VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 28 ]

[Retaliation of Goddess Passion]

Mungkin setelah ini Atsushi harus menghindar untuk bertemu dengan Akutagawa, mengetahui kenyataan ini malah membuat perasaanya menjadi sangat tidak nyaman. Tapi bukankah dia memang tidak perlu khawatir? Atsushi sudah mengundurkan diri hari ini dan mulai besok hingga minggu depan adalah waktu-waktu untuk bersantai di rumah sambil mempersiapkan kepergiannya ke Dalas. Atsushi merogoh tasnya dan mengambil ponsel yang berdering, Ponsel Dazai. Ia menghela nafas karena dengan berat hati belakangan ini Atsushi menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Mark. Setelah ini ia akan meminta Mark untuk menelpon ke flat saja jika ada perlu, dan sebelum pergi ia sudah harus mengembalikan ponsel ini kepada pemiliknya. Atsushi menganggkatnya, Alice, istri Mark.

"Hallo dear, Kau sudah sampai dimana sekarang?" Alice berbicara dengan logat Irlandia. Atsushi sanga suka dengan cara bicara wanita itu sejak Mark memperkenalkan mereka.

"Aku sudah berada di bawah, tapi aku tidak bisa lama!"

"Itu biar kita bicarakan nanti saja, sekarang cepatlah naik karena makanan-makanan buatanku sudah menunggu."

"Baiklah!" Atsushi menjawab lemah.

Langkah demi langakah terus di jalaninya menuju latai delapan kawasan apartemen mewah itu. Selalu begini, Alice sangat antusias terhadap kehamilan Atsushi dan tidak seharipun di lewatinya tanpa mengawasi segala hal menyangkut asupan gizi saat makan siang. Setiap jam makan siang, mendadak Atsushi di kenakan kewajiban untuk menyantap semua masakan sehat ala Alice dan itu sudah berhasil membuat berat badannya naik beberapa kilo. Sebenarnya Atsushi sendiri merasa bahagia karena sangat banyak orang yang memperdulikannya, tapi meskipun begitu ia tetap merasa tidak enak dan merepotkan banyak orang. Atsushi menghela nafas pelan sambil menunggu lift terbuka. Mulai sekarang, ia harus membiasakan diri untuk itu karena saat di Dalas nanti Alice dan Mark adalah keluarganya yang baru.

Sebuah dentingan halus membuat Atsushi kembali kedunia nyata, lift benar-benar terbuka dan dirinya harus berebutan dengan beberapa orang untuk masuk. Kelihatannya hari ini sangat banyak pendatang, entah dari luar atau memang penghuni gedung ini juga. Yang pasti orang-orang itu menyesaki lift sehingga Atsushi harus terdesak kesudut. Seseorang lagi masuk, seseorang yang sangat Atsushi kenal dan orang itu langsung tersenyum saat melihat kearah Atsushi. Dazai Osamu seharusnya berdiri di barisan paling depan, tapi ia memilih untuk menyeruak kerumunan berdiri di sebelah Atsushi. Ia sudah berhasil membuat gadis itu tidak tenang.

"Kau disini sedang apa?" Dazai bersuara tanpa melirik ke Atsushi.

Tapi Atsushi memandangnya, memandang dengan penuh harap, entah mengapa. Gadis itu berusaha melayangkan pandangannya ke tempat lain, kearah pintu lift yang tertutup perlahan-lahan. "Aku ada janji!"

"Dengan siapa?"

"Apa kau perlu tau? Ini urusanku dan aku juga tidak akan mencampuri urusanmu, jadi sekarang diamlah!"

