Chapter 19 SPECIAL NARUTO.
.
.
Yeee.. senengnya author, author sengaja tau ngubah kyoto jadi Tokyo, kan author pengen tahu apa ada yang bacanya bener-bener pake ketelitian... ternyata ada.. hahah... selamat, tapi tenang, udah author perbaiki...
Senengnya... mendapat dukungan positif dengan apa yang sedang dikerjakan itu membuat semangat ya... Terima kasih untuk semuanya..
.
.
.
Karena chapter special NARUTO maka POVnya milik NARUTO! Si kepala duren montong yang berwarna kuning!
Ada yang duren mania?
Kalo author tidak tahu, kenapa ya, author kalo bau sedikit aja soal itu buah, author udah m*ntah duluan..?... Padahal kata temen2, rasanya enak banget.. sampai saat ini, author belum mencobanya.. huhuhuhu.. padahal penasaran..
Apa rasanya kayak keju?
Mentega?
Katanya duren montong yang paling enak?
Apa lagi ditambah es kayak soup buah duren dengan cream susu...
Ice cream duren...
.
Terus, kenapa kita malah bahas duren?
.
.
Udah... sumangga dilanjut mawon...
.
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
,
.
SPECIAL NARUTO
Aku sedang berada di taman rumah sakit Tokyo International Hospital. Aku memeluk teman masa kecilku. Dia menangis sesegukkan sedari tadi. Air matanya membasahi kemejaku. Stok air matanya rupanya sangat banyak, sudah berapa kali dia menangis seperti ini sebelumnya?
Jawabannya sangat banyak...
Kadang aku ingin protes pada Tuhan, kenapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu beratnya untuk Sakura? Tidak cukuplah dengan mengambil kedua orang tuanya? Kenapa rasanya kebahagiaan selalu menjauh darinya? Kenapa begitu sulitnya dia tersenyum lepas bahagia? Kenapa? Kenapa harus Sakura yang mengalaminya?
"Naruto.. Ibu..." Katanya parau. Sedari tadi dia hanya berkata ibu.. ibu.. ibu... Jika lebih, maka ia hanya bisa mengatakan apa ibu Mikoto akan baik-baik saja? Ibu mikoto akan membaik, kan? Ibu Mikoto akan segera sembuh, kan?
Aku paham bagaimana kekhawatiranmu Sakura...
"Naruto.. ini semua salahku. Aku tak menyangkan akan seperti ini... Naruto, ibu akan sembuh, kan?" Katanya lagi... Dia selalu mengulangi kata-kata yang sama intinya...
Aku masih sangat ingat tadi pagi aku mendapatkan kabar tentang pingsannya ibu Mikoto dari ibuku. Karena saking kagetnya, Sakura mendengarnya. Ia yang sedang membuatkan kopi untukku langsung menjatuhkan cangkir beserta cawannya. Ia menangis dan melupakan air panas kopi yang mengenai kakinya. Aku tahu, dia pasti syok karena mendengar kabar buruk tentang ibunya..
Dia yang banjir air mata langsung memintaku untuk melihat ibunya.. Tentu saja aku akan menurutinya. Aku pikir dia akan berubah pikiran tentang rencana melarikan dirinya, tapi aku salah. Dia masih menjaga keputusannya. Kami mendatangi rumah sakit dimana ibu Mikoto dirawat dengan menyamar. Astaga, Sakura masih memikirkan hal ini sampai sejauh ini. Maa.. setidak penyamaran kami tak heboh seperti cosplay bayanganku. Sakura memakai kaca mata hitam dan masker mulut dan tentu saja rambut palsu yang rupanya sudah ia siapkan sejak lama untuk jaga-jaga jika suatu saat Sasuke datang berkunjung menjengukku. Sementara aku, aku berpenampilan biasa. Aku hanya sedikit merubah tatanan rambutku, memakai masker, dan juga kaca mata minus. Agak mencurigakan memang, tapi kami berusaha untuk tidak diketahui oleh keluarga Uchiha. Kami hanya perlu melihat dari jauh keadaan ibu Mikoto di ruang ICU.
