Chapter 2
.
.
Gomen lama, aku harus bolak-balik ke rumah sakit.. doain semua baik-baik saja ya minna...
Meski lama, aku akan terus berusaha yang terbaik untuk menyelesaikan FF ini..
.
Maaf juga tidak bisa membalas reviewsatu per satu.. pro kontra itu wajar...silahkan nilai saja apa yang ingin kalian ungkapkan. Intinya cerita masih lanjut, dan memang kekuasaan ada di tangan author... dan author tidak akan melenceng dari judul dan pairing.
Biarkan cerita ini fool se-fool-nya.. hehehe
.
.
Dozo minna...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
.
.
"SUDAH KUBILANG BERHENTI MENGHUBUNGIKU!"
KLIK.
Aku mematikan ponselku. Kesal.
"Gaara-kun? Ada masalah?" Tanya Sakura. Iya ada masalah karena aku mendapatkan telepon mengesalkan. Tapi aku tak ingin membuatmu khawatir.
"Tidak apa-apa... Hanya urusan kantor saja." Sakura hanya ber'oh' ria. Dia membawakanku secangkir kopi. Harumnya begitu menarik di hidungku. Aku meminum kopi buatan Sakura. Enak. Selalu enak rasa kopi buatan darinya.
Kami lalu duduk bersama, berdua di kursi balkon kamar. Aku meminum kpiku, Sakura meminum kopinya. Ada pancake hangat di antara kami. Terlihat menggoda, aku yakin itu bukan buatan Sakura. Sakura selalu gagal dalam urusan membuat kue. Apa lagi pancake seperti itu. Itu pasti buatan bibi Mikoto.
Sudah dua hari aku di rumah Uchiha, di rumah keluarga angkat Sakura. Keluarga ini begitu baik terhadapku. Bahkan paman Fugaku yang terlihat... ano.. seram... saja bisa menerimaku. Kini aku paham bagaimana besarnya keinginan Sakura untuk tidak mengecewakan keluarganya. Keluarga ini sungguh hangat. Aku merasa jika keluarga ini adalah tempat yang layak saat hati merasa rindu dan ingin pulang.
"Gaara-kun.. soal yang di hotel.. ano.. aku..."
Dia membahasnya lagi. Aku sudah menutupnya. Padahal aku tidak mempermasalahkannya. "Kita sudah menyelesaikannya Sakura. Sudah aku bilang tidak apa-apa, kan? Jangan merasa bersalah seperti itu..."
Sejujurnya ada rasa kecewa timbul di dada. Tapi aku bisa apa, semua sudah terjadi. Aku yakin, Sakura pasti berusaha menolak. Tapi aku tahu bagaimana perasaan mereka yang saling terhubung. Ini memang sangat sulit. Aku paham bagaimana rasanya. Ini pasti menyakitkan buat semua.
"Gomenasai... Hiks..."
Menangis lagi. Setelah aku berusaha menghapus air matamu, kini muncul lagi. Kau tahu Sakura, saat kau menangis di depanku, aku juga merasakan luka di hatiku. Aku merasa jika aku tidak bisa membuatmu bahagia. Walau pada kenyataannya itu benar adanya.
Sampai detik inipun.. aku bukanlah sumber kebahagiaanmu..
/
/
Aku mematikan lampu kamar. Menyisakan lampu tidur yang begitu remang. Aku membenarkan bantal dan selimutku untuk bersiap tidur menuju alam mimpi.
Sarada diculik neneknya, malam ini dia tidur dengan bibi Mikoto dan paman Fugaku. Entah bagaimana, Sarada bisa lengket dengan kakek dan neneknya. Syukurlah, meski baru kenal, tapi Sarada terlihat bisa nyaman dengan mereka.
Aku menatap langit-langit kamar yang remang. Sarada memang bisa dekat dengan kakek-neneknya, bahkan walau masih kaku tapi Sarada mau menerima candaan Itachi-san. Namun... yang aku takutkan terjadi. Hari ini Sarada mengumpat kasar soal ayah kandungnya. Dia sungguh enggan mengakui sasuke sebagai ayahnya.
