Chapter 11
.
.
Terima kasih atas reviewnya.. Iya, FF ini juga membuatku merasa jika aku harus menciptakan adegan cerita dimana pembaca bisa ikut di dalamnya. Jujur saja, FF ini sangat susah. Jauh beda dengan membuat kisah komedi romantis... Genre mellow romance kek gini itu biasanya 'cukup membosankan' bagi mereka yang tidak menyukai kata-kata puitis yang bertele-tele...
Tapi ya, aku hanya menyukai menulis. Mencoba memberikan yang terbaik untuk semua FF yang aku buat... Dibaca ya syukur, kagak ya kagak apa-apa...
.
.
.
Aku ingin membuat para readers jadi baper... #plaaakkkk
XD XD XD
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok aim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
…
.
.
Lorong Kelas...
Hinata berjalan agak cepat menuju kelasnya. Bergadang semalaman karena mengerjakan tugas matematika membuatnya bangun kesiangan. Ini seperti bukan dirinya saja. Biasanya ia akan bangun tepat waktu meski jam tidurnya berkurang. Mungkin faktor lelah fisik cukup mempengaruhinya. Tuntutan keluarga Hyuga untuk menjadi baik dalam akedemisi membuatnya harus ekstra belajar lebih keras dibandingkan yang lain.
"Sudah bel masuk.. Aku harus segera berganti pakaian..." Gumamnya.
Karena sedang tidak fokus, ia tak sadar jika ia menginjak kulit pisang yang tergeletak di lantai lorong depan kelas. Kulit pisang itu membuatnya hilang keseimbangan sehingga iapun limbung ke belakang dan hampir terjatuh. Beruntung ada tangan kokoh yang menopangnya. Nyeri pantatpun urung menghampirinya...
Hinata yang kaget akan apa yang ia alami, ia hanya mencoba bangun dari posisi setengah jatuhnya dan segera mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik tangan kokoh yang menolongnya dari jatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Si rambut durian terlihat khawatir.
Hinata hanya mengangguk. Bagaimanapun jika tak ada Naruto, jatuh seperti itu pasti sangat menyakitkan... "Ha-hai, a-aku tidak apa-apa..."
"Syukurlah.. Hampir saja.." Naruto mengulurkan tangannya untuk membntu Hinata berdiri. Hinata meraih tangan Naruto. Ia merasakan ada kehangatan di tangan kekar Naruto. Hangat dan erat... Ini pertama kalinya ia berpegngan tangan dengan Naruto secara erat.
"A-rigatou, Naruto-kun.."
"Saama-sama..." Naruto mengambil kulit pisang itu dan membuangnya ke tempt sampah di dekatnya... "Anak-anak selalu saja membuang sampah sembarangan. Bak sampah saja ada di mana-mana..."
"Kenapa kau yang ha-harus membuangnya, Naruto-kun?"
"Akan bahaya jika ada korban lain nantinya..."
"Hmm.. Se-seperti itu..." Hinata tidak begitu pandai bersosialisasi. Ia sering kehabisan kata-kata.
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.. Ia paham betul bagaimana sosok Hinata itu... "Tumben sekali kau berangkat siangan?"
"Aku telat bangun karena se-semalam lembur tugas. A-aku juga lupa menyalahkan alarm..."
"Hee.. seorang Hinata bisa seperti itu juga rupanya.."
"A-aku ju-juga manusia, Naruto-kun.." Hinata tersenyum manis. Senyuman itu terlalu manis untuk Naruto. Pantas saja hampir semua cowok berniat menjadikannya istri idaman. Baik, ramah, anggun, dan cantik... "Naruto-kun sendiri, ke-kenapa berangkat siang? Bukannya akhir-akhir ini, ka-kau su-sudah sering berangkat pa-pagi?"
"Ah, itu.. Sakura tidak mengajakku berangkat bersama. Dia piket hari ini. Jadi tidak ada yang mencerewetiku. Beruntung juga ibuku sedang di rumah kakek, jam tidurku jadi semakin panjang..." Cengir Naruto.
"Sa-sakura itu te-teman yang baik ya..." Hinata tahu itu, Sakura adalah sosok teman yang sangat baik. Teman yang selalu membuat bahagia orang lain. Buktinya Sakura memiliki teman yang sangat banyak.
"Ya seperti itulah dia. Meski dia cerewet, suka seenaknya saja, egois, suka marah-marah, tapi ia akan jadi orang pertama yang berkata iya saat ada yang meminta bantuan darinya. Dia bahkan mengorbankan banyak hal untuk orang lain..." Naruto tahu bagaimana Sakura mengesampingkan perasaannya demi orang lain. "Dia bahkan pernah mencuri buku PR Sasuke karena aku memintanya."
"Be-benarkah?" Hinata tak percaya. Naruto terlihat sangat tulus membicarakan sosok Sakura.
Naruto mengangguk.. "Habis itu kami kena semprot Sasuke. Tapi aku yang paling banyak kena semprot.. Hahaha, salahku juga sih..."
Hinata berjalan menundukkan kepalanya. Mengamati langkah kakinya di atas lantai keramik berwarna abu-abu itu... Sakura terlihat sangat istimewa bagi semua orang. Terutama Sasuke dan Naruto... "Na-Naruto-kun, me-menyukai Sakura ya?"
Naruto berhenti melangkah... Ia menarik lengan Hinata dengan cukup cepat... "Jika kau berjalan menunduk seperti itu, kau akan menabrak orang!"
Hinata cepat membenarkan pandangannya. Benar juga, ia tak sadar jika di depannya banyak segerombolan siswa yang akan masuk ke dalam lab. Ia menoleh ke arah pintu masuk, rupanya lab komputer.. "Ma-maaf, terima ka-kasih sudah me-menolongku..."
"Ayo! Jam olahraga akan segera dimulai!"
Mereka berjalan lebih cepat dan berpisah di ujung kelas XI, mereka menuju ruang ganti masing-masing. Sebelum berpisah, Hinata mengajak makan ramen bersama lain kali untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pada Naruto karena sudah dua kali ditolong Naruto pagi ini.
"Dia laki-laki yang baik dan unik. Sifat dan sikapnya membuat teduh... Tapi, ia tidak menjawab pertanyaanku..."
