Chapter 12
.
.
.
.
DIRGAHAYU RI 72! KERJA BERSAMA!
MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAA!
.
.
.
Ya yayaaya.. sudah chapter 12... sebentar lagi...
Aku jadi bingung sendiri. Tapi cerita tetap dengan ending yang sama karena ending cerita sudah ditentukan sejak pertama kepikiran buat bikin ini FF. Ya, tema ketololan memang penuh dengan itu... Aku hanya menambahkan kisah penunjang yang rada berat dan mungkin 'mematikan' karakter... Tapi aku percaya apa itu karma... Karena semua akan indah pada waktunya... XDDDDDDDDDDDDD... Mbuh, ra mudeng nulis opo...
Baka desu ne? Are, dare desuka? Watashi..? Hmmm... hahaha...
Ok, terima kasih sudah mampir dan napak tilas. Positif negatif, ditampung...
Tidak suka tidak usah memaksakan dibaca... genre dewasa penuh sensor... cerita memang moler-moler ra genah...
.
.
Wes... selamat membaca...
Dozo...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
.
.
.,
Seminggu sudah berlalu dengan begitu cepatnya... waktu memang seperti itu.. semakin diitunggu, maka akan semakin melambat. Tapi jika dibiarkan saja, rasanya seperti sangat cepat berlalu. Ya, Sakura membiarkannya.. Berupaya ingin cepat berlalu justru membuatnya semakin lama... Intinya, dia hanya mencoba menerima kan?
Ia menerima kenyataannya..
Ia menerima jika ia terjebak dalam permainannya,...
Ia menerima jika ia tak bisa sepenuhnya mengendalikan permainannya..
IA MENERIMA SEGALA TINGKAH BODOHNYA.. TOLOLNYA...
Ia menerima segala konsekuensinya,,, sakitnya.. sesaknya.. lukanya.. pahitnya... semuanya...
Ia benar-benar menerimanya... SEMUANYA...
Bahkan untuk hal yang paling ia sangkal dalam hidupnya saat ini...
Ia menerima jika ia memiliki rasa pada Sasuke..
Ia mencintai Sasuke...
MEN-CIN-TAI SA-SU-KE...
.
.
.
PUKUL 08.30 pagi, kelas biology...
Beberapa kali Sakura memegang kepalanya yang terasa sangat pening. Berat dan pusing. Beberapa kali pula ia meletakan kepalanya di atas meja, rasanya sangat berat seperti isi kepalanya adalah batu ratusan ton. Oke itu berlebihan, yang jelas isi kepalanya sudah penuh dengan pikiran-pikiran hasil olahannya sendiri yang entah kenapa jika ia mencoba untuk menyelesaikannya justru semakin rumit dibuatnya. Ada masalah, ada solusi, tapi ada pemikiran lain yang mengira-ira. Cocok tidaknya, berhasil tidaknya, dan itu, sungguh, hanya berputar-putar dan semakin membenai otak saja... Hasilnya? Tidak ada, justru mendatangkan masalah baru...
Kenapa jadi semakin rumit?
Baka, ulah sendiri pasti ditanggung sendiri, kan? Bagaimana rasanya tertusuk duri? Sakit, jika kau cengeng pasti akan menangis... Mawar itu indah, tapi ia berduri... Ibaratnya perasaan, mudah dimainkan, tapi ia juga bisa mempermainkan... dipermainkan perasaan sama sakitnya dengan mempermainkan perasaan...
Lagi, Sakura harus memahaminya...
Resiko sakit, luka, dan tangis ditanggung sendiri, kan? Seperti pesan Naruto sebelum ia memulai permainannya...
Di sini yang bodoh dan tolol itu siapa? Dirinya sendiri, kan?
Ketika ada orang yang mencoba menasehatinya, ia mengabaikannya. Sekarang? Ia hanya bisa meringis dengan apa yang sudah terjadi...
Percayalah, ingin menangispun rasanya tak ada guna.. Semua sudah terlanjur...
Sudah terlanjur!
Namun...
Hidup itu memiliki skenario sendiri... bagi mereka yang percaya pada Tuhannya...
Ya... meski terlanjur, bukan berarti itu BERAKHIR, Kan?
Masih banyak jalan menuju Roma, masih banyak jalan menuju kedai ramen, masih banyak jalan menuju rumah Kento Yamazaki... Intinya masih bisa diperbaiki... masih bisa diluruskan.. Meski mungkin tak semulus paha Yoona SNSD, pasti ada jalan keluarnya, karena apa? Karena meski nasi sudah menjadi bubur, tambah opor ayampun rasanya akan semakin nikmat...
.
/
Pelajaran biology sedang berlangsung, semua siswa mendengarkan dengan baik setiap kata yang Konan-sensei jelaskan . Kelas terasa sangat tenang, hanya suara Konan-sensei yang menggema memenuhi seluruh sudut ruang kelas XIIA.
Harusnya kelas biology diajar oleh wali kelas, Kakashi-sensei, tapi karena ia sedang ada rapat jadi guru digantikan oleh Konan-sensei...
.
.
Sementara siswa yang lain tengah sibuk mendengarkan dan mencatat tiap point penting yang Konan-sensei jelaskan, jauh berbeda dengan Sakura. Ia masih setia dengan kepala yang ia letakkan di atas meja. Menopang pipinya dengan tangannya. Ia benar-benar sangat pusing..
Sudah seminggu berlalu, sudah seminggu itu pula ia sering sakit kepala. Ia sudah meminum obat peringan sakit kepala, sembuh, tapi hanya untuk beberapa saat saja. Sakit kepalanya akan kembali lagi. Bukan hanya itu, badannya juga terasa sakit. Seperti mendapatkan banyak pukulan di sekujur badannnya.
