Chapter 14

.

.

.

Tak henti-hentinya aku ucapkan banyak terima kasih atas semua pembaca.. yang follow, yang komen, yang ngefavoritin... semuanya.. bahkan pembaca diam sekalipun...

Positif negatif diterima, asal bijak dan membangun...

.

.

Jika merasa jika semua karakter disini terlihat bodoh dan tolol, jadi artinya aku tidak melenceng dari judul kan? FOOL BANGET DEH... ampe bikin kesel... hahahah... lalallallalala..

.

.

Tidak suka, sumangga, skip saja...

.

.

Dozo minna-san...

/

/

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD

sok alim jarene…

rapopo…

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

.

Kamar Sakura, kediaman Uchiha...

Sakura sedang berdiri di depan kaca alamari yang cukup besar. Menyibakkan bajunya ke atas dan mengamati perutnya. Sudah agak membesar meski belum terlalu. Ia lalu menghela nafas, setelah itu ia mengelusnya pelan dan tersenyum karenanya. Di sana, di dalam perutnya, hidup janin Sasuke, orang yang ia cintai. kandungannya sehat, ia sangat senang ketika dokter mengatakan hal seperti itu. Jika mengingat waktu ia pergi ke dokter dengan Gaara, sang dokter mengira jika Gaara adalah suaminya. Ia ingin tertawa saat Gaara sedikit gelagapan waktu ditanyai hal seperti itu. Ia harus mengucapkan banyak terima kasih pada Gaara karena sudah banyak membantunya.

"Apa yang kau lakukan, Sakura?" Sasuke tengah berdiri di depan pintu kamar Sakura.

Sakura yang kaget langsung merapikan bajunya dan menoleh ke arah Sasuke. Sejak kapan Sasuke sudah berdiri di situ?... "Hanya memeriksa perutku. Rasanya tidak nyaman. Sepertinya sebentar lagi periode-ku..." (baca:menstruasi)

"Oh.."

"..."

Semenjak mendengar Sasuke akan dijodohkan dengan Hinata, Sakura sedikit agak menjaga jarak dengan Sasuke. Tidak tahu, meski ia berusaha untuk biasa saja, tapi rasanya ada rasa canggung yang menghampiri ketika mereka saling bertatap muka.

Sasuke duduk di ranjang Sakura... "Tidakkah kau terlalu terburu-buru pergi ke Prancis Sabtu besok?"

Sakura memang harus bicara dengan Sasuke... Ia dan Naruto sudah membuat rencana tentang masa depannya. Yang jelas, ia tidak mau jika keluarga Uchiha tahu tentang kehamilannya, terutama Sasuke... Jika melarikan diri adalah jalan terbaiknya saat ini, maka Sakura akan melakukannya. Mungkin, ia bisa menganggap jika saat ini adalah jalan penebusan dosanya... "Bukankah tadi aku sudah bilang saat family meeting dengan ayah, ibu, dan Itachi-nii?... Aku buta dengan Prancis, aku akan datang lebih awal untuk belajar adaptasi..."

"Bagaimana dengan tempat tinggalmu di sana?"

"Aku sudah membooking hotel untuk dua hari, setelah itu aku akan mencari kost dekat kampus. Di sana juga banyak anak Jepang, jadi aku tak perlu khawatir..."

"Kau tidak akan mengikuti pesta kelulusan dan prom night rupannya..."

"Ya bagaimana lagi, aku tidak bisa menunggu sampai akhir April. Aku sudah membeli tiket pesawat..." Sakura lalu tersenyum dan menunjukkan tiket pesawatnya pada Sasuke. "Lagi pula, awal Mei nanti, kau juga akan ke Inggris kan? Selamat, kau diterima di kampus impianmu, Oxford..."

"Hn."

"Yaah, aku tak menyangka jika Naruto tidak jadi mengikuti ujian masuknya. Ku kira dia akan mengikutimu. Walau terlihat bodoh, tapi dia memiliki keberuntungan luar biasa di ujian. Aku yakin, dia pasti akan masuk... Kudengar, Hinata juga masuk di kampus Oxford ya? Ya ampun, otak kalian memang luar biasa..."

"Hn begitukah?.." Sasuke memang tahu jika Hinata juga ingin masuk Oxford, rupanya Hinata berhasil masuk. Ia turut senang... "Naruto mengikuti ujian masuk Universitas Kyoto."

