VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 13 ]

[Memories In Yokohama]

Langkah demi langkah Atsushi menyusuri kota Yokohama nyaris membuat jantungnya melompat keluar, ia belum siap untuk bertemu dengan orang tua Dazai. Bagaimana bila keluarganya memaksa Atsushi menikah saat ini juga dengan Dazai? Bagaimana bila mereka menempatkan dirinya dan Dazai di kamar yang sama? Atsushi tidak akan sanggup menghindar dari godaan Dazai bila itu benar-benar terjadi. Jet lag yang di rasakanya cukup parah, terlebih saat mengetahui bahwa keluarga Dazai tinggal di Prefektur Kanagawa dan mereka harus mengalami perjalanan yang cukup panjang untuk sampai disana. Berangkat dari London dengan pesawat pagi dan sampai di Yokohama pada sore hari tidak sesederhana kedengaranya. Bila di bandingkan, mungkin di Lodon sekarang sudah hampir pagi lagi. Bisa di bayangkan betapa besar keinginan Atsushi untuk tidur dan mengistirahatkan diri.

Meskipun Dazai di kenal sebagai seorang diplomat kaya raya di London, rumah keluarganya sama sekali berbeda dari yang ada di fikiran Atsushi. Rumah ini sama seperti rumah-rumah di sekelilingnya bertingkat dua dan memiliki halaman yang tidak begitu luas. Begitu masuk ke rumah, Atsushi di sambut dengan sangat meriah oleh Ibu Dazai yang tampak ramah, sebelum berbicara dengan Atsushi nyonya Dazai bertanya kepada Dazai apakah Atsushi bisa berbahasa Jepang. Tentu saja Atsushi bisa, ia selalu menggunakan bahasa Jepang meskipun hanya saat berbicara dengan Ibunya, dan dengan Akutagawa walaupun sangat jarang. Sebelum duduk di ruang tamu, Atsushi merasakan kedua tangan hangat nyonya Dazai menyentuh pipinya dengan penuh kasih.

"Melihatmu aku jadi ingin segera bertemu dengan Ibumu." Nyonya Dazai berbicara dengan logat khasnya sambil memandang Atsushi yang duduk di sebelah Dazai dengan sedikit kaku. "Aku ingin berterimakasih padanya karena sudah melahirkanmu sebagai jodoh Dazai-ku!"

Atsushi tersenyum malu. Dia cukup senang dan lega mengetahui kalau Ibu Dazai menyukainya. Tapi Atsushi masih harus bertemu dengan Ayah Dazai. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat melihat Atsushi.

"Ibu, bisakah aku istirahat? Aku benar-benar lelah!" Dazai mengeluh manja.

"Astaga, Maafkan Ibu ya! Kalau begitu kau bawakan barang-barang Atsushi dulu ke kamar!"

Atsushi terbelalak, Kamar? Kamar siapa yang akan di tempatinya? Kamar tamu? Semoga saja bukan kamar Dazai karena jika itu terjadi ia pastikan dirinya akan mati bunuh diri besok pagi. "Maaf, bibi. Kalau boleh tau kamar siapa yang akan ku tempati?"

"Kau akan menempati bekas kamar Akiko, Dia kakak perempuan Dazai dan sudah menikah sekarang." Nyonya Dazai kemudian memandang Atsushi dengan ekspresi yang aneh, tubuhnya berguncang dan salah satu tanganya menutup mulutnya yang terpekik kecil. Ia sedang teringat pada sesuatu dan sepertinya wanita itu sedang merasa sudah melakukan kesalahan. "Astaga, Apa sebaiknya kau sekamar dengan Dazai? Kenapa aku tidak ingat kalau kalian sudah bertunangan, Aku sudah melakukan kesalahan besar!"

Atsushi shock, Ia sangat menyesal karena sudah bertanya dan sekarang ia harus melihat wajah Dazai yang kelihatanya sangat senang. "Tidak, Bibi. Jangan begitu." Atsushi berusaha bersuara dengan lebih sopan. "Jika aku tidur di kamar yang sama dengan Dazai, itu bisa membuatku merasa tidak enak!"

"Tidak, tentu saja kau tidak perlu merasa begitu, aku bisa faham kalau kau ingin terus bersama Dazai, tidak apa-apa. Sebentar lagi kalian akan menikah kan?"

"Jangan Bibi, aku mohon. Ibuku pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui hal ini!" Ucapan Atsushi terdengar lebih memelas, Ibunya akan kecewa? Ibunya pasti akan merasakan yang sebaliknya. Atsushi masih bisa mengingat kalau Ibunya hampir bersorak dan melompat-lompat saat Dazai meminta izin kepadanya untuk membawa Atsushi bertemu dengan orang tuanya di Jepang.

