Chapter 13

.

.

.

Aku kalo bikin cerita mah mudah ketebak semua kok... hahahha... Twist gagal always on... XD

Thanks sudah mengikuti... setidaknya aku sudah berusaha... done... selesai jam 0.18... efek kagak bisa tidur... Gak tahu kenapa ya, aku sering kebangun lalu nangis, terus ngalami kekhawatiran luar biasa... Rasanya tidak enak banget...

.

.

Setelah setahun berlalu, aku harus segera menyelsaikan cerita ini... berat hutang cerita mah... Kesahatan menurun terus, mumpung masih bisa, dikebut saja dah...

.

.

Dozo minna-san...

/

/

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD

sok alim jarene…

rapopo…

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

Memiliki sahabat yang bisa dipercaya adalah hal yang luar biasa. Menceritakan segala kesuh kesah, beban yang terasa begitu beratnya akan berkurang. Akan lebih beruntung jika sang sahabat berkenan membantu dan memberikan solusi-solusi. Ada banyak manusia yang bisa dijadikan teman, tapi hanya beberapa yang bisa menjadi sahabat sejati. Tidak perlu banyak, satupun jika dapat mengerti diri, itu sudah lebih dari cukup. Mereka akan menarik dan mengeluarkan diri dari kegelisahan. Menerangi dalam setiap kegelapan. Menuntun saat tersesat. Menjadi musuh saat diri jauh dari kebaikan. Yang lebih sederhana, tertawa bersama dan setia saat terpuruk. Memberikan bahunya saat diri lelah...

Sakura harus bersyukur memiliki Naruto dan Ino. Mereka berdua sangat mengerti dirinya. Mungkin saat ini ia juga harus memasukkan nama Gaara di memori otaknya. Laki-laki miskin alis ini adalah sosok yang luar biasa hingga Sakura sendiri tidak bisa membaca bagaimana Gaara berfikir. Sakura ingin bertanya, sebenarnya sebesar apa hati yang dimiliki Gaara hingga ia masih mau menganggapnya sebagai teman? Setelah semua yang ia lakukan, rasanya ia sudah tak pantas lagi mendapatkan kebahagian seperti ini. Memiliki sahabat-sahabat yang begitu peduli akan dirinya.

Jika ia bisa memutar balik waktu, sungguh, ia pasti tidak akan bertindak tolol seperti ini... Jika andai saja ia memang tak bisa menghindari pelecehan dari Sasuke, maka setidaknya ia tak melanjutkannya dengan membuat permainan konyol seperti itu. Ah, ini benar-benar sangat buruk. Sakura tak menyangkan jika saat ini semua terasa semakin rumit.

Ia tak menyangka jika dirinya akan jatuh cinta pada Sasuke... Sosok yang tak seharusnya ia cintai dalam hal romantis. Sosok yang harusnya ia cintai sebatas keluarga saja...

Jika sudah seperti ini, apa yang sebaiknya ia lakukan?

Otaknya sungguh bual, sebual ia menghafal rumus matematika. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri...

Seperti semua yang sudah Naruto ceramahkan. Sungguh, ini sudah hampir dua jam dan Naruto belum juga usai menceramahi Sakura. Sakura hanya menangis dipeluk Ino. Sementara Gaara, dia duduk di lantai bersandar pada dinding pembatas kamar Sakura dan ruang tamu.

"Aku benar-benar akan menghajar Sasuke!" Marah Naruto. Ia bahkan sudah berkacak pinggang sedari tadi.

"Jangan!" Sakura menolak keras. Apaan coba, yang salah adalah dirinya.

"Aku mengerti kau itu salah, Sakura. Tapi aku juga tak bisa membenarkan apa yang sudah dilakukan Sasuke! Apa dia fikir menyetubuhi adiknya sendiri itu hal yang benar? Wajar? JANGAN BERCANDA! Meski kau tak memiliki hubungan darah dengannya, setidaknya fikirkan apa status kalian! Masih murid SMA!"

"Jangan menyakitinya, Naruto! Apapun yang terjadi, kumohon jangan melakukan apa-apa padanya!"

"Haaahhhh..." Naruto menhela nafas. Ia selalu kesulitan menolak permintaan Sakura.. "Setelah ini, kuharap kau sudah memikirkan rencana selanjutnya mengenai hidupmu."

Sakura menunduk... "Gomen, aku tak memikirkan jika resiko seperti ini akan kutanggung."

"BAKA!" Ino menyela. "Perutmu akan membesar dalam waktu tiga bulan kedepan, Sakura! Kau pasti tahu itu..."

Sakura mengangguk... Ia tahu, menurut hitungan, kehamilannya sudah menginjak satu bulan. Ini sudah akhir januari, dan bulan april akhir perutnya akan membesar. Janin pasti sudah memiliki tubuh sempurna. Dan jika ia tak berbuat sesuatu, maka kehamilannya akan terbongkar. Jika sampai terbongkar maka banyak hal yang akan terjadi.

Pertama, kekecewaan keluarga Uchiha adalah hal yang paling menakutkan. Tak pernah terbesit jika ia akan menyakiti keluarga yang sudah tulus merawatnya.

Kedua, janjinya pada Hinata akan berubah jadi penghianatan. Ia akan dibenci oleh Hinata. Ya, ia akui, ia pantas mendapatkannya.

Ketiga, Sakura yang terkenal baik akan mendapatkan masa sulit dan tekanan sosial dari lingkungan sekitarnya. Ia pasti akan kehilangan kepercayaan dari orang-orang sekitar. Jika itu terjadi, itu benar-benar akan menjadi mimpi buruknya.