Aku ingat dengan jelas bagaimana Sarada menolak keras Sasuke tadi pagi ketika kami semua mencoba menjelaskan ayah kandung Sarada. Aku merasa tidak enak pada Sasuke. Dia pasti sangat sedih mendapati anak kandungnya sendiri tidak mau mengakuinya sebagai ayah.
Naruto dan Sakura padahal juga sudah membantu menjelaskan dengan baik, dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, tapi memang ini sangat sulit untuk diterima Sarada. Yang aku tahu, selama ini memang Sarada selalu menyalahkan Sasuke atas Sakura yang selalu meninggalkannya. Sakura adalah dokter, dokter yang mengoperasi ibunya Sasuke. Karena ibunya Sasuke, maka Sakura semangat ingin menjadi dokter. Mendapat gelar dokter itu tidak gampang, perlu belajar kesana sini.. Sakura sibuk dengan urusan kedokterannya, jarang waktu untuk Sarada. Sarada merasa selalu ditinggalkan ibunya dan itu karena Sasuke, ayah kandungnya. Secara tidak langsung, sarada menyalahkan Sasuke sebagai penyebab Sakura selalu meninggalkannya.
Ini bisa disebut sebagai trauma... anak seusia sarada seharusnya tidak memikirkan hal menyulitkan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengubah keadaan dengan cepat, aku hanya bisa memperbaiki sedikit demi sedikit...
Gomen na, Sasuke...
Bersabarlah.. aku pasti akan membuat Sarada mengakuimu sebagai ayah kandungnya...
Aku memang mengambil keuntungan dari sarada, sasuke.. tapi percayalah, aku tidak segois yang kau kira. Aku ingin sarada mengenalmu sebagai ayah kandungnya juga...
/
Aku mencoba memejamkan mataku, tapi sulit terpejam. Setelah aku mendengar percakapan Sakura dan Sasuke di balkon, aku memikirkan banyak hal. Ada banyak unek-unek yang berkecamuk di dalam pikiranku.
Sakura memilihku ya...
Aku tak menyangka jika kata itu akan keluar dari mulutnya. Sulit dipercaya.
Setelah sekian lamanya aku berjuang untuk memenangkan hatinya, apa saat ini aku bisa mengklaim kemenanganku?
Sakura memilihku, Sarada juga menerimaku dengan baik meski aku bukan ayah kandungnya. Kedua orang tua angkat Sakura menerimaku, bahkan dengan Itachi-san. Bahkan Sasuke juga terlihat sudah siap dengan kemungkinan seperti ini. Sungguh, sungguh aku merasa bahagia karenanya.
Namun...
Rasa apa ini?
Kenapa hatiku terus gelisah? Kenapa aku merasa tidak tenang. Ada kekhawatiran tak berdasar jauh di dalam lubuk hatiku. Apa yang aku cemaskan ini? Bukankah ini adalah lembaran baru dari kisah yang harusnya aku tulis? Bukankah ini sudah ganti judul? Waktunya merangkai kisah, kan?
Apa yang salah?
Tuhan, aku tahu aku ini egois.. Aku merebut kebahagiaan temanku.. Sakura... Sasuke..
Aku tahu aku salah.. sudah tahu aku salah, tapi aku tetap melakukannya. Siapapun boleh mengataiku dengan ketololan... Tapi.. percayalah, aku tulus mencintai wanita musim semi ini. Aku tak pernah meragukan sedikitpun perasaanku kepadanya. Tidak pernah...
Lalu.. apa ini...?
Cinta sejati adalah kebahagiaan.
Aku memaku dalam, dalam dasar hatiku. Itu adalah prinsip cintaku. Ya, itu adalah prinsip cinta yang aku yakini kebenarannya. Aku ingin menciptakan kebahagiaan akan cinta yang aku genggam. Jika saat ini aku sudah mendapatkan segala yang aku inginkan, pertanyaannya, apakah aku sudah menghadirkan kebahagiaan pada orang yang aku cintai?
