VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 11 ]

[Second Attack for Goddess]

Apa yang sedang Nakajima Atsushi lakukan? Dia bahkan belum keluar dari flatnya sedangkan matahari sudah semakin meninggi. Padahal Dazai sudah dengan susah payah mengusahakan dirinya agar bisa bagun pagi demi mengantar Atsushi ke kantor. Demi Tuhan, Dazai sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya saat ini sehingga bertindak bodoh dan mau menunggu seorang perempuan dalam waktu yang sangat lama. Ia terus menggerutu mengutuki dirinya sendiri dan juga mengutuki wanita itu, tapi kaki-kakinya masih terpaku di depan gedung flat seolah-olah sudah di lem dengan sangat kuat.

Nakajima Atsushi akhirnya keluar dan melewatinya begitu saja dengan penampilan yang agak berbeda. Kemeja berlengan panjang dan sebuah rok ketat selutut membuatnya terlihat lebih manis dari biasanya. Selebihnya masih sama, sepatu hak tinggi sembilan sentimeter berwarna hitam dan rambut yang di ikat rapi kebelakang adalah gayanya yang biasa. Dazai memukul kepalanya dan berusaha membangunkan dirinya dari lamunan. Secepat kilat ia mengejar Atsushi dan berhasil menangkap lenganya, wanita itu menatapnya dengan kaku di balik lensa kacamatanya, Ini pertama kalinya Dazai melihat Atsushi menggunakan kacamata.

"Lepaskan tanganmu, Dazai!" Suaranya terdengar sangat menantang, ketidak sukaan Atsushi terhadapnya mungkin bertambah setelah kejadian tadi malam.

"Aku akan pergi bertemu Akutagawa. Kalian sekantor kan? Ayo aku antar?" Dazai berusaha berkata dengan lebih lembut. Tapi sikap memberontak Atsushi membuat itu tidak bisa bertahan lama. Atsushi tidak ingin di sentuh dan dia sudah berkali-kali memerintahkan Dazai untuk melepaskan tanganya dengan nada yang kasar. Dazai menggenggam lengan Atsushi semakin keras sehingga wanita itu meringis dan berhenti memberontak. "Apa yang kau takutkan? Semalam kita sudah bermesraan kan?"

"Kau pikir aku menyukainya? Kenapa kau melakukan hal itu?"

"Karena wanita yang seharusnya bersamaku sudah pergi karena kata-katamu." Dazai menyadari kalau nada suara mereka pasti sangat keras sehingga beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan keduanya. Tapi sepertinya berinteraksi dengan Atsushi benar-benar harus membuatnya rela mempermalukan diri sendiri. "Aku hanya menjadikanmu sebagai penggantinya. Seandainya Akutagawa tidak datang semalam bisa saja kita sudah..."

"Jangan berharap banyak!" Atsushi memotong kata-katanya. Sepertinya wanita itu sudah berhasil untuk mengumpulkan tenaganya kembali dan melepaskan lenganya dari genggaman Dazai dengan satu hentakan. "Sebaiknya kau tetap memakai celanamu saat bersamaku!"

Kata-kata itu terdengar seperti ancaman, Meskipun tidak berpengaruh apa-apa bagi Dazai tapi tetap saja ia terperangah. Nakajima Atsushi bahkan tidak malu-malu saat bertemu denganya setelah kejadian tadi malam. Tidak heran, hal seperti itu mungkin sudah biasa di lakukanya karena seks bukan sesuatu yag tabu untuk London. Nyaris semua perempuan di kota ini sudah kehilangan keperawananya. Dazai segera berjalan menuju mobilnya yang ada di pinggir jalan dan mengikuti Atsushi. Wanita itu berjalan dengan sangat cepat dan cukup jauh dari tempat mereka berdebat tadi. Dengan hak setinggi itu, dia bisa berjalan secepat itu? Wanita memang makhluk ajaib. Atsushi berhenti di sebuah rumah makan dan keluar beberapa saat kemudian sambil memakan hamburger dan melanjutkan perjalanan tangkasnya. Saat melihat sebuah taksi melewatinya, wanita itu berlarian mengejar taksi sambil terus memakan hamburgernya hingga habis. Dazai menggeleng, Atsushi melakukan hal ini setiap pagi? Ia tidak mau berfikir lagi, karena hal itu malah akan semakin membuatnya mengagumi Atsushi. Dazai melajukan mobilnya secepat mungkin, ia harus segera sampai di kantor pengacara itu sebelum Atsushi sampai karena Dazai harus membicarakan sesuatu dengan wanita itu. Semalam ia sudah menelpon Ibunya begitu Akutagawa pulang, sepertinya kabar tentang perjodohan itu sudah di sampaikan oleh pamanya kepada Ayah dan Ibu Dazai. Dari suaranya, Ibunya terdengar sangat senang mendengar kabar bahagia itu. Dazai menghela nafas, Kabar bahagia? Mengingat bagaimana Atsushi tega menarik rambut wanitanya beberapa hari lalu dan juga mengusir wanita bangsawan tadi malam, bisa di pastikan kalau Nakajima Atsushi adalah wanita yang sangat dominan. Menikah dengan Atsushi berarti menyerahkan dirinya untuk di perbudak. Bukankah dia tidak benar-benar berniat untuk menikah dengan Atsushi? Dia hanya ingin bermain-main, iya kan?

