Chapter 22

. Tamat part 2

.

.

Thanks banget teman-teman yang udah baca ceritaku, yang udah review juga. Banyak terkaan rupanya. Sumonggo dinilai bagaimana sukanya kalian..

.

.

Apa kisah ini terlalu menyedihkan? JADI COCOKNYA BERAKHIR MENYEDIHKAN JUGA? HAHAHAHA

Aku juga kasihan ma Sarada yang nasibnya ditinggal bapaknya mulu. Duh, dasar bang toyib Sasuke mah... XD

.

.

Authornya lagi mellow yellow, bawaannya sedih mulu. Huh, ceritanya mau ditinggal Ayahku liburan ke Bangka Belitung jenguk cucu. Haah... doanya muga selamat sampai tujuan.. amiiin..

.

.

Udah chapter 22, kayak Sakura's Love Story, yuk absen, kalian darimana aja?.. Adakah dari Indonesia Timur? Barat? Tengah?

.

.

.

Udah ah bacotnya, kasihan udah gak sabar. Silahkan dinikmati. Awas yang di bawah umur, resiko bukan aku yang nanggung. Udah diwarning di judul. Ini rate M, meski begitu aku rasa tidak begitu vulgar. Lagian aku mengutamakan ecrita bukan nafsu.. huh..

/

.

Dozo minna...

.

.

.

LIKE A FOOL

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,

Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort

.

Rated: M, Ecchi? Harem?

memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD

sok alim jarene…

rapopo…

.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD

ALUR SINETRON

.

.

===========ITADAKIMASU==========

..

.

.

Tokyo, pukul 15.00

Naruto menjemput langsung keponakannya yang manis itu, Sarada. Ia menggendong Sarada dengan bahagianya. Dalam hati iaingin sujud syukur, Sarada itu anak Sasuke,tapi Sarada menjadi fans sejatinya. Ia ingin menangis karena terharu mengingat bagaimana kelakuan bapaknya.

Sesuai janjinya, Naruto mengajak Sarada jelan-jalan ke kantornya. Departemen Kementrian Jepang. Makan ramen bersama, ketaman kota, Tokyo Tower. Selama bersama Naruto, Sarada merasa sangat bahagia. Pamannya yang satu ini memang bisa saja membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.

"Milih aku apa paman Yuu?" Tanya Naruto.

"Paman Naruto." Jawab Sarada.

"Yess..."

"Tapi kalau sedang jalan-jalan dengan paman Yuu, aku milih paman Yuu.."

"Sarada.."

"Hehehe, tapi aku menyayangi semuanya. Mama, Ayah, Paman Naruto, Bibi Ino, dan juga paman Yuu.. Kalian semua adalah keluarga Sarada. Tidak butuh yang lain."

Naruto tersenyum maksa. Sesuai kata Gaara, Sarada memang sangat sulit menerima ayah kandungnya. Mau bagaimana lagi, anak seusia Sarada masih labil. Ayah kandungnya tak ada sejak lahir, sudah pasti memiliki pemikiran negatif, kan?

Setelah puas jalan-jalan, mereka kembali ke hotel dimana Gaara menginap. Hotel itu adalah hotel milik keluarga Ino, tempat yang akan digunakan untuk Ino bertunangan dengan Sai. Ya, tujuan Gaara dan Sarada ke Tokyo adalah untuk menghadiri pesta pertunangan Ino dengan Sai.

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

Tokyo International Hospital, 07.15 pm

Pertama-tama membuka bagian tulang belakang dan meminta retractor. Tumor ada di bagian spinal, langkah terbaik adalah dengan membedah tulang belakangnya. Masuk melalui tulang belakang adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tidak semua dokter bisa melakukannya. Melakukan kesalahan sedikit saja, pasien bisa kehilangan indra perasanya. Terutama di daerah leher.

Operasi bedah ini dilakukan oleh dua orang dokter ahli rumah sakit utama di Tokyo. Seorang dokter senior dan seorang dokter muda. Mereka saling bergantian melakukan tugasnya. Salah seorang dokter melihat menggunakan microscope untuk membuka C2-C5 tulang belakangnya. Sangat hati-hati, jangan sampai menyentuh dalam arterinya.

"Kau mengertikan resikonya?"

"Hai, wakarimasu.."

"Tumornya sangat dekat dengan area spinal, mau tidak mau kita harus menyentuh sarafnya untuk mengankat tumor tersebut.."

Dokter muda itu kembali melihat melalui mircoscopenya. Ia melihat tumornya. Keringat di pelipis mulai megalir. Seorang suster mengelapnya.

"Kau bisa melakukannya?"

"Hai."

"Kau terlihat gugup, jangan memaksaan diri!"

"Saya tidak apa-apa, sensei.."

Dokter muda itu mengambil nafas dan mengelurkannya perlahan. Tangannya yang tadi sempat gemetaran mulai membaik. Gugupnya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Dengan gerakan pasti dan keputusan mantap, ia mulai mengangkat tumor itu.