Aku menoleh ke arah Sakura yang terlihat meringkuk di balik selimutnya...
Sakura, apa kau bahagia denganku?
Aku ingin bertanya langsung kepadamu, tapi aku takut.. aku takut mendengar jawabanmu saat ini,. Aku belum siap untuk kemungkinan yang terburuk.
/
Kepalaku pusing.. aku tidak pernah mengalami jatuh cinta yang segila ini. Kenapa aku bisa mencintai Sakura sedalam ini? Mengejar cinta yang begitu lamanya tanpa memiliki keyakinan jika suatu saat cinta itu akan beralih kepadaku. Ya, aku bahkan ditolak Sakura sebelum aku menyatakan perasaanku kepadanya. Jadi ingat jaman SMA dulu. Setelah mengetahui fakta bagaimana keadaan orang yang aku cintai ini, aku masih tetap memiliki perasaan terhadapnya. Dia hamilpun, aku tetap jatuh cinta padanya. Padahal dia mengandung bukan darah dagingku. Aku bahkan bisa mencintai anaknya dengan sepenuh hatiku.
Am i fool?
Hahaha, apa ini? Sepertinya miris sekali hidupku. Aku memberikan segalanya untuk orang yang aku cintai meski orang yang aku cintai tidak dapat kumiliki cintanya.
Aku tidak peduli bagaimana orang maumenganggapku apa. Bodoh. Tolol. Menyedihkan. Miris... aku sungguh tak peduli. Yang aku tahu, aku mencintainya dan aku ingin orang yang aku cintai bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.
Aku sudah bersamanya selama sepuluh tahun lebih... aku menikmati setiap waktu yang kami lewati. Kami bisa tertawa, bercanda, dan berbagi luka bersama.. kisah yang sudah kami tulis bersama sangat indah meski banyak dihiasi air matanya.
Ya, air matanya..
Air mata Sakura.
Jika aku melihat dari mataku, aku yakin, aku sudah melakukan yang terbaik untuk membuatnya bahagia. Tapi jika aku melihat dengan mata hatiku dan mencoba menyisir dengan otak, ahh, rupanya selama ini aku membuta. Aku tahu dia selalu menangis setiap malamnya.. aku tahu dia tak pernah tidur dengan pulas.. aku tahu dia begitu menderita... aku tahu jika selama ini dia hanya mencoba terlihat bahagia di depanku.. di depan Sarada.. Naruto.. Ino.. Yuu..
Sesungguhnya, dia tak benar-benar bahagia.. isakkan tangis yang aku dengar dari bibirnya.. terdengar begitu.. menyayat hati..
Aku tahu itu bukan karena diriku.. dia menangisi nasibnya...
Namun aku justru.. menuli.. membuta seolah semua baik-baik saja.. seolah dia bisa menerima kebahagiaan yang aku beri...
/
Aku berjalan menuju ranjang Sakura...
Menuju ranjang Sakura? Aku tidur di sofa dan sakura di ranjang.
Aneh?
Jujur saja.. ini adalah kali pertama aku dan dia tidur di ruangan yang sama tanpa Sarada.
Aneh lagi?
Aku dan dia memang sudah menikah.
Memang kenapa? Butuh penjelasan?
Ingin mulai dari mana, hm? Alasan.. kenapa.. bagaimana bisa... seperti itu? Ini terlalu panjang untuk diceritakan. Menghitung panjang x lebar dengan banyak koma di belakangnya. Yang jelas itu sangat rumit.
Itu rumit..
Rumit..
Ada hal yang jauh lebih mendesak untuk saat ini.
Sesuai dugaanku, aku mendengar isakkan tangis tertahan keluar dari mulut Sakura. Dia bodoh atau bagaimana sih? Menangis ditahan itu akan membuat dada kesulitan bernafas. Aku yang mendengarnya saja merasa sesak, apalagi dengannya...
Apa dia sadar jika aku sekamar dengannya sehingga dia mencoba menahan suara tangisannya?
