke kan menyukainya… ah entarlah.. sepertinya aku harus bershopping ria hari ini… tapi mengajak siapa? Naruto? Sama ikut les… Ino? Dia kan baru pulang dari rumah neneknya, kasihan pasti kelelahan… Haaah… sepertinya harus sendirian deh…
.
.
Siiip, aku sudah cantik. Haha padahal biasa saja, gadis tomboy seperti diriku mana ada cantik-cantiknya jadi cewek… maaa, itu kata dari Sasuke…
Aku berjalan keluar pintu.. memastikan kunci apartemenku….
Eh.. tetangga sebelahku sudah ada penghuninya ya… pintunya terbuka… ah lebih baik aku memberi salam…
.
END OF SAKURA'S POV
.
.
"Ano, hajimemashite, watashi wa haruno Sakura desu.. tetangga baru.. yoroshiku onegaishimasu…" Kata Sakura memperkenalkan diri.
"OH, Sakura ka? Oshashiburi…" Kata laki-laki yang tinggal di pintu nomor 3 tetangga kamar Sakura. Laki-laki itu sedang membawa kardus cukup besar. Suara yang taka sing.
"Ha? Luffy-kun… Oshashiburi… Kau tinggal di sini rupannya?"
Mugiwara no Luffy, teman Sakura dari kelas XII C… "Iya, tapi karena saat liburan aku pulang ke rumah, jadi aku meninggalkan apartemenku. Hahah.. jadi kau tetangga baru itu rupannya…"
"Hai.."
"Rasanya apartemen ini bakal seperti sekolah saja.."
"Nande?"
"Pintu nomor 6, itu milik Yuuichirou. Pintu nomor 5 milik Ichigo Kurosaki,. Di lantai bawah nomor 1, 2, 3, dan 4 dihuni Kirito, Yato, Midorima, dan Kuroko…"
"Haha… sugoi ne… yokatta.. semakin ramai saja.."
"Ya begitulah, sayangnya mereka belum kembali dari luburan mereka. Hanya aku saja… Etto.. sepertinya kau sedang ingin pergi ke suatu tempat? Kau terlihat rapi.."
"Iya, aku ingin membeli sesuatu…"
"Ahh kebetulan sekali.. apa aku boleh ikut bersamamu? Aku juga ingin membeli perlengkapan kost yang habis…"
"Baiklah.. ayo kita belanja bersama.."
"Hai.."
.
.
Mereka berdua menyusuri teriknya kota, mencari apa yang mereka berdua inginkan. Pertama mereka mencari barang keperluan milik Sakura, hadiah untuk Sasuke. Sakura banyak bertanya soal apa yang biasanya cowok sukai dari Luffy. Luffy dengan semangat memberitahu barang-barang apa yang biasanya paling cocok untuk kado ulang tahun seorang cowok.
Sudah memasuki beberapa toko hanya saja Sakura belum juga menemukannya. Ia sudah menemukan jaket bagus dan terlihat cocok untuk Sasuke, tapi itu adalah perintah sang kakak, Itachi. Dan dirinya sendiri belum menemukannya..
"Sakura… apapun itu… murah atau mahal.. jika kau memberikannya dari hati itulah yang palin penting. Keikhlasanmu adalah wujud dari kasih sayangmu…. Aku yakin Sasuke tidak akan mempermasalahkan harganya dan bentuknya…" Kata Luffy.
"Kau benar.. kenapa aku bisa sampai sepusing ini… hah…"
Mereka berdua melanjutkan belanja mereka. Setelah mendapatkan penerangan dari Luffy, Sakurapun akhirnya mendapatkan barang yang ia inginkan. Apakah itu? Alat dan bahan untuk merajut syal! Sakura sepertinya lebih tertarik untuk membuat syal sendiri.
Luffy juga sudah mendapatkan barang-barang yang ia inginkan. Acara belanja di akhiri dengan menikmati ice cream di kedai ice cream tak jauh dari tempat mereka belanja.
.
.
.
Suasana bimbingan belajar terlihat sangat hening… hanya terdengar suara tutor yang sedang menjelaskan. Anko-sensei.
Naruto terlihat menguap beberapa kali. Bagi Naruto, duduk tenang dan mendengarkan penjelasan pelajaran adalah hal paling membosankan. Bagaikan lullabay yang dapat dengan mudah membuatnya mengantuk. Maa… itulah Naruto.
Sasuke masih setia menatap lurus ke depan. Memperhatikan dengan seksama penjelasan sang sensei. Belajar di libur musim panas memang menyebalkan juga. Bagaimana lagi, ini perintah ayahnya yang 'menakutkan' itu. Sebagai anak dan calon penerus bisnis keluarga sudah sewajarnya ia belajar giat demi tanggung jawab itu. Walau mungkin nantinya Itachi yang akan jadi CEO utama, tapi ia juga memiliki kewajiban untuk membantu kakaknya.. atau mungkin bisa kan ia membangun perusahaan sendiri?
Di samping tempat duduk Sasuke adalah tempat duduk Hinata. Hinata sengaja mengambil bimbingan belajar di tempat yang sama dengan Sasuke atas informasi dari Sakura. Beruntung, ia bisa mendapatkan kelas yang sama dengan Sasuke, orang yang ia kagumi. Tidak, juga ia cintai.
"Sa-sakuke-kun, apa kau memiliki acara se-telah ini? ba-bagaimana kalau kita makan bersama? Di dekat sini ada restoran bergaya Italy yang menunya sangat lezat…" Tawar Hinata sesaat setelah usai bimbingan belajar.
"Gomen na, Hinata.. aku sudah ada janji setelah ini." Tolak Sasuke ramah. Bohong, sebenarnya ia ingin menemui Sakura. Tidak bertemu 4 hari dengan Sakura membuatnya bête juga.
