VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 21 ]

[It's Over, Finitto!]

Atsushi memandangi cermin, wajahnya benar-benar kelihatan sangat buruk. Sebuah lingkaran hitam menemani bola mata yang agak memerah semakin memperburuk penampilanya. Dia tidak mungkin menggunakan lensa kontak seperti biasa dalam keadaan seperti sekarang, Karena itu kaca mata akhirnya menjadi pilihan yang cukup bisa menyembunyikan keganjilan di wajahnya. Sekarang sudah hampir siang dan Atsushi harus kembali bekerja. Meskipun perasaanya sedang tidak baik, Atsushi tidak akan memaafkan dirinya bila salah satu klienya kecewa.

"Kau serius mau bekerja?" Naomi bertanya sambil menatap pancake buatanya yang sudah tidak berbentuk. Dengan susah payah Naomi membuatkan makanan itu untuk Atsushi karena dia tau Atsushi sedang tidak sehat. Sandainya Atsushi berniat untuk libur hari ini, Naomi tidak akan merasa sekhawatir sekarang. "Sampai kapan kau terus seperti ini?"

"Aku hanya sedang tidak berselera!"

Naomi menghela nafas berat. Semalam Atsushi pulang dalam keadaan yang tidak biasa. Gadis itu bertelanjang kaki dan hanya menggunakan sebuah kemeja yang entah milik siapa sambil menenteng tas Gucci kesayangannya. Saat Naomi bertanya Atsushi dari mana, gadis itu tidak menjawab dan masuk kekamarnya. Pasti telah terjadi sesuatu, Semalam Naomi sudah berusaha mengetuk pintu flat Dazai dan tidak ada yang menjawab, jika Dazai semalam tidak berada di rumah, lalu Atsushi kemana? Bunyi ketukan pintu mengagetkan Naomi, ia terbangun dari lamunanya dan memandang Atsushi sebentar sebelum akhirnya membuka pintu. Dazai Oasamu berdiri disana dengan senyum terbaiknya.

"Venusku ada?"

"Ada, tentu saja! Dia sedang..." Naomi menggantung ucapanya, ia bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kegiatan Atsushi sekarang, sarapan atau makan siang? Hei, Atsushi bahkan tidak memakan apa-apa, gadis itu hanya berusaha membuat Panekuk tidak berbentuk dengan garpu. "Dia sedang di ruang makan!"

"Kalau begitu boleh aku masuk?"

"Silahkan!"

Dazai masuk kedalam flat dan segera menuju keruang makan. Atsushi ada disana dengan pandangan kosongnya sambil mengaduk-aduk panekuk yang sudah sangat kacau balau. Ia merindukan Atsushi, melihat wajah gadis itu pagi ini membuat hati Dazai senang sekaligus khawatir. Atsushi kelihatan sangat tidak sehat. "Kelihatanya enak!"

Atsushi mengangkat wajahnya dan menatap Dazai dengan mata yang membesar. Dia sedang terkejut karena tidak menyangka laki-laki yang bergumul denganya hampir semalaman sekarang sedang duduk di depanya dan berada di ruang makanya. "Sedang apa disini?"

"Aku membawa pakaianmu!" Dazai mengangkat Kantong kertas yang sejak tadi di bawanya dan harus tekejut saat Naomi menariknya.

"Jadi semalaman kalian bersama? Dimana? Aku menggedor pintu rumahmu, Dazai-kun! Aku fikir tidak ada orang. tunggu dulu, jangan bilang..." Naomi memandang wajah Atsushi dan Dazai bergantian, laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk membuatnya bersorak kegirangan. "Pantas aku mendengar sesuatu semalam. Ku kira dari tetangga , ternyata kalian."

"Naomi, bisa tolong buatkan aku kopi?"