Jika iya.. sungguh terlalu Sakura, dia sangat pandai membuatku khawatir meski niatnya bukan untuk membuatku khawatir.
Aku mendekati Sakura yang meringkuk menangis di balik selimut tebalnya. Aku menarik selimut yang menutupi tubuh Sakura secara perlahan. Dia sadar dengan gerakanku, dia mencoba menarik kembali selimutnya untuk menutupi kembali tubuh dan wajahnya.
"Jangan menutupinya lagi, Sakura!" Kataku. Benar, bagiku itu juga menyakitkan. Aku menarik kembali selimut itu dan mencoba membalikkan tubuh Sakura.
Tangannya begitu hangat.. rambutnya berantakkan.. matanya begitu sembab. Sebenarnya sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan malam ini?
"Ga-Gaara-kun? Be-belum tidur?"
Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus saja membuatku khawatir, Sakura.
"Kau tidak bahagia, kan?" ahh, aku mengucapkannya juga. Tak aku sangka kata-kata yang aku takuti keluar spontan dari mulutku. Aku memang sudah tak bisa membendungnya lagi rupanya. Melihat Sakura yang seperti ini membuat perasaanku memburuk.
"..."
"Katakan saja!"
"A-apa maksudmu, Gaara-kun?"
Aku mencengkram kuat lengannya... "Jika kau tak bahagia dengan keputusanmu memilihku, katakan saja!" iya, katakan saja. Aku sudah sangat siap dengan semuanya. Selama ini aku selalu berteman dengan luka. Kurasa aku akan baik-baik saja.
Dia terlihat terkejut dengan pertanyaanku.
"Gaara-kun, apa ma-maksud pertanyaanmu itu? Aku tidak mengerti.."
Selalu seperti ini... Matamu berkata lain, Sakura... "Kumohon, berhentilah membohongiku dan hatimu! Jangan selalu menjadi orang bodoh, Sakura! Jika kau tak suka, katakan tidak suka.. Jika kau menyesal, katakan menyesal.. Jika kau tidak bahagia, katakan kau tidak bahagia!"
"Aku sungguh ingin bahagia, Gaara-kun... Aku juga ingin kau bahagia..."
Ingin aku bahagia, tapi kau terluka karena pilihanmu padaku. Itu jauh lebih menyakitkan. Kau sumber bahagiaku! Bagaimana bisa aku bahagia jika sumber bahagiaku sendiri tidak bahagia?
"Kalau kau ingin aku bahagia, maka kau harus bahagia demi diriku!"
"Aku bahagia!... Kisah yang sudah kita lalui sangat berharga untukku. Aku tertawa bersamamu, gaara-kun. Aku bahagia! Sungguh, aku sungguh bahagia karena dirimu..."
Iya, aku tahu senyumanmu ikhlas dan tulus kepadaku, tapi bukan takaran yang aku maksud. Bukan itu yang aku harapkan. Pandanganmu dan pandanganku itu berbeda. "Terima kasih jika kau sudah bahagia, tapi... aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang lebih tinggi dari ekpektasimu, Sakura.. Aku bahkan tak bisa menyentuh hatimu meski itu hanya sebulir buih di lautan."
"..."
Dia meneteskan air mata.. kurasa dia paham apa maksudku. Begini ya rasanya cinta sebelah pihak?
Aku membalikkan tubuhku dan duduk di samping sakura. Aku melihat ke arah lain. Yang aku dengar suara tangisan Sakura kembali terdengar. Dia tak menahan tangisannya. Dia mengeluarkannya di sampingku.
Aku hanya terdiam. Mendengarkan setiap alunan isakkan tangisannya. Batinku terasa terluka. Diapun juga sama. Dari dulu yang ada hanya luka, luka, dan luka. Meski terselip kisah manis diantaranya, tapi terlalu banyak luka yang membuatnya begitu memilukan.
Cintaku tak sampai, begitupun dengannya.
