Chapter 23
. Tamat part 3
.
Maaf atuh neng, yang jelas, semua alur udah dikonsep, tidak ada pergantian ending. Ini orisinal dari pertama buat... Udah dikonsep dan ditulis, ternyata.. eh ternyata.. tidak muat dalam satu chapter... jika aku paksain dalam satu chapter itu buanyak banget.. dan jika tidak aku edit, atau tambah moment, feelnya kurang greget.. yakin.. rata rata aku buat 4000- 6000 words per chapt, kecuali chaptr special yang 2000-3000an.. nah, intinya, aku bagi-bagi jadi beberapa chapter final endingnya.. heheheheh.. gomen ne.. bener bener minta maaf.. sangat lama karena ada paksaan dari pembaca SLS juga, belum lagi yg YWaS, aku bahkan meninggalkannya untuk sementara.. huhu
.
.
Aku hanya ingin membuat final chapter dengan hasil yang memuaskan.. setidaknya aku sudah berusaha yang terbaik..
.
.
Jika Sakura menurutmu menjijikan atau murahan karena mau maunya digituin lg ma Sasuke, ketahuilah sayang, ini yang namanya FOOL bgt.. sesuai judul.. hehehehe.. Apalagi parra cast yang tahu salah tapi tetap aja milih jalan yang salah.. itu FOOL toh? Kan judulnya FOOL, ya FOOL isinya.. wkwkwkwkkw..
.
.
.
Dozo minna...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
.
.
Ruang Tamu Keluarga Uchiha. Rumah utama, Tokyo pukul 23.48.
Semua orang ada di ruangan itu. Memenuhi kursi yang ada. Mari diurutkan. Di kursi utama, Fugaku dan Mikoto menghada ke arah selatan. Kedua orang tua ini menatap serius para tamu undangan-langsungnya. Lawannya, di sebelah selatan, ada Sai dan Ino, si pasangan calon pengantin yang masih memakai jas dan gaun pestanya. Mereka langsung meninggalkan pesta setelah pesta selesai pada pukul 22.50. tidak perlu banyak tanya, mereka memang merasa terlibat.
Di kanan Fugaku, ada kursi panjang tempat Sasuke dan Itachi duduk. Itachi nampak bingung dan penuh tanda tanya. Tiba-tiba dikabari ayahnya untuk pulang karena ada pembicaraan penting. Ia bahkan sampai meninggalkan kerjaan lemburnya di kantor. Sesampainya di rumah, semua orang sudah berkumpul, sebagian sudah ia kenal, ia hampir melompat jantungan ketika melihat sosok Sakura yang begitu anggunya. Ketika ia ingin bertanya soal anak kecil manis di pangkuan Sakura, ayahnya menyuruhnya untuk diam. Sementara Sasuke, dia sudah bungkam semenjak dari hotel. Ia tengah asik menikmati rokoknya. Sudah dua batang di asbak keramik yang terlihat.
Kini beralih ke kursi sisi sebelah kiri Mikoto, ada Naruto, Sakura yang memangku Sarada, duduk sambil memeluk Sarada, dan juga Gaara serta Yuuichirou. Naruto sudah menyiapkan argumentasinya. Sakura masih syock dengan banyak hal yang sehari ini ia alami. Jangankan sehari, hanya dalam hitungan jam, usaha sepuluh tahun lebihnya lenyap begitu saja. Ia perlu menata kepingan hatinya. Sarada yang masih terlalu kecil untuk membaca situasi ini terlihat mengantuk karena bosan, sama sekali tidak ada pembicaraan padahal banyak orang berkumpul. Sedangkan Gaara, ia tak jauh berbeda dengan Sasuke. Diam bak batu yang bernafas. Yuuichirou juga diam seribu bahasa. Ia merasa tercyduk basah kali ini.
"Sakura, Naruto, dan Ino, bisa kalian jelaskan, apa maksud semua ini?" Tanya Fugaku. Dia menyilangkan kedua tangannya.
"Paman, ma-maksudku Ayah, dengarkan aku, Naruto dan Ino tidak melakukan kesalahan. Ini murni ideku untuk kabur dari rumah." Kata Sakura. Ia mencoba melindungi kedua temannya karena melihat aura amarah ayah angkatnya. Fugaku kalau marah sangat berbahaya.
"Naruto, kau sudah seperti anak paman sendiri, jadi karena paman yakin, Sakura tidak akan menjawabnya, maka kau harus menjawabnya dengan jujur! Apa kau mengetahui perginya Sakura selama sepuluh tahun lebih ini?" Tanya Fugaku.
"Hai.. Gomenasai, Paman.." Naruto menunduk karena merasa sangat bersalah.
"Kenapa kalian menyembunyikan Sakura dari keluarganya sendiri?" Fuugaku menatap Ino.
"Bu-bukan ma-maksud kami me-menyembu-bunyikan Sakura, Pa-paman. Ini de-demi kebaikan Sakura." Jawab Ino gelagapan. Sai memegang tangan Ino. Mencoba menenangkan tunangannya itu. Ia memang tahu inti cerita kaburnya Sakura dari Ino, dia juga sudah menduga jika ini akan terjadi.
"Keluarga adalah yang terbaik untuk Sakura, Ino-chan." Sela Mikoto. Mikoto merasa kesal dengan tingkah anak-anak sahabatnya ini. Bagaimana bisa mereka menyembunyikan anaknya?
Sakura mengigit bibir bawahnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Apa ini akhir dari rencananya? Pada akhirnya ia akan gagal? Ia sungguh ketangkap basah. Tak bisa mengelak. Sudah tak bisa berkeliat lagi. Sarada bahkan menyadari hatinya yang tak tenang. Anak perempuannya ini terbangun dari tidur sejenaknya.
"Mama, Sarada ngantuk sekali. Kenapa tidak tidur di kamar saja? Ini dimana? Kenapa banyak orang? Hooammmzz..." Kata Sarada.
Sakura membela rambut anaknya. Ia menarik ke dalam pelukannya dan mengecuk keningnya. "Shhttt..shhttt..shhttt, Sarada tidur lagi ya.. " Sakura mencoba menenangkan.
"Sakura, berikan Sarada padaku! Kau pasti lelah memangkunya sedari tadi." Tawar Gaara. Sarada mendengarnya, ia lalu ingin pindah ke pangkuan Gaara. Sakurapun memberikannya.
Semua orang di ruangan itu hanya mengamati apa yang Sarada, sakura, dan Gaara lakukan. Tidak ada yang bersuara. Mereka tak bisa mengabaikan anak kecil yang ingin pergi bermimpi indah. Saradapun tidur di pangkuan Gaara sambil memeluk Gaara.
"Dan anak kecil itu.. Sarada?" Kata Mikoto. Ia tak mengalihkan sedikitpun dari anak kecil berambut hitam pekat itu mulai dari pangkuan Sakura dan beralih ke pangkuan Gaara.
"Sakura, kau ingin menjelaskannya sendiri atau ayah yang memaksa Naruto dan Ino untuk menjawabnya? Atau... Gaara-kun dan Yuu-kun?" Sakura tahu jika ayahnya ini sedang dalam mode mengancam dan menuntut ia untuk segera menjawabnya. Memberikan jawaban yang pasti dan sejujur-jujurnya. Ingat, ayahnya itu orang yang tegas dan tidak mudah untuk dibohongi.