Ia kesulitan mengikuti pelajaran.. akhir-akhir inipun ia sering menghabiskan waktu di UKS. Jika hari ini ia juga berakhir di UKS maka ia akan semakin tertinggal pelajaran. Otak minim kapasitas seperti dirinya akan membuatnya semakin sulit mengejar ketertinggalan... Padahal ia ingin mendapatkan nilai yang bagus, kenapa ia menjadi sangat lemah di saat seperti ini sih? Kenapa di saat ia benar-benar ingin serius belajar malah mendapat halangan sakit yang sungguh merepotkan. Kemana tubuh kuat dan hyper activenya pergi? Kemana semangat membara masa mudanya pergi?
Ia kalah dengan rasa sakit di tubuhnya...
Bahkan suara Konan-sensei terdengar samar-samar...
"Jadi, bisa disimpulkan jika pembuahan adalah suatu proses kompleks dimana sel sperma bertemu dan masuk ke dalam sel telur yang sudah matang. Proses ini merupakan proses terjadinya kehamilan..." Jelas Konan-sensei... "Bisa diterima?"
"Bisaaaaaaaa..."
"Baiklah, lanjut... Proses pembuahan terjadi jika adanya hubungan seks suami-istri.. Jadi, laki-laki yang mengalami ejakulasi akan mengeluarkan kuarang lebih 3 cc air mani, dimana terdapat 100 juta sel sperma terkandung tiap 1 cc-nya... Pembuahan ini terjadi di tuba fallopi..." Lanjut Konan-sensei...
"WOOOOWWW..." Entah kenapa pelajaran seperti ini menjadi sangat menarik bagi hampir seisi kelas, terutama siswa cowok.
"Sensei, apa sebanyak itu? 100 juta?"
"Maji?"
"HEE, aku jadi ingin tahu.. Benarkah sebanyak itu?"
"Kenapa harus sampai sejauh itu, bukankah sudah cukup dengan teori dari sensei?"
"Menijikkan..."
"Dasar cewek, itu kebanggan tersendiri dari laki-laki.."
"Hentai.."
"HOOO.."
"..."
Di anatara antusiasme siswa, mata Sakura justru terasa sangat berat...
"Hai, hai.. minna-tachi, ingat, kalian semua generasi muda negara ini, jadi sebaiknya melakukan hubungan seks jika sudah menikah dan dalam usia yang sudah matang. Hubungan seks usia dini sangat beresiko kepada kesehatan. Tak hanya itu, hamil di luar nikah, putus sekolah, hukuman sosial bisa saja terjadi jika kalian melakukannya... Jadilah generasi muda yang positif, semangat dan bekerja keraslah untuk masa depan kalian. Cita-cita kalian harus kalian raih..."
"HAI, HAI, SENSEI..."
Mendengar penjelasan dari Konan-sensei membuat Ino sekilas menoleh ke arah Sakura yang sejak awal dimulainya pelajaran hanya terlihat sangat lemas. Wajah pucat selalu ditampilkan oleh Sakura. Sebagai teman dekatnya, wajar jika ia sangat mengkhawatirkan Sakura.
"Baiklah, ada yang ingin bertanya?" Konan-sensei mengedarkan pandangannya. Ia melihat Sakura yang memejamkan matanya di bangku paling belakang... "Haruno-san?" Sakura terdiam, ia tidak mendengar suara Konan-sensei saat memanggilnya... "Haruno-san...?" Konan-sensei menambah volumenya.
Sasuke memang sedari tadi membiarkan Sakura Tidur karena terlihat lemas dan lelah. Tapi karena sensei memanggil nama Sakura, maka ia harus membangunkan Sakura. Kasihan juga, padahal Sakura baru saja terlelap. Dengan gerakan pelan, ia mencoba membangunkan Sakura.
Sakura terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke depan... Konan-sensei dan seisi kelas sedang memandanginya...
"Gomenasai, sensei.. saya tertidur..." Kata Sakura. Ia tidak berniat membuat alasan lain.
"Haruno-san, apa kau sakit? Kau terlihat pucat?".. Konan-sensei mendekati Sakura dan memeriksa kening Sakura. Sangat panas... "Seseorang, bisa mengantarkan Sakura ke UKS?"
"Ti-tidak Sensei, saya masih bisa mengikuti pelajaran..." Tolak Sakura lemah.
"Jika kau sudah sembuh, kau bisa mengikutinya kembali..." Konan-sensei itu sensei idaman karena baik hati super dewi. "Sasuke, kau bisa mengantarkan Haruno ke UKS?" Sasuke duduk di samping Sakura.
Sasuke mengangguk dan memapah Sakura ke luar kelas. Pelajaran kembali dilanjutkan...
.
.
Unit Kesehatan Sekolah...
Letak UKS yang ada di lantai 1 membuat Sasuke harus ekstra hati-hati memapah Sakura menuruni tangga. Sasuke ingin menggendong Sakura ala bridal style, tapi Sakura menolaknya. Sasuke hanya menggerutu dalam hati karena ia harus berjalan sangat pelan mengimbangi Sakura yang begitu lemah. Jika Sakura sedang tidak sakit, maka ia akan mencak-mencak tidak karuan pada Sakura. Bukankah digendong akan membuat cepat sampai?
