VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 23 ]

[Best Advisor is Mark!]

Atsushi berjalan di sepanjang koridor rumah sakit lalu masuk kesebuah ruangan dokter. Ternyata semuanya sama sekali bukan mimpi belaka, sebuah janin sedang berusaha untuk terus tumbuh dalam rahimnya dan itu sangat mengejutkan sekali. Dua bulan terlalu cepat untuk USG, tapi ia sudah mencobanya. Dokter Mark menyarankannya untuk melihat janinnya saat Atsushi mengatakan keinginannya untuk menggugurkan kandungannya. Satu minggu yang lalu setelah USG itu, Atsushi terus memikirkan ulang niatnya untuk menggugurkan kandungannya dan akhirnya pilihannya jatuh kepada niat untuk melahirkannya.

"Walau bagaimanapun, pilihanmu untuk melahirkannya adalah pilihan yang bijaksana. Walaupun dirimu belum siap, tapi tidak ada alasan yang tepat untukmu menggugurkannya. Jujur sekali aku sangat kecewa saat kau mengatakan kalau kau memiliki keinginan untuk menggugurkannya. Usiamu memang masih muda, tapi percayalah usiamu itu adalah usia yang tepat untuk melahirkan bayi yang sehat." Dokter Mark kembali menceramahinya. Laki-laki ini adalah dokter yang di sarankan oleh Naomi untuk memeriksanya dan selama di rumah sakit ini, Naomi selalu bertindak sebagai asistennya. "Aku menanyakan masalahmu kepada Naomi tapi dia tidak mau mengatakannya, Apakah kau mau bercerita tentang alasanmu untuk menghilangkan calon bayimu minggu lalu?"

"Mungkin alasannya terlalu sepele, tidak ada yang akan bertanggung jawab terhadap anak ini!" Atsushi tertawa getir.

Dokter Mark terkekeh. Pria itu membuat Atsushi merasakan kembali kehadiran seorang Ayah.

"Memang sangat sepele untuk seorang wanita brilian sepertimu." Katanya. "Kau sudah bukan anak kecil lagi untuk melakukan perbuatan yang sangat di sayangkan seperti menggugurkan kandungan. Sedangkan di luar sana, tidak sedikit orang yang siap melakukan berbagai cara dengan harapan dirinya bisa memiliki buah hati."

"Aku sangat khawatir. Aku sangat meragukan Ayahnya, orang tuaku juga pasti tidak bisa menerima begitu saja jika tau kalau ayahnya tidak akan mau bertanggung jawab. Jadi ku fikir, aku harus memilih antara anak ini dan keluargaku, makanya aku memilih menyingkirkannya selagi belum terlambat. Tapi melihatnya kemarin tiba-tiba saja aku merasa sangat jahat." Atsushi menunduk. Memilih untuk melahirkan janin yang di kandungnya adalah hal yang sangat sulit untuknya. Semalaman Atsushi bahkan memandangi buku tabunganya dan berfikir akan di bawa kemana calon anaknya ini. "Aku akan terus berusaha menyembunyikannya karena akan sangat banyak yang menentangnya. Tapi aku akan tetap berusaha untuk melahirkannya."

Kali ini sebuah senyum penuh kasih terulas di bibir dokter Mark, ia memandang Atsushi dengan iba. "Kelak, kalau kau sudah sangat kesulitan untuk menyembunyikannya, kau bisa ikut aku ke Dalas, istriku pasti senang kalau kau ikut dengan kami."

"Tentu saja, pada akhirnya aku akan mencarimu untuk membantu!" Atsushi tersenyum nakal membuat seluruh rasa kasihan yang di rasakan dokter Mark sirna begitu saja. Atsushi memang bukan seseorang yang suka menyimpan beban di hatinya berlama-lama. "Kapan kau akan pindah, ku dengar dari Naomi."

"Secepatnya, Naomi akan di promosikan untuk menggantikanku. Tapi aku pastikan sebelum aku berangkat, kau harus sudah melewati trimester pertamamu dengan baik! Kapan-kapan berkunjunglah ke flatku, istriku sangat antusias mendengar cerita tentang dirimu!"

"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu!" Atsushi berdiri dari tempat duduknya dengan hati-hati, dia selalu berusaha untuk tidak sembarangan lagi dalam setiap gerakannya karena di dalam dirinya sudah ada sesuatu yang sangat berharga. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaganya. Sebelum membuka pintu, Atsushi memandangi Dokter Mark lagi dengan tatapan ragu. "Mark, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja!"

"Ini agak memalukan, tapi gairahku sangat menggebu-gebu selama kehamilanku! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan pada saat bercinta yang mengakibatkan kehamilanku yang sekarang. Apakah hal itu normal?"

"Ya, sangat Normal. Biasanya hal seperti itu sangat mengganggu pada trimester awal karena semua gejala kehamilan yang menyakitkan, tapi karena gejala yang kau tunjukkan tidak semenderita wanita hamil lainnya aku rasa gairah yang menggebu-gebu bukan masalah yang signifikan selagi kau tau bagaimana cara mengatasinya. Untuk lebih lanjutnya, akan lebih baik bila kau bertanya pada Naomi sebagai sesama wanita!"

Atsushi mengangguk mengerti. "Terimakasih, Mark!"

"Jaga kandunganmu."

"Baiklah!" Atsushi membuka pintu ruang dokter dan hampir saja keluar saat Mark memanggil namanya.

"Atsushi! Hentikan kebiasaanmu menggunakan high heels, untuk berjaga-jaga saja karena kandunganmu tidak begitu kuat!"