Haahh... mau bagaimana lagi. Semua memang sesuai dugaan awal. Yang terpenting aku sudah berusaha yang terbaik untuknya. Lagipula teman-temanku sudah banyak yang memperingatkanku. Resiko luka memang harus kutanggung demi keputusanku itu. Pada dasarnya ini memang bukan kisahku. Jika sudah begini, memang sebaiknya pilihan awal adalah yang terbaik.
"Ayo kita bercerai!" Kataku.
sakura kaget dan langsung menatapku... "..."
"Ayo kita bercerai!" Aku mengulangi kata-kataku.
"Tidak!" Suaranya terdengar lantang.
"Kita bercerai dan kau akan menikah dengan Sasuke!" Dengan begitu kau akan bahagia. Kau akan tersenyum lepas dengan orang yang sangat kau cintai.
"Tidak!.. Ada apa denganmu, gaara-kun? Kita sudah lama menikah, kenapa tiba-tiba?... Aku.. aku tahu aku salah dengan apa yang sudah aku lakukan dengan sasuke-nii di hotel.. Aku sungguh minta maaf akan hal itu. Kumohon, jangan seperti ini..." Dia memohon sambil menangis. Dan itu justru membuatku semakin terluka.
"Kita menikah itu karena keputusan sepihakku! Aku menikahimu hanya untuk mempermudah legalitas hukum Sarada!" Ya.. seperti itulah ceritanya. Kenyataannya aku memang hanya mendaftarkan KTPku dan Sakura ke capil Kyoto sebagai pasangan yang sudah menikah. Aku hanya ingin Sarada mendapatkan legalitas hukum jadi bisa memiliki akta kelahiran untuk mendaftar sekolah.
"Meski begitu, tapi aku bahagia... Aku senang bisa menjadi istrimu, Gaara-kun. Aku tahu aku ini tidak sempurna.. aku.. aku akan berusaha ja-jauh lebih baik lagi... Kumohon, urungkan niatanmu itu!"
Aku sudah melihat bagaimana kau berjuang selama ini Sakura. Kau berjuang untuk selalu terlihat bahagia di depanku. Kau menawarkan senyuman di bibirmu untukku.. aku mengakui usahamu dan aku senang karena kau mau berjuang demi diriku. Tapi aku tahu isi hatimu, kau sudah tak bisa bahagia lebih dari itu saat bersamaku.. sumber bahagiamu bukanlah diriku. Jika aku melihatmu tersenyum tapi hatimu terluka, aku jauh lebih menderita.
"Bagaimana jika aku bilang bahwa aku tidak bahagia dengan pernikahan kita?" Aku bangkit dari dudukku. Aku melihat Sakura menunduk. Ekspresi apa yang dia tampilkan saat mendengar ucapanku ini? Dia hanya terdiam rupanya. "Kau bahkan kebingungan untuk menjawabnya.." aku melangkah meninggalkannya.
Shhhtttt... dia menahan lenganku... kami saling berpandangan... "Aku akan membuatmu bahagia!"
Jangan mencoba menggoyahkan rencana awalku, Sakura! Kau membuat sisi lain dariku menerima ucapan manismu...
"Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia!" Katanya. Mantap dan jelas. Apa dia serius dengan ucapannya itu? Yang benar saja Sakura! Kau membuatku bingung.. aku tak ingin terjebak dalam kebimbangan lagi.
Namun..
Aku.. aku akan mencari tahu apa itu..
"Apapun?" Tanyaku.
"Iya, apapun!"
"..."
"Aku akan melakukannya, Percayalah Gaara-kun!"
"..."
"..."
"Jaaa..."
"..."
"Bisakah kau melakukannya denganku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini aku sudah berada dia tas tubuh Sakura meski aku tak benar-benar menindihnya. Tak kusangka jika dia akan mengangguk menyetujuinya meski ekspresi kaget tergambar jelas dari wajah ayunya.
Rambut berantakkan yang terlihat menggoda. Wajah cantik yang kukagumi. Mata emerlard katulistiwa nan menawan. Hidung mancung dan bibir merona meski tanpa lipstick. Kulit putih pucat yang terhalang remangnya cahaya kamar.
