Chapter 15
.
.
.
Doumo arigato minna...
Khusus kali ini, aku update dua chapter.. ya walau pendek-pendek sih..
Snang rasany udh smpai di akhir-akhir chpter... selalu kok, aku selalu berusaha lebih baik..
.
.
IYA.. KADANG HIDUP MEMANG BANYAK SULITNYA! Tapi, karena masa sulit itu maka Tuhan akan mengangkat derajat kita... Itulah kenapa aku BENCI AKHIR YANG SEDIH... Huhuhuhu...
.
.
Untuk wattad, dulu aku punya tapi Cuma aku gunain buat baca doank, udah lupa lagi akunnya apa. Jujur ya, aku ini tidak punya hati yang kuat buat nanggepin komenan negatif.. di FF aja kalo baca yang kontra rasanya ngenes.. isone gur sabar... hahahhaha...
.
.
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini...
.
.
.
Dozo...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
,
.
Japan International airport...
Sakura berjalan menuju ke dalam bandara. Ia menunjukkan tiket pesawatnya pada petugas pitu masuk bandara... Ia merasa ingin berbalik dan sekali lagi untuk melambaikan tangan. Meski akhirnya ia urungkan. Jika ia melakukannya, maka ia pasti akan berubah pikiran. Berulang kali ia memantapkan keputusannya, tapi beberapa kepingan hatinya menunjukkan rasa keraguan. Keraguan itu muncul menjadi rasa ketakutan. Bagaimana jika ia tidak bisa menjalani hidup setelah ini? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana cara membesarkan anaknya sementara ia sendiri masih sangat muda? Ia baru 18 tahun tempo hari. Ia baru merayakan ulang tahunnya dengan keluarga Uchiha penuh haru. Ia mendapati sang ibu menangis karena akan ia tinggalkan...
Mengingat itu semua, rasanya keraguan itu semakin membesar... Namun, jika ia egois untuk saat ini dan memaksakan kebahagiaannya, maka ia akan merusak segalanya... konsekuensi dari dosanya begitu banyak dan ia tidak mau itu terjadi... Dengan air mata yang mengalir tak tertahan, ia melangkahkan kakinya yang gemetar memasuki bandara...
Keputusannya harus dimantapkan meski dengan paksaan...
Ia melakukan check in... masuk.. masuk... dan masuk ke dalam bandara... Ia menunggu sampai tiba waktunya memasukki pesawat..
.
.
Semua calon penumpang pesawat melakukan boarding pass... Sakura ikut mengantri di sana. Di barisan paling belakang... Ia sudah memikirkannya semalam. Pemikiran singkatnya itu memang sedikit agak gila, ia pasti akan mendapatkan banyak omelan dari teman-temannya... Tapi, ia tahu pasti jika apa yang akan ia lakukan adalah jalan terbaiknya...
Sakura keluar dari barisan antrian boarding pass... Ia lalu mengeluarkan ponselnya.. ia mengirim pesan pada Yuuichirou untuk menjemputnya di bandara satu jam lagi dan Yuuichiroupun menyetujuinya...\
Antrian boarding pass itupun semakin lama semakin habis. Sakura menatapnya dengan senyuman. Ia masih memegang tiket pesawatnya.. Ia mengamatinya, merabanya perlahan. Nama Sakura Haruno tertera di sana. Pesawat Kohoha Air tujuan Prancis... Negara impiannya...
"Selamat tinggal mimpiku..." Dengan mantap ia membuang tiket itu ke tempat sampah. Ia bahkan sampai merobeknya tak tersisa.
Ya, ini adalah keputusannya. Bukan Prancis tujuannya, tapi kebahagiaan anaknya yang utama. Ia berniat membesarkan anaknya dengan sepenuh hati. Kuliah di luar negeri memang impiannya, tapi ia sudah putus asa semenjak mengetahui dirinya mengandung... semua mungkin sudah berakhir baginya... Hanya anaknya yang menjadi tujuan hidupnya...
.
.