.
.
.
Ruang ganti, jam yang sama...
SAKURA'S POV
Kepalaku sakit sekali.. aku bahkan sering mual-mual. Makanan yang aku makan sering aku muntahkan kembali. Kenapa rasa makanan jadi mengerikan seperti itu? Aku membenci makanan amis.. baru baunya saja sudah tidak tahan...
Ah, badanku juga berat.. Apa karena banyak mengerjakan tugas aku menjadi seperti ini? Benar juga, aku beberapa kali telat makan. Aku pernah mengalaminya waktu SMP dulu. Aku bahkan sempat dirawat di rumah sakit beberapa waktu. Dokter bilang aku kena tifus dan maag... Apa aku juga terkena anemia? Buat berdiri terasa berat dan pandanganku terasa buram...
Aku malas... malas melakukan apa-apa.. aku ingin tiduran..
Namun...
Aku memaksakan untuk berangkat sekolah... memasuki akhir semester dua ini, aku harus belajar lebih giat lagi... Ibu akan memarahiku jika aku bersantai-santai. Apa lagi Itachi-nii. Ah, dia bahkan akan stalking diriku untuk membuatku fokus belajar. Ancamannya itu tidak main-main. Dia pernah melakukannya waktu aku SMP. Dia bahkan tahu aku ngapain saja seharian ini... Untung Sasuke menghalangi niatnya itu. Sasuke bilang, dia sendiri yang akan memastikan aku mendapatkan nilai baik... Jika Itachi-nii sampai stalking diriku, bisa gawat. Apa yang aku lakukan dengan Sasuke pasti akan ketahuan olehnya... Tapi dengan Sasuke berbicara seperti itu, itu juga tidak menjamin keselamatanku. Sasuke akan jauh lebih leluasa... Ini mah keluar dari kandang singa, masuk ke mulut buaya...
Waktu, cepatlah berlalu, cepatlah ujian akhir. Hanya dengan itu aku bisa meloloskan diri dari Sasuke. Saat kuliah, kami akan beda kampus. Dan itu dipastikan akan jauh. Sasuke akan jarang menemuiku. Itu dapat mengurangi permainan tolol ini. Bahkan mungkin, dia akan menemukan cintanya, mungkin Hinata, dan segera melupakanku... Me-melupakanku ya? Apa itu yang aku inginkan?
Aku menggigit bibir bawahku...
Aku menyadari perasaanku padanya..
Aku... mencintainya...
Ini sangat menyesakkan...
.
Apapun itu.. aku sudah memutuskan... memutuskan hal yang menurutku tepat.. aku tidak akan meminta saran pada orang lain akan keputusanku...
Bagaimanapun, perasaanku padanya tidak boleh berkembang. Ini tidak wajar untuk dilakukan oleh dua orang saudara. Bagiku, keluarga Uchiha adalah segalanya... Keluarga ini adalah rumahku untuk pulang. Jika aku membuat kecewa keluarga ini dengan kelakuan burukku dengan Sasuke, kemana lagi nanti aku harus pulang?
Sebatang kara itu sangat menyedihkan... Saat aku mendapatkan kembali kehangatan dari sebuah keluarga Uchiha, saat itu pula aku bertekad untuk bekerja lebih keras untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Aku memang tidak pandai seperti Itachi-nii maupun Sasuke, tapi aku akan berjuang dengan kemampuanku yang lain. Ayah maupun ibu memang tak menuntut apa-apa dariku, tidak menyuruhku menjadi A, B, maupun C, tapi itu murni keinginanku sendiri untuk membalas budi keluarga ini. Aku.. aku memiliki hutang yang tak akan pernah bisa aku bayar pada keluarga ini... Bagaimana aku bisa membalas kasih sayang tulus dari keluarga ini?... Keluarga ini sangat mempercayaiku... Menerimaku dengan tangan terbuka.. Merawatku yang sebatang kara..
Tuhan memberiku kesempatan untuk bahagia dengan keluarga ini, maka aku tak akan menyia-nyiakannya meski aku harus membunuh perasaanku sendiri...
Kenapa aku sampai sejauh ini? Mengertilah, aku ini hanya menumpang di keluarga Uchiha... Aku tak boleh seenaknya saja menuntut hak-hakku tanpa membandingkan dengan kewajiban yang harus aku lakukan... Aku hanya mencoba tahu diri.. Siapa aku ini...
Rupanya tekadku mendapat banyak ujian... Tak semudah yang aku bayangkan...
Seberapa kerasnya aku mencoba mengelak... Nyatanya perasaanku justru tumbuh semakin besar.. Saat Sasuke bersamaku, aku merasa takut. Sangat takut ketika ia menguasai seluruh jiwa dan ragaku. Aku ingin berteriak jangan. Jangan lakukan! Lidahku kelu, bibirku membungkam... Namun ketika dia tidak bersamaku untuk beberapa hari, aku merasa ada yang kurang.. ada yang hampa di sini.. di dada ini... Rasanya dingin.. Aku ingin melihatnya meski sebentar... aku rasa aku merindukannya...
.
.
Aku bodoh.. aku tolol.. berusaha mati-matian melawan perasaan ini, nyatanya sampai sekarng aku tak bisa menghapusnya... Sasuke masuk terlalu dalam dalam hidupku.. Dia sudah menguasai segalanya... Masuk dengan paksaan, kasar, dan keji. Aku yang tak siap mengantisipasinya hanya bisa pasrah, pasrah, dan pasrah ketika ia mengambil segalanya dalam hidupku.. Kupikir aku tidak akan tahan, kupikir aku akan menjadi bonekanya... Namun janji itu, janjiku pada Hinata menempati urutan sendiri di otakku. Janji yang berusaha kutepati..
Harus?
Jika Hinata tahu apa yang aku lakukan dengan Sasuke selama ini, apa reaksinya? Apa dia akan membenciku?
Aku benar-benar ingin minta maaf padanya, aku seperti penghianat yang bertopeng malaikat. Nyatanya, aku hanyalah seorang pengecut yang tolol... dimainkan oleh perasaanku sendiri... Harusnya aku tak bermain dengan cinta... Ah lagi, aku teringat kata Naruto...
