VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 17 ]
[Serangan Tak Terduga Dari Sang Dewi]
"Kunikida-kun tidak pernah menyentuhku lebih dari sebuah genggaman tangan, dia memelukku beberapa kali dan menciumku hanya sekali."
Sasaki Nobuko bersungut-sungut saat semua wanita yang berada di rumah itu berkumpul di kamarnya. Kirako istri Kakak sulungnya Taguchi, Akiko yang merupakan istri dari Ranpo, Ibunya dan juga Atsushi. Semua laki-laki sedang berkumpul di kamar lain dan anak-anak sudah tidur di kamar yang berbeda juga. Pembicaraan menjelang hari-hari pernikahan selalu menjadi topik yang seru, tapi tidak bagi Atsushi. Dia masih sangat lelah dan benar-benar mengantuk. Saat tiba di London nanti Atsushi akan memastikan kalau dirinya bisa tidur seharian dan tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu.
"Apa yang harus kulakukan nanti?" Lanjutnya, matanya yang bening berbinar-binar bahagia, dia akan memasuki kehidupan baru bersama laki-laki yang dicintainya.
Atsushi mendesah. Baginya pernikahan hanya beban, sejak kecil ia bisa berpacaran dengan siapa saja tapi tidak pernah terfikir untuk menikah. Tapi di usia yang ke dua puluh lima tahun, Ia harus mendapatkan suami karena Ibunya yang masih berfikir dengan cara yang sangat Asia itu tidak menginginkan putrinya jadi perawan tua. Itu yang menyebabkan Atsushi selalu menjalani perjodohan dan selalu mengusahakan agar pria-pria itu menolak perjodohan mereka. Akutagawa Ryuunosuke, seharusnya menjadi satu-satunya laki-laki yang akan di biarkanya menjalani perjodohan secara normal denganya, karena Akutagawa cukup di kenal dan pernah di kaguminya. Sayangnya Atsushi harus menelan pahit saat mengetahui kalau dirinya di jodohkan dengan laki-laki yang paling di bencinya di seluruh dunia. Atsushi tidak pernah menolak perjodohan, tapi dia selalu berhasil membuat pihak laki-laki yang melakukanya. Dazai seharusnya juga, tapi laki-laki gila itu cukup mampu bertahan hingga sekarang hanya karena dia menyukai tubuh Atsushi, hanya karena Atsushi adalah sumber gairah yang bisa membuatnya berapi-api di semua tempat. Atsushi meraba perutnya yang Dazai sentuh, payudaranya yang di remas, dan lehernya. Dazai juga sudah menyentuh kaki-kakinya, membelai paha, meremas pinggul. Astaga! Meskipun bukan dalam satu waktu, nyaris semua anggota tubuhnya sudah pernah di jamah oleh laki-laki itu!
"Atsushi!"
Akiko memanggilnya. Seluruh bayangannya tentang Dazai Osamu buyar begitu saja.
"Kau baik-baik saja?" Lanjut Akiko.
"Iya, tentu saja. Ada apa?"
"Tadi aku bertanya, bagaimana denganmu dan Dazai. Kalian sudah melakukan apa saja? Sudah tidur bersama?"
Mata Atsushi membesar mendengarkan pertanyaan seperti itu. "Tidak, kami tidak pernah sampai kesitu! Aku mengatakan kepadanya untuk tetap memakai celananya saat sedang bersamaku!"
Spontan tawa membahana di ruangan itu. Akiko yang reda lebih cepat bertanya lagi. "Benarkah? Dazai adalah anak yang sangat gigih, apa lagi menyangkut sesuatu yang tidak bisa di tahan seperti gairah, Mengapa kau bisa mengatakan hal itu? Bagaimana dia bisa bertahan sampai sekarang?"
"Karena saat itu dia." Atsushi gugup, haruskah dia mengatakanya?
"Ayolah, katakan saja!"
"Karena saai itu dia hampir melakukanya, untungnya pada saat itu Akutagawa datang dan aku bisa bernafas lega sampai hari ini!" Atsushi menatap jam di dinding, waktu benar-benar sudah lewat tengah malam. "Bolehkah aku tidur sekarang?"
"Aku masih ingin mendengar ceritamu tentang Dazai!" Sasaki merengek.
"Tidurlah!" Akiko memberi izin. Lalu berbicara kepada Sasaki yang kelihatanya kecewa. "Dia harus kembali ke London besok siang, jangan sampai Atsushi kurang istirahat!"
