Chapter 20

.

.

.

Back to normal Chapter...

Cie.. setelah 4 chapter special, akhirnya balik ke normal chapter.. hahhaha...

.

Bagaimana jika next chapter besok adalah END? Ada yang setuju? Hahahah... apakah cerita ini memiliki akhir yang mudah ditebak? Mungkin sih iya.. hahah... nyatanya aku tak pandai membuat plot twist seperti Eichirou Oda-sensei... Aku ngikutin manga One Piece smpai ikutan berteori kagak jelas, nyatanya teori sering terpatahkan. Astaga.. Oda-sensei memang luar biasa. Aku kagum banget ma otak jenius dia. Karakter manga yang sudah ia ciptakan itu banyak banget, unik-unik. Sudah begitu, cerita One Piece itu sangat luas untuk digali...

Hee...

Cotto matte...

Kenapa aku malah bahas One Piece sih?

Hahah... usut punya usut.. ceritanya aku bikin cerpern tentang One Piece. Specil buat manga idolaku selain manga Naruto...

Judulnya... "ME AND ASL(ACE, SABO, LUFFY)"

Padahal daku fans berat Law si dokter bedah kematian, tapi kagak bikin FF tentang dia. Hahahha... cinta pertamaku di One Pice itu adalah Ace, Law muncul karena Ace sudah mati.. huhuhu.. berasa dikhianati dua kali.. Ace dan itachi.. hiks.. hiks...

.

.

.

Udah deh, aku malah jadi banyak bacot gini ya... baiklah sumangga dinikamti apa yang ada dulu... hahahha...

.

.

Dozo minna...

.

.

.

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD

sok alim jarene…

rapopo…

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

..

,

.

"Sakura..." Kata Mikoto.

Itachi yang sedang bersama sang ibu merasa heran.. "Ibu, tidak ada Sakura..."

"Sakura ada di sebelah sana tadi..." Mikoto menunjuk arah taman rumah sakit.

"Ibu, tidak ada Sakura.." Kata Itachi lagi.

"Ibu melihatnya tadi, Itachi.. Ayo ke arah sana...! Ibu melihatnya... Kumohon, percayalah pada ibu!" Mikoto bersi keras untuk menuju tempat dimana ia merasa melihat sosok Sakura. "Ibu hanya ingin memastikannya.."

Itachi yang merasa kasihan pada ibunyapun menuruti apa yang sang ibu inginkan..

Ia mendorong kursi roda sang ibu ke arah taman rumah sakit. Dia mencaari ke sana kemari. Memfokuskan matanya mencari sosok adiknya yang dimaksud oleh sang ibu-meski ia sudah tahu jika hal itu tidak mungkin terjadi. Ini sudah ke sekian kalinya saat ia menemani sang ibu di rumah sakit, ibunya selalu bilang jika melihat Sakura. Sasuke juga pernah menceritakan hal yang sama. Setelah dicari, nyatanya tidak ada. Seperti saat inipun, ia juga tak menemukan sosok gadis musim semi itu.

Itachi sangat menyayangi ibunya, ibunya adalah separuh hidupnya, tapi keadaan sang ibu semakin menghawatirkan. Ini memang sangat keterlaluan, tapi ia merasa jika sang ibu mulai berhalusinasi akan Sakura semenjak Sakura menghilang. Wajar saja, ibunya itu sangat-sangat menyayangi dan mencintai Sakura. Anak angkat dari sahabatnya itu adalah segalanya.

"Gomen Ibu, mungkin ibu salah orang..." Kata Itachi. Ibunya menunduk sedih. Raut muka kecewa jelas terpampang di wajah ayunya. Air matanya kembali menetes. Jika sudah begini, rasanya seperti teriris-iris...Semakin hari, ibunya semakin kurus saja.. Itachi lalu merunduk di depan sang ibu. Ia memegang kedua tangan ibunya yang menghangat... Tak lupa ia juga menghapus air mata ibunya... " Suatu saat, Sakura pasti kembali. Bukankah ibu mempercayainya? Selama apapun, kita akan selalu menunggunya, kan? Jika saat ini ibu merasa seperti melihat Sakura, mungkin saja itu petunjuk dari Tuhan jika Sakura akan kembali suatu hari nanti... Jika saat itu tiba, aku mohon, Ibu... tetaplah sehat..!" Itachi tersenyum manis pada Ibunya.