Tut.. tut.. tut... suara detak jantung alat cardiograpf menjadi alunan melodi di ruang operasi. Menandakan betapa genting dan seriusnya suasaan saat ini.

Sangat hati-hati..

Pelan-pelan..

Sedikit demi sedikit..

Dua dokter serta beberapa asisten suster menghela nafas leganya. Operasi pengangkatan tumornya berhasil. Namun nyatanya tak sampai beberapa saat kemudia, terdengar suara dari layar monitor. Dokter senior melihat adanya pendarahan. Dokter senior sudah tahu jika hal seperti ini pasti akan terjadi mengingat bagaimana letak tumor itu bersarang. Pendarahan adalah hal yang tak bisa dihindari.

Dokter senior itu meminta kasa dan menempelkannya, sementara dokter muda itu terlihat cukup ketakutan. Meski ini bukan operasi pertamanya, namun saat ini adalah salah satu operasi tersulit yang pernah ia lakukan. Ia tidak boleh membuat kesalahan sekecilpun. Pasiennya sudah percaya padanya, maka ia akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasiennya.

Kini gantian dokter senior yang mengambil alih pendarahan itu. Dia memang sudah sangat ahli dalam bidangnya, operasi ini memang sangat sulit, maka ia akan berusaha lebih keras lagi. Setelah dokter senior itu melihat pendarahannya, ia mengeluarkannya dan meminta biopsi. Dokter muda itu kembali tegang karena pendarahannya tak kunjung berhenti, dokter senior kembali menempelkan kasa di pendarahan itu.

Dokter senior kembali melanjutkan pembedahan, dokter muda melihat ke arah monitor dan memberitahu jika hal ini membuat saraf pasien terpengaruh. Dokter senior meminta cottonoid.

Dokter muda itu terus mengawasi layar monitor. Mereka tidak bisa banyak berbuat karena harus menangani pendarahannya dulu. Di luar ruang operasi, keluarga pasien menunggu dengan tegang dengan perasaan cemas campur aduk. Berharap jika operasinya lancar. Tumor menghilang dan sembuh total tanpa ada cacat yang diderita. Ayolah, manusia selalu mengedepankan keinginan egoisnya. Wajar, apapun itu hanya untuk orang yang disayangi.

"Sensei, pendarahannya berhenti.."

Mereka tersenyum.

"Otsukaresama deshita..."

"Kau melakukannya dengan baik tadi, terima kasih sudah membantu.."

"Senseilah yang menyelesaikannya... arigato gozaimasu.."

.

.

Dokter muda itu kembali ke ruangannya. Ia melepas jas dokternya dan meletakkannya di kursi kerjanya. Ia meregangkan otot-ototnya yang tersa sangat kaku. Sungguh, lima kali operasi hari ini membuat tenaganya terkuras habis. Jangankan itu, buat makan saja ia tak sempat. Banyak dokumen yang harus ia periksa. Belum lagi jurnal jurnal riwayat pasiennya juga perlu ia observasi.

Ia menggerakkan lehernya. Menekuk ke kanan dan ke kiri. Ia memijat pundaknya sembari menganalisa jurnal pasiennya. Banyak sekali yang harus ia tangani, meski melelahkan tapi ia menikmati pekerjaannya itu. Menyelamatkan orang dan mendapat ucapan terima kasih adalah hal yang membuat hatinya bahagia.

Ia sungguh terlarut dalam pekerjaannya sampai akhirnya ia terkaget karena ada yang membuka pintu ruang kerjanya.

"Setidaknya ketuklah pintu, kau mengagetkanku!"

"Lupa.."

"Kau ini.."

"Ini.." Si tamu yang juga seorang dokter itu meletakkan minuman kaleng dingin di depan dokter muda itu... "Kudengar operasinya berhasil. Kau hebat sekali, Sa-ku-ra..." kata si tamu, Yamanaka Ino, seorang dokter kandungan.

SA-KU-RA

SAKURA..

Sa-ku-ra, ya Sakura. Dia adalah Sakura, dokter muda yang terkenal karena kehebatannya. Tidak, dia sungguh jenius terutama soal bedah. Mendapat predikat terbaik di jurusannya dan mulai mendalami bedah saraf. Lulus dan mendapatkan gelar dokter dengan waktu yang singkat. Kemampuannya sudah diakui oleh dokter senior di seluruh penjuru Jepang. Ia juga melakukan banyak tesisi mengenai banyak penyakit. Membuatnya mendapatkan beasiswa belajar di luar negeri meski hanya sebentar.

Sakura sangat Menggilai pekerjaannya itu dan sering tidur di rumah sakit.

"Terima kasih untuk minumannya, Ino... Tapi aku masih perlu mempelajari banyak hal."

Ino menyandarkan pantatnya di meja Sakura. Ia meminum minuman kalengnya.. "Kau menjadi begitu terobsesi soal bedah dan pembedahan setelah mengetahui keadaan ibumu. Itu baik karena kau termotivasi akan hal itu, kau yang tak suka belajar bisa menjadi seperti ini... Namun, di sisi lain, kau harus mengorbankan waktumu. Ne Sakura, apa kau tak merindukan anakmu?"

