VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 26 ]
[Fish 'n Chips, Saint James, and that Park]
Seharusnya Dazai sudah kembali dari Jepang, tapi Akutagawa yang datang lebih dulu dan mengatakan kalau Dazai memperpanjang liburannya beberapa hari lagi. Atsushi berusaha untuk tidak kecewa meskipun pada kenyataanya ia sangat kecewa karena Dazai mengurangi frekwensi pertemuan mereka. Tapi Dazai tidak bisa di salahkan karena ia sama sekali tidak tau apa-apa. Dalam beberapa hari ini, Atsushi akan segera mengajukkan surat pengunduran diri karena ia akan segera pergi. Tuan Francis juga sudah mengetahui rencananya beberapa hari yang lalu dan masih tidak menyetujui keinginannya hingga sekarang, bosnya itu malah lebih setuju untuk memberikan waktu istirahat yang cukup selama sebulan. Seandainya sebulan saja cukup, Atsushi tidak akan meninggalkan pekerjaan yang sangat di cintainya itu. Tapi muncul kembali setelah satu bulan dengan perut yang membesar malah akan memancing keributan. Atsushi mendesah, seandainya Tuan Francis masih ngotot untuk menolak pengunduran dirinya, ia akan memilih untuk melarikan diri tanpa kabar apa-apa.
Belakangan Atsushi bahkan praktis tidak pernah berlari dan berjalan cepat seperti yang biasa di lakukannya. Sebisa mungkin ia menghindari gerakan-gerakan berbahaya, melepaskan high heels yang sangat di sukainya dan juga berhenti menggunakan padu padan Camisole dan blazer. Atsushi lebih suka menggunakan kemeja untuk pegi bekerja dan kemeja itu di biarkan keluar untuk menyembunyikan sesuatu dimana hanya segelintir orang yang mengetahuinya.
Jam makan siang sudah lama lewat, tapi jam pulang kerja juga belum datang. Kantor sudah sangat membosankan dan melelahkan untuk hari ini, terlebih setelah mendapat penolakan dari Tuan Francis untuk kedua kalinya. Rasanya ingin lari saja dan tidak datang lagi. Atsushi berdehem, dia pasti akan melakukannya cepat atau lambat.
"Kau sedang menghitung langkah? Kenapa jalanmu lamban sekali belakangan ini?" Akutagawa mensejajarkan diri dengan Atsushi, ia berhasil membuat Atsushi tersenyum karena berusaha mengikuti langkah-langkah lambatnya.
"Aku sedang ada masalah, jadi harus jaga kesehatan!"
"Kau sedang sakit?"
"Sakit?" Atsushi tidak yakin. Dia sangat bahagia dengan semua yang di dapatnya meskipun Naomi selalu menganggapnya menyembunyikan tekanan-tekanan yang mungkin dimilikinya. Tapi dia juga tidak bisa di bilang sehat karena kehamilannya membuat tubuhnya lebih lemah dan sangat mudah merasa lelah. "Mungkin seperti itulah. Aku mudah lelah, jadi Mark melarangku untuk mengerjakan pekerjaan- pekerjaan berat!"
"Mark? Siapa Mark?"
"Kau fikir siapa lagi orang yang bisa mengatur tindakanku kecuali dokter? Mark adalah dokter yang selalu perduli denganku!"
"Seperduli apa? Hati-hati dengan laki-laki. Dia berbuat baik bisa jadi karena ada maunya. Mungkin dia menyukaimu?"
Atsushi tertawa. Jelas saja Mark tidak begitu, Mark hanya hidup berdua dengan istrinya dan istrinya juga sama baiknya dengan laki-laki itu. Beberapa kali, Atsushi berkunjung ke tempat tinggalnya di Waterloo. Mark perduli pada Atsushi karena ia sedang mengkonselingi seorang Ibu muda yang pernah memiliki keinginan besar untuk menyingkirkan janin dalam kandungannya. Sedangkan istrinya belum juga di karuniai seorang anak setelah lima belas tahun menikah. "Dia sudah berkeluarga. Jadi jangan mengatakan hal buruk tentangnya. Aku akan membencimu dengan mudah!"