Aku ingin cepat lulus dan semua akan berakhir...
Melarikan diri? Bersikap layaknya seorang pengecut?... Aku tak akan protes akan julukkan itu..
Tunggu... setidaknya aku berusaha menyelesaikan kerjaan sampinganku yang terakhir ini..
Hinta x Sasuke...
Aku tersenyum, tapi dadaku terasa sesak... Are.. kenapa aku menangis? Air mata ini jatuh kembali...
.
.
END OF SAKURA'S POV
.
.
"Kenapa menangis?" Tanya Ino yang sedang berganti pakaian olah raga. Sakura terkaget, Ino menyadarinya? Sakura menghapus air matanya dengan cepat lalu menggeleng pelan. "Wajahmu pucat sekali, Sakura... Akhir-akhir ini kulihat kau menjadi kurang sehat. Apa hidup sendirian di apartemen membuatmu kesulitan menjaga diri? Pola makanmu pasti terganggu... Jika seperti itu, kenapa kau memaksakan dirimu sampai sejauh itu, Sakura? Lebih baik kau tinggal di rumah Sasuke saja..." Ino mulai menasehati.
"Aku hanya kurang tidur saja. Tugas semester akhir sangat banyak, aku lembur sampai tengah malam. Kadang juga sampai pagi... Minggu besok, aku akan tidur full seharian. Hehehe.." Sakura memaksa untuk tersenyum. Ia tidak mau membuat sahabatnya ini khawatir. Apalagi tanya yang macam-macam soal kenapa ia menangis. Sahabatnya ini sangat kepo, ia pasti akan melayangkan seribu pertanyaan.
Ino memasukkan seragam sekolahnya ke dalam loker... Ia berjalan mendekati Sakura yang duduk di bangku panjang di dekatnya. Lelu menyentuh pelan kening sakura... "Panas sekali. Kau demam Sakura! Aku akan mengantarmu ke UKS!"
Sakura menyingkirkan tangan Ino dari jidatnya dengan pelan... "Aku tidak apa-apa Ino, aku masih bisa mengikuti olahraga."
"Jika terjadi apa-apa padamu bagaimana?"
"Kan ada kau, kau pasti akan dengan senang hati mengantarkanku ke UKS kan kalau aku pingsan? Hahhaha..."
"Huh, masih bisa tertawa rupanya.. Baiklah, tapi kau tak perlu memaksakan dirimu ya.."
"Iya, dasar cerewet..."
.
.
.
Pelajaran olahraga dimulai. Setelah melakukan pemanasan, mereka membentuk kelompok dengan dua orang anggota. Kelompoknya harus cowok-cewek karena ini adalah permainan bola tangan. Tim akan terlihat sama-sama kuat jika di bandingkan cewek-cewek vs cowok-cowok. Setiap kelompok harus menyingkirkan kelompok lain dengan cara menimpukkan bola ke kelompok lain itu untuk menjadi pemenang.
"Kenapa harus bola tangan lagi?"Gumam Sakura malas...
Sakura mendapatkan kelompok dengan Sasuke. Sungguh, dari semua undian yang pernah ia ikuti, kenpa nama Sasuke yang selalu ia dapatkan? Bukankah ia berusaha untuk menghindarinya? Kenapa justru Sasuke mendekat dengan mudahnya?
Tanpa sepengetahuan Sasuke, Sakura memberikan nomor undiannya pada Hinata. Dan ya, iapun menggantikan nomor yang dipegang Hinata. Rupanya ia sekelompok dengan si berisik Lee. Kebetulan sekali, jika bermain bola tangan ia pasti berpasangan dengan Lee. Ya walau karena hasil tukar-menukar dengan Hinata.. Kenapa Hinata selalu dapat undian dengan Lee?.. Tidak masalah, ia juga perlu membuat banyak kenangan dengan siswa lain...
"Ganbatte, sakura-chan.." Kata Lee... Mereka saling bergandengan tangan. Ternyata tangan Sakura sangat halus. Itu kesan pertama Lee saat pertama kali memegang tangan Sakura.
"Hai. Lee-kun..."
Sebenarnya Lee menyadari jika tangan Sakura terasa hangat, lebih tepatnya cukup panas. Ia menduga jika Sakura sedang sakit. Wajahnya yang putih terlihat memucat.. Tapi ketika ia melihat Sakura yang tersenyum kepadanya, ia jadi ingin bergembira bersama Sakura...
Sasuke mengamati pasangan tim Sakura dan Lee. Ia mencengkramkan tangannya dengan kencang dan cukup membuat Hinata meringis kesakitan..
"Sa-Sasuke-kun, ittai.."
Sasuke menyadarinya.. "Gomen, hinata." Katanya datar.
Hinata hanya mengangguk dan mengangguk dan mencoba mencari tahu kenapa Sasuke seperti itu. Tatapan Sasuke tertuju pada arah barisan paling kanan. Arah dimana Sakura dan Lee sedang tertawa renyah... "Aku tidak akan menyerah, sasuke-kun..." Batinnya.
Permainan dimulai.. Pasangan Gaara-karin terlihat sedang berebut dengan pasangan Shika-Tema. Dengan gerakan lincah, Gaara berhasil menimpuk Shikamaru. Shika-Tema out. Temari kesal akut karena Shikamaru dapat dengan mudahnya kalah dari Gaara. Shikamaru bilang, ia capek dan ingin segera tidur.. Ckckck, poor Temari.
Bola liar dikuasai oleh pasangan Sai-Ino. Sakura menahan tawa melihat wajah Ino yang memerah, maklum saja, seisi kelas sudah tahu jika mereka berpacaran, sudah begitu mereka juga setim, suwit suwit centil jika mereka berjodoh bertebaran sejak pembagian tim... Sai membawa bola dan berhasil mengeluarkan pasangan Chouji-Misa, Kiba-Rie... Pasangan Sai-Ino cukup kuat, ino bahkan berhasil menimpuk Shino-dan Shion sebelum akhirnya mereka dikalahkan oleh pasangan Neji-tenten.. Neji-tenten juga cukup kuat dengan mengalahkan 3 tim lain walau mereka juga berhasil dikalahkan pasangan Sasuke-Hinata...