Nakajima Atsushi selalu dingin seperti ini, entah sampai kapan. Sayangnya, apapun yang Atsushi lakukan malah membuat Dazai semakin merindukannya. Dazai meridukan Atsushi!. Tapi seperti apa reaksi Atsushi bila ia mengetahui perasaan rindu Dazai kali ini? Gadis itu pasti akan marah atau menamparnya. Dazai memandangi Atsushi agak lama, ia terlihat berbeda tapi Dazai masih belum bisa menangkap perbedaanya. Masih dengan gayanya yang biasa, make up, rambut yang di kuncir rapi, kemeja sutra berlengan panjang dan rok pensil selututnya. Gaya orang kantoran pada umumnya. Apakah itu yang membuatnya berbeda? Dazai memandang sepatu yang Atsushi kenakan, sepatu beludru lancip dan berhak datar. Dazai tersenyum pahit, Atsushi tidak mungkin berubah hanya karena sepatu. Di wajahnya ada binaran yang membuatnya terlihat semakin cantik. Binaran itu ada karena apa? Nakajima Atsushi tidak pernah secemerlang itu sebelumnya.

Mata Dazai menatap sesuatu. Seorang laki laki yang berdiri didepannya mengulurkan tangan menelurusuri mantel yang tersampir di lengan Atsushi. Ia sudah tau kalau laki-laki maniak seperti ini sangat suka beraksi di tempat ramai dan sempit. Dia akan menyentuh wanita yang ada di sekitarnya dan kemudian berpura-pura tidak tau. Yang pasti, siapapun yang berada di posisi Dazai sekarang adalah orang yang memiliki keuntungan maupun kesialan. Keuntungan bila dia bisa menangkap gerakan tangan cepat laki-laki itu dan kesialan bila semua gerakan laki-laki maniak itu tidak tertangkap maka tuduhan akan beralih kepadanya. Apapun yang akan laki-laki itu lakukan, Dazai tidak aka pernah membiarkannya.

"Venus, izinkan aku melakukan sesuatu, hari ini saja!" Dazai merapatkan dirinya kepada Atsushi membuat laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya. Tapi tidak akan ada seorangpun yang bisa menjamin kalau laki-laki itu tidak akan mengulangi tindakannya saat Dazai lengah.

Atsushi memandang angka merah yang bercahaya di atas pintu lift yang tertutup rapat, mereka baru sampai di lantai tiga dan Atsushi harus menunggu beberapa lantai lagi untuk sampai di apartement Mark di lantai delapan. Ia memandang Dazai gelisah. "Melakukan apa?"

"Kau fikir apa? Aku tidak akan melakukan apa-apa!"

"Kau tidak akan berusaha menyentuhku di tengah orang banyak, kan? Aku bersumpah akan menghilangkan nyawamu bila itu terjadi."

"Baiklah, aku tidak akan melakukan itu tanpa izinmu!"

Atsushi menelan ludah. "Lalu kau ingin melakukan apa?"

Dazai mendekatkan wajahnya ke telinga Atsushi lalu berbisik pelan, sangat pelan sehingga di ragukan ada orang lain yang akan mendengarnya selain mereka berdua. "Rapatkan tubuhmu ke dinding. Kau hanya perlu mundur selangkah kan?"

Tanpa berkata sepatahpun Atsushi mundur selangkah hingga pingganya menyentuh dinding Lift yang memantulkan bayangan punggungnya. Jantungnya seakan-akan melompat saat Dazai berdiri di hadapannya dan membelakangi orang lain yang menyesaki lift.

"Kau sedang melakukan apa?"

"Ada seorang maniak yang akan berusaha menyentuhmu. Aku bersumpah tidak akan mengizinkannya melakukan itu!" Jawab Dazai sambil berbisik.

Atsushi melepaskan sebuah senyum ejekkan sedetik. "Lalu apa bedanya kau dengan orang lain? Kau juga maniak!"

"Aku bisa menyentuhmu kapan saja karena kau adalah tunanganku!" Ujar Dazai keras. Ia sedang memberi jawaban atas pandangan orang-orang yang menghujani mereka dengan tatapan penuh tanya. "Setidaknya selagi kau menggunakan cincin itu, aku wajib melindungimu. Jadi berhentilah bersikap seperti ini!"