Lalu, apa yang sebaiknya ia lakukan? Sejujur-jujurnya, ia benar-benar tak siap menghadapi semua resiko itu.

"Kau memikikan sesuatu, Sakura?" Tanya Naruto.

"Aku tidak ingin membuat keluarga Uchiha malu dan kecewa padaku, aku tidak ingin menghianati Hinata, dan aku juga... meski ini egois, tapi sungguh, aku ingin di akhir sekolah SMA kita, aku ingin pergi dengan kenangan yang baik di mata teman-temanku.. Aku tidak boleh meninggalkan noda yang membuat Sasuke kesulitan. Jadi, aku memohon dengan sepenuh hatiku, apa yang terjadi padaku, jangan diberitahu pada siapapun!"

"Kau tidak berniat memberitahu hal sebesar ini pada Sasuke? Dia ayah dari janin itu, Sakura!" Kata Naruto. Sakura menggeleng.

"Itu artinya, kau berniat pergi setelah lulusan?" Gaara akhirnya mengeluarkan suara.

Ino dan Naruto menoleh pada Gaara, lalu semua mengalihkan pandangan pada Sakura. Sakura akan pergi setelah lulus demi meminimalisir resiko yang harus ditanggungnya? Bisa diartikan jika Sakura ingin lari?

"Hm, hanya itu jalan terbaiknya. Aku akan pergi setelah ujian sekolah nanti. Aku akan langsung ke Prancis. Sekolah akan memberikan kemudahan pengurusan ijazahku karena alasan pendidikkan. Ujian kelulusan sebentar lagi, aku akan berusaha sekuat tenanga agar bisa mendapatkan nilai yang terbaik." Sakura terlihat mantap.

"Melarikan diri tidak menyelesaikan masalah, Sakura..." Kata Naruto.

"Tapi, kadang, melarikan diri juga diperlukan untuk kebaikkan semua orang..."

"Semua orang akan merasa baik, tapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah itu baik untukmu?" tanya Gaara.

"Aku harus menerima hukumanku atas semua yang sudah aku lakukan, Gaara-kun... Tidak apa-apa, aku pasti akan melewati masa-masa sulit nanti..."

"Kau bodoh Sakura, padahal aku yakin jika keluarga Uchiha pasti akan memaafkanmu. Mereka itu sangat baik..." Kata Ino.

"Semua akan berbeda setelah itu... Aku tidak ingin membuat semua merasa sulit akan kehamilanku..." Sakura lalu tersenyum.

Untuk saat ini. Ino, Naruto, dan Gaara belum memikirkan hal lain selain ide dari Sakura. Sakura sungguh menghormati keluarga Uchiha. Mereka tahu itu. Mungkin, saat ini, menghormati keinginan Sakura adalah hal terbaik. Tapi, sebagai sahabat, mereka juga memikirkan bagaimana nasib Sakura setelah ini. Sakura akan pergi setelah ujian kelulusan, itu berarti usia kandungannya menginjak tiga bulan lebih. Sakura tidak akan mengikuti prom night pesta kelulusan! Jika menunggu sampai prom night di bulan april, semua pasti akan tahu jika Sakura mengandung.

Apakah ide Sakura adalah hal yang paling tepat?

Bagaimana nasib Sakura setelah ia pergi?

Bagaimana kehidupan Sakura di Prancis nanti?

Bisakah Sakura melaluinya dengan baik?

Banyak pertanyaan yang sangat sulit diterka jawabannya. Sungguh rumit dan jauh dari kata melegakan. Yang ada hanya kekhawatiran tak berujung. Karena melarikan diri justru akan membawa masalah yang akan semakin panjang.

Pertanyaannya, mau sampai kapan Sakura sanggup berlari?

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Dua bulan kemudian...

"jangan makan mulu, Sakura! Kau salah menggunakan formula!" Sasuke memeriksa jawaban matematika milik Sakura.

Mereka duduk dengan saling bersandar. Sakura bersandar pada punggung Sasuke, dan Sasuke bersandar pada punggung Sakura. Mereka rupanya sedang belajar untuk ujian matematika esok hari.

Sakura masih sibuk memakan cemilannya. Tidak main-main, cemilan Sakura itu bermacam-macam. Ada keripik kentang, biskuit, ayam goreng, yakiniku, belum lagi buah-buahan. Hebatnya, di samping Sakura sudah ada dua bungkus cup kosong ramen.

"Kau tidak mendengarkanku? Hoe Sakura, sepertinya kau tak masalah jika memiliki tubuh gendut?"

Sakura menghentikan makan kripiknya... Gendut? Dulu ia memang sangat takut dengan kata gendut, tapi saat ini, Ino bilang, beberapa orang hamil akan banyak makan. Lagi pula, janinnya juga memerlukan banyak nutrisi kan? Ya, bukan dari cemilan seperti itu juga sih.. Seharusnya makanan yang lebih bermanfaat! Nanti, ia pasti akan memakannya. Untuk sekarang, entah karena efek kehamilannya atau apa, rasanya ia ingin makan terus-terusan.

"Soal-soal ujian akan membuatku kembali kurus!" Jawab Sakura akhirnya.

"Aku tak masalah kau mau makan banyak, tapi bukan junkfood seperti itu!"

"Kau yang bawa, baka-Sasuke!"

