VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 18 ]
[Am I Love Him? Am I Not?]
Apa yang mulai di rasakanya? Belakangan Atsushi selalu menyikapi Dazai dengan penuh perasaan, mulai berharap agar Dazai tidak meninggalkanya, tidak membatalkan pertunangaanya. Semenjak pulang dari Tokyo, Dazai selalu mencemaskanya, ngotot mengantarkan Atsushi ke kantor dan memintanya berjanji untuk menunggunya menjemput. Kadang-kadang pada jam istirahat Dazai sengaja datang kekantornya dengan berbagai alasan dan alasan itu selalu menyangkut Akutagawa. Tapi hari ini Dazai tidak datang ke kantor, tidak juga mengantarnya tadi pagi. Atsushi sepertinya melupakan sesuatu. Dia yang pergi lebih pagi sebelum pintu Flat Dazai terbuka, sebelum jam-jam bangun tidur Dazai tiba. Atsushi melihat jam digital yang ada di pojok layar ponselnya. Bukan, itu ponsel Dazai dan ponsel miliknya masih berada di tangan laki-laki itu. Meskipun Dazai berjanji akan menukar ponselnya kembali setelah mereka sampai di Jepang, Dazai tidak melakukanya. Kepulangan mereka dari Tokyo juga sudah berlalu hampir dua minggu dan Dazai tidak pernah mengungkit untuk mengambil kembali ataupun mengembalikan ponsel miliknya.
Praktis karena sebuah ponsel, dunia Atsushi berubah. Tidak ada seorangpun yang menghubunginya kecuali Dazai dan hanya Dazai, Atsushi tidak pernah mau memberikan nomor ponsel Dazai kepada orang lain yang mulai menanyakan kenapa ia sulit di hubungi? Dia hanya menjawab sambil tersenyum lalu menyarankan untuk menelpon ke telpon kantor pada pagi hari sampai jam delapan malam karena pada jam segitu biasanya Atsushi masih ada di kantor. Bila tidak, mereka bisa menghubunginya di nomor yang lama karena bila ia sedang tidak berada di kantor Atsushi pasti sedang menghadiri persidaangan atau bersama dengan Dazai. Atsushi juga tidak pernah membiarkan Ibunya kebingungan karena menghubunginya, itulah sebabnya ia selalu menelpon Ibu pada saat berada di kantor sedikitnya dua hari sekali. Jadi meskipun Atsushi jauh dari ponsel dia tetap tau kalau dalam dua hari kedepan Ibunya akan pindah ke London dan tinggal bersama keluarga kakaknya di Ilchester. Sekarang sudah malam, seharusnya Dazai sudah datang menjemputnya. Tapi ini bukan yang pertama kali Dazai terlambat, Apakah Atsushi tetap akan menunggunya seperti biasa? Atsushi merasa kalau pilihan untuk menelpon Dazai lebih baik. Dia tidak akan kebingungan harus menunggu atau tidak karena mereka benar-benar tidak berkomunikasi hari ini.
"Ya, Sayang!" Dazai masih melakukan itu. Memanggilnya dengan sebutan sayang tanpa kenal waktu dan tempat. Tapi Atsushi tidak pernah protes sejak awal.
"Kau dimana? Kau akan menjemputku atau tidak? Kalau tidak bisa aku akan minta tolong Akutagawa untuk mengantarku pulang!"
"Jangan coba-coba melakukan itu! Aku sedang ada urusan tapi aku pasti akan menjemput meskipun agak terlambat. Jadi lebih baik cari hiburan saja sampai aku datang!"
"Urusan dengan siapa?"
"Chuuya. Teman!" Suara Dazai terdengar tidak yakin saat mengatakan kata teman. "Jangan pulang dulu. Tunggu sampai aku menjemput!"
Telpon di meja Atsushi berdering dengan bunyi yang sangat mengganggu. Ia sedang berusaha untuk tidak memperdulikanya dan tetap berbicara dengan Dazai "Baiklah, aku akan menunggu, Kalau kau tidak datang kau akan mati!"
"Kalau aku datang? Aku dapat hadiah kan?"
Bunyi dering telpon semakin intens. Sepertinya itu sebuah telpon yang sangat penting dan Atsushi tidak bisa untuk terus pura-pura tidak peduli, ia mengakhiri percakapanya dengan satu kalimat pendek. "Kita lihat nanti!" Atsushi lalu mematikan ponsel yang ada di tanganya dan memasukkanya kembali kedalam tas. Setelah itu tanganya berganti dengan telpon kantor yang sejak tadi terus berbunyi nyaring.