Nyonya Dazai mengelus dada lega. "Maaf, sebenarnya aku malah merasa lega kau mengatakan hal seperti itu! Aku juga khawatir bila kau dan Dazai menginap di kamar yang sama, tapi mengingat cara barat dimana kalian berdua tinggal aku merasa bersalah kalau memaksakan kehendaku kepada kalian. Jika kau menginginkan hal baik itu mana mungkin tidak ku kabulkan!"

Kali ini Atsushi yang menghembuskan nafas lega. Ia memandang wajah Dazai yang kehilangan senyumnya. Tanpa bicara apa-apa lagi laki-laki itu membawa koper Atsushi masuk semakin dalam ke rumah. Atsushi mengikutinya setelah mengatakan permisi kepada nyonya Dazai. Kamar yang akan di tempatinya berada di lantai dua, bukan kamar yang luas, tapi bisa di pastikan memiliki kualitas yang lebih baik bila di bandingkan dengan kamar flatnya. Dazai meletakkan tasnya di atas ranjang dan kembali turun tanpa mengatakan apa-apa. Sepeninggalan Dazai, Atsushi membuka koper kecilnya untuk ganti baju. Tapi mengingat ia hanya membawa pakaian dalam jumlah yang sedikit Atsushi membatalkan niatnya. Sebuah tas plastik berisi perlengkapan mandi di keluarkanya dari dalam koper. Atsushi ingin mandi sebelum akhirnya beristirahat. Karena di kamar itu tidak ada kamar mandi pribadi, ia berinisiatif untuk turun ke bawah dan mencari kamar mandi. Langkah demi langkah kakinya menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu membuatnya mendengarkan bunyi berdebum. Atsushi kemudian berjalan ke dapur dan memperhatikan keadaan rumah itu lebih seksana, pertama, ia menemui ruang tengah dengan televisi dan sebuah Kotatsu di atas Karpet berwarna hijau. Lalu sebuah pintu yang diduganya sebagai sebuah kamar, dan terakhir adalah ruang makan dengan kitchen set yang bersih dan luas. Nyonya Dazai ada disana dan tampak sangat Sibuk dengan masakanya. Atsushi mendekatinya dengan agak gugup.

"Bibi, kamar mandi ada di sebelah mana?"

Nyonya Dazai berbalik memandangnya dengan senyum lalu menunjuk pintu yang berada di sebelah kulkas. "Disana ada satu, Tapi Dazai sedang di dalam. Di atas juga ada, ruangan yang di seberang kamarmu!"

Atsushi berusaha mengingat-ingat, ia sepertinya agak kurang perhatian karena sama sekali tidak bisa mengingat ada pintu di sebrang kamarnya. Atsushi berusaha tersenyum lalu membungkukkan badan sambil mengucapkan terimakasih dengan fasih. Mungkin ia akan kembali naik kelantai dua, tapi ia tidak bisa membiakan nyonya Dazai sibuk sendirian. Wanita itu pasti sedang menyiapkan makan malam dalam jumlah yang lebih banyak dari biasa karena kedatanganya, atau mungkin masakan yang di masaknya kali ini bukan masakan yang biasa. Nyonya Dazai bisa saja menyiapkan masakan yang spesial untuk menyambut kedatangan Atsushi kerumahnya. Atsushi meletakkan tas plastiknya di atas meja makan dan menyampirkan handuknya di kursi. Ia kembali lagi mendekati nyonya Dazai yang kelihatan semakin sibuk.

"Bibi, Mau masak apa? Ada yang bisa ku bantu?"

"Ah, tidak usah. Kau istirahat saja, wajahmu sangat pucat. Pasti sangat lelah!" nyonya Dazai berusaha menolak dengan sopan.

Tapi Atsushi tidak bisa menyerah begitu saja. "Biarkan aku membantu apa saja! Mengiris tomat, daun bawang, mecuci piring juga tidak masalah. Bibi kelihatan sangat kerepotan mengerjakanya sendiri!"

"Tapi kau adalah tamu! Mana mungkin aku membiarkan tamu memasak!"

"Astaga, Bibi. Bukankah aku calon menantumu? Biarkan aku membantu, aku berjanji tidak akan mengacaukan masakanmu!"

Sejenak hening, Nyonya Dazai lalu memandang Atsushi dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti. Atsushi menggigit bibirnya, mungkin dia sudah melakukan hal yang salah, sudah mengatakan sesuatu yang tidak tepat.

