VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 19 ]

[Is this Passion or Love?]

"Kau sedang ada janji? Sejak tadi kau melihat jam tanganmu terus menerus!" Chuuya kelihatan gusar dengan perilaku Dazai hari ini, sejak tadi dengan susah payah ia menahan Dazai untuk terus bersamanya. Chuuya ingin bercerita tentang kekecewaanya terhadap suami, sesuatu hal yang sangat sulit di terima oleh pasangan yang baru sebulan menikah. Suaminya sangat sibuk dan tidak punya waktu, bahkan untuk sekedar bulan madu meskipun hanya seminggu. Karena itu ia mencari Dazai, berharap Dazai mau menemaninya. Tapi kenyataan yang di terimanya, Dazai menolaknya mentah-mentah dengan alasan sedang tidak bergairah. Dazai malah menyarankan Chuuya untuk menghibur diri dengan makan makanan yang manis seperti cake, hal yang menjadi penyebab mereka berdua ada di sini sekarang. Di sebuah café yang sebenarnya cukup jauh dari kantor, Chuuya tidak mengerti kenapa Dazai memilih tempat ini dan tidak bersedia di ajak pindah ke café yang lain.

Dazai kembali menutupi jam tangan dengan lengan kemejanya lalu memandang keluar, di luar sedang hujan dan sangat lebat. Hujan di musim dingin seperti ini bisa membuat flu yang Atsushi derita semakin parah, udara sedang tidak bersahabat. "Sebenarnya, aku ada janji dengan teman. Dia sedang menungguku di flat. Bisa kita pulang sekarang?"

"Kalau begitu bawa aku ke flatmu, setelah urusan dengan temanmu selesai kita bisa..."

"Tidak, aku takut tidak akan bisa." Dazai memotong perkataan Chuuya. Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa karena Dazai tidak pernah berhasil menghabiskan malam bersama satu wanitapun di flatnya. Lagipula, bukankah Chuuya sudah tau kalau Dazai sedang tidak bergairah? Dazai sangat merindukan hubungan yang seperti itu setidaknya selama hampir sebulan terakhir, tapi Chuuya tidak cukup menarik perhatianya lagi seperti dulu.

"Kenapa? Kau sudah membuatku kecewa seharian ini."

"Kau tidak akan suka dengan flatku yang baru. Sebaiknya pulanglah, jangan sampai kau tidak ada saat suamimu ada di rumah!" Dazai memakai jasnya yang tadi tersampir di kursi dan segera berdiri dari duduknya. "Bisa kita pergi sekarang?"

"Baiklah!" Chuuya mendesah.

Dazai tau Chuuya mungkin sangat kecewa denganya hari ini. Tapi Chuuya seharusnya tau kalau Dazai bukanlah orang yang suka bersandiwara dengan perasaanya, seharusnya dia sudah pergi meninggalkan Dazai sejak tadi, tapi Chuuya malah lebih memilih untuk pura-pura tidak tau dengan perasaan Dazai kepadanya. Meskipun begitu, Dazai bukanlah tipe orang yang menolak membantu orang yang sedang membutuhkanya. Karena itulah sampai detik ini dia masih bisa bertahan menemani wanita itu. Seandainya Atsushi tidak mengirimkan pesan, mungkin dia tidak akan pergi juga dari tempat itu. Dazai keluar dari café setelah membayar semuanya dan harus sangat terkejut saat melihat Nakajima Atsushi berdiri di depan etalase yang memperlihatkan kue-kue dengan pakaian yang basah kuyup, dia sedang berteduh? Atsushi mendekatinya pelan-pelan dengan tubuh yang gemetaran.

"Aku menunggumu, tadi aku melihat mobilmu disini tanpa sengaja, jadi aku minta Akutagawa menurunkanku disini." Atsushi merangkul tubuhnya sendiri, erat.

"Kenapa tidak masuk?"

"Takut mengganggu urusanmu. Tidak masalah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir!"

Dazai memandang Atsushi terkesima, dia masih mengusahakan senyum sedangkan bibirnya sudah hampir membiru. Spontan Dazai membuka Jasnya dan menyelimuti Atsushi, berharap dinginanya bisa sedikit berkurang.