Kyoto? Kenapa Sakura tidak tahu. Naruto bilang akan masuk Universitas Keio jika tidak diterima di Oxford. Ternyata malah Universitas Kyoto. Jauh juga jika dari Tokyo.. Kota budaya, kah... "Apa dia lolos?"

"Hn."

"..."

"Ne, sakura..."

"Ya?"

"Aku senang kau kembali ke rumah ini meski hanya sebentar.."

Sakura tersenyum menanggapinya. Ia memang akan menghabiskan waktu sebentar di kediaman Uchiha. Ia ingin menikmati dan membuat kenangan indah dengan keluarga angkatnya sebelum ia pergi... ia merasa jika ia tidak akan bisa kembali lagi setelah ini...

.

.

.

Like a fool

.

.

.

Sakura sedang menikmati waktu terakhirnya di sekolah. Setelah selesai meminta ijazahnya, ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Bercanda dan bercerita hal konyol, makan di kantin... Mengunjungi teman-temannya yang ada di kelas beda. Dia juga menyempatkan ke gym hanya untuk sekedar melempar bola basket ke ring, ya walau tak ada satupun yang berhasil. Kesal juga...

"Lihat ini!" Gaara yang datang dari arah belakang Sakura langsung mendrible bola basket menuju ke ring, dengan gerakkan lincah ia melakukan dunk dan bola masuk dengan sempurna...

Sakura langsung tepuk tangan... kenapa cowok rata-rata pandai bermain basket? Apa karena tinggi badan? Rasanya tidak adil... "Sudah pandai main tenis, basketpun diembat. Kau terlalu rakus, Gaara-kun..."

"Hanya kebetulan saja aku bisa."

"Jiah, kau terlalu rendah diri..."

Gaara mendekati Sakura... "Wajahmu sangat pucat.. Kau sudah meminum suplemennya? Iron? Vitamin yang dokter berikan tempo hari?"

Sakura mengangguk... "Sudah, tapi aku rasa aku hanya mudah lelah.."

"Benar, dokter bilang ibu hamil akan mudah lelah dan terkena anemia. Bagaiman dengan six morningmu?"

"Masih tetap muntah, tapi aku baik-baik saja... Aku menghindari makan amis-amis..."

"Jangan terlalu menghindarinya, kau membutuhkan makanan seperti itu!"

"Kau cerewet sekali sih seeperti ibu-ibu saja... Iya aku mengerti Gaara-sama, aku akan kembali memakannya setelah keluar dari rumah Sasuke!"

Gaara tertawa dan mengacak-acak rambut Sakura... "Ibu hamil memang sangat sensitif ya... Apa anakmu nanti seorang perempaun?"

"Hmm, entahlah.. Baru jalan tiga bulan lebih juga... Belum terlalu kelihatan.."

"Jangan memaksakan memakai korset terlalu kencang, kasihan janinnya..."

"Iya, Gaara-kun..."

Setelah puas bermain basket, mereka berdua lanjut berjalan menuju ruang kelas mereka. Sudah ujian kelulusan, pelajaran sekolah juga sudah usai.. Di ruang kelas hanya ada Hinata, Sai, dan Ino. Saat Sakura dan Gaara masuk kelas, Ino menatap Sakura, ia lalu mengisyaratkan untuk melihat ke arah Hinata. Seolah menyuruh Sakura untuk berbicara dengan Hinata... Sakura mengangguk karena hari ini adalah hari terakhirnya di sekolah, hari ini pula kesempatan terakhir bisa berbicara langsung dengan Hinata. Ino, Gaara, dan Sai keluar kelas meninggalkan Hinata dan Sakura.

Hinata terlihat sibuk dengan buku catatannya. Sakura duduk di samping Hinata.

"Hinata-chan..."

Semenjak ia mendengar jika Hinata ditolak Sasuke, tidak tahu kenapa Hinata seolah menjauhinya. Meski penolakkan itu tak pernah diceritakan oleh Hinata maupun Sasuke...

"Ah, Sakura-chan ka.. Ada apa...?"

"Kudengar kau berhasil lolos masuk Oxford, selamat ya... Kau akan bersama Sasuke-kun.."