Setelah melalui perjuangan, Sasuke dan Sakura berhasil sampai di UKS. Lagi, rupanya UKS sedang sepi. Hanya ada Rin-sensei yang berjaga. Rin-sensei memeriksa suhu badan Sakura yang rupanya mencapai 39 derajat C. Dengan suhu badan setinggi itu membuat Rin-sensei geleng-geleng kepala. Stamina Sakura pasti luar biasa, Sakura masih bisa berangkat sekolah.
"Dia harus dibawa ke RS! Ini mungkin tifus. RS akan menanganinya dengan benar. Sakura bisa melakukan cek darah lengkap disana..." Saran Rin-sensei. Meski ia dokter, tapi jika mendapati pasien seperti itu, ia akan menyarankan yang terbaik. RS memiliki laboratorium dengan segala kelengkapan alatnya. Dia mungkin mendiagnosa sementara gejala tifus, tapi hanya hasil cek laboratorium yang bisa memastikannya.
"Tidak usah, sensei. Saya di sini saja. Berikan saya obat penurun panas atau obat sakit kepala, atau mungkin penambah darah saja... Saya akan segera membaik..." Kata Sakura lemah.
Rin-sensei memperhatikan Sakura, anak di depannya yang tengah berbairing ini terlihat sangat tidak ingin ke RS, ia hanya menghela nafas... "Baiklah, aku akan memberimu infus, tapi jika kondisimu tak kunjung membaik, maka, mau tidak mau kau harus ke RS. Mengerti?"
Sakura mengangguk. Ia pun mendapatkan infus di tangan kirinya. Beruntung ia bersekolah di sekolah elit macam KIHS, fasilitas kesehatannya menunjang. Sensei yang berjaga adalah seorang dokter asli. Sudah pasti akan lebih tanggap mengenai hal seperti ini...
"Arigato gozaimasu, Rin-sensei..." Ucap Sasuke.
Rin-sensei tersenyum dan meninggalkan Sasuke dan Sakura.
"Kembalilah ke kelas! Aku akan istirahat, aku yakin jam pulang nanti aku akan membaik. Setahuku cairan infus akan membuat badan lekas membaik..." Kata Sakura.
"Kau akan istirahat sungguhan, kan?"
"Iya, kau lihat sendirikan, aku lemas sekali? Aku pasti akan tertidur setelah ini. Jadi, sebaiknya kau kembali ke kelas saja..."
Sasuke mengelus kepala Sakura lembut.. "Istirahat nanti, aku akan membawakanmu makanan. Istirahatlah dengan nyaman..."
Sakura tersenyum... "Iya, terima kasih, Sasuke-kun..."
"Hn.."
Setelah Sasuke pergi, Sakura menatap langit-langit UKS. Warna putih mendominasi langit-langit itu. Ada satu bolam lampu kecil di tengahnya. Bolam lampu itu seolah mengajaknya berfikir. Ia teringat pelajaran biology tadi. Meski ia hanya mendengar samar-samar, tapi ia cukup paham akan penjelasan yang sangat jelas itu. Konan-sensei selalu menjelaskan dengan sangat baik sehingga mudah diterima murid-muridnya... Ia lalu menggerakkan tangan kanannya menuju perutnya, mengusapnya pelan.
Sangat pelan... Lalu tangannya beralih ke wajahnya. Ia menekuknya dan menggunakannya untuk menutupi wajah bagian atasnya, terutama mata... Ia bisa merasakan cairan hangat, ah, sangat hangat menerpa permukaan kulit tangannya...
"Tidak mungkin, kan?" Gumamnya sangat pelan...
.
.
,
The next time, saat istirahat...
"Sa-Sakura-chan, bagaiman ke-keadaanmu? Ap-apa ka-kau sudah membaik?" Tanya Hinata. Tamu pertama yang menjenguk Sakura saat istrirat pertama. Ia membawa roti dan minuman mineral.
Sakura tersenyum... Hinata juga teman dekatnya... ":Aku sudah jauh lebih baik, Hinata-chan..."
"Kau pasti terlalu memaksakan di-dirimu.."
"Haha, aku hanya tidak menyangka akan tumbang juga..."
Suasana sejenak terdiam... Ada banyak pikiran yang berkecamuk di benak Hinata. Pikrian yang beberapa kali ini sering kali menghampiri otaknya... menyita waktunya hanya untuk sekedar memikirkannya.. melamunkannya.. membujuknya.. membuatnya banyak berfikir.. membuatnya harus membuat keputusan...
"Jika itu sa-sangat membebanimu, ki-kita hentikan saja, Sakura-chan.."
"Hi-Hinata-chan?"
Hinata menundukkan kepalanya... "A-aku memang a-akan sulit masuk ke-ke dalam hati Sasuke-kun, a-aku tahu itu se-sedari awalnya.. A-aku su-sudah berusaha ke-keras, ka-kau juga sudah ba-banyak membantuku, ta-tapi Sasuke-kun..."
Sakura meraih tangan Hinata.. "Hinata-chan, kau ingin menyerah?" Hinata diam saja... "Hinata-chan, dengarkan aku.. Aku tahu ini sangat sulit. Tapi kau tulus menyukainya.. Sasuke memang menyebalkan, namun dia orang yang cukup peka. Aku yakin dia menyadari perasaanmu..." Ya, Sakura tahu, Sasuke menyadarinya.
"Me-meski begitu, di-dia tidak a-akan mem..." Hinata menggigit bibir bawahnya... Ia meneteskan air mata... "Di-dia tidak a-akan mem-membalas perasaanku..."
Hinata yang duduk di pinggir ranjangnya terlihat rapuh.. Sakura lekas memeluknya.. "Sebentar lagi, Hinata-chan... Sebentar lagi... Kumohon, bertahanlah... Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membujuknya..."