Kali ini giliran Akutagawa yang tertawa. "Kau mau kemana? Ada janji dengan Klien?"
"Aku mau membeli fish 'n chips lalu berjalan santai di Saint James Park!"
"Kau mau bolos kerja? Sekarang bukan jam pulang kantor!"
"Kau mau ikut?" Atsushi menghentikan langkahnya. Lalu memutar wajahnya menghadap Akutagawa yang tampak sedang memikirkan tawaran Atsushi. "Aku akan mentraktirmu fish 'n chips. Kita sudah lama tidak ngobrol!"
Akutagawa memandangi jam tangannya lama, lalu mengangkat wajahnya. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama menemanimu. Kalau begitu kau tunggu disini, aku akan jemput mobilku!"
"Jalan kaki saja!"
"Apa?"
"Jalan kaki. Saint James tidak jauh kan? Kita bisa jalan kaki dengan santai menuju kesana!"
"Tapi katanya Mark melarangmu mengerjakan hal yang berat berat!"
"Iya, Mark juga tidak melarangku untuk olah raga, dia menyaranku jalan kaki sebagai pilihan olah raga yang harus ku jalani. Kau tau, kan? Aku ini tidak suka olah raga!"
"Baiklah!" Akutagawa menyetujuinya. Ia agak kecewa karena tidak bisa menggunakan mobil. Tapi setidaknya bisa memiliki kesempatan yang cukup untuk menemani Atsushi sudah membuatnya gembira.
Sepanjang perjalanan menuju Saint James, Akutagawa tidak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan anehnya, Atsushi berubah menjadi seorang yang periang dan keceriaanya merasuki siapa saja yang ada di sekitarnya. Bahkan gadis itu beberapa kali menyapa Ibu-Ibu yang membawa anaknya jalan-jalan. Dia sedang menyukai anak-anak.
"Kau ingin punya anak?" Tanya Akutagawa. "Kau senang sekali melihat anak kecil!"
"Perempuan mana yang tidak ingin memiliki anak?"
"Kau akan punya anak dari Dazai!" Akutagawa berhenti bergerak saat Atsushi menghentikan langkahnya dan memandang Akutagawa heran. Akutagawa terkejut dengan reaksi yang di berikannya. "Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku?"
Atsushi menggeleng. "Kenapa kau tidak bilang kalau toko fish 'n chips sudah lewat? Kau tunggu disini, biar aku kembali lagi!" Atsushi berbalik berjalan menuju toko yang khusus menjual fish 'n chips yang tidak begitu jauh terlewat di belakang mereka.
Akutagawa hanya tersenyum. Semula ia mengira Atsushi terkejut mendengar kata-katanya tapi ternyata gadis itu lebih terkejut karena menyadari Toko fish 'n chips sudah terlewati. Dia sagat ingin makan Fish 'n Chips? Bisik Akutagawa kepada dirinya sendiri. Bunyi dering ponsel mengejutkan Akutagawa. Ia mengankat ponsel yang diraih dari saku Jasnya, dari Dazai.
"Moshi-moshi? Ada apa?" Tanya Akutagawa galak.
"Kau kenapa? Aku mengganggu? Aku sedang berada di kantormu dan kau tidak ada. Kau kemana?"
"Aku sedang berkencan, Makan fish 'n chips sambil mengelilingi Saint James Park dengan seorang gadis. Kau sangat mengganggu kencan romantisku!"
Dazai tertawa keras. "Tinggalkan gadis itu, segeralah kesini. Aku mau masuk ke flat ku dan kuncinya tergantung di kunci mobilmu, kan?"
"Tinggalkan?" Akutagawa mendesis. "Enak saja sembarangan bicara. Kau seperti tidak kenal Nakajima Atsushi saja, dia akan marah besar kalau aku melakukan hal gila seperti itu!"
"Atsushi, maksudmu Venusku? Dia sedang bersamamu? Bagaimana bisa kau berkhianat dengan mengencani calon kakak iparmu. Kau tunggu disana, Aku akan menyusul!" Dazai menutup telponnya.