Apa-apaan sebenarnya ini? Ah.. bukan waktunya untuk tertawa konyol... Keadaan ibu Mikoto jauh lebih penting. Setelah melihat keadaan ibu Mikoto dari pintu ruang ICU, aku menyuruh Sakura untuk menunggu di taman rumah Sakit. Sementara aku kembali berubah menjadi diriku sendiri, aku menemui Sasuke dan Itachi-nii yang rupanya sedang berada di kantin rumah sakit. Aku sedikit berbincang dengan mereka berdua tentang keadaan ibu Mikoto. Setelah mendengar bagaimana keadaan ibu Mikoto, aku langsung menemui Sakura di taman rumah sakit dan menceritakan apa yang terjadi.
Sudah aku duga, Sakura kembali menangis. Bukan berarti aku menyalahkan Sakura, tapi memang karena dirinyalah kenapa ibu Mikoto sampai seperti ini...
Setelah mengetahui sakura menghilang di Prancis, ibu Mikoto langsung menangis dan pingsan karena serangan jantung. Sejauh yang aku tahu, ibu Mikoto itu sangat, sangat, sangat menyanyangi Sakura. Aku saja berfikir jika rasa sayang ibu Mikoto ke sakura itu lebih besar dari rasa sayangnya ke Sasuke dan Itachi-nii yang jelas-jelas adalah anak kandungnya. Kurasa memang benar jika ibu Mikoto itu memang sangat menginginkan anak perempuan. Kehadiran sakura dalam keluarga Uchiha seperti doanya yang dikabulkan..
.
.
Saat ini aku terjebak dalam situasi yang sangat sulit untuk aku mengambil langkah. Aku harus berhati-hati akan apa yang harus aku ambil. Pada dasarnya, apapun yang sekarang ini aku ambil, hanya akan menimbulkan rasa serba salah. Aku di pihak sakura, aku menyakiti keluarga Uchiha. Jika aku berpihak pada keluarga Uchiha, maka sudah pasti Sakura akan marah padaku. Usahanya menjaga nama baik keluarganya itu membutuhkan pengorbanan besar. Ia sudah memulainya, mana mungkin aku akan menghancurkannya begitu saja.
Berarti.. sekarang aku berada di posisi dimana aku menyakiti keluarga Uchiha. Sasuke terutama..
Mengetahui kepergian Sakura saja sudah membuatnya hancur, kini ditambah oleh penyakit ibu Mikoto. Aku mengingat dengan jelas bagaiman sosok Sasuke yang sangat asing. Aku bahkan sampai tidak mengenalinya.
Aku tahu dia akan terluka, tapi aku tak menyangkan akan sehancur ini.
Hari itu.. malam dimana ibu Mikoto di bawa ke rumah sakit, aku mengikuti diam-diam langkah Sasuke. Sasuke tidak ikut mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan malam itu. Dia benar-benar bagai mayat hidup. Raga yang kehilangan nyawanya. Matanya kelam tanpa emosi. Aku tahu kepergian Sakura membuatnya shock, dia mulai merokok dan beberapa kali aku melihatnya meminum minuman keras. Tidak masalah sih, maksudku, toh dia sudah cukup umur. Hanya saja, aku tak suka bagaimana dia memanfaatkan cukup umurnya. Itu sangat berlebihan. Itachi-nii bilang, Sasuke bahkan pulang dalam keadaan mabuk berat.
Aku terus berjalan mengikuti langkahnya dan akhirnya berakhir di bar. Dia minum cukup banyak malam itu. Aku hanya mengawasinya dari jauh. Aku akan membiarkannya selama ia tak membuat masalah.
Hari berikutnya, aku kembali mengikutinya. Dia bahkan belum menjenguk ibunya.. Apa yang dia pikirkan? Kenapa ia tak menjenguk ibunya yang diambang kematian itu? Kenapa ia kembali ke bar lagi? Mabuk lagi.. Merokok lagi...
Kali ini dia lebih sensitive. Dia berkelahi dengan segerombolan gank preman jalan hanya karena salah satu dari anggota gank itu ada yang menyenggol bahu lengannya. Masalah sepele, tapi karena Sasuke lagi sensi, dia langsung memukul telak anggota preman jalanan itu. Sontak menimbulkan keributan.
Satu, dua,. Tiga... tujuh... ada tujuh anggota preman jalanan melawan sasuke. Dan ya, mudah saja bagi Sasuke untuk menaklukkannya. Sasuke itu tidak sebaik tampangnya, dia memiliki sisi iblis yang bersemayam di dalam dirinya.