Hinata langsung murung... Sakura jadi tak enak hati. Ia tahu betul perasaan Hinata saat ini... "Iya, aku senang bisa sekampus dengan Sasuke-kun..." Dingin. Suara Hinata terdengar dingin.

Sakura merasa sesak di dadanya... "maaf Hinata, sampai akhir sekolah, aku tidak bisa menyelesaikan tugasku sebagai dokter cinta... Sungguh, aku benar-benar minta maaf... Tapi aku selalu percaya jika keajaiban untuk kalian bersama itu ada suatu saat nanti..."

"Terima kasih, Sakura-chan... Aku akan menunggunya.."

Mereka saling berpelukkan... "Sebentar lagi, kau akan bersama dengan Sasuke. Sasuke tidak akan bisa kabur dari perjodohan itu. Dia sangat menghormati ayah dan ibunya, jadi dia pasti akan menerimamu, Hinata.. Aku percaya jika kalian selalu bersama, maka benih cinta pasti akan tumbuh di hati Sasuke. Jadi bersabarlah... semua akan membaik saat aku pergi nanti... Kau akan mendapatkan kebahagiaanmu.. Kau akan mendapatkan cintamu, rasa sakitmu akan terbalas... Aku tidak akan menjadi penghalang kalian... Selamat tinggal Hinata, aku berdoa untuk kebahagiaanmu..." Batin Sakura saat memluk Hinata.

.

.

.

Like a fool...

.

.

.

"Nii-san, terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan. Nii-san bahkan membelikanku ice cream coklat jumbo. Sungguh, ini rasanya sangat enak sekali..." Kata Sakura.

Itachi mengelus rambut Sakura. Adik perempuannya ini memang maniak ice cream. Sudah lama ia tak bermain bersama Sakura semenjak kuliah. Jika ia ingin bersama Sakura, pasti sudah diserobot oleh Sasuke duluan. Mereka berdua sering rebutan Sakura, pada akhirnya, Sakura pasti akan memilih bersama Sasuke. Sakura bilang jika tidak memilih Sasuke, maka ia akan kerepotan jika Sasuke ngambeg.

"Kalian berdua akan meninggalkanku, rasanya aku akan kesepian..."

"Carilah pacar, maka Nii-san tidak akan kesepian..." Sakura menjulurkan lidah. Kakaknya itu tidak pernah pacaran, itu yang ia tahu...

"Kau ini, aku akan senang jika aku bisa berkencan dengan adikku yang manis dan manja tiada dua..."

"Hahha, aku tidak mau berkencan dengan orang baik, ramah, dan tampan tidak ketulungan seperti Nii-san..."

"HEE, Kenapa?"

"Aku akan repot nanti, cewek-cewek akan menempel pada Nii-san... Aku pasti tidak akan suka..."

"Oh iya, kau itu ratu bro-con waktu SMP... Cemburuannya akut... Nii-san dekat dengan cewek satu saja, kau sudah kesal... Tapi aku menyukainya. Kau terlihat kawaii saat seperti itu..." Itachi mencoba mengingat-ingat masa SMA-nya dulu. Saat ia sedang pulang sekolah bersama teman wanitanya, Sakura mencak-mencak tidak suka. Apa lagi saat ia menjemput pulang Sakura di SMP, ia jadi incaran teman-teman Sakura dan sudah pasti Sakura ngambeg lalu menyuruhnya tak usah menjemput lagi.

"Cewek itu kelewat sexy, Nii-san... Dasar tante-tante masih SMA.. Aku tidak rela Nii-san bergaul dengan wanita muka make up tebal seperti itu... Huhh..."

"Baiklah, baiklah... Nah, Sakura... untuk hari ini saja, mau berkencan denganku?" Itachi menunjukkan lengannya.

Sakura tersenyum lalu menautkan tangannya ke lengan Itachi... "Aku menyayangimu, Nii-san..." Meski ia tersenyum, tapi luka dalam di hatinya. Ia tidak yakin jika ia akan bisa kembali menemui kakak angkatnya atau tidak... Menatap masa depannya yang semakin suram dan gelap saja..

Ia menatap langit biru yang cerah...

.

.

Apa ini yang dimaksud karma?

.

.

.

Tidak banyak yang tahu jika Sakura akan berangkat ke prancis esok hari. Sakura memang berniat merahasiakannya dari teman-temannya. Ia ingin pergi dengan tenang. Itu lebih baik sebelum pikirannya berubah... Jika ia tidak ada, maka semua akan jauh lebih baik...

