VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 22 ]

[Every Changing Is Disturbing!]

Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dan sampai sekarang Atsushi bersikap sangat biasa. Ia berusaha untuk tidak begitu sering berinteraksi dengan Dazai kecuali hal itu benar-benar di butuhkan. Sebisa mungkin Atsushi juga menolak setiap kali Dazai ingin mengantarnya ke kantor atau menjemputnya pulang. Tapi Atsushi sama sekali tidak bisa menolak jika Dazai berkunjung ke flatnya kecuali saat Naomi tidak berada di rumah. Entah karena hal itu atau bukan, Atsushi merasa selera makanya berkurang dan seringkali tidak bersemangat. Melihat Dazai belakangan ini membuatnya terus terbayang-banyang saat-saat mereka bermesraan, semua adegan itu bermain dengan begitu jelas di kepalanya. Dengan kata lain Atsushi merasakan sebuah gairah yang luar biasa dan dirinya harus mederita karenanya.

"Mana mungkin bisa seperti itu tanpa sebab!" Ujar Naomi saat Atsushi bercerita kepadanya mengenai keluhan yang sangat mengganggu. Hari ini adalah hari minggu dan keduanya sedang tidak bekerja. Mereka baru saja selesai membersihkan flat dan Naomi harus mengeluh karena Atsushi juga selalu mengeluh kelelahan sehingga menyebabkan pekerjaan mereka jadi lambat. "Tapi bukan hal yang aneh kalau kau merindukannya. Pengalaman pertamamu sangat luar biasa kan? Karena itu berhentilah untuk berpura-pura tidak perduli padanya. Dazai-kun selalu mengeluh karena dirimu selalu menganggap keberadaanya tidak begitu penting belakangan ini."

"Aku harus begitu untuk menjaga diri." Atsushi memijat-mijat lenganya yang terasa sangat lelah. "Aku ini kenapa? Badanku terlalu mudah untuk merasa lelah. Naomi, Kau dokter, kan? Seharusnya kau bisa membantuku! Semua obat-obatan dirumah ini sama sekali tidak memberikan efek apa-apa!"

"U-huh? Kau fikir aku ini dokter umum? Aku tidak bisa menyembuhkan keluhanmu itu kecuali kalau kau sedang hamil!" Naomi tertawa, tapi kemudian tawanya sirna karena dirinya sedang terkenang sesuatu. "Tunggu dulu! Atsushi kau tidak sedang hamil kan?"

"Apa? Mana mungkin? Aku sama sekali tidak muntah-muntah kan?"

"Tapi semua ciri-cirinya ada. Kau sangat gampang lelah, tidak suka bau daging padahal daging adalah makanan yang sangat kau sukai. Tidak semua wanita hamil mengalami morning sick yang mengharuskan mereka untuk muntah-muntah."

"Mana mungkin itu terjadi, Aku masih menstruasi beberapa hari setelah malam itu!" Atsushi menggumam dengan suara lemah. Tapi setelah itu dia tidak mengalami haid lagi sampai sekarang, bulan kedua sudah hampir berakhir. "Mana mungkin!"

"Mana mungkin apanya? Haidmu saat itu cuma berlangsung tiga hari dan sangat sedikit. Aku kira saat itu kau cuma sedang stress, tapi dua minggu setelah itu kau mengaku kalau payudaramu sakit. bagaimana?" Naomi kelihatan bingung bahkan ia lebih bingung di bandingkan Atsushi yang mengalaminya. Secepat mugkin Naomi berusaha masuk ke kamarnya dan keluar dengan beberapa peralatan yang asing. "Sekarang kita lakukan tes, sudah dua bulan seharusnya tidak ada keraguan terhadap hasilnya."

"Dengan semua alat aneh ini?" Atsushi mendesah. "Test pack saja! Biar ku lakukan sendiri!"

Dengan berat hati Naomi meraih test pack yang juga berada dalam tas kerjanya dan memberikannya kepada Atsushi. Naomi khawatir, tentu saja. Gadis itu bukan orang asli Eropa meskipun Atsushi memilik darahnya. Nakajima Atsushi dididik dengan cara timur, hal seperti ini bisa membuat Ibunya jantungan. Naomi khawatir karena Atsushi harus mendapat cobaan seberat ini sebagai akibat dari pengalaman seks pertamanya dengan laki-laki paling brengsek sedunia. Astaga, bagaimana Atsushi bisa menjalani semuanya sendiri kalau dia benar-benar sedang hamil? Tunggu dulu, semoga hasilnya negatif. Negatif, negatif, negatif, negatif...

Atsushi membuka pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Apa hasilnya? Pasti negatif, meskipun belum pasti Naomi merasa lega. "Bagaimana hasilnya?"

Atsushi angkat bahu. "Sepertinya positif!"

"Astaga. Sekarang kau harus bagaimana? Kau harus mengatakan kepada Dazai-kun dan memaksanya bertanggung jawab secepatnya. Usia kandunganmu sudah dua bulan, sebulan berikutnya perutmu sudah membesar.!"

Atsushi termenung. Bagaimana perasaanya sekarang? Tidak sedih, tidaka juga senang. Semuanya terasa kosong dan hampa. Sekarang apa yang harus di lakukanya? Benarkah dirinya harus mengatakan semuanya kepada Dazai Osamu? Kalau harus mengikuti kata hati, dia sesungguhnya sangat ingin segera menemui lak-laki itu dan memohon pertanggung jawabanya. Tapi Dazai Osamu bukan orang yang suka dengan komitmen, dan kehadiran seorang anak akan mengancam prinsipnya, Atsushi harus menyembunyikan perasaanya selama ini karena tidak ingin berada jauh dari Dazai. Sepertinya hal ini harus di sembunyikan juga, Dazai akan benar-benar menjauhinya kalau mengetahui kehamilannya.

"Cepat telpon dia!" Naomi menyodorkan ponselnya.

"Tidak. Aku harap kau bisa membantuku merahasiakan semuanya! Aku tidak ingin ada seorangpun yang tau tentang ini. Siapapun kecuali dirimu! Soal kehamilanku, aku akan cari jalan keluarnya!"

"Tunggu dulu, kau akan menggugurkanya?"

Atsushi terdiam lama. Menggugurkanya? Dia bahkan tidak terpikir untuk melakukan hal seperti itu? Apakah menggugurkan kandungannya adalah ide yang bagus? Atsushi tidak mungkin melakukan hal yang bodoh untuk saat ini, yang pasti di lakukannya dalam waktu dekat adalah memastikan kehamilannya sekali lagi untuk meyakinkan apa yang harus di lakukanya setelah ini.

[ Bersambung ]