VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa ]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 9 ]
[Aku Tidak Suka Berbagi]
Bertemu dengan Dazai setiap hari adalah beban yang penuh dengan penderitaan. Pagi hari, Atsushi harus berusaha sebisa mungkin untuk bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal asalkan tidak bertemu dengan laki-laki itu. Pada malam hari saat Naomi ada di rumah, Atsushi tidak bisa menolak untuk melihat Dazai dan Naomi mengobrol dan dirinya hanya bisa diam agar Dazai sadar bahwa Atsushi tidak suka dengan kehadiranya. Belum lagi sikap-sikap tidak menyenangkan yang harus di terimanya. Dazai selalu menggodanya meskipun dengan sesuatu yang kecil. Menggenggam tangan misalnya, dan laki-laki itu selalu melakukanya setiap kali dia datang kerumah dengan membawa berkaleng-kaleng minuman dan tidak akan pulang sampai semuanya habis. Selama itu, Atsushi harus merelakan tanganya untuk terus berada dalam genggaman Dazai. Menolak adalah kata-kata yang paling kuat yang pernah terfikirkan tapi tidak pernah sanggup untuk Atsushi lakukan. Tapi selama semuanya itu tidak mengganggunya tidak akan pernah jadi masalah, Dazaipun tidak datang setiap hari kerumahnya dan terkadang seminggu penuh Dazai tidak akan Atsushi lihat sepulang kerja.
Mengenai Dazai dan banyak perempuan-perempuanya, tidak pernah membuat Atsushi pusing seperti hari ini. Atsushi berusaha menutupi telinganya dengan bantal karena laki-laki itu mengeluarkan suara-suara aneh yang membuatnya tidak nyaman. Dia sedang bercinta, tentu saja begitu. Atsushi mengambil i-pod di laci meja tulis dan berusaha mengalihkan pendengaranya ke beberapa jenis musik yang mungkin bisa membantu. Tidak berhasil, karena Atsushi tidak bisa berkonsentrasi bila ada keributan. Mengerjakan pekerjaanya sambil mendengarkan musik sepertinya bukan ide bagus.
Naomi membuka pintu kamar Atsushi dan mematikan I-pod yang membuat pekerjaan Atsushi malah semakin kacau. Bunyi musik berhenti dan desahan-demi desahan kembali mengganggu. "Aku tidak bisa tidur!" Naomi berbisik. "Mereka keras sekali, membuatku iri!"
Mata Atsushi terbelalak mendengar pernyataan Naomi barusan. "Iri?"
"Sikapmu seperti seseorang yang tidak pernah melakukanya saja!" Naomi berbisik polos.
Mendengar itu Atsushi mengerang. Bukan masalah itu yang mengganggu, ia sama sekali tidak iri! Pekerjaan yang sedang di kerjakanya kali ini benar-benar sudah deadline dan ia bahkan belum mengerjakanya lebih dari enam puluh persennya. Atsushi bahkan tidak yakin akan selesai dalam tiga hari kedepan. Sekarang apa yang terjadi? Pekerjaanya di ganggu oleh suara-suara berisik tunanganya yang bercinta dengan wanita lain pada tengah malam seperti ini? "Aku akan memberinya pelajaran!" Ia kemudian mengaduk-aduk meja tulisnya dan menemukan cincin bermata ruby, cincin tunanganya. Setelah mengenakanya, Atsushi beranjak pergi ke flat sebelah.
Naomi terperangah tak menyangka saat melihat Atsushi menggedor-gedor pintu flat Dazai dengan brutal, kelakuanya ini bisa membangunkan semua tetangga. Untungnya tidak perlu waktu yang lama bagi Naomi untuk merasa tidak enak karena Dazai segera keluar hanya dengan menggunakan celana pendeknya. Laki-laki itu memandang mereka gusar.
"Untuk apa mengganggu malam-malam begini?"
Atsushi tidak menjawab, ia langsung masuk kedalam flat Dazai tanpa permisi. Naomi hanya bisa angkat bahu saat Dazai memandangnya penuh tanya dan secepat mungkin menyusul Atsushi masuk ke kamar pribadi Dazai. Atsushi sedang menarik rambut seorang wanita yang hampir bugil di atas tempat tidur. Mulutnya dengan kejam mencaci maki, pemandangan yang langka. Atsushi sudah lama sekali tidak mengeluarkan kata-kata sadisnya. Wanita itu mencoba berontak tapi tidak begitu kuat, hasrat sudah membuatnya melemah.
"Jangan pernah kau mencoba datang lagi atau mendekati tunanganku!" Atsushi berteriak. Ia memperlihatkan cincin di tanganya yang mirip dengan cincin yang di kenakan Dazai. "Sekarang cepat kenakan pakaianmu atau kau, ku usir dalam keadaan setengah telanjang seperti sekarang!"
Wanita itu memandang Dazai gugup, tapi melihat Dazai tidak melakukan apa-apa dan kelihatanya ia kecewa. Secepat mungkin ia berusaha mengenakan pakaianya dan segera berlari keluar flat sambil menangis. Malam ini dia sudah di permalukan, mustahil bila dia tidak merasa kecewa kepada Dazai Osamu yang bahkan tidak membelanya. Atsushi tersenyum menang lalu mengangkat wajahnya di hadapan Dazai. "Aku sudah bilang kan? Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku. Seharusnya kau menyesal karena menerima perjodohan itu!"
Dazai memandangnya penuh dendam. Wanita ini sudah mengganggu privasinya dengan cara yang luar biasa, mungkin di luar pintu flatnya ada beberapa orang yang berkerumun untuk melihat keributan yang sudah di timbulkan Atsushi. "Kenapa tiba-tiba kau merasa terganggu?"
"Karena suara kalian mengganggu pekerjaanku!" Atsushi membentak. "Aku harap untuk tiga hari kedepan kau tidak mengganggu pekerjaanku dengan ini. Kalau hasratmu tidak bisa di tahan, kenapa tidak kau bawa saja wanita-wanita itu ke hotel?" Ia beranjak pergi kembali ke flatnya dan menyeruak kerumunan orang.
Dazai mendesah kesal. Hari ini Atsushi sudah mempermalukanya dan dia tidak akan tinggal diam. Ia mengambil kimononya dan mengganjal pintu flat sebelum Atsushi menutupnya. "Aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa bekerja dengan tenang tanpa memikirkan aku!" desisnya.
Atsushi terdiam beberapa detik, lalu berusaha menutup pintu flatnya dengan kasar. Sesegera mungkin ia kembali kekamarnya dan tidur lebih cepat dari rencana. Ia harap besok bisa mengerjakan semuanya dengan lebih baik. Sayangnya keributan itu tidak bisa membuat Atsushi tidur begitu saja sehingga ia harus bangun kesiangan dan memakan hamburger sebagai sarapan sambil berlarian mengejar taksi.
[ Bersambung ]
a/n: Reviewnya aku balas di PM saja ya. Hihihiii… xD
See you di chapter berikutnya :*
