VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 20 ]
[Give Up, Please!]
Atsushi sudah duduk di atas sofa, kemeja lengan panjang berwarna putih dengan garis-garis vertikal berwarna merah hati membungkus tubuhnya, itu saja belum cukup karena Atsushi masih membungkus tubuhnya dengan selimut tipis yang di temukanya dalam lemari pakaian Dazai. Laki-laki itu sedang menyiapkan kue yang tadi dibelinya di dapur. Lalu wajah cerianya segera hadir kembali dengan nampan berisi cheesecake ukuran besar dan segelas air putih. Setelah meletakkanya di atas meja, Dazai duduk di sebelah gadis itu karena hanya itu satu-satunya tempat yang kering.
"Makanlah, setelah itu minum obat!" Katanya.
Cheesecake bukan kue favorit Atsushi tapi dia tau kalau Dazai sangat menyukainya. Dazai pernah mengatakan kalau dia sangat menyukai keju dan apapun yang mengandung keju adalah makanan favoritnya. Bunyi sendok beradu dengan piring keramik terdengar cukup nyaring. Atsushi menyendok kuenya dalam ukuran besar dan menyodorkanya kepada Dazai.
"Makanlah!"
"Kau saja yang makan, aku sudah makan bersama Chuuya tadi!"
"Satu suapan saja, ini kue kesukaanmu kan? Aku ingin kau mencicipinya sebelum aku!"
"Kenapa? Aku bersumpah tidak meletakkan apa-apa di dalamnya!"
Atsushi tertawa pelan. "Kau berniat melakukan hal yang seperti itu? Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya rasa terima kasih untuk semua ini!"
Dazai memandang Atsushi sesaat lalu beralih ke potongan cheesecake yang ada di dalam sendok. Tangan Atsushi gemetar, mungkin karena dia sedang sakit dan tidak sanggup menahan tanganya dalam posisi seperti itu lama-lama. Dengan perasaan tak menentu Dazai menerima suapan Atsushi dan mengunyah kuenya dengan baik. Ia harus menahan degupan jantungnya saat melihat gadis itu memakan kuenya lahap dengan menggunakan sendok yang sama. Atsushi tidak merasa jijik? Dazai tertawa dalam hati menyadari betapa konyol pertanyaanya. Kenapa harus jijik? Bukankah mereka berdua pernah flirting di ruangan yang sama?
Dalam waktu singkat Atsushi sudah menyelesaikan semuanya. Gadis itu kemudian menghabiskan waktunya dengan termangu menghitung waktu. Sudah hampir tengah malam, Naomi belum kembali. Ia mengambil ponsel Dazai yang ada di tasnya lalu berusaha menelpon Naomi. Tapi tidak bisa tersambung meskipun ia sudah melakukanya berkali-kali, cuaca yang buruk mungkin sudah mengganggu sinyal telpon.
"Kau tidur disini saja!" Dazai bergumam pelan. Tapi Atsushi mendengarnya dan menoleh kearahnya. "Naomi mungkin juga sedang terjebak hujan di suatu tempat."
Atsushi menyodorkan ponselnya kepada Dazai. "Kapan ponselku akan di kembalikan? Ini milikmu!"
"Kau simpan saja. Aku tidak mau menukarnya kembali!"
"Kalau begitu tukar nomornya saja!"
Dazai menggeleng keras. "Tidak mau! Aku sudah cukup tenang karena nomor baru yang tidak di ketahui banyak orang."
"Kau curang! Kau pasti sudah memberikan nomorku kepada teman-temanmu kan? Atau kau punya ponsel lain? Di ponselmu tidak ada seorangpun yangku kenal selain Akutagawa. Ponselku cuma akan bordering kalau itu adalah pesan darimu!"
"Di ponselmu juga tidak ada yang ku kenal selain Akutagawa!" Dazai membalas. "Bahkan nomor Naomi juga tidak ada, nomor keluargamu juga tidak ada. Semuanya klien. Jadi impas kan?"
Atsushi menghela nafas. Ia tidak pernah menyimpan nomor yang sudah di hafalnya. Lagi pula ia membeli ponsel hanya untuk menunjang pekerjaanya. "Sekarang aku mau tidur! Kau kembalilah ke kamarmu!"
Dazai mematung, jadi Atsushi akan tidur disini malam ini? Tadinya Dazai mengira Atsushi menolak idenya, makanya gadis itu mengalihkan pembicaraan. Dazai merasa gembira tapi hasratnya juga semakin besar, Dazai tau dia akan kesulitan menahan gairahnya. "Biar aku yang tidur disini. Kau kekamar saja, tidur di sofa bisa membuat punggungmu sakit!"