Perempatan muncul... Sudah lama mereka tak berdebat. Jadi rindu masa-masa itu. Masa dimana mereka belum terjebak dalam hal yang rumit seperti saat ini... "Kau berbicara dengan orang yang salah, Sakura! Yang bodoh itu kau! Dari lima soal matematika, kau hanya benar dua nomor! Ini soal sangat mudah, kenapa kau tak bisa mengerjakannya, hah? Berapa kali aku harus mengajarimu sampai bisa, sakura?"

Dikatai bodoh itu menyakitkan meski itu adalah fakta... "Jika tak mau mengajariku, bilang! Sana pulang saja!"

Kenapa lagi... "Hah? Apa maksudmu itu?"

"Aku memang bodoh, jangan samakan otakku dengan otakmu! Jika kau lelah, kau boleh berhenti mengajariku. Kau pikir, aku tak bisa belajar sendiri?"

"Hei, kau kenapa sih? Seperti itu saja sewot."

Jika Sasuke tahu, mungkin akan berbeda. Sasuke, orang hamil muda itu mudah emosi. Emosi mudah berganti.

Loh, kini malah Sakura menangis. Sungguh, Sasuke semakin tidak tahu apa yang terjadi pada mood Sakura yang membingungkan ini.

"Jangan memarahiku!" Kata Sakura.

Sasuke menghela nafas... "Maaf.. Ayo kita lanjutkan. Pelan-pelan saja..."

Sakura langsung tersenyum dan mengusap air matanya dengan cepat... Sasuke semakin bingung. Moodnya berubah lagi... Wanita sulit dimengerti...

.

.

.

LIKE A FOOL

.

.

.

Ujian kelulusan sekolah sudah usai. Semua mata pelajaran sudah diujikkan. Dibilang susah ya susah, mudah ya mudah. Tergantung bagaimana kemampuan otak para siswa masing-masing. Yang jelas, di ujian kelulusan kali ini, semua siswa menunjukkan keseriusannya dalam mengerjakan soal ujian. Seperti tahu kapan mereka harus serius. Percayalah, mereka semua memikirkan masa depan yang terbaik. Tentu saja, pergurun tinggi adalah tujuan mereka setelah ini.

"Bagaimana? Tidakkah kau berfikir jika porsi ramen ini semakin sedikit, Luffy-kun?" Tanya Sakura. Baru saat ini ia bisa menepati janjinya untuk mengajak Luffy makan ramen bersama. Ada Yuuichirou juga..

"He? Benarkah?" Luffy tak begitu peduli, ia hanya akan memakan makanan yang ada di depannya tanpa pikir panjang. Ia sudah menghabiskan 2 mangkok ramen.

"Lihatlah, dua hari yang lalu, aku membeli ramen ini. Kuahnya sampai pada garis ini!" Sakura menunjukkan garis hias pada mangkok ramennya.

"Sakura... Tidak biasanya kau memikirkan hal kecil seperti ini?" Kata Yuuichirou..

"Yuu-kun, ini masalah kepercayaan pelanggan yang pada akhirnya akan menentukan loyalitas dari pelanggan juga!"

"Kau terlalu ribet, Sakura... Tinggal makan saja, jika kau tidak mau, buat aku saja!" cengir Luffy.

Dan mereka melanjutkan acara makan ramen di jam kosong usai ujian kelulusan usai...

.

Usai makan ramen, Sakura berjalan di sekitar sekolah. Ia mengajak Yuuichirou. Luffy tidak bisa ikut karena teman sekelasnya menemuinya, sebut saja Zoro dan Sanji... Ia ingin sekali mengelilingi sekolah sebelum ia pergi. Beruntung Yuuichirou bersedia menemaninya. Sungguh, Ia pasti akan merindukkan sekolahnya. Suasananya yang nyaman, teman-temannya, guru-gurunya... Semua adalah kenangan yang tak terlupakan. Taman sekolah penuh bunga selalu nampak indah. Ia lalu mengambil ponselnya dan memotret banyak objek. Gedung, tanaman, taman, suasana sekolah, siswa-siswa, ia juga mengajak guru-guru yang ia kenal untuk berfoto bersama.

Taman belakang sekolah...

"Kau mendapatkan foto yang bagus?" tanya Yuuichirou.

Sakura masih fokus melihat-lihat hasil fotonya... "tentu saja! BTW, arigatou na, Yuu-kun... Kau melewatkan kencanmu dengan Shinoa-chan demi menemaniku jalan-jalan di sekitar sekolah."

"Tidak usah kau fikirkan, Shinoa sedang sibuk dengan sahabatnya yang mau lanjut kuliah ke New York, Mitsuba-chan."

"Hm, begitu..."

"Sepertinya, tujuanmu sudah mantap, Sakura... Prancis ka? Mimpimu tinggi juga..." Sakura tersenyum. Mimpinya memang sangat tinggi, ia saja sering tak yakin akan mimpinya itu dan berulang kali ingin menyerah. Apa lagi saat ini, mau menggapai cita-cita saja halangannya semakin sulit... "Kau yakin, hanya itu saja yang ingin kau lakukan saat ini?"

Sakura menatap yuuichirou... "Maksudmu?"

"Sakura, kau sudah banyak membantuku. Kita berteman sudah lama, jadi... biarkan aku gantian membantumu saat ini..."

"Tidak usah memikirkannya, Yuu-kun... Kau membayarku, semua sudah impas... Kau teman yang sangat baik, kau memberiku roti, sarapan pagi. Bahkan kau membagi manisan yang dibuatkan oleh ibumu. Kau membantuku memasang bolam lampu yang mati.. Astaga, kau itu tetangga yang baik ya..."

