VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 10 ]

[Settle with…]

"Kau lembur lagi malam ini? Mau ku buatkan kopi?" Naomi meyapanya saat Atsushi baru saja memasuki pintu kamarnya.

Atsushi sudah berusaha mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa di kantor hingga ia harus pulang malam hari ini. Setidaknya, pekerjaan hanya tersisa sedikit dan dirinya bisa tidur tepat jam sembilan malam ini. Atsushi membuka Blazer abu-abu dan roknya, lalu segera duduk di atas kursi meja tulis. "Boleh, kalau tidak merepotkan!"

Naomi beranjak kedapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi. Ia kelihatanya akan menemani Atsushi seperti biasa sambil membaca novel. Tidak kurang dari setengah jam kemudian suara gaduh di ruangan sebelah terdengar lagi. Atsushi dan Naomi saling pandang, lalu menyeringai.

"Telpon saja! Minta dia mengecilkan suaranya!"

Atsushi mengambil tas Gucci-nya dan merogohnya beberapa saat. Tapi ia sama sekali tidak menemukan ponselnya. Ia berusaha mengingat-ingat dimana benda itu di letakkannya. Tapi Atsushi tidak bisa mengingat apa-apa. "Dimana ya?"

"Apa?"

"Ponselku! Coba kau telpon, semoga saja deringnya bisa membantuku untuk menemukanya!"

Naomi merogoh sakunya dan memainkan ponselnya dengan segera. Ia mencoba menelpon ponsel Atsushi tapi tidak ada bunyi. Atsushi menggeleng, "Tidak ada bunyinya kan? Tapi ponselmu masih aktif memangnya kau tinggalkan dimana?"

Atsushi kembali berusaha mengingat-ingat. Suara-suara di flat sebelah semakin Intents dan membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Ia mengerang, Atsushi tidak tahan lagi dan Dazai harus siap bila kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Ia kembali merogoh laci mejanya dan berusaha menemukan cincin pertunanganya. Setelah memakainya Atsushi melangkah keluar kamar.

"Kau mau kemana?" Tanya Naomi keras.

"Kemana lagi?"

"Dengan pakaian seperti itu?"

Atsushi memandang tubuhnya dengan cepat. Ia hanya menggunakan camisole sutra berwarna oranye dengan renda tebal yang meliputi bagian dadanya. Celana pendek skin-fit dengan warna senada menyelaraskan penampilanya. Meskipun ia terlihat cantik, Atsushi tidak akan mengenakan pakaian seperti ini bahkan untuk keluar kamar seperti yang sekarang di lakukanya tanpa sadar. Dazai membuatnya kesal. Secepat mungkin ia meraih kimono sutra marun yang tergantung di belakang pintu lalu mengenakanya.

"Naomi, kau mau ikut?"

Naomi menggeleng. "Aku akan mencari ponselmu saja!"

"Baiklah," Atsushi melangkah dan langkahnya terhenti lagi saat Naomi memanggil namanya.

"Atsushi! Cobalah untuk tidak membuat keributan kali ini. Jangan sampai tetangga-tetangga kita terganggu dan mengusir kita keluar malam ini juga!"

Mendengar itu setidaknya Atsushi masih bisa tersenyum. Ia berjalan cepat dan mengetuk pintu flat Dazai lebih sopan. Tapi kesopanan membuatnya menunggu lebih dari semenit hingga akhirnya Dazai membuka pintu dan menatap Atsushi dengan malas. "Aku baru saja memulainya. Tidak bisakah kau menunggu sampai aku selesai?" Ujar Dazai geram.

"Kau menggangguku! Jadi ini caramu membuatku mengerjakan pekerjaan yang menumpuk dengan mengingatmu? Dazai Osamu-san, ini tidak akan berpengaruh apa-apa."

"Lalu kenapa kau kemari?"

"Karena kau menggangguku dengan cara yang sama, aku pastikan akan menyelesaikanya dengan cara yang sama juga!" Atsushi baru saja memutuskan untuk masuk kedalam kamar, tapi wanita baru yang berbeda lagi keluar dan menghampiri mereka. Pakaianya masih lengkap hanya terlihat sedikit lebih kusut saja.

"Ada apa ini?" tanyanya sopan. "Apa kami mengganggu?"

"Nona, bisakah kau meninggalkan tempat ini?" Kali ini Atsushi lebih tenang. Lawan bicaranya sekarang kelihatanya bukan wanita murahan yang biasa Dazai bawa ke flat seperti sebelumnya. "Karena Dazai Osamu-san adalah tunanganku!"