"Hallo, Nakajima Atsushi disini! Ada yang bisa saya-"
"Atsushi! Aku sudah menduga kau masih ada di kantor? Kau belum akan pulang kan? Aku ada sedikit masalah dan aku harus mengorbankanmu, aku sangat minta maaf." Naomi terdengar sangat terburu-buru, ucapanya yang memberondong dengan sangat cepat membuat Atsushi jadi merasa bingung.
"Kau ini sedang berbicara apa? Ceritakan pelan-pelan!"
"Baiklah," Naomi terdengar sedang menghela nafas. "Hari ini aku memiliki agenda di luar rencana. Tadi siang aku pergi bersama Dokter Mark dan rencananya kami pulang sebelum malam. Tapi kendaraan yang kami pakai sedang mogok, jadi aku tidak bisa pulang sekarang! Mungkin aku akan pulang terlambat!"
"Sudahlah, itu bukan masalah yang besar."
"Tapi kau tidak bawa kunci flat hari ini!"
"Iya, tidak masalah! Aku bisa menunggu di flat sebelah sampai kau pulang. Tapi berjanjilah kalau malam ini juga kau harus pulang! Jangan sampai aku menunggumu terlalu lama karena aku tidak suka merepotkan tetangga terlalu banyak."
"Oke, thanks!"
Atsushi menghirup udara yang masih berkeliaran di ruang kerjanya. Sesekali ia menggosok hidungnya yang gatal, flu yang menyerang sejak dua hari yang lalu sudah membuatnya tidak berselera makan sama sekali dan sekarang ia merasa sangat lemah. Atsushi sudah berencana untuk tidur setelah sampai di rumah, tapi sepertinya ia harus menunda hasrat yang satu itu sampai Naomi pulang. Musim dingin yang sudah menyerang membuat udara di luar sangat dingin dan perutnya semakin lapar. Atsushi mengambil kembali ponsel Dazai yang ada dalam tasnya dan mengirimkan pesan agar Dazai membelikannya makanan cepat saji dalam perjalanan menjemputnya disini.
"Kau belum pulang?" Akutagawa menyapanya dengan suara keras, kepalanya menyembul dari balik pintu dan memandang Atsushi dengan senyumnya. Tanpa di persilahkan Akutagawa masuk ke ruangan itu dan duduk di meja karyawan lain yang berada di sebelah meja Atsushi. "Semua orang sudah pulang!"
"Aku sedang menunggu Dazai. Dia bilang akan sedikit terlambat hari ini!"
"Kau tidak mau pulang bersamaku?"
"Kau ingin segera pulang? Kalau begitu pulanglah duluan!"
"Tidak. Lebih baik aku menunggu sampai Dazai menelpon kalau dirinya tidak bisa datang menjemput." Akutagawa kemudian memamerkan giginya lewat senyum yang mengembang jenaka. "Kita sudah cukup lama tidak pulang bersama. Kau selalu bersama Dazai. Apa hubungan kalian serius?"
"Kau ini sedang mengatakan apa? Aku tidak yakin dengan itu. Aku rasa kami dekat karena bertetangga."
"Tapi kalian dulu sangat bermusuhan!"
"Mungkin karena waktu itu aku tidak pernah mencoba untuk menjalin hubungan yang baik denganya. Kebersamaan di Jepang cukup bisa dikatakan sebagai moment yang memperbaiki komunikasi kami berdua!"
"Benarkah? Apa disana terjadi sesuatu?"
Apakah terjadi sesuatu? Tentu saja iya, tapi Atsushi tidak pernah menceritakan apa-apa kepada siapapun dan dia harap Dazai juga melakukan hal yang sama. "Tentu saja, sesuatu yang sangat parah seperti kelelahan misalnya! Perjalanan di sana cukup singkat dan ternyata aku tidak hanya di ajak mengunjungi satu tempat. Jet lag dan pesta pernikahan sudah membuatku kehilangan waktu tidur!"
"Jadi karena itu kau terlihat sangat tidak sehat pada minggu pertama kepulanganmu ke London?"
"Sepertinya begitu, aku kurang istirahat dan butuh istirahat yang cukup!"
"Tapi sepertinya istirahatmu belum begitu sempurna, nona!" Akutagawa menarik kakinya sehingga ia duduk bersila di atas meja. "Kau hanya terlihat membaik tidak lebih dari lima hari dan sekarang wajahmu bahkan lebih pucat di bandingkan dengan saat kau kembali dari Jepang!"
