CHAPTER 9

.

.

.

Happy new year 2017 readers.. wish u all the best ya.. healthy, money, love, and also family…

Semoga mimpi-mimpi kita tercapai di tahun ini.. amiiin….

Gambarimasho….

.

.

Tiba-tiba jadi begini ya critanya? Sebenarnya intinya emang gini, mau bagaimana lagi? Entahlah, aku juga bagaimana ya.. ya kita liat saja lanjutannya… wkwkwkwkwk

.

.

Dozo minna…

.

.

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD

sok aim jarene…

rapopo…

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

Sudah jam 8 pagi, tapi Sakura belum bangun juga. Permainan semalam membuat Sakura sangat kelelahan. Sasuke tahu itu… Itu memang salahnya.

Setelah mandi dan membersihkan diri, Sasuke yang hanya memakai celana boxer dan kaos dalam sportnya mendekati Sakura yang sedang tertidur di ranjangnya. Sasuke lalu memeriksa keadaan Sakura dengan menggunakan tangan kirinya.

"Panas sekali, apa Sakura sakit?" Batin Sasuke.

Sasuke beranjak dari kamar Sakura menuju ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia berniat mengompres kening Sakura dan berharap agar demam Sakura lekas menurun.

Setelah mengompres kening Sakura, Sasuke membenarkan letak selimut Sakura. Sakura terus saja mengigau kejadian semalam dan jujur saja hal itu membuat Sasuke semakin merasa bersalah.

"Biasanya kalau kau sakit mengigaukan kedua orang tuamu, tapi sekarang igauanmu berubah. Gomen, Sakura, aku menghadirkan mimpi buruk padamu.. Aku memang yang terburuk.." Gumam Sasuke sangat pelan.

Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kmar Sakura. Sangat berantakan! Pakaian berserakkan dimana-mana, ada sisa-sisa benang, alat rajut, gulungan benang terlihat berserakan di lantai.

Pakaian? Sudah jelas itu pakaian miliknya dan Sakura. Lalu sisa-sisa benang, alat rajut, dan gulungan benang itu apa? Bahkan ada gunting juga…

"Sebaiknya aku membereskan pakaian-pakaian ini. aku harus mengeringkan pakaianku juga…" Sasuke membawa pakaian-pakaian kotor itu. Ia juga menjemur pakaian miliknya yang basah karena kehujanan tadi malam. Sasuke bahkan memakai pakaian yang agak basah, sudah mau kering juga sih. Semoga saja ia tidak sakit seperti Sakura.

Sasuke kembali ke kamar Sakura untuk membereskan benang-benang itu. Ia meletakkannya di meja rias milik Sakura. Di atas meja rias, Sasuke melihat calendar duduk dengan tanggal 23 Juli dilingkari warna merah. Itu tandanya Sakura memang tak melupakan ulang tahunnya. Hal itu membuatnya ingat jika semalam Sakura bilang jika ia mendapatkan hadiah dari Sakura dan itu ada di dalam tas. Sasuke mencari tas situ dan membukanya. Benar, di dalamnya memang ada hadiah. Sasuke membuka hadiah itu. Jaket sport yang ia ketahui jika hadiah itu dari kakaknya yang paling alay, Itachi. Lalu Sasuke membuka hadiah yang satunya dan itu adalah sebuah syal rajut. Sasuke meremas syal itu, ia bahkan meneteskan air matanya..

"Aku benar-benar sangat buruk.."

Tapi Sasuke sudah memulainya, rasanya akan sulit untuk berhenti walau pada akhirnya ia akan terus menyakiti Sakura.

Terlanjur?

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Jam 10 pagi..

SAKURA'S POV

Tubuhku berat sekali kepalaku juga sangat pusing. Kenapa badanku serasa sakit semua, seperti mau remuk saja. Ah, i-ittai…

Mimpi buruk memang menyeramkan. Kenapa malah mimpi buruknya dengan Sasuke. Haishh, Sasuke orang baik jadi mana mungkin melakukan hal keji seperti itu. Yah, di mimpi memang apa saja bisa terjadi sih… Tapi itu sangat menyeramkan! Aku tidak mau mendapatkan mimpi yang sama lagi!

Matahari sangat silau memancar lurus lewat celah jendela, mataku bahkan sulit aku buka… Tapi aku harus bangun.. Ini sudah siang… Ibu bilang, anak cewek tidak boleh bangun siang meskipun hari libur…

"Engghh…" aku mencoba membuka mataku.

"Kau sudah bangun?" Tanya Sasuke yang kulihat sedang membaca buku di kursi meja riasku..

"Sa-Sasuke?" Ada Sasuke di apartemenku?

Eh? Souka, jadi mimpi buruk itu sungguhan? Pantas saja aku sama sekali tak berpakaian!

Hoh, apa yan harus aku lakukan, Tuhan?

Aku benar-benar ingin mengekspresikan kemarahanku! Aku harus kuat! Ini tidak akan mudah selesai! Ini bukan masalah sepele….

.

Aku merasa..

Aku merasa jika diriku ini..

Menjijikan…

.

.

Aku duduk bersandar pada bantalku, akupun menutupi tubuhku yang tanpa benang itu dengan kain selimut. Ada sesuatu yang lembab di keningku. Ah, handuk rupanya, akupun melepaskan handuk yang menempel di keningku. Pusing sekali rasanya…..

