Chapter 25
End part 4
.
.
Update lama karena aku lagi sibuk urusin ayah aku yang bolak balik ke rumah sakit.. kayaknya aku pernah cerita di chapter2 sebelumnya... karena aku itu anak bungsu yang semua kakaknya jauh di luar jawa, jadi yang bisa urusin ayah hanya aku... jadi maklumin ya.. updatenya moloooooooooooorrrrrrrrr
.
;
Biarkan cerita ini fool se-fool-nya.. hehehe
.
.
Dozo minna...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
.
.
"Dengan demikian, Sabaku Gaara dan Sabaku Sakura resmi bercerai!" Kata hakim.
Thog.. thog.. thog... suara palu hakim terdengar.
Sakura dan Gaara saling berpelukkan. Gaara ikhlas, Sakura legawa.
Tak banyak orang yang menghadiri sidang perceraian mereka berdua. Keluarga Sakura, Naruto, dan Yuuichirou. Sasuke dan Sarada tidak hadir dalam perceraian itu. Sasuke ada meeting di kantor, sementara Sarada sekolah.
Di parkiran gedung pengadilan...
"Bandara?" Tanya Sakura.
Gaara mematikan Hpnya... "Dia mau berangkat ke luar negeri..."
Sakura memukul kepala Gaara... "Kau bodoh ya? Kalau kau tahu dia mau pergi, kenapa kau malah memilih menghadiri sidang perceraian kita sih?"
"Kau bisa kasar juga kepadaku ya..."
"Jangan banyak protes. Ayo!" Sakura menyeret Gaara ke dalam mobil milik Gaara. Sakura meminta kuncil mobil Gaara. Tanpa Gaara duga, Sakura tancap gas dengan sangat cepatnya. Menembus jalan raya kota Tokyo yang tak begitu ramai kendaraan. Membuat sirine mobil polisi nyala dan mengejar mereka berdua.
"Sakura, polisis mengejar kita!" Kata Gaara.
"Kalau kita tidak cepat, keburu dia lepas landas!"
"Tapi kan tidak perlu secepat ini! Kita melanggar peraturan, Sakura!"
"Di saat seperti ini, kau masih bisa memikirkan hal itu? Hei... kalau cewek itu pergi jauh membawa anakmu, kau akan mengalami nasib yang sama dengan Sasuke!"
"..." Itu pasti sangat menyakitkan.
"Cewek itu akan mengalami masa sulit... Aku beruntung karena memilikimu. Tapi, bagaimana dengan dia?"
Gaara menunduk...
"Jika kau masih ragu akan perasaanmu, jangan kau mencoba melarikan diri! Tetaplah bersamanya! Tetaplah di sampingnya! Dengan begitu, lambat laun, kau akan mengerti bagaimana hatimu mengarah... Jangan sampai kau menyesal suatu hari nanti..."
"..."
"Melarikan diri tidak akan pernah menyelesaikan masalah...
"..."
"Lagipula, dia mengandung anakmu.. Aku tidak tahu kalian melakukannya atas dasar cinta atau tidak.. sengaja atau tidak..."
"Aku bilang, waktu itu aku mabuk Sakura..."
"Iya, aku tahu... Gaara-kun adalah orang baik... kau tidak akan melakukan hal gegabah dalam keadaan normal... Jadi, dulu kau bisa bertanggung jawab atas kehamilanku yang jelas-jelas bukan anakmu, kenapa kau tak bisa bertanggung jawab kepadanya yang jelas-jelas mengandung anakmu? Darah dagingmu? Kau hanya perlu mengatakan... 'jangan pergi! Tetaplah bersamamu!... kepadanya... Itu tidak sulit, kan? Masalah perasaanmu yang masih mengambang, akan terjawab oleh waktu.."
"... Sakura lampu kuning!" Gaara menunjuk lampu kuning di depan.
"Cih, kau mendengarkanku tidak sih?" Sakura menambah gigi dan menginjak gas semakin gila.
"HOIII... KAU GILA YA!"
Dan mobil polisis tertinggal di belakang terkena lampu merah!
"YEY..."
Sakura dan Gaara langsung tos... lebih tepatnya Gaara terbawa suasana. Dan setelah ia menyadarinya, hanya tertawa renyah yang mengalun dari mulutnya.
"Jangan lakukan lagi lain kali, ini sangat berbahaya! Setelah ini kita akan membuat laporan ke kantor polisi..." Kata Gaara.
"Iya.. hehehe..."
20 menit tidak ada, mereka sampai di bandara. Berlari menuju pintu masuk bandara dengan sangat cepat. Mata memeriksa kesekeliling bandara International Tokyo yang begitu ramai penumpang. Sakura melihat cewek berambut coklat panjang memakai dress di bawah lutut sedang menggeret kopernya menuju antrian masuk bandara untuk check in tiket. Hamil 6 bulan begitu nampak di perutnya. Sakura memberitahu Gaara, mereka lalu mengejar cewek itu.