Akutagawa tertawa. Ia tau kalau Dazai sangat ingin bertemu dengan Atsushi, laki-laki itu bahkan melarang siapun menyentuh biskuit pemberian Atsushi dan biskuit itu hanya akan di pandanginya selama seharian. Kakak perempuannya mengeluhkan tingkah Dazai yang tak biasa tapi menyenangkan orang tuanya. Merindukan Atsushi berarti mengharapkannya. Meskipun berat, Akutagawa juga senang melihat Dazai bahagia.
"Kau menertawakan apa?"
Akutagawa mengangkat kepalanya dan menatap Atsushi yang menyodorkan Sebungkus fish 'n chips kepadanya. Ia meraihnya dengan senang hati. "Tidak, bukan sesuatu yang penting. Kita akan makan ini sambil berjalan?"
Atsushi menggeleng. "Aku sudah lelah, kalau kesana bagaimana?"
Akutagawa memandang lokasi yang di tunjuk oleh Atsushi, sebuah tanah penuhi dengan salju putih yang mulai menipis. Hari ini cukup kering dan duduk di atas bangku taman itu mungkin akan lebih nyaman di bandingkan berjalan kaki di udara dingin. Setelah memberi anggukan, Akutagawa mengikuti Atsushi yang berjalan kearah yang di inginkannya dan duduk di bangku taman yang kosong. Mereka mulai membuka fish 'n chipsnya dan Atsushi makan dengan sangat lahap. Ia menghabiskan Fish 'n chips miliknya dalam sekejap.
"Lihatlah, kau seperti orang yang sangat kelaparan." Suara Akutagawa terdengar agak mengejek.
Sepertinya, Atsushi tidak terpengaruh sama sekali. Ia mengusap mulutnya yang agak berminyak dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan bahagia. "Aku semalaman memikirkan ini. Duduk disini sambil makan fish 'n chips. Aku kira aku akan melakukannya sendirian. Terima kasih sudah mau menemani!"
Akutagawa tersenyum lagi, lalu menyodorkan fish 'n chipsnya. "Kau mau lagi?"
"Tidak. Itu untukmu, Makanlah! Aku tidak begitu suka fish 'n chips. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya makan fish 'n chips di tempat seperti ini!"
"Kau tidak sedang merindukan Dazai kan?" Akutagawa mulai menyantap fish 'n chips nya perlahan-lahan. "Aku tau kau sangat merindukannya, kenapa tidak temui saja dia?"
"Kenapa kau bilang begitu? Tidak ada hubungannya antara Saint James, fish 'n chips dan Dazai Osamu."
"Memang! Tapi kau berusaha menghindari semua pembicaraan tentangnya. Beberapa hari ini, tadi juga saat kita melewati toko fish 'n chips. Kalian berdua kelihatannya saling menginginkan. Aku fikir aku akan cemburu, tapi ternyata tidak. Kalian berdua sangat serasi dan aku berharap kau tidak akan pernah memutuskan pertunangan kalian lagi!"
Atsushi mendesah wajahnya yang kemerahan mendadak kehilangan keceriaanya. "Bisakah kita tidak membicarakan hal-hal seperti itu? Aku fikir pembicaraan tentang musim semi yang akan segera datang lebih menarik."
"Baiklah, pembicaraan tentang musim semi yang seperti apa?"
"Jika aku ingin menyambut kedatangan musim semi di suatu tempat. Dimana tempat yang bagus ya? Udara musim semi konon bisa menghilangkan stress."
"Memangnya kau sedang stress?"
"Tidak, tapi siapa yang tau itu akan segera terjadi. Botany bay bagus tidak? Musim semi di daerah pertanian pasti lebih indah."
"Bagaimana kalau di Costwold, disana juga ada pertanian kan? Kalau kau ingin liburan, disana pilihan yang tepat, sarana umum cukup lengkap jadi kalau kekurangan sesuatu, tidak pelu mencari terlalu jauh. Sewa vila di Dust Stable juga tidak begitu mahal. Tapi demi kepuasan mahal juga bukan masalah." Akutagawa menoleh tanpa sengaja kepada Atsushi dan ternyata gadis itu sedang menatapnya. "Kenapa?"
"Kau makan saja dulu baru bicara!"