Atsushi memandang Angka merah di atas pintu lift sekali lagi untuk melenyapkan kegugupannya. Lantai lima, Pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang keluar dan masuk. Atsushi semakin khawatir saat seseorang berlama-lama berdiri di depan lift sehingga membuat pintu lift semakin lama terbuka. Ia gelisah, Atsushi berusaha menundukkan wajahnya tapi ada sesuatu yang mendesak yang membuat kepalanya menengadah dan memandang Dazai yang masih memandangnya. Gairah yang muncul begitu saja sudah tidak bisa di tahan, Atsushi sudah menunggunya terlalu lama dan ia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Sesuatu yang merasukinya membuat Atsushi mengutuki dirinya sendiri saat kedua lengannya melingkari leher Dazai, saat bibirnya menyentuh bibir Dazai dan mencumbunya dengan penuh kerinduan. Tapi Atsushi hanya bisa mengutuki dirinya dalam hati dan kutukan itu sama sekali tidak kuasa untuk membuatnya berhenti. Dazai terkejut, ia bisa merasakan getaran tubuhnya, tapi Atsushi tidak mau perduli. Nafasnya tersengal- sengal menanti sentuhan dan meskipun butuh waktu, Dazai memberikannya. Laki-laki itu memenuhi harapannya dengan membelai punggungnya, memeluk erat pinggangnya, meremas payudaranya, Atsushi mengerang dalam hati dan ia belum ingin berhenti. Mungkin ini adalah yang terakhir kali karena minggu depan ia akan berangkat ke Dalas bersama Mark dan Alice. Dan saat itu, Atsushi pasti akan sangat merindukan Dazai di setiap detik yang ia lalui.

Udara di penghujung musim dingin dan Air conditioner yang menyelubungi mereka membuat Dazai bisa merasakan panas melalui liat bibir Atsushi. Ia sebenarnya sama sekali tidak mengerti dengan Atsushi hari ini. Tapi kenapa ia harus peduli? Dia tidak menyentuh Atsushi tanpa izin, Atsushi yang memulainya lebih dulu. Dazai hanya ingin menikmati semuanya meskipun ia meragukan kalau dirinya benar-benar menginginkannya. Bisa berdekatan dengan Atsushi sedekat ini saja sudah cukup membuatnya merasakan kalau anugrah Tuhan sedang melingkupinya meskipun di saat yang sama bisikan-bisikan tentang mereka terdengar jelas. Semua orang yang menyesaki lift mungkin sedang memandangi mereka saat ini beberapa memuji betapa mereka terlihat serasi dan sebagian lagi mencaci maki karena melakukan hal yang bersifat pribadi di depan banyak orang. Apapun pendapat mereka, Dazai akan lebih suka menganggap kalau semua orang sedang iri meliihat dirinya memeluk tubuh yang indah seperti yang Atsushi miliki dan semua perempuan bersedih karena tidak sedang berada dalam pelukannya.

Telapak tangan Dazai menemukan kulit payudara yang lembut, meskipun harus terhalang oleh kemeja yang hanya terbuka seluas tangannya, meskipun remasannya, cubitannya, belaiannnya terhalang oleh bra yang sangat ketat. Dazai bisa merasakan kalau Atsushi lebih sensitif. Ada sesuatu yang terjadi dengan tubuh gadis itu dan Dazai bisa merasakan perubahannya saat menjelajahi setiap inci tubuh Atsushi dengan tangannya. Tapi desahan demi desahan terus membisiki Dazai untuk berhenti berfikiran yang lain-lain, hanya Atsushi yang sekarang semakin liar saat menciumi lehernya dan meninggalkan bekas yang lembab lalu kembali bibir bertemu bibir. Ciuman erotis yang membuat Dazai melupakan sudah berapa kali lift berhenti dan sudah berapa banyak orang yang keluar sehingga hanya mereka berdua yang tertinggal di dalamnya. Atsushi menggigit bibirnya, lehernya, membelai dadanya, menyentuh perut dan semakin liar menjalar ke bagian-bagian penting milikknya yang sudah menunggu cukup lama.

"Apa kita harus melakukannya sekarang?" Dazai berdesis mesra. Tiba-tiba saja ia merasa telah melakukan kesalahan karena Atsushi segera menghentikan kecupannya dan menarik tubuhnya secepat mungkin, tapi bagaimana mungkin bisa? Atsushi tidak akan bisa pergi jauh karena tubuhnya tersandar di sudut.