Ekspresi bahagia Naomi memudar seketika menyadari Atsushi yang terlihat sangat terganggu. Ada masalah apa? Naomi baru teringat sekarang, semalaman setelah pulang Atsushi sama sekali tidak berhenti menangis. Meskipun dia berusaha untuk tidak bersuara tapi isakannya tetap bisa di dengar oleh Naomi yang berusaha keras untuk tidak menanyakannya. Atsushi bukanlah orang yang suka di ganggu saat ia menangis, karena itu Naomi bersusah payah untuk tidak perduli. "Baiklah, Dazai-kun kau juga mau?"

"Boleh!"

Naomi kemudian berjalan kedapur meninggalkan Dazai dan Atsushi di ruang makan. Ada perasaan yang aneh menelusup di hati Dazai tapi dirinya berusaha untuk tidak memperdulikanya. Ia memandangi Atsushi yang kelihatanya tidak suka dengan kehadirannya. "Kau kelihatan sangat pucat!" Dazai berusaha memulai pembicaraan.

"Lalu?"

"Aku ingin berterima kasih atas hadia manis yang kau berikan tadi malam. Aku sangat menghargainya!"

"Itu tidak akan terulang lagi. Aku melakukanya karena kau selalu mengatakan betapa menderitanya dirimu karena itu! Jadi..."

"Iya, Aku juga tidak berharap untuk mengulanginya."

"Dazai!" Atsushi bertindak seolah-olah apapun yang terjadi di antara mereka tidak pernah ada. Atsushi diam beberapa saat untuk mengendalikan dirinya lalu mengatakan sesuatu dengan suara mantap meskipun keragu-raguanya sama sekali tidak bisa di tutupi. "Bagimu aku ini apa?"

Kening Dazai berkerut. Apa? Baginya Atsushi itu apa? Atsushi adalah satu-satunya wanita yang dekat denganya sekarang. Karena itu di dalam otaknya hanya ada Atsushi dan Atsushi. Tapi bila di tanya seperti itu Atsushi seolah-olah sedang menanyakan tentang perasaan Dazai kepadanya.

"Kau tidak usah menjawab apa-apa lagi karena aku sudah tau jawabanya!" Atsushi kembali bersuara.

"Venus, Kau ingin mengatakan apa sebenarnya? Kau tidak sedang bertanya bagaimana perasaanku kepadamu kan?"

"Jawab yang jujur. Kau bertunangan denganku hanya untuk bermain-main kan?"

"Pada awalnya memang begitu, tapi belakangan aku benar-benar menganggapmu sebagai seorang teman yang..." Sebuah bunyi keras membuat lidah Dazai membeku. Nakajima Atsushi melayangkan sebuah tamparan lagi kepadanya setelah sekian lama ia tidak melakukan itu. Dazai tak tau harus berbuat apa-apa. Apa dirinya sedang melakukan kesalahan? Apakah karena tadi malam makanya Atsushi jadi marah padanya? Tapi tidak ada gurat kemarahan dalam wajah Atsushi, dia kelihatan lebih tenang. Memukul Dazai mungkin obat terbaik baginya. Dazai semakin bingung saat Atsushi melepaskan cincin di jarinya dan meletakkanya di atas meja.

"Aku memutuskan pertunangan kita lebih dulu. Maaf aku menamparmu. Kau sangat brengsek dan aku tidak mau menikah dengan orang sepertimu!"

Dazai terpaku. Atsushi mengatakan kata-kata seperti itu dengan sangat datar. Dia tidak marah? Tapi Dazai merasa sangat marah meskipun dirinya juga tidak tau penyebabnya. Mungkin karena tamparan itu, bukan karena Atsushi memutuskan pertunangan mereka kan? Tidak mungkin. "Kenapa kau melakukan hal seperti ini lagi?" Suara Dazai terdengar lebih tinggi.

"Karena aku tidak mau menjadi teman!"

"Tapi saat ini aku merasa..."

"Berhentilah. Aku menyerah! Kau tidak menerimanya? Kau tidak sedang jatuh cinta padaku kan?"