"RIE!" Panggil Gaara keras. Membuat banyak orang menoleh ke arah sumber suara. Termasuk Rie.
"Ga-Gaara-sama?" Rie terbata kaget tak menduga jika Gaara memanggil namanya saat ini.
Gaara mendekat dan memeluk Rea. "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Hiduplah bersamaku dan membesarkan anak kita berdua! Aku akan memperlakukanmu jauh lebih baik... Aku.. aku akan me-membelikanmu makanan yang enak... rumah.. aku akan membuatmu lebih bahagia... Aku tahu ini telat... tapi, maafkan aku!" kata Gaara hampir tanpa jeda dan sangat cepat. Ia bahkan sampai terengah-engah.
"Gaara-sama, pelan-pelan!" Sura merdu itu sangat sejuk di telinga.
"Rie.. maafkan aku!"
"Kata maaf selalu ada untuk Gaara-sama..."
"Rie... meski aku belum menyiapkan cincin, tapi, maukah kau menikah denganku?"
Sumpah demi apa, Gaara melamar Rie sambil berlutut dan memegang kedua tangan Rie di tempat umum yang sangat ramai.
Sakura aja sampai speachless OOC tidak menyangka.
Lamaran mendadak? Sakura bahkan tak menduga skenario seperti ini sudah Gaara siapkan sejak awal. Atau mungkin Gaara kehabisan ide dan melakukan improfisasi?
Dan entah apa yang terjadi. Ini komedi atau drama panggung apa, tiba-tiba, para pengunjung bandara ikut teriak dan bilang.. "TRIMA.. TRIMA.. TRIMA..." Sambil tepuk-tepuk tangan. Dan bodohnya, Sakura juga ikutan.
Rie tersenyum dan lalu menangis... "Hai, Gaara-sama."
Dan mereka kembali berpelukkan.
"hore... selamat ya.. langgeng... bahagia selalu.. cepet punya baby.. eh, udah hamil.. kalau begitu, moga bayinya sehat ya..."
Semua yang ada di di depan bandara langsung bersorak turut bahagia untuk pasangan terbaru abad 21 ini. XD
"Ayuzawa Rie, 2 tahun di bawahku dan Gaara-kun. Seorang wanita bangsawan yang sangat cantik. Bahkan jauh lebih cantik dariku. Rambutnya coklat panjang dan sangat indah. Matanya bulat besar dan teduh. Bagaikan eyedrop yang menenangkan. Gaara-kun bilang, dia adalah anak tetangganya dulu ketika mereka tinggal di Hokaido saat masih bersama orang tua Gaara. Mereka terpisah semenjak orang tua Gaara-kun meninggal. Gaara-kun ikut neneknya di Kyoto. Aku tak perlu menghawatirkan cewek anggun itu, Gaara-kun mengenalnya sejak kecil. Dia pasti orang yang baik... Selain itu, cara berbicaranya juga sangat sopan, bahkan meski Gaara-kun itu teman kecilnya... –sama ya.. Tidak hanya sopan, tapi dia menempatkan Gaara-ku pada tingkatan yang sangat tinggi... waah, tapi aku bisa melihat seberapa besar dia mencintai Gaara-kun... Yang Aku tak sangka, Gaara menghamili Rie. Gila, sungguh, aku tidak pernah membayangkan jika seorang Gaara yang super baik hati itu bisa melakukan hal keji juga. Tapi, dia bilang ia tidak sengaja karena mabuk. Alkohol memang sangat tidak baik... Maa... asal dia mau mempertanggungkan segala kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya, maka aku tidak perlu khawatir. Karena itu adalah hidup Gaara-kun, maka Gaara-kun pasti bisa melaluinya... Gaara-kun.. meski 11 tahun adalah waktu yang lama untuk kita bersama, banyak kisah yang sudah kita ukir, kita tertawa dan menangis bersama, tentu saja kau berusaha keras untuk membuatku tertawa, namun inilah yang terbaik. Untukmu, maupun untukku. Memilih orang yang mencintaimu dengan tulus adalah yang terbaik! Aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu... Arigatou gozaimasu.. Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan untukku.. Jika kau tidak membuat keputusan bercerai, entah bagaimana perasaanku kepadamu di masa depan. Untunglah kau memilih pilihan yang tepat... semoga tidak ada orang yang melarikan diri lagi.. Tidak perlu berbohong, cukup hadapi dan biarkan waktu bermain dengan kisahnya atas kehendak Tuhan..." Sakura tersenyum melih dua sejoli yang saling berpelukkan bahagia. Sangat serasi. Ini adalah yang terbaik.