"Bukan itu... Gomen, Sakura... bukannya aku sok tahu atau bagaimana... Sungguh, waktu itu aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian... Aku ingin memberikanmu sup karena kudengar kau sakit, tapi aku malah mendengar hal yang tak seharusnya aku dengar... Maaf, Sakura.. Maafkan aku..." Yuuichirou menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah. Ia tak sengaja mendengar pembicaraan penting Sakura dengan Ino, Naruto, dan Gaara. Ia ingin diam saja dan bersikap seolah tidak tahu, tapi ia merasa tidak enak pada Sakura. Masalah Sakura terlalu besar.

... "Jaa..." Sakura menyunggingkan senyumannya... "Jika kau ingin membantuku, maka jangan beritahu siapapun tentang apa yang terjadi padaku, ok?"

"Aku berjanji tidak akan bilang pada siapapun..."

"Thanks..."

"Tapi Sakura... Apa tidak apa-apa kau seperti ini? Kali ini saja, cobalah pikirkan tentang perasaanmu itu. Sasuke itu mencintaimu, Sakura!"

Sasuke mencintainya? Tentu saja ia sudah tahu, bukankah mereka berdua adalah saudara... "Seorang kakak mencintainya adiknya itu wajar, Yuu-kun... Aku sudah tahu..."

"Aku tak melihat tatapan seperti itu darinya, Sakura. Sasuke memandangmu sebagai seorang wanita! Aku tahu itu... Kau mengaku dokter cinta, kau cepat menyadari perasaan orang lain, tapi kenapa kau buta akan Sasuke? Akan dirimu sendiri..."

Sudah bukan waktunya ia mengelak lagi. Yuuichirou sudah tahu semuanya. Ia juga sangat percaya pada Yuuichirou, jadi bukan hal yang berat jika ia mulai menceritakan segala alasannya pada Yuuichirou. Termasuk janjinya pada Hinata yang membuatnya kesulitan mengambil langkah untuk egois.

"Kalian hanya kucing-kucingan, padahal saling mencintai. Kalian benar-benar sangat bodoh!... Aku tahu kau merasa bersalah pada Hinata, tapi Sakura... Kau tahu, jatuh cinta bukan kesalahan... Cinta tak mengenal kapan akan datang, pada siapa ia akan hinggap..."

Yuu no baka bisa romantis juga. Sakura tak menyangka. Tapi benar juga... "Cinta memang bukan kesalahan, hanya saja waktunya tidak tepat dan aku sedang tidak beruntung..." Sakura lalu tersenyum.

"Sakura..." Yuuichirou menarik Sakura dan menutup kedua mata Sakura.

"Yuu-kun, apa yang kau lakukan, hah?" Tanya Sakura cukup keras. Yuu langsung menutup mulut Sakura. Ia lalu menarik tubuh Sakura dan menyembunyikan diri di balik pohon.

"Kau tak akan menyukai ini, Sakura." Bisik Yuuichirou.

"Ada apa, Yuu-kun? Kenapa aku tak boleh melihatnya?" Sakura berusaha melepaskan tangan Yuuichirou dari matanya.

"Ada Sasuke dan Hinata..."

"biarkan aku melihatnya!"

"Tidak!"

"Kumohon..."

"Tidak, Sakura!"

"Aku akan baik-baik saja..."

Yuuichiroupun akhirnya mengalah. Ia membuka tangannya dan membiarkan Sakura melihat. Benar, ada Sasuke dan Hinata. Sakura mengintip samar-samar dari balik pohon palm yang letaknya agak jauh dari tempat Sasuke dan Hinata. Di sana, mereka berdua sedang berdiri bersama... Hinata menatap pada Sasuke. Hinata pasti memberanikan dirinya batin Sakura. Sakura tahu betul jika Hinata itu super pemalu. Kemajuan luar biasa Hinata bisa seperti itu. Hinata sudah berjuang sangat keras selama ini...

.

.

Sakura memasang telinganya baik-baik...

"Sasuke-kun... a-aku menyukaimu! Ah, maksudku.. AKU MENCINTAIMU... zutto, mae kara sukideshita!" kata Hinata.

Hinata menyatakan cinta?

Menyatakan perasaannya pada Sasuke?

Tanpa memberitahunya terlebih dahulu?

Maksudnya, biasanya Hinata bertanya pada dirinya kan? Setidaknya meminta saran. Apa Hinata sudah tak membutuhkannya lagi? Ya memang sih, usahanya akhir-akhir ini sedikit berkurang karena ia fokus memikirkan ujian kelulusan. Namun, apa yang ia dengar saat ini adalah suatu kebenaran? Hinata menyatakan cinta pada Sasuke!

Tidak masalah kan? Bukankah jatuh cinta itu bukan kesalahan? Ia juga meyakininya... Tapi, ketidak beruntungan membuatnya merasa sakit juga... Kenapa ia harus terjebak di anatara mereka? Tidakkah itu sangat kejam?

"Aku juga menyukaimu, Hinata..." Kata Sasuke.

Sasuke membalas perasaan Hinata...

Sasuke membalasnya...

Perasaan Hinata...

Mereka memiliki rasa yang sama ya?

Mereka saling berpelukkan...

Sangat erat... tak menyisakan ruang di tengahnya...

Tak ada ruang baginya...

Mereka akan bersama setelah ini, kan?

Dan jika mereka tahu akan perasaannya, maka semua akan terluka...

Tidak, perasaannya sudah tak penting lagi...

Sungguh, ia memang sedang tak beruntung...

Meski ini adalah tujuan awalnya, tapi menyakitkan juga...