"Kau disini?" Akutagawa menyapanya saat mobil Dazai berhasil di parkir dengan mulus di depan kantor pengacara Francis. Ia keluar dari mobilnya dan membalas sapaan Akutagawa dengan senyum lalu berjalan bersisian menuju gedung berlantai tiga itu. Sudah sangat lama Dazai tidak berkunjung kekantor ini, masih belum berubah sama sekali. Akutagawa mengantarkannya ke ruangan kerja Atsushi untuk melihat-lihat. Tanpa Atsushi di dalamnya Dazai sama sekali tidak tertarik, ia memutuskan untuk menyapa kepala kantor terlebih dahulu dan kembali keruangan Akutagawa setelah beberapa waktu berlalu. Kesibukan Akutagawa yang tak terbatas itu mengingatkanya kepada Atsushi yang selalu membawa map kemana-mana. Dengan santai Dazai duduk di hadapan Akutagawa dan bersandar dengan nyaman.

"Venusku, kemana? Kenapa dia tidak datang juga kekantor?"

Kata Venus-ku yang selalu di ucapkan Dazai membuat kepala Akutagawa terangkat sebentar lalu kembali berkonsentrasi pada map-mapnya."Hari ini ada sidang, dia pasti masih di pengadilan!"

"Jam berapa dia kembali kekantor?"

"Sebentar lagi, sebelum makan siang. Dia ada janji makan siang dengan klien di Birmingham!"

"Kelihatanya kau sangat tau tentangnya!"

Lagi-lagi kepala Akutagawa terangkat. "Kau tidak sedang cemburu kan? Dia mengatakannya saat aku mengantarnya pulang. Kau ada perlu denganya? Kau tidak datang kemari untuk menjengukku kan?"

"Aku mau mengajaknya ke Jepang!"

Ucapan Dazai kali ini tidak hanya membuat Akutagawa mengangkat kepalanya, laki-laki itu juga berhasil membuat Akutagawa meninggalkan semua pekerjaanya dan berkonsentrasi untuk memandang wajah Dazai. "Ada apa?"

"Ibu memintaku untuk membawa tunanganku kerumah! Kau belum tau? Paman tidak memberi taumu?"

Akutagawa menggeleng. "Apa yang akan kau lakukan? Bukanya kau sedang tidak serius? Kau bilang tidak mungkin menikah denganya kan? Kalau membawanya menemui orang tua, itu berarti serius."

"Aku juga sudah memikirkanya. Tapi walau bagaimanapun aku tetap harus membawa wanita terbaik kehadapan orang tuaku, kan? Meskipun galak Atsushi bisa berkelakuan sangat sopan saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Selain itu, Ibunya juga orang timur dan dia pasti pernah di ajarkan dengan cara kita. Setidaknya dia lebih baik dari pada wanita barat pada umumnya untuk di bawa menemui orang tua yang kolot!"

Akutagawa tertawa sopan. Ia merasa kalau penjelasan Dazai sangat masuk akal. Walau bagaimanapun Nakajima Atsushi selalu berusaha menyesuaikan diri dengan siapa dan bagaimana dia berinteraksi dengan orang tersebut. Tidak jarang Atsushi membungkukkan badanya sambil bersalaman pada hari-hari biasa. Atsushi memang lebih baik di bandingkan wanita asing yang selama ini selalu bersama Dazai. Atsushi mengingatkan Akutagawa kepada Chuuya, ia menggeleng. Atsushi bahkan lebih baik daripada sekretaris Dazai itu.

Pintu ruangan Akutagawa di ketuk beberapa kali kemudian di buka, Nakajima Atsushi menyembulkan kepalanya dan terkejut saat melihat Dazai ada disana. "Maaf aku mengganggu!" Ia kemudian menutup pintu kembali.