Mikoto tersenyum meski air matanya sedang mengalir. Ia lalu mengusap rambut anak sulungnya. Itachi itu memiliki sifat yang mirip dengannya. Hangat dan penuh kasih, seperti kebalikkan dari Sasuke yang lebih mirip dengan sang ayah, Fugaku... "Ibu pasti akan sembuh, sayang.. Maafkan ibu yang selalu membuatmu khawatir..."

Itachi memeluk ibunya... "Ayo kita kembali ke ruang inap!"

Itachi mendorong kembali kursi roda sang ibu.. "Kau tahu, Itachi..."

"Nani desuka, Okaa-san?

"Ibu..."

"..."

"Ibu ingin menunggu Sakura pulang di rumah saja..."

Itachi langsung kembali tersenyum. Sungguh, mendengar kata manis ini adalah hal terbaik dari beberapa bulan terakhir ini. Akhirnya ada niat sembuh dari sang ibu. Setelah sekian kali masuk rumah sakit, bolak-balik check up, akhirnya.. akhirnya semangat itu muncul dari ketulusan hati ibunya. Ia bersyukur pada Tuhan, secara psikologis, niat sembuh itu sudah sangat membantu pengobatan selain obat dan terapi...

"Apa aku harus menyiapkan pesta penyambutan? Hmm.. aku akan mengajak Sasuke masak. Lalu menyuruh ayah bolos kerja. Pasti lucu jika aku bisa menyuruh ayah untuk mendekorasi ruang tamu.. haha.. Aku tak sabar menantikannya..."

"Ayahmu tidak akan setuju, Itachi..."

"Ibu tak tahu saja, kemarin malam, aku tak sengaja melihat ayah menangis di kantornya..."

"Sungguh?"

"Sungguh, Ibu. Aku tidak berbohong pada Ibu.. Jadi ayah itu mengusap air matanya saat menatap indahnya malam kota Tokyo lewat jendela besar di kantor ayah. Nah, saat aku mengucapkan permisi, mata ayah terlihat memerah seperti sedang menangis. Tapi aku tidak berani bertanya kepadanya..."

"haha, ayahmu pasti akan menolak argumenmu. Ayahmu itu adalah orang yang tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain, termasuk keluarganya sendiri..."

"Kadang aku berfikir, kenapa ibu bisa jatuh cinta dengan orang membosankan seperti ayah.. Bukankah yang lebih ceria seperti aku, banyak?"

"Hussh.., kalau ibu tidak menikah dengan ayahmu, kau dan Sasuke tidak akan ada..."

Itachi nyengir... "Haha, iya juga..."

"Meski terlihat membosankan, tapi ayahmu adalah sosok yang sangat penyayang. Dia memang tak menunjukkannnya secara langsung. Dia pernah menangis sesegukkan di makam orang tua Sakura... Persahabatan ibu dan ayah dengan orang tua Sakura itu sudah terjalin sangat lama. Ikatan kami seperti ikatan keluarga.. Ayahmu benar-benar terlihat hancur waktu itu... ahh, jadi ingat masa-masa dulu..."

"Kalau begitu, ceritakan kepadaku, Ibu!"

"Kau akan mendengarnya?"

"Hm, tentu saja!"

"Baiklah...hmmmm... " Mikoto mencoba mengingat... " Dulu ayahmu melamar ibu saat ibu dan ayah berada di puncak gunung Fuji loh..."

Itachi melebarkan matanya... "USOOOOO..."

"Ayahmu bahkan berlutut saat memberikan cincin lamarannya..." Mikoto menunjukkan cincin lamaran sekaligus cincin pernikahan kepada Itachi.

Itachi akhirnya percaya... "Aku tak menyangka jika ayah bisa romantis juga.. sangat romantis malah.."

"Desu ne... Ayahmu itu super romantis.. Hehe, ibu saja masih sering dinner bareng ayahmu. Ya meski karena pertemuan bisnis juga sih.."

"Aku jadi penasaran mendengar kelanjutannya..."

Alangkah baiknya jika saat ini Itachi berusaha mengajak ibunya lebih banyak komunikasih agar pikiran sang ibu tak hanya fokus pada Sakura. Bukankah dengan begitu setidaknya ia bisa berharap jika ibunya bisa lebih ceria dari sebelumnya? Setidaknya rasa sedih saat Sakura pergi menjadi sedikit berkurang. Ia memang tak bisa membaca isi hati dan pikiran ibunya, tapi.. sebagai anak yang sangat menyayangi ibunya, maka ia akan melakukan yang terbaik. Ia ingin ibunya sembuh.. sakit jantung adalah seperti bomb waktu yang kapan saja bisa meledak. Ia tidak ingin menyesal akan hal itu.