Untuk kesekian kalinya Atsushi mengucapkan terima kasih. Sangat banyak terimakasih untuk Mark yang bukan hanya memeriksa kandunganya, tapi juga menyadarkannya betapa pentingnya untuk anak itu tetap bertahan hingga dia dilahirkan, menyadarkan kalau Atsushi seharusnya bahagia menjadi seorang Ibu sedangkan tidak sedikit orang di luar sana tidak bisa merasakan hal yang sama. Ia membungkuk sebagai penghormatan yang biasa di lakukannya dan akhinya benar-benar keluar dari tempat itu.

Kembali menyusuri Koridor rumah sakit seorang diri dengan langkah pelan membuat Atsushi membayangkan betapa bahagianya bila Dazai menemaninya. Betapa bahagianya bila rasa ketakutan dan kebingungan yang dirasakannya menemukan tempat untuk berbagi. Tapi Atsushi tidak mendapatkan itu dari Ayah janin yang di kandungnya, dan dirinya sama sekali tidak boleh kecewa. Semua ini adalah pilihannya, pilihan untuk tidak memberi tahu Dazai keadaan yang sebenarnya karena Dazai pasti akan pergi jauh-jauh darinya. Lebih buruk lagi, Laki-laki itu akan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya. Atsushi tau dalam waktu dua atau tiga bulan lagi perut besarnya tidak bisa di sembunyikan, maka mulai saat ini sampai hari itu tiba dia akan berusaha menikmati keberadaan Dazai di sampingnya. Meskipun begitu ia tidak akan membiarkan Dazai menyentuhnya meskipun Atsushi sangat menginginkanya.

"Kau sedang apa disini?"

Atsushi terbelalak, Dazai Osamu berdiri di hadapannya secara mendadak, kedatangannya sangat tidak bisa di duga dan ini cukup membuat gadis itu kehabisan kata-kata. "Aku? Baru mengunjungi Naomi, dia meninggalkan sesuatu dan aku harus mengantarkannya! Kau sendiri sedang apa disini?"

"Menjenguk seseorang. Karena ini rumah sakit!" Dazai tersenyum.

Ya, ini adalah rumah sakit dan orang bisa datang kemari dengan berbagai alasan. Apa yang sedang Atsushi fikirkan sehingga dalam otaknya semua orang yang datang kemari dengan tujuan yang sama dengannya.

"Oke, baiklah. Sampai jumpa kalau begitu."

"Tunggu dulu!" Dazai mengagkat kedua tangannya ke depan dada saat melihat Atsushi hendak melangkah. "Kau mau kemana lagi setelah ini?"

"Aku mau..belanja?" Atsushi kemudian mengangkat bahunya karena dia sendiri sedang meragukan tujuannya. Mungkin dia hanya ingin pergi membeli sepatu yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk menggantikan high heelsnya. Yang pasti ia ingin pulang dan segera beristirahat untuk besok.

"Mau ku antar? Aku sudah selesai menjenguk temanku jadi ku fikir, tidak ada salahnya jika kita pergi bersama!"

Tentu saja! Atsushi berteriak dalam hati. Dirinya sangat ingin bersama dengan Dazai tapi egonya melarang. Dazai boleh berada di dekatnya tapi hanya sebagai orang yang biasa, cukup untuk sekedar bisa dilihat sebelum ia pergi bersembunyi. Atsushi tidak akan membiarkan dirinya hanya berdua dengan laki-laki itu karena terakhir kali ia melakukannya, ia mendapatkan akibat yang cukup membuat dadanya sesak. "Aku bisa pergi sendiri. Sampai jumpa!"

"Aku juga perlu membicarakan sesuatu denganmu!"

"Sekarang aku sedang tidak ingin di ganggu. Bagaimana dengan besok malam? Kau boleh datang ke flatku besok!"

"Aku tidak yakin!" Dazai terlihat sedih. "Minggu depan adalah Natal dan aku ingin mengajakmu ke Jepang. Ibuku memintaku untuk pulang dan membawamu kesana. Bisakah kau ikut?"

"Kau tidak akan memaksaku kan?"

Dazai menggeleng. Bagaimana bisa ia memaksa Atsushi seperti sebelumnya sedangkan Atsushi selalu menjaga jarak dengan dirinya. Dazai selalu berusaha mendekatinya dengan susah payah, ia merindukan Atsushi dengan sangat dan kerinduan itu sepertinya tidak akan terlarung dalam waktu dekat ini. "Aku hanya berharap kau bisa ikut bersamaku! Kau dan aku bertunangan kan?"

"Ya, sampai aku menemukan orang lain untuk menggantikanmu!" Atsushi mendesah. "Aku tidak bisa. Aku juga punya keluarga disini, kapan kau akan berangkat?"

"Besok pagi, bersama Akutagawa!"

"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi tahun depan, Marry Christmas!" Atsushi meninggalkan Dazai sambil melambaikan tangannya.

Aku harap kau segera berubah fikiran. Bisik Dazai lirih. Selalu ada perasaan yang seperti ini setiap kali Atsushi bertindak seakan-akan dia sedang tidak perduli. Dazai tidak mengerti kesalahan seperti apa yang sudah di lakukannya. Semenjak kejadian itu, Atsushi bersikap antipati meskipun tidak seratus persen.

[ Bersambung ]

a/n: Makin kesini makin mirip drama korea (?) xD

Terima kasih buat yang udah sempetin kasih review:

*) Asheera Welwitschia (reader + reviewer setia, disela-sela waktu UTS masih sempetin review, makasih ya say -kasih ciom- xD )

*) little Azaela: ini sudah di lanjut kok Chapter 23nya xD

Terima kasih juga buat reader semua yang sudah ngikutin cerita ini, meskipun nggak sempet kasih review saya nggak masalah sih. Ceritanya makin seru kok, so, ikutin terus sampe tamat ya xD