Sakura lalu memberikan kuncil mobil Gaara pada satpam bandara dan meminta satpam itu untuk memberikannya pada Gaara ketika mereka sudah selesai berpelukkan. Sementara Sakura, pergi melenggang pulang naik taxi.
.
.
.
Like a Fool.
.
.
.
Time skip...
"Paman tidak usah membantuku!" Kata Sarada ketus ketika Sasuke mencoba membantu melepaskan sabuk pengaman Sarada.
Sasuke menurutinya. Ini bukan hanya sekali Sarada menjadi sangat dingin seperti ini terhadap dirinya. Sarada yang ia kenal saat di stasiun Kyoto sudah lenyap ketika Sarada diberitahu jika ia dalah ayah kandungnya. Bagi anak seusia Sarada, memang sangat sulit untuk menerimanya ketika ada orang baru di dalam hidupnya dan tiba-tiba menjadi sosok seorang ayah.
Sasuke bahkan tidak mempermasalahkan jika Sarada enggan memanggilnya dengan sebutan ayah. Jujur, rasanya menyakitkan. Anak kandung sendiri enggan mengakuinya sebagai seorang ayah. Miris memang. Tapi mungkin ini adalah karma yang harus ia bayar.
Tidak hanya mendapatkan sikap dingin dari sarada, Sasuke bahkan selalu ditolak Sarada. Jika bukan karena Sakura memaksa tadi pagi, Sarada pasti tidak akan mau berangkat sekolah bersamanya. Rasanya tidak nyaman, hanya karena menyuruh Sarada berangkat dengannya, Sakura sampai bertengkar dengan Sarada. Sasuke sadar, meski ia ayah kandung Sarada, namun ia adalah orang baru dalam hidup Sarada. Ia tidak bisa memaksa Sarada menerimanya secara cepat. Ia harus pelan-pelan.
"Paman akan membantumu menyebrang jalan. Sangat berbahaya jika kau menyebrangnya sendirian.." Kata Sasuke.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"
"Sarada, itu sangat berbahaya! Jalanan cukup ramai... Ini juga hari pertamamu setelah resmi pindah sekolah, seseorang harus menjadi walimu. Karena mamamu sedang ada oprasi mendadak pagi ini, maka paman yang akan menjadi walimu..."
"Aku hanya mau ayah Gaara! Kembalikan ayahku!"
"Sarada..."
"Kenapa paman hadir di hidup kami? Hiksss.. kalau paman tidak ada, ayahku tidak akan pergi meninggalkanku dan mama! Paman jahaaattttttttttttt!" Sarada menangis.
Hati Sasuke bergetar. Ia sering membuat anaknya menangis. Tapi kali ini sangat perih... ia menunduk lalu menatap Sarada... "Apa yang bisa paman lakukan untuk membuatmu bahagia?"
"Menghilanglah dari hidupku karena aku... sangat membenci paman..." Kata Sarada yang langsung berlari menyebrang jalan menuju gerbang sekolah.
Namun, dari arah kanan, suara klakson terdengar begitu keras. PIIIIIIIIIIIIIIMMMMMMMMMMM... sebuah truk muatan melaju kencang menuju ke arah Sarada.
"SARADAAAAAA..."
Sasuke yang menyadarinya langsung berlari menyelamatkan anaknya. Tubuh Sasuke terpental karena mencium kepala truk muatan itu. Namun ia berhasil menyelamatkan Sarada sesaat sebelum kepala truk muatan itu menabraknya. Tubuhnya berguling beberapa kali di aspal. Sarada yang masih syok karena kejadian itu langsung berlari melihat keadaan Sasuke.
Ada banyak darah yang keluar dari tubuh Sasuke. Ia sempat membatu karena takut dan kaget di waktu yang sama.
"Paman?" Katanya lirih. Sasuke masih terdiam.. "Paman?... paman... paman..." Ia hanya bisa memanggil Sasuke dengna sebutan paman beberapa kali.
Sasuke membuka matanya, ia membelai pipi Sarada... "Sa.. ra.. da?.. Yo.. ka.. ta... Kau.. ti.. dak.. apa.. ap-pa..." Sasuke sempat tersenyum sebentar sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
"PAMAAAAAAAAAAANNNNNNN..." Triak Sarada langsung menangis. Sarada masih iangat bagaimana ia tadi berdebat dengan Sasuke. Ia ingat Sasuke menyelamatkannya. Ia melihat Sasuke yang tadi ia suruh menghilang dari hidupnya tergeletak penuh darah di hadapannya. Ia memegang pipi bekas sentuhan tangan Sasuke. Ada darah Sasuke di tangannya. Ia mengamati darah itu, darah orang yang menyelamatkan hidupnya dari kecelakaan maut. Tubuhnya gemetar hebat. Ia meremas baju sekolahnya. Ia menangis sekeras-kerasnya.