Sakura terperanjat. Ada udara yang menyesakkan di dadanya. Ia menoleh ke foto di dalam bingkai yang ia letakkan di meja kerjanya. Foto Sarada, anak semata wayangnya. Sarada berpose sambil memeluk boneka rilakuma hadiah darinya waktu ulang tahun. Senyum polos anak kecil usia enam tahun itu begitu polos. Sangat berbeda semenjak 4 bulan terakhir ia menemuinya. Setelah ia study banding ke luar negeri, anaknya itu menjadi begitu dingin sikapnya. Meski padanya tidak, namun jika seperti ini, sungguh, anaknya itu semakin mirip dengan ayahnya saja. Semakin ia melihat dan bresama anaknya, semakin ia mengingat ayahnya. Dan rasanya sangat menyakitkan.

Bukan berarti ia tak menyayangi anaknya hanya karena anaknya sangat mirip dengan ayahnya, ia sungguh mencintainya, baginya anaknya adalah segalanya. Hanya saja, jika ia terlintas mengenai kenangan soal ayah Sarada, ia seperti merasakan ada jutaan duri menusuk hatinya. Begitu sakit, begitu perih. Jika ia menangis di depan anaknya, maka anaknya akan semakin membenci ayahnya, ia tak ingin Sarada membenci ayahnya, tapi ia juga tak ingin Sarada bertemu dengan ayahnya.

Ia memang egois.

Sakura sudah memutuskannya. Langkahnya adlah yang terbaik. Ia tak ingin usahanya pudar. Sudah sepuluh tahun berlalu, semua tak lagi sama. Masa lalu adalah masa lalu, jika anaknya bisa tersenyum, maka Sakura akan memberikan tempat itu. Ia akan membangun tempat dimana Sarada bisa tertawa bahagia.

Ino hanya mengamati sahabatnya yang menunduk itu... Ia menghela nafas. "Sarada pasti sangat merindukanmu."

"Aku sering meninggalkannya karena pekerjaanku, apa dia akan memaafkanku?"

"Kau dari dulu tak pernah berubah, selalu saja bodoh. Jika kau tak bilang apa yang kau rasakan, maka akan seperti ini terus. Sarada itu sangat menyayangimu, dia hanya tak ingin membuatmu khawatir. Harusnya kau bangga padanya yang berusaha dewasa dan tidak egois demi dirimu..."

Sakura tidak tahu jika Sarada sering menyalahkan ayahnya karena jarangnya waktu ia bertemu dengan ibunya. Meski begitu, Sarada hanya mengeluh pada Gaara dan paman bibinya. Tidak pernah pada Sakura. Mungkin Sarada tahu jika ia tak ingin membebani ibunya.

"Dia jauh lebih dekat dengan Gaara-kun daripada denganku..."

"Haha, benar juga. Gaara memang ayah yang baik.. Dia selalu mengajari sikap dewasa pada Sarada. Anak itu sungguh lengket padanya. Jadi iri.."

"Dia juga menyayangimu, Ino."

"Hm, tapi ia selalu kabur saat ingin aku dandani. Huh, anak cewek itu harus cantik kawaii..."

"Dia sepertinya tak memiliki imej terlalu feminim. Lebih suka kasual dan biasa saja. Lagian, dia juga cenderung dingin sikapnya.."

"Benar, sungguh sangat mirip dirinya ya.."

"Aku tak ingin membahas dirinya."

Selalu seperti ini. Sakura sama sekali tak ingin dikaitkan dengan Sasuke. Ino tahu, mungkin Sakura sedang berusaha melupakan Sasuke. Tapi bagaiamapun, Sasuke adalah ayah biologis Sarada. Sakura memang tak menutupi kenyataan pada Sarada jika Sarada memiliki ayah kandung, tapi ia tak berharap apa-apa soal Sasuke. Ia hanya tak ingin membohongi anaknya saja. Nyatanya, sarada juga tak begitu tertarik dengan ayahnya. Semua sudah cukup, Sarada sudah cukup untuk hidupnya.

"Hai, hai... Sarada sudah di hotel milik keluargaku, dia sedang tidur. Gaara yang memberitahuku. Kau tak membuka ponselmu ya? Dia bahkan sampai menyuruhku untuk memberitahukannya kepadamu.."

Sakura langsung membuka ponselnya. Benar saja, banyak pesan dari Gaara yang isinya semua kegiatan yang Sarada lakukan hari ini. Ia sungguh ingin menangis karenanya. Ia melakukan kesalahan lagi. Kenapa ia melupakan anaknya?

"Pulanglah, temui dia! Kau sudah bekerja keras, kau mendapatkan cutimu! Habiskan waktu dengannya, besok di pesta pertunanganku! Ok.."

"Hn, arigato, Ino.."

.

.

.

Sakura membenarkan selimut Sarada. Ia lalu mengecup kening anaknya. "Tadaima, Sarada... Oyasumi.."

"Mama..mmmmmm..." Igau Sarada.