Setelah Sasuke menang, dia tertawa terbahak-bahak. Jika kalian tak mendengarnya mungkin akan terdengar biasa, tertawa penuh kemenangan karena berhasil menumbangkan lawan-lawannya dengan luka parah? Yang benar saja, tertawanya terdengar sangat memilukan. Dia seperti... kesakitan..
Aku sama sekali tak menghentikan perkelahiannya. Aku ingin tahu apa hal ini akan membuatnya puas atau tidak.. Namun.. rasanya aku memang harus menghentikannya ketika dia mengambil bungkusan kertas kecil yang keluar dari saku jaket salah satu anggota preman jalanan yang ia pukuli.
Sebelum Sasuke mencium isi dari bungkusan kertas putih kecil itu, aku sudah menghempaskannya dengan sangat keras...
"Jika kau melakukannya, maka kau bukan lagi manusia, Sasuke!" Sasuke hanya menatapku. "Sadarkan dirimu!" Aku mencengkram kemejanya. "Sadarkan dirimu, Teme-sialan! Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau pikir dengan melarikan diri maka semua masalah akan selesai? Yang ada hanya menambah masalah semakin runyam saja. Jika kau ingin Sakura kembali, cari dia! Cari sampai kau tak menyisakan cela sedikitpun di dunia ini!"
Ah.. amarahku keluar juga...
Tak aku sangka jika seorang Sasuke akan meneteskan air matanya. Dihadapanku lagi...
Rupanya kau manusia biasa juga, Sasuke...
Setelah kejadian malam itu, setidaknya dia menjadi sedikit lebih jernih otaknya. Dia akhirnya menemani ibunya di rumah sakit.
Ya walau aku gagal membebaskannya dari rokok dan alkohol, tapi setidaknya aku berhasil menjauhkannya dari narkoba..
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Semenjak mendengar ibu Mikoto jatuh sakit, aku dan sakura sering bolak-balik ke Tokyo untuk mengintip perkembangan kesehatan ibu Mikoto. Sakura selalu melihat ibu Mikoto dari jarak yang sangat jauh. Dia bersembunyi di lorong rumah sakit, di balik pohon, di balik pagar tanaman taman, di kerumunan orang... Sakura selalu berada di tempat yang sama dengan ibu Mikoto. Sekuat apapun keinginannya untuk melarikan diri, nyatanya ia tidak bisa melarikan diri dari ibunya, dalam kaca mata ibunya dan keluarganya mungkin Sakura sudah menghilang, tapi di kaca mataku dan Sakura, sejujurnya Sakura seperti terlihat sedang bermain petak umpet. Tidak pergi jauh, tidak kemana-mana, dan selalu melihat apa yang terjadi.
Andai saja aku tak membuat janji dengan Sakura, mulutku ini pasti sudah terbuka lebar pada Sasuke dan keluarganya. Aku pasti akan menceritakan apa yang terjadi pada mereka. Namun, janjiku pada Sakura adalah seperti hidupku sendiri, aku akan bersikap layaknya laki-laki sejati yang selalu menepati janjinya. Bukan sok bersikap pahlawan, tapi aku sungguh tulus menyayangi Sakura.
Jika hal ini dikaitkan oleh perasaan yang jauh lebih dalam, sebut saja tentang cinta. Jujur saja, aku tak mengetahuinya sampai sejauh itu. Aku menyukai Sakura, tentu saja. Aku menyayanginya, sangat.. Suka dan sayang adalah dua syarat penting dalam persoalan cinta. Aku tidak akan memungkirinya. Perasaanku ke Sakura mungkin pernah aku indikasikan sebagai perasaan cinta dalam hal romantis, tapi semakin kesini, perasaanku padanya lebih ingin melindunginya. Aku ingin menjaganya, aku ingin membuatnya tertawa. Aku tidak tahu bagaimana pandangan orang akan apa yang sedang aku lakukan ini... Tapi aku akan menghargainya jika kalian memujiku sebagai sosok kakak yang baik untuk Sakura. Aku pasti tidak lupa untuk berterima kasih..
Ya, kurasa memang seperti itu bagaimana perasaanku ke Sakura...