Tak lama kemudian, pesawat Konoha Air lepas landas... Suara mesinnya bisa Sakura dengar dengan sangat jelas... Mimpinya hanya sampai sebatas ini... Biarkan namanya terbawa pesawat itu. Terbang, terbang tinggi dan memudar.. menghilang tanpa sisa...
Setelah pesawat itu terbang meninggalkan bandara, Sakura segera bergegas. Ia yakin jika keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mengantarnya pasti sudah pulang... Nyatanya ia keluar dengan pintu yang berbeda, jadi ai tidak akan bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya...
Sakura keluar menenteng koper kecilnya. Sungguh, ia bersyukur tak membawa barang banyak.. hanya koper kecil yang ia bawa. Ia melakukan kebohongan demi koper kecil itu... Jika ia menuruti ibunya, mungkin ia akan membawa koper jumbo 2 dan beberapa tas yang jelas akan masuk bagasi pesawat. Itu pasti akan merepotkan rencananya...
"Yuu-kun... Arigatou sudah menjemputku..."
"Ayo masuk.. Kita harus bergegas..."
Sakura masuk ke dalam mobil Yuuichirou dan mobil itu melesat dengan cepatnya...
.
.
.
Mobil milik Yuu parkir di dekat Tokyo Tower, di sana sudah ada mobil milik Gaara. Mereka melakukan pertemuan... Ya, sebuah pertemuan yang sudah direncanakan sebelumnya... Di dalam mobil Gaara ada Ino dan Naruto. Naruto dan Ino langsung kaget tak terkira saat melihat Sakura keluar dari mobil milik Yuuichirou...
"Aku butuh penjelasan dengan semua ini! Aku tak mengertimu, Sakura..." Kata Ino. Ia masih terjebak antara sedih, marah, kesal, dan juga senang.
"Seperti yag sudah aku bilang, aku ingin terhapuskan dari kota ini dan kehidupan keluarga Uchiha.."
"Gila..."
"Jangan seperti itu, Sakura! Katakan yang jelas!" Sela Naruto...
"Naruto, ini memang agak gila. Tapi aku menyetujui ide Sakura dan bersedia membantunya. Sakura akan tinggal di Kyoto dan membesarkan anaknya di sana. Jika ia tetap pergi ke Prancis, maka ia akan kesulitan. Bagaimanapun ia masih terlalu muda untuk mengurus dirinya sendiri dan anaknya nanti. Belum lagi, Sasuke dan keluarganya pasti akan menengok Sakura di Prancis dan itu membuka kemungkinan kehamilan Sakura akan terbongkar... Sakura tak menginginkan hal itu terjadi, ia memilih untuk menghilang demi anaknya dan keluarga yang ia cintai. Di Kyoto, keluarganya tidak akan bisa menemukannya. Mereka akan menduga jika Sakura menghilang di Prancis dan mereka pasti akan memfokuskan pencarian di sana..." Jelas Gaara.
"Itu terlalu berlebihan, Sakura! Aku tidak menyetujuinya..." Kata Ino. Naruto juga mengamini.
"Kalian sudah berjanji akan membantuku. Apa kalian tega membiarkanku yang mengandung ini tinggal sendirian di Prancis? Aku akan melahirkan sendirian, membesarkan anakku sendirian, lebih menakutkan lagi jika aku ketahuan keluarga Uchiha... jika itu terjadi, bagaimana aku bisa menatap mereka? Mereka sangat aku sayangi, aku tak mau mengacau perjodohan Sasuke dan harapan ibu... Kumohon, dukung aku! Dukunglah keputusanku..."
Ino dan Naruto memikirkan baik-baik keputusan Sakura... Mereka hanya mencoba mengerti. Ini memang tak baik, tapi mereka sangat menyayangi Sakura. Mereka pasti akan mendukung keputusan Sakura...
"Jika kalian khawatir, aku dan Gaara sudah diterima di kampus ternama di Kyoto. Aku sendiri memang berasal dari sana, sedangkan Gaara memiliki nenek yang tinggal di sana. Kami sudah memikirkan tempat tinggal Sakura..." Kata Yuuichirou.
