VENUS
Dazai and All the Girls Around
[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]
[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]
Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
.
[ Bagian 27 ]
[Finnally, Someone Know It!]
"Aku sudah bilang, Kau boleh ambil cuti tapi jangan berhenti. Bagaimana bisa aku melepas seseorang yang kompeten sepertimu?" Tuan Francis berusaha untuk tidak memandang wajah Atsushi yang berdiri di hadapan meja kerjanya. Tentu saja sangat berat untuk melepas seorang pengacara yang konsisten dan selalu tepat waktu. Nakajima Atsushi bahkan tidak pernah melalaikan pekerjaanya walaupun dia sering tidak berada di tempat.
Atsushi kecewa. Ini ketiga kalinya ia membawa sebuah Amplop coklat yang berisi surat pengunduran dirinya dan ketiga kalinya juga ia di tolak. Apakah ia memang harus melarikan diri seperti yang pernah di rencanakannya? Entahlah, ia benar-benar sedang bingung. "Tapi sebulan sama sekali tidak cukup. Aku bahkan membutuhkan waktu selama setahun."
"Memangnya apa yang akan kau kerjakan sampai kau membutuhkan waktu selama itu? Kau ingin bekerja di kantor pengacara lain? Ada tawaran yang lebih baik dari semua yang sudah ku berikan?"
"Tidak, bukan seperti itu. Percayalah, Jika nanti aku berniat menjadi pengacara lagi, Aku pastikan aku akan kemari dan menemuimu. Tapi aku benar-benar membutuhkan waktu istirahat yang panjang."
"Apa itu sejenis penyembuhan kanker?" Suara tuan Francis sedikit mereda. Ia sengaja memelankan suaranya agar tida ada seorangpun yang mendengarkan suaranya selain mereka berdua. "Akutagawa bilang kau sedang sakit!"
Atsushi angkat bahu, bukan itu alasannya ingin mengundurkan diri tapi seandainya hanya itu yang bisa di terima Tuan Francis. "Aku tidak begitu yakin, Tapi aku sudah memeriksanya dan ada sesuatu yang asing di tubuhku, tapi tidak bisa di bilang sangat asing Tuan, sudah dua bulan setengah dan mau tidak mau sudah menjadi bagian dari diriku. Aku harus mengorbankan banyak waktu untuk menjaga kesehatan, meminum banyak vitamin, aku bahkan harus merubah pola hidup, tidak bisa tidur terlalu malam karena itu akan sangat berbahaya bagiku. Karena itu, Aku mohon..."
"Astaga, aku rasa itu sejenis tumor!" Tuan Francis berseru. Ia memandangi Atsushi sekali lagi lalu menghela nafas berat. "Baiklah Aku terima pengunduran dirimu. Tapi jangan sampai kau membuatku kecewa ketika mendengar kau bekerja di kantor yang lain dengan profesi sama. Aku tidak akan merelakannya, kecuali kalau kau berada di luar negri tentunya."
"Terima kasih!"
"Kalau begitu keluarlah. Mulai saat ini aku tidak mau melihatmu ada di kantor ini sampai satu tahun kedepan."
Atsushi tersenyum. Ia menundukkan tubuhnya sambil mengucapkan terimakasih berulang-ulang sampai akhirnya Atsushi berada di luar ruangan Tuan Francis dan pintu tertutup. Sakit? Atsushi berusaha menahan tawanya sebisa mungkin, Tapi ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.
"Kau kenapa?"
"Aku? Tuan Francis percaya kalau anak yang aku kandung adalah tumor!" Atsushi akhirnya melepaskan tawanya, tapi hanya sementara karena tawa itu langsung memudar saat menyadari kalau yang bertanya adalah Akutagawa. Ia menutup mulutnya rapat-rapat lalu memukul keningnya dengan telapak tangan karena sudah kelepasan berbicara.
"Anak? Kau..."
"Maaf aku ada janji. Aku pergi dulu!"
Untuk sementara waktu Akutagawa terpaku di tempatnya, tapi sesegera mungkin ia berusaha mengumpulkan semua indranya dan menyusul Atsushi yang sudah masuk ke ruang kerjanya dan keluar lagi dari sana dengan membawa tas kesayangannya. Akutagawa tetap berusaha mengejar Atsushi yang terus menghindar, tapi Atsushi tidak bisa bergerak cepat, dan Akhirnya Akutagawa tau alasannya.