"Ah, sodesu ne… baiklah, mungkin lain kali saja…" Kata Hinata yang terlihat kecewa.
Sasuke tersenyum tipis dan pergi meninggalkan kelas setelah meninggalkan pukulan maut di kepala Naruto yang tertidur pulas di bangku depannya duduk.
"ITTTAAAIIIII… Sasuke-teme…" Teriak Naruto yang rupanya sudh tak menemukan Sasuke. "Are.. sepi? Orang-orang pada kemana?"
"Mereka sudah pulang, Naruto-kun…" Hinata menyaut.
"Ah…" kruyuukkkkkk….. bunyi perut Naruto terdengar jelas di kelas yang sudah sepi itu. Hinata menahan tawanya. Naruto memang sangat lucu. "Haha, aku lapar…"
"Ano, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku juga sangat lapar…"
"Hmm, baiklah… ayo makan ramen, Hina-chan!"
"Ra-ramen di musim panas? Siang-siang begini?"
"Memang kenapa?"
"Ya-ya.. kan panas.. lebih cocok dimakan saat malam atau musim dingin…"
"Ramen pedas bisa meringankan sakit hati loh…"
Hinata tak mengerti maksud dari Naruto itu. Apakah Naruto tadi mendengar jika Sasuke menolak ajakannya? Atau apakah naruto tahu jika saat ini dirinya sedang bersedih atas penolakan itu? Mungkin sebaiknya ia menghibur diri dengan makan ramen bersama dengan Naruto.
.
.
Kedai Ichiraku ramen…
Hinata dan Naruto mendapatkan dua mangkuk ramen pedas pesanan mereka. Bagi Hinata, ramen bukanlah makanan yang sering ia makan. Bukan berarti ia tak menyukainya, hanya saja ia tidak suka rasa pedas. Lalu kenapa ia memesan ramen pedas? Ia tergoda perkataan Naruto tentang ramen pedas peringan rasa sakit.
Apa salahnya mencoba, kan?
Mereka berdua menikmati ramen pedas itu… Hinata menoleh ke arah Naruto yang terlihat lahap. Hanya dengan melihatnya saja Hinata yakin jika teman sekelasnya ini adalah seorang maniak ramen. Ia bisa melihat rona bahagia di wajah Naruto. Melihat Naruto yang sebahagia itu karena ramen rasanya membuatnya iri saja.
Bahagia memang tak harus dengan kemewahan, dengan hal kecil saja bisa membuat bahagia. Kata orang, banyak hal cara untuk bahagia. Namun, rupanya kata-kata itu tak cukup berarti untuk Hinata. Entah apa, selama libur musim panas ini rasanya sulit sekali mendekati Sasuke padahal cahaya terang seakan menyinarinya saat sekolah masuk, hilang begitu saja. Sasuke yang jarang bicara dengannya menjadi mudah diajak bicara meski itu hanya pembicaraan mengenai pelajaran saja. Namun kini, tembok pemisah seolah muncul kembali.
Bagi Hinata yang mengagumi sosok Sasuke diam-diam, hal sekecil itu juga bisa membuatnya sangat bahagia. Jika hal kecil bisa membuat bahagia, maka ada hal kecil juga yang bisa membuat sedih. Seperti saat ini, ia kembali diabaikan oleh Sasuke. Memang Sasuke tak sepenuhnya mengabaikannya, nyatanya Sasuke masih bisa membalas perkataannya. Hanya saja Hinata merasa jika Sasuke seolah membuat tembok atau pagar diri untuk tidak didekati.
Jika Sasuke memagari diri, maka kesempatan Hinata untuk mendekati Sasuke sangat sulit. Hinata bahkan merasa jika aura Sasuke saat ini cukup menyeramkan. Ia mati-matian mengumpulkan keberanian hanya untuk mengucapkan salam pada Sasuke. Sebenarnya apa yang membuat Sasuke seolah berubah menjadi sosok yang dingin dan sulit didekati?
Sasuke yang biasanya terlihat baik berubah menjadi sosok yang berusaha 'baik'. Apa yang membuat Sasuke seperti itu? Kenapa Sasuke terlihat terbebani? Adakah masalah yang cukup mengganggunya sehingga ia menjadi seperti itu? Apa yang ada di benak Sasuke saat ini? kenapa sulit sekali untuk sekedar menebaknya? Semakin diselami, semakin dalam saja dan terasa tak berujung. Sasuke, ada apa dengan dirinya?
Semua hal tentang Sasuke selalu berputar-putar di kepala. Membuat Hinata kesulitan berpikir. Permintaannya memang tak muluk-muluk. Ia hanya ingin bersama Sasuke. Bersama dengan orang yang dikagumi dan dicintai bukankah hal itu paling membahagiakan. Meski ia tidak tahu apakah cintanya akan terbalas atau tidak, tapi bukankah usaha adalah langkah awal yang cukup baik?
Sasuke baik? Iya, sangat baik. Mampu dengan sabar mengajari Hinata soal pelajaran… Sasuke ramah? Dia incaran semua murid cewek di sekolah bahkan anak emas guru-guru. Sasuke pintar, tampan, dan kaya? Siapa yang bisa menyangkalnya? Itu fakta!... Salahkah jika Hinata memiliki rasa cinta pada sosok sempurna itu? Bukankah ia juga memiliki hak yang sama dengan fangirls Sasuke yang lainnya? Ia tak bisa menyalahkan rasa cintanya pada Sasuke. Hatinya yang menginginkan hal itu.