Aku harus berbicara pada Sasuke. Aku butuh penjelasan darinya…

END OF SAKURA'S POV

.

Sasuke mendekati Sakura, ia mencoba memeriksa suhu badan Sakura, tapi belum sempat ia melakukannya, tangan Sakura sudah menampiknya.

"Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu, Sakura."

Sakura menatap sinis Sasuke. "Apa pertanyaan itu penting dijawab setelah apa yang sudah kau lakukan semalam, hah?"

"Kau sedang demam, Sakura!"

"Itu tidak jauh menyakitkan dari yang semalam."

"Aku tidak berniat meminta maaf dengan apa yang aku lakukan semalam."

Sakura mencolos. Sudah tahu salah, tapi masih saja tidak mau meminta maaf. Sasuke benar-benar keterlaluan. Sungguh egois dan membuatnya tak mengerti bagaimana ia harus bersikap pada Sasuke. Sasuke memang sangat sulit dipahami. Bahkan untuk masalah sebesar inipun, Sasuke enggan hanya untuk sekedar minta maaf.

"Kau kejam, Sasuke!" Sakura memukul-mukul dada Sasuke. Sasuke berusaha melerainya. "Kau jahat, kau kejam, kau keterlaluan! KAU GILA, KAU TIDAK WARAS!" Pukulan itu semakin melemah seiring air mata Sakura yang mulai keluar. "Aku tak mengerti dirimu, kau keterlaluan, kau jahat, kau kejam… Kau…"

Sasuke memeluk Sakura meski Sakura terus saja memukulinya tanpa tenaga.

"Aku melakukannya dengan sadar dan atas keinginanku sendiri. bukankah melakukan hal seperti itu sudah biasa?"

Sakura mendorong tubuh Sasuke agar tak menyentuh dirinya…. "Biasa katamu? Kau benar-benar sudah gila! Tidak waras! Kita ini masih terlalu muda untuk melakukan hal seperti itu! Jauh dari semua itu, kita ini bersaudara! Bagaimana jika ayah dan ibu mengetahuinya? Mereka pasti akan sangat kecewa pada kita! BAKAAAA…"

"Kalau kau tak mengadu pada siapapun maka tidak ada yang tahu."

"Kepalaku sangat sakit! Akhhhh, aku tak mengerti bagaimana orang penuh prestasi seperti dirimu bisa melakukan hal gila seperti ini…"

"Aku hanya laki-laki biasa dan yang aku lakukan itu normal."

"Normal dalam takaranmu! Kau sinting Sasuke! Sinting!"

"Kurasa efek demamu belum hilang makanya kau berbicara tidak jelas seperti itu. Kau bahkan membentak-kakakmu sendiri."

"Aku tidak akan membentak kakakku jika kakakku tak bertingkah gila kepadaku. Dan lagi, berhentilah mencari-cari alasan! Aku tak membutuhkan alasan, aku butuh penjelasan!"

"Sebaiknya kau tutup mulut tentang apa yang sudah terjadi semalam! Bagiku tak masalah jika ada yang mengetahuinya, aku sudah siap menghadapinya. Tapi bagaimana dengan gadis berambut indigo itu? Kau yakin taka pa-apa jika dia tahu?"

"Benar juga, Hinata menyukai Sasuke dan aku yang membantunya. Jika Hinata tahu kebenarannya, maka sudah pasti dia akan sangan marah dan kecewa padaku. Ya Tuhan, kenapa menjadi sangat rumit seperti ini sih? Harus bgaimana?" Batin Sakura. "Jangan katakan apapun –padanya!"

"Jika dia mengetahuinya maka dia akan marah terhadapmu, kecewa padamu dan mungkin akan membenci dirimu karena ternyata orang yang sangat dipercayainya untuk membantunya mendekati orang yang sudah lama dicintainya itu justru berkhianat padanya."

Sakura terlonjak kaget… "Ka-kau mengetahui jika aku menjadikanmu target cinta?"

"Kau pikir aku itu bodoh dengan segala tingkah konyolmu dengan Naruto?"

"Jika kau tahu Hinata menyukaimu, kenapa kau tak menerimanya saja? Kenapa kau malah menarik-ulur perasaannya? Aku tahu, Hinata terus menceritakannya padaku! Dia bahkan menangis terisak-isak karena terlalu memikirkanmu!"

"Aku membutuhkan alasan kuat untuk menjawab pertanyaan itu. Dan aku sekarang sedang mencarinya."

Sakura memiliki ide bagus untuk satu ini. "Baiklah, aku akan tutup mulut akan kejadian semalam, tapi berjanjilah kau akan berusaha membuka hati untuk Hinata!"

"Itu permintaan yang berat, Sakura! Padahal kau itu pihak yang paling rugi jika ada yang mengetahui kejadian semalam."

"Kumohon, Hinata sangat menyukaimu, berusahalah untuk menyenangkan hatinya, sasuke."

"Itu benar-benar merepotkan! Dia akan lebih sakit jika suatu saat mengetahui kebenarannya Sakura."

"Aku yakin itu tidak akan terjadi! Sekalipun terjadi kurasa itu lebih baik daripada dia terus kau abaikan."