Dadanya terasa sangat sesak... Nafas seolah enggan mendekap... air mata adalah sahabat setianya di kala luka datang... dengan cepat ia menggandeng tangan Yuuichirou dan meninggalkan tempat itu...

Sudah cukup, ia tak kuat lagi seperti ini...

Keputusannya semakin bulat...

"Yuu-kun, aku sungguh-sungguh ingin pergi..." Gumamnya.

.

.

.

Masih di taman belakang sekolah...

.

Sasuke mencoba melepaskan pelukkan dari Hinata. Ia lalu menatap Hinata yang wajahnya sangat memerah... Gadis pemalu ini adalah idaman setiap laki-laki di sekolahnya.

"Aku sangat mencintai, Sasuke-kun. Perasaann i-ini su-sudah sangat lama. A-apa ka-kau ingat wa-waktu ka-kau mengajariku ber-bermain basket? Sa-saat itu juga a-aku mu-mulai me-menyukaimu... Rasanya sangat lega saat aku mengatakannya tadi. A-aku juga sangat le-lega saat ka-kau ju-juga me-nyukaiku... A-aku sa-sangat bahagia, Sa-Sasuke-kun... Se-seperti pe-penantianku yang tak sia-sia..."

Sasuke mendengarkan setiap tutur kata pengakuan dari Hinata. Ia tak tahu jika Hinata sudah menyukainya sejak lama. Dan mungkin sudah sangat dalam. Apa ini bagian dari rencana Sakura? Sepertinya bukan, tentu saja Sakura pasti akan memberitahu. Jika bukan, berarti Hinata mati-matian mengumpulkan keberaniannya. Ia memang sering menarik ulur perasaan Hinata. Seperti hanya mempermainkan gadis baik hati di depannya saat ini. Tapi, ia memiliki alasan tersendiri kenapa ia harus melakukannya.

"Hinata..."

"Ha-hai?"

"Aku memang menyukaimu, tapi bukan dalam hal romantis."

Hinata terperanjat... "Eh? Ma-maksudnya?"

"Kau adalah teman yang baik, dan akan selalu seperti itu."

"..." Hinata terpaku... Air mata membanjiri pipinya.

Barusan terasa melegakan, tapi kini? Semua serasa terbalikkan dengan sangat cepatnya, secepat membalikkan telapak mudahnya. Setelah dijunjung setinggi langit, lalu di hempas ke bumi begitu saja? Kenapa sakit sekali? ... Oh, Hinata sadar, jika ia memang terlalu berharap. Menjadi heroine dalam sebuah kisah yang memang bukan untuknya. Berat... sekian kali ia mencoba, sang Hero terlalu jauh untuk diraih...

"Gomen Hinata. Aku hanya tak ingin melukaimu lebih jauh. Meski aku berusaha membuka hati padamu, tapi tidak bisa." Sasuke ingin jujur lebih awal.

Hinata mengusap air matanya. Ia cukup dewasa untuk kemungkinan ini. Dia juga sudah mempersiapkan jauh-jauh hari... "Kau sangat mencintainya ya...?"

"Hn. Begitulah.." Jujur, Sasuke tak menyangka jika Hinata tahu jika ada sosok lain yang ia cintai.

"Tapi aku lega, setidaknya aku sudah mengatakannya. Wa-walau menyakitkan juga.."

"Maaf.."

Hinata menggeleng... "Itu hakmu, Sasuke-kun.. Ta-tapi, bolehkah kita te-tetap berteman?"

"Hn, tentu saja."

Hinata lalu tersenyum, meski terlihat jelas sangat dipaksakan... "Arigatou, Sasuke-kun... ka-kalau be-begitu, a-aku pergi du-dulu... Jaa..." Suara Hinata terdengar bergetar. Sasuke tahu jika Hinata menhan air matanya. Ia pasti akan menangis lagi.

"Hn.. Jaa..."

Sasuke menatap punggung Hinata yang semakin jauh meninggalkannya. Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan untuk mewakili perasaannya saat ini. Ia memang tak berniat menyakiti Hinata, tapi ia justru melakukannya. Melukai gadis baik hati yang tulus mencintainya. Tapi ia bisa apa? Perasaannya pada Sakura sudah semakin dalam dan saat inipun semakin rumit karena ulahnya. Sakura sangat dekat dengannya, tapi sangat sulit ia raih. Apa Sakura mencintainya? Pertanyaan mudah tapi tak berani ia tanyakan pada Sakura. Setelah semua yang sudah ia lakukan pada Sakura, apa Sakura akan menyadarinya? Apa tidak apa-apa jika ia mencintai Sakura? Apa perasaannya akan membebani Sakura?

Mungkin... Sakura sudah membencinya...

Sasuke sadar, ia sudah berbuat bejat pada Sakura...

Sakura selalu ketakutan saat berada di dekatnya, ya walau akhir-akhir ini tak begitu terlihat... Tapi, Sakura selalu mengalihkan pandangannya saat ia mencoba menatap mata emerald itu... dan itu menyakitkan...

.

.

.

Hinata berlari meninggalkan taman belakang sekolah. Berlari sambil berulang kali menghapus air matanya. Ia memang sudah siap dengan kemungkinan seperti ini, tapi ia hanya tak menyangka jika sakitnya akan sedalam ini. Sakit, sampai menusuk jantung.

Saat ia sedang berlari, tak sengaja ia menabrak orang. Orang itu adalah Naruto..

Kenapa Naruto selalu ada saat seperti ini?

"Hi-Hinata? Kau baik—baik saja?" Naruto memegang kedua bahu Hinata. Menatap khawatir teman sekelasnya itu. Terlihat sangat buruk dengan air mata.