Nafas hangatnya menyapu wajahku. Dadanya terlihat kembang-kempis tak beraturan.
Kau sungguh-sungguh ingin melakukannya atau...
Atau.. kau hanya takut?
Aku ingin mencari kejujuran itu di balik matamu.
Aku menatap Sakura. Sakura membalas menatapku. Sial, jika seperti ini terus maka sisi lainku akan semakin menggila. Aku tak bermaksud untuk melakukan hal seperti ini pada Sakura. Aku terbawa suasana dan gilanya, diriku yang begitu mencintai wanita musim semi ini sangat menginginkan Sakura.
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin juga dicinta. Ingin mendapatkan balasan cinta dari orang yang aku cintai. Aku memiliki hasrat, akupun memiliki nafsu. Aku tidak akan munafik akan karakterku itu. Pada dasarnya semua orang juga memiliki rasa egoisnya masing-masing. Silahkan judge, tidak masalah. Aku baik memang ada maunya. Walau terdengar sedikit kasar di telingaku, tapi aku memang memiliki keinginan egois pada Sakura. Meski sisi lain juga ingin merelakannya untuk bahagia dalam hidupnya.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Sakura? Jika iya, maka aku sungguh tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi." Kataku. Separuh diriku yang menginginkanmu pasti akan menggila. Dan semua akan berakhir. Firasatku itu akan semakin runyam.
Sakura kembali menatapku. Tatapannya begitu mantap. Nafasnya juga mulai teratur. Apa dia sudah berfikir dengan akal sehatnya? Dia bahkan menggangguk untuk menjawab pertanyaanku. "Aku akan menuruti permintaanmu, Gaara-kun.."
Siaaalll.. aku semakin kehilangan kendali akan diriku. Dia menyutujuinya. Dia menyutujui untuk tidur denganku! Kau gila Sakura! ... tidak, aku yang memintanya. Kau mencintai Sasuke, tapi kau bersedia melakukan sex denganku? Kau memutuskan untuk memilihku dan berusaha melupakan Sasuke dari dalam benak dan hatimu, tentu saja aku senang. Akhirnya kau memilihku, tapi aku tahu itu sangat sulit untukmu.
Kenapa pikiranku berputar-putar tidak karuan?
Aku tak bisa menahannya lagi.. diriku yang mencintai Sakura berusaha mengusai..
Sakura ada di bawahku.. aku sudah menindihnya.. dia terlihat begitu menawan... wanita yang aku impikan selama ini... wanita yang aku cintai... di sini.. tepat di depan tatapan mataku...
Aku berusaha tenang.. aku menelan ludahku dengan cukup sulit... Sakura sungguh sangat cantik..
Aku tak peduli dengan masa lalunya... aku tidak peduli bagaimana kata orang tentang dirinya. Orang lain tidak tahu karena tidak mengenal Sakura. Sakura adalah sosok yang aku kagumi. Dia luar biasa di mataku.
.
.
Aku terjatuh dalam belenggu cinta yang begitu besar.. semakin sulit untuk lepas dari jeratannya.
.
.
Aku membuka kancing baju tidurnya perlahan. Satu per satu. Pelan-pelan. Aku hanya ingin menikmati setiap detik moment indahku dengannya malam ini.
Satu kancing, dua kancing, tiga kancing... dan empat kancingpun terbuka. Jantungku berdegup kencang. Seluruh darahku mendidih melihat pemandangan elok tubuh Sakura. Meski aku hanya melepaskan kancing baju tidurnya saja, tapi aku sudah bisa melihat tubuh ramping milik Sakura. Dia memang sudah pernah hamil dan melahirkan, tapi dia pandai merawat diri. Apa karena dia seorang dokter?
Aku mengedarkan pandanganku. Menikmati setiap jengkal pemandangan indah yang ada di bawahku ini. Perut ramping Sakura... kulit mulus putih pucatnya... dan terus ke atas.. itu..
Gilaaaaaaaaaaaaa...
Hoe hoe...
Apa ini?
Ini mimpi kan?