Dari dulu, Sakura selalu menjadi rebutan antara aku, Sasuke, dan Itachi-nii. Namun hanya Sasuke yang selalu menang dalam perebutan itu. Sasuke selalu memiliki cara untuk membuat Sakura memilihnya. Awalnya aku rasa itu memang karena kejeniusan dari Sasuke saja, tapi lama-kelamaan, otakku yang minim ini mulai berfikir. Perasaan Sasuke, tatapan Sasuke,... semua yang Sasuke tunjukkan hanyalah untuk Sakura...
Saat itu aku tahu jika Sasuke memiliki perasaan serius pada Sakura... Bodoh atau pengecut, aku tidak tahu bagaimana aku harus menjelasnya, yang jelas sampai saat inipun, Sasuke tetap bungkam akan perasaannya. Yang benar saja, dia menghamili Sakura...!
Dia melakukan hal yang sangat jauh. Kupikir Sasuke adalah sosok yang sangat terhormat dengan segala kesempurnaannya. Dia adalah gambaran cowok idaman setiap wanita... Namun, aku sungguh tak menduga jika dia memiliki sisi iblis yang bersemayam di dalam dirinya. Aku hanya bisa memijat keningku berkali-kali saat mengetahui apa yang sudah dia lakukan pada Sakura, adiknya sendiri.. Sungguh, aku ingin sekali memberinya bogem mentah jika Sakura tidak menahanku...
Jika dia mencintai Sakura, kenapa dia sampai repot-repot melakukan hal keji segala? Tinggal bilang pada Sakura tentang perasaannya apa susahnya sih?
Jika Sakura menolak, setidaknya bisa merasa lega karena sudah mengungkapkan apa yang disimpan di hati. Kenapa sampai setega itu? Aku merasa sudah lama menjadi teman Sasuke, aku merasa tahu apapun tentangnya, tapi nyatanya aku justru tak tahu apa-apa tentangnya. Aku merasa kecolongan karena tak bisa menjaga sahabatku sendiri.. Sahabat macam apa aku ini?
Kini... semua menjadi sangat rumit. Rumit serumit-rumitnya... Sasuke melecehkan Sakura, Sakura hamil, Sakura memilih pergi, ibu Mikoto jatuh sakit, dan Sasuke... dia bahkan seperti mayat hidup.. Aku tahu apa solusi untuk membuatnya kembali hidup. Dengan membawa Sakura kembali padanya! Namun maaf Sasuke, ibu Mikoto... aku tak bisa.. Saat ini, aku ingin menuruti permintaan Sakura..
.
.
.
Like a Fool...
.
.
.
Who am i? I am champion... hahaha, itu kutipan film dari actor idolaku, Jackie Chan. Aku memegang teguh kata motivasi itu. Namun sekarang berbeda, jika aku bertanya 'siapa aku?', maka jawabanya.. aku wannabe.. aku bunglon... aku berubah-ubah.. aku... aku .. are.. siapa aku? Aku jadi bingung sendiri. Aku ini bukan pemeran utama, tapi peranku sangat vital di sini. Semua kunci ada padaku. Jika aku membukannya, maka bisa dikatakan jika semuanya akan berakhir.. Tapi aku sedang bermain seni peran. Aku sedang acting, aku sedang berbohong... Apa tindakanku benar?
Lupakan.. itu sama sekali tak penting. Yang jelas aku memiliki rencana jangka panjang. Sangat panjang dan aku tak begitu yakin jika rencanaku akan berhasil atau tidak. Harapannya sih berhasil, tapi lihat saja nanti bagaimana eksekusinya. Jika berjalan dengan baik, maka harapan keajaiban pasti selalu ada. Aku sudah bisa membuat Sakura sedikit agak tenang, Ibu Mikoto sudah kembali ke rumah. Meski masih harus sering berobat ke rumah sakit. Setidaknya kesehatan beliau sudah jauh lebih baik. Sasuke memiliki motivasi ampuh yang rupanya diamini keluarganya..
"Selama mayat Sakura belum ditemukan, aku tidak akan pernah menganggap sakura mati. Aku akan selalu menunggunya, selama apapun itu..."
Aku sempat merinding mendengarnya. Dan kata-kata darinya itu yang membuat ibunya bangkit dan semangat untuk hidup lagi.
