VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 14 ]

[Kuda dan Pantai di Yokohama]

Hampir tiga puluh menit, Atsushi pada akhirnya mengganti pakaianya juga dengan sebuah mini dress kaos berwarna safir. Meskipun pakaianya menutupi lengan sampai kesiku, tapi leher berpotongan rendah membuatnya memilih untuk membungkusnya lagi dengan Jaket Visa hitam kesukaanya. Melihat pantai di sore musim gugur mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena Atsushi sama sekali tidak pernah punya waktu untuk mengunjungi pantai, paling tidak selama dua tahun terakhir semenjak dirinya memegang kendali terhadap beberapa kasus sebagai pengacara yang sebenarnya. Dengan wajah yang lebih segar, Atsushi segera turun ke lantai bawah dan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Nyonya Dazai. Wanita tua itu kemudian mematikan kompornya untuk menemani Atsushi keluar rumah. Atsushi hanya membawa satu sepatu dan mau tidak mau ia harus memakai high heel tujuh sentimeternya sebelum keluar dari pintu. Nyonya Dazai terus memujinya, Atsushi adalah calon menantu tercantik di dunia, bidadari untuk putranya, ungkapan yang membuat wajah Atsushi merona. Tapi rona wajahnya tidak bertahan lama karena ia terkejut melihat seekor kuda yang putih bersih bersama Dazai dan seorang teman lagi. Kenapa bisa ada kuda? Penampilanya sama sekali tidak seperti penampilan seseorang yang akan berkuda dan Atsushi tidak bisa naik kuda.

"Kenapa kau lama sekali?" Dazai langsung memasang ekspresi kesal saat melihat wajah Atsushi yang dari tadi di tunggu-tunggunya dengan setia. Ia menyadari keterkejutan gadis itu dan berlagak tidak tau. Dengan nada yang lebih lembut Dazai memperkenalkan laki-laki yang sedang bersamanya dan darimana ia mendapatkan kuda. "Ini kuda Pamanku, Bukan Ayah Akutagawa, karena pamanku ada banyak! Kuda ini sangat tangguh karena dia adalah kuda dari Dojo Yebusame. Dan ini adalah pengasuhnya, Sakaguchi Ango!"

Atsushi menyapa Ango hanya dengan senyumnya saja. Lalu ia kembali memandang Dazai dengan bingung. Mungkin Ango hanya kebetulan ada disini. Tidak mungkin mereka akan berkuda kan? Satu kuda untuk berdua? Sudah di pastikan itu akan terjadi jika kuda itu datang atas kehendak Dazai.

"Ayo, sayang! Kita kepantai sambil berkuda!"

"Tidak bisakah berjalan kaki saja?"

"Ayolah, pantai dan rumahku cukup jauh! Kau tidak mungkin menginjak pasir dengan sepatumu itu kan? Aku tidak akan suka menunggumu berjalan sambil menarik hak sepatu yang terbenam di pasir setiap kali melangkah, Aku juga tidak akan membiarkanmu bertelanjang kaki karena musim dingin segera tiba." Dazai naik ke punggung kuda dengan sigap lalu mengulurkan tanganya kepada Atsushi yang masih tepaku di depan pintu. "Ayo, Kita harus segera pulang sebelum makan malam."

"Pergilah, sayang! Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena Ango juga akan pergi bersama kalian. Dazai juga cukup pandai berkuda, sejak kecil ia terus berlatih Yabusame sebelum sekolah di Osaka!" Nyonya Dazai berusaha untuk membujuk Atsushi yang masih ragu.

