Chapter 10
.
.
Gak ada yang ingin disampein, edisi otak buel…. Soalnya baru sembuh ini mah… biasa mencium aspal… hahhaha ciuman mantap dan membekas..cieee…. Panas…
Thanks untuk waktunya…
.
Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan. Maafkan semua kesalahanku ya... mari bersuci ria...
.
.
Dozo minna-san…
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok aim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
…
.
.
Sebulan kemudian, Sasuke dan Hinata terlihat semakin akrab. Ingat, berkat Sakura! Sakura meminta Sasuke untuk menyenangkan hati Hinata, tentu saja dengan harapan Sasuke bisa menaruh hati pada Hinata. Sasuke menurutinya!
Sasuke memang cukup labil dengan mood yang berubah-ubah. Membuat Hinata merasa perasaannya ditarik ulur tidak jelas. Sasuke memang tak pernah menunjukkan perasaannya dalam hal romantic pada Hinata. Sasuke hanya bersikap lebih mengakrabkan diri layaknya hubungan pertemanan dengan Hinata. Seperti biasa, Hinata menganggap hal itu sebagai perubahan positif terhadap dirinya dari seorang Uchiha Sasuke.
Hinata cukup bahagia dengan seperti biasa bisa belajar bersama dengan Sasuke. Bahkan bisa duduk bersampingan saat les di bimbingan belajar swasta. Meski tidak sering, akhir-akhir ini ia bahkan beberapa kali makan bersama di kantin sekolah saat istirahat. Salahkah jika dirinya berharap lebih?
Memang tak salah. Hinata berhak memiliki perasaan seperti itu..
Hanya saja, andai kata Hinata tahu kebenarannya, mungkin akan jauh lebih menyakitkan dari mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan. Semua rasa bahagianya akhir-akhir ini adalah rancangan Sakura dengan 'memaksa' Sasuke untuk melakukannya. Bisa dibilang, Sasuke sedang beracting ria.
Naruto mungkin akan berkesimpulan jika Sakura dan Sasuk hanya mempermainkan perasaan Hinata.
Bukankah itu sangat kejam?
Sakura tahu itu.. mungkin Sasuke juga memahaminya.. Tidak, Sasuke sudah berulang kali memperingatkan Sakura dalam hal ini. tapi Sakura ngeyel, bersikeras untuk tetap percaya jika suatu saat Sasuke bisa jatuh cinta dengan Hinata.
Bodoh dan tolol, Sakura tidak tahu jika Sasuke sangat mencintainya. Ya, Sasuke sendiri yang memutuskan untuk tidak mengatakannya… Ingat, banyak pertimbangan.. Apalagi untuk saat ini, semua jadi semakin rumit…]
"Sasuke makan udon bersama Hinata. Berdua di Kantin, mereka bahkan sesekali berbicara dan tersenyum, ya walau banyak tersipu malunya dari Hinata sih… BTW, kau membuat deal apa dengan Sasuke sehingga bisa membuatnya seperti itu?" Tanya Naruto yang sedang makan bersama di Kantin dengan Sakura.
Sakura tersenyum.."Deal? Aku tidak membuat kesepakatan apapun dengan Sasuke." Sakura melanjutkan acara makan ramennya.
"Aku tahu kau berbohong…"
Bingo, Naruto memang Sahabat paling pengertian… "Aku menuruti semua permintaannya agar dia mau jalan dengan Hinata." Sakura tak berbohong untuk ini. tapi ia tak bisa menjelaskannya lebih rinci.
Dan untungnya Naruto cukup bodoh untuk tidak menanyakan hal lebih lanjut… "Ah souka, pantas saja Sasuke terlihat 'sangat berusaha'…. Bersabarlah Sakura, permintaan Sasuke itu di luar nalar.."
Sakura mencoba tersenyum.. Saran Naruto sangat mengena… "Kau benar, percayalah dengan kesabaranku, aku ini sangat sa-bar.." Sabar sangat, Sakura mengapresiasi kesabarannya yang luar biasa itu…
Mereka melanjutkan acara makan mereka.
"Eh Sakura…"
"Hmm, nani?"
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" Naruto menunjuk dengan supit ke arah Sasuke yang sedang membantu membersihkan pipi Hinata yang terkena kuah udon dengan tisu.