"Benarkah?" wanita itu kelihatan cukup terkejut, ia memandang Dazai heran. "betul begitu?"

Dazai mengangguk lemah. "Tapi bukan berarti aku terlarang untuk melakukan ini kan?"

Wanita itu memegangi kepalanya. "Tapi tunanganmu kelihatanya tidak berfikir begitu! Aku tidak bisa meneruskan ini kalau harus menyakiti hati perempuan lain!"

Atsushi berdesis sinis. Dia takut menyakiti perempuan lain? Tentu saja, Dazai sudah menipunya karena wanita itu kelihatanya tidak tau bahwa laki-laki yang hampir saja tidur denganya sudah bertunangan. Meskipun tampaknya sangat kecewa, wanita itu tetap berjalan anggun menuju kamar dan kembali dengan high heels dan mantelnya. Sebelum pergi ia meminta maaf setulus hati kepada Atsushi dan mengatakan kalau ia tidak bermaksud untu merebut tunanganya. Mendapat reaksi seperti itu Atsushi merasa tidak enak, sebisa mungkin Atsushi berusaha untuk tersenyum dengan hormat dan memandangi wanita itu hingga bayanganya menghilang.

"Kali ini apa?" Dazai menatapnya geram.

"Kau lihat sekarang jam berapa? Jam delapan malam dan kau melakukan hal seperti itu pada jam-jam seperti ini dengan suara keras? Apa kau tidak malu di dengar tetangga yang lain?"

"Kau merasa terganggu?"

"Tentu saja. Karena aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku. Kau akan menderita dengan keputusanmu untuk bertunangan denganku! Berhentilah berpura-pura, katakan kepada pamanmu kalau pertunangan kita tidak bisa di lanjutkan lagi dan pergi dari hidupku!"

Dazai menarik tangan Atsushi dengan kasar lalu memandang cincin bermata merah yang bersarang dengan indah di jari manisnya. "Bagaimana bunyi perjanjian kita? Selama kau memakai cincin ini aku adalah milikmu, tapi kau selalu menggunakan cinicin ini pada saat kau ingin menggangguku!" Dazai kemudian mendekatkan tangan Atsushi kemulutnya lalu menggigit cincin itu sehingga jari manis Atsushi benar-benar terjepit, gadis itu berteriak kesakitan. "Kau melupakan satu hal, Atsushi! Selama kau mengenakan cincin ini, kau juga milikku!"

Atsushi terpaku, ia hanya bisa memandangi Dazai yang menutup pintu flat dengan kakinya sehingga menimbulkan bunyi debuman yang keras. Laki-laki itu tersenyum untuk pertama kalinya hari ini di hadapan Atsushi dan seperti biasa senyuman itu membuatnya kehilangan akal tapi tidak cukup membuatnya bodoh dan tidak melawan saat Dazai melepaskan kimononya dengan paksa. Dazai tidak berhasil, setiap kali ia melangkah maju Atsushi akan mundur dan menjaga jarak. Setidaknya sampai punggung Atsushi menyentuh dinding di sebelah pintu kamar pribadi Dazai yang agak terbuka. Ia menelan ludah lalu berusaha memegangi leher kimononya saat wajah Dazai semakin mendekat.

"Kenapa, Atsushi-chan? Kau ingin melakukanya di dalam kamar? Kurasa tidak perlu karena ruangan ini cukup luas untuk kita jelajahi!"

Atsushi benar-benar terkesiap saat lengan Dazai merangkul punggungnya, kedua tanganya yang tadi berada di leher sekarang sudah jatuh tertelungkup di dada Dazai. Atsushi berusaha untuk protes tapi kata-katanya berhasil di rampas oleh Dazai saat laki-laki itu menemukan bibirnya dan segera melumatnya dengan liar, Atsushi ingin berteriak tapi Dazai cukup pandai mengambil kesempatan dengan menjejalkan lidahnya memenuhi rongga mulut Atsushi. Gadis itu bersumpah ia sedang berusaha melawan, tapi tubuhnya sangat lemah dan semua sentuhan Dazai pada akhirnya membuatnya menyerah. Ia merelakan saat kimononya di tanggalkan dari tubuhnya dan membalas cumbuan Dazai sebisanya. Sebelah lengan Dazai menekan punggungnya agar Atsushi tidak mundur dan bisa lebih rapat lagi menempel padanya. Bukan hanya itu, tanganya yang satu lagi mengangkat pinggul gadis itu agar sejajar dengan bagian tubuhnya yang mengeras di pangkal paha. Kaki Atsushi bahkan tidak lagi menginjak lantai, Dazai cukup kuat untuk membuatnya menggeliat merasakan sensasi sensual yang sangat tidak bisa dielakkan. Tapi semua perilaku Dazai berhenti saat mendengar pintu di ketuk kencang, ia melepaskan rangkulanya dari Atsushi dan membiarkan gadis itu mengenakan kimono sutranya kembali. Setelah itu, Dazai bergegas membuka pintu dan menatap Akutagawa dengan kesal. Sepupunya datang di waktu yang sangat tidak tepat.