Yang tahu akan kepergian Sakura hanya keluarganya, Naruto, Ino, Gaara, dan Yuuichirou...

Ia sudah tidak mau membuat masalah lagi.. Apapun yang terjadi padanya ia anggap sebagai karma dari dosa yang sudah ia buat. Niatnya membantu, malah akhirnya hanya menjadi mala petaka. Sungguh, andai ia tidak tolol dengan semua perminan konyolnya...

Maa, sebisa ia berusaha menyalahkan dirinya, nyatanya semua sudah terjadi. Ia tidak akan bisa memutar waktu kembali dan menghindari kesalahannya. Yang ada hanya masa depan dimana ia harus memperbaiki segala kesalahannya.

Satu pembelajaran penting bagi Sakura. Menyesal pasti di belakang. Ia akan bertanggung jawab atas semua kesalahannya. Pergi sejauh mungkin adalah pilihannya. Jika itu sebagai penebusan dosa, maka ia akan melakukannya. Perasaannya saat ini tidak penting. Ia tidak akan memikirkan kebahagiannya. Dulupun, saat ia membuat perjanjian dengan Sasuke, ia bahkan tak benar-benar serius memikirkan perasaan Sasuke dan Hinata. Yang ia tahu, jika Sasuke dan Hinata bersama, maka akan bahagia.

Nyatanya ia salah, ia memang berlagak seperti seorang penulis skenario, tapi kisah berjalan seperti kehendak Tuhan.. Ini kisah nyata, kisah yang tak bisa ia prediksi bagaimana akhirnya...

/

/

Pagi hari, Sakura sudah sibuk membuat kenangan di sekolah. Ia bermain dengan Gaara, makan bersama Naruto, Ino, dan Sai... Stt, Sai belum tahu jika Sakura akan ke Prancis karena ingin melarikan diri. Maklum saja, agak rawan karena nyatanya, Sai itu cukup dekat dengan Sasuke.. Sementara siang hari ia berkencan dengan Itachi. . . Sore harinya, ia bercengkrama dengan Mikoto dan Fugaku. Ayah dan Ibunya memberi banyak wejangan agar Sakura bisa hidup lancar di luar negeri. Jika harus di tulus ke buku catatannya, maka Sakura yakin akan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Yang jelas, ia paham, jika orang tuanya sangat pedulu padanya. . jika melihat bagaimana kasih sayang yang mereka curahkan padanya, maka apa ia sanggup jika ia harus mengatakan bahwa dirinya sudah membuat malu keluarga Uchiha?

Tentu saja Tidak...!

/

Sudah pukul 11.00 malam, Sakura benar-benar tidak bisa tidur. Ia memikirkan perjalanannya besok. Sabtu esok adalah hari dimana semua masa sulit akan ia lalui. Hari dimana penebusan dosa atas ketololannya dimulai...

Berulang kali ia mengusap perutnya, perutnya memang terlihat membesar meski lebih terlihat jika ia sedang mengalami perut buncit karena jarang berolah raga. Berat badannya naik cukup banyak, itu cukup membantu menutupi kehamilannya. Meski sudah menginjak, tiga bulan lebih atau 4 bulan awal, tapi nyatanya malah ia justru seperti anak yang mengalami kegemukkan mendadak. Kemana tubuh ramping dan bugarnya itu? Astaga, Sakura langsung menggelengkan kepalanya.. Mau gemuk, mau berat badannya bertambah, yang terpenting adalah bayinya sehat.

Sakura menoleh ke pintu kamarnya saat mendengar suara ketukkan. Dengan langkah agak beratnya, ia berjalan dan membuka pintu itu. Dan, di depannya berdiri seorang Uchiha Sasuke. Orang yang paling ingin ia hindari saat ini meski sejujurnya, ia juga ingin menghabiskan waktu terakhirnya dengan Sasuke.

Sasuke masuk dan menutup pintu kamarnya, ia lalu mengunci kamar Sakura.. Sakura memundurkan langkahnya melihat Sasuke yang berjalan mendekatinya. Sasuke maju selangkah, Sakura mundur selangkah. Sampai akhirnya Sakura tidak bisa mundur lagi karena ia sudah mentok ke ranjangnya.