Sakura menoleh, melihat pemandangan slow motion romantic tak jauh dari tempat duduknya itu. Sakura memang tak begitu mengerti maksud pertanyaan Naruto itu. Tidak apa-apa? Bukankah pemandangan itu terlihat baik? Romantic? Ada kemajuan, kan?... Tidak apa-apa bagi dirinya menurut Naruto itu… perasaannya?
Hatinya, kah?
Sebentar..
Ini seperti waktu itu jika dipikirkan lebih jauh, lebih dalam lagi.. Sakura ingat ia pernah merasakan hal yang seperti ini sbelumnya.. tiba-tiba sesak dadanya, tiba-tiba ingin menangis… ah, sepulang dari turnamen EoS, tepatnya di festival musim panas.. saat itu.. ia melihat Sasuke dan Hinata seolah sedang…
Tidak-tidak… jika diingat terus, tuh kan… baru saja mencoba dialihkan, air mata Sakura sudah mengalir di sela pipinya…
"Sakura?" Panggil Naruto karena cukup penasaran Sakura malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Naruto menyadarinya, menyadari air mata Sakura. Tapi Naruto belum berniat mengambil sikap.
"Aku tidak apa-apa…" Sakura reflex cepat kembali menyantap kuah ramen yang panas pedas itu. Semoga bisa menyembunyikan tangisannya dari Naruto yang bodoh tapi tingkat kepekaannya luar biasa. "Huwaaahhh, ini pedas sekali.." Kata Sakura.
"Pelan-pelan, kau bisa tersedak!"
Uhuk..uhuk..uhuk.. Benar, Sakura tersedak dan mulai terbatuk-batuk..
Naruto dengan cepat mengambilkan air minum untuk Sakura. Sakura meminumnya…
"Merasa lebih baik?"
"Hm, arigatou, Naruto-kun…"
"Doumo.."
Dari pojok Kantin, Sasuke dan Hinta mengamati Sakura yang hanya mereka berdua saja yang menyadari, sebenarnya hampir seisi kantin juga melihatnya meski cepat kembali untuk menyantap makanan mereka masing-masing. Tapi Sasuke masih terus saja mengamati Sakura yang terlihat mengkhawatirkan karena terbatuk-batuk. Kesalnya, kenapa juga Naruto harus menyentuh punggung Sakura untuk membantu meredakan batuknya Sakura? Apa Naruto tidak tahu jika dirinya sedang kesal?
"Cih.."Batin Sasuke.
Hinatapun juga menyadarinya…
"Aku tidak tahu keajaiban apa yang membuat Sasuke berubah sangat baik terhadapku… Mungkin memang usaha Sakura untuk membantuku selama ini sudah menemui titik terang… namun, sikap Sasuke-kun yang berubah-ubah tetap saja membuatku terluka… Aku memang egois untuk memiliki cinta Sasuke-kun.. Tapi aku tidak akan mudah menyerah meski sepertinya ada sosok lain yang Sasuke-kun sukai…" Batin memandang jauh sosok Sakura.
.
.
Like a Fool
.
.
"Sakura-senpai, arigatou sudah membantuku selama ini. Aku dan Ran bisa bersama… Ini bayarannya.." Kata Sinichi Kudou, siswa kelas XI.
"Selamat ya, aku turut , jangan mudah salah paham dengan gadis tsundere macam dia ya. Kasihan jika kau tiba-tiba menghilang seperti kemarin itu…" Sakura menerima amplop putih berisi uang itu.
"Menghilang dalam arti menjauh darinya kan ide darimu, senpai…"
"Iya ya..ahhaha… Yang terpenting masa sulitmu sudah terlalui..sekali lagi selamat ya…"
"Hai, arigatou gozaimasu…"
Setelah Sinichi pergi, Sakura mengambil buku notenya dan mencentang daftar Sinichi x Ran. Ship, sudah selesai misinya.
"Tinggal 1, 2,… hmm.2 pasangan lagi.. Mungkin aku akan menyelesaikannya dalam 2 bulan lagi? Ini sudah 5 bulan berlalu, tapi rasanya masih jalan di tempat saja. Tidak ada kemajuan..Mumpung di sekolah aku cukup bebas dari Sasuke, sebaiknya aku segera bergegas, 4 bulan lagi aku lulusan. Aku harus cepat….Andai saja ada kejaiban…" Gumam Sakura.
"Haruno-san…" Panggil gadis cantik berambut panjang berwarna sama dengan dirinya.