Kenapa rasanya sangat memuakkan? Sasuke bahkan bukan siapa-siapanya, tapi hanya dengan diabaikan seperti itu saja rasanya menyakitkan. Sasuke di depan matanya, tapi rasanya sungguh sulit untuk diraih. Kenapa Sasuke semakin menjauh saja? Kenapa Sasuke sangat sulit untuk didapatkan? Kapan dan pada siapakah Sasuke akan melabuhkan hatinya? Hah… rasanya panas dan menyesakkan. Kenapa jalan untuk mendapatkan Sasuke semakin sulit? Mencoba melupakan, sakit! Mencoba mengejar, juga sakit! Adakah pilihan yang bisa Hinata ambil tanpa harus merasakan kesakitan ini?
Otaknya berputar… untuk saat ini rasanya tidak ada…
Oh damn! It's so hurt na…
Hiks… Hinata mulai meneteskan air matanya ketika mencicipi kuah ramen yang super pedas dan masih panas itu.
"Hinata, kau menangis?" Tanya Naruto yang melihat Hinata sesegukan.
Hinata langsung menghapus air matanya. "Kuahnya pedas sekali, Naruto-kun.." Jawabnya. Rasa pedas dan panas kuah ramen hanya alasan saja. Ia memang menangis. Menangisi keadaannya yang menyedihkan ini. merasa tolol karena cinta sepihaknya. Ya memang cinta tak selamanya mudah. Kadang juga luka di awal, kan?
"Ah, souka?.. kuahnya memang pedas sekali, sudah begitu makan di musim panas yang panas.. cocok sekali rasa panasnya.. Ini, minumlah, soup buah ini akan meringankan pedasnya…!" Tawar Naruto.
Hinata mengangguk dan meminum soup buah milik Naruto yang belum Naruto cicipi itu. Rasa susu cream yang kuat mampu meringankan pedasnya kuah ramen. "Umaaa.. oishi ne, Naruto-kun…"
"Merasa lebih baik?"
"Hai, arigato.." Hinata tersenyum manis.
Naruto blushing ria. Dia akui, Hinata memang cewek yang manis. Ia pun hanya bisa menyengir khas seperti biasanya. "Do itashimashite.."
.
.
.
Malam harinya, Sakura tengah sibuk merajut syal untuk ia berikan pada Sasuke di ulang tahun Sasuke besok. Bodohnya yang menganggap mudah mencari kado ultah untuk Sasuke. Ia pikir jika ia ke toko maka ia akan menemukan harta karun untuk Sasuke, nyatanya begitu banyaknya harta karun itu justru membuatnya kebingungan untuk memilih. NihiL.. mungkin jika tidak pergi dengan Luffy, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia merasa beruntung mengenal baik dan bertetangga dengn Luffy si kurus yang doyan makan itu.
"Ah, lain kali aku harus mentraktir Luffy makan ramen!..." Batinnya.
Sakura hari ini menolak kunjungan Naruto dan Itachi. Ia bahkan bersusah payah menolak kunjungan Sasuke. Membuat banyak alasan agar Sasuke membatalkan niat berkunjungnya. Sakura bahkan berbohong jika ia sedang melakukan pengintaian dan sangat sibuk dengan urusan bisnis sampingannya. Jika Sasuke datang berkunjung, maka Sasuke akan tahu apa yang akan ia berikan untuk Sasuke besok. Rasanya, bukankah kado sebaiknya kejutan?
Mendapatkan damprat kekesalan Sasuke pasti akan Sakura terima besok. Di telepon saja sudah bisa mendengar suara kesal Sasuke, apa lagi besok? Kena marah pangeran bungsu super manja itu sudah biasa bagi Sakura. Jadi jika Sasuke memang akan marah padanya, pasti akan kembali seperti semula. Seperti yang sudah-sudah. Iya, kan? Sakura memang terlalu percaya diri akan hal itu…
"Oh iya, besok pagi harus berkumpul di sekolah. Menyiapkan property untuk pasukan sorak pendukung Gaara… Semua anak kelas XII akan datang. aku sudah mengomfirmasi semuanya… Ya ampuun, aku tak sabar bertemu dengan mereka semua. Liburan musim panas kali ini, kelas tidak mengadakan acara bersama, jadi pada sibuk dengan liburannya masing-masing.. ahhh… aku merindukan suasana berisik kelasku.." Sakura memandangi kalender bulan July dengan tanggal 23 yang dilingkari warna merah. Di atas tanggal 23 itu terdapat note pengingat ulang tahun Sasuke dan final tenis EoS.
Sakura kembali melanjutkan acara merajut syalnya yang kini sudah hampir selesai. Maklum saja, setelah acara belanja dengan Luffy selesai, Sakura langsung memulai merajut saat mereka sedang makan siang bersama. Terus, terus, dan terus merajut. Waktunya terlalu mepet. Syal rajut tidak akan jadi jika Sakura bersantai-santai. Ia harus ngebut! Besok pagi ia harus mempersiapkan property pemandu sorak. Ulang tahun Sasuke itu juga besok! Dan sorenya adalah final tenis EoS. Ia tidak akan sempat jika tak dilakukan sekarang.
Peeep.. peeeep… peeeppp… bunyi nada pengingat.
Ulang tahun buntut ayam!
Sakura tersenyum ketika melihat tampilan di layar Hpnya. Ya, ulang tahun Sasuke tepat pukul 00.01. detik pertma di tanggal 23. Sakura langsung menekan menu pesan. Mengetik ucapan selamat ulang tahun pada Sasuke..