"Tapi disini bisa membuatmu membeku!"
"Di dalam juga akan sama saja! Jadi pergilah ke kamar dan kunci pintu rapat-rapat!"
Atsushi menggosok-gosokkan kedua telapak tanganya. "Bagaimana bisa pemanas ruanganmu rusak? Kalau hal seperti ini terjadi bagaimana? Apakah tidak pernah terfikir olehmu?"
"Aku tidak butuh pemanas, selama ini bagiku tubuh wanita cukup panas dan di musim dingin aku selalu di temani wanita setiap malam!"
Atsushi mendengus sinis. Mulutnya tidak mengatakan apa-apa lagi dalam waktu yang lama, lalu gadis itu berdiri dan memandang Dazai tajam. "Kalau kau mau kita bisa berbagi kehangatan tubuh!"
Dazai terkesiap, Atsushi sedang menawarkan dirinya. "Apa?"
"Kenapa ekspresimu begitu? Aku tidak mungkin membiarkan tuan rumah mati beku di kandangnya sendiri. Dan aku juga cukup egois untuk tidak membiarkan diriku mengalami hal itu. Jadi, kenapa kita tidak tidur di ranjang yang sama. Aku mengatakan tidur disini secara harfiah, jadi kau jangan berfikir yang macam-macam!"
Dazai kecewa. "Kau duluan saja, Nanti kalau aku sudah sangat kedinginan aku akan masuk ke kamar!" Ia berkata seolah-olah sedang sangat tidak perduli dan membaringkan tubuhnya di sofa dibungkus selimut yang tadinya membungkus Atsushi. Gadis itu sudah masuk kekamar dan berbaring disana, sedangkan Dazai berusaha memejamkan matanya dengan susah payah, Gairahnya semakin mendesak karena Atsushi mengatakan tentang berbagi kehangatan tubuh. Tapi ternyata maksud Atsushi dan Dazai tentang kehangatan tubuh sama sekali berbeda. Mungkin Dazai akan bertahan begini sampai besok pagi, dia berusaha menahan gairahnya yang terus mendorong kuat sampai ia merasakan sakit. Memejamkan mata dan pura-pura tidur adalah sebuah hal yang paling miris yang pernah Dazai rasakan seumur hidupnya, ini bahkan lebih menyedihkan bila di bandingkan dengan saat Chuuya mengatakan kalau dirinya akan segera menikah pada hari yang sama dengan hari dimana Dazai akan melamarnya. Dazai membuka matanya, baru berlalu dua menit lebih dan sepertinya ia sudah tidak bisa bertahan. Rasa dingin yang menusuk-nusuk juga telah meruntuhkan pertahanannya. Terserah apa yang terjadi, Dazai tidak akan menahan diri lagi.
Atsushi meringkuk semakin dalam, bukan hanya karena udara dingin yang menyerang, tapi karena kedatangan Dazai yang sejujurnya sangat di harapkan. Hanya untuk berada di dekatnya dalam waktu lama, tidak lebih. Tapi mendengarkan bunyi pintu di kunci dan melihat Dazai membuka pakaianya Atsushi tau sesuatu yang lain mungkin akan terjadi, bukan hanya berdekatan lebih lama seperti yang di inginkanya. Berpura-pura tidak tau dengan apa yang sedang Dazai lakukan entah mengapa menjadi pilihannya, padahal Atsushi tau dirinya masih punya pilihan lain. Atsushi menarik selimutnya lebih tinggi, memejamkan mata dan membelakangi Dazai tetap tidak akan bisa menghentikan debaran jantungnya begitu saja.
"Venus, Kau tidak melupakan undanganmu kan? Boleh aku berbaring di dekatmu?" Suara Dazai terdengar sangat pelan. Dia tengah menahan diri untuk tidak merayu dan hal itu sepertinya akan segera membunuhnya.
Atsushi bergerak ke sisi lain tempat tidur dan memberi ruang kepada Dazai untuk berbaring disana. Dazai tersenyum tipis, ini sebuah pertanda baik.
"Bisakah kita berbagi selimut?"
Atsushi mengulurkan selimutnya dan menyisakan cukup banyak untuk dirinya sendiri. Selimut yang Dazai miliki tidak begitu besar, cukup untuk berdua tapi harus membuat mereka berdekatan. "Tapi jangan coba-coba menyentuhku!" Atsushi masih berusaha mempertahankan nada galak dalam setiap kata-katanya meskipun Dazai tidak membalas kata-katanya barusan. Atsushi hanya bisa merasakan kalau ranjang menampung gerakan lain yang tidak berasal dari tubuhnya dan selimut bergerak menggesek kulitnya. Dazai dan dirinya sudah berada dalam selimut yang sama.
