VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa ]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 8 ]
[Tunangan Paling Kasar Yang Pernah Ada]
Atsushi sekarang sudah benar-benar kalut. Bayangan tentang Dazai Osamu yang mengerjainya di rumah Ibunya mungkin tidak akan pernah hilang sama sekali. Laki-laki itu pasti tertawa di belakangnya dengan sangat puas. Kemarin dia benar-benar nekat untuk pulang sendirian pagi-pagi buta agar tidak melihat wajah orang itu lagi seumur hidupnya. Bagaimana bila Dazai menerima perjodohan itu? Apa yang harus Atsushi lakukan setelah ini? Tapi rasanya mustahil Dazai akan bersedia menikah denganya. Menikah dengan Atsushi berarti mengorbankan kehidupan bersenang- senangnya karena Atsushi bukanlah orang yang suka berbagi apapun yang menjadi miliknya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, beberapa orang di kantor mungkin sudah pulang kerumah masing-masing dan beristirahat. Tapi map-map yang menumpuk dihadapanya sama sekali tidak ingin di tinggalkan.
"Kau masih bekerja?" Seseorang membuka pintu ruangan dimana Atsushi duduk seorang diri sekarang, Akutagawa.
Atsushi mengusahakan sebuah senyum. Meskipun tidak menjawab apa-apa Atsushi mengembangkan tangan memperlihatkan tumpukan map yang ada di atas mejanya lalu angkat bahu.
"Kenapa tidak kau bawa pulang saja?"
"Kalau ku bawa pulang, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah di bandingkan di kantor."
"Kalau begitu apa salahnya? Yang penting semua pekerjaan kita selesai dengan baik." Akutagawa mendekati Atsushi dan mengangkat tumpukan map itu dari atas meja. "Kita pulang! Ayo ku antar!"
Atsushi terperangah, Akutagawa sama sekali tidak bertanya apakah Atsushi bermaksud untung pulang atau tidak. Laki-laki itu membawa semua pekerjaan milik Atsushi keluar kantor dan Atsushi mau tidak mau menyusul. Akutagawa memaksa, tapi ia melakukan itu karena sangat memperdulikan Atsushi, hal yang semakin membuat Atsushi kesal pada kejadian perjodohan itu. Perlahan-lahan Atsushi membuka pintu mobil Akutagawa dan duduk disebelahnya lalu menikmati perjalanan yang tidak terlalu terburu-buru menuju flatnya. Naomi seharusnya ada di rumah hari ini, dia berjanji untuk tidak membiarkan Atsushi sendirian seperti malam kemarin.
"Sebenarnya aku tidak suka bertanya ini, tapi sungguh aku ingin tau!" Akutagawa memulai pembicaraan lagi. "Bagaimana dengan perjodohan akhir minggu lalu?"
Atsushi mendesah, Akutagawa tau gadis itu sangat tidak suka membahas semuanya, Dazai Osamu pasti sudah membuatnya kesal. Menyadari kalau dirinya akan menikah dengan laki-laki yang selalu di peranginya itu adalah pukulan yang berat baginya. Tapi Atsushi tetap menjawab meskipun dengan malas, ia tidak ingin membuat Akutagawa kecewa.
"Buruk!"
Mendengar jawaban yang singkat itu, Akutagawa spontan tertawa. "Buruk? Karena Dazai?"
"Seharusnya kau yang datang, kan? Kenapa dia yang datang?"
"Kau sangat berharap aku yang datang?"
Atsushi memandangnya sebentar lalu kembali menoleh ke jalanan yang masih ramai. "Tidak juga, tapi ku rasa kau jauh lebih baik di bandingkan dia!"
"Kenapa?"
"Apa lagi? Karena dia seorang penggoda. Entah berapa banyak wanita yang di habisinya dan aku tidak yakin bisa menghabiskan hidup dengan orang yang seperti itu!"