Sakura menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Suasana terasa hening karena semua orang ingin mendengar langsung jawaban darinya. "Ayah.. Ibu.. Maafkan aku, maaf sudah membuat kesalahan besar yang tak terampuni. Maaf karena sudah pergi tanpa pamit. Maaf karena menghilang begitu saja. Begitu lamanya..."
"Apa kau tidak betah tinggal bersama kami, Sakura?" Tanya Fugaku.
Sakura menggeleng...
"Apa ibu bersikap kurang adil padamu, sayang? Katakanlah! Katakan keluh kesahmu pada ibu, ibu ini juga ibumu..." Tanya Mikoto.
"Tidak ada niat sedikitpun dari diri ini untuk menyakiti keluarga ini. Aku sangat mencintai keluarga ini. Ayah dan ibu sangat menyayangiku. Begitupula dengan kakak-kakakku. Keluarga ini sudah memberikan kebahagiaan tak ternilai padaku. Sampai aku bahkan tak akan pernah bisa membalasnya.."
"Lalu kenapa kau pergi?" Tanya Mikoto tanpa basa-basi. Ia tahu pasti ada yang janggal. Naluri seorang ibu berkata seperti ibu.
"Itu..."
"Katakan apa yang ingin kau katakan, Sakura. Ayah akan mendengarkanmu..." Kata Fugaku.
Naruto memegang pundak kanan Sakura. Gaara menggenggam tangan kiri Sakura. Mereka berdua meyakinkan Sakura jika tidak apa-apa untuk mengatakan yang sejujurnya.. "Aku... aku hamil..."
"..." Naruto menunduk. Gara menunduk.
"..." Ino memejamkan mata, begitupun dengan Sai. Ino ikut menangis pula. Ia tak tahan melihat penderitaan Sakura selama ini. Berjuangan begitu beratnya, menanggung luka demi keluarga yang dicintainya
"..." Yuuichirou memijat kepalanya. Ia sungguh tak biasa berada di tempat penuh tekanan seperti ini. Pada dasarnya dia adalah orang asing, tapi bertemu takdir dalam benang mak comblang buatan Sakura. . Ia tidak menyesali apa yang sudah ia lakukan, ia tak menyesali telah membantu Sakura meski itu adalah sebuah kesalahan besar.
"..." Fugaku dan Mikoto masih menata makna perkataan Sakura. Anak perempuan satu-satunya pemberian mendiang sahabat sejatinya hamil dan dia sama sekali tidak tahu?
"..." Itachi dan Sasuke kaget bukan main.
Hamil?
Sakura hamil? Sepuluh tahun yang lalu?
"Aku ha-hamil di luar nikah waktu ke-kelas XII, ayah, ibu... Maaf, maafkan Sakura.. maafkan aku..." Lanjut Sakura. Ia menangis hebat. Sesegukan dan mencoba untuk tidak mengeluarkan suara.
Mikoto langsung bangkit dan meraih tangan Sakura. Naruto mengalah ketika Mikoto meminta Sakura duduk di sampingnya, di antara Fugaku dan dirinya. Mikoto lalu memeluk Sakura. Membiarkan buah hatinya menangis sekencangnya. Menahan tangis pasti sangat menyesakkan dada. Bahkan membuat terbatuk-batuk karenanya.
"Gomen.. Gomenasai, Otou-san, Okaa-san.. Gomen.. gomen.. gomen..."
Fugaku mengelus pucuk kepala Sakura saat sedang di peluk Mikoto. Baru kali ini ia melihat Sakura menangis hebat setelah sekian lamanya. Terakhir ia melihat adalah ketika kematian orang tua Sakura 20 tahun yang lalu. Jika Sakura bisa menangis seperti ini, apa saat Sakura memutuskan untuk menanggung deritanya sendiri juga menangis hebat seperti ini? Dan dia sebagai seorang ayah tidak menyadarinya?
"Shhttt.. shhht... Tidak apa-apa.. Jangan berbicara dulu. Tenangkan dirimu, sayang!" Kata Mikoto. Ia mengelus punggung anaknya. Sakura hamil? Sungguh? Nyatakah? SMA kelas XII? Ia juga seorang ibu, kenapa ia tidak menyadari perubahan anak perempuannya itu? Biarkan ini menjadi mimpi saja. Harapannya. Maksudnya, apa ini tidak apa-apa?
Kini Naruto mencoba buka suara. Ia tak tega melihat Sakura kesulitan berbicara.. "Sakura hamil dan tak ingin keluarganya tahu. Dia memilih pergi karena tidak ingin membuat malu keluarga yag sangat dicintainya. Jika paman ingin memarahi Sakura, marahi juga aku. Aku yang menyetujui ide Sakura."
"Paman Fuugaku, saya juga ikut membantu Sakura dengan menyediakan tempat tinggal untuknya. Jadi, salahkan saya juga..." Ini adalah Yuuichirou.
"Paman, Bibi.. aku tahu rencana mereka, tapi aku tidak memberitahukan pada kalian, maaf.. maafkan kami semua..." kata Ino.
"Saya juga tahu itu cukup lama, Paman, Bibi, Sasuke, dan juga Itachi-san, gomenasai, maaf karena ikut merahasiakannya..." Ucap Sai.
Sasuke menatap teman-teman seperjuangannya jaman SMA dulu. Ia tak menyangka jika teman yang ia anggap sebagai sahabat dekatnya tega membohonginya selama ini. Bahkan Yuuichiroupun! Mereka sok keren dengan mencoba paham dengan apa yang ia rasakan saat mendapati Sakura meninggalkannya. Mereka datang menghiburnya, mereka menyemangatinya, dan mereka memberinya banyak harapan untuk selalu bertahan. Ternyata itu semua hanya acting? Hanya pura-pura? Selama ini? Sepuluh tahun lebih?
GILAAAAAAA...
SEMUA PASTI SUDAH GILAAAAA...
Mikoto melepaskan pelukkannya pada Sakura... "Apa gadis kecil berambut hitam itu anakmu, Sayang?" Tanya Mikoto saat menyadari jika Sakura sudah kembali tenang. Sakura hanya mengangguk untuk menjawabnya.. "Dia sangat cantik... eh, sepertinya ibu merasa tidak asing dengan anak itu..."
Sakura memejamkan matanya. Sarada itu seperti klonning ayahnya. Selalu membuatnya tak bisa melupakan wajah dan kisah masa lalunya.. "Bibi benar, Sarada memang tak asing wajahnya. Dia sangat mirip dengan ayahnya.." Kata Naruto.
Mikoto melihat Sarada yang tidur begitu nyaman di pangkuan Gaara. Tidur sambil memeluk Gaara. Sangat manis. Hanya dengan melihat saja, Mikoto sudah tahu jika Sarada dan Gaara itu sangat dekat. Memiliki ikatan batin yang kuat... "Jaa, apa itu Gaara-kun? Sarada-chan sedari tadi memanggilnya dengan sebutan 'ayah'..." Tanya Mikoto.
Lidah Sakura terasa kelu. Gaara menunduk sambil mengeratkan pelukkannya pada Sarada.