Akutagawa melirik fish 'n chips nya yang masih sangat banyak. Padahal ia merasa sudah makan cukup banyak. Makanan ini akan segera dingin jika tidak segera di habiskan. Jadi, Akutagawa setuju untuk menghabiskan fish 'n chipsnya tanpa bicara. Sesekali ia memandangi beberapa orang yang berlalu lalang di depan mereka sambil terus menyantap fish 'n chipsnya hingga benar-benar habis. Akutagawa memutar kepalanya mencari tong sampah dan tanpa di sengaja matanya melihat Atsushi duduk dengan khusu'. Kedua kakinya menekuk dan wajahnya tenggelam di sana. Ia membuat kepalanya nyaman dengan kedua lengannya. Tidur?
"Atsushi, kau sedang tidur? Kalau begitu kita pulang saja" Akutagawa berujar lirih.
"Tidak, aku tidak tidur. Kau pulang saja duluan. Tadi kau bilang tidak bisa menemaniku berlama-lama. Aku masih akan terus disini dalam waktu yang lama!" Atsushi bicara tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. Mungkin Atsushi tadi memang tertidur lalu terbangun oleh suara Akutagawa.
Jika saja ia tidak melihat Dazai dari kejauhan, Akutagawa tidak akan beranjak pergi meninggalkan Atsushi begitu saja. Tapi keberadaan Dazai bisa membuatnya kembali kekantor dengan tenang. "Baiklah. Aku pulang dulu ya?"
Atsushi tidak menjawab. Pasti sudah kembali tidur. Akutagawa berdiri dan berjalan menyongsong Dazai. Laki-laki itu memasang wajah kesal untuk menyerangnya, hal itu malah membuat Akutagawa ingin tertawa sekuat yang ia bisa. Dazai tidak pernah merasa cemburu seumur hidupnya. Ini pasti kali pertama. "Kau jangan marah padaku. Dia yang memaksaku menemaninya makan fish 'n chips di Saint James." Akutagawa membela diri sebelum Dazai menghajarnya. "Pergilah kesana, temani dia. Venusmu sedang tidur. Dia bilang, belakangan ini dia sangat mudah merasa lelah!" Akutagawa pergi tanpa memberi kesempatan kepada Dazai untuk membalas semua ucapannya.
Dazai menatap Atsushi yang meringkuk di atas bangku taman dari kejauhan. Melihat Atsushi yang seperti itu, etah mengapa Dazai di rasuki rasa sepi yang dahsyat. Siapa yang kesepian? Dirinya? Atau Nakajima Atsushi yang sedang terlelap disana? Dazai melangkah perlahan-lahan dan duduk di sebelah tunangannya. Ia melihat jari Atsushi yang masih menggunakan cincin pemberiannya dan hatinya bersorak. Dazai mendekatkan tangannya kekepala Atsushi dan membelainya beberapa kali. Gadis itu mengangkat kepalanya dan membuka mata sehingga Dazai dengan cepat menarik tangannya dan menyembunyikannya kedalam saku celana. Sedetik mata mereka beradu pandang tapi Atsushi segera membuang wajahnya kearah lain.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Atsushi dengan suara sengit.
"Kau ini kenapa? Kenapa setiap kali melihatku selalu naik darah? Salahku apa?"
Atsushi menghela nafas dan mengatur suaranya agar lebih pelan dan sopan. "Suasana hatiku sedang buruk. Maaf kalau kau tersinggung!"
"Aku baru saja pulang. Seharusnya disambut dengan senyum." Dazai masih kesal dengan respon yang di dapatnya dari Atsushi. "Ibuku sangat senang dengan biskuitmu! Dia bilang rasanya enak!"
Wajah penuh kekesalan Atsushi tiba-tiba di hiasi senyum senang. "Menurutmu bagaimana?"
"Lumayan!" Dazai berbohong. Ia bahkan belum memakannya sampai saat ini. Sulit bagi Dazai untuk menyembunyikan kegugupannya. Tapi ia tidak perlu melakukannya karena Nakajima Atsushi sudah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa. Dazai benar-benar terpaku, Apakah ia harus mengejarnya? Tapi kenapa tubuhnya tidak bergerak seincipun?
[ Bersambung ]