/
/
/
Hospital
Sarada masih memakai baju sekolah yang terkena bercak darah Sasuke. Ia enggan berganti pakaian karena ingin tetap menunggu Sasuke yang masuk ruang oprasi. Air matanya terus mengalir meski ia tidak mengeluarkan suara tangisan.
Mikoto duduk di samping Sarada, ia mencoba menguatkan cucunya itu. Itachi dan Naruto hanya bisa duduk-berdiri-duduk lagi, melihat ke arah pintu ruang oprasi. Jelas sekali tergambar di raut muka mereka jika mereka saat ini sedang sangat khawatir.
Fugaku duduk tenang di bangku tunggu depan ruang oprasi. Terlihat tenang, tapi percayalah, di dalam hatinya saat ini, ia juga sedang kalut. Semarah-marahnya ia dengan Sasuke, Sasuke masih putranya. Putra bungsunya!
"Ayah, ibu... Sarada?" Sakura langsung memeluk putrinya itu. Tubuh Sarada gemetar. Sangat gemetar. Sakura tahu jika saat ini Sarada sangat ketakutan.
"Ma-ma? Paman... Paman ti-tidak a-akan me-mening-nggal-kan kita, kan?" Kata Sarada terbata.
"Sttt... tenanglah.. Mama akan menyelamatkan papamu!" Sakura mengelus pucuk kepala sarada. Jujur saja, di dalam hati ia juga tidak tenang, melihat Sarada terkena bercak darah Sasuke yag cukup banyak. "Ibu, ayah, Itachi-nii, Naruto titip Sarada..." Sakura langsung masuk ke ruang oprasi.
Sakura baru saja menyelesaikan oprasi pengangkatan tumor di usus, baru selesai, belom sempat istirahat, ia mendapatkan kabar dari emergency jika ada pasien kecelakaan dengan luka yang sangat parah. Shif pagi hanya ada dia di Rumah sakit dengan lisensi spesialist dokter bedah, maka ia harus segera menangani pasien kecelakaan itu meskipun ia sangat lelah sekalipun.
Belom sempat bernafas teratur, ia kembali dikejutkan dengan nama pasien yang mengalami kecelakaan. Matanya membulat hebat.
Ruang oprasi..
Sakura memakai sarung tangannya... Ia menatap Sasuke. Ada luka di lengan dan kaki Sasuke, tulang rusuk terlihat memar, sementara di kepala Sasuke juga ada luka yang fatal, Ia ingin menangis. Ia ingin berteriak...
"Sasuke-nii.. bisakah aku menyelamatkanmu?"
.
.
.
Like a Fool.
.
.
.
"Ohayou, Mr, Uchiha, saya dr. Sakura yang akan memeriksa kondisimu setelah 3 hari koma. Mohon kerja samanya..." Kata Sakura sangat ramah.
Sasuke terdiam meski matanya terbuka dan jelas melihat dan menyadari kehadirannya.. "..." Ia menunjukkan ekspresi seperti orang bingung.
"Uchiha-san?" Sakura tereranjat. Apa Sasuke tidak mengenalinya?
"..."
"U-Uchiha-san? Ini berapa?" Sakura menunjukkan kelima jarinya kepada Sasuke.
Sasuke terdiam seolah berfikir..."..."
Ekspresi bingun Sasuke membuat Sakura semakin khawatir. Ia yakin, sangat yakin jika oprasi yang ia tangani itu berhasil. Ia bisa memastikannya jika tidak akan ada efek parah pasca oprasi. Ia bahkan yakin, sangat yakin jika gumpalan darah beku di otak Sasuke juga berhasil ia tangani. Meski Sasuke koma 3 hari, tapi ia bisa memastikan jika hasil pemeriksaan pasca oprasi tidak menunjukkan gejala-gejala lain.
Namun... apa diagnosanya salah?
ia menggeleng. Tubuhnya gemetaran.
Ia kembali menunjukkn jari tangannya.. "Uchiha-san?" Sakura ingin menangis
"Itu 5, Sakura... dan berhentilah memanggil kakakmu ini dengan sebutan seperti itu!" Kata Sasuke palan. Ia bahkan sempat tersenyum di balik alat bantu oksigennya.
"Sasuke-nii!" Sakura refleks ingin memukul Sasuke karena sempat mencandainya di saat yang genting seperti ini.
"Kau ingin memukul seorang pasien yang sekarat ini?"
"Maaf.."
"Sepertinya lukaku sangat parah?"