"Kau jahat, Sakura."

"Aku tidak akan seperti ini jika kau tak memulainya, Sasuke!"

Sasuke sejenak berfikir. Sepertinya ini hanyalah masalah waktu sampai semua kebenarannya akan terungkap. Toh ia hanya perlu menuruti permintaan Sakura saja, kan? Eh tunggu, rasanya ia juga memiliki ide bagus untuk masalah itu.

"Baiklah, aku akan senang hati menyenangkan hati Hinata, tapi bayaran tutup mulut masih kurang bagiku."

"Kau meminta apa, Sasuke?"

"Turuti keinginanku. Termasuk seperti semalam!"

"Tidak!"

"Tidak?"

"Ti-dak!"

Sasuke menatap tajam Sakura. Kenapa Sakura suka sekali membantah dirinya sih? Memang benar jika keinginannya pada Sakura itu sangat berlebihan. Jauh di dalam hatinya, Sasuke hanya tidak bisa berhenti dengan apa yang sudah ia mulai. Sakura terus saja memenuhi kapasitas memori otaknya. Diantara merasa bersalah dan sangat menginginkan. Sasuke tahu apa yang dilakukannya adalah salah, tapi Sasuke sadar jika ia memang sangat menginginkan Sakura. Seperti saat ini pun…

Sakura akhir-akhir ini terlihat sangat menggoda. Entah apa dan bagaimana, rasanya hasrat Sasuke kepada Sakura menjadi sangat sulit dikendalikan. Walau ia berkata pada Sakura jika apa yang dilakukannya semalam atas dasar keinginannya dan dalam kesadarannya, tapi sesungguhnya Sasuke sendiri tak begitu mengetahui bagaimana dirinya bisa begitu asing pada dirinya sendiri. seperti kerasukan setan saja. Ya walau ia tak munafik jika ia juga menikmatinya.

.

.

Sepertinya pemaksaan memang jalan yang lebih mudah untuk ditempuh…

.

.

Sasuke mencium bibir Sakura dengan kasar. Ia kembali menindih tubuh ramping Sakura. Mencoba menjelajahi seperti semalam. Tidak.. Tidak bisa berhenti.. ingin terus dan terus… dosa ini terlalu nikmat untuk ditinggalkan. Membuat melayang dan lupa segalanya. Bisa dibilang, sudah tak peduli lagi. Persetan dengan semuanya, ya ajaran setan yang menyesatkan dan saat ini Sasuke menjadi pengikutnya.

.

.

.

Dan mereka berdua kembali melakukannya…..

.

.

.

Like a fool…

.

.

.

Sasuke memegangi kepalanya yang terasa cukup pening. Seperti ini lagi dan kehilangan kendali, itu yang ia pikirkan. Seperti orang yang tolol yang tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. seperti orang tolol yang tak bisa berkuasa akan kehendak atas dirinya. Benar-benar sangat tolol dan membuatnya semakin tidak mengerti dengan apa yang sudah ia lakukan dan apa yang sudah terjadi. Dalam hitungan detik, semua berubah, semua tak lagi sama. Ke depan akan semakin sulit dan Sasuke belum memikirkannya. Ia hanya berharap jika nantinya akan baik-baik saja walau terasa berbeda setelah ini. Hubungannya dengan Sakura mungkin akan jauh lebih menyedihkan dari yang ia bayangkan. Kehangatan kebersamaan mereka kemarin, mungkin akan berubah menjadi ketakutan dari Sakura.

Sasuke berfikir keras, akankah senyuman Sakura kepadanya akan tetap sama?

"Berhentilah menangis, Sakura! Aku sudah membelikanmu makanan, jadi cepatlah bangun dan makanlah!" Kata Sasuke.

Sakura masih meringkuk dan menangis sedari tadi. Ia malas melihat Sasuke. Ia bahkan menutupi seluruh tubuh dan kepalanya dengan selimut. Ini sangat buruk. Matanyapun terasa membengkak. Kira-kira sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan sejak kemarin?

Sakura tetap saja terdiam.

"Aku akan mencoba menyenangkan hati Hinata sebisaku. Kau tak perlu berharap banyak apa aku bisa jatuh cinta dengannya atau tidak! Belajarlah menerima kenyataan tentang apa yang sudah terjadi! Aku tak bisa mencegah semua itu, atau bahkan mengembalikannya seperti semula… Jika tadi kau menurut, mungkin ini semua tidak akan terulang. Aku tidak menjanjikan apa-apa padamu, mungkin saja aku akan seperti ini lagi." Lanjut Sasuke. Sepertinya Sasuke akan berbicara lebih banyak dari biasanya.

"….."

"Aku tahu kau marah padaku, itu hakmu. Aku akan menerimanya… Jangan lupa, liburan sekolah sudah usai. Berangkatlah seperti biasa, bersikaplah seperti biasa!"

"….."

Sakura masih saja diam. Sasuke menghela nafasnya…. "Jika kau masih tidak enak badan, aku akan meminta ibu untuk menemanimu!"

Memanggil ibu? Sasuke bodoh ya? Bagaimana jika ibu mereka menjadi curiga?... "Jangan!" Kata Sakura.

