VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa ]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 6 ]

[Godaan Pertama]

"Aku hampir kena serangan jantung saat dia mengatakan kalau kau sangat kaku!" Nyonya Margaret mengomentari putrinya yang membantunya di bagian belakang rumah. "Dia sangat tampan dan seorang diplomat, dia sangat cocok denganmu!"

"Bukankah seharusnya Akutagawa Ryuunosuke yang datang? Kenapa harus dirinya?"

"Kau ini bodoh? Kau masih menginginkan pengacara itu untuk datang? Ayahnya bahkan menganggap kau sangat berharga untuk di pasangkan dengan putranya. Dia menggantinya dengan laki-laki yang lebih baik. Seharusnya kau berterima kasih!"

Atsushi mendengus pelan. Lebih baik? Inilah akibatnya bila Ibunya tidak suka nonton TV dan terlibat dengan dunia luar, semua orang di Inggris saat ini sedang berbisik-bisik tentang betapa bajinganya Dazai Osamu. Dengan wajah tampan dan karir yang gemilang itu, dia sudah menjadi penggoda yang cukup sukses untuk menghabisi entah berapa orang perempuan di atas ranjangnya setiap malam. Sayang sekali hanya sedikit yang menuntut keadilan dari Dazai. Atsushi sangat ingin membuka mulut tentang semua ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Ia tidak akan membuat Ibunya khawatir karena Dazai Osamu pasti menolak, atau Atsushi akan membuat Dazai Osamu menolak perjodohan ini.

"Dia cukup tampan, kan? Dan yang paling penting laki-laki itu menyukaimu!"

"Benarkah? Semua laki-laki yang datang juga bersikap seperti itu pada awalnya!"

"Itu karena kau sangat egois. Alasan mereka semua sama saat menolak, kau terlihat sangat kaku dan kata-katamu itu sangat kejam. Berusahalah menjadi wanita yang dia inginkan dan menikahlah!" Nyonya Margaret kemudian menyerahkan dua tumpukan selimut kepada Atushi dengan hati-hati. "Kau antarkan ke kamar mereka, sana!"

Atsushi lagi-lagi mendesah. Dengan malas dirinya mengantarkan kedua selimut itu kelantai dua, mungkin ia akan membawa selimut itu kekamarnya dulu untuk mengganti pakaian meskipun itu harus membuatnya bolak-balik. Jadi wanita yang di inginkan Dazai Osamu? Apa dirinya harus membuka pakaianya di depan laki-laki itu? Ibunya juga akan segera kena serangan jantung kalau dia mengetahui seperti apa wanita yang di inginkan Dazai. Atsushi menggenggam selimut erat. Begitu menaiki tangga genggamanya mengendor saat melihat Dazai keluar dari kamar tamu, ia sudah berganti pakaian dan mungkin akan menyusul pamannya kehalaman. Yang bisa Atsushi lakukan sekarang hanya pura-pura tidak tau dan berjalan lurus menuju kamarnya, barulah ia akan kembali lagi untuk mengantarkan selimut. Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, kenapa ia gugup seperti sekarang, karena Dazai sedang memandanginya dan menghalangi jalanya sebisa mungkin. Atsushi menghela nafas lalu memandang Dazai kesal.

"Tidak bisa minggir?" Atsushi berkata dengan nada sinis meskipun suaranya tidak selantang yang biasa di lakukanya terhadap Dazai.

"Kebetulan sekali, Aku ingin menemuimu!"

"Untuk apa? Kau tidak boleh terlalu berharap! Aku tidak akan menikah denganmu apapun yang terjadi. Jadi lakukan apa yang ku katakan, tolak perjodohan ini dan menyingkir dari hadapanku sekarang! Aku harus segera kekamarku!"

Dazai memandang ke belakang sekilas, pintu yang berada di ujung itu ternyata milik Atsushi? Tapi melihat selimut yang Atsushi bawa, Dazai menduga kalau seharusnya selimut itu di bawa ke kamar tamu. Atsushi hanya berusaha menghindar dan tidak ingin melihat wajahnya, Dazai bisa merasakanya. "Selimut itu, harusnya kau bawa ke kamarku kan?"

"Tidak, ini untukku sendiri!" Atsushi segera menutup mulutnya. Kenapa ia mengatakan hal seperti itu? Seharusnya ia memberikan selimut itu kepada Dazai agar tidak perlu masuk kekamar tamu dan meletakkanya sendiri di tempat tidur laki-laki itu.

"Untukmu sendiri? Kau kekurangan selimut?"

"Tentu saja, musim dingin akan segera tiba dan aku sudah mulai merasa kedinginan. Aku butuh tambahan selimut!"