"Sasuke memegang tanganku dengan sangat erat.. Ini membuatku sangat bahgia... Aku ingin waktu berhenti seperti ini selamanya..." Batin Hinata. Ya, ia sangat senang... Ini yang selalu ia impikan. Bersama dengan sasuke untuk waktu yang sangat lama...
Permainan terus berlanjut.. Menyisakan Lee-Sakura, Sasuke-Hinata, Naruto-Tayuya, dan Gaara-Karin...
"AYO SAKURA-LEEEEEEE... KALAHKAN MEREKA SEMUA!" Ino menyemangati dari pinggir lapangan.
Semua memiliki jagoannya masing-masing. Walau hanya sekedar permainan, tapi tetap harus serius. Lee dan Naruto mungkin untuk hepi-hepi dan ketenaran semata, tapi Sasuke dan Gaara adalah rival dalam segala hal. Nilai dan tentunya sakura. Mereka berdua sama-sama menyukai Sakura. Dan mereka cukup paham bagaimana mereka memendam perasaan masing-masing tanpa sepengetahuan yang lain termasuk Sakura sekalipun.
Perebutan bola semakin memanas ketika usaha menimpuk banyak yang gagal, tak mengenai sasaran. Sudah hampir sepuluh menit tapi semua masih bertahan. Semua masih bisa menghindari timpukkan bola.
"Sasuke.. Aku tak berniat kalah darimu!" Kata Naruto yang hampir saja terkena timpukkan bola dari Sasuke.. Untung saja ia bisa menangkap bola itu, itu artinya timpukkan dianggap gagal... "Tayuya, ikkuso..."
Sakura dan Lee memiliki strategi bagus. Sakura meminta Lee untuk tidak begitu mengimbangi permainan antara Sasuke-Hinata dan Naruto-Tayuya. Sakura lebih memilih menunggu sampai salah satu di antara tim itu gugur. Sepertinya akan menghemat energi. Lee menyetujuinya. Sepertinya, Gaara-Karin juga memanfaatkan moment pertarungan sengit anatara dua sahabat itu, Sasuke dan Naruto.
Sasuke dan Naruto saling timpuk dan saling menerima bola dengan baik. Tidak ada yang mau mengalah. Meski tim Sakura dan tim Gaara memilih tidak 'mengganggu' pertarungan tim Sasuke dan tim Naruto, tapi mereka juga ikut bergerak kesana kemari mengikuti irama bola, bisa saja tiba-tiba tim Sasuke maupun tim naruto mengincar mereka. Namun saat mereka bergerak cepat, terlebih tatapan Sasuke yang seperti mengincar Karin, Gaara agak cepat menarik Karin agar tak terkena timpukkan bola. Hal itu justru membuat fatal karena tak jauh dari mereka berdiri, ada Sakura dan Lee yang juga bersiap menghindar. Maklum saja, tatapan incaran Sasuke juga searah dengan mereka. Ketika mereka bergerak cepat, tak sengaja dua tim itu saling betabrakkan yang mengakibatkan Karin cidera karena bersenggolan dengan Lee. Pertandingan dihentikkan sementara, Lee yang merasa bersalah telah membuat kaki Karin terkilir langsung membawanya ke UKS untuk mendapatkan pengobatan. Sementara itu, Karin meminta Sakura menggantikannya bermain dengan Gaara. Rupanya Karin enggan kalah, dari Tayuya tentunya. Maklum, Tayuya adalah saingannya merebutkan Kim Woo Bin-oppa. Ya, maniak Drakor, sama dengannya dan Tenten.
"kau tidak apa-apa kan, sakura?" Gaara memeriksa kening Sakura karena penasaran melihat wajah Sakura yang memerah... "Panas sekali, kau demam, kah?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Itu karena keringatku..."
"Ini keringat dingin, Sakura! Kau perlu ke UKS!"
"Gaara.. Sebentar saja. Aku ingin bermain.. sebentar saja... hanya sebentar.."Mata Sakura menyiratkan keinginan yang menggebu...
Gaara menghela nafas panjang... "Baiklah.. ayo kita cepat sudahi permainan ini dan mengirimmu ke UKS!" Gaara mengulurkan tangannya.
Sakura menyambutnya dengan senang.. "Hai.."
Dari sisi seberang, Sasuke semakin kesal. Setelah terlepas dari Lee, kenapa Sakura justru bersama orang yang ingin segera ia kalahkan? Dan itu.. Kenapa Sakura bisa tersenyum lembut seperti itu? Bahkan saling bergandengan tangan dengan sangat erat... Apa-apan mereka itu? Beraninya melakukan hal seperti itu di depan matanya... Pegangan sih pegangan.. gandengan tangan boleh saja, dalam permainan ini.. Tapi itu Sakura.. Itu miliknya... Kenapa tersenyum begitu menghayati? Bagai dua pasangan? Kenapa seperti itu? Kenapa harus dengan Sakura? Kenapa beda saat tadi bersama Karin... Aree.. rasanya semakin panas saja... Gaara harus kalah!
"Ayo Hinata, segera kita selesaikan! Aku sudah lelah!" Kata Sasuke. Ia menarik cukup kasar tangan Hinata. Hinata hanya mengangguk. Ia tahu, saat ini Sasuke tidak dalam mood yang baik. Tidak apa-apa, ia bisa bersama Sasuke saja sudah membuat bahagia.
Sakura mendengar suara Sasuke ssaat mengajak Hinata kembali ke lapangan. Ia melihat tautan tangan Sasuke dan Hinata. Sangat erat.. erat sekali.. seperti tidak ingin lepas.. Bukankah itu baik? Sasuke mau menggandeng Hinata.. Hinata pasti menyukainya.. Kemajuan?... Berlari kesana, mereka masih bergandengan.. kemari.. mereka juga masih bergandengan.. Hinata bahkan mengeratkan tautan tangannya... hinata yang awalnya kikuk menjadi lebih rileks.. dia bahkan tersenyum karenanya. Menikmati setiap moment mereka berdua...