Untuk beberapa lama mereka berdua saling bertatapan. Atsushi merasa sudah melakukan kesalahan, sudah memberikan harapan sedangkan dalam waktu dekat ia akan segera pergi menjauh meninggalkan Dazai Osamu disini. Tidak, Atsushi tidak sedang memberi harapan kepada Dazai tapi pada dirinya sendiri.

Sebuah dentingan lembut kembali membuat perhatian Atsushi teralih ke angka yang berada di atas pintu lift. Mereka sudah kembali lagi ke lantai tiga? Atsushi mendesah. Pintu lift terbuka dan seorang wanita ada di baliknya, ia mematung saat melihat Atsushi dan Dazai lalu mengurungkan niatnya untuk masuk. Pintu lift tertutup lagi. Sebuah remasan di payudaranya membuat Atsushi mengerang, Dazai melanjutkan kehendaknya dengan menghujani Atsushi dengan ciuman. Gadis itu menolak dan mendorong tubuh Dazai jauh-jauh.

"Sudah cukup!"

Suara Atsushi yang tidak begitu kuat membuat Dazai melepaskan tubuh Atsushi dari kuasanya. Ia memandangi Atsushi yang memperbaiki pakaiannya. Beberapa lembar rambutnya yang keluar dari ikatan semakin membuat Atsushi terlihat seksi dan membuat Dazai semakin menyesal karena sudah bersuara tadi.

"Kenapa? Kau kehilangan mood?" Tanya Dazai.

Atsushi maju beberapa langkah dan menekan tuts lift yang berangka delapan. Secepat mungkin Lift yang tadinya sudah sampai di lantai dasar kambali melesat keatas tanpa hambatan. "Maaf. Aku rasa secara hormonal aku sedang kacau. Tadi itu benar-benar di luar kendali."

Dazai menunduk dan mengambil Mantel Atsushi yang terjatuh. Atsushi mungkin terlalu gugup hingga ia melupakan Mantelnya. Laki- laki itu memberikan mantel bulu berwarna coklat muda itu kepada Atsushi dan gadis itu meraihnya. Atsushi sedang berusaha untuk tidak memandangnya dan itu membuat Dazai lebih merasa kecewa bila di bandingkan dengan hasrat kali ini yang tidak kesampaian. "Secara hormonal sedang kacau? Kau sedang menstruasi?"

"Sudah tidak usah di bahas lagi!" Atsushi menyentuh kepalanya lalu memandang Dazai dan berbicara dengan nada yang tinggi. "Makanya jangan pernah mendekat kepadaku!"

"Padahal aku benar-benar berfikir kita akan melakukannya di lift! Aku belum pernah seperti ini sebelumnya!"

Bunyi dentingan halus terdengar lagi. Mereka sudah berada di lantai delapan dan Atsushi segera keluar secepat mungkin tanpa menoleh lagi kearahnya. Dazai menelan ludah, Atsushi benar-benar sudah membuatnya gila. Sudah begitu lama Atsushi bersikap dingin kepadanya, hari ini gadis itu kembali membangkitkan angan dan gairahnya. Membuat hatinya kembali merasa hangat lalu kembali memadamkan bara di dalam dirinya dengan kejam. Gadis itu selalu membuatnya bingung. Dazai kembali ke lantai lima. Chuuya sedang menunggunya disana karena wanita itu ingin mengatakan sesuatu, itu yang tertulis di fax ruangan kantornya. Ia berjalan sambil menerawang, kembali memikirkan tubuh Atsushi yang berubah, kembali kepada rasa yang berbeda, reaksi yang berbeda. Dazai kembali mengingat saat ia menelusuri tubuh Atsushi dengan mesra lalu mengerjapkan matanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?

"Kenapa kau lama sekali? Kau hampir membuatku gila karena menunggumu!" Chuuya berdiri di depan pintu flatnya yang terbuka. Dia sedang menunggu Dazai sejak tadi.

Dazai memandang wanita itu dengan perasaan yang rupa-rupa. Chuuya menggunakan sebuah gaun tidur di siang hari? Ia rasa ia tidak akan menyukai hal ini. Tapi Dazai sama sekali tidak ingin menolak saat Chuuya menarik tangannya masuk ke dalam flatnya. Ia duduk di ruang tengah dan mendapat suguhan air minum yang tidak biasa.