Sakura lalu menggeleng. "Ioioioio…Tidak, aku kan sudah membuatnya kesal, besok malam tinggal kejutannya. Ulang tahun memang begitu, kan? Pura-pura tidak ingat terus nanti membuat kejutan… Shiippp.. aku akan pura-pura lupa.." Sakura tidak jadi mengirim pesan textnya, tapi pesan itu tidak ia hapus, ia biarkan di draft. Iapun kembali melanjutkan merajut syal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Mata Sakura mulai terlihat menyipit. Lelah dan mengantuk mulai menggerogoti. Rasa pegal di sekujur badan juga mulai semakin terasa. Maklum saja, ia sudah sangat lama duduk di posisi yang sama. Berkali-kali ia meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Yokatta… jadi juga akhirnya…" Sakura memeriksa hasil rajutannya. Perfect! Sesuai harapannya. Syal rajutannya tidak ada cacat. Beruntung ia diajari merajut oleh ibu Mikoto, ada manfaatnya juga. Sakura memang menyukai dunia fashion, jadi apapun itu asal mengenai fashion, Sakura pasti akan semangat mempelajarinya.
Syal biru dongker itu terlihat sederhana namun elegan. Sangat Sasuke banget! Sakura tahu apa yang disukai dan tidak disukai Sasuke. Terutama soal fashion. Sasuke itu menyukai gaya kasual tidak berlebihan. Misalnya, meski Sasuke hanya memakai kaos oblong saja pasti bisa menarik perhatian banyak orang terutama para cewek, apa lagi Sasuke memakai pakaian yang berlebihan? Dijamain, Kurama- musang peliharaannya Naruto pasti juga akan terpesona.
Sakura memasukkan syal itu ke dalam kotak kado berwarna merah bermotif random panda dan bunga-bunga. Ia juga menulis ucapan selamat ulang tahun di kartu ucapan. Lalu menutup kotak kado itu. Ia kembali menulis di selembar kertas memo. 'untuk Sasuke', lalu meletakkannya di tutup kotak kado itu.
Sakura mengamati kotak kado yang kini ada isinya itu, ia berharap jika Sasuke akan menyukainya. Usahanya yang tulus ia curahkan penuh di dalam isi kado itu.
"Sasuke-kun… otanjoubi omedetto…" Bisik Sakura pada kotak kado itu. Sakura tersenyum lega sebelum akhirnya ia terlelap di tempt tidurnya.
.
.
.
Like a Fool
.
.
.
Suasana halaman sekolah terlihat sangat rame. Banyak kegiatan yang para siswa lakukan. Ada yang membuat poster-poster penyemangat, ada yang sibuk membagikan atribut penyemangat, ada yang membagikan terompet, ada pula yang sedang latihan dengan alat music perkusi.
"Gaara-kun… haduh, kenapa kau malah ke sekolah? Kau harus istirahat untuk final nanti sore!" Kata Sakura.
"Rasanya tidak enak jika actor utama tidak menampakkan diri di acara pentingnya.." Jawab Gaara.
"Acara pentingnya masih nanti sore, Gaara-kun.."
"Aku hanya ingin melihat kalian semua. Hitung-hitung untuk mengurangi stress, kan? Minna-tachi terlihat bersemangat, jadi aku akan berusaha keras untuk final nanti."
Sakura tersenyum. Gaara memang selalu seperti itu. Ia mengambil sesuatu dari kantongnya. "Ini jimat keberuntungan untukmu. Aku tidak tahu ini berguna atau tidak, tapi ini adalah kumpulan semangat dan doa anak-anak semua.." Ia memberikan jimat kain warna merah bata itu pada Gaara.
Gaara menerimanya. "Ini akan sangat berguna.. shankyu na, Sakura-chan…"
"Doumo… Gambarimasho, Gaara-kun!"
"Hai"
Sakura lantas meninggalkan Gaara yang menemui pelatihnya, Guy-sensei di ruang guru. Dari kejauhan, Sasuke nampak mengamati setiap hal yang Sakura lakukan. Yang Sasuke tak habis pikir, hari ini Sakura tidak menyapa dirinya. Memang tak terlihat kesan menghindar, hanya saja rasanya hari itu ia tak memiliki kesempatan untuk berpasan dengan Sakura. Semua terasa berbelok arah. Sebenarnya apa yang membuatnya tak seberuntung itu? Sasuke kesal.
"Apa dia masih kesal karena aku marah padanya? Haah, yang kesal itu aku, kenapa dia ikutan sewot? Mendokusai.." Batin Sasuke yang terlihat malas di kursi panjang di bawah pohon sakura depan kelas XI A.
Sakura sibuk membuat gerakan untuk menyemangati Gaara nanti. Sakura terlihat sangat bersemangat hari ini. ia memang sudah berjanji jika ia akan menjadi ketua pemandu sorak yang bisa memberikan semangat untuk Gaara. Gerakannya sederhana dan mudah diingat tapi sangat seru dan cocok untuk dilakukan secara bersamaan.
"Ah, anak emas macam Sasukepun jika tidak kerja, tidak masalah ya…" Sindir Naruto yang tanpa permisi duduk di samping Sasuke yang sedang mengawasi Sakura.
Sasuke menoleh.. "Pergi sana! Aku ingin sendiri."
"Hahaha, ketus sekali sih? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Hm souka… demo.. tanjoubi omedetto, Sasuke-teme-chan…"
Sufix –teme saja sudah membuat kesal, ini ditambah –chan. Jika moodnya lagi bagus, Sasuke pasti langsung menghadiahi Naruto bogem mentah. Sayangnya moodnya yang jelek-jeleknya, ada hal lain yang jauh membuat kesal daripada ucapan Naruto. "Hn."
"Sasuke bahkan tidak memukulku. Dia pasti sedang perang pikiran!" Batin Naruto…."Ini kado untukmu!" Naruto memberikan segelas plastic coffe hitam yang ia beli di canteen luar gedung sekolah.
"Hn." Sasuke menerima kopi itu.
"Mana ucapan terima kasihnya?"
"Cih.. Thanks."