Tugas seorang anak adalah membahagiakan orang tuanya...

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Sakura memegang dadanya yang deg-degan tak karuan itu. Nafasnya memburu. Keringat dingin mengalir di pelipis. Ia lalu merosot dan duduk di tanah bersandar pohon sakura. Rasa seperti ini sama seperti saat ia melakukan pengintaian pada target cinta. Pekerjaan sampingannya dahulu. Deg-degan, was-was, takut ketahuan. Seperti itulah rasanya. Namun kali ini, jauh lebih menakutkan.

Ibunya memang luar biasa...

Sehebat-hebatnya ia bersembunyi, nyatanya ia tak bisa mengalahkan naluri dari seorang ibu. Perasaan ibunya memang terlalu kuat. Lain kali ia memang harus berhati-hati.

"Hoo, tadi hampir saja... Ibu memang sangat sulit dikelabuhi. Aku harus hati-hati! Syukurlah, ibu mau berusaha sembuh. Tenang saja ibu, meski ibu tidak tahu, tapi aku akan selalu berada di dekat ibu..."

Setelah berhasil menghindar dari sang ibu, Sakura langsung menuju departemen bagian kandungan. Mumpung sudah berada di rumah sakit, maka dari itu sekalian ia memeriksakan kandungannya yang sudah menginjak usia delapan bulan itu.

Jujur saja, ia ke Tokyo tidak memberitahu Gaara maupun Naruto. Jika ia memberitahukannya pasti mereka berdua tidak akan menginjinkannya. Usia kandungan 8 bulan itu cukup riskan untuk melakukan perjalanan jauh. Apalagi naik kereta.

Sakura ingat betul, sebulan yang lalu ia mengalami pendarahan, memang cukup ringan, tapi itu cukup membuat b eban di pikiran. Untung saja saat itu Gaara menyadarinya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Tidak perlu dikhawatirnkan, kandungannya baik-baik saja. Raut muka lega jelas tergambar di wajah tampan seorang Gaara. Rasanya hanya kata terima kasih saja yang selama ini mampu ia berikan pada Gaara...

Tuhan begitu sayang padanya sampai mengirim sosok sahabat berhati malaikat seperti Gaara..

/

Setelah melakukan prosedur pemeriksaan, Sakura lalu bangkit dari tidurannya. Ia membenarkan rambut palsunya yang berwarna hitam legam itu. Ia juga memakan kembali mantelnya. Sudah bulan agustus, sebentar lagi musim gugur tiba, udara akan semakin mendingin.

Sakura menemui dokter kandungan yang memeriksanya itu, namanya dokter Tsunade.

"Secara keseluruhan, hasil tes menunjukkan jika kandunganmu baik... hanya saja janinnya terlalu kecil, cobalah untuk memakan makanan yang manis-manis ya. Tapi, jangan berlebihan.." Kata Tsunade.

"Hai, wakarimasu..."

"Nona, kau tidak datang bersama suamimu?"

Sakura nyengir. Sudah ia duga jika ia akan mendapatkan pertanyaan seperti ini. Yang ia bisa ia hanya menyengir ria. Bagaimanapun mengakui jika ia mengandung tanpa seorang suami sah adalah hal yang cukup tabu di jepang.. "Suami saya sibuk bekerja untuk biaya persalinan saya nanti, dokter..."

"Ya ampun, rupanya ayah dari janinmu itu seorang yang pekerja keras ya... " Tsunade mengusap perut Sakura... "Kerja keras juga penting, tapi kau perlu tahu, Nona... Usia kandungan 8 bulan itu menuntut suami siaga. "

"Saya akan memberitahukannya..." kadang saat ia sedang sendiri, ia memikirkan sudah berapa kali ia membuat kebohongan. Kebohongan yang ia buat akan membuatnya menambah kebohongan yang lain. Tuan, apakah kebohongan ini akan termaafkan?