Sasuke tersenyum. Rupanya Sakura benar-benar tidak ingin jika ada orang lain yang tahu tentang apa yang sudah Sakura lakukan dengan dirinya.

"Jangan lupa untuk makan!"

"hai."

"Jangan lupa berangkat sekolah!"

"Ya."

"Dan bersikaplah seperti biasanya!"

"…." Mana mungkin kan?

"Sakura?"

"A-aku akan mengusahakannya." Walau tidak yakin jika Sakura mampu melakukannya.

"Hn. Baiklah, aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik! Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan apa-apa."

"Hm."

"Jaa.."

"Jaa…"

Sasuke mencoba melangkah keluar dari kamar Sakura tapi panggilan Sakura menghentikan langkahnya.

"Sasuke?" Panggil Sakura yang masih meringkuk di bawah selimut dan membelakangi Sasuke.

"Hn?"

"Otanjoubi omedetto. Gomen, telat." Kata Sakura.

Sasuke menatap Sakura yang meringkuk membelakanginya. Benar juga. Ia menyadari banyak hal.. Ia menundukkan pandangannya. Ia sudah menyakiti Sakura tapi Sakura masih mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Oh, saudara macam apa dirinya itu? "Hn."

"Sampai jumpa di sekolah."

Sakura mengatakan itu artinya Sasuke tak perlu khawatir jika Sakura akan berangkat atau tidak, kan? Intinya Sakura pasti berangkat sekolah. "Hn. Sampai jumpa."

Akankah semua baik-baik saja?

.

.

.

Like a fool…

.

.

.

"Hoaammmzz, Ohayou, Sakura…" Sapa Yuuichirou. Rambut berantakkan, baju tak dimasukkan, dasi disampirkan, dan muka acak-acakkan.

"Ohayou, Yuu-kun.. Sepertinya sedang malas?" Kata Sakura. Yuuichiraou memang selalu terlihat seperti itu.

"Ya begitulah. Seperti yang kau liat, rasanya liburan kemarin cepat sekali berlalu ya?"

Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas. Pagi masih sama dengan kemarin-kemarin atau yang lalu-lalu, hanya saja nampak berbeda bagi Sakura. Rasanya ia juga malas menampakan dirinya seperti ini seolah tak terjadi apa-apa. Malas atau tak memiliki keberanian? Takut memang sudah pasti..

"Kau saja yang merasa seperti itu. Liburannya saja sangat lama. Aku jadi bosan karena tenagaku tak terpakai." Bohong, Sakura akan melakukannya jika memang diperlukan.

"Oh jadi saat sekolah libur, kau juga libur dengan kerjaan sampinganmu itu ya?"

"Ya begitulah, sebenarnya aku memang sudah mengurangi banyak job, jadi bisa lebih santai."

"Benar juga, lagipula kita sudah kelas tiga. Lima bulan tak ada kita bakal lulus ya.."

"Iya, ne Yuu-kun... apa kau sudah menentukan masa depanmu? Kau mau lanjut dimana?"

"Aku sedang berpikir untuk masuk kampus yang sama dengan Shinoa, tapi dia bilang untuk lebih memahami keahlianku. Jangan hanya karena berpacaran, maka aku harus masuk kampus yang sama dengannya. Ya seperti itulah katanya…"

"Shinoa itu sangat menyayangimu, kurasa dia benar. Terus bersamanya memang baik, tapi jika berbicara masa depan kan memang menjadi urusan pribadi masing-masing." Sakura menatap langit pagi ini yang sangat cerah. Yuuichirou dan Shinoa adalah pasangan yang serasi dalam banyak hal. Membuat iri saja. Apa suatu saat ia bisa juga merasakannya? Ah, sepertinya ia terlalu berharap…

"Bagaimana dengn dirimu sendiri?" Tanya balik Yuuichirou.

Sakura menundukkan kepalanya. Mengingat kejadian tempo hari dengan Sasuke. Apa masih pantas ia mengharapkan masa depan yang cerah? Semua sudah berubah, sangat jauh dari rencananya. Semua sudah tak terkendali.

Wajah Sakura langsung memucat jika teringat kejadian itu dan Yuuichirou menyadarinya.

"Sakura? Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit? Wajahmu memucat…" Tanya Yuuichirou.

"Tidak apa-apa, aku hanya belum sarapan saja tadi." Masalah tidak sarapan itu benar, tapi ia tak selapar itu. Itu hanya alasan saja.

"Kita ini bertetangga, kau bisa mampir dulu ke tempatku, aku akan membuatkanmu makanan jika kau lupa membuatnya…"

"Arigatou Yuu-kun, tadi aku pikir aku tidak akan lapar."

"Kau ini… Ini roti, setidaknya bisa mengurangi rasa laparmu!" Yuuichirou memberikan roti pada Sakura. Beruntung ia sering menyelipkan roti di tas sekolahnya.

Sakura menerimanya. Sejujurnya memang ia sangat lapar. Ia mencoba tak makan karena terus saja memikirkan kejadian tempo hari dengan Sasuke. Walau rasanya tidak nafsu makan tapi memang perutnya tak pandai berbohong…. "Arigataou, Yuu-kun.. Tabemasu.."