"Dia?" Chuuya bergumam pelan, sepertinya sangat terejut dengan keberadaan Atsushi dan perhatian Dazai kepadanya. Setahu Chuuya, Dazai dan Atsushi adalah dua orang yang akan saling membuang muka bila berpapasan. Sekarang Atsushi menunggu Dazai seperti orang bodoh di depan café dalam keadaan basah kuyup? "Dia Nakajima Atsushi kan?"

Atsushi berusaha membungkukkan wajahnya dengan hormat. Meskipun dia sedang tidak menyukai keberadaan Chuuya di dekat Dazai, Atsushi tidak bisa bertindak buruk kepadanya seperti yang selalu di lakukannya kepada wanita-wanita lain sebelumnya, Atsushi sedang berusaha untuk lebih menghormati privasi Dazai. "Iya, Aku Nakajima Atsushi. Maaf kalau selama ini pertemuan kita sudah meninggalkaan kesan yang tidak baik!"

Dazai berdehem, berharap Chuuya tidak melakukan hal-hal yang mungkin menyakiti Atsushi. Untuk mengindari hal tersebut ia segera menyela pembicaraan antara kedua wanita itu. "Chuuya, Aku mohon maaf sekali, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi aku akan mencarikan Taksi untukmu!"

Baik Atsushi maupun Chuuya lalu tidak bicara apa-apa lagi. Dazai Osamu menembus hujan untuk mencegat taksi di pinggir jalan. Beberapa taksi yang lewat menolak untuk berhenti hingga akhirnya, ada sebuah taksi yang bersedia berhenti untuknya. Atsushi merasa sedih saat Dazai melakukan hal itu, Dazai rela seperti itu karena Chuuya? Dia sangat cemburu dan memutuskan menyembunyikan perasaanya mungkin lebih baik. Atsushi akan melupakan niatnya yang semula, ia tidak ingin memperjelas apa-apa. Sedangkan Chuuya, entah mengapa ia merasa bahwa Dazai sangat ingin agar dirinya segera menjauh. Ada urusan yang seperti apa dengan Nakajima Atsushi? Yang bisa di lakukanya, hanya menyimak semua yang terjadi dengan penuh tanda tanya, sampai akhirnya laki-laki itu mendekat setelah meminta Taksi menunggu.

"Taksimu sudah datang, kau cukup berjalan cepat kesana karena pintunya sudah ku buka. Jadi kau tidak akan basah kuyup sepertiku!"

"Terima kasih," ujar Chuuya sambil menepuk bahu Dazai. "Kalau kau membutuhkanku suatu saat nanti, katakan saja! Sekarang aku pulang dulu!" Chuuya memberikan senyumanya yang terakhir lalu mendekati Atsushi dan membelai wajahnya yang dingin. Setelah itu Chuuya berlari kecil menuju taksi yang menunggunya dan pergi setelah melambaikan tangan sebelumnya.

Kepergian Chuuya membuat Dazai lega, ia kembali memandang Atsushi dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti. "Kau mau makan kue? Tadi kau memintaku membelikan makanan untukmu."

"Tidak usah, aku ingin segera pulang!"

"Tidak apa-apa. Flu pasti membuat mulutmu terasa pahit. Sebentar aku belikan dulu, kita makan di rumah saja!"

Dazai langsung memasuki toko kembali begitu dia selesai mengatakan kata-kata itu sehingga Atsushi tidak bisa berbuat apa-apa. Yang di ketahuinya, Dazai keluar dalam waktu beberapa menit kemudian dengan membawa sebuah kotak di bungkus rapat dengan kantong plastik berwarna merah muda. Keduanya lalu berjalan santai menuju parkiran di bawah hujan, kemudian pulang kerumah dengan mobil setelah Dazai menyempatkan diri untuk mampir di apotik dan membeli beberapa jenis obat. Atsushi harus menjelaskan dengan susah payah tentang Naomi yang tidak ada di rumah karena rasa dingin membuatnya benar-benar tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik. Untungnya Dazai mengerti dengan penjelasanya dan mempersilahkan Atsushi masuk ke Flatnya untuk menunggu. Dia tidak akan tega membiarkan Atsushi menunggu di luar dengan pakaian basah dan udara dingin seperti sekarang.