"Memangnya kenapa? Kau tergoda padanya?" Akutagawa berkata dengan nada yang berbeda, mungkin Atsushi menyadari perubahanya sehingga membuat gadis itu memandangnya meskipun sangat sebentar sekali. Atsushi tidak menjawab apa-apa selain hembusan nafas, cukup untuk membuat Akutagawa tersenyum getir. "Ayolah, kau sendiri juga tau kalau hampir semua laki-laki memiliki sikap yang sama. Dazai hanya sedikit lebih menonjol karena dia pernah berurusan dengan artis yang menjadi penyebab kau menamparnya untuk pertama kali di tahun ini! Lagi pula suatu keajaiban bila Dazai menggoda, para wanitalah yang mendekatinya. Sedangkan aku, beberapa kali melakukan hal yang sebaliknya. Artinya aku lebih buruk di bandingkan dengan Dazai, Kan?"
Dia sudah menggodaku! Pikir Atsushi, dia ingin meneriakkan itu. Namun ia memilih untuk mengatakan kata-kata yang lain. "Kau membelanya karena kau saudaranya!"
"Astaga!" Akutagawa pura-pura kesal dengan perkataan Atsushi barusan. "Percayalah, aku juga orang yang sama jika kau menganggapku lebih baik darinya. Sekali lagi, Dazai hanya sedikit lebih menonjol karena dia berurusan dengan artis itu. Seandainya saat itu yang berhubungan dengan klienmu adalah aku, maka yang kau tampar berkali-kali itu sudah pasti wajahku!"
"Setidaknya kau tidak pernah..." Atsushi diam, dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sedikitpun. Meskipun ia tau Akutagawa sedang memandangnya heran, Atsushi tidak akan pernah menceritakan kejadian kemarin pada orang lain. "Dia pasti menolak perjodohan itu kan?"
"Bagaimana kalau dia menerimanya?"
Atsushi menatap Akutagawa lebih lama, laju mobil sudah berhenti dan tanpa terasa Atsushi sudah sampai di depan gedung flatnya. Mendengar perkataan Akutagawa membuatnya semakin terganggu oleh perasaan takut. Laki-laki itu tersenyum untuk membuat Atsushi tenang, tapi sudah terlambat. Atsushi tidak akan pernah bisa tenang setidaknya sampai besok pagi.
"Berjanjilah padaku kalau tidak akan pernah terjadi apa-apa padamu bila dia menerimanya. Jika tidak, aku bersumpah akan menyesali diriku karena menyerahkan dirimu kepada Dazai Osamu!" Akutagawa menarik nafasnya dalam untuk menenangkan diri, sedetik kemudian menyentuh kepala Atsushi sebentar. "Aku menganggapmu seperti adikku sendiri, membiarkanya mendekatimu karena kau adalah satu-satunya orang yang selalu bisa memberikanya pelajaran. Karena itu, teruslah memberi pelajaran kepada Dazai Osamu karena dia tidak akan berhenti jika bukan dirimu yang menghentikan."
"Bagaimana caranya?"
"Jangan pernah tundukkan wajahmu sekalipun kepadanya. Atsushi, kau harus berani menunjukkan kekejamanmu kepada Dazai. Dengan begitu pada akhirnya hanya akan ada dua hal yang mungkin terjadi, dia memutuskan pertunangan lebih dulu, atau dia tidak bisa hidup tanpamu!"
Atsushi berusaha menyimpan baik-baik nasihat Akutagawa dalam otaknya. Tentu saja kedua hal itu menguntungkan bagi Atsushi. Bila akhirnya dia dan Dazai akan menikahpun, Dazai seharusnya mengubah sikapnya. Ia tersenyum sekilas lalu berterima kasih dan keluar dari mobil sambil memeluk map-mapnya. Flatnya tidak memiliki lift, jadi Atsushi harus menaiki anak tangga satu persatu hingga ia sampai di lantai tiga dimana dirinya dan Naomi tinggal. Ada perasaan aneh saat dirinya dan Akutagawa berbincang-bincang tadi, ucapan Akutagawa membuat Atsushi di liputi perasaan yang misterius. Atsushi berhenti melangkah. Ponselnya berdering dan itu adalah telpon dari Naomi, teman serumahnya.
"Kau dimana? Kenapa pulangnya lama?" Naomi menyerang seketika sebelum Atsushi sempat berbicara.
"Aku lembur dan harus mengerjakan banyak pekerjaan hari ini. Tapi aku akan berada di depan pintu dalam waktu kurang dari semenit!"
"Baiklah!" Naomi lalu menutup telpon.