"..." Isakan tangis Hinata terdengar pilu.
Sakura mengelus pelan punggung Hinata... "Sasuke pasti bisa menerima kehadiranmu..."
Hinata hanya mengangguk di pelukkan Sakura...
Sakura juga meneteskan air matanya. Entah apa yang baru saja ia katakan, ia benar-benar tidak memikirkannya hal lainnya. Ia terlalu memprioritaskan Hinata... Ya, janjinya pada Hinata... Ia berjanji akan membantu Hinata mendekati Sasuke... Bagi Sakura, janji yang sudah ia buat adalah hal yang paling utama. Seperti harga diri, ia pasti akan melakukan apapun untuk menepatinya... Ini bukan soal pekerjaan sampingannya sebagai mak comblang, ini murni karena ia melakukannya demi teman, demi sahabatnya... Sejak awal Sakura tak memasukkan Hinata sebagai kliennya, ia memasukkan Hinata sebagai teman-sahabatnya yang sedang meminta bantuan... Jika ada teman yang meminta bantuan, maka sudah sewajarnya kan ia membantunya? Seperti itulah sosok Sakura...
Setelah Hinata selesai berkunjung, kini Ino datang menjenguk... Ia mencak-mencak tidak jelas pada Sakura. Mengomeli Sakura yang sedang sakit. Sakura hanya menutup ke dua telinganya. Temannya yang satu ini jika sudah mengomel maka akan seperti kereta uap yang sedang berjalan. Tidak mau berhenti, apa lagi disela sedikit saja... Maa, Sakura tahu jika Ino hanya sedang mengkhawatirkan dirinya. Ia bisa merasakan itu, ia tersenyum bersyukur...
"Baguslah, kau terlihat lebih baik. Sepertinya cairan infus membantu banyak..." Kata Ino..
"Iya, aku pasti akan sembuh..."
"Sepulang sekolah nanti, aku akan membawamu ke RS ayahku."
"Tidak.."
"Sakura, aku tidak ingin kau semakin parah.. Kau sudah sering seperti ini.."
"Kemarin tidak.."
"Ayolah Sakura-jidat, dalam seminggu ini kau sudah empat kali ke UKS... Pertama pingsan, ke dua masuk angin, ke tiga kelelahan, dan sekarang... Kau terlihat sangat lemah..."
"Seorang Sakura juga manusia, Pig! Bisa sakit juga... Tapi aku akan membaik dalam waktu dekat... Aku sudah diinfus, aku juga sudah meminum obatku... Aku pasti sembuh..."
"HAAAAH, kau sangat keras kepala... Aku lelah berdebat denganmu..."
"Kalau begitu, berhentilah..." Sakura tersenyum manis...
"Dasar..."
Mereka berdua menikmati makan bersama. Ino membawa bekal hari ini. Bekalnya terlihat mewah di mata Sakura. Tapi Sakura lebih tertarik dengan manisan yang Ino bawa sebagai pencuci mulut.
"Hmm, ini enak sekali.. Padahal aku merasakan hambar pada makanan berat..."
"Masam seperti itu kau bilang enak? Oh astaga.. ada apa dengan lidahmu?"
"Entahlah, jika sedang sakit seperti ini, makanan yang terasa enak hanya buah-buahan masam.."
"Sebaiknya kau juga makan nasi, Sasuke akan membunuhku kalau aku membiarkanmu hanya memakan manisan seperti itu..."
"Iya..iya..."
Mereka melanjutkan acara makan bersama mereka. Mereka juga berbincang-bincang ringan... Ino belum berani menanyakan langsung pada Sakura perihal hubungan Sakura dan Sasuke yang sudah sangat jauh itu. Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, bersikap seolah tidak tahu apa-apa...
"Oh iya, Sasuke belum ke sini?" Tanya Sakura.
"Dia, Naruto, Gaara, Sai, Neji, dan Shikamaru dipanggil Yamato-sensei. Sepertinya membahas untuk kegiatan lulusan nanti.. Ada banyak anggota OSIS yang terlibat..."
"Bukannya masih dua bulan lagi?"
"Hitungannya sih seperti itu, tapi kau tahu sendiri kan? Sekolah kita itu seperti apa? Lulusan kali ini akan super mewah... siang dengan orang tua, malam harinya ada prom night,... aku curi dengar dari Temari... Awal maret kita ujian akhir, april pertengahan kita lulusan... Perpisahan pasti akan menyedihkan.. ah, rasanya aku malas lulus... malas berpisah dengan semuanya..."
"hei, ayolah.. bukankah ini yang selalu kita idamkan? Segera meninggalkan seragam SMA kita?"
"Berpisah di musim semi ya..." Ino berhenti menyendok nasinya... "Ne, Sakura..."
"Hm?" Sakura berhenti mengunyah manisannya.
"Apa rencanamu setelah lulus nanti? Prancis? Sekolah mode?"
"Iya, aku sudah sering menceritakannya padamu. Mode, fashion... itu impianku. Aku ingin menjadi seperti mendiang ibu. Menjadi seorang designer dan memiliki botique.. Kau sendiri? Apa kau sudah memutuskannya?"
"Aku akan mengambil kedokteran." Jawaban Ino terlihat mantap dan membuat Sakura kaget. Ia tersedak manisannya.
...uhuk...
Ino memberi Sakura minuman... "Kau ini..."
"Gomen, gomen, Pig... Seriusan? Dokter?"
Ino mengangguk... "Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi saat orang tuaku memberikan saran, kurasa tidak masalah aku mencobanya.. Kedokteran terlihat cukup menarik..."