Meskipun sudah berada di dalam flat, udara dingin masih menusuk walau tidak separah di luar sana. Bunyi hujan juga tidak begitu terdengar, Mereka beruntung tidak tinggal di lantai teratas karena penghuni flat yang paling atas pasti sedang terganggu dengan bunyi hujan yang menimpa atap rumahnya. Dazai memasuki kamarnya dan mengganti pakaianya yang basah, ia juga mencari-cari pakaian yang cocok untuk Atsushi, tapi ia menyerah. Di saat seperti ini Dazai sama sekali tidak bisa mencegah gairahnya untuk bangkit, tidak ada pakaian yang pantas untuk Atsushi karena benaknya berfikir begitu. Dazai tidak ingin Atsushi berpakaian, ia ingin gadis itu berbaring telanjang di atas tempat tidurnya, membayangkan Atsushi menggodanya dan kemudian…

Berhentilah Dazai! Kau tidak boleh melakukan apa-apa malam ini! Bentaknya keras meskipun hanya dalam hati. Dazai keluar dari kamarnya dan melihat Atsushi masih berdiri di dekat pintu yang tertutup rapat. Dia tidak beranjak dari sana sejak masuk tadi.

"Kenapa kau masih disitu? Kenapa tidak duduk disini?" Dazai menunjuk sofa yang ada di ruangan itu. Sekotak kue sudah siap menanti tapi pemiliknya malah terpaku kedinginan sejak tadi.

"Nanti sofamu bisa basah!"

"Ayolah! Kalau kau bersikap begitu maka dirimu tidak akan pernah beranjak dari sana sampai besok pagi!"

"Dazai, Kau punya ember plastik? Bisa bawakan kemari! Kalau boleh aku mau pinjam handukmu juga. Aku harus membuka pakaianku karena besok aku masih harus bekerja. Aku tidak boleh sakit dulu sekarang!"

Dazai menelan ludah dalam. Atsushi ingin membuka pakaianya di tempat itu? Fantasinya mulai melayang lagi. Hasrat yang tidak bisa muncul saat bersama Chuuya mendadak timbul tanpa di minta. Dazai tidak ingin berkomentar banyak, ia pergi ke dapur dan kembali membawa sebuah ember plastik berwarna biru langit lalu meletakkanya di hadapan Atsushi. Sebuah handuk juga sudah tersampir di bahunya. "Kau yakin akan membukanya disini?"

"Apa boleh buat. Aku tidak bisa begini terus sampai Naomi pulang."

Dazai masih memaksa dirinya untuk berhenti bertindak bodoh. Mungkin dirinya akan membiarkan Atsushi mengganti pakaianya dengan handuk dan dia akan mengunci diri di kamar. Dengan begitu, baik dirinya maupun Atsushi bisa lebih aman. Dazai mengambil handuk di bahunya dan memberikanya kepada Atsushi. Tapi gadis itu kewalahan harus meletakkanya dimana karena membuka pakaianya yang berlapis-lapis itu mungkin akan merepotkanya, lantai di sekitar tempatnya berdiri sudah basah di genangi air dan Atsushi tidak mungkin meletakkanya disana.

"Kau bisa membantuku?" Tanya Atsushi, gadis itu kemudian memberikan tas dan handuk di tanganya kepada Dazai. "Bisa letakkan tasku di atas sofa?"

"Baiklah!" Dazai mengambil Tas milik Atsushi dan meletakkanya di atas sofa. Handuk yang Atsushi berikan kembali di sampirkanya ke bahu dan iapun membalikkan tubuhnya. "Kau bisa membuka pakaianmu dalam keadaan seperti ini kan? Aku berjanji tidak akan melihat apa-apa. Aku tidak akan memutar kepalaku sama sekali. Kalau kau sudah selesai, kau bisa ambil handuknya di bahuku. Aku cuma mempermudahmu, sungguh bukan untuk bermaksud apa-apa!"