Tsunade memberikan resep pada Sakura.. "Ini adalah daftar vitamin yang perlu kau tebus di apotek... Jangan lupa untuk dihabiskan. Mulai saat ini kau akan lebih sering mengalami kontraksi, jadi kau harus berhati-hati. Mungkin juga kau akan kesulitan tidur nantinya dan rasanya juga sangat sakit, kau harus bersabar..."

"Terima kasih banyak, dokter.. Nasihat dari dokter sangat berharga untuk saya. Saya akan berusaha mematuhinya..." Sakura menunduk menatap perutnya yang membesar. Ia lalu mengelusnya... "Anak ini adalah segalanya bagi saya, apapun yang terjadi, saya pasti akan membuatnya melihat dunia ini..."

Tsunade tersenyum bangga. Baru kali ini ia menemukan seorang pasien ibu hamil luar biasa. Meski ia seorang dokter kandungan, tapi ia cukup paham saat melihat mata dari pasiennya itu. Mata itu adalah mata penuh kesedihan mendalam. Mata yang menyaksikan betapa perihnya hidup yang dijalani. Meski banyak kesedihan dalam hidup tapi calon ibu muda di depannya itu berusaha sangat keras untuk bertahan dan bangkit. Menata kembali hidupnya.

"Nona, kau tertarik menjadi seorang dokter? Kulihat usiamu masih sangat muda, kau bisa mengambil study kedokteran setelah kau melahirkan nanti..."

Dokter? Profesi yang sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya. Lagian cita-citanya adalah menjadi seorang desainer baju ternama, ya meski sekarang sudah abu-abu sih. Cita-citanya itu untuk saat ini ia kesampingkan demi janin yang ia kandung. Prioritas utamanya adalah anaknya. Ia sudah berjanji akan memperlihatkan keindahan dunia pada anaknya itu...

"Iie... Saya ingin fokus membesarkan anak saya saja.. Saya bukan termasuk orang dengan otak yang cerdas.." Sakura nyengir. Ia akui, ia memang tak sepandai Sasuke ataupun Gaara. Dapat nilai C di ujian sekolah saja sudah sujud syukur. Mata pelajaran untuk menjadi seorang dokter pasti akan sangat mengerikan. Sungguh, Sakura bisa tahu hanya dengan membayangkannya saja.

Tsunade mengambil sebuah kartu nama dari dalam lacinya.. Ia lalu memberikannya pada Sakura.. "Ini adalah kartu namaku. Aku adalah pemilik sekolah tinggi ilmu kedokteran ternama di Kyoto. Kunoichi University. Jika kau berubah pikiran dan berminat, kau bisa mengikuti tesnya tahun depan..."

Sakura menerimanya... "Terima kasih, dokter Tsunade..."

"Sama-sama.. jangan lupa, kau harus siaga mulai saat ini sampai hari kelahiranmu tiba nanti.."

"Baik, dokter Tsunade.."

Setelah berpamitan dengan Tsunade, Sakura berjalan ke luar dari ruangan itu. Saat ia membuka pintu, ia tak sengaja bertabrakkan dengan seseorang...

"Sumimasen.."

"Sumimasen.."

Suara itu.. Suara yang sangat tidak asing di telinganya. Suara penuh intimidasi, suara dingin itu adalah milik laki-laki itu. Laki-laki yang sangat ia cintai namun kalah dengan rasa egoismenya. Laki-laki pemilik mata kelam itu adalah ayah dari janin yang ia kandung. Ya, Uchiha Sasuke.

Uchiha Sasuke.

Apa yang Sasuke lakukan di ruangan dokter kandungan? Periksa? Sasuke hamil? Tidaaak... ia terlalu syock karena bertabrakan dengan Sasuke sampai tidak bisa berfikir dengan jernih. Rasanya selalu seperti itu, semenjak ia menyadari jika ia jatuh cinta pada Sasuke, apapun yang ia pikirkan saat ia berada di dekat sasuke seperti mengabur. Ia tidak bisa berfikir jernih dan terarah sesuai keinginanya. Ini seperti otaknya lumpuh saat berdekatan dengan Sasuke. Apalagi sampai bersentuhan seperti ini. Lama tak merasakan sentuhan itu, membuatnya hampir menggila. Bohong jika ia tak merindukan Sasuke-ayah dari janin yang tengah ia kandung.

Sakura ingin kembali melayangkan protes pada Tuhan..

Kenapa ia harus bertemu kembali dengan orang yang paling ingin ia hindari di dunia ini?