"Kau hamil? Benarkah?" Akutagawa masih berusaha mencari tau, ia terus berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan Atsushi yang kelihatannya sedang merasa tidak enak dan salah tingkah. "Kau tidak menceritakannya padaku? Menunggu waktu yang tepat atau memang tidak akan menceritakannya sama sekali?"
Atsushi berhenti melangkah. Lalu memandang Akutagawa dengan pandangan menyesal. "Maafkan aku, berat untukku menceritakan hal ini."
"Siapa ayahnya?" Akutagawa memotong perkataan Atsushi. Dia sama sekali tidak membutuhkan permohonan maaf apa-apa, yang di butuhkannya adalah Atsushi mengakui siapa yang sudah melakukan hal itu kepadanya, siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Tapi Atsushi tidak menjawab, gadis itu membuang pandangannya kearah lain. "Siapa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya!"
"Kenapa? Dazai orangnya?" Akutagawa memegangi kepalanya. Kenapa ia berfikir kalau Dazai orangnya? Dazai pernah mengakui kalau dia sudah bercinta dengan Atsushi, dan saat itu Dazai mengaku kalau Atsushi tidak hamil. Tapi Bukankah Atsushi memberikan biskuit berbentuk kaki bayi kepada Dazai? "Kau membohongi Dazai? Dia bilang tidak terjadi apa-apa kepadamu setelah kalian bercinta!"
"Kau!" Atsushi mendadak gugup. "Kau tau darimana kalau aku dan dia..." Atsushi tidak meneruskan ucapannya. Ia lebih memilih untuk duduk di beberapa anak tangga yang berada di depan pintu kantor. "Aku juga baru tau beberapa minggu yang lalu! Saat itu, usia kandunganku sudah hampir dua bulan. Aku juga sempat berfikir untuk menggugurkannya, tapi aku tidak tega."
Akutagawa mereda, ia duduk di sebelah Atsushi masih dengan wajah yang shock. "Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa kepadanya?"
"Karena dia tidak akan menerimanya!"
Akutagawa menghela nafas berat. Ia teringat dengan kata-kata Dazai di bandara pada waktu Akutagawa melihat biskuit natal pemberian Atsushi untuknya. Dazai membutuhkan Atsushi, tapi dia sulit untuk berkomitmen. Kehadiran anak itu pasti sangat mengganggunya dan itu bisa membuatnya menjauhi Atsushi. Tidak, Dazai mungkin akan tetap mempertahankan Atsushi untuk terus berada di sisinya tapi Atsushi harus menyingkirkan bayinya. Seorang wanita pernah hampir bunuh diri karena Dazai melakukan hal itu dulu, dan tidak ada jaminan kalau Dazai tidak akan mengulanginya lagi kali ini. "Jadi kau memutuskan untuk melahirkannya?"
"Ya, Aku harus bersusah payah menyembunyikannya dari Ayahnya, padahal aku sangat ingin berada dekat dengan Dazai. Selama ini aku selalu menyalahkan Dazai yang hanya memperdulikan gairahnya, Aku bahkan memutuskan pertunangan karena itu dulu. Tapi sekarang aku merasakannya dan aku tau betapa menderitanya dia waktu itu." Atsushi mendesah tidak seharusnya ia menceritakan hal seperti itu kepada Akutagawa. Ia berharap Akutagawa tidak mengerti ucapannya.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"
Atsushi bernafas lega karena Akutagawa tidak melanjutkan pembahasan anehnya tentang gairah. "Entahlah. Sekarang yang pasti aku harus kerumah Mark karena istrinya mengundangku untuk dinner."
"Kalau begitu aku antar!"
"Tidak usah, Aku masih bisa pergi sendiri!"
"Jangan pernah menolak. Kau sudah membuatku merasa bersalah dengan semua ini, Aku menyerahkan gadis yang kusukai kepada sepupuku yang berengsek. Sekarang kau tau bagaimana perasaanku mengetahui dirimu akan disia-siakan dengan sebuah beban?"