"Sa-Sasuke-kun? A-ada apa?" Suara Sakura bergetar. Rasa takutnya pada Sasuke selalu ada. Apa lagi saat berduaan seperti ini.

Tanpa menjawabnya, Sasuke langsung menarik Sakura ke dalam pelukkannya dan mencium bibir Sakura. Sakura hanya diam saja, ia sudah tidak bisa berbuat banyak karena Sasuke sering menciumnya tiba-tiba.

Ciuman Sasuke berubah menjadi lumatan-lumatan kecil bahkan memaksa masuk dan mengeksploitasi mulut Sakura. Sakura tidak tinggal diam untuk hal yang satu ini, ia lalu menjauhkan diri dari Sasuke. Ia mendorong halus dada Sasuke yang memeluk menghimpitnya.

"Jangan menolakku!"

"Aku tidak mau ada orang rumah yang tahu. Lagi pula, kau sudah..."... Jika ia mengatakan jika Sasuke sudah menolak Hinata, artinya perjanjiannya dengan Sasuke sudah usai. Maka harusnya Sasuke tidak bisa menyentuhnya lagi. Itu yang ia harapkan! Namun, Sasuke dan Hinata kan semakin sulit dekat. Itu akan mempengaruhi perjodohan Sasuke dan Hinata. Lebih baik ia bersikap seolah tidak tahu apa yang sudah terjadi anatara Sasuke dan Hinata. Lagipula, ibunya meminta untuk merahasiakannya dari Sasuke karena ibunya ingin Sasuke dan Hinata menjajakki tahap pendekatan.

"Sudah apa?"

" Ka-kau sudah terlalu le-lelah karena kegiatanmu se-seharian ini. Jadi, le-lebih baik kau istirahat saja!" Sakura kesulitan berbohong di hadapan Sasuke. Sebaiknya ia tidak usah banyak bicara.

"Aku menginginkanmu!"

Sakura membatu.

Selalu saja... ia tidak bisa melakukan perlawanan... Bagaimana ia bisa melakukannya, ia bahkan tak bisa memahami keinginan hatinya saat ini. Ada sisi yang menolak, ada sisi yang menginginkan juga. Ia tidak ingin bermunafik ria...

Rasanya, setan selalu menang...

Apa sampai akhirpun akan berakhir seperti ini?

Kenapa luka begitu mudahnya menyapa?

.

.

.

Like a Fool...

.

.

.

Pukul 3.00 pagi...

"Sasuke-kun... Kau masih terjaga?" Sakura berbaring di sebeolah Sasuke yang memejamkan mata sambil memelukknya.

"Hn. Tidurlah, kau pasti lelah.." Gumam Sasuke. Ia mengeratkan pelukannya. Sakura merasakan hembusan hangat nafas Sasuke di daerah sekitar telinganya.

Sakura menatap plapon kamarnya. Lampu tidur membuat kamarnya remang. Plapon yang putih itu berubah gelap. Ia bahkan tidak bisa melihat pintu kamarnya. Jangkauan lampu tidur memang tak sejauh itu... "Apa aku membuatmu marah hari ini?"

"Kau mengabaikanku." Sasuke tetap tak membuka matanya.

Sudah biasa. Terlalu biasa. Sasuke bisa kesal hanya karena hal sepele yang tidak masuk akal. Meski coba Sakura pahami, namun alasan itu terlalu konyol baginya. Pada akhirnya, ia lebih memilih mengalah dengan alasan konyol itu... "Gomen, karena ini hari terakhir di Jepang, maka aku pikir, aku harus menikmati waktuku. Aku sudah membaginya.."

"Dan kau melupakan bagian waktumu untukku."

"Maaf..." Benar, tapi ia hanya ingin menghindari Sasuke. Rasanya sangat berat.

"Tidak masalah, aku sudah bersamamu saat ini.." Sasuke mengeratkan pelukannya lagi... "Sakura.. soal Hinata aku—"

"Akhhhh..." Pekik Sakura.

Sasuke bangun dari tidurannya. Ia spontan duduk dan memeriksa keadaan Sakura.. "Ada apa? Ada yang sakit?" suaranya terdengar sangat khawatir

Sasuke memang selalu seperti itu jika menyangkut soal Sakura. Sakura bahkan menyunggingkan senyumannya.

"Pe-perutku sa-sakit sekali..." Sakura memegangi perutnya.