"Iya, ada pembekuan darah di otak, gegar otak ringan. Aku menjahit kepalamu dengan 50 jahitan... Tanganmu patah sebelah kiri, tapi akan membaik meski agak lama. Aku memasang platina di pergelangan tanganmu... Tulang rusuk retak di beberapa tempat, tapi bersyukyrlah karena organ dalammu aman... Untuk kaki, hanya retak sebagian, luka memar dan lecet. Luka luar akan sembuh lebih cepat..."
"Kau menakuti pasienmu, Sakura.."
"Gomen..."
"Ahh, kukira aku akan mati.."
"Isssh, jangan bicara sembarangan!"
"..."
"..."
"Bagaimana keadaan, Sarada?" Tanya Saasuke.
"Sarada baik-baik saja. Luka lebam sama memar dan goresan memang belom hilang, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lebih lanjut. Hari ini dia juga sudah mulai berangkat sekolah..."
"Syukurlah..."
"Sasuke-nii..."
"Hm?"
Sakura memegang tangan kanan Sasuke, lalu meneteskan air mata... "Terima kasih sudah menyelamatkan Sarada.. Terima kasih banyak..."
Sasuke membalas memegang tangan Sakura meski tangannya masih terasa sangat lemah... "Kau ini bicara apa, Sakura? Setiap orang tua akan melakukan hal yang sama demi anaknya.."
"..." Hiksss
"Jangan menangis, itu melukai hatiku...!"
Benar, Sasuke itu sangat tidak suka jika Sakura menangis di hadapannya. Sakura buruan menghapus air matanya. Ia lalu tersenyum... "Terima kasih karena masih hidup sampai detik ini, sasuke-nii..."
.
.
.
LIKE A FOOL.
.
.
.
Time skip, 8 hari kemudian...
Sakura mendapatkan tamparan keras dari Hinata. Ia hanya bisa menunduk sambil memegangi pipinya yang memanas karena bekas tamparan. Ia menangis, berbeda dengan Hinata yang nampak datar. Sementara Sasuke hanya terdiam di ranjang pasiennya. Ia tidak berniat membela salah satunya.
"Itu tamparan karena kau sudah membohongiku.. Kau tega Sakura, kukira kau sahabatku, tapi kau mengkhianatiku... bisa-bisanya kau bermain dengan Sasuke-kun di belakangku sementara kau tau jika aku menyukai sasuke-kun.. Kau jahat Sakura..." kata Hinata dan plaaaaaak... ia gantian menampar pipi Sakura yang satunya... "Dan itu tamparan karena kau meninggalkan Sasuke-kun begitu lamanya.. kau membuatnya sakit dan menderita..."
Sakura melebarkan kedua matanya.. ia lalu menatap Hinata dengan benar... "Hi-Hinata?"
Hinata lalu menjulurkan lidah dan tersenyum... "Ahhh, begini ya rasanya menampar orang? Hebaat.. ada rasa yang membuncah.. aku lega..."
"Hinata?" Sakura berusaha menata pikirannya.
"Kau lihat itu Sasuke-kun? Kau tidak marahkan karena aku melukai wanita pujaanmu?... Saat aku di America untuk menghadiri urusan bisnis, aku mendapatkan kabar dari Ino jika putri bungsu Uchiha telah kembali. Dan parahnya lagi, aku baru tahu jika Sasuke-kun kecelakaan parah.. aku buru-buru terbang untuk menemui kalian... Sakura berubah sangat banyak.. dan kau Sasuke-kun, baru kutinggal beberapa hari, kau sudah terlihat menyedihkan seperti ini.. apa-apaan itu? Perban di kepala.. tangan..."
"Gomen, Hinata..." Kata Sasuke. ia pernah berjanji pada Hinata, jika ia tidak akan pernah menyakiti dirinya lagi.
Sakura melihat kedekatan Sasuke dan Hinata yang terlihat sangat berbeda. Dulu hinata sangat kaku jika harus berdekatan dengan Sasuke, namun kali ini, Hinata bisa natural dan... begitu akrab dengan Sasuke. Sedekat itu, kah mereka saat ini?
Sakura memang memiliki perasaan pada sasuke-masih.. tapi ia dan Sasuke memutuskan untuk mengesampingkan perasaan mereka demi keluarga, terutama Sarada. Sakura tidak kaget soal hubungan Hinata dan Sasuke, ibunya yang memberitahu jika Hinata dan Sasuke sudah bertunangan 4 bulan yang lalu. Meski begitu, Narutopun juga sempat memberi kabar, hanya saja waktu itu ia enggan menanggapinya.
"Kudengar juga Sakura memiliki anak denganmu, Sasuke-kun?.. waaah, kalian parah sekali, tega ya, menyakitiku sampai sebegitu dalamnya.. ckckck..." hinata berkacak pinggang.
"..."
"Maaf..."