Apa? Akutagawa menyukai...siapa? Atsushi terperangah. Kenapa Akutagawa tiba- tiba mengatakan hal seperti itu di saat yang sangat tidak tepat seperti sekarang? Seandainnya Akutagawa mengatakan itu sejak dulu, Atsushi pasti sudah menjauh dari Dazai sebelum semua hal ini terjadi. Tapi Atsushi tidak merasa kecewa, tidak merasa menyesal. Yang dia rasakan hanya sebuah perasaan ingin tau yang sangat besar kenapa Akutagawa tidak mengusahakannya, "Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kau membiarkan Dazai yang datang bersama Ayahmu? Kalau kata-katamu ini benar, kenapa bukan kau yang..."
"Karena aku terlalu takut!" Akutagawa berhenti bicara sejenak dan berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang. "Aku sudah bilang, kan? Aku dan Dazai adalah orang yang sama. Aku takut berkomitmen, terlebih saat aku tau kalau aku harus melakukannya di usiaku yang sekarang dan dengan orang sekaku dirimu."
Atsushi terdiam. Ia sangat kaku, ya dulu Atsushi memang orang yang begitu dan Dazai juga pernah mengatakannya. Dia bukan orang yang menarik untuk laki-laki manapun dan saat itu dia juga menyadarinya. Karena itu Atsushi mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar Akutagawa bisa tertarik kepadanya. Sayangnya Dazai Osamu yang melihatnya dan Dazai Osamu yang menikmatinya. Astaga, Atsushi tidak menyangka semuanya ternyata seperti ini. Tidak menyangka kalau perhatian Akutagawa selama ini bukan perhatian seorang saudara seperti yang pernah di katakannya. Atsushi berdiri dari duduknya lalu memandang Akutagawa dengan sebuah senyum yang di usahakan dengan susah payah. "Sudahlah, Semuanya sudah lewat dan aku tidak menyesali apa-apa, aku tidak menyesali satupun kejadian yang terjadi karena ini. Aku juga tidak menyesali kehamilanku. Aku ingin mengugurkannya pada waktu itu juga bukan karena aku menyesal, kau jangan salah sangka!"
Akutagawa mengangkat wajahnya dan memandangi Atsushi dengan serius. Atsushi memang tidak terlihat seperti seseorang yang menyesal.
"Aku cuma takut dia menderita karena sangat banyak orang yang tidak menginginkannya. Tapi Mark menyadarkanku kalau cukup aku saja yang menginginkannya, maka dia akan terlahir dengan bahagia." Mata Atsushi berkaca-kaca, ia selalu di penuhi emosi yang tidak menentu setiap kali membicarakan janin dalam kandungannya. Setetes air mata jatuh dan dengan cepat ia menyekanya. "Maaf, secara hormonal, aku sangat kacau, jadi aku seringkali bersikap emosional seperti ini. Jadi kau tetap mau mengantarku?"
"Aku..." Akutagawa terdiam menahan kata-katanya, ia ingin bertanggung jawab pada Atsushi, ia akan menikahi Atsushi dalam keadaan apapun. Tapi Akutagawa ragu, ia tidak yakin bisa menerima anak itu. "Aku akan tetap mengantarmu jangan khawatir!"
Atsushi lagi-lagi tersenyum. Ia dan Akutagawa dalam waktu singkat sudah berada di dalam mobil dan menjalani sebuah perjalanan yang terasa sangat panjang karena tidak ada satupun di antara mereka berdua yang bicara. Atsushi keluar dari mobil dalam jarak yang masih cukup jauh dari lingkungan apartement dimana Mark tinggal. Akutagawa pada awalnya memaksa untuk mengantarnya sampai Apartemen tapi Atsushi menolak dengan alasan ia harus lebih banyak berolah raga dan satu-satunya olah raga yang bisa di lakukannya hanya jalan kaki. Mengingat sulitnya bagi Atsushi menyenggangkan waktu untuk itu, ia harus berusaha mengakali olah raga disela-sela pekerjaannya. Akutagawa akhirnya bisa menerima meskipun dengan berat hati.
[ Bersambung ]