Sasuke juga memeriksa perut Sakura. Ia mengelusnya pelan... "Di sebelah mana yang sakit?"

"Di situ... sebelah kiri..."

Sasuke mengelus perut sebelah kiri Sakura. Ada yang berbeda.. Ia merasa sangat bahagia saat mengelus perut milik Sakura. Rasanya ada yang membuat hangat perasaannya... "Perutmu agak buncit, Sakura..."

Sakura memerah. Entah karena malu atau kesal juga. Kenapa Sasuke mudah sekali berkata seperti itu? Kejujurannya memang sering menyakitkan. Harusnya Sasuke itu tahu jika seorang wanita akan kesal jika ada yang komplain tentang keadaan fisiknya... "Yang sering membawa junkfood ke kost itu siapa, hah? Karena kau membawa banyak, maka aku memakan semuanya. Ibu juga sering mengirimiku makanan yang enak-enak, tentu saja aku langsung menghabiskannya. Makanan ibu itu paling enak! Habis makan, aku tidur... Dalam beberapa bulan, aku sudah naik 4 kg!"

Benar juga. Sasuke memang selalu membawa makanan ke tempat Sakura. Ia terlalu khawatir karena Sakura sering sakit. Sepertinya, junkfood cukup ampuh untuk membuat Sakura lebih gemuk. Baginya, melihat Sakura yang sakit-sakitan setelah ia melecehkannya, rasanya Sakura menjadi banyak pikiran sehingga menjadi jauh lebih kurus... Ya, ia tahu juga, junkfood itu tidak baik jika berlebihan... "Hanya 4 kg juga... Besok akan turun lagi! Selama di Prancis, jangan pernah memakan junkfood lagi!"

"Iya,iya..."

"Sekarang, tidurlah! Aku akan mengelus perutmu sampai kau tertidur. Kuharap sakitnya akan membaik.."

Sakura mengangguk. Ia merebahkan dirinya miring ke kanan. Sasuke juga melakukan hal yang sama. Ia lalu memeluk Sakura dari arah belakang. Ia mengusap-usap pelan perut Sakura. Sakura memejamkan matanya...

"Oyasumi.." Sasuke mengecup pelan leher samping Sakura.

"Oyasumi, Sasuke-kun..."

/

/

"Maaf Sasuke-kun, aku membohongimu... Aku pura-pura sakit perut saat kau membahas Hinata. Aku tidak mau semua rencanaku rusak. Kau harus memperbaiki hubunganmu dengan Hinata. Aku yakin, Hinata masih sangat mencintaimu dan perjodohan itu kuharap bisa membuatmu berubah menatap Hinata...,,,. Kau tahu Sasuke-kun? Saat kau menyentuh perutku, rasanya menjadi sangat hangat. Aku merasa sangat bahagia. Sangat bahagia sampai-sampai aku merasa seperti tidak pernah sebahagia ini... Rasanya ingin terus, terus, dan terus kau melaukan hal ini menjelang tidurku... Apa ini... apa ini respon dari anakmu? Apa janin ini tahu jika ayahnya sedang menyapa?... Maafkan ibu sayang, hanya ini kesempatan kau bisa bersama ayahmu... Selamat tidur Sasuke-kun, selamat tidur anakku..."

Sakura tersenyum bahagia. Setelah itu, ia meneteskan air mata.

/

/

.

Like a Fool...

.

.

.

Tokyo International Airport...

Setelah mendapatkan perintah chek in, Sakura langsung memeluk ibu dan ayahnya. Sangat sulit melepaskan dari pelukkan erat sang ibu. Setelaht, ia memeluk sang kakak, itachi. Kakaknya juga melakukan hal yang sama seperti ibunya. Naruto, Ino menyusul. Gaara juga memeluk Sakura, meski hanya sekilas. Yang terakhir adalah Sasuke. Sakura tersenyum pada Sasuke lalu memeluknya dengan sangat erat juga. Sakura sampai merasa sesak. Ia berusaha melepaskan diri tapi sulit. Sasuke tidak mau melepaskannya...

"Sasuke-kun... Sudah waktunya.. Aku tidak ingin ketinggalan pesawat."

"Setelah urusanku selesai di London, aku akan menjengukmu." Sasuke melepaskan pelukkannya.