Apa? Benarkah Atsushi mengatakan hal itu? Dazai tau kalau dirinya sangat menginginkan Atsushi. Tapi dirinya masih menolak untuk menamainya dengan cinta. Dazai tidak yakin kalau yang di rasakanya adalah cinta karena hal seperti ini sudah beberapa kali di rasakanya dan berakhir dengan kebosanan. Seharusnya cinta tidak pernah membuat kita merasa bosan kan? "Mana mungkin aku jatuh cinta padamu!"

Atsushi menyunggingkan senyum kecewanya dan pergi keluar flat tanpa mengatakan apa-apa. Cincin bermata ruby itu di tatapnya lekat-lekat, sekarang benda itu benar-benar sudah kehilangan harga. Cincin itu bukan cincin termahal yang pernah di berikanya kepada seorang perempuan, tapi selalu terlihat sangat bernilai saat berada di jari Atsushi. Sekarang nilai itu sudah menguap begitu saja.

"Dazai-kun aku sangat kecewa padamu!" desis Naomi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya.

Dazai menghela nafas berat. "Dia yang meninggalkanku!"

"Kau yang membuatnya meninggalkanmu! Tadi malam sejak dia memasuki pintu flat ini, dia terus menangis sampai pagi. Aku tau pasti terjadi sesuatu, ini bukan pertama kalinya kau menggodanya. Kau bahkan sudah menyentuh sebagian besar tubuhnya sebelum kalian berada di ranjang. Sekarang aku tanya, kenapa semalam kalian bisa melakukanya? Kau memaksanya?"

"Apa yang kau katakan?" Dazai terdengar kesal. "Aku tidak pernah memaksa wanita untuk melakukan itu. Dia yang memberi izin, kalau dia menolak saat itu, aku pastikan hal semalam tidak akan terjadi!" Dazai berkata jujur, semalam saat Atsushi mendorong tubuhnya, menjauhkan bibirnya dari ciuman Dazai, Dazai merasa sangat kecewa dan menyerah. Tapi saat itu juga Atsushi memintanya untuk melakukan hal itu dan membuat rasa pesimisnya lenyap.

Naomi berdesis. "Sekarang berdiri dan keluar dari rumahku!"

"Apa?" Dazai terkejut. Naomi sedang mengusirnya?

"Keluar! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"

"Kenapa? Salahku apa?"

Naomi tidak menjawab sepatah katapun. Kedua tangan gadis itu berusaha menarik lenganya agar Dazai segera berdiri dari kursi meja makan. Sebenarnya Naomi tidak cukup kuat untuk melakukan hal itu kepadanya, tapi Dazai sedang tidak ingin melawan. Tubuhnya mengikuti kehendak Naomi kemanapun ia ingin membawa Dazai pergi dan saat Naomi membawanya untuk semakin mendekati pintu, Dazai mencoba bertahan di posisinya yang sekarang, berdiri dan mematung.

"Sekarang pergi dari rumahku!" Naomi mengerang, ia masih berusaha membuat Dazai bergerak. Begitu dirinya menyadari bahwa usahanya untuk menyeret Dazai keluar gagal, Naomi masih belum menyerah untuk mendorong tubuh Dazai meskipun laki-laki itu sama sekali tidak bergeming.

"Sudahlah. Percuma kau melakukan ini! Kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa hari ini para wanita bersikap aneh?"

Naomi menghentikan usahanya lalu memandang Dazai kesal sambil bertolak pinggang. "Kau membuatku merasa bersalah. Seandainya aku tidak pergi kemarin siang, aku tidak akan membiarkannya bersamamu dan melakukan hal itu!"

"Apanya yang aneh? Kau juga sering melakukanya dengan pacarmu? Jangan katakan tidak karena aku tidak akan pernah percaya!"

"Memangnya kenapa?" Naomi melotot. "Aku hanya melakukanya dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku. Apakah kau mencintai Atsushi? Kau tau tidak kalau seks sama dengan perasaan bagi perempuan."