"Sa-Sarada? Maaf... Maafkan Mama, sayang...".. Sakura lalu menangis dan kembali mengecup kening anaknya. Sungguh, ia merasa menjadi ibu yang begitu jahat pada anaknya.

.

.

.

Like a Fool

.

.

.

The Next Day when Pesta Pertunangan di Mulai... Yamanaka Hotel, pukul 19.00

Berbicara adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Dengan berbicara, dibumbuhi rasa kejujuran, maka semua yang mengganjal di hati akan mudah sudah membuktikannya, dan anaknya sangat mengerti. Di luar dugaan Sakura, Sarada adalah anak yang berfikir dewasa. Ia sungguh berterima kasih pada Gaara, laki-laki itu mendidik Sarada dengan sangat baik.

Tamu-tamu undangan mulai memenuhi ruangan pesta. Terkagum-kagum dengan indahnya dekorasi pesta yang disuguhkan. Bau bunga asli bertebaran. Tumpukkan minuman membentuk kerucut. Berbagai makananpun juga begitu menggoda. Mas Chouji dan Mas Kiba sudah patroli kesana kemari. Sudah 10 tahun berlalu, banyak hal telah berubah. Fisik terutama. Begitupun dengan Sakura, wanita 28 tahun ini juga jauh berbeda dengan penampilannnya 10 tahun yang lalu. Ia memangkas rambutnya menjadi lebih pendek. Dulu rambutnya bergelombang, kini lurus terjatuh.

Bahkan saat Sakura bertabrakkan dengan Chouji, Chouji tidak menyadari jika itu adalah Sakura. Mungkin Chouji saja yang terlalu sibuk berburu makanan sampai-sampai teman seperjuangannya jaman SMA dilupakan. Tidak, itu malah jauh lebih baik. Semua justru akan baik-baik saja jika mereka tak menganngap dirinya ada. Kabar dirinyamenghilang sepuluh tahun yang lalu pasti didengar teman sekelasnya.

"Fiuuuh, untung aku memakai rambut palsu..." Ya, pada akhirnya ia kembali menyamar.

Acara pertungan berlangsung secara meriah. Yamanaka Ino resmi bertunangan dengan Shimura Sai. Pacaran sepuluh tahun lebih hasil comblang dari Sakura. Ino tidak akan melupakan jasa Sakura yang mengubah hidupnya menjadi lebih indah. Menjadi teman hidup Sai adalah impiannya sejak dulu.

Semua tamu undangan bertepuk tangan menyambut resminya pertungan Ino dan Sai. Sakura menangis terharu. Akhirnya, sahabat terbaiknya mendapatkan kebahagiaan dan akan bertambah bahagia ketika hari pernikahan itu tiba. Mengingat hal itu, Sakura teringat pada impiannya dulu. Dulu ia bermimpi ingin menjadi seorang pangantin yang cantik dan menikah dengan seorang pangeran. Dalam benaknya dulu, sang pangeran itu adalah Uchiha Itachi, kakaknya sendiri. Habisnya, kakaknya yang sister complex itu begitu menyayanginya. Jika mengingat jaman dulu, ada rasa bahagia meski rasanya ada juga rasa seperti ketika tertusuk duri. Semua sudah sirna dan hanya ada dalam kenangan.

"Maaf, aku tak bisa menemui teman-teman kita..." Kata Sakura.

"Tidak apa-apa, secara fisik memang banyak berubah, tapi kekonyolan masih sama. Kelas A sekali..."

"Kalau kau masih merindukan mereka, berbaurlah! Acara sudah selesai, aku juga sudah menemui Ino dan Sai untuk mengucapkan selamat, sepertinya aku akan mencari Sarada dan kembali ke kamar.."

"Wajahmu sangat pucat, kau kerja gila-gilaan akhir-akhir ini. Sayang sekali, padahal sebentar lagi ada dance party... Kau kembali ke kamarmu saja, aku yang akan mencari sarada, dia tadi bersama Yuu..."

"Terima kasih, Gaara-kun... Oh iya, kalau Naruto nari Turun Naik atau ke Kanan Kiri, tolong rekam dan perlihatkan ke Sarada ya.,.."

"Hoho, kau cemburu karena mereka begitu dekat?"

"Tadi Naruto bilang mau melamar Sarada! Huh..." Waktu Sarada selesai di dandani dan memakai gaun putih indah pemberian Naruto, Naruto langsung berlutut dan ingin menikahi Sarada. Sakura langsung memukul kepala Naruto. Meski Cuma bercanda, tapi kesal juga..

"Hahahaha... Baiklah, baiklah... Tapi ketahuilah Sakura, Sarada tidak akan ilfeel hanya karena tingkah konyol Naruto, anak itu menyukai Naruto karena Naruto memiliki mimpi yang besar.."

"Kau benar. Perdana Menteri Jepang desu ne..."

.

.

.