"Kedokteran, ka... Hmm, sodesu ne, kau akan menolong banyak orang.."
Ino tersenyum... "Benar juga..."
"Bimbelmu pasti padat..."
"Kau benar, aku bahkan mengcancel agenda kencanku dengan Sai-kun... Aku sadar, otak minim sepertiku membutuhkan ekstra bejar keras.."
"Kaciaannn, kayak aku dong, aku sudah diterima.."
Kini Ino yang terkaget ria... "Sudah diterima? Kapan kau mengikuti ujian masuknya?"
"Aku mengikuti ujian onlinenya beberapa kali, kufikir aku akan menyerah karena beberapa kali gagal. Tapi, semua akan baik-baik saja jika aku tak menyerah dan terus mencoba..."
"Enak ya, tinggal bersantai ria..."
"Tidak juga, aku harus mengembangkan bahasa inggrisku..."
"Tapi, kau sangat bagus di bahasa Inggris... Kau tahu, hanya mata pelajaran itu yang membuatmu bisa bersaing dengan The Big Four..." (Baca: Sasuke, Shikamaru, Gaara, dan Neji).
Sakura memukul Ino pelan.. "Inoo..."
Ino nyengir... "berterima kasihlah pada Itachi-Nii-mu itu..."
"Aku tahu..."
"Apapun itu, aku bangga padamu Sakura, diam-diam tapi pasti, kau sudah mengambil langkah untuk masa depanmu..."
"Arigatou..." Dan mereka kembali tersenyum bersama.
.
.
Selesai makan, Ino membereskan wadah makanannya. Membuang sampah dan membersihkan meja di dekat Sakura... Sementara Sakura sedang membaca majalah sekolah.
"Sakura..."
"Nani?" Sakura masih membaca majalahnya.
"Aku akan menginap di tempatmu."
Sakura meletakkan majalahnya dan menoleh ke arah Ino.. "Kapan?"
"Mulai nanti malam.."
"Hmm, boleh... Tapi, tumben sekali?"
"Setelah lulusan, kita akan sangat jarang bertemu... Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman dekatku. Bercanda, membahas hal-hal yang tidak penting..."
Sakura tersenyum menanggapinya... "Ino, arigatou na.."
"Persahabatan kita akan selalu hidup, Sakura..."
Dan mereka saling berpelukkan...
Saat itu pula..
Ino merasa jika ia harus melakukan sesuatu tapi ia tidak tahu harus melakukan apa... Mencoba sebisanya... Mencoba dengan hati-hati agar tak salah ambil langkah. Salah sedikit saja, ia yakin jika hal ini bukanlah hal yang mudah ia selesaikan. Kesalahan kecilnya akan membuatnya semakin rumit. Ia ingin menjadi teman yang baik untuk Sakura, dan selalu akan seperti itu...
.
.
.
Like a fool...
.
.
.
Apartemen Sakura, malam harinya...
Sesuai permintaannya, Ino menginap di tempat Sakura. Memang bukan pertama kalinya Ino datang ke tempat Sakura, tapi beberapa kalipun ia datang ke tempat Sakura, rasanya ia seperti berkunjung ke rumah Sakura, ah, rumah keluarga Uchiha. Maklum saja, setelah Ino tanya, rupanya Ibu Mikoto yang menatanya, atas bantuan dua saudara Uchiha dan Naruto tentunya.
Sakura cukup rapi, kebersihan juga terjaga. Ino kagum dengan sosok Sakura, banyak yang mengira jika Sakura seperti hime-sama yang tinggal menyuruh orang, maka semua akan menurutinya. Dilihat dari sisi Sasuke tentunya, Sasuke pasti akan mewujudkan keinginan manja Sakura... Rupanya, tidak hanya mandiri, Sakura melebihi kata itu. Sakura sangat dewasa... Tinggal di apartemen sendirian itu pasti sangat sulit, tapi Sakura cukup berhasil sampai saat ini... Sebentar, bukankah Sakura cukup mandiri dengan pekerjaan sampingannya?
Pukul sembilan malam, mereka berdua masih saja mengoceh tidak jelas... Padahal Ino berencana merawat Sakura yang sedang tidak sehat, tapi ia malah membuat Sakura membalas segala ocehannya. Beruntung, setelah infus habis tadi di sekolah, Sakura sudah membaik, jadi ia bisa bercanda dengan Sakura. Maa, ia juga membuatkan Sakura ijin tidak berangkat besok harinya. Jadi, tidak apa-apa kan sedikit agak memaksa? Rasanya, ia merindukan saat-saat seperti ini... Bercanda dan tertawa bersama...
Jauh dari itu semua...
Ino juga memiliki tujuan yang jauh lebih penting...
Ino ingin membahas parihal hubungan Sakura dengan Sasuke lebih jauh. Sedari dulu, Sakura itu sangat tertutup jika ditanya perihal kehidupan asmaranya. Hanya satu kali, hanya sekali Ino mendengar Sakura membicarakan cowok di luar dua Uchiha dan Naruto, ya waktu SMP, Aomine Daiki. Itupun sebatas kekaguman semata. Setelah Daiki pindah, Sakura bahkan seolah melupakannya.
Namun kini, tanpa ia sangka, tanpa ia duga, bahkan berulang kali ia mencoba untuk tidak mempercayainya, setidaknya jika ia sedang bermimpi, maka ia ingin segera bangun dari mimpi buruknya. Sakura... Sasuke... Mereka berdua, dua nama itu terus saja memenuhi otaknya, cukup menganggu waktu belajarnya. Sebisa mungkin ia fokus dengan belajarnya, tapi dua nama itu menggoda untuk diutamakan.. Rasanya sudah tidak tahan... Memaksa untuk ditanyakan, dibahas, dan dijelaskan... Jika mungkin, ia berharap menemukan solusinya...
