VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 15 ]

[Who is He Actually?]

Atsushi tidak menemukan jaketnya, tapi ia sama sekali tidak mau bertanya kepada Dazai tentang hal itu. Ia bahkan tidak bertegur sapa dengan Dazai pada saat pertemuan keluarga tadi malam karena masih merasa kesal dengan kelakuanya. Di tambah lagi bila mengingat dirinya terbangun dalam pelukan Dazai kemarin. Siapa yang tau, apa saja yang sudah Dazai lakukan kepadanya saat dia tidur? Meskipun begitu, Atsushi sangat berlega hati dengan sikap Ayah Dazai yang tidak berbeda dengan Ibunya. Laki-laki itu bersikap hangat seperti seorang Ayah yang sudah lama tidak di milikinya, karena itu dengan senang hati pagi ini Atsushi melayani sarapan tuan Dazai sebelum laki-laki itu meninggalkan rumah seperti yang biasa di lakukanya.

"Kalian jadi ke Tokyo hari ini?" Tuan Dazai bertanya dengan nada suara yang penuh wibawa. Ia sudah siap untuk pergi dan sekarang mereka sedang berdiri di pintu depan. Atsushi, Tuan Dazai dan Istrinya tercinta.

"Iya. Nanti sore!" Suara Atsushi terdengar berat. Ia sangat ingin memanggil laki-laki itu dengan sebutan Ayah, tapi masih sulit. Memanggil tuan Dazai dengan sebutan itu jauh lebih sulit bila di bandingkan dengan memanggil istrinya dengan sebutan Ibu.

"Kalau begitu hati-hati di jalan! Bersabarlah dengan sikap Dazai."

"Baiklah!"

"Ayah pergi dulu!" Tuan Dazai kemudian benar-benar pergi.

Bersabarlah dengan sikap Dazai? Atsushi selalu berusaha untuk bersabar dan dia sama sekali tidak tau sampai kapan bisa bertahan dengan hal itu. Dazai Osamu dan dirinya memiliki selang usia tidak kurang dari tujuh tahun, tapi sikapnya bahkan lebih kekanak-kanakan di bandingkan Atsushi yang baru berusia dua puluh lima tahun. Nyonya Dazai masuk ke rumah lebih dulu dan Atsushi menyusul di belakangnya, ia baru saja hendak menutup pintu kembali saat wanita itu menyebut namanya dengan suara pelan.

"Ya, Ibu?" Atsushi hanya mampu merespon dengan itu.

"Apakah kau dan Dazai sedang ada masalah? Ayah mengkhawatirkan hal itu makanya dia mengatakan hal-hal tadi. Meskipun kau selalu menyembunyikanya tapi Ayah mungkin bisa merasakanya. Dia sudah melakukan apa padamu?"

"Tidak ada! Kami tidak punya masalah apa-apa, mungkin cuma kelelahan makanya terkesan seperti itu." Atsushi menghela nafas, sangat berat baginya untuk mengatakan ini tapi ia tetap mengatakanya. "Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menggangguku. Semuanya normal!"

"Benar begitu?"

"Tentu saja!"

"Baiklah kalau begitu Ibu bisa lega. Kau mau bantu Ibu untuk membangunkan Dazai kan? Sekarang sudah hampir siang dan dia belum juga bangun sampai sekarang. Bukanya kalian harus siap-siap? Kalau dia sudah bangun, katakan kalau Ibu menunggu kalian di dapur. Kalian berdua belum sarapan kan? Kau sibuk melayani Ayahmu sejak tadi pagi!" Nyonya Dazai terus bergumam tentang alasanya meminta Atsushi dan Dazai segera kedapur sambil terus melangkah kebelakang.