"Momoi-san.. Konichiwa…" Sapa Sakura. Ini target 5 bulan belum juga usai.. Kelas basket, XII E
Mereka berdua mengobrol di taman dekat gedung kelas XII…
"Haruno-san, kau ingat waktu kau memberiku seekor anjing seminggu yang lalu?" Tanya Momoi. Sakura memang membeli anjing lucu dan memberikannya pada Momoi… "Kau menyuruhku untuk memberikan anjing itu pada Tetsu-kun karena kau bilang Tetsu-kun menyukai anjing dan ternyata karena anjing pemberianmu itu membuat aku dan dia menjadi jauh lebih dekat… " Momoi terlihat sangat bahagia.
"Hmm, benar kah?"
"Hai.. Kami menghabiskan banyak waktu bersama untuk merawat anjing itu.."
"Aku turut senang kalau begitu.. Lalu apa ada kemajuan lain?"
"Tetsu-kun mengajakku nonton pertandingan basket bersama di Tokyo Sport Center…"
"Kau bisa menganggapnya sebagai kencan.."
"Ah kau benar…. Senangnya… Intinya aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu selama ini. aku yang jatuh cinta padanya sejak SMP tapi tak pernah berani mengutarakannya, kuharap ini langkah yang baik untuk kami.."
"Kau tahu, Momoi-san? Kuroko-san itu meski sering terlihat sendiri, tapi ia selalu mengamatimu loh. Dia akan senang kalau kau menyediakan waktu untuk bersamanya. Kurasa itu baik untuk kehidupan social tipe laki-laki penyediri macam Kuroko-san.."
Momoi kembali tersenyum. Mungkin yang awalnya ia fikir kehadirannya untuk Kuroko itu adalah gangguan, tapi rasanya ia ingin percaya kata-kata sang dokter cinta, Sakura. Ia mendapatkan feedback bagus setelah konsultasi dengan Sakura. Boleh saja kan ia berharap? Sepertinya kedepan akan lebih cerah, ia yakin itu… Sakura meyakinkannya…
"Ini keajaiban.. Sungguh!.. Tak aku sangka jika hanya dengan anjing semua ini akan berlangsung jauh lebih mudah. Anjing itu memang terlihaat mirip dengan Kuroko sih.Matanya sama..Hahaha, beruntungnya saat itu aku menemani Kiba menjemput Akamaru di pet shop dan bertemu anjing itu… Lain kali aku akan mentraktir Kiba-kun ramen… Jika Momoi x Kuroko selesai berarti tinggal satu pasangan lagi… Hinata x Sasuke.Apa aku bisa menyelesaikannya di tempo waktu yang singkat ini? haahh, kenapa semakin rumit saja hidupku ini?"Batin Sakura.
"Tadi sekilas bersemangat, sekarang kembali murung. Apa kau sedang labil, Sakura?" Tanya Gaara yang tiba-tiba datang dan menyodorkan air mineral dingin.
Sakura meminumnya.. "Haiiisshh, aku itu sedang memikirkan banyak cara."
"Bagaimana? Tadi aku melihat Momoi dari kelas E terlihat bahagia…"
"Ya mungkin 1 bulan lagi mereka bisa jadian, setelah itu aku akan bebas sepertinya.."
"Sepertinya?"
"Iya begitulah, soalnya ada klien terakhir yang memintaku membantunya, tapi aku tidak memasukkannya sebagai bisnis sampingan.. Haha.."
"Oh, jadi jika kau berhasil ya syukur, tidak ya tidak masalah?"
"Hmm mungkin bisa dibilang seperti itu…"
"Kau ini… Oh iya, aku yakin kau menyadari apa yang aku lakukan padamu akhir-akhir ini. itu terlalu mudah bagi seorang pakar cinta seperti dirimu, kan? Lagipula, aku tak berniat untuk menyembunyikannya…" Gaara mulai berbicara serius.
"Ya aku mengerti arah pembicaraanmu, Gaara-kun… Kau memang cowok yang jujur sekali ya?...Aku sungguh menghargainya, aku merasa senang kau baik dan perhatian kau tahu sendirikan bagaimana aku?"
"Haiissh, belum juga mengutarakannya tapi sudah mendapatkan tolakkan.. Percayalah, tak apa bagiku, masih ada hari esok untuk tetap berharap…"
"berharap sakit loh… Aku sering mendengarkan keluh kesah orang yang sedang berharap dari klien-klienku.."