"Naruto-kun..." Tanpa bikir panang Hinata langsung memeluk Naruto. Menyembunyikan wajah menangisnya di dada bidang Naruto. Naruto hanya pasrah menerimanya. Ia tak tega melihat Hinata seperti itu. Iapun mulai merangkai kisah tentang apa yang terjadi pada Hinata.

Ah, itu pasti karena Sasuke...

Naruto menepuk-nepuk pelan punggung Hinata. Mencoba memberi kekuatan jika semua akan membaik.

"Hinata, mau makan ramen bersamaku? Ramen pedas bisa mengurangi rasa sakit loh..." Tawar Naruto. Hinata pernah mendengar kata itu saat ia dan Naruto pertama kali makan bersama sepulang les.

Hinata hanya mengangguk. Ia lalu menerima sapu tangan dari Naruto. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Naruto Laki-laki duren ini seperti tahu akan apa yang ia rasakan... Naruto memang laki-laki yang baik...

"Ma-maaf, tiba-tiba me-melukmu..." Pipi Hinata memerah. Ya ampun, kenapa ia bisa seperti itu? Ia hanya sedang membutuhkan sandaran... dan Naruto sepertinya sangat tepat... Pelukkan dari Naruto terasa sangat nyaman. Ia merasa lebih baik setelah memeluk Naruto... Eh, bukankah saat ini waktu yang tepat untuk ia mentraktir ramen pada Naruto?.Rasanya ia pernah berjanji sebelumnya...

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Haha, tidak apa-apa... Ayo ke kantin!"

"Hai.."

.

.

.

Like a Fool...

.

.

.

Time skip...

"Sasuke menolak Hinata!" Kata Naruto.

"HEE? Tidak mungkin, mereka akhirnya bersama!" Kata Sakura.

"Aku mendengarnya langsung dari Hinata. Waktu itu dia terlihat sangat buruk, aku tidak tahu kenapa ia percaya padaku dan menceritakan semuanya. Ya, meski sejujurnya aku bisa menebak saat melihatnya menangis di sekolah tempo hari..."

Sakura yakin, saat itu ia melihat dan mendengarnya sangat jelas. Sasuke membalas perasaan Hinata! Apa ia salah? "Lalu, apa Hinata sekarang baik-baik saja?"

"Kau tahu sendiri, setelah hari itu, dia tidak berangkat sekolah... Meski tak masalah juga karena kita hanya mendapatkan kelas kosong."

"Dia juga tak mengirim pesan kepadaku akhir-akhir ini... Kuharap dia baik-baik saja.."

"Dia akan membaik! Meski terlihat lemah, tapi hatinya sangat kuat. Hinata pasti sudah memperkirakan jika hal seperti ini bisa terjadi kepadanya. Dia pasti sudah mempertimbangkan resikonya. Tidak seperti kau!"

Sakura nyengir. Jelas beda, Hinata itu pintar, sedangkan dirinya? Lupakan, fakta miris dari penghuni deretan lima terbawah di kelas... "Tapi naruto, aku menghawatirkannya! Meski ia sudah mempertimbangkan resikoya, kau tahu seberapa dalam dia mencintai Sasuke? SANGAT DALAM! Mata Hinata mengatakan segalanya! Dia memendam lama perasaannya, melakukan banyak cara agar mendapatkan ruang di hati Sasuke, dan sekarang tak terbalas? Itu sakit sekali, Naruto... Tak banyak orang yang memahami perasaannya. Dia pasti membutuhkan sosok sandaran..."

Jika mengingat soal sandaran, pipi Naruto terasa memanas. Setelah makan Ramen dengan Hinata, tidak tahu bagaimana ceritanya, mereka sampai di taman kota yang sepi, lalu Hinata menangis tersedu-sedu di bahunya. Saat itu, rasanya seperti Hinata memperlihatkan sosok terapuhnya selama ini...

"Naruto...?"

"Eh?"

"Malah melamun..."

"Gomen Sakura, aku sedang memikirkan sesuatu."

"Apa?"

"Ceritakan apa yang terjadi padamu pada Sasuke dan buat dia bertanggung jawab!"

"TIDAK!"

"Hinata sudah mundur, Sakura! Ini adalah kesempatanmu... Manfaatkan jalan yang diberi oleh Tuhan!"

"Tidak! Tidak akan, aku menghargai perasaan Hinata. Lagipula, aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Sasuke terhadapku. Ah, aku takut mengetahuinya..."

"Jangan menjadi ibu kejam dengan tidak memberitahu anaknya pada ayahnya!"

Sakura menunduk. Kenapa harus seperti ini? Apa ini adalah jawaban dari Tuhan atas segala doanya? Namun, bagaimana dengan Hinata? Teman baiknya itu pasti akan sangat kecewa terhadapnya. Bagaimana bisa ia bermain di belakang Hinata sementara Hinata meminta bantuan terhadanya? Hinata pasti akan membencinya.

Naruto emmegang ke dua bahu Sakura... "Manfaatkan kesempatan ini! Jika kau ingin bahagia, maka kau harus siap mengorbankan sesuatu! Mungkin ini sangat kejam, mengorbankan Hinata demi kebahagianmu, tapi, aku percaya jika Hinata juga akan menemukan kebahagiaannya sendiri.."

"..."

"Hinata tidak akan bahagia jika Sasuke menerimanya tanpa cinta. Hinata sudah berusaha keras mendapatkan cinta Sasuke, tapi tidak berhasil. Percayalah pada takdir Tuhan! Apa yang terjadi pada kalian saat ini adalah bagian dari rencana-Nya... Meski sulit dan rumit, tapi yakinlah, pasti ada jalan... Hinata akan memaafkanmu, jadi... katakan yang sesungguhnya pada Sasuke!"