Membangunkan Dazai? Akhirnya, Atsushi harus tetap bicara dengan Dazai meskipun egonya menolak. Ia harus berusaha menyimpan kekecewaannya untuk beberapa waktu. Dengan berat hati Atsushi mengetuk pintu kamar Dazai dan harus menanggung rasa kesal karena laki-laki itu tidak menjawab. Mungkinkah ia harus beteriak? Moodnya terlalu buruk untuk berteriak-teriak sekarang. Atsushi lebih memilih untuk membuka pintu dan berharap Dazai tidak menguncinya. Dan harapanya terkabul, Dazai tidak mengunci pintunya. Apa yang sedang Atsushi fikirkan dengan memasuki kamar Dazai? Bagaimana bila Dazai melakukan hal yang lebih parah dari yang sudah-sudah? Atsushi hendak melangkah keluar kamar tapi ia membatalkan niatnya dan kembali memandang Dazai yang tidur sambil memeluk Jaket Visa yang di cari-carinya. Dengan kewaspadaan tinggi Atsushi mendekat dan duduk di pinggir ranjang lalu menatap laki-laki itu lebih dalam. Wajah yang sama sekali berbeda, Dazai yang sedang tidur terlihat sangat manis. Sikap kekanak-kanakanya membuat wajahnya masih terlihat sangat muda, dia tampan dan menenangkan. Atsushi mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan saatnya untuk terpesona kan?

"Hei, Tuan Muda! Ini sudah siang, kau mau tidur sampai jam berapa?"

Dazai tidak bergeming. Ia masih terlelap dan tidak perduli dengan suara Atsushi.

Atsushi mengeluh. "Dazai, ayo bangun!"

Kali ini dia hanya menggeliat. Atsushi mulai mengusahakan banyak cara untuk membangunkanya, memanggil-manggilnya dengan keras dan kasar, menggoyang-goyangkan tubuhnya, bahkan sampai mengancam akan membanjirinya dengan air. Tapi Dazai kelihatanya tidak ingin bangun.

"Dazai!" Atsushi mulai kehabisan akal. "Bangunlah, Aku harus bagaimana lagi? Kau harusnya tau ini sulit untukku. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, aku sangat membencimu dan..." Atsushi melanjutkan kata-katanya dengan teriakan kecil saat merasakan tangan Dazai menarik lenganya dengan kuat dan dalam tempo yang sangat cepat tubuhnya sudah berada di bawah tubuh Dazai, wajah mereka sangat dekat tinggal beberapa inchi lagi sebelum bibir Dazai menyentuh bibirnya.

"Diamlah!" Dazai berkata parau, ia lalu meninggalkan tubuh Atsushi dan membaringkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu. "Biarkan aku tidur sebentar lagi!"

Semua yang begitu tiba-tiba ini membuat Atsushi shock untuk kesekian kalinya. Ia bahkan sudah berniat untuk berteriak minta tolong jika laki-laki itu bertingkah lagi. Tapi Dazai tidak melakukanya, ia hanya meminta Atsushi untuk diam dengan cara yang sudah pasti akan membuat gadis itu tutup mulut. Atsushi berusaha bangun dan duduk dengan baik, Dazai Osamu adalah laki-laki pertama yang tidur di pangkuanya seperti ini, bahkan beberapa laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya tidak pernah melakukan hal itu padanya. Dazai sepertinya hanya ingin bermanja.

Sedangkan Dazai, ia tidak benar-benar tidur. Suara Atsushi yang pertama sudah membangunkanya tapi kelelahan membuatnya membiarkan Atsushi ribut-ribut seorang diri. Kali ini dia benar-benar ingin tidur di pangkuan Atsushi meskipun hanya untuk beberapa saat. Kenapa? Itu yang selalu bergema di dalam otaknya. Ia hanya menyukai tubuh Atsushi yang hangat, tidak tubuh Atsushi tidak hanya hangat, tapi panas, sangat panas. Dazai merasakan hawa panas itu saat telapak tangan Atsushi menyentuh keningnya, menyelimuti tubuhnya dan membelai rambutnya. Semuanya benar-benar membuatnya ingin seperti itu lebih lama.

[ Bersambung ]