"Haaahhh, kau memang selalu seenaknya dan paling suka membuat khawatir, Sakura..." Kata Naruto. Sakura tersenyum kikuk dan langsung minta maaf... "Tak usah khawatir, aku juga diterima di salah satu kampus di sana, aku pasti akan menjagamu..." Lanjutnya.
Ino mendekat ke Sakura. Ia lalu memeluk sahabatnya itu... memeluknya cukup lama... "Meski aku tak bisa sering-sering ke kyoto, tapi aku akan selalu mengunjungimu di akhir pekan..." Ia lalu melepaskan pelukannya...
"Semuanya... Terima kasih banyak..."
Mereka semua tersenyum.. mereka akan menolong Sakura. Mereka sadar jika ini belum tentu benar apabila di lihat dari sudut pandang mereka, tapi ia mencoba memahami bagaimana keinginan Sakura. Sakura hanya ingin yang terbaik bagi keluarga angkatnya. Sakura hanya ingin keluarganya tak mendapatkan aib atas kehamilannya... Keinginan yang tak sederhana, membutuhkan banyak pengorbanan. Luka yang mendalam akan melekat pada Sakura setelah ini... saat itu terjadi, mereka akan menjadi tempat dimana mereka dapat membantu meringankan beban luka itu... Tidak berharap banyak bisa mengobati, setidaknya jika bisa membuat lebih baik, maka apapun akan dilakukan.
"Sakura, berikan ponselmu!" Perintah Naruto. Sakura memberikannya. Dengan gerakan cukup cepat, Naruto membukan penutup ponsel Sakura yang memang sudah mati. Ia lalu mengambil kartu sim milik Sakura dan mematahkannya menjadi dua... "Jika kau ingin menghilang, segala bentuk komunikasi, medsos, bahkan game online, kau tak boleh menggunakannya meski hanya sekali!"
Naruto benar, ia memang harus melakukannya... "Wakatta.." Agak tidak rela, terutama game onlinenya, ia sudah cukup jauh levelnya. Ia bahkan memiliki teman dunia maya banyak dari game onlinenya.
"Jangan sedih, kau bisa ganti nomor setelah ini, Sakura..." Kata Ino...
"Hm.."
.
.
.
Like a Fool
/
.
.
Sehari yang lalu sebelum berangkat ke Prancis... Kemarin?
Taman belakang sekolah yang sepi...
Sakura merentangkan tangannya. Meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Ia juga cukup lelah karena hari ini sudah berjalan-jalan mengelilingi sekolahnya. Menyapa teman-temannya dan para kliennya. Bahkan ia menyempatkan diri untuk memberi saran para juniornya yang ingin memulai kehidupan cinta. Ia memang sudah berhenti dari dunia kemakcomblangan, tapi sifat ingin membantunya rupanya tak bisa ia hilangkan. Rasanya sangat senang saat ia bisa membantu orang lain. Kata terima kasih terdengar luar biasa ditelingannya. Ia merasa sangat bahagia hanya dengan kata itu...
"Ini..." Gaara memberikan ice cream coklat kesukaan Sakura.
Sakura menerimanya.. "Shankyuuu... Ne Gaara-kun, Yuu-kun kemana? Bukankah tadi kalian pergi bersama?"
"Ah dia ya, dia tadi berbicara dengan pacarnya, Hiragi-san. Katanya jika sudah selesai, ia akan menyusul.."
"Sokka, mereka sering bertengkar, tapi juga sangat manis. Pasangan yang sangat unik.. Hyakuya Yuuichirou dan Hiragi Shinoa. Si rusuh dan si kuu-dere..." Sakura mulai menikmati ice creamnya.
Gaara mengamati map yang ada di antara dirinya dan Sakura. Map yang berisi ijazah, SKHU, rapor, dan beberapa dokumen penting dari sekolah. Di atas map merah itu, ada selembar kertas... "Apa itu tiket pesawatmu?"
"Hm.."
"Kau yakin dengan keputusanmu?"
Sakura menghentikan menjilat ice creamnya... "Tentang melarikan diri ke Prancis?"
"Apa lagi?"