"Aku senang kau mengatakan itu!" Nyonya Dazai akhirnya bersuara. Kata-katanya membuat Atsushi mengerti makna dari pandanganya tadi. "Aku harap kau dan Anakku bisa segera menikah. Semula aku khawatir karena anak itu bilang kalau dia tidak mungkin menikah. Beberapa waktu lalu dia bilang akan menikah dengan orang

yang tidak aku sukai. Sepertinya dia salah, kau gadis baik dan aku sangat menyukaimu!"

Benarkah? Ternyata bibi mengkhawatirkan itu. Wanita itu khawatir kalau Dazai menikah dengan wanita yang tidak cocok dengan keluarganya. "Terimakasih Bibi!" Atsushi mengatakanya dengan ikhlas, dan kali ini ia cukup terharu.

"Kalau begitu panggil aku 'Ibu'. Bukankah kau calon menantuku?"

Atsushi tersenyum dan nyonya Dazai tampak lebih berbinar-binar dari sebelumnya. Ia membiarkan Atsushi memotong daun bawang secara diagonal dan gadis itu terlihat sangat senang. Atsushi teringat rumahnya, teringat Ibu. Memanggil Nyonya Dazai dengan sebutan Ibu membuatnya merasa bersalah karena dia tidak menginginkan Dazai sebagai suaminya. Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Atsushi dan Nyonya Dazai menoleh. Dazai sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Atsushi merasa sangat iri. Dia juga ingin mandi.

"Sudah, kalau begitu tidak usah membantuku lagi! Kau seharusnya istirahatkan. Sekarang Mandilah dan kembali kekamarmu!"

"Tapi bu, aku tidak lelah sama sekali!"

"Kalau begitu kau pergi saja bersama Dazai." Nyonya Dazai kemudian memandang Dazai yang terpaku saat namanya di sebut-sebut. "Ajak calon istrimu jalan-jalan ke pantai. Kalian disini hanya sebentar. Ibu tidak ingin ia menghabiskan waktunya di dapur!"

"Ibu, aku tidak apa-apa!" Atsushi masih membujuk.

Dazai menggelengkan kepalanya geram lalu mendekati Atsushi dan menarik lenganya menjauh dari dapur sampai mereka mendekati tangga. "Sekarang kau mandi di lantai atas. Ganti pakaianmu dan dalam waktu tiga puluh menit kau sudah harus selesai lalu menyusulku ke depan!"

"Tapi aku ingin-"

"Sayang, Percayalah. Ibuku tidak suka di ganggu siapapun saat memasak. Kakaku saja tidak pernah melakukanya. Suatu keajaiban saat dia membiarkanmu memegang pisaunya. Jadi jangan kecewa dengan ini. Cepatlah naik ke atas!"

Atsushi menghentakkan kakinya lalu naik ke lantai atas dengan terburu-buru. Ia melupakan handuk dan tas plastik yang tertinggal di atas meja makan. Baru saja Atsushi ingin mengambilnya, Dazai sudah berada di hadapanya dan memberikan kedua barang yang tertinggal tadi. Laki-laki itu kemudian kembali menuruni tangga dan masuk kekamarnya yang berada di sebelah kanan tangga, tepat di bawah kamar mandi. Seandainya boleh memilih, Atsushi ingin tidur saja. Tapi tidak sopan bila ia melakukanya, kesanya pasti sangat tidak baik meskipun alasanya masuk akal. Atsushi masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai.

[ Bersambung ]

a/n: Mohon maaf sekali sudah dua hari ini saya nggak update T.T

Saya tepar efek kehujanan pas pulang dari kampus, alhasil selama dua hari saya cuma bisa berbaring diranjang dan nggak utak-atik laptop sama sekali, padahal deadline tugas lagi banyak-banyaknya T.T #malahcurhat

Oke deh, saya balas reviernya dulu

*) Amisha: Terima kasih masih menyempatkan diri buat review ya *pelokciom* xD | Btw masalah yang Chapter 11 ya, yang dibingungin adegan pas dimobil? Sejauh ini saya paham dan bisa bayangin scene itu, ini yang nggak dipahamin pas adegan anuan (?) nya kah? xD

Kalau masalah typo dan EYDnya saya lihat dari cerita aslinya justru masih banyak banyak typo dan juga EYD, paling banyak EYD nya sih, itupun sebagian sudah saya edit malahan. Kalau memang ada typo yang keterlaluan, saya mohon maaf *bow*

Sekian dan terima kasih buat reader yang masih setia baca cerita ini.

Sampai jumpa di chapter berikutnya xD