"Ayahnya..." Semua terdiam... Naruto berhenti sejenak. Ini adalah yang terbaik. Itu yang sudah ia tanamkan dalam pikirannya. Ini memang tak akan mudah. Ini akan banyak menimbulkan luka, tapi, ia ingin menyelamatkan orang-orang yang ia kasihi. Ia ingin memotong luka itu... meski dengan awal yang penuh luka sekalipun... Sebagai sahabat Gaara, Naruto mengerti banyak hal. Ia memegang pundak Gaara. Sahabatnya yang luar biasa... "Ayahnya adalah... putra bungsu keluarga Uchiha, Uchiha Sasuke! Sahabatku dan juga kakak angkat Sakura." Jawab naruto mantap. Meski cukup pelan, tapi karena hening malam, suaranya menjadi begitu jelas terdengar di telinga.
?
?
?
?
?
?
?
"Sasuke?" Syock mikoto. Fugaku mendelik dan menatap Sasuke. Sasuke bahkan tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sakura hamil karena dirinya? Jadi, anak kecil yang ia temui di stasiun Kyoto adalah anaknya? Anak kandungnya dengan Sakura?
Sasuke menoleh ke arah Sakura. Sakura menyembunyikan wajahnya. Tapi ia bisa melihat bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi jemari Sakura.
Sakura masih terus saja menangis. Ia hanya bisa mengangguk membenarkan perkataan Naruto. Mikoto kembali memeluk Sakura. Sasuke menghamili Sakura? Anak bungsunya? Melakukan hal sebejat itu? Pada adiknya sendiri?
"Hoe.. hoe... naruto, yang benar saja!" Kata Itachi. Adiknya menghamili Sakura? Lelucon macam apa ini?
"Itachi-nii tidak melihat Sakura mengangguk mengakuinya? Lihatlah.. Sakura yang sangat kau sayangi itu! Dia menangis... Dan lihat, gadis kecil berambut hitam ini! Dia mirip siapa? DIA MIRIP SASUKE-BAKA-TEME!" Kata Naruto. Entahlah, rasanya ia ingin emosi saja. Bawaanya ingin marah dan marah. Tapi ia berusaha keras menahannya. Sungguh, ia ingin memukul wajah Sasuke saat ini.
Itachi dilanda kejutan yang begitu banyaknya. Ia kesulitan mencerna. Kejutan satu dengan kejutan yang lainnya sungguh di luar dugaannya. Ia tentu saja senang mendapat kejutan kembalinya Sakura setelah sekian lama pergi, tapi kejutan kedua ini sungguh berdampak berat pada psykisnya.
Gaara memilih diam dan menenangkan Sarada agar tak terganggu suara keras Naruto dan Itachi. Yuuichirou membantu dengan mengelus-elus punggung Sarada. Semua sudah terbongkar ya..? Mungkin itu yang mereka gumamkan di hatinya.
"ITU SULIT DIPERCAYA NARUTO! MEREKA BERSAUDARA!" Itachi masih belum yakin.. tepatnya enggan mempercayainya. Tidak mau. Mengetahui fakta jika Sakura sudah memiliki anak saja membuat hatinya terasa terguncang, dan sekarang ia harus menerima fakta siapa yang menghamili Sakura. Sasuke? Adiknya sendiri? Sebenarnya, Itachi memiliki perasaan romantis pada Sakura, hanya saja ia mencoba menahannya demi keluarganya. Ia tidak akan setega itu membuat keluarganya sedih.
"Paman dan Bibi bahkan menjadi saksi kejadian di hotel tadi!" Bukti apa lagi? Naruto sudah tidak bisa berfikir jernih. Ia hanya ingin masalah cepat selesai.
"Hotel? Ayah dan Ibu mengetahui sesuatu?" Gumam Itachi. Ia melihat ke arah ayah, ayahnya menatap ke arah lain sambil memegangi keningnya. Ia lalu melihat ke ibunya, ibunya menatap sendu yang seolah memberi jawaban iya... Kepalanya mulai pening.
Ino bangkit dari duduknya... "Sasuke-kun! Sampai kapan kau akan menjadi lelaki pengecut, hah? Setelah mengetahui semua ini, hanya begitu saja ekspresimu? Dia bertaruh nyawa demi melahirkan ANAKMU!" Kata Ino. Entahlah, naluri dokter kandungannya keluar, tak hanya itu, ia memang sudah sangat kesal semenjak mengetahui fakta Sasuke telah memperkosa sahabatnya. Ia sudah tak tahan lagi untuk menahannya. Ia akan meluapkan segala emosinya malam ini. "DIA.. DIA HAMPIR MATI KARENA ULAHMU!.." Jika ingat pendarahan yang Sakura alami, Ino ingin sekali membunuh Sasuke.
"Ino.. sudah.. sudah..." Sai mencoba menyuruh Ino duduk kembali.
"Ayah..." Gumam Sarada. Ia merasa terganggu dengan suara berisik. "Sarada tidak bisa tidur... berisik..."
Semua melihat ke arah sarada. Benar, anak kecil ini sangat mirip dengan sasuke. Rambutnya, matanya, bibirnya.. hidungnya. Sangat Sasuke sekali. Alt + V, bahkan tidak ada bentuk fisik yang nurun dari Sakura. Semua diturunkan oleh ayahnya, Sasuke.
"Apa sebaiknya dia dibawa ke kamar saja, Gaara-kun?" Tawar Mikoto. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Sarada itu masih kecil. Sarada itu anaknya Sakura. Sakura adalah anaknya juga, berarti Sarada adalah cucunya, kan? Ia punya cucu? Sungguh? Ada sisi lain yang terasa seperti tersiram hembusan embun yang menyejukkan.
"Biar saya saja yang membawanya ke kamar, anno.. di sebelah mana kamar tamunya, Bibi?" Tanya Yuuichirou. Ia memang ingin segera mengakhiri pembicaraan panjang itu, bukan berarti ia tak bertanggung jawab, hanya saja, ia merasa jika ia tidak boleh terlibat dalam pembicaraan keluarga lebih jauh lagi. Ia juga kasihan dengan Sarada yang merengek tidak bisa tidur. Jika sudah begini, biasanya tugasnya untuk menenangkan Sarada ke alam mimpi. Di anatara ia, Gaara, dan Naruto, hanya ia yang paling cepat bisa membuat Sarada tidur. Kalau bersama Gaara, biasanya malah berakhir dengan membaca banyak buku cerita. Kalau bersama Naruto, baru sepuluh menit, eh Naruto sudah molor duluan, jika itu terjadi, maka Sarada akan meminta ia menemaninya tidur.
"Di lantai dua, pintu ke dua di kiri tangga.." Jawab Mikoto.
Yuuichirou bangkit dan lalu mengambil Sarada dari Gaara. Ia membopong Sarada dan mengucapkan terimakasih. Ketika ia ingin melangkah, ia berhenti dan menatap Sasuke yang duduk di kursi depannya bersama Itachi.. "Sasuke, aku tahu kita ini tak begitu dekat seperti kau dengan Shinoa-chan. Tapi aku tahu apa yang terjadi pada Sakura selama ini. Temanku itu sudah sangat bekerja keras demi Sarada, anakmu. Dia juga mengalami banyak derita. Aku tak minta apa-apa darimu, pesanku, kuharap kau tak menyakitinya lagi." Kata Yuuichirou dan langsung menuju kamar yang Mikoto tunjukkan.