Tunggu? Solusinya? Apakah itu merupakan suatu masalah?
Masalah? Tentu saja, itu dari pandangan kaca matanya. Tapi bagaimana menurut Sakura? Apakah Sakura juga menganggapnya demikian? Jika Sasuke, mungkin biasa saja, seolah tak terbebani.. Sakura, juga seolah demikian... Biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa... Setidaknya itu yang Ino lihat awalnya, namun ia menyadari jika akhir-akhir ini, Sakura bersikap jauh lebih serius, jauh lebih dewasa, yang rada menganggu, sikap agresif dan ceria Sakura berkurang banyak... Ia memang tak bisa memastikan kapan hal itu mulai terjadi. Tapi yang jelas, gadis minim otak macam Sakura terlihat 'MEMIKIRKAN' sesuatu dan sesuatu terlihat berat pasti ada yang tidak beres... Jika ia bertanya lebih awal, sepertinya ia tak perlu mendapatkan fakta Sakura dan Sasuke seperti tempo hari kan?
.
.
.
The next morning...
Ino mempelajari banyak hal tentang ilmu kedokteran. Ada kenikmatan dan ketertarikkan tersendiri. Ia akui jika keputusan yang ia ambil memang atas peran orang tuanya, tapi saat ia mencoba menerima, rasanya ia bersyukur, seperti mendapatkan suatu hidayah dari Tuhan. Sangat menyenangkan... Hikmahnya, ia tak menyangka jika ia sudah mempelajari banyak hal... Ia yakin, dirinya adalah penghuni setia lima besar dari bawah di kelasnya.
Apapun yang ia dapat dari bimbingan belajar yang ia lakukan beberapa bulan terakhir ini, coba ia terapkan ke dalam kehidupan nyata... Entah apa, ia mencoba mengkaitkan dengan sahabatnya..
Ya, ia mengamati Sakura... Terutama semenjak hari itu. Hari dimana rasanya ia menjadi sosok sahabat yang gagal melindungi sahabatnya dari tindakan yang keji seperti itu...
"Sudah selesai, Sakura?" Tanya Ino. Ia bersandar di pintu dapur. Mengamati Sakura yang berada di ruangan yang sama. Dapur+kamar mandi.
"Hm, maaf Ino. Pagi-pagi seperti ini kau harus melihat pemandangan yang menjijikkan seperti ini..." Sakura baru saja muntah-muntah di washtafle dekat kamar mandi. Sakura terlihat sangat buruk. Rambut acak-acakkan, mata memerah dan mengeluarkan air mata, bahkan keringat juga terlihat jelas di pelipis Sakura. Sakura juga memegangi kepalanya, Ino yakin jika Sakura juga merasakan nyeri kepala.
Ino menyilangkan kedua tangannya di depan dada... "Sudah berapa bulan, Sakura?" Tanya Ino serius.
"Hah? Muntah-muntahnya belum lama kok.." Kenapa Ino bertanya ambigu seperti itu? Maksudnya bertanya karena ia sakit, kan?
"Bukan itu."
He, salah? Sakura menaikkan sebelah alisnya... "Bukan? Lalu?"
"Kau..." Ino memejamkan matanya. Sakura menunggu lanjutan kata-kata Ino... Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Semua sudah terlambat, tapi ia tetap sudah membuat keputusan... Ia membuka matanya... "Kau hamil, kan? Sakura?"
Sakura melebarkan matanya. Ia sangat kaget akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Ino di pagi yang dingin seperti ini. Akhir januari- akhir musim dingin, menuju musim semi... "A-apa ma-maksudmu, Ino? Ha-hamil.. Ha-ha..ha..." Bingo, Sakura bersuara aneh.
"Selama beberapa bulan ini, aku fokus belajar untuk meraih impianku sebagai seorang dokter. Kau tahu aku ingin menjadi dokter apa?" Ino berjalan mendekati Sakura yang berdiri di dekat washtafle. Sakura menggeleng karena jujur, ia tidak tahu apa yang Ino pelajari, ia saja cukup kaget karena Ino memutuskan untuk menjadi seorang dokter... "Dokter kandungan." Sakura kembali membulatkan matanya... "Artinya, aku cukup paham dasar-dasar ilmunya..." Ino berdiri di depan Sakura yang menunduk. Ia lalu memegang ke dua bahu Sakura yang gemetaran... "Katakan dengan jujur, Sakura! KAU HAMIL, KAN?" Tanyanya keras. Ia bahkan mencengkram keras bahu Sakura.
Ino sudah tidak bisa menahannya.. ia sudah muak bersabar.. berbicara dengan Sakura memang tidak perlu memakai bahasa panjang lebar, to the point adalah hal yang paling jitu. Sakura akan cepat memahaminya.
Tapi ia cukup mengeraskan volume bicaranya... SUNGGUH, sisi lainnya merasa sangat MARAH!
Sakura langsung menangis. Bukan karena cengkraman dari Ino yang keras, tapi sudah terlalu lama hatinya terluka... Dengan tangan yang gemetaran, Sakura memberanikan diri untuk memberikan alat tes kehamilan yang sedari tadi ia pegang, sembunyikan dari Ino. Alat tes kehamilan yang ia beli sebulan yang lalu.
Ino mengamatinya dengan seksama...
Dua garis merah terpampang jelas di alat mini itu...
