Chapter 18 SPECIAL INO.
.
.
Karena chapter special INO maka POVnya milik INO!
.
Yang Marathon semangat aja. Udah chapter banyak.. soalnya authornya kan berusaha rutin update! Kalian tahu, aku mengalami masa 'menyebalkan' karena menunggu updatetan yang laaaamaaaaaaaaaaa bangetttttt... nget.. nget.. nget... ampe lupa critanya gimana.. haaa
Jadi, aku tidak ingin membuat pembaca ceritaku merasakan hal yang sama denganku.. hahah.. apa ini?
.
.
Gomen ne membuat Sasuke ayam tamvan jadi bad boy, dia itu cinta banget ma Sakura, saat Sakura hilang dari hidupnya, ia tak memiliki persiapan untuk itu. Dia kehilangan arah hidupnya... Tpi dia masih kuliah dengan bener kok, alkohol dan tembakau hanya teman barunya saja... hehheheh...
.
.
Bicara soal novel, aku sedang berjuang.. sulit sekali tembus penerbit mayor.. gagal dan gagal lagi.. jujur, yang gagal aku jadiin FF, nah ini salah satunya. Satunya lagi Sakura's Love Story, itu juga dari novel yang aku buat.
Perjuanganku masih panjang banget... novelis yang mudah diterima itu yang agamis, religi gitu.. aku tidak pandai membuatnya. Kelakuanku gak agamis banget, jadi munafik entar.. hahhaha
.
.
Baiklah.. sumangga dibaca...
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga,Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi Shinoa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
,
.
SPECIAL INO
Sungguh, aku tak pernah menyangka, tidak pernah menduga pula jika aku akan akan mendapatkan bagian cerita yang rumit seperti ini. Aku ikut andil di dalamnya, aku terjebak di antaranya.
Aku selalu berharap jika aku akan memiliki kisah sendiri dengan aku sebagai heroine-nya dan tentu saja Sai-kun sebagai heronya. Nyatanya, kisahku sudah usai semenjak Sai-kun memintaku menjadi kekasihnya. Setidaknya, kisah romance yang aku dambakan sudah aku alami. Tinggal bagaimana nanti akhirnya. Apa aku akan bersama Sai-kun sampai akhir atau tidak. Tentu saja aku sangat berharap berakhir bahagia dengan Sai-kun nanti. Ya.. etto.. me-menikah maksudku.. jiiih, aku selalu memerah jika aku memikirkan pernikahan dengannya. Astaga... masih terlalu jauh. Yang perlu aku lakukan untuk mimpiku itu, aku hanya harus menjaga baik-baik cinta darinya. Maka... bukan tidak mungkin jika aku akan menikah dengannya kelak...
Balik ke awal topik... tentang bagaimana seorang aku bisa mendapatkan bagian kisah dari kisah panjang nan rumit. Sebagai siapa aku? Apa peran yang cocok dengan diriku? Apa aku pantas mendapatkan peran di dalamnya? Apa aku bisa menjalaninya dengan baik? Banyak pertanyaan yang selalu menyeruak dalam benakku. Menuntut satu demi satu untuk segera dijawab. Maa ne.. hanya butuh waktu dan proses panjang untuk ke sananya..
Sejujurnya, aku tidak mengerti apa aku benar atau tidak menerima peran ini. Aku merasa jika ini salah, namun di sisi lain aku ingin membenarkannya. Ini bukan kisahku, tapi entah bagaimanapun caranya aku ingin kisah yang bukan kisahku ini berakhir bahagia layaknya kisah dongeng sebelum tidur yang selama ini selalu terngiang di dalam memori otakku..
Bagaimanapun caranya.. aku ingin kau bahagia, Sakura...
Ya.. ini adalah kisahnya Sakura, teman.. ah bukan.. maksudku sahabatku..
Aku tak hanya menganggap gadis sebatang kara itu sebagai sahabatku, dia adalah keluargaku. Jika aku boleh meminta pada Tuhan, maka aku ingin dilahirkan bersaudara dengannya. Aku ingin tertawa, kenapa aku ingin hal itu terjadi padahal jauh di dalam lubuk hatiku, aku ini selalu merasa iri pada Sakura. Sederhana dan sepele, aku hanya iri kenapa gadis musim semi itu mudah sekali mendapatkan perhatian dari orang-orang tampan di sekitarnya?