Hinata menatap kedua teman SMAnya yang hanya bisa minta maaf dan menundukkan kepalanya..."Haaaaahh..." Ia menghela nafas... "Sasuke-kun, tugasku sudah selesai.. Sakura sudah kembali.. sudah waktunya kau untuk bahagia...'
"Tugas?" Gumam Sakura tak mengerti.
"Hoo, kau penasaran, Sakura? Tanyakan saja pada Sasuke-kun..." Gaya bicara Hinata juga banyak berubah. Sakura berfikir jika Hinata semakin dewasa. Semakin bijak... "Aku sudah bilang pada ayahku untuk membatalkan pertunangan kita. Ingat, aku yang membatalkan pertungan ini. Jadi, AKU YANG MENOLAKMU, SASUKE-KUN! Hahaha, lihatkan, ada juga wanita yang menolakmu... hehe... "
"Aku memang tidak pantas mendapatkan gadis sebaik dirimu, Hinata..." Kata Sasuke.
"Tentu saja! Aku ini sangat baik dan cantik, orang sepertimu tidak pantas mendapatkanku!" Kata Hinata mencoba membanggakan diri. Ia tersenyum, Sasukepun ikut tersenyum. "Aku masih ada meeting di kantor pagi ini, aku harus kembali... Sakura, aku sudah menyelamatkan sasuke dari mimpi buruknya, kuharap kau tidak merusak jerih payahku selama ini.." Kata Hinata, ia lalu menepuk bahu Sakura dan keluar dari kamar inap Sasuke.
/
/
Hinata menutup pintu kamar inap Sasuke. Ia bersandar pelan di daun pintu itu. Ia tersenyum karena sudah berhasil menyelamatkan teman SMA sekaligus cinta pertamanya. air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya terjatuh juga. Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak... Bohong jika ia sudah tidak apa-apa.. bohong jika ia sudah baik-baik saja.
Cinta pertama memang tak pernah berhasil...
Itu yang ia yakin.. memudar bersama langkah kakinya yang semakin menjauh.. akan hilang bersama air matanyanya yang terjatuh...
"Sayonara, watashi no hatsukoi, Sasuke-kun..."
/
/
"Hinata?" Gumam Naruto yang baru saja memarkirkan mobilnya. Ia melihat Hinata terlihat buruk sesaat setelah mobil Hinata melewati mobilnya yang sedang parkir di parkiran rumah sakit.
"Paman Naruto?" Kata Sarada.. "Ada apa?"
"Hmm, tidak.. tidak ada apa-apa.. ayo Sarada, kita jenguk ayahmu..."
"..."
"Paman Sasuke itu adalah ayahmu, ayah kandungmu... Bukankah kau sudah berjanji pada paman sama ayah Gaara jika kau akan menemui paman Sasuke?"
Ya, Sarada selama kejadian kecelakaan sampai hari ini belum menemui Sasuke sama sekali. Sarada masih belum siap bagaimana ia seharusnya bersikap menghadapi Sasuke. Namun, setelah ia mendapatkan nasihat dari Gaara dan Naruto, serta Yuu, akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk menjenguk Sasuke, sosok yang katanya adalah ayah kandungnya.
/
/
Lorong RS menuju kamar inap Sasuke...
"Paman, biar aku sendiri yang menemui paman Sasuke..." Kata Sarada.
"Kau yakin?"
Sarada menangguk...
Naruto memberikan bingkisan buah yang ia beli kepada Sarada... "Ingat, tidak perlu sungkan atau malu.. yang perlu kau lakukan hanyalah minta maaf pada paman Sasuke atas semua kata kasarmu terhadapnya, mengerti?"
"Iya, paman..." Sarada tersenyum.
Naruto mengacak-acak rambut Sarada.. "Anak pintar... paman akan menunggu di kursi itu.. Kalau sudah selesai, ayo kita makan ramen.."
"Hai..."
Naruto mengamati punggung Sarada yang semakin menjauh. Ia bangga dengan keponakannya. Meski bukan anak kandungnya, ia merasa seperti menjadi sosok ayah untuk sarada. Ia ikut membesarkan sarada. Ia ikut serta mendidiknya.. bukankah ia adalah figur ayah yang baik?
Emang sih... naruto itu orang baik.. innernya kadang membanggakan diri sendiri.
Naruto sedikit penasaran saat melihat Hinata tadi. Ia paham betul bagaimana situasi Hinata dan kisahnya. Melihat Hinata yang nampak sedih seperti itu membuat hatinya ikutan sedih... ah, ia ingat mottonya.. ada obat mujarab untuk mengobati rasa sedih..
Ia mengambil sebuah card kecil di dompetnya.. ia memotretnya lalu mengirimkannya ke kontak bernama Hyuga Hinata...
From: Naruto
To: Hinata
'Kau masih ingat kupon makan ramen gratis seumur hidup ini? Ayo kita makan bersama...!'