Dengan cepat Ino langsung memeluk Sakura yang menangis sesegukkan. Untuk saat ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa... Mau berucap saja rasanya kelu.. Padahal, niat awal ia sungguh ingin membantu menyelesaikan masalah Sakura. Tapi nyatanya, kenyataan, fakta yang harus ia terima pagi ini sudah memukulnya tak berdaya... Ia tak menyangka jika keterlambatannya sudah sampai sejauh ini... Tidak tahu jika sahabatnya melakukan hal keji saja membuatnya hancur, merasa tak berguna sebagai seorang sahabat karena membiarkan hal keji itu terjadi. Tapi, KINI... Ia bahkan tak pernah memikirkan hal ini bisa terjadi...
.
.
.
Setelah berhasil menenangkan Sakura, Ino lantas mengirim pesan pada Naruto untuk mengijinkannya tidak mengikuti pelajaran karena ingin merawat sakura, tentu saja mengirim pesan pada Sai juga. Tapi ia tidak menceritakan apa yang terjadi pada Sakura. Mungkin Ino akan menceritakannya pada Naruto dan Gaara, tapi Sai? Nantilah, sebaiknya semakin sedikit yang tahu, maka akan semakin baik, kan?
Ino meminta Naruto, untuk bagaimanapun caranya agar mencegah Sasuke datang ke apartemen Sakura demi kebaikan Sakura. Naruto menyetujuinya. Naruto juga memikirkan hal yang cukup serius pasti terjadi. Ia harus membuat Sasuke sibuk hari ini agar tak menemui Sakura. Malam nanti, ia akan mengunjungi Sakura dan mendapatkan penjelasan dari Ino.
"Jika kau tahu kau bisa hamil karena melakukan hubungan seks, kenapa kau terus melakukannya dengan Sasuke, Sakura?" Tanya Ino. Ino masih kesulitan mengontrol amarahnya.
Sakura setengah tiduran di ranjangnya... Ia mencengkram selimutnya. Ino mengetahuinya? "Da-darimana ka-kau tahu aku me-melakukannya dengan Sa-Sasuke?"
"Ho, bahkan cara bicaramu sudah seperti Hinata... Aku mendengarmu merintih kesakitan saat di UKS, setelah jam olahraga usai!" Ino ingin terbuka saja.
Sakura mencolos... "I-itu..."
"Jangan mengelak lagi, Sakura!"
Sakura mengigit bibir bawahnya... "Iya, aku dan Sasuke... Musim panas.. Ulang tahun Sasuke..." Ia meneteskan air mata karena teringat kenangan pahit itu. Kenangan pahit yang membawanya dalam ketololan yang begitu menyakitkan...
"Katakan Sakura, dia tidak memperkosamu, kan?"
"..." Sakura menunduk, menutup matanya, membiarkan air matanya mengalir.
Ino mengacak-acak rambutnya yang ia gerai. Sudah lama ia tak merasa sekesal ini... Rasanya ia ingin membunuh Sasuke saat ini juga... "Kenapa kau tak bilang? Kenapa kau membiarkannya? Kenapa kau dan dia justru melanjutkan hal keji seperti itu?... Kenapa, Sakura?"
Sesuai dugaannya, Ino pasti akan bertanya seperti itu... "Keluarga Uchiha, ayah...ibu...Itachi-nii... Kau... Naruto... Apa yang akan kalian fikirkan setelah mengetahui apa yang Sasuke lakukan padaku?... Semua akan kacau, Ino... Kehormatan keluarga Uchiha itu sangat penting buatku... bisakah.. bisakah kau memahami bagaimana posisiku saat ini?"
"Aku mengerti, Sakura... Tapi tak selamanya kau diam saja, kan? Kediamanmu justru membuat Sasuke semakin bejat."
"Jangan mengatai kakakku seperti itu, Ino.."
Sakura selalu saja tidak rela jika ada yang mengomplain kakak angkatnya, Sasuke... "Benar kan? DiA ITU BEJAT! Menyetubuhi adiknya itu tidak waras, Sakura. Dia sakit!"
Sasuke memang tidak waras karena memperkosanya. Itu awalnya. Tapi perjalanan ke sini, Sakura merasa jika ia juga termasuk ke dalamnya. Ia memang meminta hal merepotkan pada Sasuke dan sudah sewajarnya Sasuke meminta bayaran padanya, kan?... "Aku, aku yang mengijinkan Sasuke melakukannya padaku, Ino... Jika ingin menyalahkan seseorang, maka itu adalah aku! AKU YANG MEMULAINYA..."
"A-Apa maksudmu, Sakura?" Sakura yang memulai? Ayolah, Ino membutuhkan penjelasan yang gamblang.
"Aku meminta Sasuke membuka hati untuk Hinata dan Sasuke menurutinya dengan imbalan tubuhku..."
"GILA, TIDAK WARAS, KALIAAAN SINTING!" Hanya karena itu? Imbalan seks? YANG BODOH ITU SIAPA? SIAPA YANG TOLOL DI SINI? DIRINYA KAH?
"Ya, kami memang sinting, Ino.."
"Kenapa kau meminta dia membuka hati untuk Hinata? Hanya karena permainan bodohmu itu? Kau pernah membahas jika Sasuke memiliki perasaan pada Hinata jadi kau memasukkan mereka berdua dalam permainan untung-untungan? Jika Sasuke tak memiliki rasa pada Hinata maka mereka tidak akan bersama.. Selesai?... seperti itu?... Atau Hinata datang padamu dan meminta jasa mak comblangmu lalu kau menurutinya sekalian mau membuktikaan dugaanmu yang mengira Sasuke memiliki rasa pada Hinata?.. Itu? Karena itu? Pada akhirnya kau mempermainkan mereka, Sakura! KAU MENGERTI KAN? KAU PAHAM KAN KONSEKUENSINYA? Mempermainkan perasaan orang itu SALAH, Sakura!" Ino berbicara dalam sekali tarikan nafas...