Ini sungguh konyol.. aku sadar kenapa mereka tertarik dengan Sakura dengan mudahnya. Rupanya, Sakura memiliki banyak hal yang tak aku miliki. Gadis itu supel, santai, mudah bergaul, easy going...
Sudah begitu, Sakura juga sangat ramah..
Tidak hanya dengan para laki-laki, tapi pada semua orang. Sakura memandang semua orang sama di matanya. Selalu bersikap positif dan penuh tawa nan ceria..
Kenapa ya.. aku merasa sesenang ini hanya dengan menceritakannya...?
Mungkin inilah kenapa rasa iriku memudar seiring berjalannya waktu. Sakura membawa warna indah bagi orang-orang di sekitarnya...
Ada hal yang membuatku sebal dengannya. Sakura memang gadis yang baik, saking baiknya sampai-sampai TIDAK BISA MENOLAK PERMINTAAN ORANG... Dia selalu berkata 'ya' saat ada yang meminta bantuan kepadanya. Astaga... apa dia pikir dia itu malaikat?
Maksudku, membantu boleh, tapi kan ada batasnya. Dia hanya manusia biasa, bantulah semampunya. Aku hanya heran saja kenapa dia bisa sampai segitunya. Memang dia pernah bilang jika dia menyukai kata 'arigatou' saat ia berhasil membantu orang. Katanya dia merasa menjadi orang yang berguna... Jika dari kaca mataku, aku rasa kebaikkan Sakura hanya dimanfaatkan saja. Haaah...
Apa susahnya coba menolak sebuah permintaan?
Andai saja dia bisa menolak permintaan mungkin sekarang dia masih berada di sini, di sisihku. Mungkin saja dia masih bisa makan ice cream coklat bersamaku, belanja bersamaku, kepoin Furukawa Yuki bersamaku, nonton konser One OK Rock bersamaku, atau mungkin saja aku dan dia rebutan tiket nonton EXO atau BTS. Mungkin...
Andai saja kau menolaknya, Sakura... mungkin saja kau tidak akan menanggung luka sesakit ini. Mungkin saja kau tidak harus menyalahkan dirimu sendiri atas dosa yang kau perbuat...
Andai kau menolak permintaan Hinata, andai kau menolak membuat perjanjian dengan Sasuke...
Semua hanya bisa berandai-andai saja.. Tidak bisakah menolak? Apa sulitnya berkata TIDAK?
Kenapa? Kenapa begitu sulit kata itu keluar dari mulutnya? Kenapa dia suka sekali membuat dirinya terjebak dalam masalah rumit seperti ini? Kenapa dia suka menyimpan air mata luka seperti ini? Kenapa dia harus pergi...?
Kenapa Sakura, kenapa kau harus pergi?
Padahal aku yakin jika kau bisa jujur dan sedikit egois, meski banyak luka dan kecewa, aku yakin masalahmu akan terselesaikan dengan baik.. Semua pasti terluka, Sakura. Itu adalah resikonya, tapi jika kau melarikan diri seperti ini, maka yang tersisa hanya luka yang berkepanjangan... Mau sampai kapan kau sanggup menanggungnya?
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Aku memandang ke luar jendela kreta ekspress yang aku naiki. Pemandangan cepat berlalu seiring kecepatan kreta yang melaju. Hutan gedung, persawan, hutan pohon, pegunungan.. indah..
Indah.. aku tak pernah tahu jika di luar Tokyo ada pemandangan yang seindah ini. Aku rasa aku harus lebih bisa memuka mata akan apa yang ada di sekitarku.. aku rasa.. aku harus lebih mencintai negeriku ini.. Tuhan memberikan segala anugerah dalam sebaik-baiknya.. aku memang harus bersyukur...
Kereta masih terus melaju... sudah tiga jam aku berada di dalam kereta. Aku sudah makan, minum, menatap pemandangan, berjalan ke toilet. Semua sudah aku lakukan untuk menghilangkan kebosananku. Sebentar lagi.. sebentar lagi aku akan bertemu dengannya...
Ya, aku tengah dalam perjalanan menuju Kyoto untuk menemui Sakura... sahabatku tersayang.. watashi no tomodachi...
