VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa ]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 24 ]
[Good Bye Days]
Atsushi bersandar di dinding yang berada di antar pintu flatnya dan flat Dazai. Tangannya menenteng sebuah tas kertas ukuran kecil berwarna biru langit. Ia sedang menunggu Dazai pulang dan seharusnya sekarang laki-laki itu sudah berada di flatnya bila besok pagi dirinya benar-benar akan pergi. Suara langkah demi langkah menaiki anak tangga membuat jantung Atsushi berdetak dalam ritme yang sangat cepat. Ia tau itu adalah Dazai, Atsushi bisa melihat kepalanya dan perlahan-lahan semakin menjelas, wajah, leher, dada, pinggang, dan kaki, Dazai Osamu sudah berada di hadapannya sekarang. Wajahnya yang semula terlihat lesu menjadi bersemangat saat melihat Atsushi berada di hadapannya.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Dazai antusias.
"Besok jadi berangkat?"
"Kau mau ikut? Apakah kau berubah fikiran?"
Atsushi menggeleng. Dia telihat manis dengan gaun tidurnya, dan dia memakainya untuk Dazai karena Dazai tidak akan pernah melihatnya seperti ini lagi. Begitu Dazai pulang setelah tahun baru, maka waktu mereka bertemu hanya tersisa beberapa minggu. Setelah trimester pertama kehamilannya berlalu, ia akan ikut keluarga dokter Mark ke Dalas, setidaknya sampai bayinya lahir. Semuanya sudah di fikirkannya masak-masak. Dan disisa-sisa pertemuan mereka, Atsushi akan sangat sibuk meskipun hanya untuk menggunakan gaun tidur. Atsushi memang tidak mungkin menggunakannya lagi karena perutnya akan membesar. gadis itu menyentuh perutnya, untuk sekarang penampilannya belum banyak berubah tapi dia tidak akan menjamin ini akan terus bertahan sampai tahun baru. "Aku minta maaf, tidak bisa memberi jawaban yang positif! Aku mau menitipkan ini untuk Ayah dan Ibumu" Atsushi memberikan tas kertas yang berada di genggamannya kepada Dazai.
Dazai meraihnya dan melihat isinya. "Biskuit. Kau buat sendiri?"
Atsushi mengangguk. "Sore ini aku berusaha membuatnya. Sampaikan salamku kepada mereka, katakan kepada orang tuamu aku sudah menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri. Aku juga minta maaf tidak bisa mengunjungi mereka lagi!"
"Tidak, Jangan begitu. Mereka pasti bisa mengerti. Lalu apakah kau membuatkannya juga untukku?"
"Tentu saja, juga ada disana!" Atsushi tersenyum. "Aku masuk dulu!"
"Kau tidak ingin mengobrol lebih lama? Masuklah ke flatku!"
Atsushi menggeleng sambil mengucapkan maaf. Sejurus kemudian dia berbalik dan meninggalkan Dazai seorang diri. Dazai nyaris saja terjatuh lemas. Kenapa interaksi mereka menjadi sekaku ini? Atsushi tadi sangat cantik, dan alangkah indahnya bila dengan kecantikanya Atsushi bisa menemaninya semalaman ini, bila Atsushi bisa ikut dengannya ke Yokohama. Dazai membuka pintu dan masuk ke flatnya dengan perasaan kecewa.
Sedangkan Atsushi, perlahan-lahan ia membuka pintu lagi dan memastikan bahwa Dazai benar-benar masuk ke flatnya. Setelah memastikannya, ia kembali masuk kedalam flatnya dan bersandar di balik pintu sambil memegangi perutnya. Dia sangat merindukan Dazai dan itu nyaris saja tidak bisa di bendung. Perasaan yang bisa saja semakin kuat karena Dazai akan benar-benar jauh dari pandangan matanya selama dua minggu atau lebih. Seandainya bisa, ia sangat ingin berada didalam flat Dazai dan memeluknya, meciumnya...
"Mau sampai kapan kau disana?" Naomi berteriak dari ruang tengah sambil memandangnya. Gadis itu meletakkan segelas susu di atas meja.
Atsushi berjalan perlahan mendekati Naomi yang kembali sibuk dengan televisi. Untuk seorang dokter, Naomi terlalu santai dan dia selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk menghibur diri, sangat berbanding terbalik dengan Atsushi yang selalu membawa pekerjaan kerumah.
"Ini susu untukmu. Mulai malam ini rajin-rajinlah minum susu ini untuk kesehatanmu dan juga calon bayimu itu. Kalau aku tidak ada, kau bisa buat sendiri kan? Aturan pakai bisa kau baca di kalengnya dan kaleng itu aku letakkan di lemari dapur."
Atsushi mengangguk. Ia mengambil gelas dan meminumnya pelan-pelan. Memang cukup memakan waktu, tapi Atsushi bisa menghabiskannya. Hal yang terbilang luar biasa untuk seseorang yang tidak begitu menyukai susu. "Wah, kalau begini berat badanku dengan gampangnya bisa naik!"
"Kalau berat badanmu tidak naik itu artinya bahaya. Seorang Ibu harus memaklumi peningkatan berat yang akan terus bertambah sesuai dengan usia kandungannya." Gumam Naomi. "Kau tadi berbicara dengan Dazai-kun? Kenapa tidak kau katakan saja kepadanya kalau kau sedang hamil?"