"Aku masih merasa dingin, Bolehkah aku merapatkan tubuhku kepadamu?"
Kali ini Atsushi menoleh kebelakang memandang Dazai yang sudah begitu dekat denganya. Sesegera miungkin ia kembali membuang wajahnya dan merapatkan selimut menutupi leher. Bulu kuduknya meremang tapi Atsushi berusaha untuk menunjukkan kekesalanya. Kalau kedinginan kenapa tadi membuka baju? Desisnya pelan.
"Karena aku selalu tidur seperti ini. Apa kau tidak pernah tidur tanpa pakaian, percayalah kau harus mencobanya agar bisa merasa lebih rileks! Aku rasa itu yang menyebabkan dirimu selalu kelihatan kaku karena hidupmu selalu berisi hal-hal yang sama dan kau tidak pernah berusaha keluar dari rutinitas anehmu itu!"
"Aku tidak butuh komentar tentang hidupku, dari orang sepertimu!" Atsushi tidak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya. Sudah lama sekali dirinya tidak berbicara dengan nada sesinis itu pada Dazai. Tapi kata-kata itu berhasil membuat Dazai menghentikan usahanya untuk sementara sampai akhirnya kaki-kaki mereka saling bersentuhan. Atsushi berusaha menjauhkan dirinya dan Dazai mengikutinya. Atsushi harus menelan ludahnya untuk kesekian kali saat tubuhnya di rangkul erat memberikan kehangatan yang menenangkan. Ia terlena beberapa saat dan tersadar saat Dazai membuka kancing kemeja yang di kenakanya. Atsushi tau dia tidak bisa melawan, sebelah tangan Dazai yang lain sudah mengambil alih tubuhnya secara mutlak. "Hentikan Dazai, Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang seperti ini tanpa izin. Dan kau belum mendapat izin dariku!"
Dazai menempelkan dagunya ke bahu Atsushi yang sudah terbuka sebagian. Gerakan tangannya berhenti, masih ada beberapa butir kancing lagi yang harus di urus. "Kau yang mengundangku, sayang!"
"Aku tidak mengundangmu untuk membuka pakaianku!"
"Pakaianmu? Kau sudah membukanya sendiri tadi, sekarang aku sedang membuka pakaianku sendiri!" Dazai meniup leher Atsushi dan gadis itu menggeliat. Bagian terpenting dari permainan ini sudah mengeras menusuk pinggul Atsushi, gadis itu bergerak berusaha menjauhkan pinggulnya dari godaan. Tapi hal itu tidak akan membuatnya berhenti bergerak karena Atsushi kelihatannya tidak memberikan perlawanan yang signifikan selain menggeliat setiap kali Dazai menyentuh tubuhnya. Sesekali terdengar desahan pelan yang menandakan kalau dia sudah mulai menikmati permainan liar ini. Dazai menggerakkan tanganya semakin kebawah, ia melupakan beberapa kancing yang masih harus di urus, dia melupakan simpatinya kepada Atsushi selama dua minggu terakhir, melupakan kalau Atsushi sedang dalam keadaan tidak sehat dan masih butuh istirahat ekstra. Bagian paling sensitif yang seharusnya menjadi puncak permainan ini sudah sangat basah, Atsushi sudah merasakan gairah meluap-luap di atas kepalanya.
Sepuluh menit menjelang tengah malam, semua kenikmatan seakan-akan terganggu, suara Naomi mengetuk-ngetuk pintu sudah berhasil membuat Atsushi sadar dan memberontak. "Sudah Cukup!" Gadis itu melemparkan selimutnya dan bergerak turun dari tempat tidur. Tapi Dazai berhasil menyelipkan kedua tangan di pinggangnyanya dan mengembalikan Atsushi ke atas ranjang dengan posisi yang tersudut. Dazai memegangi kedua tanganya kuat, dadanya menghimpit Payudara Atsushi menahan gadis itu untuk tetap berada disana. Gadis itu mengeluh dan meminta Dazai menjauh, Dazai tidak akan bisa melakukanya.
"Aku tidak bisa melakukanya. Kau pasti tau kalau aku sangat kesakitan menahan semua ini, Apakah kau ingin terus menyiksaku? Sampai kapan begini? Sejak bertemu denganmu di perjodohan waktu itu, aku tidak pernah berhasil untuk tidur dengan wanita lain karena kau selalu mengganggu, sekarang sudah hampir dua bulan, Bisa kau banyangkan betapa laparnya aku sekarang?"