Sakura terdiam sejenak... "Sejujurnya aku takut..."
"..."
"Aku takut hidup di negara dimana aku tidak mengenal siapapun di sana. Ketakutanku bertambah karena janin ini.. Apa aku bisa benar-benar menjalaninya... Apa aku bisa hidup dengan baik..."
"..."
Sakura menatap langit. Sorot cahaya matahari terhalang oleh rindangnya bunga Sakura. Maklum saja, musim semi sedang menyapa. Ia juga belum lama merayakan ulang tahunnya yang ke 18 tahun. Ulang tahunnya sangat berbeda tahun ini. Angka 18 adalah angka kedewasaan. Ia bahkan sudah memiliki KTP.
Ia ingat, saat ia ulang tahun teman-temannya memberikan kejutan kue ulang tahun di kelas. Ia juga menerima hadiah boneka rilakuma besar dari teman-teman sekelasnya. Tak masalah ia menghabiskan uang saku lebih banyak hari itu karena ia harus mentraktir ramen satu kelasnya. Selain itu, ia juga mendapatkan hadiah gantungan kunci pinguin lucu dari Naruto, jaket dari Ino, dan saat di rumah, keluarganya juga memberi kejutan special di hari ulang tahunnya. Mereka makan bersama dan saling bercengkrama hangat. Kadonya semakin bertambah.
Walau ia menangis di kamar semalaman karena Sasuke tak memberikannya kado ulang tahun sih... Selama ia mengenal Sasuke, baru kali ini Sasuke lupa memberinya kado ulang tahun. Rasanya sangat menyakitkan, apalagi saat ia benar-benar sangat mengharapkannya. Emosi ibu hamilnya sangat mendukungnya, ia hanya bisa menangis sendirian tanpa bisa mengucapkan keinginannya pada Sasuke...
"jika kau takut, maka jangan pergi!" Kata Gaara.
"Eh?"
"Jangan pergi, Sakura...!"
"Aku me-memang sangat takut, Gaara-kun.. Aku sungguh tak mau pergi. Aku tak akan bisa hidup sendirian di sana, melahirkan sendirian di sana, dan membesarkan anakku sendirian di sana... Aku takut jika aku akan ketahuan... Sasuke pasti akan mengunjungiku dengan sangat cepat, begitupun dengan ibu. Mereka pasti akan menemukanku jika aku menghilang di sana... Apapun itu, aku harus menyembunyikan kehamilanku. Jika aku lahiran, aku juga harus menyembunyikan anakku. Setidaknya sampai Sasuke dan Hinata menikah..."
"Kekhawatiranmu banyak sekali, Sakura... Kau tidak boleh stress! Kau harus menenangkan emosimu. Itu sangat berpengaruh dengan kondisi janinmu..."
"Apa yang harus aku lakukan, Gaara-kun? Kemarin aku sudah sangat mantap, tapi kenapa saat ini aku justru ketakutan? Gaara-kun, katakan! Katakan jika ada tempat dimana keluarga Uchiha tidak akan bisa menemukanku?"
"Aku tak menyukai arah pembicaraanmu, Sakura... Kau jangan bertindak egois seperti itu! Kau ingin menghilang? Yang benar saja! Keluargamu sangat mencintaimu, anakmu juga butuh ayahnya. Jangan kejam hanya karena kau ingin menebus dosamu, kau sampai melakukan hal berlebihan seperti ini... Aku menyutujuimu ke Prancis karena aku berharap jika suatu saat mereka akan menyadari keadaanmu dan memaafkanmu, tetap menerimamu sebagai bagian dari keluarga mereka, dan Sasuke juga bisa...bertanggung jawab atas dirimu." Rasanya jika menyebut soal tanggung jawab, itu terasa berat...
"Aku tidak bisa... Hiks... aku tak bisa seperti itu! Aku tak akan bisa hidup tenang. Mana mungkin aku hidup bahagia di atas penderitaan orang-orang yang aku sayangi... tidak bisa.. Aku sungguh ingin menghilang dari kehidupan mereka. Setidaknya mereka akan hidup bahagia tanpa adanya diriku..."