Naruto tersenyum sumringah meski ucapan Sasuke terdengar kesal, tapi Naruto tahu jika itu tulus.. "Sama-sama… semangatlah! Hari ulang tahunmu sebaiknya kau bergembira!"
"Kau saja yang bersemangat sana! Menghabiskan energy saja."
"Hadeehh, masa muda kok loyo.. Kenapa? Sakura kah?"
"…"
"Masih marah padaku karena aku membantunya mencari apartemen? Kau sudah memukul kepalaku, Sasuke dan itu sakit sekali!" Naruto mengingat jelas bagaimana Sasuke menggethak kepala durennya itu.
"Cih."
"Aku tahu, kau kesal karena Sakura sibuk sendiri, kan? Hahaha, kau itu kekanak-kanakkan sekali. Hargailah dia, dia sedang menjalankan tugasnya dengan baik sebagai ketua pemandu sorak. Itupun bagian dari tugas sekolah. Kau tak lihat bagaimana ia sedang bekerja keras? Dukunganmu lebih dibutuhkan daripada kekesalanmu yang justru akan merepotkannya, Sasuke!"
"Aku tahu, sudah pergi sana! Aku ingin sendiri!"
Naruto menghela nafas, Sasuke memang seperti itu. ".. Baiklah… Aku akan memeriksa tim poster, jaa.. sampai nanti.." Naruto melengos pergi.
Sasuke malas melakukan apapun. Ia hanya duduk saja dan bermain game online kesukaannya. Ia sudah lelah memperhatikan Sakura yang sampai saat ini tak kunjung juga menoleh kepadanya. Sakura memang sangat sibuk! Bahkan untuk sekedar melambaikan tangan padanya saja tidak sempat!
Itu mengesalkan!
.
Atas intruksi dari Sakura, Hinatapun berjalan mendekati Sasuke. Sejujurnya ia cukup takut untuk mendekati Sasuke saat ini, Sasuke seakan memasang tembok penghalang, tapi Sakura terus menyemangatinya, dan hatinya pun menyuruh untuk tidak menyerah. Mau tidak mau ia harus memberanikan diri.
"A-ano, Sa-Sasuke-kun…" Sapa Hinata.
"Nani?" Sasukeberhenti bermain game.
"Ini, humburger extra tomat. Su-sudah waktunya makan siang." Hina memberikan humburger pada Sasuke yang sebenarnya itu dari Sakura.
"Ah. Thanks."
"I-ini juga.. air mineralnya…"
"Thanks…"
Lagi, Sasuke menciptakan obrolan yang mudah berhenti dan sulit untuk disambung. Hinata tidak tahu mau apa, mau bicara apa lagi pada Sasuke. Jika ia memiliki kecakapan dan sifat easy going seperti Sakura, rasanya menciptakan obrolan yang nyaman dan santai akan mudah ia lakukan. Sepertinya ia ingin segera angkat kaki menjauh dari Sasuke jika seperti ini terus. Kepalanya terasa pusing hanya dengan memikirkan Sasuke.
"Apa kau sakit?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"E-eh?" Kaget Hinata.
"Wajahmu terlihat pucat."
"A-ah, aku hanya kurang ti-tidur.. " Hinata mencengkram pinggir short dressnya. Tidak menyangka jika Sasuke memperhatikannya. Ia kurang tidur memang benar dan itu juga karena terlalu memikirkan Sasuke.
"Jika lelah, kau bisa ke UKS."
"I-iya, aku ti-tidak apa-apa, Sa-Sasuke-kun… Daijoube.."
Dari sisi bangunan lain, Sakura terlihat sedang tersenyum senang tat kala melihat Hinata bisa berbicara dengan Sasuke. Setidaknya sudah mulai ada kemajuan. Ia jadi ingat bagaimana ia menggoda Sasuke dengan kedekatannya dengan Hinata. Sasuke bilang tidak ada apa-apa, Sakura tahu itu, memang tidak ada apa-apa, tapi Sakura sok melebih-lebihkan hubungan mereka agar terlihat romantic. Biasa, itu namanya 'nyomblangin'. Tiap hari pasti Sakura akan menanyakan soal Hinata pada Sasuke. Hinata cantik, Hinata baik, Hinata pintar, anggun, apapun soal Hinata. Walau kadang pada akhirnya Sasuke akan kesal, tapi Sakura tidak mudah menyerah.
Sakura bahkan pernah meminta Hinata menggantikannya saat olahraga lempar bola tangan berpasangan. Sebenarnya Sakura mendapatkan undian berpasangan dengan Sasuke, tapi ia menukarnya dengan milik Hinata. Lantas ia menggantikan Hinata untuk berpasangan dengan Lee. Sakura bahkan terlihat sangat gembira saat melihat Sasuke dan Hinata saling bergandengan tangan. Ia ingin tertawa ketika melihat wajah Hinata yang sangat merah dan hampir mau pingsan itu.
Sakura selalu menciptakan waktu dan moment agar Hinata bisa mengobrol bersama Sasuke, walau hanya sekedar tegur sapa. Misal, Hinata sedang di perpustakaan, Sakura menyuruh ke perpustakaan menemuinya, tapi nyatanya ia tak di perpustakaan, Sasukepun bisa berjumpa dengan Hinata. Banyak hal yang sudah Sakura lakukan untuk Sasuke dan Hinata.
"Yokatta…" Gumam Sakura.
"Apa yang kau syukuri, Sakura?" Tanya Yuuichirou.
"Yuu-kun? Kapan kembali?"
"Aku tadi langsung ke sekolah dari rumah. Aku dengar dari Luffy, katanya kau penghuni baru pintu nomor 8 ya? Waah.. tetangga baru ini namanya…"
"Ya begitulah, yoroshiku ne.."