SAKURA'S POV

Aku menekan tombol angka 8, disanalah kamarku menginap. Ketika aku sampai di lantai 8, aku melihat ke sekitarku. Ahh, sepi sekali. Di bawah sedang ada pesta, hotel ini milik keluarga Ino, sudah pasti hampir seluruh kamar utama tidak disewakan. Dan lantai 8 adalah khusus untuk tamu undangan. Yang aku tahu, isinya hanya orang-orang berjas dan berpakaian mewah. Apa mereka kolega paman Hiashi?

Dasar holang kaya..

Tap.. tap.. tap.. oh Tuhan, sudah lama tidak pake high heals 15 cm, rasanya kakiku akan patah saja. Pegal sekali. Aku menunduk dan memeriksa kondisi kakiku. Aku memijatnya pelan. Lirik sana, lirik sani.. OK, tidak ada orang yang lihat. Hahaha, enak saja, gini-gini aku adalah wanita yang harus menjaga pride of women. Huhu...

Aku kembali melanjutkan jalanku menuju kamar 212, ya itu nomor kamarku. Wiro Sableng. Iya, aku sempat menontonnya beberapa waktu yang lalu. Dan itu keren. Tunggu, sejak kapan aku mulai menyukai hal-hal yang konyol seperti ini? Hmmm... aku ingat, Naruto bilang padaku dulu, 'jika kau sedih dan tak tersembuhkan, cobalah untuk tersenyum.' Dan dia menunjukkan wajah konyolnya di depanku. Aku tertawa sampai perutku sakit, 'tersenyum mudah kok, tinggal bagaimana kau mengesampingkan lukamu. Jangan pikirkan luka melulu, banyak hal bahagia yang sayang jika kau tidak menikmati. Dunia ini indah, hidup hanya sekali, nikmati apa yang ada dan selalu bersyukur'. Siiip, Gaara-kun wa saikoooo...

Kaki pegal dan wig ini terasa panas. Maklum saja, aku sudah menggunakannya cukup lama. Haruskah aku melepaskannya? Tak apa, sudah tidak tahan.

Aku melepaskan wig rambut hitamku. Aku merapikan rambutku. Panas.. lembab juga. Jadi ingin keramas.

Kini aku sudah berdiri di depan kamarku. Aku mengambil kartu kunci kamarku. Menempelkannya pada detektor di pintu kamarku. Klik. Kunci pintu terbuka.

Tunggu...

Are...

Aku harus segera masuk ke kamar, menunggu Sarada kembali, dan lekas tidur. Tapi..

Tapi kenapa langkahku terhenti?

Nafas...

Nafas..

Nafas..

Aku merasakan hembusan nafas ditengkukku..

Nafas itu semakin lama semakin tak teratur..

Semakin dekat dengan belakang kepalaku..

Si-siapa di belakangku?

Bukanya tadi tidak ada orang? Jika ini ulah konyol Naruto, aku pasti akan memukulnya seperti dulu waktu dia menakut-nakutiku saat di apartement Kyoto. Aku sampai berlari syock nabrak meja dan kakiku terluka.

Aku mencoba membalikkan badanku? Aku akan memukul Naruto. Aku mengepalkan tanganku. Aku berbalik dan langsung mengayunkan kepalan tanganku untuk segera memberi pelajaran pada Naruto.

Namun..

Shhhheeeekkkk...

Tanganku tertahan. Ada tangan kekar yang menahan lenganku. Dia...

Tubuh jangkung itu...

Wajah itu.. mata itu...

Rambut raven itu..

.

.

.

Aku menjatuhkan wig yang ada di tanganku..

.

.

.

"Sa-Sasuke?"

.

.

.

END OF SAKURA'S POVE

.

.

.

"Sakura... Ketemu juga kau." Kata sasuke.

Sakura membeku. Membatu seperti kehilangan nyawa. Ia ingin terkulai, ia ingin berlari, tapi kakinya mengeras, memaku untuk tetap menatap mata itu di depannya. Mata itu yang selalu mengikat dirinya. Menahannya dan tak bisa dialihkan. Seperti menyedot energi kehidupannya.

Kenapa ia harus bertemu dengan Sasuke lagi?

Bukankah Ino berjanji untuk tidak mengundang Sasuke ke acara pertunangannya? Lalu?... Sai kah itu?

Sasuke banyak berubah meski wajah tampannya tak lekang oleh waktu. Hanya rahangnya semakin tegas khas laki-laki dewasa dan juga model rambut yang berbeda. Rambutnya lebih panjang dari sebelumnya. Rambut buntut ayam itu sudah tidak ada. Tapi meski begitu, Sakura tahu jika Sasuke kali ini jauh lebih tinggi dan lebih... kurus.

Apa Sasuke tidak makan dengan baik? Apa Sasuke tidak bisa mengurus dirinya setelah ia pergi? Apa Sasuke tidak hidup bahagia selama ini? Dan juga... sejak kapan laki-laki yang maniak kesehatan ini merokok? Ada bau asap rokok sengak-sengak terciup hidungnya. Sungguh, Sakura tidak tahan akan bau asap rokok itu. Membuat dadanya sesak dan matanya berair.