Sasuke tetap terdiam. Jangan menyakiti Sakura lagi? Belum ada 3 jam yang lalu, ia sudah mengulangi perbuatannya. Menyakiti Sakura seperti biasanya. Apa ini adalah bakat alaminya?
"Jadi.." Itachi mengeluarkan suara.
Semua hening.
"..."
"..."
"..."
"..."
"Sasuke! Kau memperkosa Sakura?" Tanya Itachi spontan. Sedari tadi, ia memutar otak jeniusnya untuk menyelami dan mempelajari serta menyimpulkan apa yang terjadi dari semua kejadian-kejadian yang saling berhubungan ini. Dia juga seorang Uchiha, kejeniusannya tidak perlu ditanya. Itu sangat mengerikan!
"..." Sasuke terdiam. Semua juga terdiam, ingin tahu apa tanggapan sang aktor utama.
Tidak ada jawaban. Itachi mengulangi pertanyaannya... "Sakura terus menangis, kau pasti memperkosanya, kan?" Bagi Itachi, tidak mungkin mereka melakukan hal semacam itu, terutama Sakura. Adiknya itu sangat polos soal begituan. Sakura bahkan tidak pernah jatuh cinta. Ia juga tahu jika Sakura tidak memiliki manga shoujo di rak bukunya. Yang ia tahu, adik perempuannya itu terlalu sibuk stalking para kliennya... Walau berkecimpung dalam dunia romantisme, tapi Sakura tidak memiliki romantisme dalam hidupnya... Sasuke pasti melakukan suatu pemaksaan pada Sakura. Itu yang ia simpulkan. Lagian, Sakura sampai kabur dari rumah. Jika itu benar, maka ia akan memukul Sasuke dengan tangan sendiri. Ia pasti akan melakukannya!
"..."
Sedetik, dua detik, lima.. enam.. tujuah... Sasuke kembali tidak menjawabnya.
Sudah di ubun-ubun puncak darahnya mendesir, adiknya itu membuat sangat.. sangat... sangat membuat kesal dirinya. Ia lalu menarik kerah baju Sasuke dengan sangat kasar... "JAWAB, SASUKE!"
"Itachi-nii... Jangan sampai seperti ini! Kita bisa bicara baik-baik!" Kata Naruto. Ya walau dalam hati ia juga ingin memukul Sasuke juga sih.. Ia harus menjaga emosinya agar semua tak menjadi semakin runyam... Ia melerai Itachi dan Sasuke. Itachi melepaskan tangannya dari kerah baju Sasuke. Cukup kasar, sampai membuat Sasuke tertahan sandaran kursi empuk. Sasuke yang cukup sesak nafasnya hanya mencoba membetulkan kerah bajunya yang berantakkan.
Itachi bisa kasar juga pada adiknya..
Kaget dan di luar dugaan.
Tak jauh beda dengan Ino dan Sai yang kaget dengan perlakuan Itachi. Selama ini, Itachi selalu menunjukkan sikap manisnya yang jauh dari kata kasar. Apa lagi buat raja brocon dan Siscon macam dirinya.
"JAWAB DENGAN JUJUR, UCHIHA SASUKE! APA KAU MEMPERKOSA SAKURA?" Itachi memandang tajam adiknya itu. Tangannya ia coba tahan untuk tidak sewenang-wenang seperti tadi. Ia tahu, jika ia kehilangan kendali, yang ada hanya akan menimbulkan masalah baru.
Semua terdiam lagi. Menunggu si bungsu Uchiha membuka mulutnya.
"Ya, aku yang memperkosanya." Jawab Sasuke akhirnya.
PLLLLLLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK...
/
/
"A-ayah?"
"AYAH?"
"A-ANATA!"
"PAMAN?"
"Paman Fugaku?"
Uchiha Fugaku menampar keras putra kebanggaannya itu. Membuat Sasuke mengelap darah di ujung bibirnya. Sakit dan perih. Tapi belum ada apa-apanya. Banyak hal menyakitkan yang sudah ia alami selama ini. Ia juga sudah menyiapkan diri jika suatu saat perbuatannya terbongkar.
"SASUKE! Ayah mendidikmu untuk menjaga adikmu! Ayah memberikan apapun yang kau minta, apa ini balasan yang kau berikan? Ayah kecewa padamu! Kau sangat memalukan!" kata Fugaku. Ia lalu melihat Sakura yang ada di sampingnya. Sedang dipeluk istrinya. Matanya sembab karena air mata, ia melihat banyak bercak-bercak merah di leher putrinya itu. Sungguh, ia hampir lupa, padahal ini sangat penting, bukankah tadi ia melihat Sasuke dan sakura dalam satu ranjang? Ia ingin membahasnya, tapi, justru banyak fakta mengejutkan yang ia temukan. Dan semua saling berhubungan.
"Sayang, apa kejadian tadi yang di hotel juga sama?" Tanya Mikoto akhirnya. Ia juga sudah menduga jika ada yang tidak beres dengan anak-anaknya. Ayolah? Tidur seranjang dalam keadaan telanjang itu mencurigakan. Walau anak-anaknya itu menutupi diri dengan selimut sekalipun. Bahkan tadi Naruto seperti memberi bukti.. Benar, Naruto adalah saksi bersama Gaara daan juga Sarada.
"I-iya, Ibu.." Jawab Sakura parau.
"Oh Tuhaan... SASUKE! KAU.. KAU SUNGGUH KETERLALUAN! IBU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MENYAKITI SEORANG WANITA! DIMANA KAU TARUH OTAKMU ITU, HAH? DIAMANA? KAU TEGA, SASUKE! KAU TEGA MENYAKITI ADIKMU, MENYAKITI HATI IBUMU, AYAHMU, KAKAKMU!" Naluri seorang Ibu yang mencintai anaknya pasti akan sama. Menangis dan terluka. Ia sedih melihat kelakuan anaknya yang biadap. Ia mengucapkan banyak kata untuk mengekspresikan kemarahan dan kekecewaannya. Seorang wanita jika sudah buka suara, mana ada yang bisa mengalahkannya. Mereka hanya bisa terdiam, melihat ibu cantik ini marah sambil menangis. Memukul-mukul anaknya tanpa tenaga.
"Mikoto, sudah! Biar aku saja yang memberi pelajaran padanya." Fugaku meminta Mikoto kembali ke tempat duduknya... "Sakura..." Panggil Fugaku.
"Iya, a-ayah..."
"Kau ingin ayah menghukum Sasuke dengan cara bagaimana? Ayah ingin meminta maaf padamu dan juga pada orang tuamu. Kata maaf saja pasti tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahan Sasuke.. Jika kau ingin Sasuke mati, maka..." Fugaku mengambil pisau buah yang ada di meja... "Jangan kotori tanganmu! Biar ayah saja yang membunuhnya..." Fugaku hendak menghunuskan pusau itu pada Sasuke tapi Sakura menahannya dengan tangan kirinya. Semua orang berdiri karena sangat terkejut. Seorang ayah mencoba membunuh anaknya?