"Percuma. Dia tidak akan perduli. Begitu dia tau aku sedang mengandung, dia akan pergi meninggalkanku."
"Karena itu kau berfikir untuk meninggalkannya lebih dulu? Bagaimana dengan Ibumu? Keluargamu? Pekerjaanmu?"
Atsushi menghela nafas. "Semuanya akan ku tinggalkan. Keluargaku, kurasa tidak akan ku beri tau sampai anakku cukup kuat untuk kubawa kembali ke London. Kalau aku datang kesana dalam keadaan hamil, Ibuku pasti memaksaku untuk menggugurkannya. Aku sudah bilang kepada mereka kalau aku akan melakukan perjalanan kerja ke Dalas. Soal pekerjaan, aku masih memikirkannya!"
Naomi mematikan televisinya lalu memandang Atsushi dengan pandangan yang sangat iba. Gadis itu tidak pernah suka menunjukkan kesedihannya, Naomi tidak pernah melihat Atsushi bersedih kecuali hari itu saat dirinya pulang kerumah dan menangis sampai pagi. Kejadian itu bahkan lebih memilukan bila di bandingkan dengan saat-saat dia tau kalau ada sebuah nyawa dalam perutnya. "Coba ceritakan padaku. Kau mencintai Dazai-kun?"
Atsushi angkat bahu. "Aku kira aku memang menyukainya, tapi tidak cukup kuat untuk di namai cinta!"
"Lalu kenapa kau menangis pada malam kalian bercinta? Setidaknya kau bercinta dengan orang yang kau suka, seharusnya itu bukanlah hal yang menyedihkan."
"Aku bahagia, demi Tuhan! Pada awalnya aku sangat bahagia, aku berusaha melakukan yang terbaik meskipun saat itu aku kesakitan dan dalam keadaan tidak sehat. Tapi ada satu hal yang membuatku kecewa, dia memintaku meminum kapsul, sejenis obat perangsang. Pada awalnya aku melakukannya karena ku fikir, dia hanya takut aku jatuh sakit atau malah pingsan saat dia sedang menikmati semuanya. Tapi saat dia memintaku melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya, rasa kecewa muncul. Semalaman, aku mengira kalau dia benar-benar menginginkanku, tapi saat itu semuanya runtuh, sangat sakit saat menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku!"
"Kau yakin akan melahirkan anaknya? Anak itu pada akhirnya akan selalu mengingatkanmu kepada Ayahnya."
"Aku juga berfikir begitu. Kekecewaanku karena menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku, juga hanya tubuhku yang menarik untuknya membuatku melawan kata hati untuk berdekatan dengannya, aku selalu menjauhinya tanpa sadar dan aku juga takut itu akan terjadi kepada anaknya. Aku takut kalau nantinya kekecewaan kepada Ayahnya berlanjut dan membuat bayiku menderita karena tersakiti oleh Ibunya sendiri. Tapi hari itu, saat Mark menyarankan aku untuk melihat bayiku, saat aku bisa memandangnya meskipun hanya gumpalan belaka, aku merasa dia hidup. Setiap aku menyentuh perutku, aku merasa dia begerak." Atsushi menitikkan air mata, ia tau kalau ucapannya terdengar sangat mengada-ngada. Janin itu tidak mungkin bergerak di usia kandungan yang baru dua bulan. Tapi dia benar-benar merasakannya, benar benar merasakan keharuan seorang Ibu karena ada keajaiban tumbuh dalam dirinya.
Naomi menghapus air mata Atsushi lembut. Atsushi tidak sedang bersedih, gadis itu sedang bahagia dan Naomi juga sangat bahagia mendengar ucapannya. "Dia adalah hadiah natal untukmu! Karena kau sudah bersikap sebagai anak yang baik selama ini!"
"Ya, hadiah yang sangat luar biasa." Atsushi menyentuh perutnya kembali dan membelainya lembut. "Kau akan datang ke Dalas untuk menjengukku, kan?"
"Pasti. Aku akan ada di saat kelahirannya. Anak pertamamu, hanya aku yang boleh menyambutnya, aku akan mengucapkan welcome dear kepadanya. Suaraku adalah satu-satunya suara pertama yang boleh di dengarnya."
"Oke, Baiklah kalau begitu!" Atsushi menyeka pipinya lagi meskipun Naomi sudah menghapus airmatanya. Ia hanya memastikan bahwa wajahnya tidak basah.
"Sekarang kau harus tidur. Tidak ada lagi kata bergadang karena itu bisa mengganggu kesehatan bayimu. Kalau tidak kau lakukan sekarang, aku pastikan insomnia akan mengganggumu selama berbulan-bulan kedepan!"
[ Bersambung ]
a/n: Pas baca ulang chapter ini, tiba-tiba di playlist keputer lagunya Day6 yang When you love someone, baper jadinya :"
Wkwkwk… Gimana, masih kurang nano-nano? :'v
Tunggu chapter selanjutnya yang bakalan makin nano-nano xD
Trims buat yang udah baca maupun review, see you di chapter berikutnya :*