"Tapi Naomi sudah pulang!"
"Lupakan Naomi sebentar! Aku tidak akan membiarkan apapun mengganggu kali ini!" Dazai merasakan sesuatu yang berbeda, dia sedang menginginkan Atsushi dengan seluruh jiwa raga tanpa disadarinya. Wanita itu bernafas dalam tempo yang semakin menggebu-gebu.
"Ini tidak akan berhasil!"
"Jelas tidak akan berhasil sampai aku terlelap di atas tubuhmu!"
"Dazai, tolonglah! Jangan memperlakukanku dengan cara ini. Aku tidak pernah melakukanya!"
"Aku tau!" Suara Dazai terdengar sedikit lebih intens. Begitu sadar kalau dirinya sudah lepas kendali, ia berusaha memelankan suaranya kembali. "Aku tau, aku bisa merasakanya saat aku menyentuhmu di kamar mandi sewaktu di Tokyo. Aku bersumpah, Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya kepada seorang wanita yang tidak berpengalaman. Aku berusaha melupakan hasratku semenjak itu, tapi malam ini aku tidak bisa! Kau sudah menyebabkanku melakukan hal yang paling tidak aku sukai selama dua minggu terakhir."
Atsushi memandang wajah Dazai dalam. Hal apa?
"Masturbasi!" Dazai menjawab seolah-olah fikiranya dan fikiran Atsushi menyatu. Tapi itu khayalan belaka. Dazai tidak tau apa yang sedang Atsushi lakukan sekarang. "Aku tidak sanggup lagi!"
"Kau sangat menginginkan aku? Karena apa? Karena tubuhku?"
Dazai tidak menjawab karena Atsushi sudah membuat jawaban menjadi pertanyaan. Ia kembali berusaha mencumbu bibir Atsushi dengan liar, lidahnya bergerak dengan sangat erotis dan Dazai sadar Atsushi juga sedang melakukan hal yang sama. Semuanya semakin intens saat Atsushi merasakan belaian, remasan, cubitan yang di lakukan Dazai pada payudaranya. Saat Dazai menekan bagian terdalam di pangkal pahanya dengan cara yang sama seperti yang pernah Dazai lakukan di Tokyo, sebuah lenguhan parau menggema di kedalaman ciumanya. Atsushi mendorong tubuh Dazai menjauh dan kali ini Dazai kelihatan benar-benar kecewa.
"Baiklah!"
Dazai mengerjapkan matanya. Atsushi mengatakan sesuatu "Apa?"
"Baiklah, lakukan sekarang juga sebelum aku berubah fikiran!"
Dazai nyaris bersorak senang dan Atsushi hanya tersenyum. Kali ini Dazai melakukan semuanya tanpa ragu sehingga Atsushi merasa luluh dan hancur. Sejenak Tubuh Atsushi berubah jadi kaku, saat penetrasi pertama. Dazai menghentikan gerakannya saat melihat airmata mengalir lepas di wajah Atsushi, gadis itu meringis dan untuk pertama kali dalam hidupnya Dazai merasa ketakutan saat berada diatas ranjang. Tapi Atsushi segera menghapus airmatanya sendiri, kedua kakinya membantu Dazai menekan pinggulnya untuk melarung ketakutan. Semuanya kembali membaik saat Atsushi menyebut namanya dengan mesra dan mengatakan kalau dia sudah bisa menikmatinya. Segala ketakutannya sirna dan mereka terus berpacu dalam gerakan-gerakan yang erotis. Nakajima Atsushi cukup banyak menuntut di pengalaman pertamanya, semua yang seharusnya di lakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Tapi sedikitpun Dazai tidak menolak untuk melakukan semuanya. Dia juga sangat menyukai hal itu, terlalu.
Tiga kali klimaks bukan sesuatu yang aneh bagi Dazai. Tapi Atsushi mengakui kalau semuanya terlalu luar biasa untuknya. Apapun yang terjadi, dirinya merasa sangat lelah, kesehatan yang tidak baik juga sudah membuatnya mati rasa.
"Makan ini!" Dazai memberikan sesuatu yang tadi di ambilnya dari laci di meja sebelah tempat tidur. Sebuah kapsul berwarna gelap dan dia sudah memakanya sebelum menawarkan benda itu kepada Atsushi.
"Apa?"
"Perangsang, atau sejenis itulah!"
Ekspresi Atsushi kelihatan sangat terkejut apa yang Dazai fikirkan?. "Untuk apa? Kau tidak merasa puas kepadaku?"