"Hmm.. ayo makan! Aku membawa bekal dari rumah!" Yuuichirou menunjukkan kotak makan cukup besar itu pada Sakura.
"Masakan rumahan, waah.. sepertinya enak… Tapi, aku tidak mau membuat Shinoa marah padaku. Sebaiknya kau makan bersamanya saja! Aku akan makan di kantin bersama Naruto."
"Shinoa bukan tipe pecemburu, Sakura. Dia justru akan senang jika aku ketahuan selingkuh karena dia akan membunuhku… Ah, tapi rupanya kau sudah berjanji dengan Naruto." Yuuichirou mengambil satu postong sushi dari kotak makan itu. "Setidaknya, cobalah ini! Aaaa…" Yuuichirou menyuapi sushi pada Sakura. Sakurapun memakannya.
"Hmm, oishiiii…. Arigato, Yuu-kun…"
"Doumo.."
.
.
"Dan sekarang dia makan dari tangan si aho-Yuu? Sakura, kau semakin membuatku kesal." Batin Sasuke yang rupanya melihat Sakura makan bersama Yuuichirou!
.
.
Like a Fool
.
.
.
Suasana lapangan tenis outdor gelora Hogake terlihat sangat ramai. Hampir seluruh kursi di tribun penonton penuh dengan sorak ramai para penonton. Mereka mendukung jagoannya masing-masing. Gaara dari Konohan International High School dan Sasori dari Suna International High School.
"IGE IGE IGE GAARA.. OSE OSE GAARA…."
"SASORI FIGHT.. SASORI FIGHT…."
Sakura memandu sorak di depan bersama dengan Naruto, Ino, Temari, Karin, dan Lee. Sementara Sasuke berada tak jauh dari Sakura, ia duduk di samping Hinata dan Shikamaru. Sakura memang sengaja membuat kesempatan agar Hinata bisa bersama dengan Sasuke.
"Aku senang bisa duduk di samping, Sasuke-kun. Tapi, dia tidak terlihat menikmati pertandingan yang seru ini. apa karena terlalu ramai? …. Sebentar, dia terus menatapi seseorang…. Naruto-kun?.. Sa-Sakura-chan?" Batin Hinata.
Sore yang ramai itu seolah membawa semangat tersendiri bagi seluruh orang yang menyaksikan pertandingan final tenis EoS tingkat sekolah menengah itu. Gaara dan Sasori salaing menyerang. Mereka berdua sama-sama kuat. Tidak ada yang mau kalah. Terus dan terus membalik keadaan. Bola ke samping kiri.. kanan.. memantul.. dipukul keras.. kibasan tipis di atas net… berlari cepat.. mengatur strategi…. Terus seperti itu. Sangat kolot dan sengit. Maklum saja, pertandingan itu adalah pertandingan final untuk menentukan siapa juaranya. Itu akan menunjukkan sekolah mana yang paling kuat dan tentunya meningkatkan pamor di penerimaan siswa baru musim semi nanti.
Pertandingan sudah berjalan satu setengah jam. Hasil masih seri dengan set pertama dimenengkan Sasori, set kedua Gaara berhasil bangit dengan memenangkan set. Kini sudah memasuki set ke tiga yaitu set penentu siapa yang bakal menjadi juaranya.
Sasori melakukan serve, Gaara mengembalikannya dengan mudah, Sasori mengembalikannya lagi… terus dan terus saling mengembalikan bola. Sasori melebar ke kanan, Gaara melihat peluang itu lalu ia memukul bola ke arah sisi kiri lapangan milik sasori dan yaaapp… score untuk Gaara.
"IGE IGE IGE GAARA.. OSE OSE GAARA…."
"IGE IGE IGE GAARA.. OSE OSE GAARA…."
"SASORI.. DON'T MIND.. DON'T MIND…."
Hanya butuh satu point untuk memenangkan game set ke 3, Gaara terus melawan dengan penuh hati-hati mengingat selisih pointa dengan Sasori hanya satu. Ia terus memukul bola dengan keras, memanfaat ksetiap inchi kelemahan Sasori.. mencoba mencari kesempatan untuk membuat Sasori melakukan kesalahan. Gaara melakukan pukulan pendek di depan net, Sasori lari cepat ke depan mengembalikan bola, Gaara menerima bola itu, Sasori terlihar kewalahan, bola melambung cukup tinggi, Gaara meloncat, melakukan smash keras dan yaaakkk… bola masuk tanpa bisa Sasori jangkau.
Priiit.. priiiiitttt… priiiiitttt….
Gaara menang!
Semua orang bersorak ramai. Gaara melakukan selebrasi kemenangannya. Tak lupa ia menyalami Sasori yang terlihat cukup kecewa dengan hasil pertandingannya. Tapi tetap saja, atlet sportif adalah mengakui jika dalam pertanding kalah adalah hal wajar, lain kali pasti akan menang.
"Kau hebat, Gaara-san.. Omedetto…"
"Kau juga, arigato, Sasori-san…"
.
.
Setelah acara penyerahan piala dan hadiah kemenangan, Gaara melakukan selebrasi kemenangannya bersama teman-teman sekolahnya, Sakura Cs. Suasana selebrasi itu semakin meriah dengan adanya penampilan dari grup band local.
Gaara menghampiri Sakura yang tengah sibuk triak-triak karena penampilan band local dengan sang vokalis yang tampan. Ia membisikkan sesuatu pada Sakura agar ia dan Sakura bisa berbicara berdua. Sakura mengangguk mengerti dan berjalan mengikuti Gaara.
"Naruto-kau lihat Sakura?" Tanya Sasuke.
Naruto terlihat bingun karena tak mengerti dengan ucapannya Sasuke, lebih tepatnya tidak mendengarnya. "APA?"
Sasuke terlihat kesal. Ia menghela nafasnya. "DOBE, KAU MELIHAT SAKURA?"