Pelan-pelan, Atsushi mendekati Dazai, Memberikan tanganya dan membiarkan Dazai menggenggamnya erat. Tidak begitu sulit untuk naik ke atas kuda dengan bantuan dua orang laki-laki, tapi Atsushi harus menerima kalau dirinya sekarang berada di bagian depan dan duduk menyamping ke kiri meskipun pada awalnya ia berharap bisa duduk di belakang Dazai saja. Dalam beberapa waktu kemudian kuda sudah melangkahkan kakinya dalam tempo yang tidak begitu cepat. Ango masih dengan setia berjalan membimbing kudanya dengan optimis menjauhi rumah. Pantai sudah terlihat dan tidak sejauh yang di perkirakanya, Kata-kata Dazai tadi mengesankan seolah-olah pantai tidak mungkin bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki. Pembohong.

"Aku kira pantai masih beberapa kilo lagi!" Atsushi menyindir.

"Memangnya kenapa? Aku kelelahan dan sekarang harus menemanimu jalan-jalan. Kau sangat keterlaluan kalau masih memaksa untuk jalan kaki."

"Jadi kau keberatan untuk melayaniku? Bukankah aku tamu kehormatan? Aku ada disini juga karenamu, Kau sudah memaksa."

"Sudahlah!" Mata Dazai melebar menunjukkan kekhawatiranya atas kelanjutan dari perkataan Atsushi. Ango bisa mendengarnya dan anak itu cukup dekat dengan Ibunya. Semuanya bisa kacau karena Ango akan menceritakan apa yang dia lihat hari ini. "Kau suka dengan caraku itu? Haruskah aku mengulanginya?"

Atsushi terkejut bukan hanya karena kata-kata Dazai barusan, tapi juga karena Dazai sudah menarik pengikat rambutnya sehingga rambut Atsushi terurai di tiup angin. Atsushi berusaha menggapai tangan Dazai berharap bisa mengambil kembali miliknya, tapi benda itu sudah tidak ada lagi. "Ikat rambutku, Kau kemanakan?"

"Sudah ku kirim ke black hole. Kau tidak akan bertemu denganya lagi!"

"Kau ini kenapa? Aku tidak membawa cadanganya sama sekali!"

"Untuk apa? Kau tidak perlu menyiksa rambutmu setiap hari!" Dazai kemudian terkekeh, dia sangat menikmati, selalu menikmati saat-saat dimana Atsushi kewalahan menghadapinya. "Kau punya pakaian yang cukup menarik, sayang! Tapi kau menyiksanya sama seperti menyiksa rambutmu. Menutupi Tilo dengan Visa adalah tindakan kejam. Sekarang tanggalkan Visamu!"

"Cukup! Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak suka dengan permainan seperti ini!"

"Aku suka, Aku menyukai apapun yang tidak kau suka. Sekarang tanggalkan atau aku yang akan melakukanya! Kau tau betul apa yang akan ku lakukan bila itu sampai terjadi!"

Atsushi merasakan nafasnya yang tidak teratur. Memangnya apa yang akan Dazai lakukan? Sangat banyak orang di jalan dan Dazai tidak akan mungkin melakukan sesuatu kepadanya di hadapan banyak orang. Dia tidak akan pernah membuka jaketnya apapun yang terjadi. Tapi tindakan keras kepalanya berbuah tidak menyenangkan laki-laki itu, Dazai Osamu benar-benar menggerakkan tanganya dengan cepat merangkul pinggang Atsushi dan perlahan naik mendekati dadanya seiring dengan tangan Dazai lain yang membuka resleting Jaket dengan perlahan. Ia bahkan tidak kesulitan melakukanya meskipun harus melakukanya dengan perlawanan Atsushi di atas kuda yang masih berjalan seolah-olah tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di atas punggungnya. Ango juga melakukan hal yang sama, meskipun melirik sesekali, ia tetap bertindak pura-pura tidak tau dengan apa yang di lakukan Dazai. Tentu saja semua orang mengira Dazai sedang bersama dengan tunangannya, Dazai punya hak penuh atas dirinya. Atsushi tidak berhenti mengutuk, tanganya mulai memukul-mukul Dazai saat resleting jaketnya habis terbuka dan merasakan remasan keras pada payudaranya. Tubuhnya melemah dan jaketnya sudah berpindah ketangan Dazai seluruhnya.