Sesaat Dazai dan Akutagawa saling pandang, lalu Dazai mengejar Atsushi keruanganya. Wanita itu tampak sangat sibuk mengemasi beberapa berkas kedalam laci besi yang nyaris menyamai tinggi badanya. Dia tidak menyadari keberadaan Dazai, atau mungkin pura-pura tidak tau. Dazai sudah berkali-kali mengatakan kalau ia ingin berbicara dengan Atsushi tapi berkali-kali juga Dazai harus menahan geram karena Atsushi pura-pura tidak mendengarkan apa apa dan terus begitu sampai wanita itu benar-benar selesai di ruanganya. Perbuatan Atsushi ini sama sekali tidak bisa di toleransi, dan Dazai tidak akan bersedia menerimanya begitu saja. Ia mengusahakan langkah demi langkahnya mengungguli langkah Atsushi dan memanggul tubuh Atsushi di iringi tatapan banyak orang.

"Turunkan Aku! Dazai!" Teriakan Atsushi dan segala perlawananya semakin membuat Dazai senang. "Turunkan aku sekarang!"

Dazai tidak menjawab apa-apa. Ia membuka pintu mobilnya dan menurunkan Atsushi di bangku setir. Dazai tidak akan mengambil resiko seperti membiarkan Atsushi melarikan diri, karena itu, memaksanya masuk dari bangku setir adalah cara paling aman. Atsushi akan segera bergeser saat Dazai hampir mendudukinya, Setelah Dazai berada dalam mobil, dengan tangkas ia mengunci mobil secara otomatis. Atsushi tidak akan bisa melarikan diri dan Dazai tertawa penuh kemenangan.

"Jangan salahkan aku. Kau yang memilih ini!" Dazai menyalakan mobilnya. "Sekarang aku harus mengantarkanmu kemana? Ada janji dengan klien kan?"

Atsushi berhenti mencaci maki. Dengan pandangan herannya ia menatap wajah Dazai lama sampai akhirnya laki-laki itu balas memandang. Atsushi segera menundukkan wajahnya. "Kau mau bicara apa?"

"Katakan aku harus mengantarmu kemana? Kita bisa bicara selama perjalanan ke Birmingham. Kau akan ke Birmingham kan? Wilayah Birmingham cukup luas. Kalian akan makan siang kan?"

"Kau tidak bermaksud ikut makan siang kan?" Suara Atsushi kembali angkuh. "Jangan banyak berharap. Aku tidak akan mengizinkanya!"

"Sepertinya kau yang berharap!" Dazai tersenyum. Tapi melihat Atsushi segera buka mulut dan ingin melawan Dazai segera menyeringai. "Sudahlah, kau tidak suka terlambatkan? Kemana aku harus mengantar?"

Atsushi menghela nafas. Sebenarnya dia juga malas untuk berdebat, tapi dia tidak akan pernah menyerah kepada Dazai Osamu.

"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakanya!" Dazai mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Akutagawa, dan Akutagawa tidak pernah menolak untuk memberi tau apa yag di ketahuinya. Setelah mendapatkan informasi yang di butuhkan Dazai melajukan mobilnya tanpa bicara apa-apa lagi.

Atsushi juga tau kalau Dazai pasti bertanya kepada Akutagawa. Hanya Akutagawa yang sudah di beritahunya tentang jadwal hari ini, entah mengapa ia tidak merasa kecewa akan hal itu. Jauh di dalam dirinya, ia sangat menikmati duduk di sebelah Dazai meskipun dalam diam. Dazai ingin membicarakan apa denganya? Atsushi harus berani mengeluarkan suaranya sekarang karena dalam beberapa menit lagi ia akan segera sampai di tempat tujuan. Dazai melajukan mobilnya semakin cepat membuat Atsushi sedikit kecewa, sepertinya Dazai tidak suka berlama-lama bersamanya.

Astaga! Sejak kapan aku begini?Desis Atsushi pelan.

"Ada apa?" Dazai bertanya penasaran. Sepertinya ia mendengar Atsushi mengatakan sesuatu.

"Kau ingin mengatakan apa?" Dengan tegas Atsushi mencoba menyembunyikan perasaannya.

Dazai tidak menjawab. Atsushi semakin resah karena mereka sudah sampai, semula ia mengira Dazai akan menurunkanya di gerbang supermarket besar itu tapi ternyata Dazai masuk keparkiran bawah tanah dan memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Atsushi tidak akan berdiam diri ia mengulangi pertanyaanya sekali lagi sebelum ia benar-benar pergi.