Naruto mendengarnya. "SEPERTINYA DIA BERJALAN KE ARAH SANA DENGAN GAARA…" Naruto menunjukkan arah lorong dimana Gaara membawa Sakura pergi.
Mendengar jawaban yang Sasuke inginkan, iapun berjalan menuju arah yang Naruto beritahu. Ia semakin kesal saja hari ini, kenapa juga Sakura harus pergi bersama Gaara?
"Cih."
.
Suara music masih terdengar cukup jelas di salah satu lorong di gelora Hokage itu, namun tak begitu mengganggu pendengaran.
"Ada apa, Gaara-kun?" Tanya Sakura yang cukup penasaran.
Gaara mendekati Sakura lalu mengecup cepat pipi Sakura. Sakura cukup terkejut dengan apa yang Gaara lakukan padanya? Menciup pipi kirinya dengan cepat? Ayolah..
"HEE? Kenapa menciumku?"
"Itu ucapan terima kasih dariku.. Arigato na, untuk semuannya…" Gaara tersenyum pada Sakura. Sakurapun membalas senyuman tulus dari Gaara.
"Sama-sama… Selamat, kau menjadi juara di tahun terakhir kita… Omedetto, Gaara-kun…"
Merasa sepertinya Sakura tak mempermasalahkan kecupan kilat di pipinya, Gaarapun menarik Sakura ke dalam pelukannya. Ia hanya merasa senang karena hari itu, musim panas, 23 Juli adalah hari keberuntungannya. Dan Sakura tak mempermasalahkannya lagi. Sakura hanya mencoba memahami bagaimana raut bahagia di wajah Gaara saat ini.
Di salah satu sisi, tak jauh dari tempat Gaara dan Sakura berpelukkan, Sasuke yang melihat acara berpelukan macam teletubbies itu membuatnya geram. Ia yang memang sudah kesal, semakin kesal dibuatnya. Kenapa Sakura mudah sekali dipeluk-peluk oleh cowok lain, sih?
Malas dan menyebalkan mata, Sasuke lebih memilih meninggalkan dua teman sekelasnya itu. Ia berjalan menjauh dari tempat itu dengan wajah datarnya, tapi cukup bisa dilihat jika rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.
Sasuke berjalan ke luar, meninggalkan gelora Hokage yang terasa semakin panas saja. Saat Sasuke berjalan keluar, Hinata melihatnya. Iapun mengikuti Sasuke. Hinata membawa minuman mineral dingin yang tadi ia beli.
"Sasuke-kun, matte kudasai!" Panggil Hinata.
Sasuke berhenti dan menatap Hinata yang terlihat ngos-ngosan karena berlari mengejarnya. Hinata memberinya minuman dingin, enatah kenapa, awalnya rasanya ingin pulang menjadi malas, iapun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar bersama Hinata. Mungkin saja akan mengurangi rasa kesalnya. Sebaiknya mencoba, kan?
"Etto, Sasuke-kun wa, ogenki desuka? Ka-kau terlihat tidak ber-bersemangat hari ini.." Tanya Hinata. Ia sangat khawatir.
"Hanya sedikit lelah saja.."
"Bagaimana kalau kita du-duduk di kursi taman itu saja?" Hinata melihat kursi taman di dekat gelora Hokage. Sasuke menyetujuinya. Merekapun duduk di kursi itu.
Jujur saja, pembicaraan yang mereka lakukan hanya menimbulkan kecanggungan. Sasuke irit bicara, sedangkan Hinata sangat kaku dan tak memiliki banyak topic pembicaraan.
Berulang kali ia mengirim pesan pada Sakura untuk membantunya. Sakura yang sedang berbincang dengan Gaara segera memberitahunya bagaimana cara membuka pembicaraan dengan Sasuke si manusia es iitu. Sakura membalas pesan Hinata dengan semangat. Kemajuan yang cukup baik kan?
Dengan bantuan dari Sakura Hinata bisa membuka pembicaraan dengan Sasuke. Mereka membahas tentang gugusan bintang di langit. Beruntung ia cukup mengetahui tentang perbintangan jadi ai bisa mengimbangi pengetahuan Sasuke. rupanya Sasuke memiliki teropon bintang di rumahnya. Sasuke menyukai fotografi tentang alam semesta dan luar angkasa!
Banyak hal yang mereka bahas, lagi Hinata akan mengucapkan banyak terima kasih pada Sakura. Sepertinya mood Sasuke membaik.
.
Acara penutupan kejuaraan tennis itu berlangsung meriah karena di akhiri dengan festival kembang api. Meski hanya kejuaraan tingkat SMA, tapi dihadiri banyak orang dan membuatnya sangat rame. Belum lagi karena rupanya ada festival musim panas juga di sepanjang jalan dekat gelora. Ini menambah kemeriahan malam itu.
"Sudah pukul 11 malam, Sakura… aku akan mengantarmu." Kata Naruto.
"Sudah aku bilang kan, tidak usah. Aku akan memberi kejutan pada Sasuke, ini sudah jam segini, hampir penghujung tanggal, aku harus cepat. Aku hanya harus membeli kue di dekat sini dan mengambil kereta jurusan stasiun RASENGAN, berjalan tak sampai 500 meter akan menemukan rumah Sasuke. Aku harus cepat sebelum kehabisan tiket… Kau pulanglah, ibumu sudah menelponku beberapa kali.."
"Ya sudahlah, tapi nanti kau menginaplah di sana, jangan pulang sendirian! Jika kau ingin pulang ke apartemen, mintalah Itachi-nii untuk mengantarmu! Mengerti!"