Sasuke selalu mendekat dengan mudahnya...

Kenapa dari sekian banyak orang di Jepang, harus Sasuke yang ia temui? Kenapa tidak orang lain saja? Takdir? Ataukan kebetulan semata? Jika ia, ini terlalu sinetron. Bukankah ini hanya terjadi di drama-drama televisi saja?

Tubuhnya bergetar..

Sebagian ingin membeku..

Tidak boleh..

Tidak boleh ketahuan. Sasuke tidak boleh tahu jika gadis hamil berambut hitam legam panjang berkaca mata besar adalah dirinya, Haruno Sakura.

Itu tidak boleh terjadi.

"Anda baik-baik saja?" Tanya Sasuke.

Sakura mengangguk... Ia langsung pergi meninggalakan Sasuke tanpa berani menatap mata kelam itu. Ia juga tak mengeluarkan suara lebih banyak lagi. Sasuke pasti akan segera menyadari tipe suaranya itu. Meski menyamar sekalipun, tapi jika sudah lama hidup bersama, perasaan sangat mengenal akan melekat di otak.

Sasuke hanya mengamati punggung yang menjauhinya itu. Ada perasaan lain menyeruak dalam hatinya. Wanita yang bertabrakkan dengannya sangat hangat. Seperti merasa jika perasaan yang saat ini tengah ia rasakan adalah perasaan yang sama dengan yang dulu. Perasaan yang selalu ia rindukan tengah malam.

Apakah dia?

Apakah dia sosok yang selama ini ia rindukan?

Sakura?

Gadis yang amat ia cintai..

Tapi... gadis itu berambut hitam dan sedang mengandung. Jelas tidak mungkin.. Lalu apa nama perasaan ini? Apa istilah yang harus ia ambil untuk menggambarkan perasaannya kali ini? Kenapa saat ia bersentuhan dengan wanita hamil tadi rasanya ada yang menghangat di dalam hatinya. Rasanya sangat berbeda. Seperti saat diri berada di tengah kutub es dan menemukan api abadi diantaranya. Api yang menghangatkan jiwa dan raga.

Sangat nyaman... dan membuat diri merasa jauh lebih baik.. merasa sedikit lega... rasa apa ini? Sungguh membingungkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh, tak dimengerti. Ini hanya sebuah sentuhan kecil karena bertabrakan,, tapi rasa tak menentu ini cukup menyejukkan hati.

"Sasuke-san?" Panggil Tsunade.

Sasuke terbangun dari lamunannya.. Ia memang harus segera bangun dari lamunanya yang membingungkan itu... Ia lalu berjalan mendekati Tsunade.. "Tsunade-san, siapa nama pasien tadi?"

"Gomenasai Sasuke-san, etika seorang dokter adalah tidak boleh membocorkan identitas dari pasiennya.."

"Hmm, begitukah...?" Gumam Sasuke. Tsunadepun mengangguk... "memang benar, mana mungkin dia adalah Sakura. Sangat beda jauh. Haah, aku memang terlalu memikirkannya makanya aku sering berhalusinasi seperti ini. Rambut hitam dan panjang jelas bukan Sakura. Lagipula, wanita itu terlihat lebih dewasa dari Sakura.. Bangunlah Sasuke, kau harus sadar.. Mencari Sakura tidak mungkin semudah itu.."

"Oh iya, masalah pengobatan ibu anda, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Saya dan pihak departemen penyakit dalam sudah mendiskusikannya. Kami memutuskan untuk mengambil jalan oprasi. Ini tidak menjamin ibu anda akan sembuh, mungkin masih ada oprasi lanjutan. Semua masih dalam studi lanjutan.. Sebisa mungkin kami akan mengupayakan yang terbaik untuk pasien kami..."

"Sodesu ne.. Apa memungkinkah oprasinya dilakukan dalam waktu dekat ini?"

Tsunade menggeleng.. "Butuh ketenangan batin dan kesiapan ibu anda, Sasuke-san. Jika pasiennya percaya pada dokternya, maka kesempatan mendapatkan hasil yang terbaik semakin terbuka lebar. . Saya harap, ibu anda bisa menyembuhkan hatinya dulu..."

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Sakura berjalan terburu-buru menuju stasiun kereta. Hatinya terasa tidak tenang. Ia bahkan berjalan sambil menangis. Memegangi perutnya yang terasa memberontak. Sangat sakit. Perutnya sakit, hatinya pilu, dadanya sesak. Air mata bisa terasa begitu perih. Panas dan dan ingin meledak kepalanya.