"Naruto..."

"Jika dia tidak memiliki rasa terhadapmu, setidaknya dia tahu jika kau mengandung anaknya! Jika dia juga tak mau bertanggung jawab, aku akan menikahimu meski aku yakin itu tidak akan pernah terjadi. Dia pasti akan membunuhku!"

"Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalahku. Dosaku ya dosaku..."

"Pulanglah ke rumah Sasuke dan katakan semuanya... Jika perlu, kau menginaplah di sana... Aku akan mengantarkanmu.."

"Ba-baiklah... Ne, Naruto-kun..."

"Hm?"

"Terima kasih banyak untuk semuanya..."

"Sama-sama, kita adalah sahabat, Sakura..."

.

.

.

"Setelah semua yang telah kita lakukan selama ini, kau malah seperti itu, Sasuke-kun... Rasanya pengorbananku sia-sia... Aku bahkan merasa jijik pada diriku sendiri..."

.

.

.

Like a fool

.

.

.

Sesuai yang dikatakan oleh Naruto, sepulang sekolah ia mengunjungi kediaman rumah Uchiha. Ia sudah siap menanggung resiko jika Hinata akan membenci dirinya karena hal ini.

Jika ia berniat ke Perancis untuk sekolah dan melahirkan—membesarkan bayinya sendirian, lama-lama, Sasuke akan tahu juga, kan?... Kemungkinan itu pasti ada. Ya, pasti akan terjadi juga. Mungkin juga ibunya, Mikoto, akan mengetahuinya dengan sangat cepat. Hanya pindah ke apartemen saja, ibunya sering berkunjung. Jadi ingat, ia hampir ketahuan waktu sedang berciuman dengan Sasuke.

Jadi, keputusannya memberitahu semuanya pada Sasuke dan keluarga Uchiha sudah bulat... Jika tidak sekarang, kapan lagi? Ia tak mungkin menunggu sampai perutnya membesar, kan?

Sungguh, ini pasti akan membuat pukulan besar... ia akan menyakiti banyak orang...

Dosanya memang sangat besar. Egonya memang kejam sehingga ia harus mengorbankan perasaan orang lain demi kebahagiaannya. Sejujurnya, meski seandainya nanti ia bisa bersama Sasuke, orang yang ia cintai, tapi sungguh juga, ia pasti akan merasa sangat bersalah pada orang-orang yang selama ini sangat mempercayainya.

Orang tuanya, Fugaku dan Mikoto...

Kakaknya, Itachi...

Hinata...

Apakah mereka bisa menerima kenyataannya yang menyakitkan ini?

Apa mereka bisa menerima kehamilannya?

Jika tidak, kemana setelah ini...?

Berfikirlah... Sakura akan mencoba mencari solusi untuk kemungkinan terburuk...

.

.

"Padahal ibu baru saja ingin ke tempatmu untuk meminta pendapatmu, sayang..." Kata Ibu Mikoto.

Mereka sedang ada di ruang tamu. Sakura, Naruto, dan Ibu Mikoto.

"Pendapatku?" Sakura penuh tanya.

"Bibi, Sasuke dimana?" Tanya Naruto.

"Sasuke belum sampai di rumah, katanya agak telat..." Jawab Mikoto.

"Kaa-san mau bertanya soal apa?" Tanya Sakura. Naruto sibuk ngemil kue tart buatan Mikoto. Sakura pasti bisa melakukannya, itu yang Naruto yakini.

Mikoto duduk mendekat ke Sakura. Mengamati putri angkatnya yang cantik itu... "Begini, rekan bisinis ayahmu berniat menjodohkan putrinya dengan salah satu kakak-kakakmu dan ayahmu sudah menyetujuinya. Rekan bisnis ayahmu itu adalah teman dekat sewaktu sekolah dulu... Karena usia putri mereka seumuran dengan kau, maka ayahmu memutuskan jika yang akan menjalani perjodohan itu adalah Sasuke..."

"Sasuke?" Batin Naruto. Ia bahkan menghentikan makan kue lalau menoleh ke Sakura. Teman masa kecilnya terlihat sangat kaget meski berusaha menyembunyikannya.

"..."

"Putri Hiashi-san katanya satu sekolah denganmu dan Sasuke, namanya... etto... hm... Hyuga Hi.. Hyuga Hina..." Mikoto mencoba mengingat-ingat.

"Hyuga Hinata." Kata Sakura pelan.

"Ya, Hyuga Hinata!" mikoto mengambil beberapa lembar foto yang ada di dalam tasnya. (Mikoto sudah bersiap ingin ke tempat Sakura untuk menunjukkan foto-foto itu)... "Kau mengenal dia, sayang? Dari fotonya terlihat sangat manis, cantik, dan juga anggun. Ah, apa dia rada pemalu? Ya ampun, rambutnya indah sekali... Dulu sewaktu ibu bertemu dengannya, dia masih bayi.. Ibu tak menyangka jika dia akan tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan seperti ini..." Mikoto terlihat sangat bahagia.

Jauh berbeda dengan Sakura...

Mumble...

Blank mind...

Serasa kosong...

"Hinata teman sekelas kami, Bibi..." Kata Naruto. Ia lalu kembali mengamati Sakura. Temannya pasti hampir kehilangan nyawa... Naruto tak menduga jika akan terjadi hal seperti ini. Sungguh... ia bebal dan tak tahu harus bagaimana... Melihat mata Sakura yang berkaca-kaca rasanya miris juga.