"Jika kau tak keberatan, kita bisa berangkat bersama. Masih ada Luffy, Midorima, ataupun Kuroko. Mereka juga teman satu sekolah kita dan juga tetangga apartemen kita… Kita bisa menjadi keluarga, kan? Tapi jika kau tidak mau, setidaknya ada Naruto. Bukankah apartemen kita searah dengan rumahnya?"

"Kau mengkhawatirkanku ya?"

"Tentu saja, baka! Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu, Sakura. Kau terlihat sangat ceria waktu final kejuaraan tennis EoS… Siang hari berikutnya aku melihat Sasuke keluar dari apartemenmu, lalu setelah itu kulihat kau tidak pernah keluar apartemen. Bahkan pagi ini kau sangat berbeda. Menjadi tidak seceria dan bersemangat seperti biasanya…"

Sasuke benar, seharusnya ia bersikap biasa saja jika tidak ingin ada yang curiga dengan apa yang terjadi dengannya. Bisa bahaya jika Yuuichirou yang notabene adalah tetangga dekat apartemennya mengetahui apa yang terjadi. Yuuichirou juga salah satu sahabatnya meski berbeda kelas… "Sasuke mengantarkanku pulang karena waktu malam usai final EoS kami mampir melihat festival musim panas, bisa dibilang terlalu larut untuk pulang sendirian. Karena hujan, Sasukepun menginap di tempatku…"

"Hm, begitu kah?" Sejujurnya Yuuichirou masih sangat penasaran karena ia mendengar suara tangisan Sakura samar-samar dari luar pintu apartemen Sakura saat ia berniat memberikan buah nanas pada Sakura. Ia ingin sekali bertanya, tapi rasanya saat ini belumlah tepat waktunya.

"Ya, seperti itu…" Sakura mencoba tersenyum. Seceria mungkin. "Aku ingin pulang bersamamu, tapi kau sibuk berkencan dengan Shinoa-chan sih…"

Yuuichirou juga tersenyum. Sepertinya ini yang terbaik. "Nah, harusnya kau seperti ini. sakura ceria yang aku kenal…"

Mereka berdua memasuki gerbang sekolah. Sepanjang jalan mereka berdua hanya berbincang ringan tentang liburan musim panas kemarin yang banyak dihabiskan untuk kelas tambahan. Menyedihkan memang, maklum resiko otak pas-pasan. Diterima saja.

Mereka berdua berpisah di depan kelas Sakura. Sakurapun memasuki kelasnya dan melihat Sasuke duduk di bangku mereka dengan sepasang handset menempel di telinga dan komik di tangannya.

Sakura tidak tahu bagimana harus bersikap di depan Sasuke. Seperti biasa? Seperti seolah-olah tak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Sasuke? Jangan bercanda! Semua tak lagi sama…

Takut.

Sakura sangat takut. Ia merasakan tubuhnya gemetaran. Baru kali ini ia merasa sangat takut akan suatu hal. Masuk ke rumah hantu memang menakutkan, tapi tak semenakutkan ini. ia takut pada Sasuke? Sahabat sekaligus saudaranya sendiri? apa Sakura tolol? Tidak, ketololan yang membuatnya seperti ini…

"Sakura-chan, ohayou.." Sapa Gaara. Gaara mungkin akan berharap lebih setelah kecupan singkat di pipi waktu itu. Apa salah jika Gaara mengharapkannya? Toh ia menyadari jika dirinya memang tertarik pada cewek musim semi ini.

Gaara masih tetap menyapanya dengan senyuman terbaiknya. Gaara memang laki-laki yang baik. "Ohayou, Gaara-kun.." Sebisa mungkin Sakura harus bersikap seperti biasanya. Sakura langsung mengingat jika ia harus mengembalikan sesuatu pada Gaara. Lalu iapun memberikan tas kertas yang berisi jaket milik Gaara.. "Kore… Arigatou Gaara, maaf baru bisa mengembalikannya…"

Gaara menerimanya.. "Tidak masalah bagiku Sakura… Selama ini berguna untukmu, kau bisa mengembalikannya semaumu. Mungkin kau juga bisa memilikinya.."

"Kau ini.. Jaket ini terlihat sangat mahal… Jika ini dari orang yang berarti bagimu kan sayang. Ini pasti sangat berharga.."

Gaara kembali tersenyum. Ia bahkan memegang kedua pundak Sakura dengan kedua tangannya. "Kau seperti dukun ya yang tahu apa saja. Sebenarnya ini jaket kado dari mendiang ibuku…"

"Tuh kan, kalau begitu jaga baik-baik ya! Jangan dipinjam-pinjamkan seperti kemarin!"

"Wakatta, wakatta.. "Gaara mengelus-elus kepala Sakura.

Berbicara dengan Gaara membuat Sakura merasa lebih baik. Rasanya ada sesuatu tersendiri yang bisa membuat Sakura sejenak melupakan rasa takutnya.

.

Dari sisi pojok kelas ada sepasang mata merah yang menatap tak suka pemandangan itu.

.

Selesai berbincang dengan Gaara di depan kelas, Sakura berjalan pelan ke bangkunya yang memang sebangku dengan Sasuke. Langkahnya terasa berat karena beban bayangan ketakutan. Ia meletakkan tas sekolahnya dan duduk perlahan. Ia tak berniat menyapa Sasuke karena takut juga untuk mengganggu acara baca komiknya. Bukan juga itu sih, ia memang tidak mau berbicara dengan Sasuke. Setidaknya untuk saat ini…

Tapi sayang, Sasuke justru menyapanya…. "Ohayou." Sapa Sasuke biasa.