Tuh kan, ia menjadi menangis... Karena asap rokok atau... Lupakan itu, kenapa ia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada Sasuke? Bukankah selama ini ia enggan membahas soal Sasuke, apapun itu? Cih... Semakin ia mencoba melupakan, semakin tak terlupakan. Inikah rasanya?

Dengan masih memegang lengan Sakura, Sasuke mengamati wanita di depannya itu. Sambil menyesap rokoknya, mengembuskan asapnya. Wanita yang hidup dengannya sejak kecil. Wanita yang diakui sebagai adik angkatnya. Wanita yang selalu bersamanya. Wanita yang dulu sangat ia cintai. Wanita yang ia tiduri dengan paksa hanya karena ketololan cinta yang tak tersampaikan. Wanita yang lebih dari sepuluh tahun yang lalu meninggalkannya tanpa pamit, kini berdiri sambil menangis di depannya.

Air mata itu lagi..

Cih.. Sakura selalu dibuat tangis olehnya.

Jika ingat itu, kenapa ia malah menjadi lebih senang? Ini memang gila, Sasuke merasa jika Sakura menangis karenanya adalah salah satu hal yang membuatnya bahagia. Otak jenius Sasuke bilang, itu berarti Sakura memikirkannya.

Sudah sepuluh tahun lebih berlalu ketika terakhir ia melihatnya di bandara Tokyo, Sakurapun mengalami banyak perubahan. Jauh lebih dewasa khas wanita pada umumnya. Model rambutnya berubah total. Tubuhnya masih tetap langsing. Sakura selalu nampak cantik di matanya. Kulitnya semakin lembut, Sasuke bisa merasakannya lewat genggaman tangannya. Ia juga bisa merasakan jika Sakura tengah gemetaran.

"Kau hanya diam saja, mari kita bicara!" Sasuke menggeret Sakura masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia langsung menutup pintu kamar itu. Ia lalu menghempaskan Sakura ke ranjang. Sakura memegangi pergelangan tangannya yang cukup nyeri karena ulah Sasuke. "Jika aku bertanya, kemana saja kau selama ini, kau pasti enggan menjawabnya, kan?"

"..."

"Atau aku bertanya, kenapa kau meninggalkanku tanpa alasan pasti, kau juga tak akan menjawabnya, kan?"

"..."

"Kenapa tidak pamit?"

"..."

"Kenapa tiba-tiba?"

"..."

"Kau pasti juga tidak akan menjawabnya!"

"..."

"Sudah aku duga, Kau memang selalu seperti ini."

"..."

"Kau tidak akan pernah bicara hanya dengan gaya komunikasi langsung seperti ini..." Sasuke melempar rokoknya ke lantai dan menginjaknya agar apinya mati, ia lalu menyisingkan kedua kemeja putihnya. Ia melepaskan dasinya dengan asal dan membuka kancing kemejanya. Menampilkan bentuk tubuh sixpeck sempurna seorang Uchiha Sasuke. Ia kemudian mendekati Sakura yang tengah duduk di ranjang. Ia lalu meraih dagu Sakura. Ia membelainya perahan. "Mata emerlad yang menangis semakin membuatnya terlihat berkilau. Mata yang indah.."

"A-apa yang ingin ka-kau lakukan?"

"Sudah kubilang, kan? Kita akan berbicara dengan cara kita.." Sasuke langsung mencium bibir Sakura. Kasar. Sama. Seperti. Dulu.

Klise.

Sakura berusaha mendorong Sasuke, tapi sasuke justru mendorong keras Sakura hingga tiduran di ranjang. Sasuke menindih Sakura. Sakura kembali mencoba menjauhkan tubuh Sasuke darinya... "... Hah, hah, hah... Jangan!"

"Jangan?"

"Cukup Sasuke!"

"Cukup?"

"Hentikan!"

"Hentikan?"

Sakura meremas keras kemeja putih milik Sasuke. "Hiks... Kumohon.."

"..."

"Kumohon, jangan lakukan ini lagi!"

Sasuke membelai rambut pink Sakura. Lembut. Ia lalu mencium helain rambut itu. "Bau shampoo yang sama." Sasuke lalu menyesap leher Sakura... "Bau parfum yang sama.."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Kau yang selalu melakukannya!"

"Gomen."

"Gomen? Setelah sekian lama?"

"Gomenasai, Sasuke. Aku memang tak bisa menjelaskannya."

"Jangan bercanda!"

"Maafkan aku..."

"..."

"Sasuke-nii..."

"-Nii? Cih..." Sasuke sangat tidak suka jika Sakura memanggilnya dengan sebutan kakak.

"Maafkan aku, Sasuke..."

"Aku tidak butuh kau tahu bagaimana beratnya perjuanganku mencarimu selama ini! Kau sudah kembali, maka sudah tidak apa-apa lagi sakitnya." Sasuke memegang dadanya. Tangannya juga gemetaran. Sakura menyadarinya. Sebegitu terlukanya kah hati Sasuke karena ulahnya?

"Sasuke?"