Apa dia baik-baik saja ya? Dia belum membeli ponsel baru, aku hanya bisa berkomunikasi dengannya lewat Naruto, Gaara atau Yuu. Sengaja aku datang tanpa memberitahunya, kurasa dia akan berteriak kegirangan saat aku tiba di depan apartemennya. Apa dia akan langsung memelukku? Apa dia akan berteriak dahulu baru memelukku setelahnya? Apa dia akan memukulku karna aku datang tanpa memberitahunya? Aahh.. aku sudah tak sabar bertemu dengannya..
Aku ingin meminta maaf padanya karena aku sudah keceplosan meneceritakan keberadaannya pada Sai-kun. Tapi aku sudah membuat Sai-kun berjanji padaku untuk tidak menceritakannya pada Sasuke. Bagaimanapun Sai-kun dan Sasuke adalah sahabat dekat... Cukup riskan juga jika Sai-kun suatu saat menceritakan rahasia Sakura pada Sasuke... Untung saja, Sai-kun dapat mengerti keinginan Sakura.. Haaah.. aku sungguh sujud syukur... Sai-kun bahkan membantu suksesnya melarikan diri Sakura.. dia mendapatkan undangan pameran seni di Prancis bulan April yang lalu. Itu tidak jauh dari jadwal keberangkatan Sakura ke Prancis. Apa yang Sai-kun lakukan? Ya.. dia mengirim e-mail ke Sasuke memakai akun Sakura... Selama Sai-kun di prancis, dia chatting dengan Sasuke mengaku sebagai Sakura..
Gomen Sasuke... dan juga keluargamu.. Gomen, aku membuat Sai-kun membohongi kalian.. Gomen, untuk saat ini aku berdiri di pihak Sakura. Aku ingin membantu Sakura...
Aku tahu ini tidak benar.. Ini salah kaprah. Tapi ini semua demi Sakura. Aku harap suatu saat mereka bisa mengerti dengan pelarian diri Sakura dan segala keinginan penebusan dosanya...
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Aku sudah sampai di Kyoto... dan sesuai dugaanku... Sakura berteriak, memeluk, lalu memarahiku karena datang tiba-tiba.. ssiippp dugaanku benar semua.
Sekarang aku sedang berada di apartemen milik Sakura. Tunggu... ada Naruto? Sodesu ne... rupanya Naruto membeli apartemen ini dan memutuskan untuk tinggal bersama Sakura. Eh.. Gaara juga? Ah.. kata Sakura mereka berdua hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Sakura. Oh astaga, aku rupanya tidak perlu khawatir berlebihan tentang Sakura. Ada dua pangeran yang siaga menjaganya. Mungkin juga Yuu..
Sepertinya mereka harus memikirkan cara untuk mengelabuhi Sasuke jika suatu saat Sasuke datang tiba-tiba menjenguk ke Kyoto... Bisa saja kan dia bete dan kangen pada Naruto? Ya... arienai... Tidak mungkin juga x ya? Yang aku bicarakan saat ini Sasuke sih.. orang itu.. terlalu misterius.. dan menakutkan...
Sudah, lupakan sejenak tentang Sasuke, kini fokuslah pada tujuanku ke sini menemui Sakura.. aku menatap Sakura yang sedang menyiapkan minuman di dapur. Seorang remaja seusiaku ini sedang mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Fase dimana dia harus berusaha lebih keras lagi untuk naik ketingkat hidup yang lebih baik.. gambare Sakura... Gambarimasho...
Ini sudah Juni, sudah enam bulan kandungannya.. aku melihat banyak perubahan fisik darinya. Ya, perutnya sudah membesar. Sakura bahkan terlihat sedikit agak gemuk. Lain dari ibu hamil biasanya. Rupanaya Sakura tidak mengalami penambahan berat badan ekstrem pada umumnya. Sudah kuduga, ia mengalami tekanan batin juga. Dia bisa bertahan sampai saat ini mungkin karena keinginan kuatnya untuk menebus dosa dan bayinya..
Kau pasti mengalami waktu yang sangat sulit Sakura... Bertahanlah, ini kisahmu, ini keputusanmu... setidaknya bertanggung jawablah atas apa yang sudah kau pilih... Tenang saja, jika kau merasa lelah, aku pasti akan selalu ada untukmu...