"Hai, wakatta, Naru-chan…'
"-chan?.. Hiii, membuat merinding saja…"
"Haha, pantas saja Sasuke selalu memukulmu, tahu kan rasanya?... Ya sudah, jaa.."
"Jaa.., hati-hati.."
"Ya…"
Setelah membeli kue, hanya sebuah cup cake lucu, maklum saja, akan mubadzir karena Sasuke tak suka manis, Sakura berjalan menuju stasiun HOKAGE, stasiun paling dekat dengan gelora Hokage. Sepanjang jalan ia hanya terlihat ceria karena ia akan segera memberikan kejutan pada ulang tahun Sasuke. Walaupun ia sudah sangat kelelahan dan sudah yakin akan mendapatkan damprat kesal dari Sasuke akibat mengacuhkan Sasuke, tetap saja, Sakura tetap sangat semangat karenanya. Baginya, Sasuke adalah sosok yang penting dalam hidupnya.
"Hinata, awas!" Sasuke menarik Hinata ke dalam pelukkannya karena berusaha menolong Hinata yang hampir saja di tabrak pengendara motor ugal-ugalan.
Hinata hanya menahan malunya, ia tak menyangka jika kecerobohannya bisa membuatnya sedekat itu dengan Sasuke. Ini pertama kalinya ia bisa 'bersentuhan' dengan Sasuke. Rasanya menyesakkan tapi menyenangkan. Membuat deg-degan, tapi tak sakit. Ia sangat bahagia…
Entah apa yang menuntunnya, Hinata tanpa sadar ikut membalas pelukkan dari Sasuke. Ia juga takut setengah mati, tapi perasaan cintanya pada Sasuke juga ikut bersamanya. Ia tidak tahu harus bagaimana bersikap. Semua di luar kendalinya.
Orang lain akan melihatnya sebagai pelukan dua insan manusia yang saling di mabuk asmara…
Ya seperti itu…
Seperti yang Sakura lihat di arah samping cukup jauh Sasuke dan Hinata saling berpelukkan!
.
SAKURA'S POV
Aku berjalan menuju stasiun.. ya ampun, aku sudah tak sabar bertemu Sasuke. Aku harus lebih dahulu sampai di kamarnya sebelum ia pulang… Aku yakin, ia akan menhantarkan Hinata pulang ke rumahnya dulu… Mereka sedang berkencan, pasti lama.. paling tidak sampai jam setengah dua belas.. aku harus ikut kereta paling cepat!
Sayang sekali, padahal kembang apinya masih terlihat indah di langit malam. Kalau bukan karena ultah Sasuke, aku mau diajak berkeliling dengan Gaara melihat sebentar festival musim panas itu… Haduh, kenapa aku malah jadi ingin bersama Gaara sih? Ya ampun, tak kusangka tadi dia mencium pipiku.. manis sekali wajahnya, apa ini pertama kalinya dia mencium cewek ya? Hahah… tidak mungkin, dia itu pasti punya mantan banyak.. ah, dia orang baik.. tapi, entahlah.. HEEE, aku jadi ingat Gaara lagi, kan.. Huhu…
.
Eh tunggu, itu di depan bukannya Sasuke dan Hinta ya? Mereka berkencan tapi jarak jalan berdampingnannya ada setengah meter? Apa-apaan itu? KENAPA SASUKE NO BAKA ITU TIDAK PEKA SIH? Harusnya dia lebih mepet lebih dekat pada Hinata, saling bergandengan tangan kek… dasar payah!
Hahhhh, wajarlah, mereka juga belum begitu menyadari virus romantic cinta.. Satunya pemalu dan satunya dingin. Pasangan yang sulit diperasatukan! Aku benar-benar harus bekerja keras! Ini sudah sebulan, tapi belum ada kemajuan.. kenapa aku justru kesulitan menyatukan perasaan sahabatku sendiri ya? Padahal aku sudah kenal jelas bagai mana karakter mereka…
Namun, mereka berjalan bersama seperti ini cukup membuatku…. Are? Membuatku kenapa ya? Aku harus senang atau bagaimana? Yang jelas aku merasa… lega…
Lega?
.
Aku terus memandangi mereka dari jarak yang cukup jauh, aku memakai jaket Gaara, jadi aku yakin mereka tak akan mengenaliku… aku mencoba terus memperhatikan pasangan itu…
Hadduuuh ada motor berisik.. eh, motor itu ugal-ugalan dan mengarah ke Hinata dan Sasuke.. Itu berbahaya….… aku harus memberitahu mereka….
"AW…..was…" (Sakura menurunkan volume suaranya)
.
.
Me-mereka berpelukkan… it-itu sangat erat…
.
.
Are… kenapa aku? Kenapa air mataku keluar seperti ini? kenapa tiba-tiba keluar sendiri…?
Kenapa aku menangis?
Kenapa?
Ini perih sekali.. di mataku terasa panas..
Ada debu, kah?
.
.
Aku menghapusnya dengan ke dua tanganku.. Loh? Kenapa masih tetap saja keluar?
Kenapa aku tak berhenti menangis?
.
Pemandangan pasangan indah itu ya?
Itu yang aku harapkan? Kan? Iya, kan?
Iya…
Ta-tapi..
Aku..
Kenapa aku seperti ini?
Kenapa melihat mereka seperti itu rasanya menyesakkan?
Kenapa terasa perih?
Aku memegangi dadaku….
Kenapa dadaku terasa sesak?
Kenapa rasanya sulit bernafas?
Kenapa ini menyakitkan?
Air matakupun mengamininya…
Tuhan… Kami-sama, ada apa denganku?
Kenapa seperti ini?
.
Aku tak kuat melihatnya… aku harus menghindar…. Aku harus segera pergi…
.
END OF SAKURA'S POV
.
.
.
Nextttt…
.
.kalo gak next gak seru.. XD.
.