"Bukankah itu bumbu cinta?"
"Ish, ish… Kau ini, rupanya sudah tertular virus bahasa cinta ya? Dari kamusnya Naruto?"
"Bisa jadi…"
Dan mereka berdua tertawa bersama… Sakura tahu bagaimana Gaara menaruh rasa terhadapnya. Kemampuan kepekaannya memang cukup baik untuk menilai Gaara. Jika ia salah, mungkin Gaara hanya bercanda dengannya, tapi mungkin juga tidak. Entayhlah, tapi ia memiliki jawaban pasti untuk kisah cintanya…. Jika ia tidak terjebak kisah rumit dengan Sasuke mungkin ia akan berusaha membuka hati untuk Gaara. Mana ada cewek yang tak luluh dengan segala kebaikkan dari seorang Gaara… Gaara itu lelaki idaman, salah satu lelaki yang membuat Sakura tertarik. Terlepas ketertarikan dalam hal romantic atau tidak, Sakura tidak begitu memahaminya.
.
.
Like a Fool
.
.
Di kost Sakura….
"Tubuhmu baik-baik saja?" Tanya Sasuke..
Sakura hanya mengangguk lelah… Di sini mereka di kamar Sakura. Sakura memang sudah bersiap jika hal seperti ini akan ia alami lagi. Menyedihkan memang, tapi sangat rumit hanya untuk sekedar dijelaskan. Mengertilah, ketololan ini benar-benar sangat tolol sampai-sampai membuat tak mengerti. Sakura maupun Sasukepun… Benar atau salah.. Salah sudah pasti, hanya saja… Terlalu bodoh untuk memenangkan suatu yang benar…
"Bagaimana harimu dengan Hinata?"Tanya Sakura yang kini sedang merapikan pakaiannya.
Sasuke berhenti saat hendak memakai baju kemeja sekolahnya… "Bisa tidak, tidak membahas Hinata?"
"Aku hanya bertanya.."
"Tiap kali kita bersama, yang kau bahas hanya Hinata Hinata, dan Hinata."
Sakura menoleh kepada Sasuke yang ada di sampingnya… "Tidak usah sewot! Kau sewotpun aku akan tetap menanyakannya… Itu sangat penting bagiku."
"Penting karena dia temanmu, lalu apa kau memikirkan perasaanku? Setidaknya bagaimana rasanya berbohong pada Hinata?"
Sakura menundukkan kepalanya. Benar juga kata-kata memang jahat. Tapi bagaimana? Semua sudah menjadi begitu rumit… "gomen, tapi kau tahu sendiri kan, ini sangat penting untukku…"
Sasuke mengancingkan kancing kemeja sekolahnya… "Sikapmu yang setengah-setengah pada Hinata hanya akan semakin membuatnya terluka."
Setengah-setengah ya? Memang benar.. Ia tahu jika Sasuke tak memiliki perasaan cinta pada Hinata, tapi ia meminta Sasuke untuk mendekati Hinata dengan maksud menyenangkan hati Hinata. Padahal Sakura tahu sendiri bagaimana karakter dari seorang Sasuke. Sasuke itu sangat sulit jatuh cinta, apalagi untuk hal yang dipaksakan seperti ini. Mungkin awalnya ia menduga jika Sasuke memiliki rasa pada Hinata, nyatanya ia salah. Sasuke mengakuinya sendiri jika tak memiliki rasa pada Hinata… Jika setengah-setengah ini tidak benar, maka ia hanya membuat Hinata bermimpi untuk sebuah harapan palsu…
Sakura merasa keterlaluan…
"Aku percaya jika sering bersama maka cinta akan tumbuh.." Jawab Sakura sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
Sasuke menghela nafas. Ia ingin melempar pernyantaan itu pada Sakura. Bukankah ia dan Sakura juga sering bersama? Kenapa Sakura tidak berfikir jauh sampai kesitu? "Terserah kau saja."
Setelah Sasuke pulang, Sakura menangis sejadinya di kamarnya… Air mata yang mati-matian ia coba tahan akhirnya pecah.. Ia berakting baik di depan Sasuke untuk tidak menangis, setidaknya tidak menunjukkan muka sedihnya…
.