Atsushi hanya bisa menjawab dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia memandang jam di dinding. Sudah jam delapan malam dan Dazai belum juga datang. Tadi dia mengatakan kalau dia sedang ada urusan dengan seseorang. Chuuya. "Akutagawa, boleh aku bertanya sesuatu?"
Akutagawa mengangkat sebelah alisnya. "Asalkan kau tidak bertanya berapa banyak hutangku atau berapa berat badanku! Belakangan ini aku semakin gemuk dan aku tidak suka saat orang-orang menanyakan hal itu!"
"Tidak. Bukan itu. Apakah Kau kenal dengan Chuuya? Dia siapa? Seorang wanita, kan?"
Chuuya? Atsushi tau darimana? Akutagawa sempat mematung beberapa saat karena di dera rasa ragu akan memberi jawaban seperti apa. Tapi dia tidak seharusnya menutupi semuanya. Cepat atau lambat Atsushi pasti mengetahui segalanya. "Dia sekretaris Dazai!"
"Berarti wanita yang di restoran waktu itu!" desisnya. Atsushi tau kalau wanita yang bersama Dazai di restoran waktu itu adalah sekretarisnya, tapi ia tidak pernah mendengar namanya. Kelihatanya bukan sekretaris biasa karena saat itu Dazai menggenggam tanganya, bukan sekretaris biasa karena tidak mungkin Dazai mengajak seorang sekretaris makan malam bedua di restoran mahal. "Seperti apa hubungan mereka berdua!"
"Kau benar-benar ingin tau? Kau tidak takut?"
"Takut apa? Ceritakanlah karena sepertinya kita sudah kehabisan bahan pembicaraan. Anggap saja untuk mengisi waktu sampai jemputanku datang."
Akutagawa mengangkat bahunya, tidak yakin kalau dirinya dan Atsushi sudah benar-benar kehabisan bahan pembicaraan. Semenjak perjodohan Atsushi dan Dazai di laksanakan, hubungan Akutagawa dan Atsushi tidak sekaku biasanya. Dengan ragu Akutagawa menjawab pertanyaan Atsushi tadi, "Sama seperti yang lainnya!"
Atsushi mengerutkan keningnya tak mengerti. sama seperti yang lainya?
"Sama seperti semua makhluk sejenis yang berada di sekitarnya. Kecuali kau, karena Nakajima Atsushi memiliki ikatan dengan Dazai Osamu."
Atsushi menyentuh kembali cincin bermata ruby yang masih setia melekat di jarinya. Ya, dia berbeda karena hanya dia satu-satunya orang yang menggunakan cincin yang Dazai berikan, bukan karena ia memiliki hati Dazai seperti yang sedang dia harapkan.
"Kau menyukainya?" Akutagawa memandangnya dengan pandangan misterius. "Katakan padaku, apakah kau menyukai Dazai Osamu?"
"Apa yang sedang kau fikirkan!"
"Benar. Pertanyaan yang sangat pas untukmu. Apa yang sedang kau fikirkan?" Pandangan Akutagawa masih belum lepas dari Atsushi yang mulai kelihatan kikuk. "Kau masih tidak ingin cerita? Biasanya kau selalu menceritakan apa saja kepadaku!"
Atsushi berusaha meruntuhkan perasaan kikuknya, tidak ada salahnya mengatakan bagaimana perasaanya sekarang kepada Akutagawa. Mungkin Akutagawa punya pendapat yang baik tentang masalahnya, setidaknya Atsushi tidak perlu menyimpannya sendirian lagi. "Suka? Mungkin aku menyukainya karena belakangan ini kami bisa berkomunikasi dengan baik. Dia sedikit lebih sopan dan tidak pernah lagi menyentuhku, aku fikir hanya itu dan mudah-mudahan saja tidak lebih!"
"Dia pernah menyentuhmu?"
Atsushi menelan ludahnya. "Kau jangan berfikir yang aneh-aneh dulu. Maksudku, seperti., seperti apa ya?" Atsushi berusaha mencari contoh yang mungkin lebih bisa di terima oleh banyak orang karena dia masih ingin merahasiakan bentuk interaksinya dan Dazai yang tidak biasa. "Seperti saat dia menggendongku keluar dari sini waktu aku melihatnya di ruanganmu. Atau memegang tangan saat bersama Naomi. Seperti itu!"