Aku bangga padamu Sasuke, meski kau terlihat seperti mayat hidup, tapi kau masih sangat peduli pada keluargamu. Kau jauh lebih kurus, kau bahkan merokok... aku tahu bagaimana tingkatan stressmu karena kepergian Sakura dan penyakit ibumu... Bertahanlah, Sasuke! Bertahanlah pada motivasimu.. Jaga dirimu dan jangan sampai sakit... Sakura baik-baik saja denganku. Aku akan menjaganya dengan nyawaku.. Itu janjiku padamu sebagai orang yang mengaku sahabatmu...
.
/
Apa aku terlihat keren?
Sudah aku bilang kan, ini bukan keinginanku untuk menjadi sosok super hero macam spiderman atau ironman, bahkan hulk! Aku melakukannya dengan ikhlas. Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin semua berakhir bahagia.
Lalu, bagaimana dengan kisahku sendiri?
Hm... haruskah aku berkenalan? Baiklah.. namaku adalah Namikaze naruto, Putra tunggal keluarga Namikaze. Soal akademik, aku biasa-biasa saja. Tapi keberuntungan selalu mendatangiku dalam ujian. Entah itu contekkan dari Sasuke, Sakura, atau bahkan Shikamaru. Aku juga bisa beruntung hanya dengan menggulingkan pensil yang ada kode huruf a-b-c-d di sisinya. Sungguh, aku bangga akan keberuntunganku..
Aku maniak ramen akut.. memiliki simpanan ramen instant, cup yang sangat banyak di dalam almari dapur. Ada juga di kamarku. Makan ramen itu bisa membuat perasaan membaik. Misal, saat kau sedih, makan ramen super pedas solusinya. Rasa pedas akan membuat mata menumpahkan segala perasaannya... Makan ramen rasa oriental, pas banget kalau lagi kumpul... apalagi saat main game, ahhh... 5 mangkokpun aku pasti menghabiskannya...
Selain sikap sok pahlawanku pada Sahabat-sahabatku, maniak ramen, maniak game, sebenarnya apa yang menarik dalam hidupku? Apa aku memiliki pandangan lain selain putaran hal itu?
Cinta?
Cinta ya...
Aku sudah mengatakan jika awalnya aku mencintai Sakura.. meski tak begitu jelas... Namun sekarang, bagaimana aku harus menentukan sikap untuk menjelaskan apa itu cinta dalam hidupku..
Aku ini sudah kuliah. Selama sekolah, aku ini termasuk jones bareng Sakura dan Sasuke. Malam mingguku aku habiskan dengan mereka berdua. Kita bermain game online sampai pagi, sampai terkadang tidur bareng di ruang keluarga rumah Sasuke. Minggu paginya, kami molor sampai siang. Intinya hanya main-main saja kerjaan kami. Terlalu menyenangkan jika bersama mereka berdua, sampai aku lupa jika kisah kasih di SMA itu juga perlu...
Apa aku menyia-nyiakan masa indah SMAku? Tanpa pacar?
Ya bukannya aku tak memikirkan sih, maksudku.. aku sempat bertemu dengan sosok yang terlihat manis di mataku.. aku sempat memikirkannya.. namun kini hilang begitu saja. Waktunya salah, bukan saatnya aku memikirkan hal seperti itu. Ada masalah yang jauh lebih mendesak, jauh lebih penting, dan jauh lebih besar. Seperti kumbang yang mencari nektar, datang dan berlalu begitu saja...
"Na-Naruto-kun..." Hinata menyapaku. Masih sama, masih gagap seperti dulu. Sudah berapa bulan aku tak bertemu dengannya? Semenjak pesta prom night sekolah akhir April yang lalu? Ini sudah Juni akhir...
Aku berbincang banyak dengannya. Rupanya ia sedang mendapatkan liburan dari kampusnya dan sekalian menjenguk ibunya Sasuke. Tidak banyak yang berubah dari tampilan fisiknya. Dia tetap anggun dan cantik seperti dulu... Ahhh, dia mengganti tatanan rambutnya. Rambutnya kini jauh lebih pendek. Apa itu seperti proses perubahan?
Kau sudah mengambil keputusan besar dalam hidupmu rupanya...