SAKURA'S POV
Aku tahu jika hal ini akan kembali terjadi… Aku tahu itu, Sasuke bukan tipe laki-laki pelupa apalagi untuk hal-hal seperti ini yang sudah jelas menyangkut akan dirinya…
Sepulang sekolah tadi, Sasuke mengajakku pulang bersama… Aku sudah mati kutu dibuatnya… Aku tahu, ajakkannya pulang bersama pasti untuk menagih 'jatah'nya dariku…
Di dalam kereta aku duduk di antara dia dan Naruto… sebenarnya masih ada siswa lain di dalam kereta itu.. Ada Yuu-kun, Luffy-kun… Aku juga melihat Midorima-san dan Kuroko-san.. Aku mencoba bercanda dengan Yuu-kun dan Luffy-kun yang berdiri di depanku… Aku mencoba menghilangkan rasa takutku… Ya walau tak sepenuhnya hilang karena mata Sasuke terlihat mengintimidasiku… sangat kelam dan menakutkan…
Sasuke tahu jika aku ketakutan karena dirinya.. Jika ia tahu, kenapa dia malah mengajakku pulang bersama?
Tidak.. Tidak bisa bercanda seperti sebelumnya….. Sadarlah, aku sudah meminta hal merepotkan dari Sasuke dan Sasuke meminta imbalannya…
.
Sesampainya di kostku, kami mengerjakan PR bersama. Sasuke sangat membantu untuk mengajari soal matematika… Aku benar-benar tegang saat terjebak berduaan dengan Sasuke… Aku mungkin terlihat tolol dengan menegak air putih banyak-banyak untuk menutupi rasa gugup dan takutku… Nyatanya Sasuke belum juga meminta haknya… Awalnya aku duga hanya aku saja yang berfikiran tidak-tidak jika Sasuke akan melakukannya lagi…. Kami hanya belajar bersama untuk waktu sekitar dua jam….
Lebih banyak diamnya….
Dan itu semakin membuatku gugup dan takut….
.
Aku tak harus menceritakan setelah acara belajar kami usai, kan?
Aku malas mengingatnya….
Dan ya… semua kembali terulang seperti sebulan yang lalu…..
Ini memalukan dan juga menjijikkan…
Kami-sama… dosa ini kembali terulang…..
Bodohnya, aku kini menangisi dosa yang sengaja aku lakukan… Aku ingin tertawa akan ketololanku sendiri…
Kira-kira jika Ibu, Ayah, atau Itachi-nii tahu bagaimana ya? Apa yang akan mereka pikirkan? Bodoh, sudah pasti mereka akan kecewa dan tentunya marah besar mengingat Uchiha adalah keluarga terhormat…. Jika Naruto tahu, apa dia akan memberitahukan hal ini pada mereka? Sepertinya aku bisa percaya pada Naruto, tapi sebaiknya ini menjadi rahasia aku dengan Sasuke saja…
Gaara….
Aku memegangi dadaku yang tiba-tiba terasa sesak… Entah dia bercanda atau tidak, tapi kurasa perasaannya padaku tulus… Dia laki-laki yang baik, kuharap dia menemuka cewek yang baik pula… Itu jauh lebih baik dari pada mengharapkan cewek kotor seperti diriku ini…
Beep… beep… bee…. Bunyi pesan masuk…
Aku membacanya.. dari Hinata?
END OF SAKURA'S POV
.
.
"Sakura-chan, sepertinya ini adalah kemajuan yang sangat baik… Tadi aku menghabiskan banyak waktu dengan Sasuke. Kami bahkan satu kelompok dalam tugas biologi… Terima kasih untuk memberikan tempatmu padaku.. Gomen, aku membuatmu tak satu kelompok dengan Sasuke… Kau sudah banyak membantuku… Meski sepertinya masih panjang, tapi aku tak banyak melihat wajah bosan Sasuke saat bersamaku… Arigatou na Sakura-chan…" bunyi pesan Hinata.
"Kenapa aku merasa sedih ya? Harusnya aku senang kan? Aku bisa membantu Hinata… Aku berusaha mati-matian untuk mendorong Sasuke agar bersama Hinata. Tapi saat mereka bersama, aku tiba-tiba menjadi sedih sendiri… Apa yang terjadi denganku? Perasaan ini mulai kapan aku rasakan?... Aku… Sasuke… Tidak, tidak…. Mana mungkin aku cemburu. Hahahaha…." Kata Sakura… Suara terdengar pilu. Ia memahami benar dalam hatinya.. Bibirnya mungkin menolak.. Tapi ia tahu bagaimana arah hatinya berjalan… Ia memandang bintang di langit lewat jendela kamarnya. Bintang tak begitu terlihat karena kalah dengan lampu-lampu kota…. "Baka…" Lanjutnya pelan.