Sungguh, ini kembali muncul.. rasa yang terus saja menyeruak dari dalam dadanya... terasa sesak dan memaksa untuk keluar. Lagi-lagi seperti ini... perasaan tak rela itu memenangkan hatinya yang mencoba memeranginya. Sakura tanpa sadar menggenggam tangan Gaara lebih erat. Tangannya yang hangat karena demam menjadi gemetaran. Hal itu membuat Gaara cukup khawatir. Ia menghentikan langkah untuk memeriksa keadaan Sakura. Saat itu ia sadar jika Sakura sedang menangis.. Dalam hati ia bertanya, apa yang membuat Sakura menangis? Demam? Sakit kepala?
Pandangan Sakura mulai memburam.. kabur dan gelap.. Sakura pingsan...
Beruntung Gaara dengan sigap menangkapnya sebelum jatuh ke lantai. Pingsannya Sakura membuat heboh. Semua siswa mendekat termasuk sensei..
"SAKURA?"
"Ada apa dengannya?"
"Ya Tuhan..."
"SAKURA PINGSAN!"
"Hoi Sakura.. Sakura..." Gaara mencoba membangunkannya...
Ketika Gaara mencoba mengangkat tubuh Sakura dan berniat untuk membawanya ke UKS, Sasuke langsung menyerobotnya begitu saja. Tak ada yang mempermasalahkan hal itu mengingat mereka berdua sangat dekat. Ya, mereka adalah saudara. Wajar kan jika Sasuke terlihat begitu khawatir? Wajar juga kan jika Sasuke jauh lebih 'berhak' dibandingkan yang lain...?
Gaara hanya bisa menatap kepergian mereka dengan tatapan tak bisa diartikan. Naruto tersenyum maklum. Ia tahu betul jika Sasuke itu overprotective pada Sakura. Sementara Hinata hanya mematung, sesaat setelah Sasuke melepaskan tautan tangannya begitu saja setelah mendengar Sakura pingsan. Ia mengamati telapak tangannya, bekas genggaman tangan Sasuke..
"Tadi sangat erat, kan? Lalu kenapa dengan mudahnya pergi? Terlepas... meninggalkan sisa yang dingin..." Batin Hinata.
Priiit priiit...
"Minna, karena Sasuke sudah mengurusi Sakura, jam istirahat juga masih lama. Kita lanjutkan dulu permainannya. Setelah itu kalian bolah menjenguk Sakura..." Kata sensei...
"Hai..."
Pertandingan kembali dilanjutkan. Naruto-Tayuya vs Gaara-Hinata.
.
.
.
UKS...
Sasuke yang menggendong Sakura ala bridal style itu tiba di UKS. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Ini pertama kalinya Sasuke memperlihatkan sisi lain darinya di depan umum. Membuat Lee dan Karin terkaget-kaget.
Sasuke meletakkan Sakura di kasur UKS. Karin membantu melepaskan sepatu Sakura... Lee mencoba mencari minyak angin..
"Astaga, apa yang terjadi dengannya? Kenapa tubuhnya panas sekali?" Karin mengolesi kaki Sakura dengan minyak angin. Ia juga memijat-mijat kaki Sakura.
"Tadi waktu dia setim denganku, aku melihatnya sangat pucat. Dia bilang hanya kelelahan. Tak aku sangka akan jadi begini... "Lee memberikan kapas yang sudah diberi minyak angin kepada sasuke. Sasuke yang menerimanya langsung meletakkannya di depan hidung Sakura. Ia berharap jika Sakura akan segera sadar.
"Sensei yang jaga kemana?" Tanya Sasuke karena sedari tadi tidak ada seorang senseipun yang membantu mereka.
"Rin-sensei baru saja pergi. Katanya ada pasien pribadinya yang datang ke rumah. Katanya juga itu mendadak sekali. Ia meminta maaf akan hal itu dan menyerahkan pengobatan luar pada kami. Tapi untuk masalah obat-obatan, sebaiknya bertanya dahulu padanya.." Jawab Karin.
"Ah souka.. bagaimana kakimu?" Tanya sasuke.
"Tidak apa-apa, tadi Rin-sensei sempat mengurutnya. Hanya terkilir ringan."
"Syukurlah."
Sasuke rupanya merasa bertanggung jawab juga atas cidera Karin. Ia yang mencoba mengincar Gaara justru membuat Karin cidera. Tidak sengaja. Toh juga permainan.. Hal seperti ini lumrah terjadi, kan?
"Sasuke, kompres dia dengan ini.." Lee memberikan air hangat berserta handuk kecil kepada sasuke. Setelah mengucapkan terima kasih pada Lee, Sasuke langsung mengompres kening Sakura dengan handuk kecil itu.
Lee dan Karin memperhatikan dengan seksama apa yang Sasuke lakukan. Terlihat sangat lembut dan penuh perhatian. Mereka menyadari hal besar. Sasuke yang mereka ketahui cukup cuek, ternyata memiliki sisi hangat seperti itu. Dan ya, sepertinya Sakura cukup memiliki pengaruh yang besar.
Karin menyadari sesuatu yang lebih rumit lagi akan tindakan Sasuke yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang. Itu tidak biasa. Tapi semua cukup tahu, seorang Sasuke bisa terlihat bahagia jika bersama dengan Sakura. Kebersamaan mereka berdua membuat iri banyak orang. Mereka sangat dekat... "Lee, ayo kembali ke lapangan. Sebaiknya kita melapor pada Guy-sensei..."
"HEE, tapi Sakura?"
"Sudah ada Sasuke yang mengurus. Bagaimanapun kita harus memberitahu yang lain tentang keadaan Sakura, terutama Guy-sensei! Kau tidak akan membiarkanku yang cidera ini berjalan sendirian ke lapangan kan?"
"Ya tidak mungkin.."
"Makanya, ayo!"
"Sakura belum sadar, Karin."
"Tidak apa-apa Lee, Karin. Sakura akan sadar beberapa saat lagi.. Ia pernah seperti ini sebelumnya. Aku akan menungguinya sampai sadar. Sampaikan izinnku tidak melanjutkan pelajaran olahraga kepada Guy-sensei! Tolong.." Sela Sasuke.
Sasuke bahkan sampai meminta tolong...