Atsushi berdiri dari tempat duduknya, sebelum tidur dirinya ingin kekamar mandi dulu. Sebelum keluar dari pintu kamar, ia berkata kepada Sasaki. "SebaiknyaSasaki-san juga tidur! Jika tidak, akan ada kantung mata menggelayuti wajahmu besok pagi. Bergadang bisa merusak kecantikanmu!"
"Ah, ya Baiklah! Aku akan tidur sebentar lagi" jawab Sasaki sambil menarik bantal ke pangkuannya.
Berjalan ke kamar mandi sebenarnya tidak harus membuatnya melewati kamar para pria, tapi melihat cahaya lampu menyeruak dari sela-sela pintu kamar menarik perhatianya lebih lanjut. Atsushi mendekat dan ingin tau apa yang terjadi di dalam dan tidak perlu waktu lama untuk menyadari kalau mereka sedang melakukan hal yang sama dengan yang perempuan lakukan. Dazai Osamu bahkan tampak sangat bersemangat memberi kuliah seksnya saat ini seolah-olah dirinya sedang mengajarkan tekhnik berperang. Atsushi menghembuskan tawa kecil lalu kembali beranjak ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air hangat membuatnya semakin mengantuk dan mempercepat kerjanya untuk menggosok gigi dan mencuci kaki tanganya agar bisa segera tidur, setelah semuanya selesai, Atsushi berjalan keluar dengan langkah yang agah sempoyongan. Seseorang mendorong tubuhnya masuk kembali kekamar mandi membuat tubuhnya merasa nyeri karena terhempas ke dinding. Dazai Osamu lagi dan kini dirinya sudah ada dalam rangkulan laki-laki itu. Sebelah tangan Dazai melingkari pinggangnya erat sehingga tubuh Atsushi benar-benar dalam kuasanya dan yang sebelah lagi membantunya memegangi leher gadis itu agar Atsushi tidak bisa melarikan diri dari ciumannya yang penuh gairah. Atsushi berusaha berontak dengan cara mendorong tubuh Dazai sekuat tenaga, ia tau itu tidak akan berhasil dan pasti akan sia-sia, tapi Dazai tidak menyentuh bibirnya meskipun jaraknya sudah sangat dekat, tinggal beberapa inci lagi.
"Apa yang kalian bicarakan di dalam?" Dazai bertanya, suaranya terdengar seperti sedang mendesah membuat Atsushi di jalari kegugupan yang luar biasa.
"Umm..., kurasa sama.. .dengan apa yang kalian bicarakan!"
"Lalu apa kau tidak merindukanku? Membicarakan hal itu membuatku merasa bergairah dan aku selalu mengingatmu!"
"Ya, aku tau, jika tidak kau tidak akan seperti ini! Sepertinya." Atsushi segerap menutup mulutnya, bagaimana mungkin ia mengatakan itu seolah-olah menerima semua perbuatan Dazai telah menjadi kebiasaan baginya lalu apa yang akan dia katakanya tadi? Sepertinya aku sempat merasakan hal yang sama. Karena itukah dia merasa sangat tertarik untuk melintasi kamar para pria tadi? Atsushi menggelengkan kepalanya pelan. "Sepertinya kau harus kecewa karena aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur, Jadi lepaskan aku sekarang!"
"Kalau begitu berikan aku ciuman selamat malam!"
"Kalau aku tidak mau? Kau akan memaksaku dengan cara apa lagi? Menggerayangiku? Atau meremas payudara seperti waktu itu?"
Dazai terkekeh, "Kau sudah sangat hafal dengan watakku! Aku tidak akan melakukan hal yang sama kecuali saat kita berada di atas tempat tidur. Jadi ku rasa aku akan melakukan hal lain yang belum pernah ku lakukan seperti..."
Atsushi memotong ucapan Dazai dengan teriakan panjang yang tertahan, satu jari Dazai yang tadi berada di bahunyanya kini sudah menerobos masuk ke bagian terdalam dirinya yang panas. Tubuh Atsushi bergetar hebat karena kesakitan yang luar biasa sehingga membuatnya mencakar dada Dazai dan meremas pakaianya kuat- kuat. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuatnya merasa tenang meskipun rasa perih membuatnya hampir kehilangan tenaga untuk berdiri. Atsushi menyandarkan seluruh tubuhnya kepada laki-laki itu penuh penyerahan.