Apotek? Bukankah ia harus menebus resep dari dokter Tsunade? Kesampingkan hal itu. Ada hal yang jauh lebih penting. Ia harus segera menjauh. Segera lari seperti yang selama ini ia lakukan.

Sesakit apapun yang ia tanggung. Ia akan terus lari... melarikan diri dari kisah miris takdirnya.

Bekas sentuhan dengan Sasuke tadi begitu membekas dipermukaan kulitnya. Begitu terasa setiap getaran yang ditimbulkannya. Serasa tersetrum meski sudah terlindungi pakaian. Tidak akan merasa sampai seperti ini jika tidak memiliki ikatan pemersatu. Ya, kehadiran sang calon jabang bayi di perut Sakura adalah buktinya.

Jabang bayi nan suci itu bisa merasakannya. Mengetahui jika sang ayah datang menyapa. Jabang bayi itu bergejolak ingin bertemu ayahnya. Ia merengek, menangis dalam kandungan. Memaksa ingin bertemu, memaksa ingin disapa oleh ayahnya. Bayi yang tak berdosa itu menginginkan ayahnya.

Sakura sadar betul. Ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia memang sudah sering mengalami kontraksi seperti ini. Namun kali ini sungguh, sungguh sangat sakit. Ia bahkan sampai berkeringat. Mati-matian ia mencoba menahannya di sepanjang jalan di dalam kereta menuju Kyoto.

"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya seorang petugas kereta.

"Saya baik-baik saja..." Jawab Sakura. Terlihat jelas ia sedang menahan sakit di perutnya.

"Anda berkeringat cukup banyak, Nona... Jika ada apa-apa, panggilah kami. Kami akan melayani segala keperluan penumpang kami dengan baik.."

Sakura menangguk... "Arigatou gozaimasu..."

Setelah petugas kereta pergi, Ia mencengram ujung bajunya. Mencari apapun yang bisa meringankan rasa sakitnya. Mecari sandaran. Mencari pekuat. Mencari pegangan. Mencari rasa dimana ia bisa merasa jauh lebih baik. Dimana calon bayinya itu tenang. Berhenti merengek. Berhenti menangis. Berhenti kontraksi.

Sakura mengelus perutnya yang membesar itu.. "Sayang, sudah donk.. Mama kesakitan..." Sakura berharap jika sakit yang menderanya semakin membaik... Ia menangis lagi dan lagi. Rasa sakitnya tak terkira. Begitu menyakitkan saat dirinya menyadari jika saat ini ia tengah merasakan sakit sendirian.

Sendirian!

Sendirian tanpa ada sosok, seorang yang menemani... "Maafkan Mama, sayang... Papa dan Mama tidak memiliki takdir untuk bersama. Maaf, membuatmu seperti ini..."

/

/

Setelah turun dari kereta, Sakura berjalan tertatih-tatih. Perjalanan berjam - jam di kreta sambil menahan sakit adalah COBAAN YANG LUAR BIASA! Ia harus bersyukur karena Tuhan memberinya banyak kekuatan hingga ia bisa sampai ke Kyoto dengan selamat-meski harus menahan rasa sakit di perutnya. Kontraksi yang ia alami saat ini rasanya sangat-sangat menyakitkan. Ia tak melepaskan sedetikpun tangannya dari perutnya. Mengusap, membelai, menahan. Apapun ia lakukan dengan harapan jika rasa sakit itu segera menghilang.

Namun nyatanya tidak, kontraksi yang Sakura alami justru semakin menjadi-jadi. Tidak hanya sakit, tapi sangat sakit sekali. Luar biasa sakit. Lebih sakit dari terkena tajamnya silet.

"Aku harus kuat.. sebentar lagi sampai apartemen..." gumam Sakura. Ia bahkan berjalan sambil pegangan tembok, tiang, pagar jembatan, untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Ujiannya masih berlanjut.. Di hadapannya kali ini adalah ujian yang sangat berat saat ia dihadapkan dengan anak tangga yang menggunung. Meruncing ke atas. Ia merutuki permintaannya dulu sewaktu sedang mencari apartemen. Ia meminta tempat dengan agak tinggi. Padahal Gaara dan Naruto jelas-jelas sudah melarangnya. Kenapa penyesalan selalu datang di akhir sih?