Lee pun menyerah... Ia dan Karin kembali ke lapangan setelah berpamitan dengan Sasuke. Sebenarnya lebih dari itu, Karin hanya mencoba memberikan ruang privasi untuk Sasuke dan Sakura. Entah mengapa, rasanya melihat mereka bersama terlihat begitu manis hingga ia tak tega untuk mengganggunya. Bagaimanapun ia teman dekat Sakura meski tak sedekat Ino. Tapi Sakura adalah teman yang baik yang tak pernah berkata tidak saat ia meminta bantuan kepadanya.
Tidak tahu apa yang ia pikirkan, Karin memberitahu keadaan Sakura kepada teman yang lain dan Guy-sensei. Mengatakan jika Sakura butuh banyak istirahat dan sebaiknya jangan mengganggunya dahulu. Yang lain hanya menyetujuinya, toh nyatanya memang Sakura terlihat cukup parah.. Sakura tidak pernah kalah dengan yang namanya sakit saat di sekolah. Tapi jika ia sakit bahkan sampai pingsan seperti itu, bukankah berarti sakitnya cukup parah?
Dan mereka kembali melanjutkan acara olahraga mereka yang sempat beberapa kali tertunda itu. Ronde pertama dimenangkan oleh Gaara dan Hinata. Mereka berhasil menimpuk Naruto yang rupanya sedang tidak begitu fokus. Bagaimanapun ia juga mengkhawatirkan Sakura.
Waktu istirahat masih ada menunggu sejam lebih lagi... Olahraga kembali dilanjtutkan...
.
.
.
Back to UKS...
.
.
Sepuluh menitan belum ada, Sakura mulai membuka matanya. Mengeryipkan beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu. Kepalanya terasa ingin pecah. Sangat pusing dan jungkir balik tidak menentu. Sangat berat dan sempoyongan... Hal pertama yang Sakura lihat adalah sosok Sasuke yang terlihat begitu khawatir.
"Sa-Sasuke-kun?" Sakura mencoba bangkit dan menyingkirkan kain handuk dari keningnya,
Sasuke membantunya perlahan... "Jangan paksakan dirimu... Pelan-pelan!"
"Aku kenapa?..." Sakura melihat ke sekitarnya.. "Tempat ini?"
"Di UKS, kau pingsan saat olahraga tadi."
"Ah.. souka..." Benar, seingatnya ia tadi sedang bermain bola tangan dengan teman sekelas di lapangan sebelum ia merasa pusing dan buram lalu tak ingat apapun setelahnya...
"Kau tidak makan sesuatu tadi pagi?" Sakura menggeleng. Biasanya ia akan memarahi Sakura atas keteledorannya. Tapi kali ini ada yang lebih penting dari sekedar memarahinya... "Aku akan mencarikanmu makanan, kau tunggulah di sini!" Sasuke mencoba bangkit dari duduknya. Sakura menahan ujung kaos olahraga milik Sasuke..."Hanya sebentar.."
Sakura menengadah untuk menatap Sasuke. Ia lalu menggeleng pelan... "Rasanya pahit, aku tidak ingin makan. Aku pasti akan memuntahkannya."
Sasuke mengelus pucuk kepala Sakura. Ia menatap lembut wajah memerah karena demam milik Sakura... "Jika kau tak makan, kau tidak akan sembuh."
"Kalo begitu, berikan sesuatu yang masam saja."
Sasuke menghela nafas. Tidak sarapan dan ingin makan yang masam. Apa Sakura tidak memikirkan asam lambungnya? Sudahlah, ia hanya mengangguk dan bergegas menuju kantin untuk membeli buah apel dan jeruk serta air mineral. Ia juga membeli nasi dengan lauk telur ceplok.
Sasuke tetap memaksa Sakura untuk memakan nasinya meski ia harus berusaha keras... "Sedikit saja!"
"Tidak mau, mual. Aku tidak suka baunya."
Sasuke mendelik pada Sakura. Sakura yang cukup takutpun langsung membuka mulutnya... Ia memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut Sakura... "Kunyah, terus telan!" Rasa aneh nasi dan telor membuat Sakura ingin memuntahkannya. Ia benar-benar ingin muntah jika Sasuke tak memaksanya untuk segera menelannya kembali...''Jangan dimuntahkan kembali! Telan! Kau harus makan!"
Dan glupp.. sesendok nasi berhasil masuk.. sasuke langsung memberinya jeruk untuk mengurangi rasa mualnya.
"Sudah.." sakura menyingkirkan tangan Sasuke yang bersiap menyuapinya kembali.
"Sekali lagi!"
"Aku sudah kenyang, Sasuke-kun.'
"Se-ka-li lagi!" Sasuke kembali memelototinya. Apa daya, Sakurapun kembali membuka mulutnya dan dengan kunyahan tak sempurna ia langsung menelan makanannya dan segera memakan jeruk untuk mengurangi rasa mualnya.
Meski hanya dua sendok nasi, tapi cukuplah untuk membuat Sakura makan sesuatu. Sasuke lalu memberinya paracetamol untuk menurunkan demamnya. Sakura meminum obat itu. Lagi, ia kembali ingin muntah, tapi buah jeruk siaga menetralkan rasa mualnya.
Sakura masih setengah tiduran di ranjangnya. Ia memakan buah jeruknya dengan lahap. Rasa asam memang jauh lebih baik di lidah daripada rasa aneh campuran nasi dan telur yang tadi ia makan. Sasuke hanya mengamatinya di sisi ranjang. Ia duduk sambil mengupas buah apel hijaunya.
Sakura menatap jam dinding yang ada di ruangan yang cukup luas itu. Sudah pukul 09.45 pagi... "Anak-anak pasti sudah selesai olahraganya. Ayo ke kelas, Sasuke-kun! Aku bosan disini. Bau obat, aku tidak suka baunya. Membuat mual saja..."
Sasuke bangkit dan memeriksa kembali jidat Sakura. Mencoba memastikan kembali keadaan Sakura. "Tidak, kau masih panas!"
"Tapi aku sudah tidak demam lagi! Pusingku juga sudah mulai menghilang. Ayo! Berlama-lama disini semakin membuatku pusing.."