Atsushi sekarang benar-benar sudah berhenti di depan pintu flatnya dan bersiap masuk. Sekilas ia melirik ke flat sebelah yang lampunya masih menyala terang. Ia kenal dengan wanita yang tinggal disana, wanita itu tidak pernah menyalakan lampu sebelum tengah malam karena ia baru pulang bekerja pada jam-jamnya orang tidur. Ia mengangkat bahu, mungkin wanita Prancis yang bernama Lucy itu sedang tidak bekerja hari ini.
"Selamat datang!" Naomi membukakan pintu dengan riang lalu memeluk Atsushi erat-erat. "Kau jahat sekali, kenapa tidak memberitahu padaku?"
Sebelah alis Atsushi terangkat, ia tidak mengerti dengan apa yang Naomi katakan. Atsushi harus memberi tahunya tentang apa? Tapi begitu melihat Dazai berdiri di belakang Naomi, Atsushi rasa ia tau apa yang Naomi maksud. Yang jelas saat ini Atsushi sama sekali tidak tau harus menjawab apa, dia hanya menunggu sampai Naomi melepaskan pelukanya dan memandang Dazai yang medekatinya.
"Kenapa kau tidak minta di jemput, aku pasti menjemputmu!"
Atsushi berdesis samar mendengar ucapan manis Dazai barusan. "Aku pulang bersama..." Sepertinya Atsushi tidak bisa mengatakan kepada Dazai kalau dirinya pulang bersama Akutagawa. Bagaimana bila Dazai sampai punya ide untuk meminta Akutagawa memberitahunya kapan dan jam berapa Atsushi pulang lalu membayar orang untuk menculik, memukuli, lalu membuangnya ke laut? Atsushi mengerjapkan matanya. Mungkin pikiran anehnya sudah sangat keterlaluan.
"Siapa?" Dazai membantu Atsushi membuyarkan lamunanya.
"Supir taksi!"
Dazai lagi-lagi tersenyum misterius. Senyum yang sama dengan senyuman yang membuat Atsushi tidak bisa berfikir seperti waktu itu. Ia membenci keadaan seperti ini, dan membenci Dazai. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa bodoh dan kehilangan akal sehingga ia merelakan Dazai menggenggam tanganya begitu saja. Atsushi berusaha memulihkan kembali indranya dan berhasil, tapi hanya sementara. Ia kembali bingung saat melihat tangan Dazai sudah menyelipkan sebuah cincin di jarinya. Sebuah cincin bermata ruby merah yang bersinar-sinar di terangi lampu. "Maaf karena aku terlambat memberikan cincin pertunangan kita." Dazai kemudian mengangkat tanganya dan memperlihatkan cincin dengan model serupa tanpa ruby.
"Apa maksudmu!"
"Memangnya apa lagi?" Dazai tersenyum lagi sehingga membuat Atsushi merasa lumpuh. Ia mencium kening Atsushi dengan mesra. "Terimakasih atas semuanya. Kau sudah berhasil membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Ia mengedipkan mata.
Atsushi tau kalau kedipan itu menjurus pada saat dimana Dazai melepaskan seluruh tali camisole yang di kenakanya pada weekend kemarin. Laki-laki itu benar-benar menerimanya? Jadi Akutagawa sebenarnya sedang memberi petunjuk tentang hal ini kepadanya.
"Aku tidur dulu, karena besok pagi harus segera bekerja!"
"Kau yakin dengan ini?"
"Kenapa? Karena aku dicintai banyak wanita? Kau takut terserang cemburu setiap waktu? Kebiasaanku mungkin tidak bisa hilang begitu saja, tapi setidaknya aku akan berusaha menguranginya!"
"Aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku."
Dazai merespon ancaman Atsushi dengan angkat bahu. "Baiklah, selama kau mengenakan cincin itu berarti Aku adalah milikmu dan begitu juga sebaliknya!" Kali ini Dazai benar-benar meninggalkanya untuk masuk ke Flat sebelah.