"Tidak, Kau sangat luar biasa!" Dazai tidak bohong. Untuk seseorang yang baru memulai semuanya, Atsushi sangat liar dan dia menyukainya. Dazai bukan tidak puas dengan Atsushi, dia tidak puas dengan dirinya sendiri. "Aku hanya ingin kau sedikit lebih kuat karena aku ingin melakukanya lebih lama, sekarang kau sedang sakit dan aku takut."
Atsushi membuat Dazai berhenti berkata-kata hanya dengan mengambil kapsul itu dan memakanya. Kapsul itu bukan hanya mengembalikan tenaganya, tapi juga memulihkan gairahnya seperti saat pertama mereka melakukanya. Atsushi bahkan sudah bisa merasakan sentuhan Dazai pada tubuhnya, dan beberapa kali erangan kelihatanya masih belum cukup. Keduanya sudah berganti posisi dan Atsushi sekarang yang mengambil kendali gerakan demi gerakan mengingatkanya pada kuda putih di pantai Yokohama. Ia merasa semakin gila dan Dazai membuatnya ketagihan, Atsushi masih berusaha terus bergerak meskipun tubuhnya mengejang dalam lenguhan panjang lalu berakhir di atas tubuh Dazai dalam keadaan yang sangat tidak bertenaga. Malam yang dingin sudah berhasil mereka ubah menjadi sangat panas. Dua nafas menyatu dari tarikan yang terburu-buru sampai kepada helaan yang semakin mereda. Atsushi memandangi Jam dinding, ternyata sudah hampir pagi. Empat atau lima Jam lagi London akan kembali kasak kusuk, Hujan juga sudah lama mereda tanpa disadari.
"Kau sudah puas?" Tanya Atsushi. Pipinya masih menyentuh dada Dazai yang hangat. Sejak pertama, tubuh mereka tidak pernah berpisah, dan hingga saat ini bagian-bagian dari tubuhnya masih menyatu. Dazai masih ada dalam dirinya, merasakan detakan di sana selama berjam-jam. "Kau bilang tadi, dirimu sedang sangat lapar, sekarang bagaimana?"
"Entahlah!" Jawab Dazai, "aku masih ingin bersamamu, masih tidak ingin berpisah. Bisakah kita begini terus sampai pagi?"
"Dingin sudah mulai terasa lagi. Aku rasa lebih baik kita pakai selimut."
"Tidak usah! Kenapa kita tidak mengkonsumsi kapsul itu sekali lagi!"
Atsushi mengangkat wajahnya dan menempelkan dagunya di dada laki-laki itu. Kapsul itu? Obat perangsang lagi. Tidak, dia tidak akan melakukanya lagi. "Aku harus pergi!" kedua lengan Atsushi mencoba menopang tubuhnya untuk berdiri. Sebaiknya dia pergi menjauh, Malam ini seharusnya menjadi malam yang membahagiakan karena Dazai menginginkanya, karena mereka sudah terlibat dalam percintaan yang panjang. Tapi ucapan Dazai tentang Kapsul itu telah berhasil membuat semangatnya runtuh. Walau bagaimanapun Atsushi merasa bodoh karena hati Dazai tidak menginginkanya, tubuh Laki- laki itu yang menginginkanya. Sebuah kekecewaan yang besar membuatnya merasa kalau menjauh adalah jalan keluar yang terbaik, dia akan pergi.
Dazai menolak, Ia memeluk tubuh Atsushi erat-erat karena ada sesuatu yang akan terjadi. Tubuhnya bergetar hebat memberikan kepuasan yang paling maksimal untuknya. Dazai klimaks tanpa melakukan apapun? Sepertinya Atsushi tidak menyadarinya dan baru terbelalak saat sperma memenuhi dirinya untuk yang kesekian kali. Gadis itu menggigit bibirnya dan mematung sesaat. Pelukan Dazai yang melemah membuatnya bisa melepaskan diri dan memakai kemeja Dazai yang tadi dikenakanya setelah mengambilnya di atas lantai, Dazai melempar benda itu terlalu jauh.
"Kau mau kemana? Tidak mau mencobanya lagi? Kapsul itu aman untuk di konsumsi lebih dari satu kali!"
Atsushi tidak menjawab, ia membuka pintu kamar dengan kunci yang masih tergantung disana lalu keluar dan pergi. Dazai termenung, gadis itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal, ataupun terima kasih? Tidak! Nakajima Atsushi bahkan tidak menoleh kepadanya dan pergi begitu saja. Dazai memegangi kepalanya. Wanita itu sudah membuatnya hampir gila.
[ Bersambung ]