"Apakah Venus mencintaiku?" Dazai memandang Naomi dengan tatapan serius. Mana mungkin hal itu terjadi, Atsushi yang memutuskan pertunangan mereka barusan. Lalu mengapa gadis itu menangis setelah pulang dari flatnya padahal semalam ia terlihat sagat bahagia. Dazai teringat pada pesan yang Atsushi kirimkan kepadanya semalam, ia ingin membicarakan sesuatu. Apakah tentang itu? Dazai tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhnya, tubuh itu bergerak tanpa di perintah untuk kembali masuk kedalam untuk mengambil cincin yang tertinggal di atas meja makan. Secepat kilat Dazai menuruni anak tangga sambil berlari, berharap kalau dirinya masih bisa mengejar Atsushi. Gadis itu dimana? Dazai sudah berada di pinggir jalan dan berharap bisa melihat Atsushi. Tapi tidak ada yang terlihat olehnya, Nakajima Atsushi sudah pergi.

Kekantor kan? Aku akan kesana! Pikir Dazai. Ia harus mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di flatnya. Berlari dengan kecepatan penuh adalah pilihannya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Atsushi duduk sambil menyembunyikan wajahnya di kedalaman telapak tangannya sendiri. Gadis itu sedang apa? Sedang menunggu taksi? Taksi sudah lewat dalam jumlah yang banyak dan dia sedang berkonsentrasi di bangku taman apartement sambil menelungkupkan wajahnya. Atsushi mengangkat wajahnya, ia menguap beberapa kali lalu menggeliat. Dazai menertawai dirinya sendiri, semula dia fikir Atsushi sedang menangis karenanya dan ternyata, gadis itu sedang tertidur?

"Kau sedang apa disini? Aku kira kau sudah pergi kerja!" Dazai bertanya setelah dirinya berhasil duduk di sebelah Atsushi, gadis itu menatapnya. "Apakah kau mencintaiku? Semalam kau bilang ingin mengatakan sesuatu, apa tentang itu?"

Atsushi mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah beberapa pejalan kaki yang melintas. "Kalau iya, Apa yang akan kau lakukan?"

Apa? Dazai terperangah, ia bahkan merasa kalau waktu sedang membeku mendengar pertanyaan itu, apa yang akan dia lakukan? Mempertahankan pertunanganya? Dia memang belum siap untuk jauh dari Atsushi semendadak ini, bagaimana mungkin wanita itu memutuskan pertunangan mereka sedangkan semalam mereka sudah menghabiskan waktu bersama dengan cara yang sangat luar biasa. Tapi sekali lagi, untuk mencintai seseorang bukanlah hal yang mudah bagi Dazai. "Entahlah, Kalau memang begitu aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bukan orang yang suka dengan komitmen."

Atsushi tertawa, dan sekali lagi Dazai terperangah karenanya. Gadis itu sedang menertawakanya?

"Jawabanmu sesuai dengan dugaanku!" Katanya.

"Kau tertawa? Naomi bilang semalaman kau menangis dan aku kira karena itu. Bukankah kau juga bilang ingin berbicara denganku! Kalau bukan tentang itu, lalu tentang apa?"

"Kenapa kau terlihat seperti orang bodoh, tuan Dazai? Ini bukan pertama kalinya kan kau menanyakan kepada seorang gadis apakah dia sedang jatuh cinta kepadamu?" Atsushi lagi-lagi tertawa seolah-olah sedang menganggap remeh Dazai. "Tadi malam Akutagawa bertanya apakah hubungan kita serius? Aku tidak yakin, kau hanya bermain-main denganku dan aku juga begitu. Dia juga bertanya tentang Jepang, Bagaimana Ibumu dan Ayahmu, Bagaimana dengan saudara yang lain? Aku merasa sudah membohongi banyak orang. Karena itu tadi malam, seharusnya aku sudah mengembalikan cincin pertunangan itu kepadamu!"