Sulit dijelaskan. Fugaku itu sangat pandai mengendalikan diri, terutama emosi. Sangat arif dan bijaksana. Jika saat ini ia sampai ingin membunuh anaknya sendiri, apa kesalahan yang sudah Sasuke perbuat itu SANGAT BESAR di matanya? Iya, itu pasti. Fugaku sudah berjanji akan menjaga Sakura, seorang laki-laki sejati adalah yang selalu menepati janjinja, jika sudah begini, bagaimana nanti ia harus menatap wajah sahabatnya? Wajah orang tua Sakura di akhirat nanti?
Tes.. tes.. darah mengalir di antara gagang pisau dan tangan Sakura dan tangan Fugaku. Semua tersadar dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka berdiri dan berteriak memanggil kedua orang ini. Membuat suasana menjadi kalut berlarut-larut. Carut marut, marut-marut. Dan ribut?
Sakura mencoba melepaskan pisau dari genggaman Fugaku. Pelan-pelan sambil mencoba menenangkan perasaan ayahnya itu... Sulit, genggaman tangan ayahnya sangat kencang. Apa sebesar inikah keinginan ayahnya untuk memberi pelajaran pada Sasuke?... Menakutkan, ayahnya itu sangat menakutkan... "Ayah, sudah tidak apa-apa... Jika ayah ingin minta maaf padaku, maafkan saja Sasuke-kun.. Yang salah bukan hanya Sasuke-kun, tapi aku juga. Harusnya aku bisa menolaknya."
"Sakura..."
Sakura mencoba kembali mengambil pisau dari Fugaku. Lepas. Akhirnya Fugaku meregangkan genggamannya juga. Ia lalu meletakkannya di meja. Ada perasaan lega di dalam hatinya. Ayahnya itu bisa menguasai pikiran warasnya kembali...
Kembali, Fugaku kini berlutut di hadapan Sakura. Ia mencoba bersujud untuk menebus segala kesalahan Sasuke pada Sakura. Sakura refleks langsung menahan kedua bahu Fugaku. Bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu pada anaknya? Bukankah ayahnya itu tidak memiliki salah apapun pada dirinya? Apa mungkin, inilah tugas orang tua? Ayahnya itu memang yang terbaik...
"Ayah..." Darah mengalir di bahu kanan Fugaku. Meninggalkan bercak merah di kemeja milik Fugaku... "Apapun yang terjadi pada aku adalah takdir yang dituliskan Tuhan, ayah.. Sesakit apapun itu, aku bisa melaluinya. Lihatlah... aku bisa berdiri tegar di depan ayah. Karena apa? Karena didikkan ayah..." Sakura lalu menoleh ke Mikoto.. "... Dan juga Ibu... Jadi aku mohon... Jangan pernah melakukan ini lagi! "
Ia bangga pada Sakura, tapi apa bisa ia bersikap acuh dengan perbuatan Sasuke? Ia hanya bisa tertegun ketika Sakura memeluknya dengan sangat erat. Dulu waktu Sakura masih kecil, ia sering menggendong Sakura di pundaknya sambil bermain di taman bersama Sasuke dan Itachi. Kini anak-anaknya sudah dewasa, sudah bisa menentukan arah hidupnya. Bukankah sebaiknya ia hanya perlu memberi bimbingan?
Sang ibu langsung melihat keadaan tangannya Sakura yang mengeluarkan banyak darah. Semakin banyak dan begitu merah menghiasi kemeja Fugaku.
"Bibi, kita harus mengobati luka Sakura." Kata Ino... Ia lalu meninggalkan ruang tamu itu untuk mengobati luka Sakura bersama Mikoto.
"Berterima kasihlah padanya, Sasuke! Kau hutang nyawa padanya!" Kata Fugaku.
Semua yang ada di ruang tamu kembali duduk di kursinya. Pembicaraan dilanjutkan kembali. Naruto dan Gaara saling bergantian menceritakan apa yang telah terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Mulai dari pemerkosaan Sasuke, hamilnya Sakura, rencana Sakura yang tak ingin membuat keluarganya malu, kaburnya Sakura, pendarahan, sempat koma selama beberapa hari juga.
Sasuke terlihat berfikir keras. Ia tak menyangka jika selama ini Sakura menyembunyikan kehamilannya. Ia tidak sadar ketika Sakura meninggalkannya, Sakura tengah mengandung tiga bulan lebih. Mengandung anaknya. Sakura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, selalu tersenyum seperti biasa. Bahkan saat terakhir itu terasa begitu manis. Apa itu semua hanyalah kebohongan semata?
Kenapa Sakura tidak bercerita kepadanya? Kenapa Sakura justru menceritakan pada yang lain. Tidakkan Sakura mempercayainya? Padahal jika kejujuran itu ada, apapun yang terjadi pada Sakura saat itu, ia pasti akan bertanggung jawab. Menghamili Sakura memang tidak ada di benaknya waktu itu, ia hanya ingin membuat Sakura terus bersama dirinya dan menyadari betapa besar ia mencintainya. Semua asa jauh berbeda, Sakura pergi entah kemana, meninggalkan luka yang menganga, dan saat kembali hanya bisa menerima fakta yang sulit dilogika.
Haruskah ia menggila dan melakukan kesalahan yang sama?
Jika maaf itu ada, apa mungkin, masa indah dulu saat bersama Sakura, sebelum ia memperkosa adiknya itu bisa kembali padanya?
Jika ia mengingat bagaimana tatapan Sakura hari ini, rasanya itu tidak akan pernah ada untuknya. Tidak akan ada... tidak akan pernah ada... Dusta dan nestapa..
Apa yang harus ia lakukan?
.
.
.
Like a fool...
.
.
.
Mikoto melihat Sakura sedang membelai kening Sarada yang tengah tertidur di kamar. Di kamarnya dulu sebelum ia pindah ke apartemen. Ino sudah tidur di samping Sarada. Yuuichirou, Naruto, dan Gaara tidur di ruangan lain. Entah tidur atau terjaga, yang Sakura tahu, ia tidak bisa menerka bagaimana tiga malaikat penjaganya itu pikirkan.
Mikoto memberikan segelas coklat panas pada Sakura dan menyuruh Sakura untuk lekas tidur. Sudah pukul 2 pagi lebih, tapi putrinya itu tak kunjung jua beranjak tidur. Mikotopun merasakan hal yang sama. Cara berfikir orang tua itu jauh berbeda, mana bisa ia tenang, kan? Sesungguhnya, masih banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Sakura, tapi, semuanya terasa tertahan. Lain kali, adakah saat dimana ia bisa bercengkrama indah dengan Sakura?
Mikoto lalu mengambil kursi dan duduk di samping Sakura. Ia lalu mengelus lengan mungil Sarada, cucunya.
"Ibu dengar dari nak Gaara dan juga Naruto, kau mengambil kuliah kedokteran dan menjadi dokter hebat saat ini." Kata Mikoto.
"Iya begitulah, Bu..."