Mau tidak mau ia harus menapakinya satu per satu demi mencapai apartemennya.

Satu anak tangga...

Dua anak tangga...

Tiga anak tangga..

Tap.. tap.. tap..

Pandangan mulai buram.. kabur.. dan tidak jelas...

"Ya Tuhan... sebentar lagi, kumohon, berilah kekuatan untuk sampai di atas..."

Sakura kembali melangkahkan kaki menaiki tangga menuju apartemennya yang ada di lantai dua.

Delapan anak tangga...

Sembilan anak tangga..

..

..

..

Sakura semakin kesulitan melangkahkan kakinya. Ia naik sambil 'ngesot'. Anak tangga di hadapannya itu terlihat tidak jelas. Pandangannya memburam... Ia harus sangat berhati-hati demi menjaga kandungannya.

.

.

Dua puluah anak tangga...

...

.

Ia kesulitan menahan tubuhnya..

.

Tiga puluh anak tangga...

.

,

Akhirnya sampai juga...

Sakura berpegangan dengan gagang pintu agar membantunya berdiri. Setelah itu ia mengambil kunci di dalam tasnya. Saat ia ingin membuka kunci itu, kunci itu terjatuh. Ia kembali tertatih saat mengambilnya. Dengan sangat susah payah, kunci pintu apartemen akhirnya terbuka juga. Sakura langsung memasukinya sambil pegangan tembok apartemen.

Sungguh.. pandangannya semakin kabur..

Semakin buram..

Semakin tidak jelas...

Untuk menyalahkan lampu apartemenpun ia tak sanggup..

Sakura mencari tempat duduk.. ia bahkan tidak bisa menjangkau sofa yang ada di ruang tamu. Ia hanya berhasil menggapai depan sofa. Ia duduk di lantai sambil bersandar pada sofa.

Ia memijat kepalanya.. Ia mengelus perut buncitnya.. Rasa sakitnya yang luar biasa itu sudah mencapai batasnya. Ia sudah tak mampu lagi untuk menahannya. Ini lebih dari sekedar sakit. Sangat sakit. Sakitnya tak terkira. Menjalar kemana-mana. Ia merasa tidak tahu bagaimana cara menjelaskan bagaimana rasanya. Terlalu sakit..

Pandangannya menggelap..

Semakin gelap..

Mou, sudah cukup.. Sakura sudah tidak mampu menahannya... Ini adalah batas kekuatannya...

sudah tak sanggup..

sudah tak mampu..

ia kehabisan tenaga..

semua terasa semakin memburam..

mengabur...

.

.

Mata terlelap begitu saja..

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Yuuichirou berjalan riang menuju apartemen Naruto-Sakura-Gaara. Ia sangat senang karena ia ingin memberikan buah organik segar langsung dari kebun kakeknya. Ada semangka, ada buah persik, dan ada juga buah apel. Buah-buahan itu sangat penting bagi ibu hamil. Sudah begitu, Sakura juga menyukainya. Ia menjadi tidak sabar saat melihat senyuman sahabatnya itu.

"Aku tak sabar melihat ekspresinya.. apa dia akan bilang.. 'buah-buahan segar. Yuu terimaksih. Aku menyayangimu. Kau adalah sahabat terbaiku...' saat itu akan merekamnya dan memamerkannya pada Naruto jika aku ini adalah sahabat terbaik Sakura. Haahahahha..." Kata Yuuichirou gaje. Semakin ia bersama Sakura, semakin ia pula menemukan arti dari sebuah persahabatan.

Yuuichirou kembali melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Naruto-Sakura-Gaara.

.

.

Tak butuh waktu yang lama untuk sampai di apartemen itu.. Nyatanya memang apartemen itu tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Bagaimana tidak, Yuuichirou adalah orang yang merekomendasikan apartemen itu. Apartemen itu adalah apartemen sewa milik pamannya, yang seorang tentara, namanya Guren. Tapi ia memaksa pamannya itu untuk menjualnya kepada Naruto. Pamannya langsung menyetujuinya.

Kini, Yuuichirou sudah bediri di depan pintu apartemen Naruto-Sakura-Gaara. Ia lalu membunyikan bel apartemen.

Ting tong.. ting tong... berkali-kali ia mencobanya.