"Tidak ada yang berlebihan kan?" Akutagawa memandangi Atsushi dengan serius dan mulai merasa lega saat gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Kau menyukainya karena dia tiba-tiba saja bersikap lebih baik. Itu wajar. Dia bersikap seperti itu juga karena semakin menyukaimu, begitu katanya."
"Dia mengatakan sesuatu tentangku padamu?"
"Dia mengatakan banyak hal kepadaku, meskipun tidak semuanya! Walau bagaimanapun aku adalah satu-satunya keluarga yang di milikinya di London. Dazai bilang, saat di Jepang dia melihat sisi lain dari dirimu. Kau tidak segalak yang selalu kau tunjukkan selama ini, tidak juga sekejam yang selalu kau tunjukkan. Seandainya kau bisa menjadi seperti yang di inginkannya mungkin dia akan mengikatmu selamanya disisinya. Perlu kau tau, pada awalnya Dazai mendekatimu hanya untuk bermain-main dan saat dia mengatakan akan mengikatmu selamanya aku nyaris percaya jika saja dia tidak tertawa sambil mengatakan kalau itu semua tidak mungkin terjadi, dan dia juga tidak pernah berharap sama sekali!"
"Menjadi seperti yang dia inginkan? Maksudnya apa?"
"Apa lagi yang menarik minatnya kepada wanita? Maaf kalau aku kurang sopan, tapi kau sendiri pasti sudah tau kalau Dazai sangat menyukai tubuhmu, kau selalu jadi perhatianya semenjak kemunculanmu yang pertama kali, saat aku mengatakan kalau aku mengenalmu, dia sangat antusias dan berharap bisa menggenggam Nakajima Atsushi erat-erat. Tapi sayangnya interaksi pertama kalian adalah saat kau menangani kasus artis yang punya hubungan sumbang denganya, waktu itu kau menamparnya untuk yang pertama kali didepan umum. Sadar atau tidak, kalian berdua selalu jadi sorotan media karena permusuhan yang menarik itu. Tapi semenjak kalian berbaikan, media jadi bungkam." Akutagawa tertawa, "Kenapa aku jadi membicarakan tentang media?"
Atsushi juga ikut tertawa meskipun tawanya palsu. Dia sangat tau kalau Dazai hanya ingin bermain-main dan Atsushi mengikuti semua permainanya dengan harapan Dazai Osamu akan melepaskanya suatu saat nanti setelah dia lelah. Tapi sepertinya sekarang Atsushi tidak menginginkanya, melepaskan Dazai seperti melepaskan nyawanya karena saat bersama Dazai dirinya merasa lebih bernyawa.
"Kapan kalian akan mengakhirinya?"
"Aku sedang menunggunya melakukan itu!"
"Biasanya kau selalu bisa membuat semua laki-laki yang di jodohkan denganmu menolak perjodohanya, tapi sepertinya kau tidak melakukan apa-apa kepada Dazai. Apa karena kau mengharapkanya? Keputusan mengenai kalian berpisah atau tetap bersama sebenarnya ada di tanganmu sendiri!"
Akutagawa benar. Selama ini Atsushi tidak benar-benar menjauhkan diri dari Dazai, tidak benar-benar memerangi Dazai agar laki-laki itu menjauh darinya, dia selalu mencari-cari alasan yang selalu mendekatkan dirinya kepada Dazai. Apa yang terjadi padanya? Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Atsushi pernah mengagumi Dazai sebagaimana wanita lain mengaguminya. Lalu mengapa pada akhirnya dia membenci Dazai Osamu? Mungkin karena Dazai selalu bersama wanita lain. Apakah dia memiliki perasaan khusus kepada Dazai? Lalu mengapa Atsushi selalu mengatakan dengan bangga kepada perempuan-perempuan yang selalu mengitari laki-laki itu kalau dia adalah tunangannya?
"Akutagawa, bisakah kau mengantarkan aku pulang sekarang?" tanya Atsushi, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Atsushi harus memastikan semuanya malam ini juga, apakah dia dan Dazai harus melanjutkan pertunangan mereka atau tidak. Ia mengetik sebuah pesan kepada Dazai sambil berjalan keluar gedung kantornya bersama Akutagawa.
'Bisakah kau pulang lebih cepat? Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi karena kantor sudah harus di kunci. Aku pulang duluan!' (Delivered: Venus xxxx)
[ Bersambung ]
a/n: Huft… Chapter depan sudah kelihatan menye-menyenya xD
Terima kasih buat yang sudah baca sekaligus review. See you di chapter berikutnya :*