"Apa yang ingin kau katakan? Kau memaksaku seperti tadi karena ingin mengatakan sesuatu kan?"

"Akhir minggu depan kita ke Jepang!"

Atsushi terperangah. "Ke Jepang? Untuk apa kesana?"

"Kau fikir apa lagi? Menemui orang tuaku! Kita akan segera menikah kan?"

"Kau serius dengan kata-katamu itu? Aku tidak mungkin menikah denganmu dan kau juga kan? Sudahlah jangan bercanda. Apapun yang terjadi aku tidak akan melakukanya. Pekerjaanku sangat banyak dan menumpuk. Aku tidak bisa meninggalkanya begitu saja!" Atsushi menggenggam tas yang di pangkunya sejak tadi lalu berusaha membuka pintu mobil. Masih di kunci dan tidak bisa di buka secara manual. Atsushi mengerang dalam hati lalu memandang Dazai kesal. "Buka! Aku sangat terburu-buru!"

"Katakan kalau kau akan pergi bersamaku dulu!"

"Kau mengancam? Kau tidak akan bisa melakukan hal ini kepadaku. Apapun yang kau lakukan aku tidak mungkin ikut!"

"Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu mau pergi?"

"Kau tidak perlu melakukan apapun Dazai, karena apapun caramu tidak akan berhasil untuk membujukku!"

Dazai memukul setir dengan kesal lalu memandang Atsushi dengan tatapan aneh. "Benarkah, kalau begitu aku akan mengusahakan satu cara!"

Atsushi harus shock saat tas yang ada dalam pangkuanya di lemparkan Dazai ke bawah kakinya. Laki-laki itu benar-benar bertindak lagi, tanganya meraba Atsushi dari mata kaki hingga kelutut dan mengangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi. Dalam sekejap Atsushi sudah benar-benar terjepit karena Dazai duduk di bangku yang sama denganya. Pinggul Atsushi menggantung dan tidak menyentuh apa apa, tapi kedua pahanya sudah berada di pangkuan Dazai dengan sukses.

"Hentikan! Jangan sampai aku berteriak!" Suara Atsushi terdengar sangat intens.

"Silahkan. Tidak akan ada seorangpun yang mendengarkanmu, sayang. Ini parkiran bawah tanah, dan sepi. Hanya ada kamera cctv dan mobil yang sangat banyak ini menutupi kita dengan baik, lebih baik hematlah tenagamu karena tidak akan ada satu suarapun yang keluar dari mobilku yang kedap suara ini, mobilku menggunakan kaca film khusus!"

Mata Atsushi terbelalak. Kedap suara? Seharusnya dia sudah tau itu karena selama di perjalanan tadi Atsushi juga tidak mendengarkan suara apa-apa dari dalam. Atsushi berusaha membuka kaca mobil, tapi reaksi yang di dapat sama persis dengan pintunya, terkunci dan tidak dapat di buka. Dazai memandangi Atsushi dengan pandangan senang.

"Lihat, kenapa kau memakai rok sepanjang ini? Seharusnya lebih pendek lagi!" Tangan Dazai menarik ujung rok yang di kenakan Atsushi naik sehingga memperlihatkan kulit pahanya yang bersih. Atsushi berusaha berontak tapi tangan kirinya terjepit oleh tubuh Dazai sedangkan tangan kananya berada di genggaman Dazai yang sangat kuat.

"Kenapa kau memakai kacamata hari ini?" Gumam Dazai dengan sangat mesra. "Karena kau tidak bisa tidur teringat kejadian semalam?"

"Ini sama sekali tidak lucu. Kau akan ku tuntut bila terjadi apa-apa denganku!"

Dazai tersenyum, ia semakin menikmati permainan ini. Sebelah tanganya yang bebas membuka kancing kemeja Atsushi satu persatu sehingga Dazai bisa melihat apa yang ingin dia lihat. Nafas Atsushi semakin tidak teratur dan dadanya naik turun dalam ritme yang kacau. "Mana camisole mu? Kau punya banyak kan? Tapi tidak masalah, Kau lebih menggairahkan dengan bra ini!"

"Kau tidak bisa berhenti? Kau akan menyesalinya aku bersumpah kau akan menyesali setiap perbuatanmu padaku!"

"Kalau begitu katakan, kau akan ikut aku ke Jepang!"

Atsushi tidak akan berlaku lebih bodoh lagi. Ia hanya pernah ke Jepang sekali seumur hidupnya dan saat itu ia masih berusia enam belas tahun. Semua tentang Jepang sudah menghilang dari ingatanya. Ikut ke Jepang berarti menyerahkan diri kepada Dazai dan membiarkan Dazai melakukan hal yang lebih gila dari semua yang pernah di lakukannya. Dia tidak akan melakukanya. "Jangan pernah berharap!"