Dari tata pemilihan kosa kata bahasanya, aku bisa menyimpulkan jika Hinata bersikap jauh lebih dewasa. Dia seperti terlahir kambali menjadi sosok yang semakin baik. Aku senang bagaimana cara Hinata berkembang hingga menjadi sosok dirinya saat ini. Dia tahu apa artinya luka, dia belajar akan hal itu, dan dia menegakkan kepala lalu bangkit... Usaha keras memang akan selalu terbalas. Semua berbuah manis pada akhirnya.. yokatta...
"La-lain ka-kali jika ki-kita bertemu lagi, ma-maukah kau ma-makan ramen la-lagi bersama-ku?" Tanyanya.
Aku mengangguk senang. Aku tak menyangka jika Hinata menyukai ramen. Yang aku tak pernah duga, kami menang dalam perlombaan makan ramen di kedai yang baru saja kami kunjungi. Aku tak pernah tahu jika ternyata Hinata mampu makan ramen begitu banyaknya. Dia bahkan bisa mengalahkanku. Sungguh.. sisi lain darinya ini sangat mengejutkanku...
Setelah menghabiskan 46 mangkok berdua, kami menyabet gelar pemenang dan mendapatkan hadiah voucher makan gratis seumur hidup di akhir pekan...!
"Tentu saja, Hinata.. Di akhir pekan yang entah kapan itu, ayo makan ramen gratis bersama..." Kataku..
Gadis indigo di depanku ini tersenyum manis. Mukanya sedikit memerah. Apa karena kepedesan karena makan ramen yang sangat banyak? atau sedang malu padaku? Entahlah.. yang jelas, ini seperti janjiku padanya.. aku akan menepatinya jika umurku panjang.. maksudku, aku tak bisa sembarangan membuat janji, bagaimanapun ada hal di luar kemampuanku sebagai manusia. Begini-begini, aku sangat percaya akan adanya Tuhan...
Alur hidup dan takdir akan selalu berdampingan. Manusia hanya perlu berusaha yang sebaik-baiknya, pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan. Susah senang, suka duka, baik buruk, hitam putih... semua pasti memiliki kisahnya masing-masing.
Aku..
Sakura...
Sasuke...
Atau bahkan Hinata dan yang lainnya..
Kami semua memiliki kisahnya masing-masing, jika kisah kami saling terikat benang merah, maka kami akan terlibat satu sama lain. Kami akan selalu terhubung. Kami akan saling terikat. Satu keputusan, mempengaruhi keputusan yang lain. Benar atau salahnya tergantung bagaiman persepsi diri memandang akan apa yang terjadi di depan. Jika melakukan kesalahan, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Aku harap, semua teman-temanku mengetahui makna itu.. masih ada kesempatan... Nasi sudah menjadi bubur, tapi ditambah opor ayam malah semakin nikmat kok.. aku percaya itu.. sehancur-hancurnya masa lalu, masih ada kesempatan untuk merubahnya. Jika menginginkan perubahan yang jauh lebih baik, maka persiapkan diri untuk berusaha jauh lebih keras dari biasanya.. jauh.. jauh.. jauh.. dan jauh lebih keras lagi. Melebihi usaha keras orang lain. Itu perlu jika menginginkan kebaikan dalam hidup..
Hidupmu adalah kisahmu... Hidupmu adalah petualanganmu.. Namun hidupmu akan jauh lebih bermaka jika kau benar dalam membuat kisah petualanganmu... Ganbatte...
.
.
.
...Bersambung...
.
.
.
Horeee... chapter special selesai.. tinggal menunggu chapter End...
Maaf banget typonya banyak.. males ba-ul... kalo ada yang nyeleneh ya mohon dipahami apa adanya ye... hehhe..
.
.
Jika berrtanya, kapan Gaara dapat chapter special? Lalu Sakura bagaimana?
Nah.. itu tunggu after end of chapter ya...
Aku sedang berusaha memikirkan last chapter yang memukau.. hehhehe..
Aku tak janji akan dalam waktu cepat.. tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya... aku sangat menyukai kisah ini. Aku membuatnya dengan hati, maka aku berusaha pakai hati pula untuk mengakhirinya.
.
.
Setelah FF ini end, maka aku hanya perlu fokus pada kisah yang lain. FF Sakura's Love Story dan Young, Wild, and Sexy...
Ganbatte minna... semangatmu, semangatku, dan semangat semuanya..
Hidup akan selalu berjalan.. di ujung jalan akan berjumpa lagi...
Sampai jumpa di end of chapter ya...
Bye.. bye...