Tes.. tes... Sasuke menangis? Sakura melebarkan matanya. Sasuke bisa menangis? Di hadapan orang lain? Di hadapannya? Ini adalah peristiwa langka! Sangat langka!

"Kau sudah kembali, sudah tidak apa-apa.." Sasuke mengulangi kata-katanya. Ia kembali menciumi bibir Sakura.

Sakura kembali mencoba menjauhkan diri dari Sasuke, tapi kedua tangan Sasuke memenjarakannya. Mengapitnya tanpa celah untuk melepaskan diri. Sakura sama sekali tak membalas ciuman yang semakin kasar itu. Ia hanya bisa menangis. Dalam hati ia merutuki betapa lemahnya ia di depan laki-laki ini. Laki-laki yang sangat dicintainya. Membuatnya tak berdaya.

Meski hanya ciuman, namun rasanya bagai jutaan duri menusuk hati. Luka kecil dan bertubi-tubi. Menembus setiap dinding relung hatinya. Dalam dan semakin dalam. Membuat luka lama kembali menganga. Sudah menganga, tersiram air garam pula. Ta-pi sayang, kali ini sungguh lebih menyakitkan.

Mereka berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Menyalurkan jutaan luapan emosi yang terpendam. Luka dan bahagia yang menyatu tanpa sekat. Antara nyata dan khayal, terlalu samar. Jika ini mimpi, maka Sasuke enggan bangun. Namun, pengakuan nyata adalah fakta. Sakura nyata di dalam genggamannya.

Bagai terhipnotis hawa nafsu yang menyesatkan. Bodoh dan tolol itu sama saja. Terjebak di dalam kenikmatan setan yang menyesakkan. Membiarkan diri semakin larut di dalamnya. Lagi dan lagi. Semakin terjebak jaring dosa yang menyekat. Padat dan semakin kuat. Susah untuk melepaskan. Semakin berontak, semakin terjerat. Mencoba menerima, luka penderitaan semakin terasa. Mencoba bersikap netral, justru terasa terombang-ambing tak karuan.

Tuhan pasti melihat keduanya. Melihat bagaimana dua insan manusia ini meninggalkan-Nya. Menjadi pendosa yang tak kunjung usai. Bahkan tak ada niat untuk mengakhiri. Iblis dan setan mengelilingi, memagari diri untuk menjadi pendosa sejati.

Bejat, keji, laknat, dan hina. Biarlah apapun itu julukkan yang diterima. Sasuke hanya manusia biasa. Ia hanya haus akan cinta. Cinta yang tolol dan tak tersampaikan. Membuat semua runyam dan tak terkendalikan. Oh andai saja ia tak terjebak jerat setan, mungkin kisahnya akan menuai kebahagiaan. Mungkin saja... mungkin saja. Mungkin saja...

Bodoh..

Tolol...

Gila tepatnya...

Salah ya bila ia hanya ingin memiliki orang yang dicintainya?

Salah ya jika saat ini ia betindak begitu egois. Menantang Tuhan dengan hinannya.

SALAH!

SALAH KAPRAH! Tahu.. Sasuke tahu itu, bahkan paham. Paham betul bagaimana konsekuensinya. Ketololannya mengulang dosa masa lalu. Namun kali ini ia datang dengan misi. Datang dengan tujuan pasti. Jika dulu ia kehilangan wanita ang dicintainya, maka tidak dengan saat ini! Ia akan memastikannya meski maut datang menjemputnya.

"Ahhh..Sas-Sas'keh..."

Sasuke menarik senyumannya. Sekian kali ia mencumbu Sakura. Puluhan kali ia mendaratkan ciuamnnya di sekujur tubuh Sakura, baru kali ini Sakura mengeluarkan suaranya. Suara yang sedari tadi Sakura tahan. Mati-matian menahannya.

Suara Sakura yang sangat ia rindukan setiap malamnya.

Temperatur tubuh semakin naik. Hasrat setan yang semakin membuncah. Semakin sulit dan tak tertahankan. Butuh penuntasan, butuh penyelesaian. Tapi kisah masih panjang, anggap saja ini penutup di lembar halaman.

"Sakit... Sasukeh sakiiitt..." Sakura memejamkan matanya. Sungguh, hentakkan ini terasa sangat menyakitkan. Memilukan. Terasa menyedihkan. Sakura menangis, mengerang kesakitan.

Setiap gerakkan yang Sasuke ambil. Setiap jengkal sentuhan tangan Sasuke. Setiap desir darah yang mengalir. Semua bak mawar yang berduri. Indah dan penuh luka. Membangunkan kenangan yang terkubur dalam. Mengulang mimpi buruk yang menjadi-jadi. Mimpi buruk tak terlupakan. Mimpi buruk yang selalu terbayang.

Sakura menangis sesegukan..

Sasuke meneteskan air mata...

Semua terulang..

Semua kembali terulang..

.

.

Ini jauh lebih menyakitkan... ada fakta lain yang harus ia pikirkan.. sosok itu.. sosok yang selalu ada di sisinya...

.

.

"Gomen, Gaara-kun..."

.

.

.

Like a fool... foool.. foooooooollllllllllll

.