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan hidup pada ibu, sayang..." Mikoto menangis. Sudah berapa kali ia menangis hari ini? Ini bukan kesedihan, tapi ketulusan. Bersyukur yang luarbiasa. Sakura menyelamatkan hidupnya. Sakura melakukan prosedur operasi penyakit jantungnya dua tahun yang lalu.
"Tuhan menyadarkanku, Bu.. Ketika aku mendengar Ibu terkena serangan jantung, aku langsung menjenguk ibu. Aku ingin melihat ibu. Aku ingin memeluk ibu. Memegang ibu.. Tapi aku hanya bisa melihat ibu dari jauh, hanya bisa memandang ibu. Maafkan aku bu, maaf karena egoku jauh lebih besar saat itu..."
"Naruto sudah menjelaskan bagaimana perjuanganmu untuk melihat keadaan ibu, bahkan kamu sering sekali menjenguk ibu. Pantas saja waktu itu rasanya kau selalu ada di dekat ibu..."
"..."
"Senangnya, ibu tua ini mendapatkan cinta yang begitu besar dari anaknya.. " Mikoto tersenyum manis. Mereka berdua saling berpelukkan. Mikoto mendaratkan kecupan sayang di pipi Sakura.
Mikoto memberitahu jika Sasuke sedang berdiri di depan pintu. Ada hal yang perlu di bicarakan. Perlu dibahas dan perlu dituntaskan. Sakura menyadarinya, jika tidak memulai pembicaraan sejak sekarang, mau sampai kapan ia sanggup berlari?
Sakura mengizinkan Sasuke masuk dan ibu Mikotopun memberi waktu privasi pada Sasuke dan Sakura.
Sejenak Mikoto meninggalkan ruangan, hanya diam yang tercipta. Canggung atau bagaimana, yang jelas suasana ini sangat rumit. Mereka bukan orang asing, pernah dekat bahkan sangat dekat. Harusnya mudah, tapi diri membuatnya semakin sulit.
Sasuke menatap Sarada yang tertidur pulas. Anaknya ya?
Sarada, 10 tahun, kelas 4 SD.
Anaknya dengan Sakura. Hasil dari perbuatan kejinya saat di waktu SMA dulu. Mana mungkin Sasuke melupakan bagaimana ia berubah menjadi sosok iblis dan menggagahi adiknya sendiri. Membuat perjanjian konyol yang berujung derita. Semua hanya karena egonya. Egonya untuk membuat Sakura melihatnya.
Tahu, itu semua gagal..
Hal buruk hanya akan membuatnya semakin buruk. Benar, Sakura meninggalkannya. Apa itu karma? Hukuman dari Tuhan?
/
/
Beranda kamar... jam 2.35 pagi..
Sasuke menatap Sakura. Kali ini Sakura tak lagi menyembunyikan wajahnya. Tak lagi mengalihkan pandangannya. Sakura berani membalas tatapannya. Sasuke merasa lega, orang yang dicintainya ini mau melihatnya. Baginya, diabaikan orang yang dicintai adalah hal yang sangat menyakitkan.
Sakura melihat betapa terlihat menyedihkannya Sasuke yang begitu terpuruk di hadapannya. Sasuke terlihat sangat buruk setelah ia meninggalkannya. Awalnya ia tak percaya saat Naruto memberitahu bagaimana cara Sasuke mengobati kesepiannya. Sasuke sempat kecanduan alkohol 5 tahun yang lalu, bahkan menjadi perokok berat. Sasuke sempat mendekam di rumah sakit cukup lama karena kehilangan banyak berat badannya. Menderita anorexia akut karena tidak makan.
Apa sebegitu menyakitkannya, Sasuke?
Sakura selalu berharap jika kepergiannya akan membuat semuanya jauh lebih baik. Namun salah, ia justru membuat ibunya sakit jantung dan membuat Sasuke menjadi mayat hidup untuk waktu yang lama. Ia diberitahu jika keluarganya itu tidak berhenti mencarinya, tidak putus harapannya. Tetap menunggunya kembali ke rumah Uchiha ini. Yang membuatnya sujud syukur, meski ia sudah melukai keluarganya, nyatanya keluarganya masih berbesar hati menerimanya. Masih mengganggapnya sebagai bagian keluarga Uchiha.
Kurang bersyukur apa lagi coba? Bukankah Tuhan sudah sangat baik kepadanya?
/
Sasuke bersimpuh di hadapan Sakura. Sakura melebarkan matanya. Sasuke ingin meminta maaf padanya? Di pagi menjelang fajar ini? Ketika angin lembut menyelimuti dan sinar rembulan condong ke barat menerangi.
"Aku tahu kesalahanku sangat besar dan tak termaafkan..."
"Bangun, Sasuke-kun!"
"Aku tahu meski aku minta maaf padamu, kau mungkin tidak akan memaafkanku.."
"Bangunlah, Sasuke-kun!"
"Aku memperkosamu, menghamilimu, dan bodohnya, aku tak menyadari semua itu.."
"..."
"Membuatmu mengalami banyak kesulitan dan penderitaan karena keegoisanku..."
"..."
Sakura ingin menangis lagi. Ia teringat masa lalunya yang begitu menyedihkan. Ya semuanya sangat menyakitkan, membuatnya merasa ingin mati saja.. "...Kumohon... Bangunlah, jangan seperti ini!" Sakura mengulurkan tangan seolah ingin Sasuke berdiri.
Sasuke terperangah, Sakura menyentuh bahunya. Menyentuh tanpa paksaan darinya. Meski sepele, tapi baginya memiliki arti luar biasa... "Aku tahu ini sudah sangat terlambat dan sangat tidak pantas untukku yang egois ini... Sakura, maukah kau menikah denganku?" Kata Sasuke penuh keyakinan. Memang ini yang selalu ia impikan. Lagipula, setelah melihat adanya Sarada, ia menjadi semakin yakin dengan keputusannya. Ia ingin tanggung jawab dengan semua yang sudah ia lakukan. Semua salahnya pada Sakura dan Sarada. Ia ingin menebusnya.
Meski Sasuke sadar, dengan menikahi Sakura maka impiannya terwujud, ya, itu adalah keegoisannya. Membuat Sakura berada di sisinya selamanya adalah gaya bercinta ala dirinya.
/
Menikahinya ya? Sakura tersenyum dengan permintaan Sasuke. Ia menatap mata onyx Sasuke. Penuh keberanian dan ketulusan. Mata yang indah dan menenggelamkan. Mata yang membuatnya hanyut kedalam dalamnya cinta yang tak berujung. Cinta yang menggila. Cinta yang membodohkan. Meski banyak luka dan penderitaan, tapi Sakura tak menyesal memiliki perasaan cinta pada sosok Sasuke.
Begitupun dengan Sasuke. Melihat Sakura tersenyum tulus di hadapannya membuat hati keringnya seperti tersiram air hujan yang menyelamatkan jiwa. Ia bangkit dari simpuhannya dibantu oleh tangan lembut penuh kasih milik Sakura. Sakura menyentuh kedua pipinya dan kembali memamerkan senyuman terbaiknya.