Cih, aku sudah tak sanggup lagi menahan batas normalku... aku sangat menginginkan Sakura...
Selamat tinggal diriku yang sok bisa mengendalikan diri...
Kuharap ini bukanlah sisi egoisku yang berkuasa.. akan sangat menyakitkan jika mengetahui esok hari adalah sebuah penyesalan.
/
Aku menggerakkan tangan kananku untuk menyentuh pipi Sakura. Dia masih setia menatapku. Aku menyentuhnya dengan perlahan, dia belum memberikan ekspresi apapun akan tindakkanku.
Aku menyibakkan semua rambut Sakura yang menghalangi pandanganku dari wajahnya. Ini adalah Sakura yang aku inginkan dan aku akan memilikinya malam ini! Aku kembali memantapkan sisa-sisa diriku yang masih ragu. Aku akan memilikinya, ya aku akan memilikinya!
Aku menempelkan ibu jari tangan kananku untuk menyentuh bibir Sakura. Mengusapnya perlahan. Bibir mungil yang membuat penasaran.
Lembut.. bibirnya sangat lembut.
"Jika kau tak berusaha menolakku, maka aku tidak bisa berhenti setelah ini, Sakura!" Tanyaku. Aku tidak ingin ada penyesalan.
Sakura tidak bicara, dia hanya menggeleng. Sudah... aku sudah tak bisa menahannya lagi..
Aku mendekatkan wajahku ke wajah Sakura. Tubuhku bahkan bisa merasakan tubuh hangat Sakura yang ada di bawahku. Sakura mencengkram bajuku.
Wajahku begitu sangat dekat dengan wajah Sakura. Sangat dekat... nafas kami saling beradu. Aku kembali mengusap bibirnya. Dan kembali mendekatkan wajahku padanya... Sakura memejamkan kedua matanya.
Aku ingin menciumnya...
Ketika bibirku menjadi sangat dekat dengan bibirnya, cengkraman Sakura ke bajuku semakin kencang. Aku bisa merasakan bajuku tertarik di kedua sisi pinggangku. Sakura gemetaran. Akupun juga bisa merasakannya...
Gemetaran?
Apa itu artinya...
Sakura ketakutan...?
/
Aku berhenti di sepersekian mili di depan bibir Sakura. Aku melihat ada air mata yang mengalir di kedua mata Sakura yang terpejam.
Sokka... jadi begitu rupanya...
Aku memahaminya, Sakura...
Aku sungguh mengerti...
/
Aku langsung menjauhkan wajahku darinya. Sakura membuka matanya. Mungkin dia berfikir kenapa aku tak kunjung juga menciumnya. Namun matanya terlihat lega karena aku tidak jadi menciumnya. Hidoi na Sakura...
Tapi aku bisa mengerti perasaanmu...
"Benarkan, kau tidak bisa melakukannya denganku...?" Kataku.
"Ga-Gaara-kun..." Dia meneteskan air mata lagi. Kapan kau akan bahagia sih? Tidak dengan Sasuke, tidak denganku.. kenapa kau mudah sekali meneteskan air matamu?
/
Aku memasangkan kembali kancing baju Sakura dan menjauh dari atas tubuhnya. Aku lalu duduk di sampingnya. Aku hanya bisa mendengar isakkan tangis keluar dari mulut Sakura. Dia juga menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kami tidak saling berbicara. Biarkan keheningan malam ini menjadi saksi bisu kisahku dan Sakura yang tak akan berhasil.
/
/
Ketika aku hampir saja kehilangan jati diriku, air matanya menyadarkanku. Aku bisa kembali berfikir waras. Aku tak ingin mengakhiri kisahku dengan Sakura menjadi sebuah penyesalah di kemudian hari. Aku tahu betapa besar cintanya pada Sasuke. Aku selalu melihatnya setiap waktu. Meski Sakura tak menunjukkannya padaku, tapi aku bisa mengerti. Aku bisa mengerti rasanya untuk tidak egois dengan menahan keinginan egonya. Karena aku sangat mencintaimu, maka aku tahu bagaimana rasanya rasa yang tak tersampaikan. Kita sudah saling sabar dan tidak egois. Kita sudah lama berbaur dengan luka.