"Iya, aku tau!" Atsushi berusaha menekankan suaranya dengan sedikit bertenaga. Perlahan, Atsushi membuka jas yang Dazai berikan tadi, lalu mantelnya dan kemudian kemejanya. Atsushi tau kalau Dazai memperhatikanya dari cermin, menantinya membuka Camisole sutranya, kemudian bra dan yang lain sampai ia benar-benar polos. Tapi Atsushi tidak bisa bersikap setenang sebelumnya, ia mengangkat Camisolenya perlahan, lebih pelan daripada hembusan nafasnya, kadang-kadang ia berhenti dan ragu, haruskah ia melakukan hal ini? Atsushi menatap cermin sekali lagi, Dazai sudah memejamkan matanya. Membuatnya lebih tenang dan bisa melanjutkan kegiatanya.

Handuk yang tersampir di bahu Dazai di tarik pelan-pelan. Dazai bisa merasakanya meskipun ia masih memejamkan mata. Semakin sedikit handuk yang bergeser di badanya, semakin lemah pertahanan Dazai terhadap semua ini. Atsushi seperti apa sekarang? Dia pasti sangat menggairahkan tanpa pakaian membungkus tubuhnya. Dazai menahan nafas saat handuk benar-benar berpisah dari tubuhnya. Atsushi sudah membungkus tubuhnya sekarang dan Dazai lebih baik menghentikan pikiran-pikiran gilanya. Dia tidak mungkin memaksa Atsushi kan? Bagaimana jika Atsushi tidak siap? Dia bisa saja sedang sangat stress. Bukankah tadi Atsushi bilang dirinya tidak boleh sakit karena besok masih harus bekerja, itu berarti sangat banyak pekerjaan yang bisa membuatnya mengalami stress. Dazai tidak akan membiarkan dirinya melukai Atsushi seperti yang pernah di lakukanya.

"Kau sudah selesai?" Dazai bergumam parau, entah mengapa suaranya tiba-tiba tercekat.

"Iya!"

Mendengar jawaban singkat dan pelan itu, Dazai langsung membalikkan tubuhnya, ia berusaha menundukkan pandanganya agar tidak melihat Atsushi yang mungkin bisa membuat fikiran warasnya yang masih tersisa lenyap begitu saja. Ia membungkuk mengambil ember yang sudah penuh dengan pakaian gadis itu. Atsushi benar-benar sudah menanggalkan pakainya, semuanya. Melihat tumpukan pakaian basah yang sangat lengkap membuat Dazai merasa semakin lapar. Ia kembali membelakangi Atsushi sambil memejamkan mata.

"Kau mau membawanya kemana?" suara Atsushi terdengar cemas.

Dazai membuka matanya. Tapi dia tidak akan menoleh. Tidak boleh menoleh. "Aku mau mencucinya di belakang!"

"Tidak perlu, kurasa biar aku saja yang melakukanya!"

"Aku tau kau lelah. Kau mandi saja pakai air hangat, biar aku melakukanya!"

"Tapi aku mana boleh membiarkan laki-laki menyentuh pakaian dalam."

"Kau tidak usah khawatir karena aku mengenakan mesin cuci!" Dazai segera memotong perkataan Atsushi. Pembicaraan ini hanya akan memperpanjang waktunya untuk berfikir mengenai semua hal yang ajaib. "Ini bukan pertama kalinya aku menyentuh pakaian dalam wanita. Biasanya aku membukanya sendiri dari tubuh pemiliknya! Sekarang kau mandi saja, setelah itu kekamarku, cari pakaian yang sesuai. Jangan pakai T-shirt, pakailah kemeja yang tebal dan hangat karena pemanas ruangan sepertinya sedang rusak." Dazai kemudian berjalan kedapur tanpa menoleh. Dia melarang Atsushi menggunakan T-shirt untuk kebaikanya. T-shirt bisa membuat lekuk tubuhnya tergambar jelas apa lagi Atsushi tidak menggunakan pakaian dalam, udara yang dingin ini bisa saja membuat puting payudaranya mengeras dan itu bisa…

Astaga, Dazai! Hentikan!

[ Bersambung ]