"Wine?" tanya Dazai. Ia sudah tau semuanya sedang mengarah kemana. Chuuya sedang menggodanya seperti yang selalu di lakukannya dulu. Tapi Dazai tidak akan membiarkan semuanya berakhir seperti harapan Chuuya. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kemana suamimu?"

"Kenapa kau menanyakannya? Aku sedang bertengkar."

"Kalau begitu aku lebih baik kembali ke kantor!" Dazai memotong kata-kata Chuuya bukan hanya dengan ucapan tapi juga dengan gerakannya. Tapi dia tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, Chuuya sudah menghambur kedalam pelukannya.

"Kau tidak boleh meninggalkanku sekarang. Kau juga menginginkanku kan? Aku tau kalau saat itu kau akan melamarku. Seandainya kau melakukannya seminggu lebih cepat aku pasti akan menyambutmu dengan bahagia!"

Dazai menjauhkan dirinya dari pelukan Chuuya. "Sudah, lupakan itu semua! Aku sekarang tidak menginginkan apa-apa!"

"Karena ada perempuan lain? Di tubuhmu tercium bau parfum wanita. Apa kau juga menginginkannya seperti kau menginginkan aku saat itu? Apakah dia lebih cantik dariku?"

"Aku menginginkannya seperti aku menginginkanmu? Aku menginginkanmu karena ku anggap kau adalah orang yang pantas untuk mendampingiku. Tapi aku menginginkannya karena tubuhku menginginkannya, Hatiku menginginkannya, Otakku mengingginkannya, Jantungku bahkan darahku. Sekarang berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan dia!"

"Siapa dia?" Chuuya terdiam sesaat, Gadis itu, yang sangat di puja oleh Dazai, yang di inginkannya dengan setiap sendi dirinya apakah pengacara itu? Dazai bahkan memilih tinggal bersamanya di bandingkan pergi dengan Chuuya pada saat itu. "Wanita yang kau sukai itu, Dia Nakajima Atsushi?"

Dazai memandangnya lama. "Nakajima Atsushi bukan hanya wanita yang kusukai, dia tunanganku dan kami akan segera menikah." Ada sebersit keheranan yang Dazai rasakan pada ucapan yang keluar dari mulutnya. Benarkah dia dan Atsushi akan menikah? Apakah dia sudah meyakininya sekarang?

Chuuya berusaha menghadirkan sebuah tawa. "Benarkah? Tapi dia seharusnya tidak menghalangi hubungan kita kan? Aku pernah mengatakan kepadamu kalau kita masih bisa berhubungan seperti biasanya meskipun aku sudah menikah. Seharusnya kau juga begitu!"

"Maaf, Aku tidak bisa. Nakajima Atsushi adalah orang yang tidak suka berbagi apapun yang sudah menjadi miliknya dan Aku adalah miliknya. Dia sudah membuat gairahku kepada wanita lain binasa. Seperti yang ku katakan, Setiap jengkal tubuhku menginginkannya, hatiku juga menginginkannya, Hanya menginginkannya!"

Chuuya menyerah, sebenarnya ia masih bisa bersikap keras kepala dan Dazai akan kalah. Tapi melihat Dazai yang berbicara dengan penuh keseriusan mengingatkan Chuuya saat mereka melihat Atsushi di depan toko kue dalam keadaan basah kuyup. Saat itu Dazai membatalkan rencananya untuk mengantar Chuuya pulang dan memilih untuk mencegat taksi dalam hujan, padahal saat itu Dazai bisa saja menelpon perusahaan taksi dan menunggu sampai taksi datang. Tapi Dazai memilih untuk menyingkirkan Chuuya secepatnya dan laki-laki itu tidak pernah sekalipun melakukan itu di hadapan gadis manapun selama ini. Dazai benar-benar menganggap pengacara itu sebagai seorang yang spesial dihatinya. Chuuya tersenyum kecut.

[ Bersambung ]