"O-ohayou." Mana mungkin Sakura tak menjawabnya. Hanya sapaan saja bukan masalahlah…

Hanya sapaan.. yang lain tetap berbeda…

Perubahan sikap Sakura membuat seisi kelas bertanya-tanya. Biasanya Sakura akan menjadi super berisik karena energy semangatnya yang tak pernah padam meski ia mendapatkan nilai 5 di ulangannya. Walau itu hanya sapaan 'selamat pagi', pasti akan Sakura lontarkan kepada siapa saja yang ada di dalam kelas itu.

Selama pelajaranpun Sakura lebih terlihat pendiam meski guru Kakashi membuat banyak lelucon. Ya mungkin lelucon Guru Kakashi sangat garing jadi tak bisa membuat Sakura tertawa. Tidak juga, yakin, Sakura menjadi jauh lebih kalem.

.

Istirahat…..

"Sasuke dimana?" Tanya Ino.

"Tidak tahu, keluar dengan Naruto." Jawab Sakura.

"Kau pucat sekali Sakura. Kau mau ke UKS?"

Sakura menggeleng… "Aku hanya sedang lapar saja." Tidak memiliki alasan lain selain lapar. Otaknya yang penuh Sasuke dan kejadian tempo hari membuatnya kesulitan berfikir.

Ino mengeluarkan bekal makan siangnya. "Ambilah onigiri ini! Buatan ibuku dijamin maknyuss…"

Mereka berdua menikmati onigiri bekal dari Ino….

Sebaiknya ia memang harus bersikap biasa jika ia tak ingin membuat yang lain semakin curiga. Hanya cukup bersikap seperti biasanya saja , kan? Harusnya itu mudah… Harusnya…

"Ne Ino-chan, bagaimana hubunganmu dengan Sai?"

Ino terlihat malu-malu…

"Waah… Aku yakin dia mengajakmu berkencan di malam festival musim panas itu!"

"Da-darimana kau tau?"

"Wajahmu sudah mengatakannya… Selamat ya, akhirnya kau mendapatkan pangeran idamanmu.. Aku turut bahagia deh…"

"Baiklah-baiklah, dasar nona database… Arigataou Sakura, ini semua karena dirimu.." Ino memeluk Sakura.

"Kau sudah berusaha dengan keras. Itu memang sudah sewajarnya… nikmati waktumu dengannya ya.. Sai itu memang terlihat palsu, tapi sebenarnya ia sangat tulus…"

"Hai… Tapi aku akan membayar banyak tagihan untukmu…" Sakura hanya tersenyum walau tak benar-benar mengharapkan bayaran dari Ino. Ia melakukannya hanya karena menganggap Ino itu sahabatnya.

Setelah makan usai, Ino merapikan wadah bentonya. "Sakura,…"

"Ya?"

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Maksudmu, Ino-chan?"

"Kita ini hampir lulus sekolah loh.. Kau tidak ingin mencari pasangan? Setidaknya untuk prom night nanti?"

Pasangan? Sakura saja hampir lupa untuk memikirkan cinta. Siapa yang ia sukai atau bahkan ia cintai masih kabur di matanya. Ia menyukai Gaara karena Gaara sangat baik dengannya. Itachi-nii sangat Sakura kagumi karena laki-laki tampan itu sangat peduli dengannya, tapi Itachi kan kakaknya. Hubungan romantic sepertinya terlalu jauh deh… Naruto juga sangat baik dengannya, Naruto malah sangat mengerti dirinya. Tapi Naruto akan tetap menjadi sahabat terbaik dalam hidupnya, setidaknya saat ini yang ia pikirkan… Sementara Sasuke? Sakura tak bisa berkomentar banyak tentang laki-laki satu ini. Sasuke menyenangkan sekaligus menyakitkan di waktu yang sama… Apalagi jika mengingat kejadian tempo hari dengan Sasuke. Mungkin lebih tepatnya ia dip*rk*sa oleh Sasuke? Oleh kakaknya sendiri? Itu gila dan tidak pernah Sakura bayangkan sebelumnya… Merasa semakin gelap saja urusan cintanya…

"Haha, kau ini, sendiripun tak masalah, kan?" Jawab Sakura akhirnya.

"Oh, bagimu sih gampang ya, ada Sasuke atau Naruto yang siap menjadi pasanganmu, atau bisa saja Gaara.. Kau akan memanfaatkan mereka bertiga ya?"

"Bisa jadi.."

"Bukan itu, maksudku, kau tidak pernah sekalipun menjalin hubungan pacaran, kau ini dokter cinta, masak kau sendiri menderita jones akut sih?" Ino mengerti betul dengan kehidupan asmara Sakura. Ia tahu jika Sakura tak pernah sedikitpun menunjukkan ekspresi perasaannya untuk laki-laki. Bagaimana bisa Sakura lakukan jika selama ini Sakura terlalu 'dikekang' Sasuke. Kisah Aomine Daiki dan Sakura dulu selalu Ino ingat…

"Aku belum menemukan yang cocok saja, Ino-chan.."

