VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 16 ]

[Back to Tokyo]

Dazai dan Atsushi sedang menuju Tokyo dengan kereta api, padatnya penumpang membuat mereka harus rela untuk berdiri. Untungnya mereka berdua tidak membawa barang yang banyak sehingga itu tidak terlalu mengganggu. Tapi selama di jalan suasana benar-benar beku karena tidak ada satu orangpun di antara mereka yang berani bicara. Saat tanpa sengaja keduanya beradu pandang, Atsushi akan membuang wajah lebih dulu sehingga Dazai merasa tidak ada hal lain yang harus di lakukan selain melakuan hal yang sama. Kekakuan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya senggolan misterius dari penumpang lain yang berpindah tempat hampir membuat Atsushi jatuh dan Dazai beraksi cepat meraih pinggangnya.

"Keep your hand!" Bisik Atsushi geram.

Reaksi yang membangkitkan semangat Atsushi kembali. "Sebaiknya biarkan aku terus seperti ini karena sangat banyak orang yang berniat menyentuhmu dan bertindak seolah-olah mereka tidak sengaja melakukanya!"

"Lalu apa bedanya denganmu?"

"Venusku sayang, aku memang sangat suka menyentuhmu tapi aku tidak pernah berpura-pura kan? Aku akan menyentuhmu kapanpun aku suka!" Kali ini Dazai merapatkan tubuh Atsushi kepadanya, melingkarkan kedua tanganya dan membelai perut Atsushi yang datar, semuanya benar-benar membuat Atsushi merinding. "Selama kau memakai cincin itu, kau adalah milikku. Jadi hanya aku yang boleh menyentuhmu!"

Atsushi menggenggam kedua tangan Dazai yang terus menjelajahi perutnya agar berhenti bergerak. "Baiklah, tapi tetap seperti ini karena aku tidak suka dengan aksimu meraba tubuhku di depan orang banyak seperti sekarang!"

Dazai tersenyum senang. Kali ini Atsushi mengizinkanya melakukan hal seperti ini meskipun dengan sebuah syarat. Panas tubuh Atsushi benar-benar sudah merasukinya, ia bisa mencium aroma parfum yang sangat manis merebak dari tubuhnya dan rambut abu-abu yang selembut sutra itu memiliki aroma yang lain lagi tapi sangat serasi. Kedua lenganya yang melingkari tubuh Atsushi dapat merasakan kalau gadis itu gugup dengan hal ini, gugup karena mereka begitu dekat, karena dada Dazai menempel di punggunya sehingga bisa merasakan detak jantungnya dan karena pandangan banyak orang yang selalu tertuju pada mereka berdua. Dazai mempererat rangkulanya dan Atsushi menggeliat dia masih berusaha mengamankan diri dengan berbagai cara. Dengan posisi yang seperti ini, tidak saling bicara bukanlah masalah lagi. Detak jantung mereka yang saling berbicara, berusaha saling menyamai ritme kerjanya di dalam tubuh.

Kereta berhenti dengan tidak terasa, para penumpang yang sejak tadi melirik kearah mereka berdua pada akhirnya menghentikan pandangan irinya dan keluar dengan segera. Nakajima Atsushi berusaha melepaskan diri dari Dazai dan keluar lebih dulu dengan membawa tasnya. Dazai masih berusaha menyusul gadis yang beberapa menit lalu berada dalam pelukannya dan mengiringi langkahnya. Atsushi cukup lama mengungguli egonya dan berusaha mendahului Dazai, tapi kemudian menyerah harus menjadi pilihan karena ia tetap tidak tau harus pergi kemana mereka setelah ini.

"Apa tidak bisa aku pulang ke London lebih dulu?" Tanya Atsushi setelah langkahnya semakin memelan dan mereka berdua bisa berjalan bersisian dengan lebih santai.

"Sekarang? Aku takut tidak akan bisa. Kita harus menghadiri pernikahan Sasaki, karena kakakku pasti ada disana. Meskipun aku tidak memberi tahu kepadanya tentangmu, Ibu pasti sudah memberi tau."

"Lalu setelah ini kita harus kemana?"