"Waah, cocok sekali, kalian akan cepat akrab nantinya... Sepertinya akan mudah..."

"Setahuku, Hyuga Corp itu salah satu perusahaan besar. Jika Hinata menikah dengan Sasuke, secara tidak langsung, akan menggabungkan dua perusahaan besar. Wow, itu akan menjadi perusahaan terbesar di Jepang dan mungkin se Asia timur..." Kata Naruto. Ia hanya mencoba menebak.

"Ya, itu memang kemungkinannya. Bisa di bilang, akan saling menguntungkan... Tapi, tetap, yang paling penting adalah kebahagiaan mereka... Rasanya, ibu ingin yakin jika Hinata adalah gadis yang terbaik untuk Sasuke..."

"Hmm, apa Sasuke sudah tahu, Bibi?"

"Belum. Rencana Ibu sih membuat mereka dekat dulu. Lagi pula mereka masih muda, tidak akan terjadi pernikahan dalam waktu dekat... Nanti kalau sudah tepat waktunya, mereka akan diberitahu... Pasti nanti akan sangat seru.. Astaga, ibu jadi tidak sabar ingin melihat mereka yang malu-malu..."

Mikoto berharap banyak akan perjodohan itu...

Sakura bisa merasakannya...

Haruskah ia kembali dengan keputusan awalnya? Bagaimanapun, kebahagiaan keluarga Uchiha adalah yang terpenting. Ia memang tak boleh egois. Setelah selama ini, ia mendapatkan kebahagiaan dari keluarga Uchiha, jadi sekarangpun meski ia sedang mengandung anak si bungsu Uchiha, maka ia tetap tak boleh merusak kebahagiaan keluarga Uchiha.

Ia ingin segera pergi...

Ia tidak akan mengatakan kebenaran akan dirinya...!

Tidak akan!

Tidak akan pernah!

Sudah cukup, ia tidak akan menambah dosanya lagi dengan merusak kebahagiaan keluarga Uchiha menyambut calon menantu idamannya, hyuga Hinata...

Ya... dia lebih mencintai keluarga Uchiha daripada kebahagiannya sendiri...

Sakura memejamkan matanya... meresapi setiap kisah yang sudah ia lalui... meski pahit dan penuh luka akhir-akhir ini, tapi kenangan indah terlalu banyak ia lalui bersama keluarga Uchiha... Ia, tak mau menghianati keluarga uchiha...

Hatinya berkecamuk... terlalu lara... Ia menangis... Naruto menyadarinya... Bahkan sang Ibu...

"Loh, sayang... Kau menangis?" tanya Mikoto.

Sakura langsung menghapus air matanya... Ia lalu tersenyum—memaksa tersenyum... "Ie, mataku agak pedih, rasanya ada bulu mata yang masuk... Tapi sudah tak apa-apa, Ibu..."

"Syukurlah... Ibu akan mengambilkan obat mata, matamu terlihat sangat memerah. Tunggulah sebentar..." Miko bangkit dan mencari obat mata.

Sakura melanjutkan tangisannya. Ia tak bisa menahannya lebih lama. Ia menagis cukup keras... "Naruto, ayo pulang! Sudah cukup... Aku ingin pulang ke apartemen..."

"Tapi kedatangan kita untuk membicarakan kehamilanmu!"

"Kau dengarkan, tadi? Kau paham bagaimana aku menghormati keluarga ini, kan? Ayo... aku ingin pulang... Sudah cukup... Aku akan kembali ke keputusan awal..."

Sakura memaksa Naruto pulang. Sebelum itu, Sakura hanya meninggalkan kertas berisi kata-kata pamit pulang karena ada urusan mendadak. Mikoto hanya menghela nafas, anaknya memang sering seperti itu. Jika sedang buru-buru, maka akan menulis surat dan pergi begitu saja.

"Ibu, Hinata itu gadis yang sangat cantik. Ia juga anggun. Banyak teman di sekolah yang ingin menjadikan dia pacar loh. Sasuke pasti beruntung mendapatkan dia. Selain itu, yang paling penting, dia adalah gadis yang baik. Dia tidak akan menolak saat diajak ibu memasak..."

Mikoto membaca pesan Sakura yang ada di kertas sobekkan itu. Ia tersenyum. Benar juga, Sakura itu tidak pandai memasak. Selalu kabur saat ia ingin mengajarinya.

"Anak itu... Hm, apa Sakura gemukkan ya?... Baguslah, dia pasti makan dengan baik karena tidak ingin membuatku khawatir... Mengingat dia sakit dua bulan yang lalu, rupanya ia berusaha keras agar tak mendapatkan ceramah dariku dan ayahnya... Kau benar-benar akan meninggalkanku ya, sayang? Prancis itu cukup jauh juga, tapi ibu akan selalu mengunjungimu..."

.

.

.

To be continue...

.

.

.

Gomen for typo...

JIKA ADA YG KOMPLAIN KARENA KEBODOHAN SAKURA, BAGUSLAH, BERARTI AKU TAK MELENCENG DARI JUDUL.. HAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHHAHA

.

.

Well, thats all i can give... karena sudah mendekati 'end' maka sudah waktunya fokus ke sinetron Sakura's Love Story dan Young Wild and Sexy... Aku menyukai ending yang bahagia.. heheheh

Luffy, Sanji, dan Zoro dari One Piece.

Yuuichirou, Shinoa, dan Mitsuba dari Owari No Seraph

.

.

Bye bye... ^_*