.
.
Like a Fool
.
.
Waktu terus berganti, musimpun mengikutinya… Memasuki musim dingin dimana akhir tahun tiba. Semua orang terutama muda mudi sibuk menghabiskan malam pergantian tahun dengan pasangannya masing-masing. Berlaku pula untuk para siswa dan siswi KIHS…
Sasuke sudah pasti bersama Hinata. Mereka berada di taman kota yang memang saat itu sedang ada acara semacam festival tahunan musim dingin khusus tahun baru. Suasana taman kota sangat ramai, indah dipenuhi berbagai macam balon hias.
Sakura dan teman yang lain juga berada di taman kota tengah kota Tokyo itu. Mereka semua menyebar memnuhi seluruh penjuru taman… Sakura pergi bersama Naruto. Di taman ia bertemu dengan Gaara.. Ada teman lain juga, seperti Yuu dan Shinoa, Mikasa dan Eren, atau pasangan baru Kuroko dan Momoi… Sakura boleh berbangga atas pencapaiannya itu… Diujung sana, terlihat Ino sedang berduaan dengan Sai..
"Semua orang sedang jatuh cinta… Jadi iri.." Kata Naruto.
"Kalau begitu kau carilah pacar…" Kata Sakura. Yang disetujui Gaara.
"Bukankah sekarang ini kita sedang berkencan, Sakura?" Kata Naruto.
Gaara menyaut.."Sakura itu sedang berkencan denganku!"
"Enak saja, aku yang mengajaknya keluar! Aku juga menjemputnya di rumah…" Naruto membela.
"Bukankah kau hanya sebagai tukang antarnya Sakura? Sakura itu datang untukk menemuiku disini!" Gaara semakin menjadi.
"Haaiiishhh, kalian ini… Aku itu sedang berkencan dengan kalian berdua… Nikmati saja!"
Mereka tertawa bersama…. Bercanda memang mengasikkaan. Apalagi di saat seperti ini.. Mungkin bagi Naruto dan Gaara tak sepenuhnya seperti itu… Tak harus memaksa, kan?
Entah bagaimana ceritanya, Sakura dkk bisa berjumpa dengan Sasuke dan Hinata. Mungkin hal itu tidak apa-apa, tapi Hinata secara pribadi meminta waktu lebih lama dengan Sasuke setidaknya sampai jam 00.00 lebih… Hinata ingin menghabiskan akhir tahun dengan Sasuke… Sakura menyanggupinya dan memilih untuk menjauh dari pasangan bahkan membekap mulut Naruto yang hampir saja berteriak memanggil nama Sasuke.
Dari sinilah, di sisi lain dari lapangan luas taman kota Tokyo ia bisa mengamati pasangan Sasuke dan Hinata. .. Seluruh pengunjung berkumpul untuk menikmati pergantian tahun…
Semua berteriak menghitung….
11.59.55
11.59.56
11.59.57
11.59.58
11.59.59
00.00.00
DUUUUAAARRRRRRRRR DUUUUARRRRRR
Kembang api saling bergantian menghiasi langit pergantian tahun… merah kuning, hijau layaknya pelangi malam nan indah… bunyi bising tak begitu berarti… hanya harapan baru dan kebaikkan yang dipanjatkan…..
"Kuharap tahun ini semua masalahku selesai.. Semua yang aku impikan tercapai.. Aminnn…" Doa Sakura sesekali ia melirik ke arah pasangan Sasuke dan Hinata. Rupanya Hinata merangkul lengan kiri Sasuke. Ah, bukankah pasangan itu terlihat romantic?
Terlihat memegang begitu eratnya… Bahkan Sakura bisa melihat samar-samar saat Hinata mendaratkan kecupan singkat di pipi Sasuke…
Kecupan singkat?
Hinata?
Hinata melakukannya?
Sakura hanya melebarkan bola matanya karena kaget.. yapp, dia menangis seperti ini lagi… baka!