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Aku memeluk erat sahabatku ini. Memeluknya dengan sangat lama. Aku sangat merindukan sahabatku ini.. sangat.. sangat merindukan...
Ahh, sejak kapan aku terakhir merasakan hal seperti ini dengan Sakura? Rasanya sudah sangat lama... Aku bersahabat dengan Sakura sudah semenjak kami SD. Saat itu, dia datang sebagai siswa transferan dan dikenalkan sebagai saudara Sasuke. Saat itu dia masih delapan tahun. Usia yang sangat muda untuk menerima kenyataan jika dia adalah sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tunggal... Meski saat itu aku masih sangat kecil, tapi aku bisa melihat dari sorot mata Sakura yang penuh dengan kesedihan itu. Dari awal dia selalu mengalami hal yang menyedihkan.. kukira saat dia bisa tersenyum dengan keluarga barunya, keluarga Uchiha, dia sudah kembali mendapatkan kebahagiaannya. Namun aku salah, saat ini dia kembali mendapatkan mala petaka...
Keputusannya untuk melarikan diri pasti sudah sangat ia pikirkan matang-matang, termasuk resiko yang akan menyapanya. Dia pasti juga sudah memikirkannya.. Jika saat ini aku mendapati dia terlalu kurus untuk seorang ibu hamil, mungkin itu wajar. Dia pasti banyak pikiran. Tak hanya karena beban dosa yang ingin ia tebus, tapi juga pasti karena keluarganya. Terutama ibu Mikoto. Setelah mendengar ibu Mikoto masuk rumah sakit, dia pasti mengalami hari-hari yang sangat sulit. Dia pasti tidak berhenti memikirkan keadaan ibu Mikoto. Dia pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak.. Maa, aku tahu bagaimana perasaannya. Bagaimanapun dia mencintai ibu Mikoto layaknya ibunya sendiri. Itu pasti sangat menyakitkan.. Tidak bisa berada di dekat ibunya saat sang ibu sedang berjuang keras melawan penyakitnya...
Kehilangan orang tua di masa lalu memang sangat berat untuknya, tak jauh berbeda dengan saat ini. Dia bahkan harus dihantui ketakutan yang berkepanjangan.. Bagiaman jika Sasuke dan keluarganya menemukannya, tahu kehamilannya, akhirnya mengecewakan mereka padahal mereka sudah merawat baik dirinya. Dia pasti juga ketakutan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap ibu Mikoto. Bagaimana jika ayah fugaku juga mengalami hal yang sama? Bagaimana jika Sasuke dan Hinata tak jadi menikah? Bagaimana jika kakaknya berhenti kuliah karena mencarinya? Dia tahu pasti jika kakaknya itu cukup sis-con yang rela melakukan apa saja demi adiknya... Belum lagi, ketakutan bagaimana kau harus melalui hidup dengan bayimu nanti..
Haah... ketakutanmu banyak sekali.. padahal seorang ibu hamil tak seharusnya memaksakan diri untuk berfikir keras seperti ini, Sakura...
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Malam ini aku akan menginap, aku akan tidur bersama Sakura. Di atas tempat tidur, aku kembali memeluknya. Sepertinya dia sadar akan kekhawatiranku, dia tersenyum padaku dan mengelus lenganku. Dia bilang jika dia bisa kuat menjalani hidupnya. Dia bilang, dia pasti bisa melalui masa-masa sulit ini. Dia bilang untuk tidak terlalu menghawatirkannya. Dia bilang untuk berhenti menangis tentang keputusannya.. dia bilang... terima kasih karena sudah berada di sisinya...
Aku menangis lagi.. aku menangis saat dia mengatakan hal seperti padaku...
Bakaa... apapun itu, aku pasti akan selalu berada di sismu, Sakura. Meski jauh, aku pasti akan selalu ada di sampingmu. Aku pasti akan berusaha untuk dekat denganmu.. meraih tanganmu saat kau terpuruk.. menarik agar sejajar denganku.. menarik agar kita bisa kembali tersenyum bersama.. bercanda bersama,. Dan tertawa bersama... Kita sudah sering menangis bersama,... kali ini, dan sampai nanti yang entah kapan.. aku... aku ingin menyunggingkan senyum bersamamu, Sakura.. bersama yang lain juga.. mari berbahagia bersama lagi Sakura.. Seperti dulu.. tanpa penyesalan atau bahkan dosa yang selalu kau permasalahkan...