Akutagawa menyadari pandangan tidak suka Dazai kepadanya, melihat penampilannya, Akutagawa tau kalau sepupunya itu sedang melakukan sesuatu dengan seorang perempuan. Tapi Akutagawa tidak peduli, ia tetap melangkah masuk dan tekejut saat melihat Atsushi dalam keadaan yang sangat kusut. Sekali lagi ia memandang Dazai, tapi kali ini dengan tatapan tak percaya. Akutagawa berusaha untuk tidak melihat Atsushi, tapi tidak bisa. Walau bagaimanapun ia bisa melihat Atsushi yang mendekati Dazai dengan pandangan yang sangat kejam lalu berujar kasar.

"Jaga mulutmu, Dazai! Jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi!"

Dazai tersenyum sinis. "Jangan pernah berharap, Venus! Aku bisa saja melakukanya lagi bila kau terus menggangguku!"

"Benarkah? Aku bersumpah akan membuatmu tidak bisa meniduri perempuan manapun bila kau melakukan hal yang nakal lagi kepadaku!" Atsushi melangkahkan kakinya dengan kesal tanpa memandang Akutagawa lagi. Ia malu karena sudah membiarkan Dazai melakukanya. Apa yang terjadi padanya sehingga ia menghentikan perlawananya? Apakah dia sudah gila karena menikmati semua perlakuan Dazai tadi? Atsushi membanting pintu kamarnya kesal dan menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.

Sedangkan Dazai, dia sendiri sulit menerima kalau ia sudah memperlakukan Atsushi dengan cara seperti itu. Ini pertama kalinya Dazai memaksa seorang perempuan karena semua wanita mendekatinya tanpa paksaan, mencumbunya tanpa paksaan dan pada akhirnya mengerang di bawahnya.

Dazai tidak bisa melanjutkan fikiranya lagi, ia sudah cukup terkejut dengan perasaan yang timbul karena permainan itu. Semua hal yang di maksudkan untuk sekedar mempermainkan Atsushi benar-benar sudah berubah menjadi gairah yang seharusnya tersalurkan dengan serius seandainya Akutagawa tidak datang malam ini. Dazai memandang Akutagawa yang sejak tadi hanya diam membisu. "Kau kenapa? Jangan berfikir yang tidak-tidak! Aku hanya membalasnya karena Nakajima Atsushi sudah dua kali mengusir kekasihku dalam seminggu!"

"Kau membalasnya dengan apa? Kau tidak memukulnya kan?"

"Aku mana mungkin memukul wanita! Kau kesini untuk apa?"

Akutagawa menyerahkan sebuah undangan padanya. "Undangan pernikahan dari Kunikida Doppo, di kirimkan kerumah. Ibumu juga menelponku dan memintamu untuk segera menghubunginya. Lalu aku juga ingin mengembalikan ini!" Akutagawa mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya. "Ponsel milik Atsushi. Tertinggal di mobilku dan melihatnya tadi sepertinya aku tidak akan berani mengganggunya malam ini! Aku harap kau bisa memberikan kepadanya besok pagi!"

"Di mobilmu?" Dahi Dazai berkerut, sepertinya salah satu perkataan Akutagawa sangat menarik perhatianya. Bukan tentang pernikahan Kunikida, sahabatnya, bukan juga tentang telpon dari Ibunya melainkan cerita tentang ponsel Atsushi yang tertinggal di mobilnya. "Kau sering mengantar jemput Venus-ku? Kau ini sedang berkhianat ya? Berani-beraninya kau mengganggu tunanganku!"

"Mengganggu apanya? Aku cuma berusaha berbaik hati memberinya tumpangan karena dia selalu datang pagi dan pagi hari sangat sulit untuk menemukan taksi di daerah ini. Aku mengantarnya pulang juga karena alasan kesopanan, mana mungkin aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian sedangkan langit sudah gelap!" Akutagawa berusaha mengelak. Alasanya tentu saja lebih dari itu, tapi mendengarkan Dazai memanggil Atsushi dengan sebutan Venus-ku membuatnya berusaha untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya.

"Besok jangan kau lakukan lagi! Aku yang akan melakukanya!" Dazai berkata datar.

[ Bersambung ]