Telapak tangan lembut Sakura begitu terasa di permukaan pipi Sasuke. Hangat dan menenangkan. Ada sedikit rasa kasar karena perban di telapak tangan Sakura, tapi itu tak menghalangi kehangatan yang Sakura berikan kepadanya. Sasuke memejamkan mata, meresapi setiap sensasi nyaman dari orang yang begitu dikasihinya. Ia menunggu bibir manis itu menguntai kata. Menguntai jawaban dari ajakkannya menikah. Melihat bagaimana Sakura tersenyum kepadanya, bisakah ia mengharap jawaban yang memuaskan hati?
/
Cukup lama Sakura menyentuh kedua pipi Sasuke. Sakura sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Tak memberi jawaban atas permintaan Sasuke. Sakura hanya tersenyum tulus sambil terus memandang Sasuke.
Sasuke mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Ia mengambilnya dengan tangan kanannya. Sesuatu yang sudah ia simpan selama ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu ia membelinya. Rencananya barang yang ia beli itu adalah hadiah untuk ulang tahun Sakura di musim semi pesta kelulusan sekolah, tapi ia belum menemukan moment tepat untuk memberikannya pada Sakura. Ia ingin memberikannya pada Sakura di Prancis, tapi ia kehilangan Sakura waktu itu. Barang yang begitu berarti itu terus menemaninya, terus ia bawa, dan menjadi jimat penyelamatnya. Sebuah cincin emas putih bermata berlian adalah saksi biksu bagaimana ia selalu percaya jika suatu saat Sakura akan kembali kepadanya. Cincin itupun membawa Sakura kembali.
Sasuke menyentuh tangan kanan Sakura yang ada di pipinya kirinya. Menggenggam lembut tangan milik Sakura dengan tangan kirinya. Menjauhkannya dari pipinya. Sakura mengikuti setiap gerak yang Sasuke ambil. Sesuatu berasa kecil dan dingin menyentuh kulit telapak tangan kanannya. Sasuke memberinya sebuah cincin yang indah. Sangat indah meski terlihat sederhana designya. Terlihat putih dan berkilauan. Memancarkan cahaya kristal karena sorot lampu malam.
Tangan kiri Sakura bergerak, mengambil cincin yang ada di telapak tangan kanannya. Ia tak mengangkatnya dari sana. Tangan kiri Sasuke menimpa punggung telapak tangannya. Menindihnya, menggenggamnya dengan sangat erat.
Namun...
Sasuke menyadari sesuatu. Ada yang mengganggu jemari tangannya. Sesuatu itu terasa asing bagi kulitnya. Ini bukan soal perban di telapak tangan kiri Sakura. Ada hal lain yang membuatnya merasa terpisahkan dengan Sakura.
Sasuke membuka genggaman tangannya dari Sakura. Ia ingin melihat apa yang mengganggu genggamannya pada tangan Sakura. Sesuatu itu terasa begitu menghalanginya untuk menyatu dengan Sakura.
Cincin.
Sebuah cincin yang tak kalah sederhana dengan miliknya terpasang manis di jari manis tangan kiri Sakura. Meski telapak tangan Sakura diperban karena luka pisau, tapi cincin bermata permata indah itu tetap kelihatan di jari manis Sakura. Sasuke lalu menoleh ke arah Sakura yang masih saja setia dengan senyumannya.
Ia ingin mendengar bibir Sakura berucap.
Sakura mengangguk.
Sakura mengangguk sambil tersenyum di hadapan Sasuke.
"Sejak kapan?" Tanya Sasuke.
"Setahun setelah Sarada lahir." Jawab Sakura.
"Dengan mata panda itu?"
"Namanya Gaara, Sasuke-kun."
"Hmm, sokka.."
"Hai."
"..."
"..."
"..."
"Kau tidak marah?" Tanya Sakura.
"Walau aku bilang jika sejak dulu aku sudah jatuh cinta padamu, kau tidak akan mengubah keputusanmu, kan?" Ini adalah pengakuan yang sudah tak memiliki arti apa-apa lagi. Pengakuan kosong dan tertolol yang pernah ada. Memendam selama bertahun-tahun tapi tanpa hasil. Tanpa jawaban yang memuaskan hati.
Rupanya Sasuke selama ini mencintainya ya? Sakit. Itu yang hatinya rasakan. Ia sebenranya memikirkan kemungkinan ini. Mana mungkin sasuke melakukan hal keji itu tanpa ada alasan yang jelas. Bagaimanapun dia itu adalah dukun cinta, dokter cinta, mak comblang, tentu saja ia paham bagaimana tingkah Sasuke. Yang ia tahu, selama ini ia hanya menghindar. Ia hanya tak mau jika perasaan Sasuke dan dirinya yang sama itu tersampaikan. Lagi, ini adalah demi keluarganya. Demi kebaikan semuanya.
Sakura mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sasuke. Ia tidak pernah memiliki niat untuk bercerai dari Gaara. Apalagi untuk bersatu dengan Sasuke. Tidak. Setelah ia memutuskan pergi meninggalkan keluarga Uchiha, sejak itupula ia memantapkan diri jika masa depan ia dengan Sasuke bisa bersama itu tidak ada.
Tidak ada!
"Dia laki-laki yang baik." Kata Sasuke. Jujur. Ini adalah kejujuran hatinya untuk memberi pengakuan dari kebaikan Gaara. Gaara adalah kebalikkan darinya. Gaara adalah sumber bahagia Sakura. Itu yang ia yakini. Saat ia melihat kedekatan Gaara dengan anaknya,Sarada, saat itupula ia mencoba sadar jika kemungkinan Sakura bersama Gaara adalah benar adanya. Ia sudah siap dengan apapun keputusan Sakura.
"Hm, dia memang sangat baik."
"..."
"Sasuke-kun tidak marah?" Sakura kembali bertanya. Ia ingin bisa berbaikan dengan kakak angkatnya ini. Ia akan melupakan apapun yang sudah terjadi padanya. Ia akan menyembuhkan lukanya. Ia akan memaafkan Sasuke dan memaafkan dirinya sendiri. Ia ingin bersatu dengan keluarganya. Ia ingin kehangatkan keluarga Uchiha kembali tercipta. Ia ingin melihat senyum ayah dan ibunya kembali.
"Asal kau dan Sarada bahagia, aku tidak mempermasalahkan apapun."
Dan mereka saling berpelukkan.
"Sasuke-kun, arigato..."
"Hn.."
Mereka melepas pelukkan singkat itu. Paham itu luka. Paham itu sakit. Paham itu pahit rasanya. Paham itu meneyesakkan. Paham itu menyakitkan. Namun, mereka paham jika itu adalah kebaikan untuk semua.
"Padahal aku juga jatuh cinta padamu loh, Sasuke-kun..." Kata Sakura. Ya, ini adalah pengakuan kosongnya. Sasuke mengungkapkannya, maka ia juga ingin mengungkapkannya. Ia hanya ingin tak menyesal karena memendam tanpa pernah melakukan pengakuan.
"Ya, aku sudah mendengarnya dari Naruto. Kau memilih kabur karena perjodohanku dengan Hinata. Jika waktu itu kita saling terbuka akan perasaan kita dan aku tak melakukan hal bodoh padamu, mungkin semua tidak akan menjadi rumit seperti ini.."
"Hahaha, benar juga. Andai saja aku tak meminta hal merepotkan itu, mungkin kita akan mengalami saat-saat dimana kita akan dimarahi ayah dan ibu karena saling jatuh cinta. Cinta kakak-adik pasti sangat mereka tentang, kan.."