Mereka saling bertatapan mata. Sasuke mengangkat dagu Sakura dengan tangan kirinya... "Kenapa kau suka sekali membantahku, Sakura? Tak bisakah kau diam saat seseorang mengkhawatirkanmu?"
Sakura terdiam setelah Sasuke membungkam mulutnya dengan ciuman lembutnya. Ciuman lembut itu berlangsung cukup lama tanpa Sakura membalasnya. Ia hanya diam, mencoba mengumpulkan kepingan hatinya yang seolah terpisah-pisah.
Sasuke selalu seperti itu... seenaknya saja...
Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi bernafsu, Sasuke bahkan menyelipkan tangan kanannya ke dalam kaos olahraga Sakura. Sakura kaget dan mencoba melepaskan tangan Sasuke dari balik bajunya. Ia terlihat kesulitan. Tubuhnya seperti terkunci. Tangan itu mulai bermain, menyentuh, mengusap, dan menelusuri kulit lembut di balik kaos olahraganya.
Tidak-tidak boleh seperti itu lagi... Ini bukan waktu yang tepat. Dengan gerakan lemahnya, Sakura mencoba menjauhkan tubuh Sasuke darinya.
"Jangan, Sasuke-kun..." Sakura mengalihkan wajahnya dari Sasuke. Sementara kedua tangannya menahan dada bidang milik Sasuke.
"Kenapa?"
"Ini di sekolah."
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut ada yang melihat kita."
"Tidak akan ada yang lihat."
"Tapi sudah memasuki jam istirahat pertama. Bagaimana kalau ada yang datang?"
"Tempat tidurmu di paling pojok. Aku sudah menutup gordennya. Jika gordennya tertutup, maka mereka sudah tahu jika ada yang memakainya. Mereka tidak akan tahu jika kau tidak berteriak."
Berteriak? Apa maksudnya? Ya-ya Sakura butuh loading sebentar untuk memahaminya. Meski sudah beberapa kali melakukannya, tapi nyatanya tetap sakit juga.
Sasuke kembali mencium bibir Sakura. Lalu menyelusuri leher jenjangnya dengan liar. Sakura mengigit bibirnya, mencoba menahan agar ia tak mengeluarkan suara desahan-anehnya. "Ka-kau ahh, ja-hat,.. Sas-sukeehh.. Pah..da-dahal.. ahhhkuu.. sedang.. sah..ahhh.. sa-sakiit..."
Sasuke menarik wajahnya dari leher Sakura. Ia beralih dari posisinya yang kurang nyaman. Ia merangkak dan menindih tubuh Sakura yang setengah duduk di ranjang.
Sasuke menatap wajah Sakura yang memerah karena demam atau malu, atau apapun itu... Terlihat menggoda dengan rambut messynya... Nafas Sakura memburu, dadanya kembang-kempis tak beraturan. Rupanya Sakura juga menahan nafsunya sekalipun ia berusaha menolak dirinya... "Jika beruntung, kau akan sembuh. Biarkan aku juga merasakan sakitmu!"
Uhhh.. Sakura melenguh..
"Ini UKS, Sasuke-kun..."
"Stttttt..." Sasuke menutup bibir Sakura dengan jari telunjuknya... "Aku tidak akan menanggalkan pakaianmu." Dan Sasuke kembali melakukannya dari awal. Menciumi, meraba, mengusap, menjilat, mengecup, menggigit... seperti biasanya.. seperti yang sering ia lakukan dengan Sakura.
Sungguh, Sakura selalu tak bisa berbuat apa-apa saat sudah seperti ini. Ia ingin melawan, tapi tak bisa... Ia hanya mencoba terus berfikir jernih. Mencoba merangkai kisahnya yang semakin lama semakin kelam saja... Ada pikiran bodoh muncul dalam benaknya. Apa Sasuke sadar jika ia membuatnya setim dengan Hinata? Jadi apa yang Sasuke lakukan padanya kali ini adalah bayaran yang sudah mereka berdua sepakati?
Apa ia perlu menanyakan hal itu pada Sasuke?
Kenapa sakit sekali jika memang itu adalah alasan dari Sasuke? Padahal, jika ingin jujur, saat inipun.. entah mengapa ia ingin bersama dengan Sasuke lebih lama lagi... Ingin Sasuke.. ingin Sasuke... Ingin Sasuke...
Wanting Sasuke so badly...
Dia memang sudah jahat sejak awalnya, seperti yang pernah Sasuke bilang. Orang yang paling jahat disini adalah dirinya...
Ya, DIRINYA... HARUNO SAKURA...
Sakura menangis dalam diam... Ia membiarkan Sasuke kembali menikmati tubuhnya...
Ya.. seperti yang sudah-sudah..
Ia berakhir dengan menerima sentuhan dari Sasuke...
.
.
.
Naruto menutup kembali pintu UKS dengan sangat pelan seperti saat awal ia mencoba membukanya. Setelah itu, bersandar di tembok dekatnya. Ia menunduk tanpa ekspresi. Melihat barisan semut yang berjalan di lantai. Berjalan lurus, searah mengikuti semut-semut yang lain.. Ada beberapa semut yang saling bekerja sama untuk membawa remahan kue yang jauh lebih besar dari tubuh semut-semut itu... Terlihat kesulitan, tapi nyatanya mereka tak keluar dari barisannya... Ia terhipnotis akan kerja sama mereka. . . Indahnya kebersamaan. Itu yang ia pikirkan...
Bungkusan kresek berisi makanan dan minuman yang ia bawa terjatuh ke lantai. Tangannya tiba-tiba terasa lemas seperti tanpa otot.
"Souka... Sebagai teman mereka.. ah, sahabat mereka.. Aku bahkan tak bisa melindungi mereka. Sahabat macam apa aku ini? Hal besar seperti itu saja aku tidak tahu... Sejak kapan mereka seperti itu?... Ini bukan sesuatu yang bisa disembunyikan begitu saja. Dan mereka tak sepatutnya berlagak seolah semua baik-baik saja dan biasa-biasa saja... semua berjalan seperti semestinya. Seperti yang seharusnya... Baik-baik saja... Aku gagal menjadi seorang sahabat yang baik... Aku merasa tak berguna... Gomen, Sasuke... Sakura... Gomenasai..." Naruto ingin sekali meminta maaf pada kedua sahabat sedari kecilnya. Entah, ia hanya merasa ingin meminta maaf... Ia merasa tidak bisa menjaga kedua teman baiknya itu...