"Demi Tuhan, Kau sudah sangat menyakitiku kali ini!" desis Atsushi lemah. "Kau sudah melanggar hak-hak reproduksiku!"
"Lalu kau akan menuntutku?" Dazai menekan lagi semakin dalam, Atsushi mengerang lagi dan Dazai sangat menyukainya. "Aku masih memakai celanaku, sayang. Meskipun kau harusnya tau kalau itu membuatku kesakitan!"
Atsushi menengadahkan kepalanya untuk menyerang Dazai dengan tatapanya. "Kalau kau fikir kali ini aku menikmatinya, kau salah! Keluarkan tanganmu, aku bersumpah ini sangat sakit, Dazai!"
Dazai menekan lebih dalam lagi, dan terus berusaha lebih dalam, dia hanya ingin melihat Atsushi merasa kesakitan dan itu sudah pasti. Atsushi sudah mengeluh berkali-kali. Ini pertama kalinya Dazai memaksa seorang perempuan dan dia menyadari kalau Atsushi saat ini sedang tidak merasakan kenikmatan apapun tapi ia belum ingin berhenti.
"Ku mohon hentikan, aku sudah tidak sanggup lagi menahanya!"
Tubuh Atsushi sudah sangat lemah dan tidak bertenaga. Dazai melihat sesuatu yang mengalir di pipinya, Atsushi menangis? Apakah sesakit itu? Gairahnya padam secara tiba-tiba, Dazai melepaskan Atsushi dengan erangan yang tertahan karena gadis itu menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang di keluhkanya. Atsushi terkulai lemah di lantai kamar mandi dengan punggung tersandar di dinding. Ia merapatkan kedua pahanya kuat-kuat sebagai tanda kalau bagian tubuh yang paling di lindunginya di dera rasa perih yang luar biasa. Dazai berusaha untuk tidak hanya memandanginya saja, ia juga duduk di lantai yang sama sambil menggenggam tangan Atsushi yang juga meremas tanganya dengan sangat kuat.
"Antarkan aku kedokter!" bisiknya. "Aku benar-benar cidera! Sakitnya tidak bisa hilang!"
Tangisan Atsushi semakin manjadi-jadi, ia bahkan menekan bagian bawah perutnya dengan kuat sambil meringis di sela-sela sedu sedan yang memilukan. Gadis itu benar-benar berhasil membuat Dazai merasa takut. Dengan cepat dia berlari kekamarnya untuk meminjam kunci mobil siapa saja. Beberapa saat kemudian kembali dengan khawatir dan segera menggendong Atsushi keluar dari kamar mandi. Semalaman semua orang menjadi benar-benar gaduh, beberapa orang menemaninya kerumah sakit dan sebagian lagi tinggal di rumah. ICU menjadi sasaran pertama yang membuat jantung Dazai seakan berhenti berdetak menanti kabar, hingga menjelang pagi semuanya selesai dan Atsushi sudah tertidur nyenyak di sebuah ruang rawat rumah sakit. Akiko, Ranpo dan Taguchi yang semalaman menemaninya sudah pulang begitu Atsushi di pindahkan keruangan itu karena walau bagaimanapun ini adalah hari pernikahan Kunikida dan pernikahan tidak boleh batal karena perbuatanya.
"Anda tidak bisa memaksa pasangan anda untuk melakukan treatment-treatment seks pada saat dia sedang tidak menginginkanya. Itu sangat menyakitinya, hal itu bisa menyebabkan pendarahan seperti sekarang yang dalam dunia kedokteran kita sebut dengan Vaginimus. Tapi anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak ada yang terluka. Pasangan anda hanya sedang mengalami stress dan kelelahan. Dan dapat di pastikan akan segera pulih dalam beberapa hari."
Dazai menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia benar-benar tidak tau mengenai Vaginimus atau semacamnya, dia juga tidak menduga kalau kejadian seperti ini akan terjadi. Melihat wajah Atsushi yang pucat dan di infus dengan kantong darah membuatnya semakin merasa bersalah. Atsushi tidak pernah serius menolak, dia pikir Atsushi menikmati semua kelakuanya selama ini dan Atsushi hanya berpura-pura tidak suka. Ternyata dugaanya salah.