"Sasuke terlihat cocok denganmu, apa lagi dia itu sangat perhatian padamu."

Sakura menggeleng cepat. "kau gila apa, dia itu saudaraku. Ya bisa dikatakan jika dia itu kakakku. Enak saja kau ini…"

"Kau tak ada hubungan darah dengannya, margamu saja berbeda, jadi tak masalah Jidat…"

"Bagiku itu masalah, Ino-pig.. mengertilah, hidupku itu rumit, aku tidak mau menambahnya semakin rumit… Yang harus aku lakukan saat ini hanyalah focus belajar dan cepat menyelesaikan pekerjaan sampinganku. Aku ini mau sekolah di luar negeri, jadi aku harus berhenti bermain-main. Aku juga tak perlu memikirkan cinta. Apa lagi Sasuke…"

Ino bergumam dalam hati.. "Kau harusnya mengerti Sakura, Sasuke itu hanya melihatmu. Itulah menurut kami yang selalu melihat kebersamaan kalian berdua.."

.

.

.

Like a fool…

.

.

.

'I met a beautiful girl. She was bringing white roses on her hand….' Shizune-sensei membacakan text bahasa Inggris.

Suasana kelas terasa hening saat Shizune-sensei membacakan text berbahasa Inggris. Mereka mendengarkan dengan seksama. Maklum saja, Shizune-sensei itu salah satu guru paling galak di sekolah setelah Anko-sensei si guru Matematika. Berharap nila bagus dari guru ini adalah hal yang sangat sulit. Colek Sakura Naruto, Ino, Kiba, dan Chouji.

Di anatara suasana yang diam dan penuh dengan keheningan itu, membuat Sakura serasa mati kutu. Duduk berdekatan dengan Sasuke setelah kejadian itu sangat tidak nyaman. Terasa sesak karena penuh dengan kecanggunggan. Takut sampai-sampai keluar keringat dingin di pelipisnya. Tidak bisa berfikir jernih untuk sekedar mencerna pelajaran hari ini. Yang ada di otaknya hanya berharap jika pelajaran cepat selesai dan ia bisa segera menjauh dari sisi Sasuke. Ia merasa belum siap menghadapi Sasuke meski kesepakatan itu sudah ya bisa dibilang disepakati.

Tet tet tet…

"Semua berdiri…" Kata Temari.

Dan semua berdiri. "Arigatou gozaimasu.."

"Doumo minna-tachi, kalian boleh pulang.." Kata Shizune-sensei.

Syukurlah, ini yang sangat Sakura harapkan. Rasanya beban berat berada di dekt Sasuke langsung berkurang banyak. Mungkin memang hanya beberapa jam saja terhitung dari tadi pagi, tapi bagi Sakura itu sangat lama. Ia harus segera menjauh…\

Sakura mengemasi bukunya dengan cepat dan memasukannya asal ke dalam tas sekolahnya. Ia lantas bediri dan beranjak cepat untuk meninggalkan Sasuke. Namun sepertinya semua tak sesuai rencana karena tangan Sasuke meraih tangannya. Sasuke mencegahnya pergi.

"Kita perlu bicara." Kata Sasuke… "Tetaplah di sini sampai kelas sepi!"

Mati sudah…

Sakura hanya mengangguk saat teman-temannya perpamitan pulang. Seperti Naruto yang merengek kesal karena Sasuke menyuruh pulang duluan tanpa Sakura, kenapa harus seperti itu padahal rumahnya dekat dengan apartemen Sakura…. Ino juga kesal karena Sakura tidak bisa menemaninya belanja baju. Atau Gaara yang terlihat mencoba mengerti karena ada Sasuke yang notabene lebih 'berhak' akan Sakura. Ingat, mereka kan bersaudara…

"Sa-sasuke-kun to Sakura-chan tidak pulang?" Tanya Hinata, siswi terakhir yang sudah bersiap pulang meninggalkan kelas.

"Hinata saja menyempatkan diri bertanya meski dia duduk di bangku depan. Kurasa dia memang benar-benar memperhatikan Sasuke. Aku semakin merasa bersalah padanya…" Batin Sakura sedih.

"Kami akan pulang bersama, kau duluan saja!" Kata Sasuke dingin. Seperti mengusir? Itu menyakitkan.

Lagi-lagi berubah dingin.. Hinata semakin tak mengerti bagaimana cara menyikapi Sasuke yang tiba-tiba sering berubah mood seperti ini. Rasanya tempo hari sudah membaik, tapi kembali dingin seperti ini lagi. Apa yang Sasuke pikirkan saat ini? tak pernahkah walau sedikit memikirkan tentang segala perhatian darinya? Hinata meneteskan air mata sesaat setelah mengatakan sampai jumpa pada Sasuke dan Sakura.

Sakura dan Sasuke melihatnya. Suara Hinata juga mewakili jika Hinata sedang menngis. Cukup! Sakura tidak tahan mengunci mulut di depan Sasuke. Rasa bersalahnya pada Hinata membuatnya harus berbicara pada Sasuke.

"Kau membuatnya menagis, Sasuke-kun. Kau keterlaluan. Padahal kau sudah tahu bagaimana perasaannya kepadamu, tapi kau malah bersikap seperti ini." Kata Sakura.