Beberapa saat kemudian...
From: Hinata
To: Naruto
'OK.. malem minggu besok.. jangat telat!'
Mereka saling menutup smartphonenya masing masing... senyuman tipis tersungging indah di bibir.
/
/
Kamar Sasuke...
Sakura mengganti perban kepala sasuke. Ia lalu mengganti pakaian rumah sakit milik Sasuke. Bagaimanapun tangan Sasuke itu patah, sulit baginya untuk melakukan apapun sendirian. Jadi, selama ini, Sakura yang selalu merawat Sasuke.
"Coba angkat sedikit bahumu..." Kata Sakura.
"Seperti ini?" Sasuke menunjukkan gerakan bahunya kepada Sakura. Sakura menangangguk.
"Bagaimana?"
"Masih sakit... tapi lebih baik dari 3 hari yang lalu..."
"Syukurlah... latihan sedikit demi sedikit agar ototmu tidak kaku.. Oh iya, jika hasil CT scan tulang rusukmu nanti bagus, kau bisa berdiri dan sedikit jalan-jalan ringan..."
"Hn.."
Sakura membantu menidurkan Sasuke. Sasuke meminta agar tempat tidurnya agak setengah duduk, ia sudah bosan selalu tiduran beberapa hari ini karena tulang rusuknya.
"..."
"..." Sakura sibuk membereskan peralatan medisnya.
"Sakura?"
"Hm?'
"Kau tidak ingin tahu tugas yang dimaksud Hinata?"
"Penasaran sih... tapi..., sudah tidak apa-apa..."
"Dia bersedia bertunangan denganku untuk menjagaku agar aku tidak tertarik dengan wanita lain sampai kau kembali..."
"Hah?"
"Itu yang dia lakukan selama ini..."
"Dasar bodoh, harusnya saat aku pergi, kalian itu menikah dan hidup bahagia.."
"hinata sudah menyerah sejak lama... kami hanya bersahabat, Sakura.."
"Tapi tetap saja, kan... Ini pasti sangat menyakitkan.. sangat sulit untuknya..."
"Dan sangat sulit untukku juga..." Suara Sasuke terdengar pilu.
Sakura meletakkan peralatan medisnya di meja. Ia lalu menatap Sasuke. Sasuke mengalihkan pandangannya... Sakura mendekati Sasuke dan lalu memegang pipi Sasuke.. Sasuke menatap Sakura... "Gaara-kun dan aku sudah bercerai, dia sudah bahagia dengan Rie dan akan segera memiliki anak... Hinata dan kau sudah memutuskan ikatan pertunangan dan Hinata sudah bisa mengakhirin kisah cintanya denganmu... Aku yang selama ini kabur, kini berada di sampingmu, merawatmu setiap hari. Dan yang paling penting, kita saling mencintai.. Jika kita ingin egois, kita bisa saja bersatu, Sasuke-kun... namun... kita tidak boleh seperti itu.. keadaan tidak mengizinkan kita untuk egois..."
"Kau benar... Harusnya aku tidak meminta lebih. Kau sudah kembali saja sudah lebih dari cukup, ditambah dengan kehadiran Sarada... Hidupku sudah sangat indah..."
Sakura mencium kening Sasuke yang tertutup perban... ia lalu memeluk perlahan tubuh Sasuke yang berbaring di ranjang rumah sakit... "Maafkan aku, maafkan karena tidak mengatan hal yang sebenarnya pada Sarada... maafkan juga Sarada, sasuke-nii... Maafkan semua kata dan sikapnya yang kasar terhadapmu... dia hanya belum siap menerima kehadiranmu... tapi aku yakin, aku yakin.. suatu saat nanti, Sarada pasti akan bisa menerimamu..." Sakura menangis di pelukkan Sasuke.
"Seberapa lama itu aku harus menanti, aku pasti akan menantinya.. aku bisa bertahan menantimu.. aku juga akan bertahan demi Sarada... anak kita..."
/
/
Sarada menutup kembali secara perlahan pintu kamar Sasuke... ia tidak jadi masuk ke kamar Sasuke. Ia justru kembali menemui Naruto yang duduk di kursi lorong Rumah sakit.
"Loh, sarada? Cepat sekali kau kembali?"
"Hehe..."
"Kau tersenyum seperti itu.. ada hal yang baik terjadi?"
"Sambil makan ramen nanti, paman..."
"Ya?"
"Maukah kau menceritakan tentang paman Sasuke untukku?"
Naruto menarik lebar senyumannya... akhirnya... "Baiklah... serahkan semuanya pada paman!"
/
/
/
Kisah hidup manusia itu tidak akan bisa berakhir begitu saja meskipun malaikat kematian menjemput. Di dunia setelah kematianpun, manusia masih memiliki kisahnya masing-masing. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka apapun bisa terjadi. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Yang adanya hanyalah takdir Tuhan dan sikronisiti hidup. Semua sudah diatur. Semua sudah digariskan.