Gaara sangat mengerti maksud dari keinginan Sakura. Ia memang sering mengamati Sakura. Perasaannya pada Sakura itu tidak main-main. Bahkan meski ia mendengar jika Sakura sudah tidak 'perawan' lagi, seharusnya ia harus segera melupakan perasaannya pada Sakura, tapi nyatanya, semakin ke sini, semakin ia memikirkannya, semakin ia justru ingin melindunginya. Sejujurnya bukan masalah perawan atau tidak, ini masalah rasa yang tulus. Meski terasa sangat perih ketika pada akhirmya Gaara tahu jika ternyata Sakura memiliki perasaan pada Sasuke...
Gaara memegang pundak kiri Sakura... Ia mengusapnya pelan. Menenangkan Sakura yang menangis sesegukkan. Gadis musim semi ini terlihat sangat rapuh. Sifat cerianya berlalu seperti melayunya bunga sakura. Rapuh dan suram... rasanya ia mengerti akan kesedihan itu... Mata menangis milik Sakura menggores hatinya... Melambai-lambai seolah meminta tolong... Ini bukan kisah hero di dunia anime, ia memang juga bukan seorang pahlawan, tapi ia ingin menyelamatkannya... Ia ingin menyelamatkan Sakura...
"Kau sungguh egois, Sakura..."
"Hm.."
"Kau jahat, Sakura..."
"Hm.."
"Kau terlalu berlebihan.."
"Hm, aku sadar.."
"Tapi, apa kau yakin akan menghilang?"
"Ya."
"Meski akan sulit buatmu?"
"Ya."
"Kau akan sakit menahan rindu."
"Aku tahu."
"Kemungkinan keluargamu akan menemukanmu masih ada."
"Tak masalah, aku percaya takdir, tapi itu sangat kecil kemungkinannya."
"Jadi..."
"jadi...?"
"Tinggalah di Kyoto!"
"Kyoto?"
"Ya."
"Gaara-kun, aku saja sangat menghawatirkan Prancis, kenapa kau merekomendasikan kota Kyoto yang jelas-jelas lebih dekat dari Prancis?"
"Karena dekat, mereka justru tak akan menduga jika kau melarikan diri ke sana."
Sakura menimang-nimang kata-kata Gaara. Jika ia memaknai jauh maksud kata itu, rupanya ada benarnya juga. Keluarganya pasti akan menguber-uber Prancis untuk mencarinya dan tidak akan kepikiran untuk mencarinya di Jepang, di Kyoto.
Jika ia tinggal di kyoto, maka ia tak harus bersusah payah melakukan adaptasi lingkungan, ia juga tak akan kesulitan bersosialisasi, bahasa, dan yang paling penting, ia akan lebih mudah menjalani hari-harinya sampai membesarkan anaknya kelak. Biaya akan jauh lebih murah... Sewa rumah juga murah, biaya makan juga murah... Kali ini ia memang harus memikirkan biaya hidup, hal yang tak terpikirkan saat ia hidup dengan keluarga Uchiha. Ya dia memang mencari uang dari kerja sampingan sebagai mak comblang, tapi ia tak berfikir jika uang hasil kerjanya akan ia gunakan untuk membiayai hidupnya...
"Benar juga... Baiklah, aku akan ke Kyoto..."
"Setelah kau memutuskan, maka kau tak akan bisa kembali lagi.."
"Aku tahu itu..."
"Jadi, sekali lagi aku bertanya padamu... apa kau yakin akan keputusan menghilangmu itu, Haruno Sakura?"
"Aku yakin, Sabaku no Gaara..." Ucapan Sakura dan matanya terlihat sangat mantap.
"Ku harap kau tak akan menyesalinya..."
"Semua yang tersisa dalam hidupku hanyalah penyesalan..."
"Kau tak apa-apa?"
"Ya, aku tak apa-apa..."