Atsushi masih setengah sadar saat Naomi menariknya kedalam rumah dan memaksanya untuk duduk di sofa ruang tengah. Dazai benar-benar menerima perjodohan itu? Atsushi mencubit lenganya dan meringis sakit. Ia tidak bermimpi. Laki-laki itu mengatakan kalau dia menjadi milik Atsushi dan begitu juga sebaliknya sebelum memasuki flat sebelah. Flat Lucy. Tunggu dulu, flat Lucy? Apa yang dilakukanya disana? Jangan katakan kalau Lucy juga selirnya!
"Apa yang dilakukanya disini, apa hubunganya dengan Lucy?" Atsushi bertanya kepada Naomi yang sudah kembali duduk di sebelahnya sambil membawakan segelas air putih dan memberikanya kepada Atsushi. "Jangan katakan kalau dia dan Lucy...apa yang dia fikirkan?"
"Apa yang kau fikirkan?" Naomi tergelak. "Kau jangan berprasangka buruk, dia pindah ke flat sebelah sore ini dan wanita Prancis itu sudah pergi pada jum'at lalu. Makanya jangan pulang terlalu malam, kau jadi ketinggalan banyak informasi. Katanya dia tidak ingin jauh darimu."
"Apakah dia gila?"
"Tentu saja ku fikir dia gila saat dia mengatakan kalau kau sudah bertunangan denganya mengingat kalian berdua bermusuhan. Saat ku tanya apakah terjadi sesuatu, dia hanya tersenyum. Artinya iya kan? Memang terjadi sesuatu dengan kalian berdua kan?"
Atsushi mengerang. Sepertinya hidupnya memang tidak akan pernah tenang, dia akan sibuk memikirkan masalah ini dan mungkin tidak akan tidur semalaman. Atsushi memandangi map-map yang ada di sampingnya, ia tidak yakin akan menyentuhnya malam ini. "Ibuku memaksaku untuk menikah denganya, hanya itu! Dan aku tidak yakin kalau pertunangan ini bisa bertahan lama karena aku bisa saja membunuhnya kalau melihat laki-laki itu membawa perempuan lain ke flatnya. Kau taukan? Kalau aku tidak suka membagi milikku!"
Lagi-lagi Naomi tertawa. Semua perkataan Atsushi terdengar lucu baginya malam ini. "Aku tau, itu yang mendasari alasanmu tidak menyukainya. Ayolah, siapa yang tidak bisa menolak laki-laki sepertinya? Tampan, kaya, berprestasi, semua wanita akan mendekatinya dan laki-laki yang seperti dia, bukan hanya Dazai-kun seorang. Aku percaya Dazai-kun orang yang baik!"
Atsushi memutar bola matanya. Kelihatanya Naomi benar, tidak ada seorang wanitapun yang bisa menolak Dazai Osamu dengan segala pesonanya. Termasuk Naomi sendiri yang kelihatanya juga mengagumi Dazai tanpa di sadarinya. Tapi apa yang terjadi pada Naomi sekarang setelah ia memberikan dukungannya pada Atsushi untuk memerangi Dazai selama ini? Sebagai seorang dokter kandungan bukan sekali dua kali dia mengeluh karena banyak sekali wanita yang datang untuk mengugurkan kandungannya dan itu disebabkan oleh Dazai. Laki-laki yang seperti dia cukup banyak, dan Akutagawa juga mengatakan hal yang sama. Benarkah Akutagawa juga laki-laki dengan jenis yang sama seperti Dazai Osamu? Atsushi mendengus kesal, meletakkan gelasnya di atas meja kemudian membawa map dan tasnya kedalam kamar. Untuk beberapa saat ia memandangi cinicin pertunanganya yang di berikan oleh Dazai barusan. Melihat itu malah semakin membuatnya marah sehingga Atsushi melepas cincin itu dan melemparkanya kedalam laci meja tulis di sudut ruangan.
[ Bersambung ]
a/n: cuap-cuap dikit xD
Asheera Welwitschia: duhh pembaca setia *kasih ciom* Makasih ya udah setia kasih review. Ini udah aku lanjut kok. Gimana masih kurang? Kalau masih kurang besok aku usahakan update lagi. Hihihi… xD
Tak henti-hentinya saya ucapkan terima kasih buat reader semuanya yang sudah luangin waktu buat baca cerita ini, meskipun cuma sebatas reader 'hantu' saya nggak masalah, setidaknya saya merasa diapresiasi :*
See you di next chapter yaaa :*