"Aku sudah bilang padamu, sayang! Lebih baik kau melakukanya sendiri seperti saranku tadi!" Dazai kelihatan sangat senang, terlebih saat melihat Atsushi menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. Atsushi mungkin berfikir untuk melompat dari kuda sekarang, Tapi itu adalah tindakan bodoh karena dengan sepatu tujuh sentimeternya itu, dapat di pastikan kakinya akan terkilir dan keluarga Dazai akan memaksanya tinggal lebih lama. Atsushi pasti juga sudah memikirkan hal itu, ia lebih memilih membuang wajahnya kearah lain yang jauh dari pandangan Dazai. Atsushi tidak mengatakan apa-apa beberapa waktu, tidak kutukan, tidak caci maki, tidak juga ancaman. Atsushi hanya membisu dan baru berbicara setelah beberapa menit berlalu.

"Bisakah kita pulang?" Ia masih tidak ingin memandang Dazai, matanya terus tertuju pada hamparan laut yang luas yang sejak tadi terus di telusuri oleh kuda yang mereka naiki. Harapan untuk menikmati pantai pada musim gugur benar-benar sudah lenyap. Atsushi sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya kali ini.

Dazai dapat merasakan gelombang yang tidak biasa dari Atsushi. Getaran suaranya membuat Dazai merasa agak tidak enak. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Atsushi barusan dan lebih memilih untuk meminta Ango berhenti dan pulang setelah memberikan jaket Visa milik Atsushi. Ango hanya mengangguk dan segera pergi begitu tali kekang yang ada di tanganya berganti dengan jaket Atsushi. Kali ini Atsushi memandangnya dengan pandangan galak yang biasa di tampilkannya, Dazai merasa lega, mendengar Atsushi megutuknya lebih baik daripada melihat gadis itu diam tak bersuara.

"Kenapa kau malah menyuruh Sakaguchi-san untuk pulang? Aku yang ingin pulang!" Suara Atsushi kembali bertenaga.

"Sekarang beristirahatlah!" Kata Dazai dengan suara pelan. Ia menyadari kalau Atsushi memandangnya heran. Wajah gadis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang menderanya. Atsushi bahkan kesulitan menahan agar matanya tetap terbuka. "Aku tau kau tidak akan bisa beristirahat dirumah, sekarang beristirahatlah karena kau bisa saja pingsan kalau harus menahanya sampai makan malam."

Atsushi tidak mungkin pingsan hanya karena kurang tidur. Pekerjaanya sudah terlalu sering membuatnya melalaikan waktu tidur. Tapi lelah karena tidak melakukan apa-apa sama sekali tidak sama dengan lelah karena mengerjakan tugas yang menumpuk. Dazai masih cukup kagum karena gadis itu terus bertahan dengan egonya hingga akhirnya ia merebahkan kepalanya untuk bersandar di dada Dazai. Atsushi tertidur sambil merangkul bahunya sendiri. Ia pasti kedinginan, lalu apa yang Dazai lakukan? Kenapa tiba-tiba saja ia terpesona pada Atsushi, setiap hembusan nafas Atsushi benar-benar membuatnya terlena dalam gelombang gairah yang aneh. Bibir lembut itu seakan menyedotnya untuk terus mendekat sampai akhirnya Dazai hanya bisa mematung menyadari apa yang akan ia lakukan. Wajah Atsushi mengingatkanya kembali pada kekecewaan yang di tunjukkan gadis itu beberapa saat yang lalu. Dazai tidak akan melakukanya, ia menjauhkan kembali bibirnya yang sudah sangat dekat dengan pelarung dahaga yang sangat di inginkanya. Atsushi yang kedinginan tidak membutuhkan ciuman, Dazai melajukkan kudanya agar kembali berjalan dengan sangat perlahan dengan sekali hentakan. Ia menyerahkan semua kendali pada tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya merangkul gadis itu agar lebih rapat kepadanya.

[ Bersambung ]