Luka, nestapa, derita, senyuman, tawa, bahagia... semua orang memiliki porsinya masing-masing. Layaknya ujian hidup. Setiap orang pula sudah dijatahkan masing-masing. Sesuai dengan kemampuannya.. sesuai dengan kesanggupannya...
Manusia mengeluh akan peliknya hidup itu wajar, tapi itu bukanlah alasan untuk menyerah. Tetap bangkit dan hadapi.. jangan melarikan diri... meski kadang merasa gila akan masalah berat yang dihadapi, tetaplah yakin di dalam hati ada hadiah indah menanti. Meskii kadang sudah berusaha seperti orang yang bodoh, tetaplah percaya jika akhir yang indah itu ada.
Cinta tau kemana akan berjalan. Cinta tahu mana arah yang dituju..jatuh cinta bukanlah dosa.. bukanlah kesalahan... Cinta yang indah adalah cinta yang murni.. cinta yang suci.. cinta yang tak mengenal syarat.. unconditional love... cinta yang tak egoisl.. cinta yang ingin yang dikasihi bahagia...
Cinta memang buta, tapi punya mata hati yang akan selalu menuntun ke arah yang semestinya... seperti orang tolol, meski tersakiti terus menerus, tapi cinta masih selalu hidup di dalam relung hati yang tak akan pernah meredup...
Meski cinta pergi jauh, tapi cinta akan kembali dengan cara yang sulit dimengerti... Inilah campur tangan Tuhan yang sang pembolak-balik hati...
.
.
.
.
===THE END===
.
.
.
GOMEN... AKHIRNYA. TAMAT DI TAMAT PART 4 YA... HEHHEHE...
JADI... ini happy ending apa bad ending? Hmmm... silahkan nilai sendiri... buat tim SasuHina, maaf.. udah diwarning ini FF SasuSaku... walau Sasuke brengsek di sini, atau sakura yang terkesan murahan di sini... yaudah gampangnya.. yang brengsek ma murahan jadiiin satu aja ya.. kasihan yang baik-baik kek Hinata ma Gaara jika dipasangankan dg orang-orang kek mreka.. XD.. hahahah
Ayuzawa Rie siapa?... jawab aja.. itu adalah kalian fansnya Gaara... hahahahah.. karakter ada diimajinasi masing-masing,.. Loh kenapa dia baru nonggol... gak sjak awal gitu kayak cameo Yuu.. gini ya,, nanti panjang bgt critanya, soalnya rumit hubungan mreka mah... Intinya di atas udah di jelasin.. Gaara ma Rie itu sahabatan... gmn Rie bs hamil,,, yaelah... pas Rie main ke Kyoto dia ktemu Gaara.. perasaan Rie yg cinta ke Gaara belom berubah, malah makin besar karena jarak... Gaara itu cinta ma Sakura, udah nikah, tapi tidak pernah skalipun tidur bareng,.,. ada dong cowok punya hasrat kek gitu, Gaara itu normal... suatu hari Gaara melampiaskannya dg mabuk, naah.. ketemu Rie tuh.. habis itu.. you knowlah... berakhir di ranjang...
Setelah Rie hamil.. Gaara awalnya masih bingung mau gmn... hati milik Sakura, tapi benih nyasar di rahim Rie.. seolah-olah Gaara enggan bertanggung jawab.. rie tidak mempermasalahkannya.. ia tidak akan memaksa Gaara buat menikahinya... cintanya murni buat Gaara... njiir.. ada ya cewek kek gini.. maklumin aja.. FF
Tapi selamat rie... kamu mendapatkan gaara.. hahahahhaha... Rie itu aku... Plaaaaaaaakk... dilempar sendal...
/
/
Jadi Naruto ma Hinata ya?
Di anime gitu kan... aku tuh kalo buat FF gak menyimpang dari kenyataan yang ada di anime...
Kapan mereka saling tertarik...
Ingat yang mreka menang lomba makan ramen di Naruto POV? Ya.. itu.. lagian Hinata sudah bisa memaafkan cinta pertamanya.. ia sudah berdamai dengan luka hatinya... dengan alasan, tentu saja dia sudah siap menerima cinta yang baru..
Bagaimana dengan Naruto yang menyukai Sakura?
Cintanya pada sakura itu tulus.. tak perlu diragukan lagi.. tapi lebih ke seorang kakaknya yang ingin melindungi adiknya...
..
/
/
Cannon cerita udah end... tinggal nunggu self sidenya Sakura ma OMAKE... yang POVnya Sakura diusahakan secepatnya...
/
/
Keep fighting and never give up...