Sinar Matahari sudah menggantikan cahaya lampu menerangi ruangan, Atsushi membuka matanya perlahan dan melihat sebuah bayangan samar yang berbicara denganya, semakin lama semakin jelas dan ia harus menyadari kalau dirinya sedang berbaring di rumah sakit, semua ingatanya tentang rumah sakit masih sangat jelas. Saat bagaimana Dazai menggendongnya sambil berlarian di sepanjang koridor rumah sakit dengan wajah yang sangat khawatir dan teriakan-teriakanya yang memanggil dokter jaga. Ia juga masih bisa mengingat dengan baik saat dirinya di pindahkan ke ruang rawat sebelum akhirnya di beri suntikan penenang untuk kesekian kalinya agar tertidur. Ia berusaha untuk duduk dan rasa nyeri itu menyerangnya lagi meskipun tidak separah yang di rasakanya semalam, Dazai membantunya dengan teliti dan hati-hati.
"Kau masih disini?" Suara Atsushi terdengar sangat parau. Tenggorokanya terasa sangat kering dan Ia kehausan. "Bisa berikan aku air?"
Dengan tangkas Dazai mengambilkan segelas air dan membantu Atsushi untuk memegangi gelasnya saat gadis itu minum. Setelah itu ia meletakkan kembali gelas di atas meja dan meninggalkan kursinya untuk duduk di atas tempat tidur agar bisa lebih dekat dengan Atsushi. "Kau sudah baikan?"
Atsushi mengangguk. "Kau tidak pergi kepesta? Sahabatmu menikah hari ini!"
"Aku sudah sangat gila kalau aku meninggalkanmu disini untuk sebuah pesta." Desisnya. "Maafkan aku! Aku sama sekali tidak tau kalau rasa sakit yang kau katakan itu serius. Selama ini kebanyakan perempuan juga mengeluh.. .tapi...!"
"Tapi mereka tidak dalam keadaan di paksa!"
"Aku kira selama ini kau menikmatinya!"
"Sudahlah, Ini tidak di sengaja kan? Aku cuma tidak siap sama sekali tadi malam karena lelah dan mengantuk."
"Walau bagaimanapun aku yang salah!"
Atsushi tersenyum di sela-sela rasa sakitnya, ia menggapai tangan Dazai dan menggenggamnya erat. "Mendekatlah, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!"
Dazai mendekat menyediakan telinganya untuk di bisiki sesuatu, tapi ia malah mendapatkan sesuatu yang lain dan tidak terduga. Atsushi mencium bibirnya dengan hangat dan lembut, ciuman yang sudah sangat lama tidak pernah di rasakanya, ciuman yang hanya berisi perasaan bukan gairah. Ciuman yang cukup membuat Dazai terperangah saat Atsushi menyentuh pipinya lalu mengalihkan ciumanya menjadi sebuah rangkulan. Gadis itu menepuk punggungnya beberapa kali sebelum akhirnya di lepaskan dan kembali duduk dengan tenang di posisi semula.
"Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang menyatakan cinta padaku kan?" Tanya Dazai heran.
Atsushi tertawa. "Tentu saja tidak. Aku cuma ingin memberi tahu kalau perempuan bukan hanya butuh gairah, tapi juga perasaan. Jadi jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, bukan hanya padaku tapi juga pada wanita lain!"
Dazai masih terkesima dengan apa yang dirasakanya dan apa yang di dengarnya.
"Wanita bukan makhluk yang bisa mendapatkan gairah secara mendadak saat kau memperlakukanya dengan kasar, meskipun saat itu kau sedang menyentuh daerah sensitif di bagian manapun. Berjanjilah Jangan pernah begini lagi terhadapku tanpa izin dariku!" Atsushi kemudian tertawa getir. "Seharusnya aku memberikan pengertian tentang ini sejak awal. Selama ini aku salah karena sudah menyikapinya dengan kasar!"
Hening sejenak. Atsushi menundukkan wajahnya dalam sedangkan Dazai masih berusaha mencerna perkataan Atsushi baik-baik, semuanya ini sudah membuat fikiranya menjadi buntu.
"Aku berjanji!" Kata Dazai kemudian. "Aku berjanji tidak akan melakukanya tanpa seizinmu. Tapi aku tidak akan memutuskan pertunangan sampai aku bisa membawamu ke tempat tidur!"
Wajah Atsushi menengadah, sesaat pandanganya terpaku pada wajah Dazai yang nakal. Dia pikir umurnya sudah berapa? Dazai Osamu masih bersikap kekanak-kanakan seperti sedia kala. Kata-kata terakhirnya membuat Atsushi menahan tawa, dan semuanya perlahan mulai membaik.
[ Bersambung ]