.

.

"Paman Naruto, turunkan aku. Aku bisa terjedot pintu!" Kata Sarada.

"Hai, hai..." Naruto menurunkan Sarada dari pundaknya. Ia memang sering sekali melakukan ini pada Sarada sejak Sarada masih balita. Naruto lalu memijat pundaknya. Ia melihat ke arah Sarada, keponakannya sudah besar rupanya.

Gaara lalu membuka pintu kamar tempat mereka menginap.

Sarada menyelonong cepat menuju ranjang ibunya. "MAMAAAAAA... LIHAT APA YANG AKU BAWA..." Kata Sarada dengan sangat kerasnya. Membuat Sakura terbangun dari tidurnya.

"Sarada?"

"Mama?"

Sakura langsung menyembunyikan tubuh telanjangnya dengan selimut. Sasuke yang ada di sampingnya juga ikutan bangun. Sasuke juga tidak memakai baju. Ia mengucek matanya. Rambutnya keduanya terlihat sangat berantakkan.

"Sa-Sarada, ano mama,..." Sakura terlihat kebingungan.

Sasukepun melebarkan matanya... "Mama?"

"Paman yang di stasiun?" Kata Sarada.

"Kau...?" Sasuke memandang sarada yang menampilkan ekspresi super terkejutnya. Janji di stasiun Kyoto rupanya akan segera terwujud. Sasuke lalu menoleh ke arah Sakura. "Mama?" Anak gadis kecil itu memanggil Sakura dengan sebutan 'Mama'?

Gaara dan Naruto langsung kaget ketika melihat pemandangan di depan mereka. Naruto langsung menyambar Sarada dan menggendongnya ke luar. Ketika ia hendak ke luar, dua orang tua masuk ke dalam kamar 212 yang rupanya belum sempat Gaara tutup.

"Gomenasai, anak saya pasti membuat banyak masalah. Maaf, saya salah menginformasikan nomor kamarnya. Harusnya 213." Kata Seorang wanita tua nan cantik. Ia dan suaminya menunduk dengan sopan. Bagi kedua orang tua ini, dalam pandangan mereka, kamar 212 terbuka, terlihat rame, mungkin saja karena ulah Sasuke yang salah masuk kamar karena informasi yang salah juga.

"Bibi Mikoto? Paman?" Kaget Naruto yang rupanya loading telat. Begitupun dengan Mikoto dan Fugaku. Maklum, ruangan kamar tidak begitu terang lampunya.

"Naruto?" Kata Mikoto.

"I-Ibu?... A-ayah?" Sakura melihat dua orang tua angkatnya itu. Orang tua yang sangat ia rindukan namun tak terealisasikan. Pipinya kembali banjir air mata. Rindu yang tak tertahankan.

"Sakura?" Kaget Fugaku.

"SAKURA? Kaukah itu sayang? Anak perempuan ibu..." Mikoto tak kalah terkejutnya. Ia hendak berlari menuju putri tercintanya itu, tapi Fugaku menahannya. Fugaku melihat ke sekeliling ruangan. Ia memastikan apa yang sedang terjadi. Otak jeniusnya mencoba menerka.

"Kalian semua, datanglah ke rumahku sekarang juga! Banyak hal yang perlu kita bahas.." Kata Fugaku sangat tegas. Semua menunduk. Ayah Sasuke ini memiliki kharisma yang tak terbantahkan. Begitulah sosok CEO Uchiha Corp.. "Dan kau Sakura, jangan mencoba untuk kabur lagi!" Lanjutnya sambil menatap Sakura tajam.

"Hai.."

Fugaku, Mikoto, Naruto, dan Sarada keluar dari kamar itu. Menyisakan Gaara yang sedari tadi tidak mengucapkan sepatah kata. Ia hanya memandang Sakura yang begitu menyedihkan di hadapannya. Lehernya terasa tercekik meski nayatanya ada banyak hal yang ingin ia ucapkan.

"Sakura, kenakan bajumu! Aku akan menunggu di mobil!" Kata Gaara yang langsung meninggalkan dua pasangan itu.

"Gaara-kun..." Guman Sakura.

.

.

.

,\

======DAN BERSAMBUNG... KU SAYANG KAMU... EH BERSAMBUNG.. WKWKWK=====

.

OJO NESU... jangan marah! Tak aku sangka kali ini belum tamat juga. Pye coba akhirnya kalo begini? Tapi aku sedang berusaha memikirkannya. Aduh aduh. Mas Sasuke itu kangen berat ma Sakura, udah dibilang kan, di hdapan Sakura, Sasuke bisa sakit jiwa. Di chapter kemarin mungkin dia kliatan baik waktu sama Sarada dan Hinata, tapi jiwa setannya selalu menguasai jika bersama Sakura. Like a Fool banget dah...

.

.

So.. intinya.. pasti akan ditamatkan.. aku masih berusaha menyelesaikan.. so keep ganbatte and thanks udah mampir..

.

.

See u next chapt ya..

.

.

Next: KHOTBAH NO JUTSU.

Bye bye...