"Jangan menyuruhku jika kau sendiri bersikap dingin padaku, kau bahkan mengacuhkanku!" Sasuke menatap tajam Sakura.

Sakura tidak membalas tatapan tajam itu… "Mengertilah keadaan kita sekarang, Sasuke… Hiks.. Ini sangat sulit untukku.. " Akhirnya air mata Sakura pecah juga. Yang tahu akan kejadian tempo hari hanya Sasuke, maka hanya dengan Sasuke, Sakura bisa menceritakan keluh kesahnya, kan?.. "Aku kesulitan tidur hanya karena memikirkanmu. Bagaimana aku harus bersikap di depanmu.. Bagaimana seharusnya aku bertindak, bertingkah laku… Aku bahkan berfikir untuk mati saja…"

Sasuke mengerti. Sakura tak pernah berfikir sampai sekeras ini semenjak kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu salah Sasuke membuat Sakura berfikir keras bahkan sampai membuat Sakura kesulitan tidur seperti ini.

Sasuke lantas menarik Sakura kedalam pelukkannya. Kali ini Sakura tidak menolaknya, tapi tidak juga membalas pelukkan darinya…

Tubuh Sakura terasa hangat. Sakura sungguh-sungguh berfikir keras karena kejadian tempo hari. Sasuke memang merasa sangat bersalah, tapi ia bisa apa, semua sudah terjadi… Dan gilanya, Sasuke tak berniat berhenti… Sakura terus saja memenuhi pikirannya. Ia TAk rela Sakura bersama orang lain. Ia menjauhkan Sakura dari laki-laki lain yang Mendekati Sakura. Melakukan banyak cara agar Sakura tetap di sisinya… Jika ini yang dibilang jatuh cinta, mungkin benar adanya. Ia memang jatuh cinta pada sosok Sakura. Saking cintanya membuat Sasuke tak mengerti.

SASUKE SANGAT MENCINTAI SAKURA!

Tapi rasa takutnya Sasuke sebesar rasa cintanya.. mungkin juga obsesinya..

Sasuke memang mencintai sakura, tapi ia terlalu takut untuk mengakuinya karena banyak hal. Mungkin takut jika Sakura akan menolak dirinya dan berubah sikap terhadapnya. Sasuke semakin mengubur pengakuan cintanya saat Sakura mengatakan jika mereka berdua itu bersaudara bahkan di saat mereka sudah melakukan hubungan terlarang itu.

Sasuke mengelus pelan kepala belakang Sakura. "jangan berfikir untuk mati karena masalah ini! kau terlalu muda untuk mati, Sakura! Dan aku tak akan membiarkanmu mati!"

"Hiks.. hiks.. kenapa kau menjadi seperti ini, Sasuke-kun? Aku minta maaf soal ulang tahunmu. Tapi tak begini juga, kan? Kenapa kita tak bicara baik-baik seperti biasanya?"

Sasuke tak bisa seperti biasanya saat gelora perasaan cintanya pada Sakura semakin membuncah. Sakura itu lebih sulit dari soal matematika yang pernah ia kerjakan. Rumus atau formula apapun tak bisa dipakai untuk menyelesaikannya. Semua terlalu sulit untuk dilogika.

Sasuke melepaskan pelukkannya. Ia lantas mengelap air mata Sakura dengan kedua ibu jarinya. "Semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa, sumua orang pasti akan melakukan hal itu. Mungkin ini memang terlalu cepat untuk kita."

"Tak hanya itu, kita ini bersaudara, Sasuke-kun. Tak sepantasnya hal itu dilakukan oleh kita."

"Kau benar, tidak apa-apa karena kita tak sedarah. Tapi jika kau berfikir ini tidak benar, teruslah berpikir untuk menyalahkanku! Anggap saja aku yang selalu memaksamu!"

Sasuke mencium bibir Sakura lalu melepaskannya. Sakura menerima ciuman dari Sasuke.

"Aku merasa seperti orang yang tolol saja.." Kata Sakura lalu tersenyum pilu.

"Gomen, aku membodohimu sampai kau berfikir menjadi orang yang tolol seperti ini.."

Esok hari akan semakin panjang. Entah apa yang akan terjadi nanti. Apakah ketololan itu akan berlanjut? Sepertinya iya… Sakura rela menuruti Sasuke agar Sasuke menurutinya untuk menyenangkan hati Hinata. Kenapa Sakura repot-repot melakukannya? Mengertilah dan jangan menyalahkan Sakura! Semua itu karena Sakura merasa bersalah pada Hinata. Merasa berkhianat karena sudah bermain dengan Sasuke, orang yang Hinata cintai padahal Sakura tahu pasti jika Hinata meminta bantuannya untuk mendapatkan cinta Sasuke.

.

.

To be continue….

.

.

.

Well, well, well… jadi intinya chapter ini tuh ya si Sakura dan Sasuke tetap begituan… Ya namanya juga suatu ketololan ya dimaklumi saja.. sungguh irony yak..

Berharap happy ending? Kita liat saja nanti…

Sampai jumpa di d next chapter ya… bye…

Gomen for typo ne… XD

.

/

Note: JANGAN LUPA BACA 'YOUNG', FF SSL yang lain ya.. arigatou…