Ketahuilah, Naruto hanyalah seorang laki-laki yang baik...
"Are... Naruto? Kenapa tidak masuk?" Tanya Ino. Naruto menoleh dan mendapati Ino datang bersama Gaara dengan membawa bungkusan kresek di tangan mereka yang ia yakini sebagai makanan.
Naruto menjawab tatapan penuh tanya Ino dan Gaara. Ia membuka pintu UKS dengan sangat pelan dan mengisyaratkan mereka masuk. Ino dan Gaara mengikuti intruksi dari Naruto. Entah kenapa mereka juga tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Satu langkah..
dua langkah..
tiga langkah kaki mereka memasuki ruang UKS itu dengan sangat pelan.
Enam.. tujuh.. dela...
"Aakkh, Sa-Sasuke-kun.. Pelan-pelan.. Sa-sakit..."
"Tahan seben-tar, Sakurah..."
Mereka berdua membatu seperti kehilangan nyawa mereka... Biasanya untuk masalah seperti ini, Ino akan berteriak dengan sangat keras. Tapi lidahnya kelu. Bibirnya enggan membuka. Ia justru menutup mulutnya untuk menekspresikan betapa terkejutnya dia. Gaara menatap kosong gorden tertutup di pojok ruangan itu.
Dengan langkah pelan bak hantu, mereka keluar dari ruangan itu. Menemui Naruto yang masih bersandar di dinding dekat pintu masuk.
Ino menutup kembali pintu UKS itu dengan pelan-pelan juga. Ia lalu lunglai. Ia menjatuhkan dirinya di lantai. Ia duduk bersandar di dinding, bersebelahan dengan Naruto. Gaara bersandar di sisi dinding lain. Mereka mengapit pintu masuk UKS itu.
"Aku tidak tahu mereka sejauh itu... Mulai kapan mereka melakukannya? Kenapa aku yang tiap hari bersamanya tidak tahu akan hal ini?" Gumam Ino.
"..."
"..."
"Naruto, kau yang paling dekat dengan mereka dibandingkan aku dan Gaara. Kenapa kau diam saja? Beri penjelasan padaku! Jangan bungkam saja! Jangan menyembunyikan apapun dariku tentang mereka!"
"..."
"..."
"Kenapa kau diam saja Naruto? Kenapa mereka seperti itu? Kenapa mereka melakukan hal keji? Hal yang tak sepatutnya dilakukan seorang remaja... Kenapa kau membiarkannya? jawab! Jawab, Narutoooo...!"
"..."
"..."
"Kenapa akupun tak tahu apa-apa.. Bodoh.. Bodoh..."
"..."
"..."
"Baka.. baka.. baka... baka..." ino memukul-mukul lantai. Ia lalu menekuk kakinya dan menggunakannya untuk menutupi wajahnya dengan alas kedua tangannya yang berada di kedua lutut yang ia tekuk. Ia menangis... "Aku tak bisa berbuat apa-apa..."
"..."
"..."
"Bagaimana menurutmu, Gaara? Kau menyukainya, kan? Aku ingin terbuka saja..." Tanya Naruto yang akhirnya membuka mulut. Naruto tahu bagaimana Gaara memandang Sakura. Terlihat jelas jika Gaara menaruh perasaan pada Sakura. Saat ini sudah tidak perlu adanya rahasia dan diam-diam lagi.
"Hm... Gomen Naruto, aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap."
"Tenangkan dirimu, aku tahu kau syok... sama sepertiku..."
"Ah."
.
Mereka terdiam dalam lamunannya sendiri-sendiri. Seperti mengumpulkan kepingan puzzel yang hilang entah kemana...
.
.
.
"Ne Minna..." Naruto dan Gaara menoleh ke arah Ino yang masih saja menyembunyikan wajahnya. "Jangan katakan pada siapapun tentang apa yang baru saja kita lihat! Kumohon... Sakura adalah teman baikku.. dia sahabat terdekatku... Dia sebenarnya cewek yang sangat baik.. Jadi kumohon.. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini... Aku.. Aku tidak mau dia mendapatkan kenangan buruk di akhir sekolahnya..." Kata Ino.
Naruto berjongkok dan memegang bahu Ino... "Sedari tadi aku berdiri disini hanya untuk mencegah orang lain yang mencoba memasuki UKS."
"Aku juga akan tetap di sini menemanimu, Naruto. Setidaknya sampai mereka 'selesai'..." Sambung Gaara yang masih melihat lurus ke depan. Entah apa yang ia lihat kali ini. Tatapannya terasa kosong... Hampa... . Ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba berdiri teguh.
Naruto dan Ino tak menyangka jika Gaara akan sampai sejauh ini melindungi Sakura padahal sudah jelas jika Gaara pasti sangat terluka.
"Arigatou, Minna..." Inopun tak lagi menekuk mukanya. Ia menghapus jejak air matanya. Ia lalu menarik sudut bibirnya. Memaksanya untuk tersenyum... "Ne, Mau bertukar makanan? Aku ada roti rasa melon..."
"Milikku yakiniku...'
"Takoyaki."
"..."
"..."
Mereka memakan makanan yang mereka bawa sendiri tanpa ekpresi. Seperti memakan makanan yang hambar...
"..."
"..."
"Ne, siapa yang tolol di sini?"
"..."
"Saa na..."
Entahlah... mereka mematung seperti orang yang tolol.. Like a fool
.
Menatap langit cerah yang biru dengan tatapan kosong...
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Tidak tahu kenapa, aku di anatara semua FF yang aku buat, aku paling menyukai plot FF ini. Aku merasa jika aku semakin mendalaminya... hahha.. padahal banyak yang ngejudge karena anti heroine-nya adalah Hinata... Aku menyukai semua charakter yang dibuat Masashi-sensei, karena itu aku mengapresiasikannya... semua chara merasa terlukai, termasuk Hinata sekalipun.. tapi ia memiliki kisahnya sendiri...
Thanks sudah mampir...
Salam...