Namun cintaku padamu adalah cinta untuk melihatmu bahagia, Sakura...
Aku paham apa kensekuensinya.. aku paham apa itu luka... sakitnya itu nyata..
Tapi aku bisa bertahan, aku bisa mengobatinya.. meski butuh waktu yang lama, aku pasti bisa menyembuhkannya...
Aku tidak yakin denganmu. Untuk mencoba tidak egois akan perasaanmu pada Sasuke saja kau kewalahan, justru perasaamu semakin bertambah besar setiap harinya. Jika aku memaksa masuk akan ego kita, tidak ada jaminan kita akan hidup bahagia. Walau aku mendapatkanmu, tapi bukan berarti aku bisa bahagia. Jika kau menderita, maka aku bisa merasakan rasa yang sama. Mungkin akan dua kali lipatnya...
Memang lebih baik seperti ini.. di antara kita harus ada yang bahagia. Karena bahagiaku adalah dirimu, maka kau harus bahagia, Sakura. Kau harus bahagia demi diriku!
/
/
Aku mengusap pucuk kepala Sakura. Dia menampakkan wajahnya. Air matanya sungguh menyesakkan di dadaku.
Aku lalu mengecup keningnya dengan lembut...
"Gomen..." Katanya.
"Tidak perlu minta maaf... Setelah semuanya usai, kau tetaplah bersikap seperti biasanya. Aku tidak akan menghilang dari kehidupanmu. Kau bisa menganggap aku sebagai teman atau kerabatmu.. Meski bukan kandung, aku masih ayah Sarada... Aku tidak akan menciptakan kecanggungan di antara kita.. Ini memang sangat berat dan begitu menyakitkan untukku. Percayalah, aku akan membaik dan menyembuhkan lukaku. Kau tidak perlu merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Percayalah pada takdir Tuhan dan berusalah hidup bahagia!"
Sakura mengangguk dan kami saling tersenyum..
Melihat senyuman Sakura yang begitu tulus malam ini membuat hatiku senang... jadi, ini keputusan yang benar, kan?
/
/
/
"Kau yakin dengan keputusanmu itu? Padahal akhirnya Sakura memilihmu.." Kata Naruto.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.. "Surat cerai juga sudah kami tanda tangani. Sudah tidak bisa mundur lagi. Lagipula... ini..." Aku menujukkan sebuah gambar dari ponselku.
Mata Naruto langsung melotot selebar-lebarnya. Aku tahu dia sangat kaget, akupun juga waktu pertama kali melihatnya.
"JADI DIA HAMIL ANAKMU?" Tanyanya. Cukup keras. Brisik! Dia terlihat tak percaya.
"Maa nah..." yaps, ekspresi yang sama yang terjadi padaku dulu.
Mulut Naruto membuka lebar. Dia syock atau kesambar setan sih? Terserahlah...
Aku kembali melihat gambar, tidak maksudku foto yang ada di ponselku. Sebuah foto hasil USG. Aku tersenyum saat melihatnya. Dia terlihat begitu mungil, nampak seperti Sarada dulu saat di dalam kandungan. Aku menjadi tidak sabar untuk melihatnya di dunia ini.
.\
.
.
.
... BERSAMBUNG...
...
...
.
Hayo apa itu... ? wkwkkwkw... penjelasannya besok deh di cannon chapter.
.
.
.
Belum end juga ya? Sabar, ini kan chapter special Gaara. Belum lagi Sakura... nanti juga ada omake... jadi kalo gak meleset itungannya gini..
Special sakura..
Cannon chapter..
Omake..
Udah tiga chapter lagi insyaalloh end... kalo yang sebelumnya kan aku sudah bilang, terlalu panjang untuk jadi sechapter makanya aku bagi-bagi jadi 4 chapter...
.
.
Gomen ne... dan makasih sudah mengikuti sampai tahap ini...
Bye bye...