"Apartemen Sasaki Nobuko. Kita akan kerumah mempelai wanita, tapi ku rasa calon pengantin pria juga ada disana. Ada hubungan yang rumit yang membuat mereka semua harus berada dalam satu rumah malam ini juga," Dan semuanya mengalir. Dazai menceritakan semuanya, menceritakan hubungan persahabatanya dengan Sasaki dan calon suaminya, Kunikida, tentang keduanya yang memiliki satu orang kakak bernama Taguchi, juga tentang sebab mengapa kakak perempuan Dazai bisa berada disana.

Sepanjang perjalanan benar-benar di penuhi cerita-cerita yang menarik, Dazai terus berbicara dan Atsushi mendengarkan dengan baik, sesekali gadis itu bertanya tentang hal-hal yang membuatnya merasa heran lalu Dazai akan menjawabnya dengan tepat dan baik. Kali ini tanpa sadar keduanya sudah berbicara dengan nyaman dan untuk pertama kali tidak berisi cacian Atsushi atau kata-kata penuh gairah dari mulut Dazai. Semuanya kenyamanan itu terus bertahan bahkan saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dazai dan Atsushi memasuki lift dan dalam waktu yang singkat keduanya akan sampai di apartement dimana semua orang berkumpul.

Bunyi dentingan halus membuat perhatian mereka segera beralih ke pintu yang terbuka. Beberapa orang masuk setelah Atsushi dan Dazai keluar dari dalam lift. Tidak perlu berjalan jauh lagi, keduanya sudah sampai di depan pintu dan Akiko menyambut adiknya dengan gembira. Keberadaan Atsushi juga sangat menarik hatinya, dalam waktu singkat ia memandangi Atsushi dari unjung kaki hingga kepala lalu tersenyum di iringi pandangan dengan kilatan yang misterius.

"Kau, Atsushi? Astaga! Kau sangat sempurna, benar-benar masuk kedalam kriteria idaman semua orang, dan Dazai juga tentunya!" Akiko kemudian tersenyum lalu menoleh kepada adiknya. "Aku benarkan?"

"Biarkan kami masuk dulu, baru kita bicara di dalam!"

"Jawab dulu pertanyaanku, calon istri yang kau pilih adalah wanita idamanmu?"

Dazai melirik Atsushi sesaat. "Kau gila? Untuk apa bertanya lagi. Lihat dadanya yang besar, pinggulnya yang bulat, perut yang rata, bukan hanya menarik untuk di lihat! Ciumanya juga sangat luar biasa!"

Atsushi mengerang dalam hati. Dazai sedang memujinya? Dia hanya menyebutkan bagian-bagian tubuh Atsushi yang sudah disentuh olehnya. Bagaimana mungkin Dazai bisa mengatakan hal-sevulgar itu di depan saudara perempuannya?

"Kalau dia menikah denganku, dia harus berhenti jadi pengacara!" Dazai melanjutkan ucapanya sambil memandang Atsushi dengan pandangan serius, beberapa saat kemudian laki-laki itu tersenyum kepada calon istrinya yang sedang jadi topic pembicaraan. "Karena dia tidak akan ku biarkan turun dari ranjangku!"

Akiko melotot mendengar pernyataan adiknya, ia lalu menoleh kepada Atsushi yang menggigit bibir dan agak menundukkan wajah, sebelah tanganya menggosok-gosok tengkuknya perlahan. Atsushi sedang merasa tidak enak karena ucapan Dazai yang seharusnya hanya menjadi konsumsi mereka berdua secara pribadi. "Atsushi, apa Ayahku sudah mengatakan padamu untuk bersabar terhadapnya? Aku mengerti kau pasti merasa sangat sial sekali karena harus menikah dengan orang ini!"

Atsushi berusaha tersenyum. Menikah dengan orang itu? Entahlah.

Dazai masuk kedalam apartement tanpa di suruh lagi, ia membawa tas Atsushi juga meskipun meninggalkan pemiliknya di pintu bersama kakaknya. Sedangkan Akiko masih berusaha berbicara kepada Atsushi mengenai sesuatu.

"Atsushi, Dazai memang seorang laki-laki yang penuh dengan gairah, tapi membicarakanmu dengan cara seperti itu sedikit banyak dia sudah menunjukkan kalau dia sedang memujamu. Sekarang masuklah, kau akan tidur di kamar perempuan malam ini!"

[ Bersambung ]