Sakura kembali tersenyum... "Aku akan menunggu... Jaa... sayonara..." Sakura sudah lega. Tadi pagi, Sasuke mengecup keningnya. Tidak dengan nafsu. Sungguh, tiada lebih baik dari ciuman kening itu.

Sakura menyeret kopernya masuk ke dalam... Ia berbalik dan melambaikan tangannya ke keluarga dan teman-temannya. Ini adalah awal perjalanan hidupnya yang baru.. ia sudah siap mengorbankan segalanya...

"Ini yang terakhir... ayah, ibu... jaga kesehatan kalian. Jangan sampai sakit... Itachi-nii, carilah pacar yang bisa mencntaimu setulus hati... Setidakya gadis baik yang tidak berdandan menor... Sasuke-kun, kuharap kau hidup dengan baik. Hinata pasti bisa menjadi sosok yang bisa mengerti akan dirimu. Jika kau memahami bagaimana Hinata, kau akan tahu jika Hinata itu sangat, sangat baik.. Teman-teman, kuharap kita bisa berjumpa lagi. Walau sejujurnya, aku tidak tahu kapan waktu itu kan tiba atau justru... memang tak akan pernah tiba.. Namun, tiga tahun bersama kalian itu sangat menyenangkan... Terima kasih untuk segalanya... Aku beruntung bertemu dengan kalian..."

.

.

.

Like a fool...

.

.

.

SASUKE POV

Aku menatap pesawat yang baru saja menghilang di balik awan. Itu pesawat yang Sakura naiki. Prancis adalah negara yang sangat jauh. Tidak mudah bagiku untuk menemuinya apalagi sebentar lagi aku juga akan disibukkan dengan kuliahku di London.

Kita memang akan jarang bertemu. Tapi, aku pasti akan selalu berusaha menemuimu. Dimanapun... Kapanpun...

Sampai akhir... sampai saat inipun, aku terlalu pengecut untuk mengatakan 'maaf' kepadamu. Maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Maaf sudah melecehkanmu dan memaksamu bertindak keji bersamaku. Maaf sudah membuatmu seperti itu... Kau menjalani harimu dengan sulit. Kau kehilangan dirimu sendiri. Aku menciptakan jarak di antara kita karena ulahku sendiri. Menciptakan kecanggunggan yang seharusnya tak ada mengingat betapa dekatnya kita sebelum ini...

Aku, aku merusak kebersamaan kita...

Yang lebih parah, aku memang sangat pengecut karena tidak berani mengatakan jika aku mencintaimu. Aku.. aku ingin mengajakmu berkencan... menjalin hubungan cinta.. menjadi sepasang kekasih...

Aku tersenyum miris... Seorang Uchiha sepertiku itu memalukan... Tak kusangka, aku sepengecut ini...

.

Sakura... apa ada saatnya kita bisa bersama?

Semua hanya di angan... Aku melakukan hal yang salah demi menjadikanmu milikku. Aku sangat egois hanya demi dirimu... Nyatanya, aku tetap tidak bisa membuatmu terus bersamaku.. Aku bisa memiliki tubuhmu, tapi hatimu enggan mendekat...

Gomen, kau pasti sangat terluka atas semua perbuatanku...

Ne, Sakura... Andai saja kau paham dengan maksudku, andai saja kau juga paham kenapa aku melakukan hal yang seperti ini... Andai saja kau tidak menerima permintaan Hinata, andai saja malam itu kau tidak bersama Gaara... Andai saja kita tak menyepakati perjanjian konyol itu... Mungkin, kita masih bisa menalani kehidupan bahagia. Kau tidak perlu merasa takut ketika sedang bersamaku... Kau tahu, kau melukaiku saat kau ketakutan karena diriku...

Aku memang yang terburuk karena selalu menghadirkan mimpi buruk padamu...

.

.

Kau seperti candu dalam hidupku, Sakura... membuat ketagihan.. ingin, ingin, dan ingin terus bersamamu... Senyum ceriamu, tawa konyolmu, semua yang ada padamu membuatku ingin selalu melihatnya...

.

.

Sakura, apa kau tahu bagaimana perasaanku saat kau menyuruhku mencoba membuka hati untuk Hinata?

Sangat sakit...