"Cuma itu?"

Atsushi mengangguk. "Aku menangis karena sepertinya Ibuku akan marah besar dan memaksaku menjalani perjodohan dengan pria tua setelah ini asalkan aku segera menikah. Aku masih sangat muda dan aku belum ingin menikah. Karena itu aku selalu berusaha untuk membuat orang-orang membatalkan perjodohanya denganku. Tapi denganmu aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak berusaha agar kau menjauhiku sekeras usahaku untuk menjauhkan orang lain!"

"Kenapa?"

"Mungkin karena aku tau, menikah denganmu adalah suatu hal yang mustahil! Aku sedang memanfaatkanmu secara tidak sadar untuk membuat diriku aman dari perjodohan." Atsushi mendesah. Ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari tasnya, Sebuah ponsel milik Dazai. Atsushi tidak memberikan ponsel itu kepada Dazai secara langsung, ia lebih memilih untuk meletakkan benda itu di antara mereka. "Ini milikmu. Kalau ponselku memang sangat menarik, kau boleh mengambilnya." Atsushi kemudian berdiri dan meninggalkan Dazai seorang diri.

Dazai terpaku sesaat sambil memandangi ponselnya yang tergeletak begitu saja. Hanya itu? Lalu apa? Mereka berpisah? Sama sekali tidak terkesan seperti itu meskipun Atsushi sudah memutuskan pertunangan mereka lebih dulu. Dazai meraih ponselnya dan memutuskan untuk menyusul Atsushi yang menyusuri jalanan tanpa berusaha menyetop taksi sama sekali. Gadis itu berjalan pelan langkah demi langkah, dan Dazai berhasil mengimbanginya setelah berusaha dengan cukup susah payah. Atsushi memandang ke arahnya sekilas, hanya sekilas lalu tersenyum seolah-olah Dazai sedang melakukan tindakan yang lucu.

"Kau mengikutiku?" Tanya Atsushi di sela senyumnya. "Masih ada yang mau di bicarakan?"

"Aku menolak pemutusan sepihak ini!"

Atsushi berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Dazai dan memandangnya dengan pandangan yang penuh tanya. Menolak? Dazai menolak? Karena apa? Karena dirinya masih menginginkan Atsushi? Tidak, Atsushi sebaiknya tidak terlalu berharap. "Tapi aku menginginkanya!"

"Kau tidak ingin terlibat Perjodohan lagi kan? Aku juga mustahil untuk berkomitmen. Tidakkah kau berfikir kalau kita sekarang sangat cocok? Tetaplah bertahan menjadi tunanganku dan kita tidak perlu repot dengan komitmen apapun. Kau bisa tetap bekerja dengan tenang dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan sebaiknya kau kenakan kembali cincin ini!" Dazai meraih tangan Atsushi dan kembali menyelipkan cincin bermata ruby itu ketanganya. Selain itu Dazai juga meletakkan ponsel miliknya ke genggaman Atsushi. "Aku tidak bisa di tolak. Tetaplah jadi tunanganku dan bawa ponsel ini! Aku tidak ingin ada perubahan apa-apa. Tetaplah bersikap seperti biasanya."

"Kau jangan pernah berharap, Dazai! Aku tidak akan bersikap seperti biasa karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi." Atsushi melambaikan tanganya dan sebuah taksi berhenti di dekat mereka, gadis itu membuka pintu taksi, dan masuk dengan anggunnya. Dalam hitungan detik Atsushi sudah menghilang dan Dazai masih termenung.

Apa yang terjadi? Atsushi menerima tawarannya? Tapi Atsushi membiarkan Dazai memakaikan cincin itu di jarinya sekali lagi. Ya, Atsushi menerimanya. Dazai bersorak, Entah mengapa hal ini menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya saat ini. Apa arti Atsushi untuknya? Apapun itu Dazai cukup puas karena Atsushi tidak benar-benar bermaksud menjauh darinya.

[ Bersambung ]