Lagi-lagi Atsushi berbohong. Bukan orang yang pandai berbohong karena kegugupanya sangat terlihat jelas. Atsushi menunduk saat melihat Dazai tersenyum padanya, Senyuman yang sudah membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Sejak kapan ia menjadi bodoh saat berhadapan dengan orang ini?

"Kalau begitu biarkan aku menghangatkanmu!" Dazai beraksi cepat. Karena sesaat kemudian Atsushi sudah di tarik kedalam kamar dan merasakan bunyi pintu tertutup di belakangnya. Gadis itu menggenggam selimut yang di bawanya semakin erat, tidak lama karena selimut itu segera terjatuh kelantai ketika menyadari Dazai Osamu sudah memandangi setiap inci tubuhnya. Ia bergerak selangkah demi selangkah mendekati Atsushi tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun, ia sedang berusaha mempertahankan diri dengan memasang wajah tergalaknya.

Atsushi mulai merasa terintimidasi meskipun ia terus berusaha menantang dan memandang wajah Dazai dengan pandangan tidak suka. Perlahan-lahan ia mundur dan berusaha menjaga jarak. "Kau sedang apa?"

"Lihat dirimu! Ternyata kau sangat cantik. Kau berdandan seperti ini untukku?"

"Kalau aku tau yang datang adalah kau, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini!"

"Jadi, kau berdandan seperti ini demi Akutagawa?" Dazai tertawa, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Harusnya kau tidak menggunakan camisole dengan bahu selebar ini." Ia menyentuh pundak Atsushi dengan satu jarinya sehingga Atsushi mundur selangkah lagi dan membuatnya jatuh ke tempat tidur. Gadis itu terpekik kecil saat Dazai sudah merangkak di atas tubuhnya dan menyentuh dadanya "Tapi aku suka tali yang ini,"

"Kau mau memakai camisole? Aku punya banyak!"

Dazai tertawa lagi. Atsushi masih berusaha mengejek dalam situasi segawat ini. "Kau punya banyak? Menarik! Bagaimana kalau tali ini ku buka?" sebelah tangan Dazai terangkat menarik ikatan camisole satu demi satu dan berhenti ketika Atsushi menepis tanganya.

"Kau mau bersikap kurang ajar padaku?"

"Lalu kenapa tidak teriak? Kau menyukainya kan? Katakan saja!" pandangan mata Dazai semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Atsushi yang bergerak karena menelan ludah, pandanganya kemudian turun ke camisole yang sudah terbuka sebagian dan memamerkan payudara Atsushi lebih banyak lagi. "Kau sangat pandai menuntut kan? Kalau di tempat tidur, sekuat apa tuntutanmu?" Dazai menarik tangan Atsushi yang menghalangi pandanganya dan menekanya kuat keatas ranjang. Ia kemudian menarik tali camisole yang ketiga dan keempat dengan giginya. Menggairahkan sekali dan sekarang dirinya sangat terangsang. Tapi bunyi pintu terbuka membuat Dazai menarik dirinya dari ranjang dan berdiri menghadap pamannya dengan nafas tergengah-engah. Atsushi juga melakukan hal yang sama, ia berdiri dan menghadap dinding untuk mengikat kembali ikatan camisolenya yang di lepaskan oleh Dazai.

"Kalian berdua sedang apa?" Paman Dazai menatap Dazai dan Atsushi bergantian dengan sangat heran. Tidak ada seorangpun yang menjawab hingga Atsushi berbalik dengan pakaianya yang sudah kembali utuh lalu mengambil selimut yang berserakan di lantai.

"Aku mengantarkan selimut, Paman!" Meskipun Atsushi berusaha untuk tampak biasa tapi dari suaranya barusan Paman Dazai bisa merasakan kegugupanya yang luar biasa. "Tapi selimutnya terjatuh, aku akan menggantinya. Permisi!"

Paman Dazai tersenyum kecil dan membiarkan Atsushi keluar dari kamar itu. Ia memandang Dazail lagi dan menutup pintu. "Kau mau melakukan apa? Bagaimana kalau aku tidak datang tadi?"

"Aku hanya bermain-main sedikit. Tenanglah paman, aku tidak akan melakukan apa-apa!"

"Tidak melakukan apa-apa? Kau nyaris menelanjanginya!"

"Paman, dia menyukainya! Dia tidak berteriak kan?"

Paman Dazai memukul kepala Dazai keras sehingga laki-laki itu mengaduh. "Dia wanita terhormat. Mana mungkin dia akan berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Ibunya bisa kena serangan Jantung kalau mengetahui kelakuanmu ini!"

[ Bersambung ]