"Kata Naruto dia ada di apartemen.. Ini bocah lagi di WC apa ya?" Kata Yuuichirou. Ia kembali menekan bel apartemen.

Ting tong.. ting tong...

Merasa sedikit kesal karena tak segera di buka, ia kahirnya mencoba membuka sendiri.

"Are.. tidak dikunci? kuncinya bahkan di luar.. Ini bocah teledor amat, bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk? Aku tau kau kuat, Sakura.. Tapi kau lemah dengan kondisimu yang sekarang. Mengandung delapan bulan pasti sangat menyulitkan pergerakanmu..." Gumam Yuuichirou. Ia lalu membuka lebar pintu apartemen itu... "Sakura?... Sakura? Kau ada dimana? Aku membawakanmu buah..." Panggil Yuuichirou.

Yuuichirou lalu masuk lebih dalam setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu.

"Laampu mati?" Yuuichirou mencari saklar lampu dan menyalahkannya.

Ia melihat sepatu milik Sakura yang tak terpasang pada tempatnya. Ia hanya heran, ini bukan gaya Sakura karena biasanya sahabatnya itu akan cerewet jika ada yang meletakkan sepatu sembarangan. Ia ingat bagaimana Sakura memarahinya waktu itu.

"Haah, aku akan gantian memarahimu karena kau sendiri tidak rapi, Sakura! Dasar..." Yuuichirou merapikan sepatu milik Sakura dan meletakkannya di rak sepatu. Ia kemudian berjalan menuju ruang utama apartemen itu... "Sakura?..." Panggilnya lagi... "Apa dia sedang mandi? Memasak?..." Yuiichirou berargumen dengan opininya sendiri.

Saat Yuuichirou mau meletakkan kresek yang berisi buah ke atas meja, ia langsung melihat Sakura yang sedang duduk di lantai. Yuuichirou berfikir jika Sakura sedang ketiduran.

"Jika kau tertidur seperti ini, di bawah, di lantai.. kau bisa sakit, baka!" Iapun mendekati Sakura. Ia meletakkan bawaannya dan juga tasnya. Yuuichirou mencoba tenang. Dan mencoba membangunkan Sakura dengan lembut...

"Sakura..." Yuuichirou menepuk pelan pipi Sakura... Tidak ada jawaban.

"Sakura..." Panggilnya lagi... Lagi.. tak ada jawaban.

Saat ia ingin menggendong Sakura untuk memindahkannya ke tempat tidur. Ia menyadari jika Sakura sedang pingsan sambil duduk. Sakura tak bergeming dengan sentuhannya. Itu pasti keadaan yang tidak sadar, bukan tidur.

"Sakura.. Sadarlah..!" Yuuichirou mulai khawatir. Seumur-umur, ia belum pernah menangani orang pingsan apa lagi live di depan matanya seperti ini.

Yuuichirou yang panik langsung memeriksa kening Sakura. Panas. Sangat panas. Apa Sakura demam?

Ia lalu mencoba memeriksa tubuh yang lain. Saat itu ia mendapati ada genangan air di bawah rok milik Sakura. Parahnyanya lagi, hampir membuatnya shock setengah mati, ia melihat ada darah mengalir di sepanjang kaki Sakura.

.

.

.

"SAKURAAAA?"

.

.,

.

.

To be continue...

Bersambung.. bung.. bung... bung..

Hahhaa...

...

.

.

.

Maksudnya apa coba?

"SAKURAAAAA..."

Eh malah bersambung... hahahha,, diterima aje ye..

Maaf banyak typo. Bagaimanapun saya adalah insan manusia biasa, tidak memiliki kesempurnaan sejati yang selalu luput akan kesalahan..

Hehehe..

.

.

BTW, mau tebak-tebakkan endingnya gimana? Kalau ada yang bener, hadiahnya aku buatin one shoot cerita dengan nama dan chara idola kamu... buat satu orang aja ya.. insyaalloh, ceritanya gak ngasal kok.. pake hati.. heheheh.. Tapi jawabannya yang bener ya.. jangan jawabnya kayak takdir.. seperti sakura pasti ma sasuke, atau sakura ma gaara deh.. ya pokonya sedikit memakai alur.. kayak... mungkin anak sakura mati, terus sakura deprsesi bla bla bla gt...

.

.

Thanks sudah mampir..

Thanks sudah baca..

Sumangga jika mau napak tilas...

.

.

.

Bye bye...

Jaa..