Bagaimana bisa aku melakukan hal itu sementara hatiku sudah memilihmu? Tidak bisakah kau melihat bagaimana aku menahan luka karena permintaanmu? Setidaknya merasakan meski hanya sebentar saja? Tidak bisakah kau lakukan itu? Apa kau tak mengerti segala perhatianku padamu?...

Meski aku menerima permintaanmu dengan berat hati, tapi kau terlihat tak masalah dan justru siap memberikan tubuhmu padaku... Aku tidak mau seperti itu. Bukan itu tujuan awalku, Sakura...

Aku menyentuhmu karena aku kehilangan akal... Aku memang sangat menginginkanmu, tapi bukan dengan cara seperti itu... Namun, permainan konyol kita menuntun kita ke kegilaan yang tiada usai.. semakin rumit.. semakin sulit... semakin tidak mengerti... Kau... semakin menjauh dariku...

Aku mencoba mengikuti permainanmu... Aku tak berniat menyakiti Hinata, tapi aku sadar jika apa yang aku lakukan pasti akan menyakiti perasaannya. Aku tidak pernah tertarik dengan gadis selain Sakura. Aku sudah tahu pasti, meski Sakura ngotot jika aku bisa menyukainya seiring waktu berlalu, aku tetap tidak akan bisa ke lain hati.

Bulan demi bulan berlalu, aku semakin tidak tahan dengan perasaan yang menentangku. Aku tidak bisa menyukai Hinata dalam hal romantis, Hinata adalah teman yang baik. Aku tidak akan menyakitinya lebih dalam lagi... Akupun memutuskan untuk menolaknya. Sudah aku duga, dia menangis waktu itu.. Aku sunguh minta maaf akan hal itu... Namun, dia juga tahu jika ada gadis lain yang aku sukai... Jadi, dia tahu jika gadis itu adalah Sakura?

Jadi apa Hinata juga tega melakukan hal itu padaku? Jika ia tahu aku menyukai Sakura, kenapa ia tak menyerah sejak awalnya?

Haha, aku bodoh memang...

Sampai akhirpun aku juga tak bisa menyerah pada orang yang aku cintai... Aku mencoba mengertimu, Hinata... Kita berada di posisi yang sama... Sama-sama tidak bisa memiliki cinta kita... Maka dari itu, aku senang saat kau tetap memintaku menjadi temanmu... Aku sungguh berterima kasih akan hal itu...

.

Setelah masalahku dengan Hinata usai, masalah muncul saat aku tidak berani menyatakan perasaanku pada Sakura... hahaha.. aku sungguh ingin menertawakan diriku yang pengecut ini... Akhirnya, aku hanya bisa memendamnya.. lagi, lagi, dan lagi... lagi-lagi aku tak bisa mengucapkannya...

Sakura, aku sangat, sangat, sangat mencintaimu...

.

Sakura... apa sebegitu sulitnya untuk mencintaimu? sebegitu sulitnya untuk memilikimu?

Apa kau tidak sadar akan perasaanku selama ini?

Suatu saat nanti, adakah takdir kita untuk bersama?

Kadang aku merasa jika aku sudah sangat lelah... aku ingin menyerah...

.

Tidak. Jika aku menyerah, maka takdir itu tidak akan pernah ada... Aku, Uchiha Sasuke... Tidak peduli kau dimana, aku akan tetap membuat kau menjadi milikku! Meski aku harus menjadi mimpi burukmu sekalipun, aku akan melakukannya agar kau kembali ke sisiku lagi..

Aku memang hanyalah iblis pengecut yang terlalu mencintaimu, Sakura...

.

.

END OF SASUKE POV

.

.

.

.

"Yuu-kun, arigatou sudah menjemputku..."

.

.

.

TO BE CONTINUE...

.

.

.

Entah kenapa, di malam yang larut kayak gini, aku justru mudah untuk menulis. Ini sudah beberapa kali. Aku bahkan sampai menemukan ide cerita baru lagi. Aku memang pernah berencana bikin cerita tentang Itachi. Entahlah, rasanya ide cerita itu cocok denganya. Mungkin x OC? Hahaha.. ngarep banget daku ma itachi... Sungguh, aku tak janji akan hal ini/...

Terima kasih sudah baca...

Welll... kalo rada bingung, ya dipaksakan maksud aja ya... hahahhaha

.

.

Jaa ne...

.

.

.

WARNING! END? plaaaaaaaakkkkkkkkkkkk