Merasa tidak sanggup melihatnya, Sakura memilih untuk berlari meninggalkan tempat itu. Berlari cepat menyusuri padatnya pengunjung.. Berlari mencari tempat yang sepi untuk menangis… Ia harus segera pergi…
"Hinata?" Kata Sasuke.
"Gomen, a-ada salju di pipimu…" Kata Hinata… "Astaga, apa yang aku fikirkan? Hampir saja aku kehilangan kendali… Tinggal beberapa centi lagi… Malu sekali aku… Orang lain pasti melihatnya sebagai ciuman..." Batin hinata. Ia merona karena malu sendiri..
Setelah acara usai, Naruto dan Gaara sibuk mencari Sakura yang entah pergi kemana. Mereka berdua tidak sadar kapan Sakura pergi karena seingat mereka, Sakura masih berteriak menghitung detik menuju pergantian tahun baru…Dalam upaya pencarian Sakura, mereka bertemu dengan Sasuke dan Hinata yang berniat pulang. Naruto menceritakan apa yang terjadi, hal itu membuat Sasuke seketika panic dan mencari Sakura. Hinata merasa mencolos karena Sasuke melepaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkannya tanpa berkata apa-apa…
"WOOY SASUKEE…" Teriak Naruto karena Sasuke pergi begitu saja… "Haiiishh, anak itu benar-benar… Gomen ne Hinata, Sasuke memang selalu seperti itu jika menyangkut Sakura…"
Hinata menggeleng.. "Me-mereka kan memang bersaudara, wajar saja jika Sasuke-kun se-seperti itu.." Dalam hati Hinata ingin menangis.
Gaara mencoba menghubungi Sakura… Sakura mengangkat teleponnya dan mengatakan jika ia sudah pulang karena merasa perutnya kurang nyaman. Sakura bahkan bisa tertawa badai saat mengatakannya…
"Bagaimana?" Tanya Naruto.
"Dia terkena diare." Jawab Gaara. Naruto sweetdrop.
"Bocah itu.. Haaahhh… Baiklah, kita pulang saja… Gaara, kau kan searah dengan Hinata, aku bisa menitipkannya padamu, kan?" Kata Naruto.
Gaara mengangguk.. "Ya, aku yang akan mengantarkannya pulang…"
"Hinata, kau tidak apa-apa, kan pulang dengan Gaara?" Tanya Naruto.
"Eh?... Ah, ya, tidak apa-apa…."
.
.
Like a Fool….
.
.
"Sakura!" Panggil Sasuke.
"Sa-sasuke-kun?Ke-kenapa di sini?" Sakura sedang duduk di bangku taman dan memegang segelas plastik teh hangat.
"Terkena diare?"Sasuke mendapatkan sms dari Naruto.
Sakura meringis karena ketahuan bohong… "Perutku memang sedang kurang nyaman tadi, tapi aku juga memang sedang ingin sendiri… Dimana Hinata?"
Sasuke duduk di samping Sakura… "Gaara mengantarkannya pulang."
"Kenapa kau tak mengantarkannya? Dasar bodoh.."
"Aku melihatmu berlari sambil menangis."
Sakura terdiam. Sasuke sepertinya memang mengawasinya sedari awal. "Aku tadi sakit perut."
"Uso!"
"Uso jaa nai.."
"Berhentilah berbohong, Sakura!"
"berhentilah bertanya, maka aku akan berhenti berbohong!"
Sakura justru menyodorkan teh hangatnya pada Sasuke dan menyuruh Sasuke untuk meminumnya. Sasuke menghela nafas. Sakura memang sangat keras kepala. Daripada berdebat lebih baik ia minum teh hangat saja. Ia memang sudah haus karena berlari mencari Sakura.
Sasuke memandang tajam Sakura lalu menarik sakura ke dalam pelukannya. Sangat hangat. Itu yang mereka berdua rasakan. Berkomunikasi tanpa lisan ini memang masing-masing tak meyakini maksud artinya. Tapi berharap jika hati bisa memahaminya…
.
.
.
To be continue…..
.
.
.
Maaf banyak typo..edisi males baca ulang. Wkwkwkwk..
Note: Kuroko, Momoi, dan Midorima dari Kurobasu, Ran dan Sinichi Kudou dari detective Connan
.
Sampai jumpa di the next chapter ya… gomen sedikit, lagi focus ke FF YOUNG jg soalnya… hahahha… Mungkin bentar lagi tamat..beberapa chapter lagi…