Rupanya Ino mengerti lebih banyak akan Sakura. Dia memang sahabat yang sangat baik.
"Kau yang terbaik, Ino.. sama seperti Naruto..."
"Berhenti mengalihkan pembahasan, Sakura!"
"Aku sudah berjanji pada Hinata untuk membantunya mendekati Sasuke. Ya, aku akui, aku juga ingin tahu apa dugaanku itu benar atau tidak... Malam ulang tahun Sasuke, malam sehabis final tenis EoS, Sasuke memperkosaku... Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat itu, dia terlihat sangat mengerikan. Aku pasti membuat kesalahan padanya makanya dia sampai seperti itu... Yang jelas, aku melupakan ulang tahunnya..."
"Tunggu, kau lupa ulang tahunnya?"
"Tidak juga... Aku..." Sakura ingat jika ia tidak tahan melihat Sasuke 'memeluk' Hinata dengan sangat eratnya. Ia memilih pulang tanpa jadi merayakan ulang tahun Sasuke... "Pokoknya dia sangat marah padaku lalu dia memperkosaku... Sekian kali aku berusaha untuk bersikap biasa pada Sasuke, Sasuke mengetahui jika aku menjadikan dirinya target cinta. Ia tahu jika aku melakukan penyelidikkan padanya... Sungguh, aku tak menyangka jika Sasuke menyadarinya... Ia mengatakannya setelah memperkosaku. Dia jahat ya, sudah tahu Hinata memiliki perasaan padanya, tapi dia seolah-olah menarik ulur perasaan Hinata... Aku tidak bisa membiarkannya bersikap seperti itu, Ino! Hinata pasti sangat terluka karenanya! Itu sebabnya, aku membuat kesepakatan dengan Sasuke dan Sasuke menyetujuinya dengan imbalan, ya.. seperti itulah..."
"AKU TIDAK MENGERTIMU, SAKURA... KEGILAAN KALIAN... KALIAN... AH, KEPALAKU MENJADI SANGAT PUSING... Kau tahu Sakura, kaulah orang yang paling jahat di sini!"
"Aku tahu Ino... Hinata datang padaku, ia menangis, ia ingin mendapatkan balasan cinta dari Sasuke. Aku sudah berjanji padanya ingin membantunya... Salahkah aku jika aku memikirkan janjiku pada Hinata? Salahkah jika aku ingin Hinata bahagia?"
"Dan kau membiarkan rasa tololmu itu sampai saat ini? Sampai kau hamil?"
"Aku tidak menyangka akan seperti ini... Hiksss..." Ah, Sakura rajin menangis. Mungkin sekarang sudah menjadi hobinya.
Ino duduk mendekat di ranjang Sakura. Ia memeluk Sakura yang sangat rapuh itu. Berulang kali ia mengucapkan maaf pada Sakura karena sudah marah-marah pada Sakura... "Kau lebih memilih Hinata, jadi... apa kau akan mengugurkan kandunganmu? Jika iya, maka aku akan membunuhmu!"
"Tentu saja TIDAK!"
"Lalu, apa kau akan memberitahukan pada Sasuke tentang kehamilanmu itu?"
"A-aku belum memikirkannya..."
"Kau HARUS MEMIKIRKANNYA! SEGERA!"
"Sebelum aku memutuskannya, kumohon, jangan beritahu siapapun! Terutama pada Sasuke!"
Ino menghela nafas. Wajah Sakura yang menangis saat ini membuatnya tidak tega. Sakura pasti sangat berfikir keras... "Naruto dan Gaara sudah tahu tentang kau dan Sasuke. Kami bersama waktu itu."
Sakura tidak bisa berkata lagi. Gaara tahu? Entah kenapa ia merasa sakit juga karenanya. Ia tahu bagaimana perasaan Gaara padanya. Setelah menolak Gaara, tapi ia justru semakin melukainya dengan berbuat keji seperti ini. Apa yang Gaara pikirkan saat ini tentangnya? Apakah Gaara akan membencinya?.. Mengenai Naruto, Sakura pasti akan kena ceramah tiada henti nanti.
"Nah Sakura..."
"Ya?"
"Kau.. bagaimana perasaanmu pada Sasuke saat ini? Mana mungkin kan kau tidak memiliki rasa apa-apa padanya setelah semua ini, kan?"
Apa kali ini sudah waktunya ia berkata jujur? Ino memang ratu gossip di sekolah, tapi dia adalah sahabat yang baik. Ia bisa percaya padanya... "Aku.."
"Sudah kuduga..."
"ino..."
"Kau mencintainya lebih dari yang kau tahu, Sakura... Kau telat menyadarinya!"
"Hm.."
"Kau... memang sangat bodoh!"
"Ya, dan sangat tolol..."
Ino tahu... merangkai semua kejadian dan apa yang dialami Sakura hanya kata itu yang bisa disimpulkan. Bodoh dan tolol! Sakura terjebak di anataranya...
.
.
.
To be continue...
.
.
.
5.028 words... cerita dan corat coret... rada ngebut karena harus mengupdate Sakura's Love Story dan Young, Wild, and Sexy juga... Kepentok meriang jadi semakin lama... gomen ne...
Sampai nanti... semoga umur sampai di waktu nanti...
Bye .. bye...
.
.