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Setelah ice cream yang di makan habis, mereka kembali berbincang tentang rencana mereka. Rencana mereka di dengar oleh Yuuichirou. Mau bagaimana lagi, toh Yuuichirou sudah tahu duduk permasalahannya. Sungguh, Yuuichioru mempermudah segalanya. Yuuichirou yang memang berasal dari Kyoto bisa membantu Sakura dengan mudah. Yuuichirou bahkan menunjukkan cara bertahan hidup di Kyoto, rincian biaya hidup per bulan, dan merekomendasikan sewa rumah murah, rumah sakit murah, dan berbagai macam hal. Dengan ini, Sakura tahu jika hidup di Kyoto rupanya jauh lebih murah dari Tokyo, dan jelas jauh lebih murah juga dari Prancis. Dengan ini, Sakura tak perlu memikirkan kerja sambilan untuk menambah biaya persalinannya nanti...
"Pokonya, meski aku cukup bodoh dan sering membuat onar, tapi kau bisa percaya padaku, Sakura. Aku pati akan membantumu. Aku tak akan mengatakan pada siapapun jika kau berada di Kyoto..."
"Shankyuu, Yuu-kun..."
"Di Kyoto nanti kau tak perlu khawatir, aku dan Gaara adalah sepupu jauh, meski begitu keluarga kami masih sangat dekat. Keluarga kami akan terbuka untukkmu. Jika kau merindukan kehangatan keluarga, kau bisa datang ke rumahku atau berkunjung ke rumah nenek Gaara... Nenek Gaara sangat baik, dia akan senang jika kau berkunjung..."
"Tumben sekali kau bicara seperti itu, Aho-Yuu..." Kata Gaara.
"Cih, urusai.."
Dan mereka tertawa bersama...
Meski banyak masalah, meskipun itu luka, tapi, ada momen dimana bibir bisa menyungingkan tawa walau itu hanya sebentar...
Saat melihat Sakura tertawa, Gaara merasa jika gadis rapuh di sampingnya ini sangat manis. Sakura lebih cantik ketika tersenyum. Keceriaan memang lebih cocok untuk Sakura. Rambut pinknya menari-nari tersapu angin yang berhembus... Ia lupa kapan ia mulai jatuh cinta pada Sakura, tapi ia ingat perasaan itu bagaimana. Saat ini, detik ini, ia juga merasakannnya. Merasakan hal yang sama saat ia sedang jatuh cinta... Sungguh, rasanya bukan sakit, tapi menyenangkan... Meneduhkan... Dengan sadar ia meraih tangan kanan Sakura. Menggenggamnya cukup erat... ah, beginikah tangan Sakura saat sedang terluka? Masih tetap hangat.. seperti tidak ingin melepaskannya...
"Sakura..." Panggil Gaara.
Yuuichirou yang duduk di samping Gaara hanya mengamati apa yang dilakukan kedua temannya itu. Ia merasa jadi nyamuk pengganggu sepertinya...
"Ha-hai?"
"Sakura, aku akan menjadi ayah dari anakmu."
.
.
.
.
?
?
?
?
.
.
.
"Eh?"
.
.
.
.
...To be Continue...
.
.
.
Huwaaa... jangan kesal tentang apa yang terjadi saat ini. Apapun itu, masalah sesulit apapun pasti bisa terlalui... Butuh Twist?
Ya, gomen banyak typo dan sedikit pendek chapternya...
Sampai jumpa di last chapter ya... ya pokonya last last lastnya gak jauh deh...
.
.
NAH LOHHH... SYUKURIN, LAST CHAPTERNYA TERTUNDA CHAPTER SPECIAL... HAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAH
TERTAWA BADAI... Kata-kata Gaara terakhir bikin aku kena protes keras... *PLLLLAAAAAAAAAAAAAAAAKKK
.
.
Gambarimasu...
.
.
Nextt adalah chapter spesial. Jadi aku nyebutnya kayak gitu. Kalo di anime, kalian bisa menyebutnya dengan OVA. Di chapter spesial ini, aku akan menceritakan sudut pandang karakter utama sebelum kisah ini END. Jadi, aku ingin semua chast utama mendapatkan cerita masing-masing.. Biar gak diprotes...
Dimulai dari Hinata...
.
.
Bye bye... *_*