Aku tahu apa yang terjadi padanya adalah hal yang sangat berat. Jika aku yang berada di posisinya mungkin tidak akan kuat. Aku mungkin akan memilih bunuh diri untuk mengakhiri semuanya. Namun kata bunuh diri tak pernah muncul di kamus hidup Sakura, aku sangat bersyukur, rupanya sahabatku ini memiliki hati yang sekuat baja..
aku bangga padamu Sakura.. terima kasih untuk tidak memilih mengakhiri hidupmu, terima kasih untuk masih hidup dan menjadi sahabatku...
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Sakura terlihat baik meski tak baik-baik saja. Setelah aku berani mendeklarasikan diriku sebagai sahabatnya, maka tugasku adalah untuk selalu mendukungnya. Dalam hal benar tentunya... Mungkin saat ini keinginannya adalah hal yang salah, hal yang tidak benar.. tapi meski begitu, aku kan menghormati keinginannya. Meski salah sekalipun. Dalam posisi sulit saat ini, keinginannya adalah representasi dari hatinya. Dia sudah memilih jalannya, jalan untuknya yang sangat berat dan sulit. Aku tidak akan menyalahkan keputusannya, aku juga tidak akan menghakimi pilihannya. Sebagai sahabat, aku hanya perlu bersikap layaknya seorang sahabat ideal untuknya. Aku akan berada di sisinya, di jalan yang dia ambil. Aku akan menasihati jika itu tidak baik untuknya, aku akan menegur jika ia melakukan kesalahan, aku akan memberitahunya bagaimana cara menyelsaikan masalah... aku akan selalu ada untuknya.. untuk mendengarkan keluh kesahnya.. untuk mendengarkan omelannya.. untuk mendengarkan curhatnya.. untuk mendengarkan tangisannya, tawanya... sampai saatnya tiba.. aku ingin melihatnya tersenyum ceria seperti dulu.. seperti saat kita bersama memakan ice cream di sepanjang jalan menuju stasiun kreta...
Kau tak perlu takut lagi Sakura.. ceritakan segala gundah di dalam hati dan pikiranmu! Aku tahu itu sangat menyiksamu.. memaksamu untuk berfikir keras setiap hari... aku tahu kau makan dan minum dengan rasa hambar di lidahmu.. aku tahu kau sering menyeka air mata dan menangis dalam diam di kamarmu... aku tahu kau... kau merindukan keluargamu.. ibumu, ayahmu, kakakmu... dan juga... Sasuke... aku tahu kau mencintainya.. matamu sudah mengatakannya... kau berusaha menahanya.. kau berusaha menghapusnya.. kau berusaha tetap berdiri tegar di kedua kakimu yang merapuh..
Aku memang hanyalah sosok insan manusia yang mengaku sahabat dari beberapa sahabatmu.. kehadiranku dalam hidupmu mungkin tak begitu berpengaruh dalam hidupmu. Aku hanyalah peran sampingan, hanya peran pendukung dalam kisahmu... Namun, aku yang mengaku sebagai sahabatmu ini sangat tulus berada di sisimu.. Datanglah padaku jika kau ingin menangis, jika kau risau dan tak mau datang padaku, maka aku akan datang sendiri kepadamu.. aku akan menghapus air matamu.. meski tak akan pernah terhapus semua.. setidaknya aku akan berusaha meringankannya.. meski hanya sedikit.. hanya sedikit.. Karena aku selalu percaya jika persahabatan kita tidak serapuh pasir yang terhempas ombak pantai...
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Ino memang bukan cast utama, dia hanyalah sosok sahabat untuk sakura. Tidak tahu mengapa, rasanya aku ingin membuat chapter spesial tentang dia. Aku hanya ingin memberikan unek-unekku atas pengertian sahabat yang ada diimajinasiku. Apakah kalian memiliki sahabat yang seperti Ino? Setidaknya dalam waktu yang lama?
.
Kenapa rasanya jadi mellow mulu ya? Padahala ini perjalanan menuju end.. hahahaha.. sabar..
Next/ naruto... Persahabatan kit atak serapuh pasir yang terhempas ombak pantai pt 2
Aku akan bicara sudut pandang dari si kepala duren ini..
.
.
Dadaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