"Itu berarti kau berharap aku melakukan hal yang lebih liar lagi!" Dazai memulai aksinya.

Atsushi harus merasakan bagaimana telapak tangan Dazai membelai pahanya dan menciumi lehernya sehingga meninggalkan bekas yang basah dan lembab. Ia berusaha berontak sehingga ikatan rambutnya terlepas, ia juga berusaha menggeliat tapi Dazai lebih kuat. Atsushi meringis saat laki-laki itu menyelipkan jarinya di antara kedua pahanya dan terus naik menekan daerah paling sensitif dari tubuhnya dengan sangat perlahan. Ia menggeliat semakin keras. Dazai berhenti. Ia memindahkan tanganya ke dagu Atsushi dan mencondongkan wajah gadis itu agar berada dalam posisi yang pas denganya. Bibir mereka sudah begitu dekat.

"Venus, katakan kalau kau akan ikut!" Dazai berbisik. "Ini tawaran terakhir."

Atsushi terlena selama dua tarikan nafas Dazai yang menerpa wajahnya. Tapi dirinya segera tersadar dan mengerjapkan matanya sekali. "Baiklah, baiklah aku akan ikut. Jangan lakukan ini lagi!"

Sejenak Dazai kecewa karena Atsushi menyerah dengan begitu cepat, tapi kemudian ia tersenyum penuh kemenangan lalu menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Dazai sama sekali tidak ingin berpindah, ia membiarkan Atsushi duduk di pangkuanya lebih lama lagi, memandangi Atsushi yang menurunkan roknya kembali ke posisi semula dan mengancing kemejanya dengan agak gemetaran. Atsushi sempat terdiam saat Dazai membantunya memasang kancing kemejanya dan mengembalikan Tas miliknya kepangkuanya. Saat Atsushi menyadari kalau rambutnya sudah mulai berantakan lagi, ia berusaha menemukan ikat rambutnya yang lain di dalam tas lalu mengikat rambutnya rapi. Sedangkan Dazai memanjangkan tubuhnya untuk menekan tombol di depan bangku stir yang kosong dan menghasilkan bunyi klik yang nyaring. Ia sudah membuka kunci mobilnya.

"Aku tidak suka dengan permainan seperti ini!" desis Atsushi sambil memperbaiki duduknya sehingga ia lebih nyaman duduk di pangkuan Dazai, ia tau Dazai sama sekali tidak bermaksud untuk pindah ke bangkunya semula.

"Benarkah?" Dazai kembali menyunggingkan senyumnya lalu membuka kancing kemeja Atsushi lagi, hanya satu tapi cukup untuk memperlihatkan belahan dadanya. "Kau tidak perlu menyembunyikan kecantikanmu. Aku lebih suka wanita yang seperti ini!"

"Aku tidak suka berpenampilan seperti ini!" Atsushi berkeras dengan mengancing kemejanya kembali lalu membuka pintu mobil. Dazai berusaha menahanya dan pintu mobil tertutup lagi. "Aku belum selesai!"

"Apa lagi?"

Dazai merogoh saku jasnya lalu memberikan ponselnya kepada Atsushi. "Kau pakai ponselku. Ponselmu aku yang pakai!"

"Jadi ponselku ada padamu? Aku kira tertinggal di mobil Akutagawa!" Atsushi bernafas lega, Tapi segera menganalisa kembali kata-kata Dazai barusan. "Tunggu dulu. Kalau kau memegang ponselku, bagaimana jika ada telpon penting?"

"Memangnya siapa yang menelpon? Aku akan memberitahukanya kepadamu, tenanglah! Lagipula bisa di bilang kita tinggal serumah sekarang. Jadi jangan kemana-mana. Begitu jam pulang kerja tiba, kau sudah harus ada dirumah! Aku melakukan ini agar kau tidak ingkar janji, akan ku kembalikan saat kita tiba di Yokohama!"

Atsushi mendengus kesal, ia tidak bisa melawan. "Sekarang aku boleh turun?"

Dazai mengangguk, tapi sebelumnya ia merangkul pinggang Atsushi erat lalu memandangnya dengan manja. "Selamat bekerja sayang!".

[ Bersambung ]

a/n: Fyuhhh… Masih belum dapat separo cerita ini. Wkwkwk… xD

Yoshh! Sampai jumpa di Chapter selanjutnya :*