"Aku akan kena semprot ayah karena menolak perjodohan itu."
"Dan Itachi-nii akan mencak-mencak lebih parah dari tadi..."
"Atau mungkin kita akan kabur bersama.. Hahaha.." Sasuke ikut tertawa. Ikut membayangkan 'pengandaian jika' yang mereka bayangkan. Andai saja. Semua hanyalah andai saja. Tidak bisa terulang. Mereka sadar, mereka hanyalah manusia biasa. penyesalan hanya datang di saat-saat akhir.
"Kau benar, Sasuke..."
"Ya.. mungkin saja..."
"Ya.. mungkin saja ya..."
"..."
"..."
"..."
"Sasuke-kun, bulannya indah..." Kata Sakura. Sakura melihat ke arah langit yang sebentar lagi akan fajar itu. Ia berpegangan pada besi pembatas balkon. Sementara Sasuke berdiri di sebelah kanannya.
Sasuke ikut melihat bulan yang dimaksud oleh Sakura. Benar sangat indah. "Sakura..." Panggil Sasuke pelan.
Sakura tak menjawabnya, tapi Sasuke tahu jika Sakura mendengar jelas suaranya... "..."
"Jangan menangis!" Kata Sasuke.
Hiksss... Tangisan Sakura terdengar meski sedari tadi Sakura berusaha menyembunyikan suaranya sebisa mungkin. Menyembunyikan air mata yang semakin menggenangi matanya.
"..." Sakura berusaha menghapus air matanya. Meski terasa sia-sia karena air matanya enggan berhenti mengalir.
Sasuke menepuk-nepuk pelan bahu kanan Sakura. Mereka berdiri berjauhan. Ada sekat sepanjang tangan Sasuke. Ada jarak yang begitu ketara. Sasuke maupun Sakura enggan merapatkannya. Biarkan ada jeda, biarkan ini yang terbaik. Mereka tak ingin memangkasnya. Tak ingin jika keputusan yang sudah dibuat tergoyahkan.
Sasukepun sudah tidak akan mengusap air mata kesedihan Sakura. Sudah ada orang yang jauh lebih berhak daripada dirinya. Ia sedang berusaha untuk merantai iblis di dalam dirinya. Ia berusaha keras membungkam keegoisannya. Ia sedang mencoba yang terbaik. Yang terbaik untuk mencoba menyanyangi Sakura bukan dengan cara romantis.
"Jangan pergi-pergi lagi! Kuharap kau mengizinkanku untuk bisa selalu melihat Sarada.."
"Hai.."
.
.
.
"Kami memiliki kisah masing-masing. Kami saling terhubung. Dan kami juga saling mencintai. Ada banyak jalan untuk kami bersama.. Tapi, ada banyak pengorbanan yang harus kami bayarkan.. Kami paham apa itu luka. Sudah terlalu banyak kami rasakan. Kami paham ada tawa, dan itu sudah sangat banyak kami terima... Mencintai seseorang adalah bagaimana caramu berfikir. Bagaimana cara memutuskan. Jika kau ingin orang yang dicintaimu bahagia, maka hilangkan keegoisan dalam dirimu. Lenyapkan itu... Ada kalanya bahwa cinta itu harus mengalah. Bukan berarti kalah, hanya saja tak semua yang menurutmu indah adalah baik untuk semua... itulah gaya bercinta kami. Kami akan berjalan di jalan kami masing-masing, kami akan berusaha berhenti untuk saling melihat. Kami akan berusaha untuk menghapus sisa cinta di hati ini yang begitu besar... Kami akan mulai memandang dari jauh. Menahan hasrat karena hidup yang berdekatan.. Ini bukan akhir kisah, ini adalah lembaran baru..."
/
"Selamat tinggal cinta pertamaku..."
/
"Good bye, watashi no hatsukoi..."
.
.
.
Like a fool...
.
.
.
Gaara bersandar di dinding kamar Sakura dan Sarada. Ia tak memungkiri jika ia baru saja menguping pembicaraan antara Sakura dengan Sasuke. Kedua teman masa SMAnya itu memberi kisah panjang dalam hidupnya. Ia bahkan tak menyangka akan memiliki kisah seperti ini. Begitu lama, begitu panjang, dan begitu melelahkan. Tapi ia bangga pada istrinya dan teman sekelasnya itu. Mereka bisa memutuskan apa yang mereka yakini dengan benar. Mereka saling terbuka dan menerima setiap konsekuensi luka yang didapat.
Mereka berdua sudah dewasa. Itu yang Gaara dapat simpulkan.
Gaara ingin mempercayai Sakura maupun Sasuke. Ingin berusaha mempercayainya meski hatinya merasakan hal yang lain.
Ia berjalan mendekati Sarada yang tertidur pulas.
Anaknya.. Tidak, maksudnya anak Sasuke dengan Sakura. Gaara sangat menyayangi Sarada seperti anaknya sendiri. Ia melakukan apapun demi Sarada. Ia memberikan apapun yang Sarada butuhkan. Cinta dan kasih sayang seorang ayah, Gaara juga tulus memberikannya.
Gaara memegang jemari Sarada. Menggenggamnya dengan erat. Ia lalu mengelus jidat Sarada dan mendaratkan kecupan sayang di sana. Ia sadar jika selama ini ia sudah begitu egois karena cintanya. Ia begitu egois untuk memiliki semuanya.
Ada sisi lain yang menggerogoti keegoisannya. Sisi lain berusaha menyadarkannya. Cintanya adalah sebuah pengorbanan. Sama seperti yang sudah Sasuke dan Sakura lakukan.
Sakura dan Sasuke saling mencintai, tapi ia hadir di antara mereka.
Semua memang terluka...
Sakura yang begitu dicintainya..
Sasuke yang mencintai Sakura..
Dirinya...
Bahkan.. malaikat kecilnyapun terluka..
Cinta yang tolol..
Semua menyakitkan... langkah apapun yang diambil sungguh penuh luka...
/
/
Apakah ini benar adanya jika ia mengikuti keputusan yang Sakura dan Sasuke buat? Bisakah ia melalui keputusan yang penuh luka ini?
/
/
Gaara menatap Sarada.. Ia lalu tersenyum... "Sarada, kau memiliki ayah yang keren. Jangan benci ayahmu!"
.
.
.
.
=============== to be continue ================
.
.
Njiir... tetep kurang greget dikit.. susah nulis apa yang ada diangan... dibayangin.. ampe mikir tangan ini trus tangan ini.. kalo ngadep kesini, tangan mana yang dipake/.. aku malah jd bingung sendiri... hahahahha...
/
.
.
Kalo besok chapnya gak tlalu banyak, maka harusnya bisa end untuk chapter cannon... Tinggal chapter special Sakura ma Gaara yg blom kbagian side storynya. Gomen na, blum bisa end.. gak bisa.. sungguh, aku merasa harus menulis sesuatu.
.
.
Aku tak bisa mengabaikan pengorbanan Gaara selama ini... terima protes kok karena keputusan Sakura yang lebih memilih Gaara.. hehehehe...
/
/
Bye bye..
